Kaidah Ushul Fiqh 25-27

KAIDAH USHUL FIQIH

🍀 Kaidah yang ke 25 🍀

●  Sesuatu yang terlintas di hati dima’afkan selama tidak diucapkan atau diperbuat.

Kaidah ini berdasarkan hadits:

إن الله تجاوز لي عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم

“Sesungguhnya Allah memaafkan untuk umatku apa yang ia bicarakan di hatinya selama tidak dilakukan atau diucapkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

⚉ Apabila terlintas difikiran seseorang untuk berbuat maksiat maka tidak berpengaruh apapun.
⚉ Atau terlintas dipikirannya untuk berbuat kebaikan.

Lalu bagaimana dengan firman Allah:

ومن يرد فيه بإلحاد بظلم نذقه من عذاب أليم

“Barang siapa yang menginginkan padanya perbuatan buruk berupa kezaliman, maka Kami akan rasakan ia dengan adzab yang pedih.“ (Al Hajj: 25).

⚉ Dijawab: Bahwa lintasan hati berbeda dengan niat yang kuat. karena yang dimaksud ayat tersebut adalah azimah (niat yang kuat), sehingga tidak masuk dalam kaidah ini.

Wallahu a’lam 🌴

🍀 Kaidah yang ke 26 🍀

● Perintah apabila yang dimaksud darinya pelakunya, maka perintah itu hukumnya FARDHU ‘AIN.

● Dan apabila yang dimaksud perbuatannya, maka perintah itu hukumnya FARDHU KIFAYAH.

Ini adalah kaidah untuk membedakan antara perintah yang bersifat fardhu ‘ain dan perintah yang bersifat fardhu kifayah.

Bila yang dimaksud adalah pelakunya maka fardhu ‘ain.
⚉ contohnya perintah untuk sholat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya.

Bila yang dimaksud perbuatannya maka fardhu kifayah.
⚉ contohnya adalah adzan, bila ada satu orang adzan, maka itu sudah terhasilkan. Maka itu mencukupi.
⚉ contohnya lagi menyelenggarakan pengurusan jenazah. tidak wajib setiap orang mengurus jenazah.

⚉ Fardhu ‘ain (kewajiban perorangan). Fardhu ain artinya kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap individu Muslim yang telah memenuhi sarat dan tidak bisa di wakili / di ganti orang lain, misalnya shalat lima waktu, hijab, zakat, puasa dan pergi haji ke Mekkah sekali seumur hidup.

⚉ Fardhu Kifayah. Fardhu kifayah artinya kewajiban yang dibebankan pada seluruh ummat. Seseorang tidak diwajibkan melaksanakan suatu tugas jika ada cukup orang dalam kelompok masyarakat telah memenuhinya. Contohnya adalah adzan, bila ada satu orang adzan, maka itu sudah terhasilkan. Maka itu mencukupi. Contohnya lagi menyelenggarakan pengurusan jenazah, tidak wajib setiap orang mengurus jenazah.

Wallahu a’lam 🌴

🍀 Kaidah yang ke 27 🍀

● Ibadah yang mempunyai beberapa bentuk, hendaknya kita lakukan terkadang ini dan terkadang itu.

Ada beberapa ibadah yang mempunyai beberapa bentuk atau macam yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
⚉ Contohnya do’a istiftah, bacaan ruku dan sujud, bacaan sholawat dan sebagainya.

Maka agar terpelihara semuanya, kita tidak melanggengkan satu bacaan, tapi kita baca terkadang ini dan terkadang itu.
Namun tidak disyariatkan membaca seluruhnya dalam satu sholat.
Kecuali bila ada dalil yang menunjukkan boleh membaca seluruhnya dalam satu waktu seperti do’a pagi dan petang.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

 

Instagram : instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Artikel : Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

KAIDAH USHUL FIQH

📚 KAIDAH USHUL FIQH 📚
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

🍀 Kaidah yang ke 22 🍀
➖➖➖➖➖➖➖➖
Apabila ternyata dugaan kuat itu salah, maka hendaknya ia mengulangi agar terlepas tanggungan.

Kaidah ini masih melanjutkan kaidah sebelumnya. Namun ini berhubungan dengan meninggalkan kewajiban.

⚉ Apabila ada orang yang sholat 4 roka’at dengan dugaan kuatnya, setelah itu nyata salahnya dan kurang satu roka’at, maka hendaklah ia menambah satu roka’at.

⚉ Bila ia sholat dengan dugaan kuat belum batal wudlunya, lalu setelah sholat ia ingat bahwa wudlunya telah batal, maka ia wajib mengulanginya.

⚉ Namun apabila tidak mungkin diulangi seperti salah orang ketika membayar zakat, maka itu sudah mencukupi.

Wallahu a’lam 🌴

🍀 Kaidah yang ke 23 🍀
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Yang dianggap dalam mu’amalah adalah sesuai yang terjadi, bukan sesuai dugaannya.

Telah disebutkan bahwa dugaan kuat dapat digunakan dalam masalah ibadah. Adapun dalam mu’amalah yang dianggap adalah sesuai yang terjadi.

⚉ Apabila si A menjual barang milik B tanpa izinnya. tetapi rupanya B sudah mewakilkan penjualan tanpa sepengetahuan A, maka jual belinya sah.
Walaupun haram bagi A menjual milik B tanpa izinnya.

⚉ Bila C membayarkan hutang B kepada A, maka dianggap lunas walaupun B tak mengetahuinya.

⚉ Bila A menjual milik B tanpa izinnya, ternyata B telah meninggal sebelum terjadinya akad. Dan ternyata A pewaris B maka akadnya sah..
dan sebagainya…

Wallahu a’lam 🌴

🍀 Kaidah yang ke 24 🍀

👉🏼 Keraguan setelah melakukan ibadah itu tidak dianggap.

Keraguan biasanya terjadi di dua tempat:
1. Ketika ibadah sedang berlangsung.
2. Setelah selesai melakukan ibadah.

Adapun ketika ibadah berlangsung, maka ini pun ada dua macam:
1. Keraguan karena lupa.
2. Keraguan karena was was.

⚉ Bila karena lupa, maka ambillah yang yakin. Contohnya bila ia ragu apakah dua atau tiga roka’at, maka ambil dua dan tambah lagi satu roka’at dan sujud sahwi sebelum salam.

⚉ Bila karena was-was, maka tidak dianggap. Seperti ragu apakah keluar dari duburnya sesuatu atau tidak. Maka ia tidak boleh membatalkan sholatnya hanya karena was-was tersebut.

⚉ Sedangkan bila keraguan itu setelah melakukan perbuatan, maka inipun tidak dianggap.

Contohnya:
⚉ Bila telah selesai wudlu, ia ragu apakah sudah mencuci tangan atau belum.
⚉ Setelah selesai sholat, ia ragu apakah sudah dua roka’at atau tiga roka’at.
⚉ Setelah selesai puasa, ia ragu apakah ia berpuasa qodlo atau bukan. Dan sebagainya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, الله تعالى.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Kaidah Ushul Fiqih 19,20,21

📚KAIDAH USHUL FIQIH 📚

🍀 Kaidah yang ke 19 🍀
.➖➖➖➖➖➖➖➖➖
👉🏼 Semua yang mendahului sebab suatu hukum tidak sah. Dan sah apabila mendahului syaratnya.

Setiap hukum memiliki sebab dan syarat.
⚉ Contohnya zakat, sebab wajibnya adalah sampai nishob dan syarat wajibnya adalah telah berlalu haul (setahun).

Apabila ada orang yang berzakat sebelum sampai nishobnya, maka zakatnya tidak sah. Karena mendahului sebab.
Adapun bila ia telah sampai nishob dan hendak mengeluarkan zakat sebelum berlalu haul maka boleh dan sah.

⚉ Contoh lain: syarat membayar fidyah ketika haji dan umroh adalah melakukan pelanggaran yang mewajibkan fidyah, seperti mencukur kepala.
Dan sebab mencukur kepala karena adanya gangguan di kepala seperti banyak kutu misalnya.

Gangguan di kepala = sebab
Mencukur rambut = syarat membayar fidyah.

Apabila kita membayar fidyah sebelum adanya gangguan maka tidak sah.
Namun apabila telah ada gangguan lalu kita membayar fidyah sebelum mencukur kepala maka sah.

⚉ Bila kita bersumpah untuk tidak memasuki suatu kota, kemudian setelah itu ia memandang adanya mashlahat besar untuk memasuki kota tersebut. Lalu ia membatalkan sumpah dan membayar kafarat sumpah.
Berarti:
Sumpah adalah sebab adanya pembatalan.
Pembatalan adalah syarat membayar kafarat.

Apabila ada orang membayar kafarat sebelum adanya sumpah maka tidak sah.
Apabila ia telah bersumpah lalu ia berniat membatalkan sumpahnya. Ia membayar kafarat dahulu sebelum pembatalan maka sah.
Dan lain sebagainya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.

▪▪▪▪▪▪▪

*🍀 Kaidah yang ke 20 🍀*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

👉🏼 Seluruh hukum tidak sempurna kecuali apabila terpenuhi syarat-syaratnya dan hilang penghalang-penghalangnya.
.
Allah Ta’ala berfirman:

فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak mempersekutukan ibadah Rabbnya dengan sesuatupun.” (Al Kahfi:110)
.
Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa syarat orang yang ingin bertemu dengan Allah pada hari kiamat dan melihat wajah-Nya adalah beramal shalih.
Dan hilang penghalangnya yaitu kesyirikan.
.
Demikian pula semua ibadah seperti sholat, zakat, puasa, haji dan sebagainya tidak sempurna sampai terpenuhi syarat dan rukunnya dan tidak melakukan pembatal-pembatal yang menghilangkan ke-absahannya.
.
Dalam memvonis individu misalnya, tidak boleh kita vonis ia kafir atau fasiq misalnya kecuali apabila terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada penghalangnya.
.
Apabila syarat-syaratnya terpenuhi tapi masih ada penghalang ke-absahannya, maka tidak sah.
Seperti orang yang mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAH” telah terpenuhi syarat masuk surga. Namun bila ia melakukan pembatal-pembatal “LAA ILAAHA ILLALLAH“, syarat tersebut tidak bermanfaat di sisi Allah.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.

🍀 Kaidah yang ke 21 🍀
.➖➖➖➖➖➖➖➖➖
👉🏼 Dugaan kuat itu dapat digunakan dalam masalah ibadah.
.
Dugaan ada yang lemah dan ada yang kuat. Dugaan lemah tidak diterima dalam masalah apapun, demikian pula semua perkara yang meragukan.
.
Adapun dugaan kuat, maka boleh menggunakannya dalam masalah ibadah.
Dalilnya, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
.
إذا شك أحدكم في صلاته فايتحر الصواب ثم ليبن عليه
.
“Apabila salah seorang dari kamu merasa ragu dalam sholatnya, hendaklah ia mencari yang benar, lalu membangun sholat di atasnya.”
(HR Bukhari dan Muslim).
.
Dalam al qur’an, Allah menyuruh membawa saksi dalam masalah perzinahan, pencurian dan sebagainya. Dan itu bersifat dugaan kuat. Karena saksi ada kemungkinan berdusta. Namun kuat dugaan jujurnya karena melihat ketaqwaannya.
.
⚉ Apabila seseorang berbuka puasa dengan dugaan kuat waktu berbuka telah masuk, lalu nyata kepadanya bahwa waktunya buka belum masuk, maka puasanya sah dan ia menahan diri kembali sampai benar-benar masuk waktu.
.
⚉ Bila ada orang sholat shubuh dengan dugaan kuatnya bahwa waktu shubuh telah masuk, maka sah sholatnya.
.
⚉ Bila ada orang memberi zakat kepada orang yang ia duga kuat berhak mendapatkannya. Lalu nyata setelah itu bahwa ia tidak berhak, maka sah zakatnya.
.
Dan sebagainya..
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Kaidah Ushul Fiqih 16, 17, 18

KAIDAH USHUL FIQIH

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

Kaidah yang ke 16

 Apabila bertemu mashlahat dan mudhorot, bila mashlahatnya lebih besar maka disyariatkan. Bila mudhorot lebih maka dilarang.
.
Allah berfirman tentang arak:
.
يسألونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما
.
“Mereka bertanya kepadamu tentang arak dan judi. katakan, pada keduanya terdapat dosa besar dan manfaat manfaat untuk manusia. Namun dosanya lebih besar dari manfaatnya.“
(Al Baqarah: 219)
.
Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa dalam arak bertemu antara manfaat dan mudhorot, dan mudhorotnya lebih besar maka Allah mengharamkannya.
.
Allah ta’ala menjadikan Nabi Yusuf ‘alaihissalam dipenjara dalam tanah, walaupun itu ada jenis mudhorot untuk beliau. Namun manfaatnya jauh lebih besar dengan diselamatkan dari fitnah para wanita.
.
Raafi’ bin Khadiij radliyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang kami dari sesuatu yang tampak bermanfaat bagi kami. Namun mentaati Allah dan Rasul-Nya lebih bermanfaat untuk kami.” (HR Muslim).
.
Dalam menimbang mashlahat dan mudhorot mana yang lebih besar membutuhkan kefaqihan dan pemahaman yang dalam. Seringkali terjadi perbedaan ijtihad para ulama.
.
Maka kewajiban kita untuk tidak tergesa gesa dalam menimbang mashlahat dan mudhorot.
.
.
Wallahu a’lam
.

▪▪▪▪▪▪▪▪▪

Kaidah yang ke 17

Apabila bertemu pembolehan dengan pelarangan, maka didahulukan pelarangan.
.
Dalil kaidah ini adalah ayat tentang arak yang menyebutkan bahwa pada arak terdapat dosa dan manfaat, maka Allah haramkan.
.
Apabila bercampur ada daging yang halal dan daging yang haram, dan kita tidak mengetahui mana yang halal, maka wajib ditinggalkan semua.
.
Puasa hari sabtu terdapat dalil yang mengharamkan dan dalil yang membolehkan, maka kita dahulukan dalil yang mengharamkan.
.
.
Wallahu a’lam
.

Kaidah yang ke 18

 

  1. Hukum itu mengikuti ILLAT-nya. Bila ILLAT ada maka hukum-pun ada, dan bila tidak ada maka hukum tidak ada.
    .
    Hukum dalam Islam tidak lepas dari lima: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.
    .
    Setiap hukum Islam selalu mengandung ILLAT.
    ILLAT adalah sifat yang tampak dan tetap seperti ILLAT arak adalah memabukkan.
    .
    Hukum dilihat dari ILLAT-nya ada dua macam:
    1. Hukum diketahui ILLAT-nya.
    2. Hukum yang tidak diketahui ILLAT-nya.
    .
    Hukum yang diketahui ILLAT-nya ada dua macam:
    1. ILLAT yang disebutkan oleh Nash. contohnya hadits tentang kucing:
    .
    إنها ليست بنجس إنما هي من الطوافين عليكم
    .
    “Sesungguhnya kucing itu tidak najis, ia selalu berkeliling di antara kalian.” (HR Abu Dawud).
    .
    Dalam hadits tersebut Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyebutkan alasan ketidak najisan kucing yaitu suka berkeliling sehingga sulit dihindari.
    .
    2. ILLAT yang diketahui dengan cara istinbath.
    ILLAT jenis ini ada yang menjadi ijma ulama seperti ILLAT arak adalah memabukkan. Dan ada yang masih diperselisihkan, seperti ILLAT emas dan perak ada yang mengatakan karena ditimbang. Ada yang mengatakan ILLAT-nya adalah “tsaman” (harga) dan inilah yang kuat.
    .
    Memahami ILLAT suatu hukum sangat penting dan memudahkan kita untuk mengqiyaskan dengan perkara lain yang sama ILLAT-nya.
    Seperti diqiyaskan kepada kucing semua binatang yang sulit untuk kita hindari.
    .
    Contoh lainnya adalah uang diqiyaskan kepada emas karena ILLAT-nya sama-sama harga. Sehingga dalam zakat sama dengan emas dan juga terjadi padanya riba.
    .
    Apabila ILLAT-nya hilang, maka hilang pula hukumnya. Contohnya bila arak berubah menjadi cuka dengan sendirinya, dan tidak lagi memabukkan menjadi halal hukumnya karena ILLAT memabukkan itu telah hilang, dan sebagainya.
    .
    Adapun hukum yang tidak diketahui ILLAT-nya, seperti mengapa sholat shubuh dua roka’at, mengapa sholat dimulai dengan takbirotul ihrom dan lain sebagainya.
    maka seperti ini disebut dengan ibadah mahdhoh yang tak bisa diqiyaskan karena tidak diketahui ILLAT-nya.
    .
    .
    Wallahu a’lam
    .
    Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
    .
    Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Kaidah Ushul Fiqih 13,14,15

📚KAIDAH USHUL FIQIH 📚
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪


Kaidah yang ke 13

👉🏼 Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada perintah dari beliau, maka hukumnya tidak wajib.
.
Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak semuanya sama hukumnya. Namun terbagi menjadi 6 macam:
.
1. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersifat tabiat manusiawi.
seperti selera makan, gaya berjalan dsb.
Maka kita tidak diwajibkan untuk mengikutinya.
Kecuali bila disana ada nilai ibadahnya seperti tidur di atas wudlu, tidur di atas rusuk yang kanan dll, maka ini disunnahkan.
.
2. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berasal adat istiadat.
Contohnya bentuk pakaian dsb. Maka yang sunnah adalah mengikuti adat istiadat setempat selama tidak menyalahi syariat.
.
3. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mempraktekan perintah Allah.
Hukumnya sesuai perintah tersebut. jika perintah tersebut wajib, maka perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu pun wajib.
Contoh Nabishallallahu ‘alaihi wasallam mengusap seluruh kepala ketika berwudlu, mempraktekan perintah Allah untuk mengusap kepala.
.
4. Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersifat ta’abbudiy.
Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat ba’da ‘ashar dua rokaat dan lain sebagainya.
.
5. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang khusus untuk beliau tanpa umatnya.
Contohnya menikah lebih dari empat istri dan sebagainya.
.
6. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang masih diragukan apakah termasuk ibadah atau adat, seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanjangkan rambut sebahu.
Para ulama berbeda pendapat apakah itu sunnah atau tidak. jumhur berpendapat tidak sunnah.
.
Wallahu a’lam 🌴


Kaidah yang ke 14

👉🏼 Apabila bertemu dua mashlahat, didahulukan mashlahat yang lebih besar.
.
Mashlahat adalah kebaikan bagi manusia dalam agama, dunia dan akherat. Dalam memandang mashlahat, kita wajib berpegang kepada syariat. Bukan hawa nafsu dan syahwat.
.
Terkadang kita dihadapkan kepada dua mashlahat yang harus dipilih salah satunya. Maka kita dahulukan yang lebih besar mashlahatnya.
.
⚉ Apabila bertabrakan antara yang wajib dan sunnah, maka kita dahulukan yang wajib karena yang wajib lebih dicintai oleh Allah Ta’ala.
.
⚉ Apabila bertabrakan antara ibadah yang bersifat mutlak (tidak terikat) dengan ibadah muqoyyad (terikat), maka kita dahulukan ibadah muqoyyad.
contohnya ketika membaca alquran terdengar adzan, maka kita dahulukan mendengar adzan.
.
⚉ Apabila bertabrakan antara fardlu ain dan fardlu kifayah, kita dahulukan fardlu ain.
.
⚉ Apabila bertabrakan antara dua amal, kita dahulukan yang manfaatnya menular.
Seperti mendahulukan menuntut ilmu dari sholat tahajjud.
.
⚉ Apabila ayah dan ibu memanggil, maka kita dahulukan ibu karena lebih besar haknya.
dan lain sebagainya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.


Kaidah yang ke 15

👉🏼 Apabila bertemu dua mudhorot, maka diambil yang paling ringan mudhorotnya.
.
⚉ Dalam Al Quran, Allah menyebutkan kisah Khidir yang membolongi kapal kaum fuqoro, agar tidak diambil oleh raja yang jahat.
Membolongi kapal adalah mudhorot, namun khidir lakukan agar terhindar dari mudhorot yang lebih besar.
.
⚉ Dalam hadits disebutkan bahwa ada orang badui masuk ke masjid dan kencing di dalam masjid. maka para shahabat mengingkarinya. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam melarang para shahabat dan membiarkan arab badui itu kencing.
Karena bila Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam membiarkan para shahabat mengingkarinya, tentu akan menimbulkan mudhorot yang lebih besar.
.
👉🏼 Bila bertemu mudhorot khusus dengan mudhorot umum, maka kita korbankan mudhorot khusus untuk menghindari mudhorot umum.
.
⚉ Seperti bila pedagang kaki lima mengganggu lalu lalang jalan, maka pemerintah boleh menertibkan pedagang kaki lima untuk menghindari mudhorot yang lebih umum.
.
⚉ Perselisihan yang timbul karena membantah pemikiran yang sesat, lebih ringan dari tersebarnya kesesatan.
.
⚉ Boleh melaporkan tindakan kriminal kepada yang berwajib, karena mudhorot kriminal tersebut lebih besar.
dan sebagainya.

Wallahu a’lam
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.


Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Kaidah Ushul Fiqih (Kaidah Ke- 4, 5, 6)

KAIDAH USHUL FIQIH

 

Kaidah yang ke 4

  • Dalam perintah, lakukanlah sesuai kemampuan.
  • Dalam larangan, wajib ditinggalkan seluruhnya.

Kaidah ini berdasarkan hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ماستطعتم

 

“Apa-apa yang aku larang tinggalkanlah. dan apa-apa yang aku perintahkan, lakukanlah semampu kalian.“

Perintah adalah beban, dan tidak setiap orang mampu melaksanakannya. Maka syariat yang indah ini melihat kemampuan hamba dalam melaksanakannya.

Sedangkan larangan adalah meletakkan beban, semua orang mampu melakukannya. Maka ia harus ditinggalkan sama sekali, kecuali bila pada keadaan darurat atau sangat dibutuhkan, sementara mashlahatnya lebih besar dari mudlaratnya, seperti :
– bangkai boleh dimakan disaat keadaan terpaksa
– dusta diizinkan untuk mendamaikan dua muslim yang bertengkar dan sebagainya.

Namun tentunya tetap memperhatikan batasan-batasan yang disebutkan oleh para ulama.

Wallahu a’lam.

Kaidah yang ke 5

  • Orang yang tidak tahu dimaafkan, kecuali bila ketidak tahuannya akibat tidak mau menuntut ilmu.

Kaidah ini ditunjukkan oleh banyak ayat Alqur’an diantaranya firman Allah Ta’ala:

وما كان الله ليضل قوما بعد إذ هداهم حتى يبين لهم ما يتقون

“Tidaklah Allah menyesatkan suatu kaum setelah datang kepada mereka petunjuk sampai Dia menjelaskan kepada mereka perkara perkara yang harus dijauhi.” (At Taubah:115)

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat orang yang sholatnya tidak thuma’ninah, lalu beliau menyuruhnya mengulanginya. Kemudian beliau mengajarkan tata cara sholat yang benar dan tidak menyuruhnya untuk mengulanginya kembali.

Adapun bila kebodohannya itu karena ia sengaja tidak mau menuntut ilmu dan meremehkannya maka pendapat para ulama menunjukkan ia tidak dima’afkan dan tetap diancam dengan api neraka.

Wallahu a’lam.

Kaidah yang ke 6

  • Sesuatu yang haram boleh dilakukan bila darurat, dan yang makruh boleh bila ada hajat.

Disebut darurat bila membahayakan agama, atau jiwa, atau harta, atau keturunan, atau akal.

Perbedaannya dengan hajat, bahwa hajat bila ditinggalkan tidak berbahaya, namun kita membutuhkannya.

Contohnya bila kita berada di tempat yang sangat dingin, kita harus memakai jaket, bila tidak kita binasa. ini adalah darurat.

setelah memakai jaket, masih terasa dingin dan membutuhkan jaket yang kedua. ini adalah hajat.

Perkara yang haram, boleh dilakukan bila keadaan darurat dengan syarat:

1. Benar-benar dalam keadaan terpaksa dan tidak ada alternatif yang lain.

2. Darurat tersebut hilang dengan melakukan perbuatan yang haram tersebut. Bila tidak hilang maka tetap tidak boleh.

Bila salah satu syarat ini tak terpenuhi, maka TETAP HARAM HUKUMNYA, seperti mengobati sihir dengan sihir, menghilangkan haus dengan arak dan sebagainya.

Adapun yang makruh boleh dilakukan bila ada hajat, seperti menengok dalam sholat boleh bila dibutuhkan.

Wallahu a’lam.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih”, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel: http://t.me/ukhuwahfilhijrah

KAIDAH USHUL FIQH

KAIDAH USHUL FIQH
Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala rasuulillah..,
Mulai hari ini, in-syaa Allah, kita akan mulai pada pembahasan kaidah-kaidah Ushul Fiqih yang ditulis oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى
Mari kita ajak keluarga, kerabat dan teman untuk belajar kaidah-kaidah Ushul Fiqih dengan bergabung di channel ini atau silahkan forward pembahasan di channel ini ke group anda lainnya…
Semoga bermanfaat… baarakallahu fiikum.
  KAIDAH YANG PERTAMA 
👉Agama ini datang untuk mendatangkan mashlahat dan menolak mudlarat.
Karena semua perintah Allah pasti mashlahatnya murni atau lebih besar dari mudlaratnya seperti sholat, zakat, puasa, haji,  berbakti kepada orang tua dan sebagainya.
Demikian juga larangan Allah, pasti semuanya mengandung mudlarat yang murni atau lebih besar dari mashlahatnya seperti syirik, bid’ah, sihir, riba, zina, judi dan sebagainya.
⚉ Maka semua yang mashlahatnya murni atau lebih besar adalah perkara yang diperintahkan.
⚉ Dan semua yang mudlaratnya murni atau lebih besar adalah perkara yang dilarang.
⚉ Apabila mashlahat dan mudlaratnya sama besar, maka lebih baik ditinggalkan agar tidak jatuh kepada yang dilarang.
Namun, terkadang sebagian orang memandang suatu mashlahat padahal sebetulnya tidak, seperti perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, perayaan isra dan mi’raj dan sebagainya.
Karena tanpa perayaan tersebut mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdapat dilakukan dengan yang sesuai syariatnya seperti menuntut ilmu syariat dan mengamalkannya.
Di zaman khulafa rasyidin Islam semakin jaya tanpa perayaan tersebut, bahkan kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi orang-orang yang merayakan maulid.
Itu menunjukkan bahwa perayaan maulid tidak memberi mashlahat apapun untuk agama. Dan tidak memberi mudlarat apapun bila ditinggalkan, justru perayaan tersebut memberi mudlarat terhadap agama dari sisi menambah nambah syariat yang tidak pernah diizinkan oleh Allah Azza wajalla.
Wallahu a’lam.
 KAIDAH YANG KEDUA
👉Syariat Islam adalah syariat yang mudah.
Allah berfirman:
يريد الله بكم اليسر
“Allah menginginkan kemudahan untuk kamu.” (QS 2:185)
Allah juga berfirman:
وما جعل عليكم في الدين من حرج
“Dan tidaklah Allah menjadikan dalam agama ini sesuatu yang menyusahkanmu.” (Al Hajj:78).
Bila kita perhatikan, perintah perintah Allah adalah mudah dan tidak sulit dilakukan.
Sholat misalnya, Allah hanya mewajibkan 5 waktu saja, di waktu waktu yang mudah.
Zakat pun tidak diwajibkan pada semua harta, tetapi hanya harta tertentu saja yang ditunjukkan oleh dalil dan qiyas. Itupun dengan nishob yang tidak memberatkan.
Dan bila suatu amal itu berat, maka Allah memberinya pahala yang amat besar.
Namun, sebab utama beratnya ibadah di hati adalah akibat dosa dan maksiat. Sehingga seorang hamba menganggap berat syariat yang mudah ini, karena ia lebih tunduk kepada hawa nafsu dan syahwatnya dari pada tunduk kepada penciptanya.
Wallahu a’lam.
  KAIDAH YANG KETIGA
👉Kesulitan mendatangkan kemudahan.
Telah disebutkan bahwa agama ini mudah, namun ketika ada kesulitan, maka lebih diberi kemudahan oleh syariat.
Kesulitan yang dimaksud adalah kesulitan yang melebihi kebiasaan dan bukan hanya sebuah kekhawatiran belaka.
Seperti orang yang sakit takut berwudlu dengan air, namun sebetulnya tidak memberi bahaya dalam bentuk apapun, kecuali bila diduga kuat akan menambah sakitnya, maka diperbolehkan bertayammum.
Kesulitan seperti ini mendatangkan kemudahan. Tentunya kemudahan pun harus sesuai syariat dan bukan disesuaikan selera dan shahwat manusia.
Contoh kaidah ini diantaranya:
⚉ Bolehnya bertayammum ketika tidak ada air, atau ada air namun malah menimbulkan bahaya bila menggunakannya.
⚉ Disyariatkan mengqoshor sholat di saat safar.
⚉ Dibolehkan menjamak dua sholat di saat ada kerepotan baik dalam safar maupun muqim.
⚉ Bolehnya sholat sambil duduk bagi orang yang sakit yang tak mampu berdiri.
⚉ Dan sebagainya.
Wallahu a’lam.
Oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih”, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah