Shalih dan Muslih

Fawaid

Fawaid edisi khusus



Shalih dan Muslih.


abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.




Dalam syair di katakan:


يا عبد الحرمين لو ابصرتنا #
لعلمت أنك في العبادة تلعب #.

من كان يخضب خده بدموعه #
فنحورنا بدمائنا تتخضب #.

أو كان يتعب حيله في باطل #
فخيولنا يوم الصبيحة تتعب #.

ريح العبير لكم و نحن عبيرنا … #
رهج السنابك و الغبار الأطيب #.

و لقد اتانا من مقال نبينا #
قول صحيح صادق لا يكذب #.

لا يستوي غبار حيل الله في … #
أنف أمرىء و ذخان نار تلعب #.

هذا كتاب الله ينطق بيننا #
ليس الشهيد بميت لا يكذب #.


Wahai orang yang beribadah di dua tanah haram seandainya engkau melihat kami #

Sungguh engkau akan mengetahui bahwa bahwa selama ini engkau bermain main dalam ibadah #.

Siapa yang membasuh pipinya dengan air matanya #

Maka kami membasuh wajah kami dengan darah #.

Atau bila orang lain melelahkan tungangan (kuda) nya dalam satu hal yang batil #

Maka kuda kuda kami kelelahan di esok hari (untuk berjuang) #.

Bau semerbak wewangian untuk kalian dan untuk kami tanah … #

Pada kuku kuda dan debu debu kebaikan #.

Dan telah datang kepada kami dari ucapan Nabi kita #

Ucapan yang benar lagi jujur tidak ada kedustaan #.

Tidaklah sama antara debu kuda Allah (yang di gunakan berjuang) di … #

Hidung seorang dengan asap neraka yang berkobar #.

Inilah kitabullah yang memutuskan perkara di antara kita #

Tidaklah seorang yang mati di jalan Allah mati, hal ini bukan sesuatu kedustaan #.


Kitab tafsir Ibnu Katsir surah 3/195



Di riwayatkan Ibnu Asyakir rahimahullah, dalam biografi Abdullah bin Mubarak rahimahullah, melalui jalan riwayat Muhammad bin Ibrahim bin abu Sakinah,

Bahwa aku (Ibnu Abi Sakinah) mendiktekan (menulis) untuk Abdullah bin Mubarak bait bait (syair) berikut ini di tarsus (wilayah asfahan),

Lalu aku sampaikan bait bait ini pada Fudhail bin Iyyadh rahimahullah tahun 170, di Masjidil Haram (Makkah) .


Lalu ia membacanya:


يا عبد الحرمين لو ابصرتنا #
لعلمت أنك في العبادة تلعب #.

من كان يخضب خده بدموعه #
فنحورنا بدمائنا تتخضب #.

أو كان يتعب حيله في باطل #
فخيولنا يوم الصبيحة تتعب #.

ريح العبير لكم و نحن عبيرنا #
رهج السنابك و الغبار الأطيب #.

و لقد اتانا من مقال نبينا #
قول صحيح صادق لا يكذب #.

لا يستوي غبار حيل الله في … #
أنف أمرىء و ذخان نار تلعب #.

هذا كتاب الله ينطق بيننا #
ليس الشهيد بميت لا يكذب #.

(Sudah kami terjemahkan di atas).


Ketika beliau membacanya, maka kedua matanya bercucuran meneteskan air mata,

Lalu beliau berkata,

“Abu abdur Rahman (yakni, Abdullah bin Mubarak) telah benar, dia telah menasehati ku.”



Dari riwayat di atas dapat kita ambil pelajaran,

Pertama, bahwa para ulama salaf, senantiasa saling berziarah dan memberi nasehat,

Dan hati hati mereka begitu lembut dengan nasehat dan menerimanya.


Kedua, para ulama dan orang terdahulu mereka memiliki hati yang lembut, mudah menerima nasehat, tidak mempersulit hidup, kuat dalam ibadah dan mencontoh nabi shalallahu alaihi wasallam.

Ketiga, mereka (para salaf) teladan dalam amal dzahir dan batin sekaligus.

Tidak seperti kita ( termasuk kami di dalamnya) hari ini, yang lemah dalam dua masalah sekaligus.

Yang lemah amalan dzahir dengan kemalasan, sekaligus lemah amalan batin dengan sedikitnya keikhlasan.


Maka, wahai jiwa, wahai diri….

Yang mulai redup cahaya hidayah di hatinya…


Yang terasa berat melangkah, baik dalam ibadah wajib dan Sunnah.

Yang lalai dari perbaikan batin (hati), sekaligus menghiasi dzahir dengan ketaqwaan.


Wahai engkau yang berusaha menshalihkan diri, namun belum berbenah dalam keshalihan bathin,

Dengarlah seruan Rabbmu,


و ثيابك فطهر

Dan baju (jiwa) mu, bersihkanlah.

Qs 74 Al Mudatsir ayat 4.


Yakni bersihkanlah hatimu dari kesyirikan, kenajisan, dan berusaha membenahi dzahir sekaligus bathin.


Wahai orang orang yang mementingkan untuk keshalihan diri, dengan mengurung jiwa di mihrab mihrab ke sufi an,

Yang belum pernah tersentuh bajunya dengan debu dalam dakwah dan perbaikan ummat.

Wahai orang orang yang belum siap dengan tantangan di jalan Allah, untuk menapaki jalan para rasul, dalam menyeru manusia, pada tauhid,

فلا إقتحم العقبه !


Mengapa kah mereka tidak memilih jalan terjal nan sukar !

Qs 90 Al balad ayat 12.


Dan lebih mencari “jalan aman” dan berbasa basi dalam dakwah.


Malulah dengan orang orang yang lebih jujur dalam pengakuan dan siap dalam mengemban perihnya dakwah,

Ketika ia menyeru manusia pada jalan tauhid dan Sunnah,

Lalu ia sanggup tegar dengan mengucapkan,

فإن تولوا فقولوا إشهدوا بانا مسلمون !

Jika mereka berpaling dari nasehat, maka katakan, saksikan oleh kalian bahwa kami adalah seorang muslim !

Qs 3 Ali Imran ayat 64.


Kepada jiwa jiwa lemah di hadapan kesyirikan,

Inilah panggilan pemuda pemuda ashabul Kahfi,

Ketika mereka berdiri di hadapan para pemuja berhala, lalu tanpa rasa gentar mereka berucap, Rabb kami adalah Allah, yang kami tiada akan menyeru Illah selain Nya !!!,

إنهم فتية امنوا بربهم و زدناهم هدئ . و ربطنا على قلوبهم إذ قاموا فقالوا ربنا رب السماوات و الأرض لن ندعوا من دونه الهة

_Mereka itu para pemuda yang beriman kepada Rabbnya, maka Kami tambah kan kepada mereka petunjuk. Dan Kami teguhkan hati mereka saat mereka berdiri, lalu berucap Rabb kami adalah Allah pencipta langit dan bumi, yang tiada kami akan menyeru Ulah selain Nya._

Qs 18 Al Kahfi ayat 13-14.


Wahai jiwa jiwa yang mulai kehilangan rasa cemburu pada agama,

Yang mulai hilang sensifitas saat agama dan keyakinan nya terlecehkan oleh orang orang fajir lagi khianat.


Wahai para pemuda, ini panggilan untukmu,

Para pemudah yang menghabiskan umur pada ke sia siaan,

Kapan datang waktu kepadamu, saat baju dan kulitmu terbasai keringat, di meja pembelajaran, saat tinta habis menulis rangkaian faidah dan pembahasan, serta kemudian, rambut dan mukamu berdebu menyerukan tauhid dan Sunnah di jalan dakwah yang terjal ini ???.


Wahai mata yang terpejam, wahai hati yang masih kosong dari hidayah, wahai jiwa yang tiada getaran iman, wahai orang yang berleha leha…. Saat nya …

Bangun !!!!.


Ini Islam dan kaum muslimin menunggu kontribusi mu dalam dakwah dan pembenahan ummat.

Ummat ini membutuhkan tidak hanya seorang yang shalih (baik) namun juga Muslih (mengusahakan perbaikan).


Sidoarjo, bada isya,

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

KARTINI, SEBUAH DISTORSI SEJARAH (Studi kritis tentang keyakinan Kartini)

Esai Edisi Khusus

KARTINI, SEBUAH DISTORSI SEJARAH
(Studi kritis tentang keyakinan Kartini)

🖋 Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud al Atsary

تلك امة قد حلت ، لها ما كسبت و لكم ما كسبتم …. (سورة البقرة)

141 : “Mereka itu ummat terdahulu, bagi mereka amalan mereka, bagimu amalanmu.

Raden Adjeng Kartini (1879 – 1904), sesungguhnya tidaklah di kenal kontribusinya dalam sejarah kecuali sebagai korespondensi yang menghasilkan surat menyurat dengan teman – temannya di Eropa alumni ‘europa lagere scool’ ELS, juga sebagai anak ningrat yang dekat dengan Belanda di Jepara – Rembang.

Dibanding sebagian pejuang wanita muslimah lain, peran Kartini tidak ada, sekolah ‘Kartini’ didirikan setelah meninggalnya, lalu kenapa Kartini yang ditonjolkan ?

Tidak lain untuk mengecilkan peran ummat Islam (distorsi) di pentas perjuangan.

Kartini memulai korespondensi sejak umur 20 tahun, dari tulisan Kartini, kita bisa melihat “keyakinan” yang dianutnya.

Kartini dan pluralisme serta penghinaannya pada islam,

” Ya Tuhan, adakalanya aku berharap alangkah baiknya tidak ada agama itu, karena berlainan tempat menyeru tuhan, berdirilah tembok yang membatasi hati, benarkah agama itu sebagai restu bagi manusia ? Tanyaku pada diri sendiri dengan bimbang hati”
(Surat 6 November 1899)

Kartini dengan mistisme

“Mengenai spiritisme yang dianut tuan Van kol dengan setia, saya senang sekali diajarkan kepercayaan itu, bukan memanggil rohnya, tapi mengenal indahnya ajaran itu, ajaran yang mendamaikan banyak hal, bahwa kegagalan kita sekarang adalah penebus dosa dari kehidupan sebelumnya, melalui spiritisme kita memperoleh banyak nasehat dari dunia arwah…”
(Surat 15 Juli 1902)

– Kartini tidak tahu ajaran Islam “Apabila nyonya Abendanon bertemu teman nyonya, tuan Snouck Hurgronje, mohon tanyakan tentang hukum aqil baligh di dalam undang – undang mereka, kami sendiri (orang Islam) tidak tahu tentang hal itu…”

Kartini dan ajaran teosofi (kebatinan Yahudi)
“Orang bilang, bahwa tanpa saya sadari sendiri telah menjadi penganut teosofi” (Surat 24 Agustus 1902)

Agama Kartini Islam ?
” Sepanjang hemat kami, agama paling indah dan paling suci adalah agama kasih sayang, dan haruskah seorang untuk berbudi untuk memeluk Budha, Brahma, Kristen atau Islam ? Bahkan orang kafir dapat hidup dengan kasih sayang yang murni” (Surat 14 Desember 1902)


” Agama sesungguhnya adalah kebatinan, bisa dipeluk baik Kristen atau Islam” (Surat 31 Januari 1902)


“Kalau mau ajarkan agama pada orang Jawa, ajarkan kepada mereka tuhan satu – satunya bapa pengasih, tuhan semua ummat, baik Islam, Kristen, Budha, Yahudi” (Surat 31 Januari 1903)


“Tidak peduli agama apa yang di peluk orang dan bangsa, jiwa mulia akan mulia..”
(Surat 5 Juni 1903)

– Kartini tidak percaya akhirat, dan surga serta neraka
” Tuhan kami adalah nurani, surga dan neraka kami adalah nurani, bila melakukan kejahatan nuranilah yang menghukum kami, bila melakukan kebaikan, nurani yang memberi karunia kami…”
(Surat 15 Agustus 1902)

Istilah “habis gelap terbitlah terang” bukan dari Al Qur’an, tapi ajaran kelompok cahaya, fremasonry. Habis gelap terbitlah terang Door Duisternis tot Licht Adalah “kalimat baiat” kelompok cahaya iluminati dan fremasonry. Kami tidak menghujat seorang yang telah mati, karena mereka telah bertemu amalnya, namun menerangkan dengan sebenarnya keyakinan Kartini selama hidup, yang jarang diketahui orang, dan tidak ada petunjuk tertulis bahwa Kartini telah mengoreksi / merevisi pemahamannya, meski menjelang wafat di umur 29 tahun. Belajar dan bertemu seorang kyai, bernama kyai Soleh Darat. Dan hendaknya menjadi koreksi untuk para orang tua dan guru yang akan mengijinkan putra dan anak didiknya untuk merayakan “hari Kartini”.

Wabillahi Taufiq

Tawakkal Lebih Kedepankan Dari Kekhawatiran

Fawaid pagi

TAWAKKAL LEBIH KEDEPANKAN DARI KE KHAWATIRAN

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Kadang kekhawatiran manusia lebih besar dari kenyataan yang ada.

Ketahuilah kekhawatiran tidak merubah apapun, tindakan berlebihan dan kehebohan, malah akan memperbesar masalah, dari masalah yang sebenarnya.

Situasi yang tidak menentu bisa menjadi sebab banyak hal, kerusuhan, naiknya harga harga, mobilisasi manusia, rawannya keamanan, dan begitu mudahnya manusia di politisasi.

Dunia ini telah mengalami berbagai hal, termasuk wabah, dan penyakit.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan penyakit, dan Dia yang memberi kesembuhan.

Antisipasi suatu keharusan, namun tidak perlu khawatir yang berlebihan.


Semoga Allah memberikan kebaikan kepada kita semua, mengangkat wabah ini, dan menormalkan lagi kondisi.

Sidoarjo, pagi yang cerah setelah di guyur hujan semalaman.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

TA’AWUN DAKWAH

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ،

Amma ba’du.

Kami pengasuh rumah dakwah dan sosial ihyaus Sunnah (Madiun). yang menyantuni sekitar

60 KK duafa (20 orang di Sidoarjo dan sekitarnya 40 orang di madiun).

Untuk program Ramadhan tahun 1441 Hijriyah ini.

Akan mengadakan bakti sosial berupa.

  • penyebaran iftitar bagi warga dan masjid serta mushalla.
  • santun duafa.

Estimasi biaya:

Penyebaran buka puasa sebanyak 400 porsi.

Setiap porsi adalah 10.000 x 400 : 4 juta.

Untuk santunan duafa, estimasi awal adalah

50.000 x 60 orang : 3 juta.

Berupa sembako dan atau uang.

Tahun lalu bisa menyebar sekitar 120 paket sembako satu paket senilai 50 ribu berupa beras, minyak dan gula.

(Target tahun ini adalah 150 paket santunan).

Total biaya kurang lebih 7 juta rupiah (awal).

Program ini sebagai mana tahun tahun sebelumnya, akan di adakan pertengahan Ramadhan – sebelum Iedul Fitri 1441 Hijriyah.

Jumlah santunan dan ifthar bisa berubah sesuai dengan pemasukan dari donasi.

Bagi yang ingin bergabung atau menitipkan Zakat nya,

Dapat menghubungi kami.

Atau menyalurkan nya pada rekening di bawah ini:

🏧 Nomor Rekening Bank BRI
6528-01-013336-53-5 A/n Sri Mulyani
🏦 Kode Bank 002

📲 Mohon konfirmasi melalui SMS/WA ke 081357865683

Ustad Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

📝 Dengan Format :
Nama#Jumlah Donasi#Tanggal
👉 Contoh :
Abdullah#500.000#20-08-18

(Keterangan peruntukan):

  • Info publikasi menyusul.

Atas Partisipasi para muhsinin dan muhsinat, kami ucapkan Jazaakumullaahu khairan wa Baarakallaah fiikum wa Amwaalikum.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya” (QS. Saba: 39)

Allah Ta’ala berfirman:

《 مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ》 ﴿٢٦١﴾

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2:261)

Kajian Aqidah

Kajian Aqidah

العقيدة الواسطية

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Berkata imam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rahimahullah,


و قوله

Dan firman Nya,

إن الله هو الرزاق ذو القوةالمتين

Sesungguhnya Allah dialah Ar Razaaq lagi Dzu Quwwatil Matiin

Qs Adz-zariyat 58.


Syarah singkat:


القوة
Inilah penetapan bagi Allah akan sifat Al Quwwah (pemilik kekuatan).


الرزاق

Bermakna sangat memberi rezeki.

Yakni makhluk butuh akan rezeki Allah, sedang Allah tidak butuh dan berharap rezeki (sesaji) dari makhluk Nya.

Rezeki ada dua.

Rezeki umum,

yakni yang terkait urusan dunia.

Seperti harta, kesehatan, dan kelapangan, kedudukan dan semisalnya.

Di dalamnya berserikat orang beriman dan Kafir.


Rezeki khusus,

yang terkait agama, keselamatan, iman, amal shalih, kehalalan dan semisalnya.

Dan rezeki wajib di cari sebagai sebab, sebagaimana pengampunan yang di harapkan kepada Allah.


ذو القوة

Terkait sebelumnya, bahwa manusia itu lemah asalnya, ia tidak sanggup kecuali dengan pertolongan Allah.

Dalam pembahasan ini, ada tiga penetapan bagi Allah sifat.

Yakni Ar Rizqu, Al Quwwah, dan Al Matiin.

Yakni seorang hamba mengaitkan segala rezeki, menyandarkan hidup dan mencari kekuatan disisi Allah.

Manhaj Al-Wala’ wal Baro’

Manhaj Al-Wala’ wal Baro’

Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fawzan berkata, “Manusia terbagi menjadi tiga kelompok terkait Al-Wala’ (loyalitas) dan Al-Baro’ (antipati):

(1). Orang yang dicintai dengan kecintaan yang murni dan tidak ada permusuhan terhadapnya. Mereka adalah kaum Mukminin yang tulus yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang sholih. Orang yang paling utama di antara mereka adalah Rosulullah ﷺ, wajib mencintai beliau melebihi kecintaan kepada diri sendiri, anak, orangtua dan manusia seluruhnya. Kemudian kecintaan kepada isteri-isteri beliau yaitu ummahatul Mukminin, ahli baitnya (keluarga beliau) yang baik, serta para shohabat beliau yang mulia, khususnya para khulafa’urrosyidin, sepuluh orang shohabat yang telah dijamin masuk Surga, kaum Muhajirin, kaum Anshor, para shohabat yang ikut perang Badr, Bai’aturridhwan, dan para shohabat secara keseluruhan. Kemudian para Ulama Tabiin dan generasi-generasi yang utama dan para Salaf serta para imamnya seperti Imam Madzhab yang empat yaitu Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, Ahmad.

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Robb kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati-hati kami terhadap orang-orang yang beriman, “Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

Orang yang di hatinya ada keimanan tidak akan membenci para shohabat, tidak akan membenci para Salaf. Kelompok yang membenci mereka hanyalah orang-orang yang menyimpang dan ada kemunafikan dalam dirinya, juga musuh-musuh Islam seperti Syiah Rofidhoh dan Khowarij. Kami memohon kepada Allah keselamatan.

(2). Orang yang dibenci dan dimusuhi tanpa adanya kecintaan dan loyalitas sama sekali. Mereka adalah Kuffar (orang-orang Kafir) tulen, Musyrikin, Munafiqin, orang-orang yang Murtad, orang-orang Atheis dengan segala macam jenisnya.

Allah berfirman, “Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22)

(3). Orang yang dicintai di satu sisi namun dibenci di sisi lain yakni terkumpul padanya kecintaan sekaligus permusuhan. Mereka adalah orang-orang Mukmin yang durhaka. Mereka dicintai karena keimanannya dan dibenci karena kedurhakaannya selain dosa kekufuran dan kemusyrikan. Kecintaan terhadap mereka mengharuskan untuk menasihati dan mengingkari mereka. Dan mereka tidak dibenci dan dimusuhi secara total seperti orang Kafir, namun juga tidak diberi loyalitas secara total akan tetapi Ahlussunnah menyikapi mereka dengan pertengahan.

Ibnu Abbas berkata, “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berloyalitas karena Allah, memusuhi karena Allah, maka dia akan memperoleh penjagaan dari Allah karena Al-Wala’ Wal Baro’-nya itu.” (Riwayat Ibnu Jarir)

Belakangan ini standar loyalitas dan persaudaraan umumnya hanya bersifat duniawi semata. Sungguh orang yang membangun persaudaraannya hanya karena dunia tidak akan memperoleh manfaat sedikitpun kelak di akhirat.” (Selesai dengan ringkas)

Demikian Manhaj Al-Wala’ Wal Baro’ yang menjadi kemestian dalam beragama. Akan tetapi loyalitas tidak berarti menjerumuskan seseorang kepada sikap membabi buta, dan antipati tidak menghalangi seseorang untuk berlaku adil sekalipun terhadap orang kafir.

https://t.me/manhajulhaq

Wajib Bahu Membahu Menumpas Radikalisme dan Terorisme

FATAWA

WAJIB BAHU-MEMBAHU MENUMPAS RADIKALISME DAN TERORISME

Haiah Kibarul Ulama mengatakan:

‏تجتاح العالم دعوات للتخويف من الآخر، وواجب المسلمين مشاركة عقلاء العالم في مواجهة هذه الدعوات المتطرفة.
(كلما أوقدوا نارا للحرب أطفأها الله)

Dunia (islam) sedang menumpas seruan-seruan yang mengajak untuk melancarkan teror kepada orang lain, dan kewajiban kaum Muslimin adalah ikut andil bersama-sama dengan orang-orang yang berakal sehat di dunia ini untuk menghadang seruan-seruan radikal semacam ini.

ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﺃَﻭْﻗَﺪُﻭﺍْ ﻧَﺎﺭًﺍ ﻟِّﻠْﺤَﺮْﺏِ ﺃَﻃْﻔَﺄَﻫَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ.

“Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, maka Allah memadamkannya.” (QS. Al-Maidah: 64)

🌍 Sumber || https://twitter.com/ssa_at/status/747018511470460929

Kami (Abu Abd Rahman) tambahkan :

Teroris adalah upaya menakut-nakuti dan upaya membuat kerusakan di muka bumi tanpa hak.

Baik individu, organisasi, kelompok masa, atau bahkan negara.

Contoh terorisme adalah :

Peledakan bom.

Pembantaian muslim di Papua.

Penjajahan Yahudi atas Palestina.

Dan semisal itu.

Maka memaksakan istilah terorisme hanya untuk ummat Islam saja adalah bentuk terorisme lain.

Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita semua dari fitnah.

Oase Kehidupan

💝 MAAFKAN KESALAHAN SAUDARAMU, ENGKAU AKAN DIMAAFKAN DAN DIAMPUNI ALLAH TAALA

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’diy rahimahullah berkata:

ومن أخصِّ أسبابِ العفوِ والمغفرةِ أنَّ اللهَ يُجازي عبدَه بما فعلَه العبدُ مع عبادِ اللهِ، فمنْ عفا عنهم عفَا اللهُ عنه، ومن غفرَ لهم إساءَتَهم إليه، وتغاضى عن هفواتِهم نحوَه غفرَ له، ومن سامحَهم سامحَه اللهُ.

“Dan termasuk sebab paling khusus untuk kemaafan dan ampunan dari Allah, bahwasannya Allah akan membalas hamba-nya sesuai apa yang dilakukan hamba itu kepada hamba-hamba-Nya yang lain (yakni saudara nya).

Maka siapa yang memaafkan mereka, Dia pun niscaya memaafkannya.

Dan siapa yang mengampuni mereka dari perbuatan-perbuatan jelek mereka dan menutup mata atas kekeliruan mereka kepadanya, niscaya Dia mengampuninya.

Dan siapa yang membebaskan kesalahan mereka atasnya, Dia pun membebaskan kesalahannya.”

📖 (Fathur Rahiimil Malikil ‘Allaam, as-Sa’diy, hal. 29).

💧Yakni terkait dengan hal pribadi, bukan kesalahan manhaj beragama.


Instagram : instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Artikel : Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Thoharoh

THOHAROH

Manhajus Salikin: Memahami Istihadhah

Penulis

 Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Bagaimana membedakan darah haidh dan darah istihadhah?

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

فَقَدْ أَمَرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَجْلِسَ عَادَتَهَا ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهَا عَادَةٌ فَإِلَى تَمْيِيْزِهَا ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا تَمْيِيْزٌ ، فَإِلَى عَادَةِ النِّسَاءِ الغَالِبَةِ ، سِتَّةِ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةِ أَيَّامٍ ، وَاللهُ أَعْلَمُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk mengikuti kebiasaan haid (sebagai patokan). Kalau tidak punya kebiasaan, maka melihat pada perbedaan warna darah (tamyiz). Jika tidak bisa membedakan, maka melihat pada kebiasaan wanita pada umumnya yaitu enam atau tujuh hari. Wallahu a’lam.

Keadaan Wanita Istihadhah

Sebagaimana diterangkan sebelumnya bahwa darah istihadhah adalah darah yang keluar terus menerus atau darah tersebut hanyalah berhenti sebentar—misalnya dua atau tiga hari—. Pada penjelasan kali ini Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa istihadhah itu ada tiga keadaan.

Keadaan pertama:

Yang sudah punya kebiasaan haid sebelumnya (disebut al-mu’taadah), sudah diketahui kebiasaan kadar dan waktunya, kemudian mengalami istihadhah. Misalnya ada seorang wanita yang punya kebiasaan haid pada awal bulan selama tujuh hari, kemudian mengalami istihadhah. Maka ia sikapi, tujuh hari sebagai kebiasaan haid. Maka pada awal bulan, ia meninggalkan shalat selama tujuh hari. Lalu hari kedelapan, ia mandi. Setelah itu ia melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh wanita yang suci seperti mengerjakan shalat atau berpuasa.

Dalil untuk keadaan pertama adalah hadits berikut,

أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ ، سَأَلَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ : إِنِّي أُسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرُ ، أَفَأَدَعُ الصَّلاَةَ ؟ فَقَالَ : لاَ ، إِنَّ ذَلِكَ عِرْقٌ ، وَلَكِنْ دَعِي الصَّلاَةَ قَدْرَ الأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيْضِيْنَ فِيْهَا ، ثُمَّ اِغْتَسِلِي وَصَلِّي.

“Bahwasanya Fathimah binti Abi Hubaisy pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, ‘Aku pernah istihadhah dan belum suci. Apakah aku mesti meninggalkan shalat?’ Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak, itu adalah darah penyakit. Namun tinggalkanlah shalat sebanyak hari yang biasanya engkau haid sebelum itu, kemudian mandilah dan lakukanlah shalat.’ (HR. Bukhari, no. 325)

Dari hadits di atas disimpulkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan untuk memperhatikan pada kebiasaan (‘adat), bukan memperhatikan pada perbedaan warna darah (antara haid dan istihadhah).

Keadaan kedua:

Bagi orang yang tidak punya kebiasaan haid. Wanita semacam ini disebut al–mubtada’ah. Ini dialami oleh orang yang baru mengalami haid atau dialami oleh wanita yang sudah punya kebiasaan namun ia lupa kapan waktu dan kadarnya. Yang dijadikan patokan adalah warna darah, disebut tamyiz (harus bisa membedakan mana darah haid dan istihadhah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada Fathimah binti Abu Hubaisy,

إِذَا كَانَ دَمُ الحَيْضَةِ فَإِنَّهُ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِيْ عَن الصَّلاَةِ، فَإِذَا كَانَ الآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ وَصَلِّيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

“Jika yang keluar adalah darah haid yaitu berwarna hitam yang dapat diketahui, maka tinggalkanlah shalat. Tetapi jika yang keluar bukan seperti itu, maka berwudhulah dan lakukanlah shalat karena itu darah penyakit.” (HR. Abu Daud, no. 286. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Keadaan ketiga:

Yang tidak punya kebiasaan (seperti pada yang baru mengalami haid atau dalam keadaan lupa masa haidnya) dan tidak bisa membedakan darah haid dan yang bukan, maka dikembalikan kepada kebiasaan umumnya wanita atau enam atau tujuh hari.

Hal ini berdasarkan hadits Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُوْلَ الله إِنِّي أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَبِيْرَةً شَدِيْدَةً فَمَا تَرَى فِيْهَا قَدْ مَنَعَتْنِي الصَّلاَةَ وَالصِّيَامَ، فَقَالَ: (( أَنْعَتُ لَكِ (أَصِفُ لَكِ اسْتِعْمَالَ) الكُرْسُفَ (وهو القطن) تَضَعِيْنَهُ عَلَى الفَرجِ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ )) قَالَتْ: هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ. وَفِيْهِ قَالَ: (( إِنَّمَا هَذَا رَكْضَةٌ مِنْ رَكَضَاتِ الشَّيْطَان، فَتَحِيْضِيْ سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ فِيْ عِلْمِ الله تَعَالَى، ثُمَّ اغْتَسِلِيْ حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَيْتِ فَصَلِّي أَرْبَعًا وَعِشْرِيْنَ أَوْ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً وَأَيَّامَهَا وَصُوْمِيْ ))

“Ya Rasulullah, sungguh aku sedang mengalami istihadhah yang deras sekali. Lalu bagaimana pendapatmu tentang darah tersebut? Darah tersebut telah menghalangiku shalat dan berpuasa. Beliau bersabda, ‘Aku beritahukan kepadamu (untuk menggunakan) kapas dengan melekatkannya pada kemaluan, karena hal itu dapat menyerap darah.’ Hamnah berkata, ‘Darahnya lebih banyak dari itu.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Ini hanyalah salah satu usikan syetan. Maka hitunglah haidmu enam atau tujuh hari menurut ilmu Allah Ta’ala lalu mandilah sampai engkau merasa telah bersih dan suci, kemudian shalatlah selama 24 atau 23 hari, dan berpuasalah.’” (HR. Ahmad, 1:237. Sebagaimana disebut dalam Tanqih Tahqiq At-Ta’liq, hadits ini hasan shahih)

Di sini disuruh memilih enam atau tujuh hari. Memilihnya tergantung ijtihad manakah yang paling diyakini. Antara enam atau tujuh dipilih mana yang mendekati kebenaran, itulah waktu yang disikapi untuk masa haid.

Wanita Istihadhah: Mubtada’ah dan Mu’taadah

Wanita mubtada’ah (yang belum punya kebiasaan) ada dua keadaan:

Bisa membedakan warna darah. Ketika didapati darah haid, maka tidak shalat. Ketika darah tersebut berhenti, maka mandi lalu mengerjakan shalat.

Tidak bisa membedakan warna darah, maka ia mengikuti kebiasaan umumnya wanita yaitu enam atau tujuh hari. Ketika sudah melewati masa tersebut, maka mandi lalu mengerjakan shalat. Ketika dapati darah, maka hari tersebut dihitung sebagai hari pertama keluarnya haid.

Wanita mu’taadah (yang sudah punya kebiasaan) ada dua keadaan:

Masih mengingat kebiasaan haid, maka tugasnya adalah mengamalkan sesuai kebiasaan. Dan di sini tidak memperhatikan perbedaan warna darah (tamyiz).

Lupa dengan kebiasaan haid, maka ada dua hal lagi bisa diperhatikan: (a) jika bisa membedakan warna darah, maka itulah yang dipakai; (b) kalau tidak bisa membedakan warna darah, berarti melihat pada kebiasaan wanita umumnya.

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berbuah amal shalih.

Referensi:

Ad-Dalil ‘ala Manhaj As-Salikin wa Tawdhih Al-Fiqh fi Ad-Diin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. ‘Abdullah bin Za’al Al-‘Anzi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Minhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdirrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

Artikel Rumaysho.Com

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

KEUTAMAAN HAJI, DAN HARAPAN UNTUK ORANG YANG BELUM MENUNAIKANNYA

🌺fawaid edisi khusus🌺

🕋  KEUTAMAAN HAJI, DAN HARAPAN UNTUK ORANG YANG BELUM MENUNAIKANNYA

(amaliah yang di harap menyamai pahala haji bagi orang yang belum menunaikan, sebuah kabar gembira)

🖋abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Imam Abu Farj Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab rahimahullah

Berkata

“… Ketika Allah taala menanamkan kerinduan dalam hati hamba hamba Nya yang beriman untuk menyaksikan Baitullah,

Dan tidak semua orang bisa menyaksikannya tiap tahun,

Maka Allah taala mewajibkan bagi yang mampu untuk berhaji satu kali seumur hidup,

Dan menjadikan sepuluh hari pertama Dzul hijjah sebagai musim bersama untuk beramal shalih antara orang orang yang berhaji dan orang orang yang tidak menunaikannya (pada tahun itu).

Barang siapa tidak mampu berhaji pada suatu tahun, ia dapat melakukan amal yang ia mampu melakukannya di rumah, yang lebih utama dari jihad, padahal jihad lebih utama dari haji*.

Jauhilah maksiat, karena ia menghalangi ampunan pada musim yang penuh dengan rahmat,

Marwazy meriwayatkan di kitab ‘wara’, dari Abdul Malik dari seorang shahabat atau tabiin **,

“Bahwa datang seorang dalam mimpinya *** di salah satu hari sepuluh hari awal dzulhijjah,

“tidak ada seorang muslim pun yang tidak di ampuni segala dosanya pada hari hari ini, setiap hari lima kali, kecuali para pemain”, mereka adalah pemain catur”.

Jika bermain catur saja menjadi penghalang ampunan, lalu bagaimana orang orang yang terus terusan dalam dosa ?,

Maksiat adalah penghalang seorang dari rahmat Allah taala, dan ketaatan adalah hal yang dapat mendekatkan kepada Allah dan rahmat Nya.

Saudara saudaraku, kalian telah berihram pada hari hari ini, dan berniat menuju ka’bah, memenuhi angkasa dengan talbiyah, takbir, tahlil, dan tahmid, mengagungkan Allah taala,

Sungguh mereka telah berangkat, sedang kita hanya bisa duduk, mereka mendekat, sedang kita menjauh,

Jika sekiranya kita memiliki sedikit bagian dari mereka, tentu kita bahagia.

Orang orang yang duduk karena udzur, di samakan dengan orang orang yang berjalan,

Boleh jadi, orang yang berjalan dengan hatinya (pahalanya) melebihi orang yang berjalan dengan raganya.

Seorang dari salaf bermimpi *** bahwa ada seorang di arafah tanggal 9 dzulhijjah, orang itu berkata padanya “apakah engkau melihat penuhnya manusia di sini ?, tidak seorang pun berhaji (mendapat pahala haji), kecuali seorang yang tidak ada di sini, karena ia berhaji dengan niatnya,  lalu ia meraih keutamaan orang orang yang berada di sini ****”.

Jangan sampai kita luput mendapat ghanimah pada hari agung ini, karena tidak ada gantinya, dan tidak bisa di hargai dengan uang,

Cekatlah dan tangkaslah dalam beramal, bersegeralah sebelum di serang ajal, sebelum menyesal orang orang yang lalai, sebelum ia meminta di kembalikan untuk beramal sedang tidak di penuhi permintaannya, sebelum di halangi orang orang yang berangan angan mewujudkan hayalan,

sebelum seorang tergadai di kubangan lubang amal yang ia persembahkan *****.

Wahai orang yang mulai nampak bibit ubannya, setelah 40 tahun,

Wahai orang yang berlalu di hadapannya tahun tahun, hingga berumur 50 tahun,

Wahai orang yang sudah di pintu kematian, saat umur 60 atau 70 tahun,

apa yang engkau tunggu setelah datang pengkabaran ?,

Apakah engkau tunggu kematian menjemputmu ?,

Wahai orang orang yang bilangan dosanya sebanyak bilangan genap dan ganjil,

Tidakklah engkau malu dengan kiraman katibin (malaikat yang mulia lagi mencatat) ?,

Atau engkau termasuk orang yang mendustakan hari berbangkit ?.

Wahai orang yang pekat gelap hatinya seperti malam bila datang,

Bukankah telah datang waktu untuk menerangi hati atau me lunak kannya ?,

Angin segar di hembuskan pada sepuluh hari ini (dzulhijjah),

Sesungguhnya Allah taala memiliki tiupan rahmat, tiada seorang mendapatkannya, kecuali ia akan berbahagia.”

📚 كتاب *لطائف المعارف* فيما لمواسم العام من الوظائف 518.

______ 🖋

Catatan:

* kami (abu abd rahman) tidak mendapati keterangan yang mengatakan jihad lebih utama dari haji.

Yang kami dapati riwayat Abdullah bin masud radiyallahu anhu,

سألت النبي صلى الله عليه وسلم   اي العمل احب إلى الله ؟

قال الصلاة على وقتها ، قال ثم أي ؟ قال بر الوالدين ، قال ثم اي ؟ قال الجهاد في سبيل الله

(hr Bukhari 527)

Aku bertanya pada nabi shalallahu alaihi wa salam, amal apa yang di cintai Allah,

Di jawab, shalat pada waktunya, lalu apa lagi, di jawab, berbuat baik dengan kedua orang tua, lalu apa lagi, di jawab, jihad di jalan Allah.

** riwayat yang terputus dan ada keraguan dari rawi. (mubham atau riwayat yg tidak di sebutkan nama dalam sanad).

*** dalam islam mimpi tidak di jadikan dasar hukum.

**** tulisan ini, wallahu a’lam, bukan bermaksud merendahkan ibadah haji, sebagaimana yang ada dalam fikiran kaum munafiq liberal.

Bahwa orang liberal berpendapat, lebih baik ibadah sosial dari ibadah haji, atau lainnya, atau ucapan mereka lebih baik hati bersih daripada beribadah tapi dengan orang lain jahat. ini satu kesalahan pemahaman.

Yang benar, sebagaimana penjelasan ibnu rajab dalam hadits niat (riwayat Umar bin Khattab radiyallahu anhu. Hadits Bukhari no 1. Muslim no 1907. Hadits ini di riwayatkan sendirian oleh yahya bin said, berlafad إنما الأعمال بالنيات) kadang amalan hati lebih baik dari amalan dzahir. Dan beliau jelaskan panjang lebar tentang amalan niat ini, (syarah hadits arbaun nawawi ‘jamiul ulumi wal hikam bab 1).

***** kami tidak tau maksud kalimat ini.

Pencari ilmu syar’i

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Makan dan Minum Sambil Tiduran (Tanya Ustadz)

#TANYA USTADZ

Nama: Eka Fatma
Asal: Jawa Timur
Group UFHA: 10

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Pertanyaan:

apakah di perboleh minum sambail tiduran ustadz ??
Syukron jazaakallahu khairan.

_____________________

Jawaban

Tidak boleh (makruh) makan dan minum sambil malas malasan,

Atau tidur atau bersandar atau bertelekan.

Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda

أما أنا فلا اكل متكئأ

Sedang aku, tidak makan dg bertelekan.

Kitab syamailul muhammadiyah hadits ke 125 oleh tirmudzy dari Abu Juhaifah.

Pertanyaan yg baik, sekaligus sebagai nasehat untuk yg masih melakukan adab yg buruk ini.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel:  http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Digulung Ombak

Digulung Ombak

Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya tentang bagaimana keadaan kaum musyrikin di masa silam. Allah berfirman:

وإذا غشيهم موج كالظلل دعوا الله مخلصين له الدين

“Apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung barulah mereka menyeru Allah dengan ikhlas (memurnikan) niat ibadah kepada-Nya.” (Luqman: 32)

Allah juga berfirman:

وإذا مسكم الضر في البحر ضل من تدعون إلا إياه فلما نجاكم إلى البر أعرضتم

“Apabila engkau ditimpa bahaya di lautan niscaya hilanglah semua sekutu yang biasa engkau seru melainkan hanya Allah. Tetapi ketika Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu kembali berpaling.” (Al-Isro’: 67)

Dijelaskan oleh para Ulama, ayat ini menunjukkan bahwa dahulu kaum musyrikin berlaku syirik (menyekutukan Allah) hanya dalam keadaan lapang. Adapun dalam keadaan sempit mereka hanya bersandar kepada Allah dengan tulus.

Akan tetapi setelah mereka selamat mereka kembali lagi kepada kemusyrikannya yaitu berdoa kepada selain Allah, meyakini adanya pihak-pihak selain Allah yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot, mengkeramatkan kuburan dan benda-benda mati yang lain.

Sedangkan kaum musyrikin di jaman belakangan keadaan mereka lebih mengenaskan, baik dalam kondisi sempit maupun lapang mereka tetap menyekutukan Allah. Semoga Allah selamatkan kita dari petaka dunia akhirat.
________

Fikri Abul Hasan

https://t.me/manhajulhaq

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Bagaimana ayat Al-Qur’an diturunkan?

Bagaimana Ayat Al-Qur’an Diturunkan?

 

Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin menjelaskan, “Turunnya Al-Qur’an terbagi menjadi dua yaitu ibtida’i dan sababi.

Pertama, secara ibtida’i:

وهو ما لم يتقدم نزوله سبب يقتضيه وهو غالب آيات القرآن

Yaitu turunnya ayat tanpa didahului oleh sebab tertentu dan ayat-ayat Qur’an keumumannya seperti ini.

Kedua, secara sababi:

وهو ما تقدم نزوله سبب يقتضيه

Yaitu turunnya ayat yang didahului oleh sebab tertentu yang melatarbelakanginya. Sebab-sebabnya antara lain:

1. Pertanyaan yang dijawab oleh Allah seperti ayat, “Mereka bertanya kepadamu tentang hilal, katakanlah hilal itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.” (Al-Baqoroh: 189)

2. Peristiwa yang membutuhkan bayan (penjelasan) dan tahdzir (peringatan) seperti ayat, ”Dan jika kamu tanyakan kepada mereka niscaya mereka akan berkata, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kamu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir setelah beriman.” (At-Taubah: 65-66)

Ayat ini turun terkait celotehan orang munafiq yang mengejek Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan shohabatnya dengan perkataan, “Kami tidak pernah melihat orang yang paling besar perutnya, paling dusta lisannya dan paling penakut tatkala bertemu dengan musuh selain para pembaca Qur’an kita ini.”

3. Kasus yang butuh diketahui hukumnya seperti ayat, ”Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan dia mengadukannya kepada Allah dan Allah mendengar perbincangan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Mujadilah: 1). (Ushul Fit Tafsir hal. 13-14)
_______________

✍🏻 Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Mengikuti Kebiasaan Nenek Moyang Adalah Tradisi Jahiliyyah

MENGIKUTI KEBIASAAN NENEK MOYANG ADALAH TRADISI JAHILIYYAH

Oleh
✍🏻 Ustadz Fikri Abul Hasan

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, termasuk tradisi jahiliyyah adalah berdalil dengan kebiasaan nenek moyang tanpa melihat landasannya.

Allah berfirman:

قال فما بال القرون الأولى

“Fir’aun berkata, “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu.” (Thoha: 51)

Allah juga berfirman:

وما سمعنا بهذا في آبائنا الأولين

 

“Belum pernah kami mendengar (seruan seperti ini) pada masa nenek moyang kami terdahulu.” (Al-Mu’minun: 24)

Penjelasan Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fawzan

Seharusnya yang dilakukan oleh orang-orang yang berakal adalah melihat apa yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam lalu membandingkannya dengan apa yang diajarkan oleh nenek moyang mereka sehingga menjadi jelaslah mana haq dan mana yang batil. Adapun jika mereka menutup diri dan berkata,

“Kami tidak akan menerima kecuali yang sesuai ajaran nenek moyang kami dan kami tidak mau menerima apa-apa yang menyelisihinya”.

Maka tindakan seperti ini bukanlah sikapnya orang-orang yang berakal, lebih-lebih lagi bagi mereka yang menginginkan keselamatan.

Saat ini banyak sekali para penyembah kuburan jika mereka dilarang dari mengkeramatkannya mereka beralasan, “Tradisi ini sudah berlaku sejak dulu di negeri ini, dilakukan oleh banyak orang, dan sudah berlangsung lama”. Begitu pula dengan orang-orang yang membuat perayaan maulid padahal tidak ada contohnya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan para shohabat, jika mereka dinasehati dan dilarang bahwa perayaan itu adalah mengada-ada dalam Islam, maka mereka beralasan, “Perayaan ini sudah dilakukan oleh orang-orang sebelum kami, kalau saja ini batil tentu mereka tidak akan melakukannya.” Alasan seperti ini sama seperti alasan orang-orang di masa jahiliyyah.

Maka ukuran kebenaran bukan berdasarkan pendapat manusia, akan tetapi didasarkan kepada apa yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Manusia mereka bisa benar dan bisa salah sedangkan ajaran yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kebenarannya pasti maka yang harus dilakukan adalah meneladaninya.

Allah tidak mewakilkan kita kepada orangtua kita dan nenek moyang kita. Andaikata apa yang menjadi tradisi orangtua dan nenek moyang itu mencukupi kita tentu kita tidak perlu berhujjah lagi dengan ajaran yang dibawa oleh para Rosul ‘alaihimussholatu wassalam.

(Syarh Masa’il Jahiliyyah 64-65 secara ringkas)


Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah