Cara Rasulullah Mendamaikan Pasutri

CARA RASULULLAH ﷺ MENDAMAIKAN PASUTRI

Pernikahan adalah ibadah yang agung dan di antara sarana tercepat mengantarkan pelakunya menuju surga. Karena itulah pernikahan juga menjadi nikmat Allah ﷻ yang besar dan harus disyukuri.

Akan tetapi tak selamanya kehidupan berumah tangga akan berjalan mulus. Karena Allah ﷻ juga menamai akad pernikahan sebagai perjanjian yang berat (Mitsaqan Ghalizha). Hal itu menunjukkan bahwa dalam menjalani kehidupan berkeluarga pasti akan dijumpai rintangan, hambatan dan ujian. Terkadang ujian itu ringan, dan ada kalanya ujian itu berat. Maka sebagaimana kata sebagian orang agar tidak sampai termakan oleh iklan-iklan yang menjerumuskan, maka demikian pula dengan pernikahan. Jangan sampai kita terhipnotis lantas percaya bahwa ada keluarga yang tak memiliki masalah. Karena masalah dalam kehidupan berumah tangga itu menjadi sebuah kepastian.

Syaikh Shalih Al-Munajjid mengatakan, “Jangan sampai tergiur dengan adanya seminar-seminar yang menawarkan adanya pernikahan tanpa adanya masalah. Maka pernikahan manakah yang tanpa ada masalah?! Padahal pernikahan di masa Nabi ﷺ dan kehidupan beliau bersama para istrinya dipenuhi masalah. Akan tetapi yang terpenting, bagaimana sikap seorang suami dan cara menyelesaikannya? Demikian pula bagaimana sikap istri terhadap hal itu?”

Saat permasalahan semakin membesar.

Permasalahan yang dihadapi oleh pasutri terkadang menjadi semakin membesar sehingga tak bisa hanya diselesaikan oleh mereka berdua. Maka sebelum menempuh jalan terakhir berupa perceraian (talak), Allah ﷻ memberikan jalan keluar di antaranya melalui pihak ketiga yang diharapkan dapat memberikan solusi. (QS. An-Nisa’: 35)

Allah ﷻ juga menyebutkan, bahwa siapa saja yang dapat mendamaikan manusia karena mengharap ridha Allah, ia akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Firman Allah ﷻ:

۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat Ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS. An-Nisa’: 114)

Namun bermula dari sini pula, banyak masalah baru yang muncul ke permukaan. Yaitu semakin runyamnya problematika keluarga akibat pihak ketiga yang salah dalam mengambil peran. Baik itu pendamai dari pihak lelaki, dari pihak wanita maupun pihak yang lainnya.

Saat Nabi ﷺ memberi solusi masalah keluarga.

Kaum salaf dahulu sangat memperhatikan masalah mendamaikan antara pasutri yang bertikai karena terbelit masalah. Hal ini berangkat dari hadits Rasulullah ﷺ yang mulia,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

“Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sehingga mencintai bagi saudaranya sebagaimana apa yang ia cintai untuk dirinya.”(HR. Al-Bukhari: 13, Muslim: 179)

Yang terdepan memberi contoh mulia dalam masalah ini adalah Rasulullah ﷺ. Di antara contoh yang tercatat ialah:

Rasulullah ﷺ mendamaikan Ali dan Fatimah.

Mereka berdua adalah salah satu potret pasutri ideal di panggung sejarah. Bagaimana tidak, jika dilihat dari profil masing-masing, Fatimah sebagai putri baginda Rasul dan penghulu wanita di surga. Sedangkan Ali, beliau adalah khalifah keempat sepeninggal Rasulullah dan ayah dari dua pemuda pemimpin ahli surga. Namun demikian, apakah laju biduk rumah tangga mereka tak menemui halangan?

Sahl bin Sa’d  mengisahkan, bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ menemui Fatimah, namun beliau tak mendapati Ali ada di rumah. Padahal saat itu adalah waktu seorang suami ada di rumahnya, yaitu istirahat siang. Rasul yang tahu adanya gelagat aneh bertanya, “Mana saudara sepupumu?”Nabi tak menyebut ‘suamimu’ karena paham telah terjadi sesuatu dan ingin mengingatkan putrinya dengan pertalian nasab antara dia dan Ali, semoga dapat menumbuhkan rasa sayang lagi. Fatimah pun buka suara, “Terjadi sesuatu antara kami. Ia membuat aku kesal, lalu keluar dan tidak tidur siang di sini.” Apakah Rasul akan membawa Fatimah karena ia telah ‘disia-siakan’ oleh Ali, senyampang sang suami tak ada di rumah? Tidak. Apakah Rasul bersikap tak acuh? Ternyata juga tidak. Bahkan Rasul berinisiatif untuk mendamaikan mereka berdua. Nabi pun mencari Ali, dan beliau temukan menantunya itu sedang tidur di masjid. Rasul datang seorang diri, padahal beliau adalah manusia termulia! Badan Ali lalu diusap-usap oleh Nabi karena debu telah mengotorinya, sembari mengatakan, “Bangun, Abu Turab (tanah)…! Bangun, Abu Turab…!” (HR. Al-Bukhari: 441)

Dan semenjak itu julukan tersebut menjadi yang paling indah buat Ali. Masalah pun selesai. Masalah yang terjadi antara orang besar, itu adalah hal biasa dan manusiawi. Namun bedanya dengan kita, mereka akan mengambil penyelesaian yang terbaik dan masalah akan segera hilang.

Rasulullah ﷺ menjadi duta bagi Mughits, sang budak. Barirah  adalah seorang budak, suaminya yang bernama Mughits juga budak. Namun Barirah dimerdekakan olah Aisyah, sedang Mughits masih berstatus budak. Dan secara syariat, jika istri dari pasutri berstatus budak dimerdekakan, maka ia bebas memilih status pernikahannya; dilanjutkan atau berpisah.

Saat itu Barirah memilih meninggalkan Mughits, walaupun sang mantan suami masih sangat mencintainya. Mughits pun selalu menguntit Barirah yang tak lagi menjadi istrinya sampai di jalan-jalan Madinah sambil menangisinya. (HR. Al-Bukhari: 5281)

Rasulullah merasa iba. Beliau pun membantu Mughits untuk bersatu dengan Barirah lagi. Beliau ﷺ mengatakan, “Andai engkau mau kembali bersamanya..” (HR. Al-Bukhari: 5283) Dalam riwayat yang lain Rasul memelas, “Sesungguhnya dia (Mughits) adalah ayah dari anakmu.” (HR. An-Nasa’i: 5417, Ibnu Majah: 2075) Barirah pun memastikan, apakah perkataan Rasul tersebut perintah atau hanya sebuah lobi, “Apakah Anda memerintahku, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, aku hanya pelobi.” Barirah pun menutup dialog, “Aku sudah tak butuh lagi dengannya.”

Walau usaha mulia ini berujung gagal, namun Rasulullah mengajari kita untuk mencobanya dengan sebaik mungkin.

Rasulullah ﷺ mengingatkan pasutri terhadap hak-hak bersama. Hal ini ditempuh Rasulullah ﷺ dalam banyak kesempatan. Setiap kali ada seorang suami yang datang meminta nasihat keluarga, beliau ﷺ arahkan agar selalu mengingat hak-hak istrinya. Sebaliknya, ketika para istri yang datang, maka beliau ingatkan mereka agar selalu memperhatikan hak-hak suami.

Salah satu fragmen sejarah yang sempat terekam ialah saat Rasulullah ﷺ didatangi oleh bibinya Hushain bin Mihshan. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah memiliki suami?” Bibi Hushain menjawab, “Ya.” Rasul meneruskan, “Bagaimana keadaanmu (saat hidup) bersamanya?” Bibi Hushain menjawab, “Aku tak pernah sembrono dalam menaati maupun melayaninya, kecuali (hal-hal) yang memang aku tak mampui.” Rasulullah pun meneruskan, “Lihatlah kedudukanmu di sisinya, karena suamimu hanyalah surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Sa’d, an-Nasa’i dalam ‘Isyrat an-Nisa’, Ahmad dan yang lainnya. Sanadnya Shahih menurut Al-Hakim dan Al-Albani dalam Adab Az-Zafafhal. 213)

Sebaliknya, Rasulullah ﷺ juga sering mengingatkan para suami agar selalu memperhatikan hak istri. Di antara wasiat beliau terhadap kaum lelaki ialah mengingatkan mereka bahwa di antara hak para istri yang harus ditunaikan yaitu mempergauli mereka dengan cara yang baik, memberi tempat tinggal, pakaian dan makanan yang baik pula. Rasul ﷺ bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling bagus (Muamalahnya) terhadap keluarganya, sedangkan saya adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi: 3895, dishahihkan oleh Al-Albani, dari sahabat Aisyah)

Demikianlah Rasulullah ﷺ secara bergantian mengingatkan masing-masing pasutri mengenai kewajibannya terhadap pasangannya. Karena apabila kewajiban sudah dijalankan ole masing-masing pihak, maka dengan sendirinya hak akan diperoleh tanpa diminta.

Demikianlah cara dan usaha Rasulullah ﷺ dalam melanggengkan hubungan antara pasutri. Semoga dapat menjadi ‘Ibrah bagi kita semua.

Disadur dari majalah Al-Furqan, Oleh: Abu Usamah al-Kadiri.
Sumber: https://bimbingansyariah.com

Rumah Tangga Yang Ideal

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Menurut ajaran Islam, rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang). Allah Ta’ala berfirman.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Ar-Ruum/30:21]

Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami atau isteri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajiban serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing, serta melaksanakan tugasnya itu dengan penuh tanggung jawab, ikhlas serta mengharapkan ganjaran dan ridha dari Allah Ta’ala.

Sehingga, upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tenteram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan.

Apabila terjadi perselisihan dalam rumah tangga, maka harus ada upaya ishlah (mendamaikan). Yang harus dilakukan pertama kali oleh suami dan isteri adalah lebih dahulu saling intropeksi, menyadari kesalahan masing-masing, dan saling memaafkan, serta memohon kepada Allah agar disatukan hati, dimudahkan urusan dalam ketaatan kepadaNya, dan diberikan kedamaian dalam rumah tangganya. Jika cara tersebut gagal, maka harus ada juru damai dari pihak keluarga suami maupun isteri untuk mendamaikan keduanya. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada pasangan suami isteri tersebut.

Apabila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, surat An-Nisaa’ ayat 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi berkata, “Apabila masalah antara suami isteri semakin memanas, hendaklah keduanya saling memperbaiki urusan keduanya, berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dan meredam perselisihan antara keduanya, serta mengunci rapat-rapat setiap pintu perselisihan dan jangan menceritakannya kepada orang lain.

Apabila suami marah sementara isteri ikut emosi, hendaklah keduanya berlindung kepada Allah, berwudhu’ dan shalat dua raka’at. Apabila keduanya sedang berdiri, hendaklah duduk; apabila keduanya sedang duduk, hendaklah berbaring, atau hendaklah salah seorang dari keduanya mencium, merangkul, dan menyatakan alasan kepada yang lainnya. Apabila salah seorang berbuat salah, hendaknya yang lainnya segera memaafkannya karena mengharapkan wajah Allah semata.”[1]

Di tempat lain beliau berkata, “Sedangkan berdamai adalah lebih baik, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala. Berdamai lebih baik bagi keduanya daripada berpisah dan bercerai. Berdamai lebih baik bagi anak daripada mereka terbengkalai (tidak terurus). Berdamai lebih baik daripada bercerai. Perceraian adalah rayuan iblis dan termasuk perbuatan Harut dan Marut”.

Allah Ta’ala berfirman.

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Maka mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah.” [Al-Baqarah/2:102]

Di dalam Shahiih Muslim dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas lautan. Kemudian ia mengirimkan balatentaranya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah yang menimbulkan fitnah paling besar kepada manusia. Seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah lakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Lalu datanglah seorang dari mereka dan berkata, ‘Tidaklah aku meninggalkannya sehingga aku telah berhasil memisahkan ia (suami) dan isterinya.’’ Beliau melanjutkan, ‘Lalu iblis mendekatkan kedudukannya. Iblis berkata, ‘Sebaik-baik pekerjaan adalah yang telah engkau lakukan.”[2]

Ini menunjukkan bahwa perceraian adalah perbuatan yang dicintai syaitan.

Apabila dikhawatirkan terjadinya perpecahan antara suami isteri, hendaklah hakim atau pemimpin mengirim dua orang juru damai. Satu dari pihak suami dan satu lagi dari pihak isteri untuk mengadakan perdamaian antara keduanya. Apabila keduanya damai, maka alhamdulillaah. Namun apabila permasalahan terus berlanjut antara keduanya kepada jalan yang telah digariskan dan keduanya tidak mampu menegakkan batasan-batasan Allah di antara keduanya. Yaitu isteri tak lagi mampu menunaikan hak suami yang disyari’atkan dan suami tidak mampu menunaikan hak isterinya, serta batas-batas Allah menjadi terabaikan di antara keduanya dan keduanya tidak mampu menegakkan ketaatan kepada Allah, maka ketika itu urusannya seperti yang Allah firmankan:

وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا

“Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), Mahabijaksana.” [An-Nisaa’/4:130][3]

Allah Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[4], hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusah-kannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar. Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [An-Nisaa’/4:34-35]

Pada hakikatnya, perceraian dibolehkan menurut syari’at Islam, dan ini merupakan hak suami. Hukum thalaq (cerai) dalam syari’at Islam adalah dibolehkan.

Adapun hadits yang mengatakan bahwa “perkara halal yang dibenci Allah adalah thalaq (cerai),” yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2178), Ibnu Majah (no. 2018) dan al-Hakim (II/196) adalah hadits lemah. Hadits ini dilemahkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullaah dalam kitabnya, al-‘Ilal, dilemahkan juga oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2040).

Meskipun thalaq (cerai) dibolehkan dalam ajaran Islam, akan tetapi seorang suami tidak boleh terlalu memudahkan masalah ini. Ketika seorang suami akan menjatuhkan thalaq (cerai), ia harus berfikir tentang maslahat (kebaikan) dan mafsadah (kerusakan) yang mungkin timbul akibat perceraian agar jangan sampai membawa kepada penyesalan yang panjang. Ia harus berfikir tentang dirinya, isterinya dan anak-anaknya, serta tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat.

Kemudian bagi isteri, bagaimana pun kemarahannya kepada suami, hendaknya ia tetap sabar dan janganlah sekali-kali ia menuntut cerai kepada suaminya. Terkadang ada isteri meminta cerai disebabkan masalah kecil atau karena suaminya menikah lagi (berpoligami) atau menyuruh suaminya menceraikan madunya. Hal ini tidak dibenarkan dalam agama Islam. Jika si isteri masih terus menuntut cerai, maka haram atasnya aroma Surga, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

“Siapa saja wanita yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada alasan yang benar, maka haram atasnya aroma Surga.”[5]

Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ: … وَلاَ تَسْأَلُ الْمَرْأَةُ طَلاَقَ أُخْتِهَا لِتَكْفَأَ مَا فِيْ إِنَائِهَا

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang: … dan janganlah seorang isteri meminta (suaminya) untuk menceraikan saudara (madu)nya agar memperoleh nafkahnya.”[6]

Marilah kita berupaya untuk melaksanakan pernikahan secara Islami dan membina rumah tangga yang Islami, serta berusaha meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali ‘Imran/3:19]

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“…Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Al-Furqaan/25:74]

Setiap keluarga selalu mendambakan terwujudnya rumah tangga yang bahagia, diliputi sakinah, mawaddah dan rahmah. Oleh karena itu, setiap suami dan isteri wajib menunaikan hak dan kewajibannya sesuai dengan syari’at Islam dan bergaul dengan cara yang baik.

Sumber: https://almanhaj.or.id/13194-rumah-tangga-yang-ideal-2.html

Anjuran Menikah di Bulan Syawwal

Anjuran Menikah Di Bulan Syawwal

Ada sunnah di bulan Syawwal yaitu anjuran menikah di bulan Syawwal. Bagi yang sudah dimudahkan oleh Allah, bisa melaksanakan sunnah ini.

Setelah bulan suci Ramadhan ada bulan Syawwal, di mana masyarakat sudah mengenal sunnah puasa 6 hari di bulan Syawwal. Akan tetapi ada juga sunnah lainnya di bulan Syawwal yaitu anjuran menikah di bulan Syawwal. Bagi yang sudah dimudahkan oleh Allah, bisa melaksanakan sunnah ini.

Dalil sunnah menikah di bulan Syawwal

‘Aisyah radiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ))

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

Sebab Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam menikahi ‘Aisyah di bulan Syawwal adalah untuk menepis anggapan bahwa menikah di bulan Syawwal adalah kesialan dan tidak membawa berkah. Ini adalah keyakinan dan aqidah Arab Jahiliyah. Ini tidak benar, karena yang menentukan beruntung atau rugi hanya Allah Ta’ala.

Bulan Syawwal dianggap bulan sial menikah karena nggapan di bulan Syawwal unta betina yang mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha). Ini adalah tanda unta betina tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para walipun enggan menikahkan putri mereka.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenikahi ‘Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua ‘ied (bulan Syawwal termasuk di antara ‘ied fitri dan ‘idul Adha), mereka khawatir akan terjadi perceraian. Keyakinan ini tidaklah benar.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 3/253).

Imam An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama syafi’iyyah) telah menegaskan anjuran tersebut dan berdalil dengan hadits ini. Dan Aisyah Radiyallahu ‘anhaa ketika menceritakan hal ini bermaksud membantah apa yang diyakini masyarakat jahiliyyah dahulu dan anggapan takhayul sebagian orang awam pada masa kini yang menyatakan kemakruhan menikah, menikahkan, dan membangun rumah tangga di bulan Syawwal. Dan ini adalah batil, tidak ada dasarnya. Ini termasuk peninggalan jahiliyyah yang ber-tathayyur (menganggap sial) hal itu, dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u(menghilangkan/mengangkat).” (yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka)” (Syarh Shahih Muslim 9/209).

Larangan “merasa sial” (thiyarah)

Anggapan “merasa sial” atau “Thiyarah” adalah keyakinan yang kurang baik bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Begitu juga praktek masyarakat kita yang kurang tepat yaitu yakin adanya hari sial, bulan sial bahkan keadaan-keadaan yang dianggap sial. Misalnya kejatuhan cicak, suara burung hantu malam hari dan lain-lainnya.
Keyakinan seperti ini bertentangan dengan ajaran Islam, karena untung dan rugi adalah takdir Allah dengan hikmah.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam menjelaskan bahwa anggapan sial pada sesuatu itu termasuk kesyirikan. Beliau Shalallahu ‘alaihi Wassalambersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلَّا، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) adalah kesyirikan. Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (pernah melakukannya), hanya saja Allah akan menghilangkannya dengan sikap tawakkal” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 429).

Beliau juga bersab

Turut campur keluarga pada masalah rumah tangga

*SOLUSI PROBLEMATIKA RUMAH TANGGA AKIBAT TURUT CAMPURNYA KELUARGA*

✒ Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

✒ Al-Ustadz Muhammad Qodri, Lc hafizhahullah (Pembina Ma’had Tahfizhul Quran Markaz Tidzkar Kotamobagu Sulawesi Utara)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tanya: Ada seorang wanita yang berseteru dengan suaminya karena pengaruh sebagian keluarga wanita tersebut. Masalah ini sering terjadi di kalangan suami istri, namun ini begitu besar pengaruhnya sampai-sampai terputuslah hubungan keharmonisan suami istri dan berlanjut hingga wanita itu menutup diri dari suaminya dan tidak mau menemuinya, maka kami mohon pengarahan dari Syaikh?

Jawab: Pertama kali hendaknya kita peringatkan kepada keluarga agar tidak ikut campur dalam urusan suami istri kecuali atas permintaan keduanya. Jika suami istri meminta ikut campurnya keluarga dalam urusan mereka demi mencari jalan keluar (perdamaian) maka ini persoalan lain. Dan perdamaian itu baik.

Namun jika ikut campur keluarga bukan tujuan perdamaian maka tidak diperbolehkan mereka ikut campur dalam persoalan suami istri. Terlebih jika mereka memang tidak menginginkan perbaikan. Karena sebagian keluarga -hanya kepada Allah kita berlindung- yang mereka lakukan hanya berusaha untuk memenangkan anak wanita mereka, dan sebaliknya jika keluarga suami maka mereka akan memenangkan anak lelaki mereka.

Maka lihat bagaimana mereka berusaha menyalakan api kemarahan dan kebencian seorang istri terhadap suaminya atau sebaliknya dari suami terhadap istrinya.

Tidak diragukan lagi bahwa hal ini diharamkan dan termasuk dosa besar, karena ini adalah usaha memisahkan pasangan suami istri. Dan ini sama dengan perbuatan tukang sihir, sebagaimana firman Allah ta’ala,

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

“Maka mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) sesuatu Yang dapat memisahkan suami istri.” [Al-Baqarah: 102]

Tidak boleh bagi keluarga turut campur dalam urusan suami istri. Adapun berkaitan dengan permasalahan yang Anda tanyakan, maka kami katakan:

Jika demikian keadannya maka suami tersebut boleh memilih;

(1) Jika dia mau menceraikan dan meninggalkannya, firman Allah ta’ala,

وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلّاً مِنْ سَعَتِه

“Dan jika keduanya berpisah maka Allah Akan mencukupkan masing-masing dari luasnya rahmat-Nya.” [An-Nisa:130]

Demikianlah yang Allah ta’ala firmankan.

(2) Jika dia mau maka boleh baginya meminta kepada seorang Qodhi (Hakim Pengadilan Agama) untuk mendatangkan dua orang Hakam (Juru Damai dari kedua belah pihak) yang mana keduanya mempelajari dahulu permasalahan dengan cermat.

Jika keduanya memutuskan untuk tetap mempertahankan rumah tangga tersebut dengan memenuhi syarat-syarat yang menurut keduanya bermanfaat maka lakukanlah.

Dan jika keduanya memutuskan untuk berpisah apakah dengan ganti rugi (mengembalikan mahar) atau tidak maka keputusan kembali kepada ketetapan tersebut.

Namun jika Anda mengenal mereka wahai Penanya, berusahalah untuk mendamaikan keduanya.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

[Silsilah Liqooat Baabil Maftuh: 151]

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Artikel :Ukhuwahfillhijrah.com
Link WAG : http://bit.ly/2UfH-Adm1
Follow our chanel : t.me/ukhuwwah

Cara menikahkan anak secara syar’i

#Tanya Ustadz 2 ❓
Nama: Widiastuti
Asal : Malang

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Tanya ustadz, bagaimana cara menikahkan anak wanita kita secara agama islam yg benar(syar’i ) ? Dan apakah benar calon mempelai wanita di larang hadir ketika sebelum acara akad ? Mohon pencerahannya ,ustadz.
Jazaakallahu khairan

Jawab 2
Ustadz Permana Hafidhohullauhu ta’ala

وعليكم السلام ورحمة اللّٰه وبركاته
◎• Yang pertama, terpenuhinya rukun nikah, terkait dengan mahar jangan memberatkan calon pengantin pria.
◎• Yang kedua, ketika akad nikah sebaiknya calon istri tetap berada di kamar dan diupayakan untuk tidak bercampur baur antara laki laki dan perempuan disaat akad.
◎• Yang ketiga, ketika walimahan diharamkan adanya musik selain rebana dan bercampurnya tempat duduk pria dan wanita. Allahu a’lam…

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Fanspage : www.facebook.com/ufha.ufhi/
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

cara mendidik anak agar meneladani Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam

#Tanya Ustadz 1 ❓
Nama: Debbie
UFHA 6

Asaalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…
Afwan ana seorang ibu dimana dalam mendidik anak zaman now di era globalisasi ini susah sekali mendekatkan anak untuk bisa memfavoritkan baginda Rasulullah Shaulallahu Alaihi Wassalam sebagai dambaannya….sedang anak saya selalu bilang ‘ gimana mau suka bun…aku aja tidak pernah tau rupanya seperti apa..?’
Selalu itu yang jadi kebingungan ana untuk menjawabnya…mohon bimbingan serta penjelasanny Ustadz…

Jawaban 1
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kata pepatah, Tak kenal maka tak sayang”, maka kewajiban orangtua adalah mengenalkan siapa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anaknya. Kenalkan kepada mereka bagaimana kedudukan beliau, keramahan beliau, kejujuran beliau, keadilan beliau, ajaran beliau yang mulia, termasuk juga postur tubuh beliau shollallahu ‘alaihi wasallam agar mereka lebih mencintainya.

Jelaskan juga keharusan mencintai Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam atas seluruh manusia lebih dari siapapun termasuk dari dirinya sendiri. Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس اجمعين

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhori 15 dan Muslim 44)

Peringatkan juga bahwa manusia kelak akan dibangkitkan di hari kiamat bersama orang yang dicintainya dan diidolakannya. Jika dia mencintai orang-orang kafir atau orang-orang yang durhaka kepada Allah maka dia akan dibangkitkan bersamanya dan orang yang dicintainya itu akan berlepas diri darinya.

Di samping itu, orangtua juga dituntut untuk menyontohkan anak-anaknya agar mencintai dan meneladani Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang perilaku dan akhlaq seseorang bisa mewakili banyak kajian hadits-hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

🔏 Oleh Ustadz Fikri Abul Hasan Hafidhahullahu ta’ala

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Fanspage : www.facebook.com/ufha.ufhi/
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

Wanita Hendaknya Tinggal di Rumahnya

“`KITAB HIRASATUL FADHILAH“`

*WANITA HENDAKNYA TINGGAL DIRUMAHNYA*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kata beliau; Akan terealisasi maksud-maksud syariat.
Apa itu? yaitu:

1⃣ *Menjaga fitrah wanita.*
Dimana fitrah wanita itu bukanlah sebagai pencari nafkah, bukan sebagai kepala rumah tangga, bukan tulang punggung, karena ia tercipta dari tulang rusuk.

2⃣ *Menjaga peraturan syariat.*
Dimana masyarakat Islam adalah masyarakat yang tidak mengizinkan campur baur antara laki-laki dan wanita karena besarnya fitnah dalam bercampurnya laki-laki dan wanita tersebut.
Maka syariat menetapkan bahwa wanita tinggal dirumah, tidak boleh keluar kecuali bila ada keperluan.

3⃣ *Tinggalnya wanita dirumah itu menyebabkan ia merasakan kewajiban dia dirumah.*
Kewajiban sebagai istri, sebagai ibu, demikian pula sebagai pengurus rumah suaminya dan kewajiban untuk melaksanakan hak-hak suaminya berupa menyediakan makanan minuman. Demikian pula untuk mendidik anak-anak, dll.

Dan telah tsabit dari hadits Ibnu Umar, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
*_”Wanita adalah pengurus di rumah suaminya. dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah tentang kepengurusannya.”_*
*Muttafaqun Alaih.*

4⃣ *Tinggalnya wanita dirumah akan lebih mampu untuk menjaga kewajiban-kewajiban seperti shalat 5 waktu dll.*

– Oleh karena itulah para wanita tetap dianjurkan untuk dirumah, agar lebih dekat kepada Allah subhanahu wa ta’ala,
– dan lebih mampu untuk menjaga _iffah (kesucian)_ mereka,
– dan lebih mampu untuk menjalankan kewajiban yang Allah telah wajibkan kepada mereka, berupa berbakti kepada suami, dll.

Inilah maksud-maksud tujuan syariat yang agung, dimana Islam bukan ingin mengekang wanita, namun menginginkan terjaganya kesucian mereka._

Tidak seperti yang didengungkan orang-orang barat yang menyuruh kepada kebebasan wanita, menyeru kepada emansipasi, akhirnya wanita juga mengerjakan perbuatan laki-laki, bahkan bercampur baur.

Akibatnya seperti kita lihat di Barat; kebebasan seks, pergaulan bebas laki-laki dan wanita, hancurnya rumah tangga, tidak jelasnya keturunan, dan lainnya diantara kerusakan, belum lagi munculnya penyakit-penyakit.
Ini akibat daripada klaim mereka, dengan klaim kebebasan wanita, mereka tidak mau dikekang.

Padahal Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada aturan-aturannya._
Allah menciptakan pohon, pasti ada aturan untuk pohon itu, kalau pohon itu melanggarnya dia akan mati.
Demikian pula Allah menciptakan planet-planet itu sudah ditetapkan aturannya, semuanya sudah ditetapkan.

Demikian pula Allah menciptakan laki-laki dan wanita, “`ALLAH YG PALING TAHU APA ATURAN YANG PALING LAYAK UNTUK MEREKA, KARENA DIA LAH PENCIPTA MANUSIA.“`

wallahu a’lam

✒ *ustadz badrusalam*
(al fawaid)

Walimatul ‘ursy

#Tanya Ustadzah 1#
Nama : Dita Hersiyanti
Asal : Palembang

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jika kedua calon pengantin yang alhamdulillah sudah mengenal sunnah, berusaha mendakwahkan dan meyakinkan keluarga besar untuk mengadakan walimah syari (tidak ada musik, infishol tam untuk tamu dan mempelai, menikah sederhana), namun mayoritas keluarga besar yang masih awam belum bisa terima. Sudah dicari jalan tengahnya seperti misalnya menggunakan acapella (nyanyian tanpa musik), pembatas hanya setengah badan pakai pagar, dll.
Apakah pernikahan tersebut tetap berkah, meskipun tidak full sesuai syariat?

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

JAWABAN 🔏

Wa’alaikum Salam wa Rohmatullooh wa Barokaatuh…

Fatwa asy Syaikh Sholih al Utsaimin :
Boleh mengadakan walimatul ‘ursy dengan mengadakan dan mendengarkan lagu-lagu semacam itu dengan nasyid atau lagu-lagu yang bernafaskan Islam karena di dalamnya terdapat hikmah, peringatan dan teladan (ibrah) yang mengobarkan semangat serta ghirah dalam beragama, membangkitkan rasa simpati, penjauhan diri dari segala macam bentuk keburukan. Seruannya dapat membangkitkan jiwa sang pelantun maupun pendengarnya agar berlaku taat kepada Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-, merubah kemaksiatan dan pelanggaran terhadap ketentuanNya menjadi perlindungan dengan syari’at serta berjihad di jalanNya.

Tetapi tidak boleh menjadikan nasyid itu sebagai suatu yang wajib untuk dirinya dan sebagai kebiasaan, cukup dilakukan pada saat-saat tertentu ketika hal hal itu dibutuhkan seperti pada saat pesta pernikahan, selamatan sebelum melakukan perjalanan di jalan Allah (berjihad), atau acara-acara seperti itu. Nasyid ini boleh juga dilantunkan guna membangkitkan semangat untuk melakukan perbuatan yang baik ketika jiwa sedang tidak bergairah dan hilang semangat. Juga pada saat jiwa terdorong untuk berbuat buruk, maka nasyid atau lagu-lagu Islami tersebut boleh dilantunkan untuk mencegah dan menghindar dari keburukan.
Namun lebih baik seseorang menghindari hal-hal yang membawanya kepada keburukan dengan membaca Al-Qur’an, mengingat Allah dan mengamalkan hadits-hadits Nabi, karena sesungguhnya hal itu lebih bersih dan lebih suci bagi jiwa serta lebih menguatkan dan menenangkan hati, sebagaimana firman Allah.
“Artinya : Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” [Az-Zumar: 23]

“`Intinya“` :

Bolehnya walimatul ‘usry dengan mengadakan nasyid dengan menggunakan dub (rebana)

Adapun penggunaan acapela jika suaranya sama persis dengan musik maka hal ini terlarang.

Adapun jika anti dan calon suami anti sdh berusaha semaksimal mungkin mengadakan walimah sesuai sunnah Nabi maka in syaa Alloh akan mendatangkan barokah dari Alloh. Adapun kekurangan yang disebabkan orang-orang disekitar kita yang belum faham syariat maka hal tersebut tidak menyebabkan berkurangnya barokah pernikahan anti insyaa Alloh.

✒ Dijawab oleh Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman Hafidhohullah

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

Bahaya penyakit ‘ain

#Tanya Ustadzah

nama : Noni Ummu
Khairunnisa
asal : Medan

assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarokatuh…
apakah ada yang namanya bayi terkena sawan misal sawan pengantin jika dibawa ke pesta pernikahan atau sawan mayit d

ll. jika ada ,amalan apa yg dibaca agar terhindar dari hal” buruk kpd bayi…jazakillahu khoir..

JAWABAN

SAWAN BAYI

Perlu diketahui bahwa dalam Islam tidak mengenal kata sawan bayi.

Akan tetapi dalam Islam yang perlu menjadi perhatian bagi orang tua bahwa dalam syari’at Islam telah dijelaskan adanya bahaya ‘ain (pandangan mata) terutama bagi anak-anak.

Pandangan mata yang berbahaya ini dapat muncul dengan sebab kedengkian orang yang memandang atau karena kekaguman.

Bahaya ‘Ain
Ibnu Qoyyim rohimahullah dalam kitab Tafsir Surat Muawwadzatain berkata, “Bahaya dari pandangan mata dapat terjadi ketika seseorang yang berhadapan langsung dengan sasarannya.

Sasaran tukang pandang terkadang bisa mengenai sesuatu yang tidak patut didengki, seperti benda, hewan, tanaman, dan harta.

Dan terkadang pandangan matanya dapat mengenai sasaran hanya dengan pandangan yang tajam dan pandangan kekaguman.”

Pengaruh dari bahaya pandangan mata pun hampir mengenai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman-Nya,

وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al Qur’an dan mereka mengatakan ‘Sesungguhnya dia (Muhammad) benar-benar gila.” (Al Qalam [68]: 51)

Terdapat pula hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العين حقُُّ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين
“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

Terdapat pula contoh-contoh pengaruh buruk ‘ain yang terjadi pada masa sahabat. Salah satunya adalah yang terjadi ada Sahl bin Hunaif yang terkena ‘ain bukan karena rasa dengki namun karena rasa takjub yang berlebihan.
Sebagaimana dalam hadits,
Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif menyebutkan bahwa Amir bin Rabi’ah pernah melihat Sahl bin Hunaif mandi lalu berkatalah Amir, “Demi Allah, Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini.”

Berkata Abu Umamamh, “Maka terpelantinglah Sahl.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata, “Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!” (Maksudnya Nabi menyuruh Amir berwudhu kemudian diambil bekas air wudhunya untuk disiramkan kepada Sahl dan ini adalah salah satu cara pengobatan orang yang tertimpa ‘ain bila diketahui pelaku ‘ain tersebut*). Maka Amir mandi dengan menggunakan satu wadah air. Dia mencuci wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia.” (HR. Malik dalam al Muwaththa 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. sanadnya shahih, para perawinya terpercaya, lihat Zaadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al Arnauth dan Abdul Qadir al Arnauth 4/150 cet tahun 1424 H. Lihat majalah Al Furqon).

(*) Kata mandi yang ada di sini maksudnya adalah berwudhu sebagaimana disebutkan Imam Malik dalam kitab Al Muwattho.

Tanda-Tanda Terkena ‘Ain
Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.

Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Pada suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,

ما لِصبيِّكم هذا يبكي قهلاََ استرقيتم له من العين
“Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ‘ain?” (HR. Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304).

Begitu pula hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais, “Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma menjawab, “Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain”. Beliau berkata, “Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)

Berlindung dari Bahaya ‘Ain
Sesungguhnya syari’at Islam adalah sempurna. Setiap hal yang mendatangkan bahaya bagi umatnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu telah menjelaskan tentang perkara tersebut dan cara-cara mengantisipasinya. Begitu pula dengan bahaya ‘ain ini.

1. Bagi Seseorang yang Memungkinkan Memberi Pengaruh ‘Ain

Berdasarkan hadits Abu Umamah di atas maka hendaknya seseorang yang mengagumi sesuatu dari saudaranya maka yang baik adalah mendoakan keberkahan baginya. Dan berdasarkan surat Al Kahfi ayat 39, maka ketika takjub akan sesuatu kita juga dapat mengucapkan doa:

مَا شَآءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بِا للهِ
Artinya:
“Sungguh atas kehendak Allah-lah semua ini terwujud.”

2. Bagi yang Memungkinkan Terkena ‘Ain

Sesungguhnya ‘ain terjadi karena ada pandangan. Maka hendaknya orang tua tidak berlebihan dalam membanggakan anaknya karena dapat menimbulkan dengki ataupun kekaguman pada yang mendengar dan kemudian memandang sang anak. Adapun jika memang kenikmatan itu adalah sesuatu yang memang telah nampak baik dari kepintaran sang anak, fisiknya yang masya Allah, maka hendaknya orang tua mendoakan dengan doa-doa, dzikir dan ta’awudz yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah surat muawadzatain (surat Annas dan al-Falaq).

Ada pula do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’: 3120)

Atau dengan doa,

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).

Kemudian, terdapat pula do’a yang dibacakan oleh malaikat Jibril alaihissalam ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat gangguan setan, yaitu:

بِسْمِ اللهِ أرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءِِ يُؤْذِيْكََ مِن شَرِّ كُلِّ نَفْسِِ وَ عَيْنِ حَاسِدِِ اللهُ يَشْفِيكَ
“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ‘ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”
Dan terdapat do’a-do’a lain yang dapat dibacakan kepada sang anak untuk menjaganya dari bahaya ‘ain ataupun menyembuhkannya ketika telah terkena ‘ain. (lihat Hisnul Muslim oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani atau Ad Du’a min Al Kitab wa As Sunnah yang telah diterjemahkan dengan judul Doa-doa Dan Ruqyah dari Al-Qur’an dan Sunnah oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani)

Kesalahan-Kesalahan Dalam Penjagaan dari Bahaya ‘Ain atau Sejenisnya
Memang bayi sangat rentan baik dari bahaya ‘ain ataupun gangguan setan lainnya. Terdapat beberapa kesalahan yang biasa terjadi dalam menjaga anak dari gangguan tersebut karena tidak berdasarkan pada nash syari’at. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah:
Menaruh gunting di bawah bantal sang bayi dengan keyakinan itu akan menjaganya. Sungguh ini termasuk kesyirikan karena menggantungkan sesuatu pada yang tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya.
Mengalungkan anak dengan ajimat, mantra dan sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan sang anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perlulah kita selalu mengingat, bahwa sekalipun kita mengetahui bahaya ‘ain memiliki pengaruh sangat besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu. Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Ini termasuk pengingkaran terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sikap yang terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikhabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu a’lam.

Sumber : muslimah.or.id

Dijawab oleh Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman Hafidhohullah

https://ukhuwahfillhijrah.com/?p=410&preview=true

Dampak positif bahasa arab & hukum mengajari anak bahasa inggris

DAMPAK POSITIF BAHASA ARAB TERHADAP AKHLAQ DAN AGAMA SESEORANG

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Ketauhilah bahwasannya terbiasa berbahasa arab memberikan dampak positif pada akal, akhlaq, dan agama seseorang dengan pengaruh yang kuat dan jelas,

Juga memberikanu dampak positif dalam menyerupai generasi terbaik ummat ini dari kalangan shahabat dan tabiin. Menyerupai mereka akan menambah (baik) akal, agama, dan akhlaq seseorang.

Karena bahasa arab itu sendiri termasuk dari agama. Mengilmuinyay adalah wajib*, karena memahami al-Quran dan as-Sunnah (hukumnya) wajib, dan tidak bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa arab.

✔Sesuatu yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, makay sesuatu tersebut hukumnya adalah wajib

Sumber : Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim Jilid 1 hal. 468

لابـد مـن تـعلـم الـعربيـة :

تأثيـر اللـغة الـعربية على الأخـلاق والـدين

قـال شـيخ الإسـلام ابن تيـميـة رحمـه الله تعـالى :

« وﺍﻋﻠـﻢ ﺃﻥّ ﺍﻋﺘﻴـﺎﺩ ﺍﻟﻠـﻐﺔ يؤثر ﻓﻲ ﺍﻟـﻌﻘﻞِ ﻭﺍﻟـﺨﻠﻖِ ﻭﺍﻟـﺪﻳﻦِ ﺗﺄﺛﻴـﺮﺍً ﻗﻮﻳـّﺎًu ﺑﻴّﻨـﺎً ، ﻭﻳﺆﺛﺮ ﺃﻳﻀﺎً ﻓﻲ ﻣـﺸـﺎﺑﻬﺔِ ﺻـﺪﺭِ ﻫـﺬﻩ ﺍﻷﻣـّﺔِ ﻣﻦ ﺍﻟـﺼﺤﺎﺑـﺔِ ﻭﺍﻟـﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ، ﻭﻣﺸـﺎﺑﻬﺘﻬـﻢ ﺗﺰﻳـﺪu ﺍﻟـﻌﻘﻞَ ﻭﺍﻟـﺪﻳﻦَ ﻭﺍﻟـﺨﻠﻖَ ، ﻭﺃﻳﻀـﺎً ﻓـﺈﻥّ ﻧﻔـﺲ ﺍﻟﻠـﻐﺔ ﺍﻟـﻌﺮﺑﻴﺔ ﻣـﻦu ﺍﻟـﺪﻳﻦ ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺘﻬـﺎ ﻓﺮﺽٌ ﻭﺍﺟـﺐٌ ، لأﻥّ ﻓﻬـﻢ ﺍﻟـﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟـﺴﻨّﺔ ﻓـﺮﺽٌ ، ﻭﻻu ﻳُﻔﻬـﻢ ﺇﻻّ ﺑﻔﻬـﻢ ﺍﻟﻠـﻐﺔ ﺍﻟـﻌﺮﺑﻴﺔ ، ﻭﻣـﺎ ﻻ ﻳﺘـﻢّ ﺍﻟـﻮﺍﺟﺐ ﺇﻻّ ﺑﻪ ﻓﻬـﻮ ﻭﺍﺟـﺐ »

[ اقتضاء الصراط المستقيم(٤٦٨/١)]u

🌏http://www.manhajul-anbiya.net/dampak-positif-bahasa-arabu-terhadap-akhlaq-dan-agama-seseorang.

 HUKUM MENGAJARI ANAK BAHASA INGGRIS

 Asy Syeikh Al Utsaimin rohimahullah:

Oleh karena itu aku berpendapat orang tua yang mengajari anaknya bahasa inggris sejak kecil akan dihisab/ditanya atasnya nanti di hari kiamat. Karena yang demikian akan menjadikan anaknya cinta dengan bahasa ini dan lebih mengutamakannya dari bahasa arab.

Syarhul Mumti’ 12/43

 

Berbakti kepada orang tua yang telah meninggal

BAGAIMANA BERBAKTI KEPADA ORANG TUA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA ?

1⃣ Mendo’akannya.

Selalu Mendo’akan kedua Orang Tuanya. Seperti Do’a

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

”…Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua Ibu-bapakku, dan semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari Kiamat)..”

[QS.Ibrahim: 41].

Terdapat Hadits yang Shahih, bahwasannya setiap anak Adam jika Meninggal Dunia, maka Terputuslah Amalnya Kecuali (salah satu diantaranya) adalah :

”Do’a anak yang Shalih…”.

Kenapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan “Anak yang Shalih..”??

Para Ulama Menyebutkan bahwasannya,….
Hanya Anak yang Shalih-lah yang Pasti men-Do’akan orang tuanya yang telah Meninggal.

Karena, bagaimana bisa bagi anak yang Pendosa (Durhaka) mendo’akan orang tuanya, sedangkan untuk mendo’akan diri sendirinya dia Sulit, dikarenakan dia sering bergelimang didalam Kemaksiatan (Dosa)..?? Wal ‘iayadzubillaah.

Mendo’akan orang tuanya dengan Tata Cara yang telah di Syariatkan oleh Agama. Bukan dengan tata cara yang di-ada-adakan seperti Perbuatan Bid’ah.

📌 Contohnya :

➖Membaca al Qur’an dikuburannya,
➖Membuat dan melakukan Ritual-ritual Bid’ah seperti selamatan kematian

Jelas ini Perbuatan yang baru dan mengada-ada didalam Ajaran Islam yang Wajib kita Tinggalkan..

Dan Bukan dengan ber-Do’a dengan tata cara yang bukan dari Islam (Melainkan dari Ajaran agama Hindu) seperti :

➖ Acara2x Selametan Kematian pada hari 1-7, 40 hari, 100 hari setahun atau 1000 hari.. Jelas ini adalah hal yang diada-adakan..

Tidak pernah di Syari’atkan oleh Agama ini (tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan juga tidak pernah di Amalkan oleh para Shahabat..

Wajib ditinggalkan dan di Ingkari.. Karena ini Merupakan perbuatan Bid’ah.
Dan setiap Bid’ah itu Sesat walaupun banyak orang Menyangka Baik (Hasanah).

Kalau-lah Perbuatan (Amalan ini) Baik dan membawa Kebaikan, PASTI mereka (para Sahabat Nabi dan para Tabi’in) Mendahului kita dalam Mengamalkannya.

2⃣ Selalu Memintakan Ampun untuk Keduanya.

Anak yang Shalih adalah anak yang Selalu Memintakan Ampunan untuk Orang tuanya (baik mereka belum Meninggal ataupun sesudah Meninggal) didalam Sholatnya atau Waktu-waktu yang di Syari’atkan (waktu-waktu yang Mustajab/Do’a2x yang akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).

3⃣ Membayarkan Hutang-hutangnya.

Membayar Hutang-Hutang mereka, jika pada masa hidupnya mereka mempumyai Hutang kepada orang lain, karena Hutang yang belum terbayar ketika seseorang meninggal akan memberatkan orang tua kita di hadapan Allah Ta’ala kelak.

4⃣ Menunaikan janji dan wasiat kedua orang tua yang belum terpenuhi semasa hidup mereka, dan melanjutkan amal-amal baik yang pernah mereka kerjakan selama hidup mereka.

Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amal baik tersebut dilanjutkan.

Hanya Melaksanakan Wasiat Orang tua yang sesuai Syari’at dan Tidak Perlu menjalankan Wasiat mereka yang bertentangan dengan Syari’at.

Atau tidak perlu Menjalankan Wasiat orang Tua kita yang jika dijalankan Wasiat itu tidak ada Masylahatnya, bahkan banyak Mudhorotnya (Menyusahkan) kita.

5⃣ Bersedekah atas nama orang tua yang meninggal.

Sedekah yang dikeluarkan seorang anak untuk salah satu atau untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia, maka pahalanya akan sampai kepada keduanya. Selain itu segala amal shalih yang diamalkan anaknya maka pahalanya akan sampai kepada kedua orang tuanya tanpa mengurangi pahala si anak tersebut.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أُمّـِيْ افْـتُـلِـتَتْ نَـفْسُهَا (وَلَـمْ تُوْصِ) فَـأَظُنَّـهَا لَوْ تَـكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَـهَلْ لَـهَا أَجْـرٌ إِنْ تَـصَدَّقْتُ عَنْهَا (وَلِـيْ أَجْـرٌ)؟ قَالَ: «نَعَمْ» (فَـتَـصَدَّقَ عَـنْـهَا).
Bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba (dan tidak memberikan wasiat), dan aku mengira jika ia bisa berbicara maka ia akan bersedekah, maka apakah ia memperoleh pahala jika aku bersedekah atas namanya (dan aku pun mendapatkan pahala)? Beliau menjawab, “Ya, (maka bersedekahlah untuknya).” ( Shahîh, HR al-Bukhari (no. 1388), Muslim (no. 1004), Ahmad (VI/51), Abu Dawud (no. 2881), an-Nasa-i (VI/250), Ibnu Majah (no. 2717), dan al-Baihaqi (IV/62; VI/277-278).

6⃣Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat Ibu dan Ayah.

💠 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal”.

(HR. Ibnu Hibban).

📖 Selengkapnya :
Buku Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua)/Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas/Pustaka At Taqwa Bogor

✒ Editor : Admin AsySyamil.com

 

Menjadi istri shalihah

RENUNGAN BAGI KAUM WANITA, YANG INGIN MENJADI ISTERI SHALIHAH❗

Al-Imamadz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, Wajib juga atas seorang isteri :

🌺 Senantiasa memiliki sifat malu terhadap suaminya,

🌺 Menundukkan pandangannya di hadapan sang suami,

🌺 MENTAATI PERINTAH SUAMI,

🌺 Diam ketika suami berbicara,
🌺 menyambut ketika suami datang,

🌺 Menjauhi semua yang boleh membuat suami marah,

🌺 Berdiri mengantar sang suami ketika keluar,

🌺 Menawarkan dirinya kepada sang suami saat tidur,

🌺 Tidak berkhianat ketika suami tidak ada, baik dalam hal urusan ranjang, harta, maupun rumah sang suami,

🌺 Aroma yang wangi, Selalu menjaga aroma mulut dengan bersiwak,

🌺 Selalu berhias di hadapan sang suami,

🌺 Tidak berghibah,

🌺 Memuliakan keluarga dan karib kerabat sang suami,

🌺 Melihat apa yang sedikit dari suami sebagai suatu yang banyak.

🌍 Sumber : Kitab “al-Kaba’ir” , 1/66

🌐 Majmu’ah Manhajul Anbiya

Permasalahan Imunisasi

Hasil pembahasan “Kumpas Tuntas Permasalahan Imunisasi”

Acara Tanya Dokter Rodja TV. Yang berlangsung Ahad 11 Februari 2018 Pukul 20.00 s.d 21.30 WIB.

Oleh :
Ust Erwandi Tarmizi, MA
Prof, Dr, dr. Zakiudin Munasir, Sp. A (K)
dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc

Poin-poin Kesimpulan :

1. Imunisasi ada beberapa jenis. Vaksin adalah sebagian dari Imunisasi;

2. Pada Prinsipnya secara syar’i dan kesehatan pemberian vaksin dalam rangka imunisasi diperbolehkan (mubah).

3. Bahwa pernyataan vaksin mengandung unsur Babi, adalah hoax yang salah. Dari 20an jenis vaksin. Terdapat 4 s.d 5 jenis yang vaksin bersinggungan enzim babi pada prosesnya. Bersinggungan bukanlah mengandung. Meski tidak mengandung enzim tersebut, bahan vaksin tetap diproses dan difilter sampai milyaran kali, sehingga ending nya sudah tidak ada lagi unsur babi, ust Erwandi menjawab hukum asal nya suci, jika sudah dibersihkan maka menjadi suci kembali (HALAL), Hadits yang menjadi landasan Riwayat Bukhari 235, Ahmad (6/330), An Nasa’i (7/178), yang makna isinya kurang lebih : ada minyak beku kejatuhan tikus, maka buang tikus nya dan minyak beku tersebut yg terkena dibuang, yang bersih dari tikus dapat digunakan.

4. Meskipun mengandung babi jika untuk menolak keburukan yang lebih, maka diperbolehkan (sesuai dengan fatwa MUI Nomor 4 tahun 2016 tentang Imunisasi), dalam kondisi darurat (Pada kenyataan di Lapangan, sebagian vaksin hanya bersinggungan dengan Babi dan tidak mengandung);

5. Seluruh vaksin di Indonesia sedang dalam proses sertifikasi HALAL dan BPOM, karena undang2 tentang sertifikasi vaksin baru dibuat 1-2 tahun terakhir. (sesuai dengan Tuntutan fatwa MUI, kepada Pemerintah dan Produsen, Nomor 4 tahun 2016 tentang Imunisasi). Riset mengenai proses pembuatan vaksin dari bahan non binatang (murni tumbuhan/herbal) sedang masuk masa riset dan semoga hasilnya telah muncul 5-15 tahun mendatang.

6. Ikuti pemerintah selagi tidak melanggar syariat (termasuk imunisasi). Hukum vaksin adalah dianjurkan. Namun menjadi wajib apabila pemerintah mewajibkan (UU RI nomor 6 mengenai Wabah Penyakit dan PP No. 4 tahun 1984 tentang penanggulangan wabah).

7. (Jawaban atas tanya jawab mengenai orang yang menghasud untuk tidak menggunakan vaksin pada orang lain. dan menyebarkan berita hoax terkait vaksin mengandung babi) Bahwa tindakan ini merupakan dosa, karena penolak vaksin berkemungkinan lebih besar terkena dan menularkan penyakit. Serahkan pada penegakan hukum. Dilarang memaksakan kehendak kepada orang-orang yang tidak mengimunisasi anaknya. Tenaga Medis tetap dilarang memberikan tindakan imunisasi apabila orangtua menolak. Hanya bisa dilakukan dengan tindakan dari pemerintah.

8. Imunisasi merupakan pelemahan terhadap umat islam adalah SALAH, Karena di Negara Eropa dan Negara Kafir Imunisasi pun wajib dan penerapan hukumnya lebih ketat bagi penduduk di negara kafir tersebut yang menolak.

9. Vaksin untuk anak-anak dan dewasa tidak berfungsi optimal jika tidak lengkap dan tidak mengikuti jadwal. Tak ada kata terlambat apabila anak belum divaksin sama sekali sejauh apabila anak belum terkena penyakit. Orang dewasa masih perlu diupdate vaksin nya.

Jakarta, 12 Februari 2018

Anda dapat juga menyimak acara Rodja TV di:
Youtube http://live2.rodja.tv
Facebook: Facebook.com/Rodja
TV-645146105580925
WEB TV.HTTP.//RODJA.TV
Web Radio: http://radiorodja.com

Usia anak saat khitan

#Tanya Ustadzah
Nama : Zahra
Asal : Surabaya

Assalamu’alaikum..
Apakah ada dalil sesuai sunnah tentang usia anak saat khitan? Karena ada yang melarang khitan pada saat anak masih bayi

Jazakallah khayran..
____________

Hal ini sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqah Hasan dan Husain dan mengkhitan mereka berdua pada hari ketujuh (setelah kelahiran,-pen).” (HR. Ath Thabrani dalam Ash Shogir)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Ada tujuh sunnah bagi bayi pada hari ketujuh, yaitu : pemberian nama, khitan, …” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath)

 

Jawaban
Oleh Ustadzah Nabila Ummu Abdurahman Hafidzahullah

 

Noda noda hitam pernikahan (bag.2)

Noda noda Hitam dalam Pernikahan

Bagian ke 2⃣

▪Pernikahan yang jelas-jelas ada syariatnya dan jelas bimbingannya, mulai dari rencana sampai pelaksanaannya, sampai pun perjalanan hidup kedua insan telah ada aturannya dalam agama, tetap tidak lepas dari amalan-amalan kesyirikan.

Saat seseorang ingin membangun rumah tangga, sang dukun menjadi pemutus semua perkara dalam pelaksanaannya, dari kapan waktu yang terbaik, tepat, dan menguntungkan, baik harinya maupun bulannya, baik penanggalan hijriah atau masehi, seolah-olah dukun mengetahui rahasia hidup setiap manusia. Semuanya jelas-jelas bertentangan dengan Islam.

▪Tidak luput juga terkait dengan calon yang akan dijadikan pasangan, sudah barang tentu akan meminta petuah sang dukun.

Cocokkah❓

Layakkah❓

Akan mendatangkan kebahagiaan di kemudian hari atau malah mendatangkan marabahaya❓

Akan menguntungkan atau tidak❓

Akan menjadi orang kaya jika menikah dengannya atau malah menjadi miskin❓

Sekali lagi, Allah ta’ala mereka anggap bukan lagi satu-satunya tempat mengadu dan mengeluh. Bahkan, ketika akad telah selesai, sang wanita tidak boleh masuk ke rumah sang lelaki melainkan didahului acara menyembelih di hadapan sang wanita, agar ketika memasuki rumah sang suami tidak terkena gangguan jin dan mata jahat. (Lihat al-Ighatsah Syarah Utsul Tsalatsah hlm. 23).

▪Jika Allah ta’ala menakdirkan hamil, ada acara mandi pada bulan ketujuh di sebuah tempat untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan serta agar janin tersebut terpelihara dari segala macam gangguan; yang diistilahkan oleh orang Jawa: mitoni.

▪Demikian pula memakai jimat-jimat ketika hamil, baik yang dipasang di tangan, kaki, maupun di pinggang, baik dari lingkaran benang maupun akar-akar kayu. Semuanya adalah perbuatan yang menyelisihi akidah yang benar.

▪Adat Istiadat

Segala bentuk penyimpangan dari akidah di atas, sangat ditopang oleh adat istiadat yang berlaku di sebuah daerah. Siapa pun yang akan melakukan pernikahan dipersyaratkan melalui tata cara adat tersebut. Jika ada yang mencoba menentangnya karena adat tersebut menyelisihi norma-norma agama, pernikahan itu bisa dibatalkan.

▪Sampai sedemikan rupa kekuatan hukum adat dalam menata kehidupan manusia. Dari manakah sesungguhnya hukum adat tersebut ?

Jika didalami dan dikaji, adat istiadat sesungguhnya merupakan aturan peninggalan para leluhur dan nenek moyang yang mengandung ketidak jelasan status agama dan keyakinan mereka.

▪Jika dicermati dengan saksama, kita akan menemukan berbagai macam adat itu bermuara pada adat istiadat jahiliah sebagaimana contoh di atas, yaitu adanya anggapan sial dengan hari, bulan, dan tempat tertentu, lantas mengembalikan segala urusan hidup kepada paranormal alias dukun

▪Bahkan, bisa dikatakan banyak adat istiadat dalam kehidupan kaum muslimin yang banyak kemiripan dengan agama di luar Islam seperti agama Hindu dan Budha.

▪Saudaraku kaum muslimin, mari kita membersihkan segala bentuk amaliah kita dari noda-noda kesyirikan yang akan menghancurkan masa depan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Allah ta’ala mengutus para rasul untuk melakukan perbaikan di muka bumi ini dan termasuk mandat yang pertama dan utama yang mereka emban dari Allah ta’ala adalah agar menyerukan kepada tauhidullah dan mengingkari segala bentuk kesyirikan.

Wallahu a’lam.

Selesai…

Sumber, Asy Syariah Edisi 72, 26 April 2012.asysyariah.com

Penulis al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman Hafizhohullohu.

_______