Wasiat-Wasiat Generasi Salaf

Oleh :

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari

GENERASI SALAF SEBAGAI GENERASI PILIHAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah : 100]

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pujian kepada para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah generasi terbaik yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nya dalam mengemban risalah ilahi.

Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau kelebihan mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi Rabbani yang selalu mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan menapak tilasi jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan bisa meraih kembali masa keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik”. Sungguh sebuah ucapan yang pantas di tulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini mengambil generasi terbaik itu sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan niscaya kebahagiaan akan menyongsong mereka.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf menyucikan jiwa mereka, yang kami nukil dari petikan kata-kata mutiara dan hikmah yang sangat berguna bagi kita.

SALAF DAN TAZKIYATUN NUFUS
Salah satu sisi ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Allah selalu menyebutan tazkiyatun nufus bersama dengan ilmu. Allah berfirman:

كَمَآأَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّالَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [Al-Baqarah : 151]

Artinya, ilmu itu bisa jadi bumerang bila tidak disertai dengan tazkiyatun nufus. Oleh sebab itu dapat kita temui dalam biografi ulama salaf tentang kezuhudan, keikhlasan, ketawadhu’an dan kebersihan jiwa mereka. Begitulah, mereka selalu saling mengingatkan tentang urgensi tazkiyatun nufus ini. Dari situ kita dapati ucapan-ucapan ulama salaf sangat menghunjam ke dalam hati dan penuh dengan hikmah. Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: “Mengapa ucapan-ucapan para salaf lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita?” beliau menjawab: “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman, sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia dan mencari ridha manusia!”

SALAF DAN KEGIGIHAN DALAM MENUNTUT ILMU
Imam Adz-Dzahabi berkata: “Ya’qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari Shalih bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar berkata: “Saya datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya: “Sampaikanlah kepadaku beberapa hadits!” Beliau berkata: “Bacalah!”
“Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku!” jawabku.
“Bacalah!” kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau. Akhirnya ia berkata: “Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan pukul dia lima belas kali!” Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku lima belas cambukan. Kemudian ia membawaku kembali kepada beliau. Pelayan itu berkata: “Saya telah mencambuknya!” Maka aku berkata kepada beliau: “Mengapa tuan menzhalimi diriku? tuan telah mencambukku lima belas kali tanpa ada kesalahan yang kuperbuat? Aku tidak sudi memaafkan tuan!”
“Apa tebusannya?” tanya beliau.
“Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits!” jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan kepada beliau: “Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits untukku!” Imam Malik hanya tertawa dan berkata: “Pergilah!”

SALAF DAN KEIKHLASAN
Generasi salaf adalah generasi yang sangat menjaga aktifitas hati. Seorang lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau. Dengan marah ia berkata: “Demi Allah satu rakaat yang kukerjakan di tengah malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada orang-orang!”

Ar-Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!”

Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti, mendengarkan dan mencintai mereka. Imam Mujahid pernah berkata: “Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati manusia kepadanya.”

Memang diakui, menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan tidak mendapat bagian apapun darinya. Sahal bin Abdullah berkata: “Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.”

Sehingga Abu Sulaiman Ad-darani berkata: “Beruntunglah bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha Allah!”

Mereka juga sangat menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasan, seperti gila popularitas, gila kedudukan, suka dipuji dan diangkat-angkat.

Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: “Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka popularitas.”

Yahya bin Muadz berkata: “Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan.”

Abu Utsman Sa’id bin Al-Haddad berkata: “Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila sanjungan.”

Oleh karena itulah ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada murid-muridnya. Ar-Rabi’ bin Shabih menuturkan: “Suatu ketika, kami hadir dalam majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: “Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat ini!”

SALAF DAN TAUBAT
Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!

‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar.”

Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!”

TANGIS GENERASI SALAF
Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Ketika membaca firman Allah:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” [Al-Ahzab : 33]

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.

Demikian pula Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, ketika membaca ayat.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” [Al-Hadid : 16]

Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.

Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat

لِيَوْمٍ عَظِيمٍ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” [Al-Muthaffifiin : 5-6]

Beliau menangis dan bertambah keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.

SALAF DAN TAWADHU’
Pernah disebut-sebut tentang tawadhu’ di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: “saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu’!” Mereka berkata: “Apa itu tawadhu’ wahai Abu Sa’id?” Beliau menjawab: “Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.”

Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin Uyainah, ia berkata: “Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih senior dari kami.”

Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: “Apa itu tawadhu’?” Ia menjawab: “Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!”

Mutharrif bin Abdillah berkata: “Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali diriku merasa semakin kecil.”

SALAF DAN SIFAT SANTUN
Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata: “Apakah engkau gila!” Umar menjawab: “Tidak” Namun para pengawal berusaha meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya berkata: “Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak.”

Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: “Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau!” Ia menjawab: “Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain engkau!”

SALAF DAN SIFAT ZUHUD
Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.”

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: “Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.”

Demikianlah beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi kita dalam menuju proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dalam meniti jejak generasi salaf dalam setiap aspek kehidupan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]


Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Dunia Lebih Jelek Daripada Bangkai Kambing

RINGKASAN MUQADDIMAH KAJIAN.

“DUNIA LEBIH JELEK DARIPADA BANGKAI KAMBING.”

Oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah

[1]- Tonggak Islam dibangun di atas 2 (dua) perkara:

Hus-nul Qashd (keinginan yang baik); yakni: niat yang ikhlas, dan

Shihhatul Fahm (pemahaman yang benar).
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- dalam “I’laamul Muwaqqi’iin”.

[2]- Sedangkan fitnah (ujian/kejelekan) di dalam kehidupan ada 2 (dua):

Fitnah Syahwat, yang merusak keinginan, dan ini yang akan kita bahas. Karena dunia merusak tujuan hidup seseorang.

Fitnah Syubhat, yang merusak ilmu dan pemahaman. Seorang yang terkena Fitnah Syubhat: ia mungkin tidak silau dengan dunia, bahkan ia (bersabar) hidupnya susah (miskin); tapi dia sesat. Seperti orang-orang Khawarij: ada syubhat di kepalanya yaitu barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah; maka ia kafir (tanpa perincian), sehingga mereka mengkafirkan ‘Ali bin Abi Thalib -radhiyallaahu ‘anhu- dan lainnya.

[3]- (Kecintaan terhadap) dunia bisa memalingkan tujuan hidup seseorang. Padahal Allah menciptakan jin dan manusia: untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

“beribadah kepada-Ku” maknanya: agar mentauhidkan Allah, karena ibadah tidak sah tanpa adanya Tauhid. Sehingga agama Islam adalah agama Tauhid, bahkan Allah memerintahkan para nabi dan rasul untuk mendakhwahkan Tauhid, sebagaimana dalam firman-Nya:

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ …}

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”…” (QS. An-Nahl: 36)

Thaghut adalah: segala sesuatu yang diibadahi selain Allah.

Sehingga rukun dakwah ada 2 (dua):

Memerintahkan untuk beribadah kepada Allah.

Menjauhkan segala yang diibadahi selain Allah.

[4]- Jadi, kita hidup di dunia untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk bermain-main atau jalan-jalan. Bukan berarti jalan-jalan itu tidak boleh, akan tetapi tujuan kita adalah ibadah. Bahkan dalam hadits qudsi Allah perintahkan kita agar memfokuskan hidup untuk ibadah. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ، مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak Adam! Fokuskanlah (gunakanlah) waktumu untuk beribadah kepada-Ku; niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya; maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak tutup kefakiranmu.” [HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya]

Maka, dengan kita beribadah kepada Allah; rizki pasti datang (tentunya disertai ikhtiar). Oleh karena itulah: setelah Allah jelaskan:

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Allah berfirman:

{مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ * إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ}

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 57-58)

[5]- Maka hal ini harus kita imani: kita harus hidup unttuk beribadah kepada Allah (dengan mentauhidkan-Nya), dan Allah tidak akan menyia-nyiakan kita; Allah pasti beri rizki.

Contohnya adalah: kisah Maryam (yang fokus beribadah, kemudian Allah berikan rezeki). Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{… وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

“… dan (Allah) menyerahkan pemeliharaannya (Maryam) kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali ‘Imraan: 37)

Contoh lainnya: Allah perintahkan kita dan keluarga kita untuk Shalat, dan Allah sebutkan: dengan kita Shalat; maka Allah beri rezeki. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ}

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Akan tetapi kita beribadah harus tetap ikhlas karena Allah dan juga ittibaa’ (mengikuti Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-). Itulah dua syarat diterimanya ibadah.

[6]- Keadaan kaum muslimin sekarang sedang terpuruk. Hal itu dikarenakan mereka belum menegakkan ibadah dengan sebenar-benarnya. Karena kalau mereka menegakkan ibadah dengan sebenar-benarnya; niscaya Allah akan berikan kekuasaan. [Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang beramal shalih: bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)]

[7]- Banyak dari kita yang tertipu dengan dunia; baik orang awam, penuntut ilmu, da’i, bahkan ulama. Padahal Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sudah peringatkan dalam sabdanya:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah (kerusakan) yang pertama kali terjadi pada Bani Isra-il adalah karena wanita.” [HR. Muslim]

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah ummatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya)

Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

[8]- Jadi, sekali lagi: yang kita bahas adalah Fitnah Syahwat, yaitu: cinta kepada dunia. Karena semua sibuk dengan dunia. Harusnya kesibukan kita adalah: beramal shalih untuk masuk Surga.

Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa salllam- mengiming-imingi para Shahabat dengan Surga. [Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada penduduk Yatsrib pada Bai’at ‘Aqabah kedua:

“Kalian membai’atku untuk mendengar dan ta’at dalam keadaan semangat maupun malas, berinfak dalam keadaan sempit maupun lapang, amar ma’ruf nahi munkar, berkata (yang benar) dalam (agama) Allah dengan tidak takut -di jalan Allah- terhadap celaan orang yang mencela, dan kalian menolongku; -jika aku datang kepada kalian- maka kalian bela aku sebagaimana kalian membela diri-diri kalian, istri-istri kalian, dan anak-anak kalian, DAN BALASAN KALIAN ADALAH SURGA.” [HR. Ahmad, dan lainnya]

Dan ketika Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- disuruh memilih: “Apakah engkau ingin Allah menjadikanmu sebagai seorang raja sekaligus nabi, atau seorang hamba sekaligus rasul?” Jibril berkata: “Merendahlah kepada Rabb-mu wahai Muhammad!” Maka beliau menjawab:

بَلْ عَبْدًا رَسُوْلاً

“Bahkan (aku ingin menjadi) seorang hamba sekaligus rasul.” [HR. Ahmad, dan lainnya]

[9]- Semua sibuk dengan dunia; baik yang miskin maupun yang kaya. Harusnya kita memiliki kekayaan hati, karena itulah kekayaan yang hakiki. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“(Hakikat) kaya bukanlah dengan banyaknya harta benda. Namun kaya (yang sebenarnya) adalah kaya hati.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

“kaya hati” maksudnya: merasa ridha dan cukup dengan rezeki yang Allah karuniakan.

[10]- Dan bukan hanya orang awam saja yang sibuk dengan dunia, bahkan da’i pun sibuk dengan dunia: harta, jabatan, dan kedudukan. Bahkan sampai beramal untuk mendapatkan dunia; maka ini syirik. Oleh karena itulah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab -rahimahullaah- membuat bab dalam Kitab Tauhid:

بَابُ: مِنَ الشِّرْكِ: إِرَادَةُ الْإِنْسَانِ بِعَمَلِهِ الدُّنْيَا

“Bab: Termasuk Bentuk Syirik: Seseorang Melakukan Amal (Shalih) Untuk (Mengharap) Dunia”

Maka, kita harus ikhlas beramal untuk akhirat. Adapun dunia maka Allah sifatkan dengan:

}…مَتَاعُ الْغُرُوْرِ}

“…kesenangan yang palsu/menipu.” (QS. Al-Hadiid: 20

ditulis oleh: Ahmad Hendrix, dengan tambahan nash/teks beberapa dalil yang diisyaratkan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Fawaid : Bahaya Mabuk Cinta

🌺Fawaid Edisi Khusus🌺


🔥 BAHAYA MABUK CINTA ❤


Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

Mabuk cinta lebih dahsyat daripada mabuk khomr.

Karena orang yang mabuk khomr bisa sadar dari mabuknya. Sedangkan orang yang mabuk cinta jarang yang bisa sadar, kecuali dia sudah berada di dalam kumpulan mayat-mayat.

 

📚 Roudhotul Muhibbin: 104

قال ابن القيم رحمه الله :

*سُكْرُ العشق* أعظم من سُكْر الخمر

فإن سَكران الخمر يفيق وسكران العشق قلما يفيق إلا وهو في عسكر الأموات.

📚 روضة المحبين: ١٠٤.

✓ Isyq : secara bahasa adalah cinta yang membuat merana orang yang memilikinya, ia tersiksa dengan cinta itu.

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tiga Macam Hati

Tiga Macam Hati


1. Al-Qolbus Shohih (hati yang selamat)

Yaitu hati yang ikhlas tidak pernah menghambakan dirinya kepada selain Allah dan berhukum kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. 

Hati yang selamat dari setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya, serta selamat dari setiap syubhat (kerancuan) yang menyeleweng dari kebenaran. Apabila menyinta, membenci, memberi, menahan diri, maka semuanya dilakukan karena Allah.

2. Al-Qolbul Mayyit (Hati yang mati)

Berlawanan dengan hati yang selamat yaitu hati yang tidak mengenal siapa Penciptanya, tidak menghambakan diri kepada-Nya, enggan menjalankan perintah-Nya atau menghadirkan segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi-Nya. 

Hati yang mati selalu berjalan bersama hawa nafsunya, segala sesuatu diukur oleh selera hawa nafsunya, hawa nafsu menjadi pimpinan dirinya, kebodohan sopirnya, kelalaian kendaraannya, seluruh pikirannya dicurahkan hanya untuk mencapai target-target duniawi semata. Tidak ada lagi kepentingan akhirat.

3. Al-Qolbul Maridh (Hati yang sakit)

Yaitu hati yang hidup namun berpenyakit.

Padanya terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan yang menjadi sumber kehidupannya. Padanya pula terdapat hasad, kesombongan, ‘ujub (besar diri), ketamakan terhadap syahwat, yang semua itu menjadi sumber bencana. Dirinya akan mengikuti mengikuti kemana hatinya itu cenderung, kadang dekat kepada keselamatan, kadang dekat kepada bencana.

(Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha, hal. 25-26)

Semoga Allah menganugerahkan kita hati yang selamat dan melindungi kita dari hati yang mati dan berpenyakit.

✍🏻 Ustadz Fikri Abul Hasan


Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Dosa jariyah

Tanya Ustadz
Nama : Lia
Asal : Depok

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Pertanyaan.. .
1. Apakah yang dimaksud dengan Dosa Jariyah ?
2. Harus bagaimana saat saya ingin membantu teman saya untuk memakai hijab sedangkan dia masih ragu ?
=========

Jawaban

وعليكم السلام ورحمة اللّٰه وبركاته

1⃣Yang dimaksud dosa jariyah adalah Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.
_______

Dosa Yang Terus Mengalir

✒Ustadz Ammi Nur Baits Hafidzahullah

Assalamualaikum,  dosa apa yg trus mengalir meski qt sudah meninggal?

Devi Suherna

Jawaban:
Wa alaikumus salam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita sering mendengar istilah sedekah jariyah. Itulah sedekah yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun kita telah meninggal dunia. Kita akan tetap terus mendapatkan kucuran pahala, selama harta yang kita sedekahkan masih dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk melakukan ketaatan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ ( HR. Nasa’i 3651, Turmudzi 1376, dan dishahihkan Al-Albani ).

Sebagai orang beriman, yang sadar akan pentingnya bekal amal di hari kiamat, tentu kita sangat berharap bisa mendapatkan amal semacam ini. Di saat kita sudah pensiun beramal, namun Allah tetap memberikan kucuran pahala karena amal kita di masa silam.

🔥 Dosa Jariyah

Disamping ada pahala jariyah, dalam islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.

Betapa menyedihkannya nasib orang ini, di saat semua orang membutuhkan pahala di alam barzakh, dia justru mendapat kucuran dosa dan dosa. Anda bisa bayangkan, penyesalan yang akan dialami manusia yang memiliki dosa jariyah ini.

Satu prinsip yang selayaknya kita pahami, bahwa yang Allah catat dari kehidupan kita, tidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu.

🔗Allah berfirman di surat Yasin,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” ( QS. Yasin: 12 )

Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya.

Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. – wal’iyadzu billah.. –, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini.

Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini.

Sumber Dosa Jariyah

Diantara sumber dosa jariyah yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

▶ Pertama, mempelopori perbuatan maksiat.

Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” ( HR. Muslim ).

Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya.

Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” ( HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya ).

Anda bisa bayangkan, orang yang pertama kali mendesain rok mini, pakaian you can see, kemudian dia sebarkan melalui internet, lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak ngajak khalayak untuk memakai rok mini, namun mengingat dia yang mempeloporinya, kemudian banyak orang yang meniru, dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun.

Tak jauh beda dengan mereka yang memasang video parno atau cerita seronok di internet, tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton atau membacanya, dan dengan membaca itu dia melakukan onani atau zina atau bahkan memperkosa, maka yang memasang di internet akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya.

Termasuk juga para wanita yang membuka aurat di tempat umum, sehingga memancing lawan jenis untuk menikmatinya, maka dia mendapatkan dosa membuka aurat, plus dosa setiap pandangan mata lelaki yang menikmatinya. Meskipun dia tidak mengajak para lelaki untuk memandanginya.

▶ Kedua, mengajak melakukan kesesatan dan maksiat

Dia mengajak masyarakat untuk berbuat maksiat, meskipun bisa jadi dia sendiri tidak melakukan maksiat itu. Merekalah para juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Allah berfirman, menceritakan keadaan orang kafir kelak di akhirat, bahwa mereka akan menanggung dosa kekufurannya, ditambah dosa setiap orang yang mereka sesatkan,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). ( QS. an-Nahl: 25 )

◾Imam Mujahid mengatakan,

يحملون أثقالهم: ذنوبهم وذنوب من أطاعهم، ولا يخفف عمن أطاعهم من العذاب شيئًا

Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya. ( Tafsir Ibn Katsir, 4/566 ).

Ayat ini, semakna dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” ( HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya ).

Anda bisa perhatikan para propagandis yang menyebarkan aliran sesat, menyebarkan pemikiran menyimpang, menyerukan masyarakat untuk menyemarakkan kesyirikan dan bid’ah, menyerukan masyarakat untuk memusuhi dakwah tauhid dan sunah, merekalah contoh yang paling mudah terkait hadis di atas.

Sepanjang masih ada manusia yang mengikuti mereka, pelopor kemaksiatan dan penghasung pemikiran menyimpang, selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah. Merekalah para pemilik dosa jariyah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

2⃣pertama, Hendaknya menyampaikan nasehat dengan sebaik baiknya dengan memotifasi akan keutamaannya, yang kedua memberikan buku seputar hukum hijab, yg ketiga memberikannya hijab syar’i yg bisa jadi dengan itu ia lebih semangat, dan yg terakhir mendo’akannya.
Allahu a’lam

✒ Dijawab oleh Ustadz Permana Hafidzahullah

 

Baru Saja Belajar Agama, Jangan Merasa Derajat Lebih Tinggi dari Lainnya

Baru Saja Belajar Agama, Jangan Merasa Derajat Lebih Tinggi dari Lainnya

Ini adalah kesalahan dalam berdakwah, yang baru ngaji/belajar agama tapi sudah membicarakan kesalahan orang lain,
bukannya membina tetapi menghukum dan menghina
bukannya mengajak surga tapi memvonis neraka dan sesat
bukannya memberi kemudahan tapi membuat dada sesak
bukannya memberi senyum tetapi muka masam

Ketika awal-awal mengenal dakwah ahlus sunnah bisa jadi ada rasa bangga dan sombong bahwa ia telah mendapat hidayah dan merasa ia sudah selamat dunia-akherat. Padahal ini adalah Ini baru fase yaq’zah [keterbangunan], awal mengangkat jangkar kapal, baru akan mulai mengarungi ilmu, amal, dakwah dan bersabar diatasnya.

Maka janganlah kita menganggap diri kita akan selamat dari dosa dan maksiat hanya karena baru mengenal dakwah ahlus sunnah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” [An-Najm: 32]

Ibnu Mas’ud,

“Kalau kalian MENGETAHUI dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan MELEMPARKAN tanah di atas kepalaku, dan aku berangan-angan Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil Abdullah bin Kotoran.” [HR.Hakim Al-Mustadrok 3/357 no 5382, shahih]

 

Semoga  kita selalu bisa tawadhu’, Semakin berilmu dan semakin tidak sombong dan tawadhu’.

Penyusun: Raehanul Bahraen

selamat dunia akhirat

⛲ MAU SELAMAT DUNIA AKHIRAT ? ⛲

بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

▶ Ketahuilah, wahai saudaraku! Bahwa yg menghancurkan kebahagiaan & keselamatan hidup manusia di Dunia & Akhirat adalah dosa..

▪Allah berfirman,
“Dan setiap musibah yg menimpamu adalah karena ulah & dosamu.”
(As-Syura:30)

Maka untuk meraihnya, isilah seluruh umur dengan 4 perkara, agar senantiasa mendapat curahan rahmat & ampunan dari Allah Jalla wa’ala..

▶ Diantaranya yaitu :

1⃣ Taubat

Jangan pernah menunda taubat & meremehkannya.

Bertaubatlah kepada Allah dengan cara yg benar & jangan pernah bertaubat dengan cara yg tidak ada contohnya dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

Penuhi syarat taubat, ikhlas, menyesal, membenci kesalahan yg lalu, bertekad untuk tidak mengulanginya & segera menyelesaikan semua permasalahan dengan manusia.

2⃣ Ilmu yg bermanfaat

Pastikan ilmu yg dicari adalah ilmu yg bersumber dari al-Qur’an & hadist sahih & sesuai dengan pemahaman sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

Kenalilah Allah, Rasulmu & agamamu yg benar melalui ilmumu

Tuntutlah ilmu agama yg membuatmu takut kepada Allah..

3⃣ Amal saleh

Pastikan semua amal yg kau baik itu amalan hati, lisan maupun anggota badan adalah amal yg dikerjakan karena perintah Allah & sesuai dengan contoh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

4⃣ Mengikuti jalan2 hidayah

▪Berkata sa’id bin zubair yaitu,
“menjalankan agama yg sesuai dengan cara Rasul & sahabatnya radhiallahu ‘anhum..

▪Allah berfirman,

”Sesungguhnya Aku akan mencurahkan ampunan kepada hamba-Ku yg selalu bertaubat, beriman & beramal saleh kemudian meniti jalan hidayah.” (QS Toha:82)

⏹ Semoga Allah memberi keselamatan kepada kita semua di Dunia & Akhirat!

✍ By Ustadz Djazuli LC

Fitnah Wanita

FITNAH WANITA LEBIH DAHSYAT DARI TIPU DAYA SETAN

Sesungguhnya godaan dan tipu daya syaithan itu sangatlah lemah.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً

“`Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS An Nissa : 76).

Adapun tipu daya wanita adalah amat dahsyat.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“`“Sesungguhnya tipu daya kamu (kaum wanita) besar” (QS Yusuf : 28)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda tentang fitnah wanita :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“`Tidak ada fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum laki laki dari fitnahnya kaum wanita” (HR Bukhari : 5096, Muslim : 2741)“`

Allah Ta’ala berfirman :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali Imran : 14)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat diatas :

يُخْبِرُ تَعَالَى عَمَّا زُيِّن لِلنَّاسِ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنْ أَنْوَاعِ الْمَلَاذِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينِ، فَبَدَأَ بِالنِّسَاءِ لِأَنَّ الْفِتْنَةَ بِهِنَّ أَشَدُّ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّهُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، قَالَ مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّساء

”Allah ta’ala mengabarkan tentang perkara yang dibuat indah pada pandangan manusia didalam kehidupan dunia ini berupa kesukaan pada wanita dan anak keturunan. Maka diawali dengan penyebutan wanita (sebelum kenikmatan yang lain) dikarenakan fitnah wanita lebih besar sebagaimana didalam hadits shahih bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : Tidak ada fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum laki laki dari fitnahnya kaum wanita” (Tafsir Ibnu Katsir)”

▶ CATATAN :

Fitnah wanita bukan hanya fitnah syahwat bagi kaum laki laki, akan tetapi diantara bentuk fitnah para istri terhadap suaminya, para suami menelantarkan hak hak Allah demi melayani istrinya, menentang perintah Allah demi mencari keridhaan sang isteri, atau para suami durhaka kepada orang tuanya demi mencari cinta sang istri.

Oleh karenanya Allah Ta’ala mengingatkan para suami didalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“`Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayan (QS At Taghabun : 14)“`

Wallahu A’lam.

✍ *Abu Ghozie As Sundawie*
____________________
🎀

📚 🖋