Usia anak saat khitan

#Tanya Ustadzah
Nama : Zahra
Asal : Surabaya

Assalamu’alaikum..
Apakah ada dalil sesuai sunnah tentang usia anak saat khitan? Karena ada yang melarang khitan pada saat anak masih bayi

Jazakallah khayran..
____________

Hal ini sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqah Hasan dan Husain dan mengkhitan mereka berdua pada hari ketujuh (setelah kelahiran,-pen).” (HR. Ath Thabrani dalam Ash Shogir)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Ada tujuh sunnah bagi bayi pada hari ketujuh, yaitu : pemberian nama, khitan, …” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath)

 

Jawaban
Oleh Ustadzah Nabila Ummu Abdurahman Hafidzahullah

 

hukum memakai softlens

#Tanya Ustadzah
Nama: Sabrina A.S
Asal : Bekasi

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

📝 Pertanyaan ..

Ana ingin bertanya tentang
1. Bagaimana hukum memakai softlens?
Mohon penjelasannya.
Syukron jazaakillahu khayran

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Jawaban

Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

HUKUM MENGGUNAKAN LENSA KONTAK

Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan lensa kontak berwarna adalah kegunaan untuk berobat, lensa kontak berwarna termasuk perhiasan, harga lensa kontak yang lumayan mahal dan menghindari diri dari niat mencari ketenaran dan sombong/pamer (libas syuhrah).

Syaikh Muhammad shalih Al-Munajjid hafidzahullah menjelaskan tentang hal ini,

العدسات اللاصقة على نوعين :

1- العدسات الطبية : و هي التي تستخدم لعلاج قصر النظر أو بعده و نحو ذلك مما هو للتداوي فهذه العدسات لا بأس باستخدامها باستشارة الطبيبة المختصة .

2- العدسات التجميلية الملونة : فهذه حكمها حكم الزينة ، إن كان لزوجها فلا بأس ، وإن كان لغيره فعلى وجه لا تكون فيه فتنة ، ويشترط أيضا أن لا تكون ضارة ، وأن لا يكون فيها غش وتدليس مثل أن تظهر بها المخطوبة للخاطب ، وأن لا يكون هناك إسراف في شرائها لأن الله نهى عن –

Lensa kontak ada dua jenis :

1. Lensa untuk pengobatan

Yaitu digunakan untuk mengobati mata minus atau plus atau semacamnya (silinder misalnya, pent) maka tidak mengapa digunakan atas petunjuk dokter yang berkompetensi (spesialis)

2.lensa kontak berwana untuk perhiasan (untuk bergaya)
Maka hukumnya sama dengan perhiasan, jika digunakan untuk berhias bagi suaminya maka tidak mengapa. Jika digunakan untuk yang lain maka hendaknya tidak menimbulkan fitnah.

Dengan syarat :
1. Tidak menimbulkan bahaya (misalnya iritasi dan alergi pada mata, pent) atau menimbulkan unsur penipuan dan kebohongan misalnya menampakkan pada laki-laki yang akan melamar. Dan juga tidak ada unsur menyia-nyiakan harta (israaf) karena Allah melarangnya.*

2. Israaf atau menyia-nyiakan harta juga harus diperhatikan adalam penggunaan lensa kontak. Karena harganya dipasaran sekitar Rp. 500ribu sampai satu juta untuk kualitas yang baik. Sedangkan lensa kontak murahan akan mudah menyebabkan mata iritasi dan infeksi. Ini termasuk perhiasan jika tidak ada indikasi medisnya. Maka hendaknya dipertimbangkan agar kita jangan menyia-nyiakan harta

■ Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Jangan kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (Al An’am:141)

■Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Sesungguhnya para pemboros itu saudaranya para setan” (Al Isra: 27)

3. Kemudian yang perlu diperhatikan juga jika menggunakan lensa kontak berwarna, bisa jadi kita akan termasuk mencari ketenaran (libas syuhrah). Bayangkan jika menggunakan lensa kontak berwarna ekstrim misalnya merah atau biru yang tidak lazim pada orang Indonesia. Jika memang akan menyebabkan atau berniat libas syuhrah maka harus dihindari,

Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من لبس ثوب شهرة في الدنيا البسه الله ثوب مذلة يوم القيامة ثم الهب فيه نارا

“Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.”

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata.

والحديث يدل على تحريم لبس ثوب الشهرة وليس هذا الحديث مختصا بنفس الثياب بل قد يحصل ذلك لمن يلبس ثوبا يخالف ملبوس الناس من الفقراء ليراه الناس فيتعجبوا من لباسه ويعتقدوه قاله ابن رسلان واذا كان اللبس لقصد الاشتهار في الناس فلا فرق بين رفيع الثياب ووضيعها والموافق لملبوس الناس والمخالف لان التحريم يدور مع الاشتهار والمعتبر القصد

“Hadits ini menunjukkan haramnya memakai pakaian untuk ketenaran dan tidaklah dalam hadits ini khusus pada pakaian saja bahkan bisa terjadi pada orang miskin yang memakai pakaian berbeda dengan apa yang dipakai oleh masyarakat supaya manusia melihatnya sehingga mereka menjadi kagum dan menyakininya.

Berkata Ibnu Ruslan :

Libas syuhrah yaitu jika bermaksud mencari ketenaran/popularitas di antara manusia, tidak ada bedanya antara pakaian yang mahal dan pakaian yang murah, apakah sesuai dengan pakaian masyarakat atau berbeda dengan pakaian masyarakat, karena sebab pengharaman adalah keinginan menjadi tenar/populer (cari perhatian).”

Berkata Ibnu Atsir rahimahullah :

*الشهرة ظهور الشيء والمراد أن ثوبه يشتهر بين الناس لمخالفة لونه لألوان ثيابهم فيرفع الناس إليه أبصارهم ويختال عليهم بالعجب والتكبر*

“Syuhrah artinya menampakkan sesuatu (termasuk lensa kontak berwarna, pent) dengan maksud apa yang dikenakan akan terkenal di antara manusia dengan menyelisihi warnanya (misalnya) maka manusia akan memfokuskan pandangan padanya kemudian ia sombong dan takabbur.”

🌎 Artikel www.muslimafiyah.com
With edited

✒ Dijawab oleh Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman Hafidzahullah

hukum menerima angpau

#Tanya Ustadzah 2
Nama : Fenny
Asal : Depok

Assalamualaikum
Bagaimana hukumnya jika kita diberi angpau diperayaan imlek.

Jazakumullahu khairan

Jawaban

▶ Pertama, Islam tidak melarang kita untuk bersikap baik terhadap orang non muslim yang tidak mengganggu. Salah satunya adalah dengan menerima hadiah dari orang kafir

Allah berfirman,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” ( *QS. Al-Mumtahanan: 8* )

📚 Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari membuat judul bab:

بَابُ قَبُولِ الهَدِيَّةِ مِنَ المُشْرِكِينَ

Bab: Bolehnya menerima hadiah dari orang musyrik (Al-Jami’ As-Shahih, 3/163).

📂Selanjutnya, Imam Bukhari menyebutkan beberapa riwayat tentang menerima hadiah dari orang kafir. Berikut diantaranya,

1. Riwayat dari Abu Huamid,

قَالَ أَبُو حُمَيْدٍ: أَهْدَى مَلِكُ أَيْلَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَغْلَةً بَيْضَاءَ، وَكَسَاهُ بُرْدًا، وَكَتَبَ لَهُ بِبَحْرِهِمْ

Abu Humaid mengatakan, “Raja Ailah menghadiahkan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor bighal putih, beliau diberi selendang, dan kekuasaan daerah pesisir laut.

2. Riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِنَّ أُكَيْدِرَ دُومَةَ أَهْدَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Bahwa Ukaidir Dumah (raja di daerah dekat tabuk) memberi hadiah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Keterangan dari *Anas bin Malik*,

أَنَّ يَهُودِيَّةً أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ، فَأَكَلَ مِنْهَا

Bahwa ada seorang perempuan yahudi yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa daging kambing yang diberi racun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakannya..

✅Semua riwayat di atas, yang disebutkan Imam bukhari dalam shahihnya, menunjukkan bolehnya menerima hadiah dari orang kafir.

▶ Kedua, hukum menerima hadiah pada hari raya orang kafir

💌Angpao dibagikan dalam rangka memeriahkan hari raya imlek. Dengan demikian, angpao merupakan hadiah hari raya orang kafir, sebagaimana hadiah natal.

Untuk mendapatkan kesimpulan hukum tentang hadiah yang diberikan pada saat hari raya mereka, mari kita simak beberapa keterangan ulama berikut,

Syaikhul Islam mengatakan,

وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه أتي بهدية النيروز فقبلها .

“Menerima hadiah orang kafir pada hari raya mereka, telah ada dalilnya dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu bahwa beliau mendapatkan hadiah pada hari raya Nairuz (perayaan tahun baru orang majusi), dan beliau menerimanya.”

وروى ابن أبي شيبة .. أن امرأة سألت عائشة قالت إن لنا أظآرا [جمع ظئر ، وهي المرضع] من المجوس ، وإنه يكون لهم العيد فيهدون لنا فقالت : أما ما ذبح لذلك اليوم فلا تأكلوا ، ولكن كلوا من أشجارهم .

Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Aisyah radhiallahu’anha, Kami memiliki seorang ibu susu beragama majusi. Ketika hari raya, mereka memberi hadiah kepada kami. Kemudian Aisyah menjelaskan, “Jika itu berupa hewan sembelihan hari raya maka jangan dimakan, tapi makanlah buah-buahannya.”

و.. عن أبي برزة أنه كان له سكان مجوس فكانوا يهدون له في النيروز والمهرجان ، فكان يقول لأهله : ما كان من فاكهة فكلوه ، وما كان من غير ذلك فردوه .

Dari Abu barzah, bahwa beliau memiliki sebuah rumah yang dikontrak orang majusi. Ketika hari raya Nairuz dan Mihrajan, mereka memberi hadiah. Kemudian Abu Barzah berpesan kepada keluarganya, “Jika berupa buah-buahan, makanlah. Selain itu, kembalikan.”

فهذا كله يدل على أنه لا تأثير للعيد في المنع من قبول هديتهم ، بل حكمها في العيد وغيره سواء ؛ لأنه ليس في ذلك إعانة لهم على شعائر كفرهم … “.

Semua riwayat ini menunjukkan bahwa ketika hari raya orang kafir, *tidak ada larangan* untuk menerima hadiah dari mereka. Hukum menerima ketika hari raya mereka dan di luar hari raya mereka, sama saja. Karena menerima hadiah tidak ada unsur membantu mereka dalam menyebar syiar agama mereka. (Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim, 2:5)

Kemudian Syaikhul Islam menegaskan bahwa sembelihan ahli kitab, meskipun pada asalnya hukumnya halal, namun jika disembelih karena hari raya mereka maka *statusnya tidak boleh dimakan*. Beliau menyatakan,

وأما ما ذبحه أهل الكتاب لأعيادهم وما يتقربون بذبحه إلى غير الله نظير ما يذبح المسلمون هداياهم وضحاياهم متقربين بها إلى الله تعالى ، وذلك مثل ما يذبحون للمسيح والزهرة ، فعن أحمد فيها روايتان أشهرهما في نصوصه أنه لا يباح أكله وإن لم يسم عليه غير الله تعالى ، ونقل النهي عن ذلك عن عائشة وعبد الله بن عمر.

*Sembelihan ahli kitab* untuk hari raya mereka dan sembelihan yang mereka jadikan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah, statusnya sembelihan ibadah sebagaimana layaknya yang dilakukan kaum muslimin ketika berqurban atau menyembelih hewan hadyu, sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sembelihan dalam rangka hari raya ahli kitab, seperti mennyembelih untuk Al-Masih atau Az-Zahrah. Ada dua riwayat dari Imam Ahmad. Riwayat yang lebih banyak dari beliau adalah tidak boleh dimakan. Meskipun ketika menyembelih tidak menyebut nama selain Allah. Dan terdapat riwayat yang melarang memakan sembelihan ini dari A’isyah dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum. (Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim, 2:6).

Orang Muslim Tidak Boleh Meniru

Syaikhul islam menegaskan, seorang muslim tidak boleh memberikan hadiah kepada muslim yang lain pada hari raya orang kafir. Beliau mengatakan,

ومن أهدى من المسلمين هدية في هذه الأعياد ، مخالفة للعادة في سائر الأوقات غير هذا العيد ، لم تقبل هديته ، خصوصا إن كانت الهدية مما يستعان بها على التشبه بهم ، مثل : إهداء الشمع ونحوه في الميلاد أو إهداء البيض واللبن والغنم في الخميس الصغير الذي في آخر صومهم ، وكذلك أيضا لا يهدى لأحد من المسلمين في هذه الأعياد هدية لأجل العيد ، لا سيما إذا كان مما يستعان بها على التشبه بهم كما ذكرناه

Seorang muslim yang memberikan hadiah ketika hari raya orang kafir, padahal itu tidak pernah dia lakukan di luar hari raya tersebut *maka hadiahnya tidak boleh diterima*. Terlebih jika hadiah tersebut membantu untuk ikut meniru kebiasaan orang kafir, seperti menghadiahkan lilin atau semacamnya ketika natal, atau menghadiahkan telur, susu, dan daging kambing ketika hari kamis di tanggal terakhir puasa mereka. Demikian pula, *tidak boleh memberi hadiah kepada orang muslim pada hari raya non mulim*, dalam rangka memeriahkan hari tersebut. Terlebih jika benda itu mendukung untuk meniru kebiasaan mereka, sebagaimana yang telah kami sebutkan. (Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim, 1:461)

Tidak berlaku sebaliknya

Penjelasan di atas, terkait hukum menerima hadiah dari orang kafir. Namun hukum ini tidak berlaku untuk kasus sebaliknya, memberikan hadiah kepada orang kafir ketika hari raya mereka. Ulama Hanafi menegaskan, *memberi hadiah dari orang kafir dalam rangka memeriahkan hari raya mereka, hukumnya terlarang, dan bahkan mereka anggap sebagai pembatal islam*. Az-Zaila’i (ulama hanafi) mengatakan,

(والإعطاء باسم النيروز والمهرجان لا يجوز) أي الهدايا باسم هذين اليومين حرام بل كفر , وقال أبو حفص الكبير رحمه الله لو أن رجلا عبد الله خمسين سنة ثم جاء يوم النيروز , وأهدى لبعض المشركين بيضة ، يريد به تعظيم ذلك اليوم ، فقد كفر , وحبط عمله .

“(Hadiah dengan nama Nairuz dan Mihrajan, hukumnya tidak boleh). Maksudany, hadiah dalam rangka memeriahkan dua hari ini hukumnya haram bahkan kekafiran. Abu Hafs Al-Kabir mengatakan, ‘Jika ada orang yang beribadah kepada Allah selama 50 tahun. Kemudian dia datang pada hari Nairuz, dan memberikan hadiah telur kepada orang musyrik, dalam rangka memeriahkan dan mengagungkan hari raya itu maka dia telah murtad dan amalnya terhapus.” (Tabyin Al-Haqaiq, 6/228).

Kesimpulan yang bisa kita catat dari penjelasan di atas*, bahwa kita dibolehkan menerima hadiah dari orang kafir pada hari raya mereka dengan syarat,

◾Hadiah itu bukan termasuk sembelihan mereka.
◾Hadiah itu bukan termasuk benda yang memfasilitasi orang untuk meniru ciri khas mareka saat hari raya.
◾Menerima hadiah itu sama sekali tidak dikesankan mendukung acara mereka.
◾Menerima hadiah itu dalam rangka mengambil hati mereka, dengan harapan, mereka bisa simpati kepada islam.
◾Dengan demikian, jika menerima hadiah angpao memenuhi beberapa persyaratan di atas, hukumnya dibolehkan.
Allahu a’lam.

Referensi :
Konsultasi Syariah
Pengusaha Muslim

Dijawab oleh Ustadzah Nabila Ummu Abdurahman Hafidzahullah Ta’ala

 

hukum jual beli kucing

#Tanya Ustadz
Nama : lia
Asal : Malang

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Pertanyaan..

Apakah hukumnya jual beli kucing hias (ras Persia)?
Jika tidak diperbolehkan, apakah boleh meminta ganti untuk biaya pakan Dan perawatan kucing ras (hias) selama belum diadopsi atau ganti pemiliknya?
=========

Jawab

وعليكم السلام ورحمة اللّٰه وبركاته

Hukum jual beli kucing terlarang.
Abu Zubair Al Makki:

سألتُ جابرًا عن ثمنِ الكلبِ والسِّنَّوْرِ ؟ قال : زجرَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ عن ذلك

“aku bertanya kepada Jabir tentang hasil penjualan anjing dan kucing, beliau berkata bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang hal tersebut” ( HR. Muslim no. 1569 )

Sekiranya dia menyerahkan kucing tersebut kemudian meminta ganti pakan kucing selama pemeliharannya ini juga terlarang. Karena ketika ia hendak memberikan tidak ada unsur manfaat dari dunia yg ia dapatkan dan yg diharapkan adalah pahala disisi Allah dengan kebaikan yg ia lakukan. Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Permana Hafidzahullah Ta’ala

Fenomena Rihul ahmar

RIHUL AHMAR

بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد

PERTANYAAN

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Ana ingin bertanya tentang apa itu *Rihul Ahmar* ?
Apakah Ada doanya?
Mohon penjelasannya. Syukron
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Penanya : IDA (UFHA 6)
Asal : Bogor

JAWABAN

Keberadaan fenomena tentang riihul ahmar adalah *merupakan pembicaraan terhadap hal ghaib.* Dan kita tidak boleh mempercayai keghaiban melainkan harus berdasarkan wahyu, berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan tidak ada di dalam keduanya keterangan tentang keberadaan fenomena Rihul Ahmar ini.

Disebutkan dalam salah satu fatwa para ulama besar yang tergabung dalam Lajnah Daaimah :

بعد النظر في الأوراق المذكورة تبين أن فيها مخالفات شرعية كثيرة، لا يجوز إقرارها ولا توزيعها بين الناس؛ لأنها تشتمل على بدع وشركيات وألفاظ غريبة، فمن ذلك:*

قوله: (ثم تقول بصوت دون صوتك بتلاوة القرآن، ثم تقول بصوت خفيض) وتحديد الصوت بهذه الكيفية لا دليل عليه.
yفي قوله في الاستعاذة من شر المخلوقات ومن الريح الأحمر، وتحديد هذا النوع من الريح لا دليل عليه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم استعاذ من شر الريح مطلقًا.

“Setelah diadakan penelitian terhadap cerita tentang rihul ahmar ini maka menjadi jelas adanya penyimpangan yang sangat banyak, maka tidak boleh disetujui, tidak boleh dibenarkan dan tidak boleh dishare di kalangan khalayak ramai karena selebaran tentang rihul ahmar ini mengandung banyak kesyirikan, kebid’ahan dan lafadz-lafadz yang aneh. Diantara lafadz doanya disebutkan di sana :

“Kemudian Engkau berkata dengan suara yang bukan suaraMu dengan membaca Al-Qur’an. Kemudian engkau bersuara dengan suara rendah.”

Membatasi suara dengan pembatasan seperti ini tidak ada dalilnya sama sekali.

Di dalamnya juga ada permintaan perlindungan dari keburukan makhluk dan dari keburukan Rihul Ahmar (Angin merah). Penyebutan angin dengan kriteria seperti ini tidak ada dalilnya sama sekali, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari keburukan angin secara mutlak.

(Fatawa Lajnah Daimah : 24/280).
Dijawab oleh :
Ustadzah Ummu Abdurrahman Nabila hafidzahulloh

Tata cara sholat istikharah

Nama: mimi ummu syifa
[UFH1]

Asal: medan

Pertanyaan:
Assalamualaikum

Bagaimana tatacara sholat istikharah, dan kapankah waktu yg afdhol utk melaksanakannya?
Jazaakunallahu khairan.

Jawab:

Cara shalat istikharah:
1. Shalat sunnah dua rakaat dengan niat istikharah (niat cukup dalam hati, Niat adalah kesadaran atau keinginan hati untuk melakukan sesuatu, niat itu bukan apa yang dilafadzkan)
2. ‎ shalat boleh dilakukan siang atau malam hari, namun pastikan shalat tersebut tidak dilakukan di Waktu-waktu yang terlarang untuk shalat sunnah yaitu: setelah shalat subuh smapai matahari terbit, ketika matahari sedang terbit, tengah hari sebelum matahari bergeser ke barat, setelah shalat ashar sampai matahari tenggelam, sesaat sebelum matahari tenggelam)
3. ‎ tata cara shalat sama seperti shalat sunnah lainnya
4. ‎ setelah salam, membaca do’a berikut:

( اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلا أَقْدِرُ , وَتَعْلَمُ وَلا أَعْلَمُ , وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ , اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (sebutkan hajat kita di sini) خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ : عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ , اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (sebutkan hajat kita di sini) شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ : عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ . وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ ) وَفِي رواية ( ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

5. Bila tidak hafal do’a di atas, boleh melihat kepada catatan
6. ‎ ulang shalat istikharah, biasanya Rasulullah berdoa sampai tiga kali. Bila masih memilikinya keraguan.
7. ‎ tidak perlu menunggu mimpi dan sebagainya, setelah shalat istikharah, tawakal kepada Allah lalu kerjakan yang diinginkan (selagi hal tersebut bukan maksiat, tidak melanggar syariat)
8. ‎ boleh juga meminta pendapat orang bijak yang shaleh, atau konsultasi, setelah istikharah. Mudah-mudahan Allah membantu memberikan solusi melalui nasihat orang bijak.

الله أعلم بالصواب

Dijawab oleh:
Ustadz Abu Ayman Hafizh Abdul Rohman, Lc
Hafidzhahullah

tips khusyu’ dalam sholat

  TIPS AGAR BISA KHUSYU’ DALAM SHALAT

Bismillah..

Pertanyaan :

  • jika hamba-Ku megatakan: “Arrahmanirrahim” (Yang Maha pengasih lagi penyayang), Ku-jawab: “Atsna ‘alayya ‘abdi” (hamba-Ku memujiku lagi).
  • Jika hamba-Ku mengatakan: “Maaliki yaumiddien” (Penguasa di hari pembalasan), Ku-jawab: “Majjadani ‘abdi” (hamba-Ku menyanjung-Ku).*_
  • Jika hamba-Ku mengatakan: “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong). Ku-jawab: Inilah batas antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta…*_
  • Jika hamba-Ku mengatakan: “Ihdinassiraatal mustaqiem… dst” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat), Ku-jawab: Inilah bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta*_ [HR. Muslim].
  • Mulai sekarang, biasakan tiap kali membaca Al Fatihah bersikaplah seakan Anda mendengar jawaban Allah pada tiap ayatnya.
  • Ruku’: Bungkukkan punggung Anda untuk Allah saja, dan tundukkan hati Anda bersamanya.
  • Berdiri dari ruku’: Segala puji bagi Allah yang menjadikan punggung Anda tegak kembali
  • Sujud:
    Letakkan bagian tubuh Anda yang paling terhormat –yaitu wajah- pada tempat yang paling rendah di bumi –yaitu tanah-. Ingatlah bahwa Anda berasal darinya, dan Anda akan kembali ke sana. Lalu katakan “Subhaana Rabbiyal a’la” (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi) 3x, agar makna tersebut semakin meresap dalam hati, lalu berdoalah sesuka Anda.
  • `Duduk lalu sujud yang kedua: bersimpuhlah di hadapan Allah, dan sujudlah kembali, sebab sujud tidak cukup hanya sekali !
  • Tasyahhud:
    Attahiyyaatu lillaah wasshalawaatu wat thayyibaat (Salam sejahtera, shalawat, dan segala yang baik adalah milik Allah)… rasakan keagungan Allah ketika itu !
  • Assalaamu ‘alaika Ayyuhannabiyyu (salam sejahtera atasmu wahai Nabi)… ucapkan salam atas Nabi dan yakinlah bahwa Nabi membalas salam Anda. Nabi bersabda:“` ما من عبد يصلى ويسلم علي إلا رد الله علي روحي فارد السلام
  • tidak ada seorang hamba pun yang mengucapkan salam dan shalawat atasku, melainkan Allah kembalikan ruhku agar aku membalas salamnya”.*_
  • ‘Assalaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillaahisshaalihien (Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih)… sekarang kedudukanmu mulai terangkat, salamilah dirimu dan kau perlu bersahabat dengan orang-orang shalih.
  • ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah’ (Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah)…yakinlah bahwa Allah ada meski engkau tak melihat-Nya.
  • Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim (Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Kau limpahkan atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim)…Teladanilah kedua Nabi yang mulia ini, karena keduanyalah suri teladan terbaik. Dan berterima kasihlah kepada mereka yang telah mengajarkan kebaikan untukmu, dengan mendoakan mereka dalam shalatmu.
  • ➡ Salam ke kanan:
    Tujukan kepada malaikat pencatat kebaikan…
  • ⬅Salam ke kiri:
    Ucapkan dalam hati “Hai Malaikat di sebelah kiri, aku telah bertaubat !”.
  •  Penutup Shalat —“Istighfar 3x: Aku mohon ampun atas segala kekurangan yang terjadi dalam shalatku.“
  •  Bacalah: ‘Allahumma antassalaam waminkassalaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam’ (Ya Allah, engkaulah As Salaam, dan dari-Mu lah keselamatan. Maha berkah Engkau wahai Yang memiliki segala kemuliaan)…* ingatlah bahwa kalimat ini akan Anda ucapkan kepada Allah di Surga, tatkala Dia menyingkap tabir-Nya… Allah akan menyeru Anda dengan mengatakan:
  • Wahai Ahli Surga, Salaamun ‘alaikum”, maka mereka menjawab: “Allahumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam”.
  •  Lalu bacalah: *“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik” (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu)…*agar shalat anda yang berikutnya juga sempurna.
  • Cobalah tips di atas, dan buktikan kemanjurannya karena saya sendiri telah mencobanya ! Semoga bermanfaat.Wallahu a’lam…
  •  Dijawab Oleh Ustadzah Ummu Abdurrohman Nabila
    📚Kajian Online ke 6 Group Ukhuwah Fil Hijrah
    ____________________