Fikih Puasa Syawal (5.2)

Fiqih puasa Syawal

Bagian 5.2

Menggabung niat puasa Syawal dengan puasa lainnya

  1. Menggabung puasa Syawal dengan puasa ayyamul bidh

Hukumnya boleh dan sah. Karena puasa ayyamul bidh adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Ketika seseorang melaksanakan puasa 3 hari dalam satu bulan, kapanpun harinya dan apapun jenis puasa yang ia lakukan (yang disyariatkan) maka ia sudah mendapatkan keutamaan puasa ayyamul bidh.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyatakan:

إذا صام ست أيام من شوال سقطت عنه البيض ، سواء صامها عند البيض أو قبل أو بعد لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من الشهر ، وقالت عائشة رضي الله عنها : ” كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر لا يبالي أصامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره ” ، و هي من جنس سقوط تحية المسجد بالراتبة فلو دخل المسجد

“Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (ketika bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya’. Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan shalat tahiyatul masjid dengan mengerjakan salat rawatib jika seseorang masuk masjid” (Sumber: https://islamqa.info/ar/4015).

  1. Menggabung puasa Syawal dengan puasa Senin-Kamis

Hukumnya boleh dan sah. Karena puasa Senin-Kamis adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Karena puasa Senin-Kamis disyariatkan bukan karena dzatnya, namun karena diangkatnya amalan di hari itu sehingga dianjurkan berpuasa, apapun puasa yang dilakukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الأعمال ترفع يوم الاثنين والخميس فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Sesungguhnya catatan amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika catatan amalanku diangkat ketika aku sedang puasa” (HR. Ibnu Wahb dalam Al-Jami’, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1583).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan:

إذا اتفق أن يكون صيام هذه الأيام الستة في يوم الاثنين أو الخميس فإنه يحصل على أجر الاثنين بنية أجر الأيام الستة، وبنية أجر يوم الاثنين أو الخميس

“Jika puasa Syawal bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka ia mendapatkan pahala puasa Senin-Kamis dengan niat puasa Syawal atau dengan puasa Senin-Kamis” (Fatawa Al-Islamiyah, 2/154).

Demikian pembahasan singkat mengenai fikih puasa Syawal. Semoga menjadi tambahan ilmu bagi kita semua, dan semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk mengamalkannya.

Wabillahi at-taufiq was-sadaad.

*

Penulis : Yulian Purnama
Artikel : Muslim.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (5.1)

Fiqih puasa Syawal

Bagian 5.1

Menggabung niat puasa Syawal dengan puasa lainnya

Masalah ini dikenal dalam ilmu fikih sebagai masalah tasyrik an niyyat atau tasyrik ibadatain fi niyyah (menggabung beberapa niat dalam ibadah). Ada tiga rincian dalam masalah ini, yaitu sebagai berikut:

فَإِنْ كَانَ مَبْنَاهُمَا عَلَى التَّدَاخُل كَغُسْلَيِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَابَةِ، أَوِ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ، أَوْ غُسْل الْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، أَوْ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا غَيْرَ مَقْصُودَةٍ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ مَعَ فَرْضٍ أَوْ سُنَّةٍ أُخْرَى، فَلاَ يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي الْعِبَادَةِ؛ لأِنَّ مَبْنَى الطَّهَارَةِ عَلَى التَّدَاخُل، وَالتَّحِيَّةُ وَأَمْثَالُهَا غَيْرُ مَقْصُودَةٍ بِذَاتِهَا، بَل الْمَقْصُودُ شَغْل الْمَكَانِ بِالصَّلاَةِ، فَيَنْدَرِجُ فِي غَيْرِهِ.

أَمَّا التَّشْرِيكُ بَيْنَ عِبَادَتَيْنِ مَقْصُودَتَيْنِ بِذَاتِهَا كَالظُّهْرِ وَرَاتِبَتِهِ، فَلاَ يَصِحُّ تَشْرِيكُهُمَا فِي نِيَّةٍ وَاحِدَةٍ؛ لأِنَّهُمَا عِبَادَتَانِ مُسْتَقِلَّتَانِ لاَ تَنْدَرِجُ إِحْدَاهُمَا فِي الأْخْرَى

“[1] Jika latar belakang pelaksanaan kedua ibadah tersebut karena sifatnya tadakhul (saling bertemu satu sama lain), sebagaimana mandi Jum’at dan mandi janabah (ketika dalam kondisi junub di hari Jum’at, -pent.), atau mandi janabah dan mandi haid, atau mandi Jum’at dan mandi untuk salat Id, atau [2] salah satu dari ibadah tersebut ghayru maqshudah bidzatiha (yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, -pent.) sedangkan ibadah yang lain adalah ibadah wajib atau sunah, maka ini tidak mencacati ibadah (baca: boleh). Karena landasan dari taharah memang at-tadakhul dan salat tahiyyatul masjid dan yang semisalnya yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, namun yang dituntut adalah mengerjakan shalat ketika masuk masjid (apapun salat itu, -pent.). Maka ibadah tersebut bisa masuk pada ibadah yang lain. Adapun [3] menggabungkan niat antara dua ibadah maqshudah bi dzatiha (yang dituntut adalah dzat ibadahnya), seperti menggabungkan salat zuhur dengan salat rawatib zuhur, maka tidak sah menggabungkan keduanya dalam satu niat, karena keduanya adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, yang tidak bisa masuk antara satu dengan yang lain” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 12/24).

Maka dari kaidah ini bisa kita jawab permasalah-permasalahan berikut:

  1. Menggabung puasa Syawal dengan qadha puasa

Hukumnya tidak boleh dan tidak sah, karena puasa Syawal dan qadha puasa Ramadan keduanya adalah ibadah yang maqshudah bi dzatiha. Keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, sehingga tidak sah jika digabungkan dalam satu niat.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

أما أن تصوم الست بنية القضاء والست فلا يظهر لنا أنه يحصل لها بذلك أجر الست، الست تحتاج إلى نية خاصة في أيام مخصوصة

“Adapun jika anda puasa Syawal dengan menggabung niat puasa qadha dan puasa Syawal, maka saya memandang puasa Syawalnya tidak sah. Karena puasa Syawal membutuhkan niat khusus dan membutuhkan hari-hari yang khusus” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/4607).

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (4.2)

Fiqih puasa Syawal

Bagian 4.2

Tata cara puasa Syawal

  1. Bagi wanita hendaknya meminta izin kepada suaminya

Bila seorang wanita ingin mengerjakan puasa sunah, termasuk puasa Syawal, maka wajib meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu atau ia mengetahui bahwa suaminya mengizinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يحِلُّ للمرأةِ أن تصومَ وزَوجُها شاهِدٌ إلَّا بإذنِه، ولا تأذَنْ في بيته إلا بإذنِه

“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Bukhari no. 5195).

Dan puasa yang dimaksud dalam hadis ini adalah puasa sunah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا تصومُ المرأةُ وبعلُها شاهدٌ إلا بإذنِه غيرَ رمضانَ ولا تأذنْ في بيتِه وهو شاهدٌ إلا بإذنِه

“Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya, jika puasa tersebut selain puasa Ramadan. Dan tidak boleh seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Abu Daud no. 2458, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Sunan Abu Daud).

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:

قَوْلُهُ شَاهِدٌ أَيْ حَاضِرٌ قَوْلُهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْنِي فِي غَيْرِ صِيَامِ أَيَّامِ رَمَضَانَ وَكَذَا فِي غَيْرِ رَمَضَانَ مِنَ الْوَاجِبِ إِذَا تَضَيَّقَ الْوَقْتُ

“Sabda beliau [sedangkan suaminya hadir] maksudnya sedang tidak safar. [kecuali dengan seizinnya] maksudnya selain puasa Ramadan. Demikian juga berlaku pada puasa wajib selain puasa Ramadan jika waktunya sempit (maka tidak perlu izin, -pent.)”.

Beliau juga mengatakan:

وَفِي الْحَدِيثِ أَنَّ حَقَّ الزَّوْجِ آكَدُ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنَ التَّطَوُّعِ بِالْخَيْرِ لِأَنَّ حَقَّهُ وَاجِبٌ وَالْقِيَامُ بِالْوَاجِبِ مُقَدَّمٌ عَلَى الْقِيَامِ بِالتَّطَوُّعِ

“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa hak suami lebih ditekankan bagi wanita daripada ibadah sunah. Karena menunaikan hak suami itu wajib dan wajib mendahulukan yang wajib daripada yang sunah” (Fathul Baari, 9/296).

Bolehkah mendahulukan puasa Syawal sebelum menunaikan hutang puasa?

Dalam masalah ini kami nukilkan penjelasan bagus dari Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi dan ini pendapat yang lebih kami condongi dalam masalah ini:

“Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan dan kebolehan puasa sunah sebelum qadha puasa. Mereka khilaf (berselisih) dalam dua pendapat dan dua riwayat dari Imam Ahmad ada pada dua pendapat tersebut. Dan yang sahih hukumnya boleh.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits sahih yang marfu’:

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).

Sabda beliau “…puasa Ramadan lalu mengikutinya…” dimaknai oleh sejumlah ulama kepada wajibnya menyempurnakan puasa Ramadan sebelum mengerjakan puasa sunah. Dan ini juga zahir perkataan dari Sa’id bin Musayyab yang dibawakan Al-Bukhari secara mu’allaq (tidak menyebutkan sanad secara lengkap), beliau berkata tentang puasa sunah sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sebelum qadha puasa Ramadan:

لا يصلح حتى يبدأ برمضان

“Tidak dibenarkan kecuali diawali dengan (qadha) puasa Ramadan“

Al-Baihaqi dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari Utsman bin Muhib, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah ketika ditanya seseorang:

إن عليّ أياماً من رمضان أفأصوم العشر تطوعاً؟ قال: لا، ولم؟ إبدأ بحق الله ثم تطوع بعد ما شت

“Saya memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah saya puasa sunah sepuluh hari? Abu Hurairah menjawab: tidak boleh. Orang tersebut bertanya: mengapa? Abu Hurairah menjawab: dahulukan hak Allah, kemudian baru kerjakan yang sunah semaumu“.

Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha bahwa beliau menganggap hal itu makruh.

Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Sufyan, dari Hammad bahwa ia berkata:

سألت إبراهيم وسعيد بن جبير عن رجل عليه أيام من رمضان أيتطوع في العشر؟ قالا: يبدأ بالفريضة

“Aku bertanya kepada Ibrahim bin Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah ia puasa sunah sepuluh hari? Ibrahim bin Sa’id berkata: tidak boleh, dahulukan yang wajib.“

Dan mengakhirkan qadha puasa Ramadan hingga bulan Sya’ban hukumnya boleh, berdasarkan perbuatan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Salamah, ia berkata: aku mendengar Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كان يكون عليَّ الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضي إلا في شعبان

“Aku pernah memiliki hutang puasa Ramadan, dan aku tidak bisa menunaikannya hingga di bulan Sya’ban“

Pendapat yang sahih adalah boleh mengakhirkan qadha puasa Ramadhan walaupun bukan karena darurat, dengan cacatan bahwa menyegerakannya lebih utama. Jika tanpa darurat saja boleh, tentu mengakhirkannya karena mengerjakan puasa Syawal lebih layak untuk dibolehkan. Dan ini adalah salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad rahimahullah. Dengan catatan, bahwa ulama sepakat bahwa yang lebih utama adalah mendahulukan qadha puasa dan melepaskan diri dari tanggungan. Dalam pandangan kami, inilah makna yang diinginkan oleh Abu Hurairah, Sa’id bin Musayyib, Atha, Sa’id bin Jubair, Ibrahim bin Sa’id pada riwayat-riwayat di atas.

Dan perlu dicatat juga, bahwa orang yang tidak puasa Ramadan karena suatu uzur maka ditulis baginya pahala puasa untuk hari yang ia tinggalkan tersebut walaupun ia belum menunaikan qadha puasanya. Karena orang yang terhalang karena suatu uzur itu dihukumi sebagaimana orang yang mengamalkan amalan yang sah. Sebagaimana dalam sebuah hadis:

إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل وهو صحيح مقيم

“Jika seorang hamba sakit atau sedang safar, maka ditulis baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan dalam keadaan sehat dan tidak safar” (HR. Bukhari no. 2996).

Dan qadha puasa Ramadan waktunya luas, sedangkan puasa Syawal waktunya terbatas, sempit dan cepat berlalu” (Sumber: http://www.altarefe.com/cnt/ftawa/312).

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (4.1)

Fiqih puasa Syawal

Bagian 4.1

Tata cara puasa Syawal

Tata cara puasa Syawal secara umum sama dengan tata cara puasa Ramadan. Silakan simak tata cara puasa Ramadan pada artikel kami Ringkasan Fikih Puasa Ramadhan. Perbedaannya ada pada beberapa hal:

  1. Boleh niat puasa setelah terbit fajar

Telah kita ketahui bersama bahwa disyaratkan untuk menghadirkan niat pada malam hari sebelum puasa, yaitu sebelum terbit fajar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من لم يبيِّتِ الصِّيامَ قبلَ الفَجرِ، فلا صيامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak menghadirkan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. An-Nasai no. 2331, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai)

Namun para ulama menjelaskan bahwa ini berlaku untuk puasa wajib. Adapun puasa nafilah (sunah) maka boleh menghadirkan niat setelah terbit fajar. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan hal tersebut. Sebagaimana dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:

قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍ

يا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟

قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌء

قال فإني صائمٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku pada suatu hari: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini?)’. Aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatupun (untuk dimakan)’. Beliau lalu bersabda: ‘kalau begitu aku akan puasa’” (HR. Muslim no. 1154).

Imam An-Nawawi mengatakan:

وَفِيهِ دَلِيلٌ لِمَذْهَبِ الْجُمْهُورِ أَنَّ صَوْمَ النَّافِلَةِ يَجُوزُ بِنِيَّةٍ فِي النَّهَارِ قَبْلَ زَوَالِ الشَّمْسِ

“Hadits ini merupakan dalil bagi jumhur ulama bahwa dalam puasa sunah boleh menghadirkan niat di siang hari sebelum zawal (matahari mulai bergeser dari tegak lurus)” (Syarah Shahih Muslim, 8/35).

  1. Tidak harus berurutan

Tidak sebagaimana puasa Ramadan, puasa Syawal tidak disyaratkan harus berurutan (mutatabi’ah) dalam pelaksanaannya. Boleh dilakukan secara terpisah-pisah (mutafarriqah) harinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan,

صيام ست من شوال سنة ثابتة عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ويجوز صيامها متتابعة ومتفرقة ؛ لأن الرسول – صلى الله عليه وسلم – أطلق صيامها ولم يذكر تتابعاً ولا تفريقاً ، حيث قال – صلى الله عليه وسلم

من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر

أخرجه الإمام مسلم في صحيحه

“Puasa enam hari di bulan Syawal telah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan boleh mengerjakannya secara mutatabi’ah (berurutan) atau mutafarriqah (terpisah-pisah). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan puasa Syawal secara mutlaq (baca: tanpa sifat-sifat tambahan) dan tidak disebutkan harus berurutan atau harus terpisah-pisah. Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, ia mendapatkan pahala puasa setahun penuh‘ (HR. Muslim dalam Shahihnya)” (Majmu’ Fatawa wa Maqalah Mutanawwi’ah, 15/391).

  1. Boleh membatalkan puasa dengan atau tanpa uzur

Dibolehkan membatalkan puasa nafilah (sunnah) baik karena suatu udzur syar’i maupun tanpa udzur. Berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu’anha,

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال : هل عندكم شيء ؟ فقلنا : لا ، قال : فإني إذن صائم ، ثم أتانا يوما آخر فقلنا : يا رسول الله أهدي لنا حيس ، فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما ، فأكل

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari masuk ke rumah dan bertanya: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan)?’. Aisyah menjawab: ‘tidak’. Beliau bersabda: ‘kalau begitu aku akan berpuasa’. Kemudian di lain hari beliau datang kepadaku, lalu aku katakan kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, ada yang memberi kita hadiah berupa hayis (sejenis makanan dari kurma)’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu tunjukkan kepadaku, padahal tadi aku berpuasa’. Lalu Nabi memakannya” (HR. Muslim no. 1154).

Juga berdasarkan hadis dari Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya:

لقدْ أفطرتُ وكنتُ صائمةً فقال لها أكنتِ تقضينَ شيئًا قالتْ لا قالَ فلا يضرُّكِ إنْ كانَ تطوعًا

“Wahai Rasulullah, aku baru saja membatalkan puasa sedangkan tadi aku berpuasa, bolehkah? Nabi bertanya: ‘apakah itu puasa qadha?’ Aku menjawab: ‘bukan’. Nabi bersabda: ‘Jika demikian maka tidak mengapa, yaitu jika puasa tersebut puasa tathawwu’ (sunah)‘” (HR. Abu Daud no. 2456, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

إذا كان الصوم نافلة فله أن يفطر، ليس بلازم، له الفطر مطلقاً، لكن الأفضل ألا يفطر إلا لأسباب شرعية: مثل شدة الحر، مثل ضيف نزل به، مثل جماعة لزَّموا عليه أن يحضر زواج أو غيره يجبرهم بذلك فلا بأس

“Jika puasa tersebut adalah puasa sunah, maka boleh membatalkannya, tidak wajib menyempurnakannya. Ia boleh membatalkannya secara mutlak. Namun yang lebih utama adalah tidak membatalkannya kecuali karena sebab yang syar’i, semisal karena panas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya, maka tidak mengapa.” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/11778)

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (3)

Fiqih Puasa Syawal

Bagian 3

Buah dari puasa Syawal

Puasa Syawal menyempurnakan pahala puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh.

Puasa Syawal dan puasa Sya’ban sebagaimana salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat, ia menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada pada ibadah yang wajib. Karena ibadah-ibadah wajib akan disempurnakan dengan ibadah-ibadah sunah pada hari kiamat kelak. Kebanyakan orang, puasa Ramadannya mengandung kekurangan dan cacat, maka membutuhkan amalan-amalan yang bisa menyempurnakannya.

Terbiasa puasa selepas puasa Ramadan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Karena ketika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberikan ia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya. Sebagaimana perkataan sebagian salaf:

ثواب الحسنة الحسنة بعدها

“Balasan dari kebaikan adalah (diberi taufik untuk melakukan) kebaikan selanjutnya”

Maka barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, lalu diikuti dengan kebaikan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut diterima oleh Allah. Sebagaimana barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, namun kemudian diikuti dengan keburukan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut tidak diterima oleh Allah.

Orang-orang yang berpuasa Ramadan disempurnakan pahalanya di hari Idul Fitri dan diampuni dosa-dosanya. Maka hari Idul Fitri adalah hari pemberian ganjaran kebaikan. Sehingga puasa setelah hari Idul Fitri adalah bentuk syukur atas nikmat tersebut. Sedangkan tidak ada nikmat yang lebih besar selain pahala dari Allah ta’ala dan ampunan dari Allah.

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (2)

Fiqih Puasa Syawal

Bagian 2

Keutamaan puasa Syawal

Secara umum, semua keutamaan ibadah puasa juga terdapat dalam puasa Syawal. Mengenai keutamaan ibadah puasa, simak artikel tulisan kami “Ternyata Puasa Itu Luar Biasa”

Namun puasa Syawal memiliki keutamaan khusus, yaitu menyempurnakan ibadah puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

من صام ستَّةَ أيَّامٍ بعد الفطرِ كان تمامَ السَّنةِ من جاء بالحسنةِ فله عشرُ أمثالِها

“Barangsiapa yang puasa enam hari setelah Idul Fitri, maka baginya pahala puasa setahun penuh. Barangsiapa yang melakukan satu kebaikan, baginya ganjaran sepuluh kali lipatnya“

Dalam riwayat lain:

جعل اللهُ الحسنةَ بعشر أمثالِها ، فشهرٌ بعشرةِ أشهرٍ ، وصيامُ ستَّةِ أيامٍ بعد الفطرِ تمامُ السَّنةِ

“Allah menjadikan satu kebaikan bernilai sepuluh kali lipatnya, maka puasa sebulan senilai dengan puasa sepuluh bulan. Ditambah puasa enam hari setelah Idul Fitri membuatnya sempurna satu tahun” (HR. Ibnu Majah no. 1402, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no.1402 dan Shahih At-Targhib no. 1007).

Imam An-Nawawi mengatakan:

وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَرَمَضَانُ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَالسِّتَّةُ بِشَهْرَيْنِ

“Pahala puasa Syawal seperti puasa setahun penuh. Karena satu kebaikan senilai dengan sepuluh kebaikan. Puasa Ramadan sebulan senilai dengan sepuluh bulan, dan puasa 6 hari senilai dengan dua bulan (60 hari)” (Syarah Shahih Muslim, 8/56).

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (1)

Fikih Puasa Syawal

Bagian 1

Di antara rahmat Allah ta’ala bagi hamba-Nya adalah Ia mensyariatkan puasa Syawal setelah bulan Ramadan, agar mereka bisa mendapatkan keutamaan seperti puasa setahun penuh. Berikut ini pembahasan ringkas mengenai fikih puasa Syawal, semoga bermanfaat.

Hukum Puasa Syawal

Puasa Syawal hukumnya mustahab (sunah), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:

صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُسْتَحَبٌّ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

“Puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab menurut mayoritas para ulama” (Al-Mughni, 3/176).

Dijelaskan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (28/92): “Jumhur ulama dari Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama Hanafiyah yang muta’akhir (kontemporer) berpendapat bahwa puasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadan itu mustahab. Dan dinukil dari Abu Hanifah bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh secara mutlak, baik jika dilaksanakan berurutan atau tidak berurutan. Dan dinukil dari Abu Yusuf (ulama Hanafi) bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh jika berurutan, namun boleh jika tidak berurutan. Namun jumhur (mayoritas) ulama Hanafiyah muta’akhirin berpendapat hukumnya tidak mengapa. Ibnu Abidin (ulama Hanafi) dalam kitab At-Tajnis menukil dari kitab Al-Hidayah yang mengatakan: ‘Pendapat yang dipilih para ulama Hanafi muta’akhirin hukumnya tidak mengapa. Karena yang makruh adalah jika puasa Syawal berisiko dianggap sebagai perpanjangan puasa Ramadan, sehingga ini tasyabbuh terhadap Nasrani. Adapun sekarang, ini sudah tidak mungkin lagi’. Al-Kasani mengatakan: ‘Yang makruh adalah puasa di hari Id, lalu puasa lima hari setelahnya. Adapun jika di hari Id tidak puasa lalu besoknya baru puasa enam hari, ini tidak makruh, bahkan mustahab dan sunah’.”

Maka yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yaitu puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab (sunah) sebagaimana ditunjukkan oleh hadis.

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel : Muslim.or.id

Tanya Jawab : Berpuasa Di saat Ada Wabah

PERTANYAAN

Assalaamu’alaikum warahmatullaah wabarakaatuh

Bismillaah.. Ustadz bagaimana kalau kita hendak berpuasa disaat ada wabah seperti ini, sedangkan saya baca salah satu pencegah terkena virus itu dengan banyak minum air. Mohon pencerahannya ustadz.
Jazaakallaahu khayran

Dari Siska Noviana, Domisili Jakarta, member group UfhA 11

————————————-
JAWABAN :

وعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah.
Tetap lakukan ibadah seperti biasa
Tidak ada pengaruh puasa dengan penyakit
Semoga bisa istiqomah.
Selebihnya baca tulisan saya di atas.

Dijawab oleh:
Ustadz Abu Abdurrahman bin Muhammad Suud al Atsary حفظه الله تعالى


╔•●•●✿══════════╗
UKHUWAH FIL HIJRAH
╚══════════✿●•●•╝

https://linktr.ee/ukhuwahfilhijrah √Kunjungi website kami
√Follow TG, IG, FB, FP, LINE, TWITTER : Ukhuwah fil Hijrah

Puasa Bulan Rajab

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini, banyak orang yang berpuasa di awal bulan Rajab. Saya ingin bertanya, apakah ada tuntunannya dari Rasulullah puasa hanya di awal bulan Rajab atau hanya beberapa hari saja di bulan Rajab?

Hendra Irawan (**hendra@***.com)

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab, baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan di bulan Rajab adalah hadis Dhaif dan tertolak.

Ibnu Hajar mengatakan,

لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ

“Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa Rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat Tahajud di malam tertentu bulan Rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ajab bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6)

Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang mengupas tentang amalan sepanjang tahun, yang berjudul Lathaiful Ma’arif, beliau menegaskan tidak ada shalat sunnah khusus untuk bulan Rajab,

لم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء

“Tidak terdapat dalil yang sahih tentang anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah Bid’ah, menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)

Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan,

لم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه و سلم و لا عن أصحابه و لكن روي عن أبي قلابة قال : في الجنة قصر لصوام رجب قال البيهقي : أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ و إنما ورد في صيام الأشهر الحرم كلها

“Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada adalah riwayat yang menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)

Keterangan Ibnu Rajab yang menganjurkan adanya puasa di bulan haram, ditunjukkan dalam hadis dari Mujibah Al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya, Al-Bahily. Sahabat Al-Bahily ini mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah bertemu dan menyatakan masuk islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun kemudian, dia datang lagi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, apakah anda masih mengenal saya.” Tanya Kahmas,

“Siapa anda?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah datang menemui anda setahun yang lalu.” Jawab sahabat

“Apa yang terjadi dengan anda, padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Saya tidak pernah makan, kecuali malam hari, sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab sahabat.

Menyadari semangat sahabat ini untuk berpuasa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (Ramadhan), dan puasa sehari setiap bulan.

Namun Al-Bahily selalu meminta tambahan puasa sunah,

“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kalimat pungkasan,

صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ

“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai Dhaif oleh ulama lainnya).

Bulan haram artinya bulan yang mulia. Allah memuliakan bulan ini dengan larangan berperang. Bulan haram, ada empat: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Sumber: https://konsultasisyariah.com/22382-adakah-puasa-bulan-rajab.html

Puasa Syawwal Berurutan atau Tidak

Puasa Syawwal Berurutan atau Tidak?

 

Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shon’ani beekata, “Pahala puasa Syawwal akan diperoleh bagi yang berpuasa dengan berlainan hari maupun berurutan, dan orang yang berpuasa sehari setelah ‘Ied atau pada pertengahan bulan Syawwal. Al-Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam sunannya dari Ibnul Mubarok, beliau memilih berpuasa enam hari di permulaan bulan Syawwal. Diriwayatkan pula dari Ibnul Mubarok bahwa beliau berkata, “Jika puasa enam hari di bulan Syawwal dilakukan tidak berurutan maka yang demikian juga diperbolehkan.” (Subulussalam hal. 567)

 

Akan tetapi yang afdhol (lebih utama) adalah dengan mengerjakannya berturut-turut sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam “Syarh Shohih Muslim” 8/304. Karena hal itu termasuk bersegera dalam kebaikan, sebagaimana keumuman firman Allah ta’ala:

 

“Mereka itu orang-orang yang bersegera dalam amalan-amalan kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dulu memperolehnya.” (Al-Mu’minun: 61)

_______

 

ustadz Fikri Abul Hasan

 

 

Artikel:

Ukhuwahfillhijrah.com

Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Hukum-Hukum Ringkas Tentang Puasa Syawal

((أحكام مختصرة في شهر شوال))

HUKUM-HUKUM RINGKAS TENTANG PUASA SYAWAL

❉ ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﺑﻦ اﻟﺤﺎﺭﺙ اﻟﺨﺰﺭﺟﻲ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻳﻮﺏ اﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﺃﻧﻪ ﺣﺪﺛﻪ، ﺃﻥ رسول الله ﷺ قال:

Dari Umar Bin Tsabit bin Al Haris Al khajraji Radhiallahuanhu bahwasanya telah menceritakan padanya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

«ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺛﻢ ﺃﺗﺒﻌﻪ ﺳﺘﺎ ﻣﻦ ﺷﻮاﻝ، ﻛﺎﻥ ﻛﺼﻴﺎﻡ اﻟﺪﻫﺮ»
❒ رواه ومسلم

Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian mengikutinya dengan berpuasa 6 hari dibulan Syawal maka dia seakan-akan puasa selama setahun (HR.Muslim)

🍂🍂🍂🍂🍂🍂

❈ ما فضل صيام الست من شوال؟

Apa keutamaan puasa enam hari dibulan Syawal?

❉ قال ابن عثيمين:
صيام ستة أيام من شوال بعد صيام رمضان كصيام الدهر.
❒ الفتاوى ❪٢٠/١٧❫.

Ibnu utsaimin berkata, “Puasa 6 hari dibulan Syawal Setelah puasa Romadhon seperti puasa selama setahun”.
📕 Al-Fatawa 17/20

🍂🍂🍂🍂🍂

❈ هل صيام الست من شوال عام للرجال والنساء؟

Apakah puasa 6 hari dibulan Syawal diperbolehkan untuk umum bagi laki-laki dan wanita?

❉ قال ابن عثيمين:
عام للرجال والنساء.
❒ الفتاوى ❪٢٠/١٧❫.

Ibnu utsaimin berkata, “untuk umum bagi laki-laki maupun wanita”.
📕 Al-Fatawa 17/20

🍂🍂🍂🍂🍂🍂

❈ هل يحصل ثواب الست من شوال لمن عليه قضاء من رمضان قبل أن يصوم القضاء؟

Apakah mendapatkan pahala puasa enam hari di bulan Syawal bagi orang yang wajib atasnya qodhonya puasa Romadhon namun ia belum menyempurnakan puasa qodhonya?

❉ قال ابن عثيمين:
صيام ستة أيام من شوال لا يحصل ثوابها إلا إذا كان الإنسان قد استكمل صيام شهر رمضان.
❒ الفتاوى ❪١٨/٢٠❫.

Ibnu Utsaimin berkata : ” Puasa 6 hari dibulan Syawal tidaklah menghasilkan pahala kecuali apabila seseorang itu telah menyempurnakan puasanya di bulan Romadhon”.
📕 Al-Fatawa 20/18

🍂🍂🍂🍂🍂🍂

❉ قال ابن باز:
ﻓﺎﻟﻮاﺟﺐ اﻟﻤﺒﺎﺩﺭﺓ ﺑﺎﻟﻘﻀﺎء، ﻭﻟﻮ ﻓﺎﺗﺖ اﻟﺴﺖ؛ ﻟﻠﺤﺪﻳﺚ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭ، ﻭﻷﻥ اﻟﻔﺮﺽ ﻣﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﻔﻞ.
❒ الفتاوى ❪٣٩٣/١٥❫.

Yang wajib adalah bersegera untuk mengqadha meskipun telah terluput 6 hari sebagaimana hadis yang telah disebutkan karena sesuatu yang fardhu atau wajib lebih didahulukan daripada sesuatu yang sifatnya Nafilah atau sunnah
📕 Al-Fatawa 15/393

🍂🍂🍂🍂🍂🍂

❈ كيفية صيام الست من شوال؟

Bagaimana tata cara puasa enam hari dibulan Syawal?

❉ قال ابن باز:
ﻳﺨﺘﺎﺭﻫﺎ اﻟﻤﺆﻣﻦ ﻣﻦ ﺟﻤﻴﻊ اﻟﺸﻬﺮ، ﻓﺈﺫا ﺷﺎء ﺻﺎﻣﻬﺎ ﻓﻲ ﺃﻭﻟﻪ، ﺃﻭ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺋﻪ، ﺃﻭ ﻓﻲ ﺁﺧﺮﻩ، ﻭﺇﻥ ﺷﺎء ﻓﺮﻗﻬﺎ، ﻭﺇﻥ ﺷﺎء ﺗﺎﺑﻌﻬﺎ.
❒ الفتاوى ❪٣٩٠/١٥❫.

Ibnu Baz berkata, “seorang mukmin boleh memilihnya secara keseluruhan dalam satu bulan. Jika dia mau dia boleh berpuasa pada awal bulan atau pada pertengahan bulan atau pada akhir bulan, dan juga bila dia mau dia boleh memisah harinya atau dia juga boleh berpuasa secara berurutan”.
📕 Al-Fatawa 15/390

🍂🍂🍂🍂

❈ ما الأفضل في صيام الست من شوال؟

Apa yang paling utama dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal?

❉ قال ابن باز:
إن بادر إليها وتابعها في أول الشهر كان ذلك أفضل.
❒ الفتاوى ❪٣٩٠/١٥❫.

Ibnu baz berkata, “Jika dia segera untuk melakukannya dan melakukannya secara berurutan pada awal bulan maka hal itu lebih utama”.
📕 Al-Fatawa 15/39

🍂🍂🍂🍂🍂🍂

❉ قال ابن عثيمين:
الأفضل أن يكون صيام ستة أيام من شوال بعد العيد مباشرة، وأن تكون متتابعة.
❒ الفتاوى ❪٢٠/٢٠❫.

Yang utama adalah hendak lah ia melakukan puasa 6 hari dibulan Syawal setelah hari raya langsung dan melakukannya secara berurutan.
📕 Al-Fatawa 20/20

🍂🍂🍂🍂

هل يلزم في صيام الست من شوال أن تكون متتابعة؟

Apakah diharuskan puasa enam hari di bulan Syawal secara berurutan?

❉ قال ابن باز:
يجوز صيامها متتابعة ومتفرقة.
❒ الفتاوى ❪٣٩١/١٥❫.

Berkata Ibnu baz, “boleh dia berpuasa secara berurutan dan secara terpisah”.
📕 Al Fatawa 15/391

🍂🍂🍂🍂🍂🍂

 هل إذا صام ست من شوال أصبحت واجبة عليه في كل عام؟

Apakah apabila seseorang berpuasa 6 hari dibulan Syawal hal itu menjadi wajib atasnya pada tiap tahun?

❉ قال ابن عثيمين:
إذا صامها بعض السنين وتركها بعض السنين فلا بأس لأنها تطوع وليست فريضة.
❒ الفتاوى ❪٢١/٢٠❫.

Berkata Ibnu utsaimin, “apabila ia berpuasa pada sebagian tahun dan meninggalkannya pada sebagian tahun yang lain maka tidaklah Mengapa karena hal itu hukumnya Sunnah bukan wajib”.
📕 Al-Fatawa 20/21

🍂🍂🍂🍂

❈ هل لابد في صيام الست تبْيِت النية من الليل؟

Apakah wajib dalam puasa enam hari di bulan Syawal berniat pada malam harinya?

❉ قال ابن عثيمين:
لابد أن ينوي الصوم من قبل الفجر، حتى يحصل له كمال اليوم.
❒ الفتاوى ❪١٨٤/١٩❫.

Ibnu utsaimin berkata, “Hendaklah ia berniat puasa dari sebelum fajar hingga Ia mendapatkan sempurnanya hari”.
📕 Al-Fatawa 19/184

🍂🍂🍂🍂

❈ من يقول أن صوم الست من شوال بدعة…؟

Seseorang yang berkata bahwasanya puasa 6 hari dibulan Syawal adalah bid’ah?

❉ قال ابن باز:
هذا القول باطل.
❒ الفتاوى ❪٣٨٩/١٦❫.

Ibnu Baz berkata, “ini adalah perkataan yang batil”.
📕 Al-Fatawa 16/389

🍂🍂🍂

❈ هل يجوز تقديم صيام ست من شوال على صيام الكفارة؟

Apakah boleh mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawal atas puasa kafaroh?

❉ قال ابن باز:
اﻟﻮاﺟﺐ اﻟﺒﺪاﺭ ﺑﺼﻮﻡ اﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺗﻘﺪﻳﻢ اﻟﺴﺖ ﻋﻠﻴﻬﺎ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﻧﻔﻞ ﻭاﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻓﺮﺽ، ﻭﻫﻲ ﻭاﺟﺒﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻮﺭ.
❒ الفتاوى ❪٣٩٤/١٥❫.

Ibnu Baz berkata, “yang wajib adalah segera melakukan puasa kafaroh dan tidak boleh mendahulukan puasa enam hari atas puasa kafarat karena puasa 6 hari adalah sunnah sedangkan puasa kafarat adalah wajib, sehingga ia wajib untuk disegerakan”.
📕 Al-Fatawa 15/394

🍂🍂🍂🍂

❈ أيهما يقدم أولا صيام النذر أم الست من شوال؟

Yang mana diantara kedua hal ini yang lebih didahulukan puasa nadzar atau puasa enam hari di bulan Syawal?

❉ قال ابن باز:
عليك أولا أن تصومي بقية النذر ثم تصومي الست من شوال إذا تمكنت من ذلك لأن الصوم للستة من شوال مستحب أما صوم النذر فهو واجب.

Ibnu Baz berkata, “wajib atasmu pertama kali hendaklah lah engkau mendahulukan puasa nadzar kemudian baru puasa 6 hari dibulan Syawal apabila hal itu memungkinkan karena puasa 6 hari dibulan Syawal hukumnya adalah mustahab sedangkan puasa nazar adalah wajib

📕 ❒ موقع الشيخ ❪ bit.ly/2u4FHF8 ❫

🍂🍂🍂

❈ هل يجوز الصيام تطوعاً من دون نية مسبقة؟

❉ قال ابن عثيمين:
صوم الأيام الست من شوال التابعة لرمضان، لو لم ينو الإنسان إلا في أثناء النهار، لم يكتب له صيام يوم كامل

Ibnu utsaimin berkata, “Puasa hari hari yang 6 hari bulan Syawal adalah mengikuti puasa Ramadhan seandainya seseorang tidak berniat kecuali pada pertengahan siang maka tidak ditulis baginya puasa sehari penuh”.

، فإذا قدر أنه في أول يوم نوى من الظهر، ثم أتى بعد ذلك بصيام خمسة أيام، فإنه لم يدرك صيام ستة أيام؛ لأنه صام خمسة أيام ونصف،

Maka apabila dia mampu pada hari pertama berniat pada waktu Dhuhur kemudian setelah itu dia berpuasa 5 hari maka dia tidak mendapatkan puasa 6 hari karena dia hanya mendapatkan puasa 5 hari setengah

إذ إن الأجر لا يكتب إلا من النية؛ لقول النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: « إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى». وأول النهار لم ينو أن يصومه فلا يحصل له كماله. نعم.

Jadi pahala tidaklah ditulis kecuali dari niat berdasarkan perkataan nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niat dan seseorang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan.”

Pada awal siang dia tidak berniat untuk berpuasa maka dia tidak mendapatkan pahala puasa secara sempurna.

❒ فتاوى نور على الدرب ش ❪٢٩٦❫.

📕  Fatawa Nur ‘Alad Darb 296

🍂🍂🍂🍂

❈ مالحكمة من صيام الست من شوال؟

Apa hikmah dari puasa 6 hari dibulan Syawal?

❉ قال ابن عثيمين:
لتُكمَّل بها الفرائض، فإن صيام ست من شوال بمنزلة الراتبة بالصلاة التي تكون بعدها ليكمل بها ما حصل من نقص في الفريضة.

Ibnu utsaimin berkata untuk menyempurnakan amalan fardhu, Puasa 6 hari di bulan syawwal kedudukannya seperti sholat sunnah rawatib yang dilakukan setelah sholat fardhu sebagai penyempurna apa-apa yang kurang dalam sholat fadhunya.

❒ فتاوى نور على الدرب شريط ❪٧٥❫.
📕 Fatawa Nur Alad Darb 75

🍂🍂🍂🍂

هل يؤجر من صام ثلاثة أو خمسة أيام من الست من شوال؟

Apakah mendapatkan pahala orang yang berpuasa 3 hari atau hanya 5 hari dari 6 hari dibulan Syawal?

❉ قال ابن عثيمين:
نعم له أجر، ولكنه لا يحصل الأجر الذي رتبه النبي عليه الصلاة والسلام في قوله: «من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر».

Ibnu utsaimin berkata ,”Ya, dia akan mendapatkan pahala akan tetapi dia tidak mendapatkan pahala yang Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengurutkannya dalam sabdanya, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari dibulan Syawal maka akan akan dia seperti berpuasa selama setahun penuh”.

❒ فتاوى نور على الدرب ش ❪٧٥❫.
📕 Fatawa Nur Alad Darb 75

🍂🍂🍂🍂🍂🍂 

هل يجوز الجمع بين نية صيام الست والأثنين والخميس؟

Apakah boleh menggabungkan antara niat puasa enam hari dibulan Syawal dengan puasa Senin Kamis?

❉ قال ابن عثيمين:
ﺇﺫا اﺗﻔﻖ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺻﻴﺎﻡ ﻫﺬﻩ اﻷﻳﺎﻡ اﻟﺴﺘﺔ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ اﻻﺛﻨﻴﻦ ﺃﻭ اﻟﺨﻤﻴﺲ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺤﺼﻞ ﻋﻠﻰ اﻷﺟﺮﻳﻦ ﺑﻨﻴﺔ ﺃﺟﺮ اﻷﻳﺎﻡ اﻟﺴﺘﺔ ﻭﺑﻨﻴﺔ ﺃﺟﺮ ﻳﻮﻡ اﻻﺛﻨﻴﻦ ﻭاﻟﺨﻤﻴﺲ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﷺ: «ﺇﻧﻤﺎ اﻷﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻟﻜﻞ اﻣﺮﻯء ﻣﺎ ﻧﻮﻯ».

Ibnu utsaimin berkata, “apabila puasa enam hari di bulan Syawal bertepatan dengan hari Senin atau kamis maka ia akan mendapatkan 2 pahala dengan niat pahala puasa Syawal dan niat pahala puasa Senin dan Kamis, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “sesungguhnya amal itu tergantung niat dan seseorang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan.”

❒ الفتاوى ❪٢٠/ ١٨-١٩❫.
📕 Al Fatawa 20/19-18

🍂🍂🍂

❈ هل يجوز جعل صيام الست عن قضاء رمضان؟

Apakah boleh menjadikan puasa enam hari di bulan syawal sebagai puasa Pondok Romadhon?

❉ قال ابن عثيمين:
صيام الست لا يصح أن تجعلها عن قضاء رمضان لأن أيام الست تابعة لرمضان فهي بمنزلة الراتبة للصلاة المفروضة.

Ibnu utsaimin berkata, “puasa 6 hari tidak sah apabila menjadikannya sebagai puasa Qadha Romadhon karena puasa 6 hari adalah pengikut bagi puasa di bulan Romadhon dan kedudukannya seperti kedudukan salat Sunnah Rawatib bagi sholat fardhu”.

❒ فتاوى نور على الدرب ❪١٧٥❫.
📕 Fatawa Nur Alad Darb 175

●▬▬▬▬❀❀▬▬▬▬▬●
❀ Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
❀ Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Bolehkah Mengqodho Puasa di Hari Lain?

Bolehkah Mengqodho Puasa Syawwal di Bulan Lain?

Syaikh Al-‘Allamah Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Bahwa yang nampak dari dua pendapat di antara Ulama, bila telah berlalu bulan Syawwal dan seseorang belum sempat berpuasa (enam hari) maka dia tidak perlu mengqodho (di bulan lain). Sebab puasa Syawwal adalah puasa sunnah yang telah luput waktunya, rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengaitkan waktunya dengan bulan Syawwal, maka tidak akan diperoleh pahala puasa pada bulan tersebut bila dilakukan di bulan lain. Andaikata bulan Syawwal sama kedudukannya dengan bulan-bulan lain, tentu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tidak akan menyebut keutamaannya secara khusus. Kendati demikian, ada Ulama yang berkata, “Apabila seseorang berhalangan seperti sakit, haid, nifas atau ‘udzur lain yang menyebabkan dirinya terhalang dari puasa Syawwal lalu menundanya, maka dia tetap mendapat pahalanya meski berpuasa di bulan setelahnya, wallahu a’lam.” (Fatawa Syaikh As-Sa’di hal. 230)

_____________

✍🏻  Ustadz Fikri Abul Hasan

●▬▬▬▬❀❀▬▬▬▬▬●
❀ Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
❀ Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tentang Puasa Syawwal

*Puasa Syawwal Berurutan atau Tidak?*

 

Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shon’ani beekata, “Pahala puasa Syawwal akan diperoleh bagi yang berpuasa dengan berlainan hari maupun berurutan, dan orang yang berpuasa sehari setelah ‘Ied atau pada pertengahan bulan Syawwal. Al-Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam sunannya dari Ibnul Mubarok, beliau memilih berpuasa enam hari di permulaan bulan Syawwal. Diriwayatkan pula dari Ibnul Mubarok bahwa beliau berkata, “Jika puasa enam hari di bulan Syawwal dilakukan tidak berurutan maka yang demikian juga diperbolehkan.” (Subulussalam hal. 567)

 

Akan tetapi yang afdhol (lebih utama) adalah dengan mengerjakannya berturut-turut sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam “Syarh Shohih Muslim” 8/304. Karena hal itu termasuk bersegera dalam kebaikan, sebagaimana keumuman firman Allah ta’ala:

 

“Mereka itu orang-orang yang bersegera dalam amalan-amalan kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dulu memperolehnya.” (Al-Mu’minun: 61)

_______

 

✍🏻 ustadz Fikri Abul Hasan

 

●▬▬▬▬❀❀▬▬▬▬▬●

Artikel:

Ukhuwahfillhijrah.com

Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Bolehkah Berpuasa Syawwal Sebelum Qodho (Mengganti) Puasa Ramadhon?

Bolehkah Berpuasa Syawwal Sebelum Qodho (Mengganti) Puasa Romadhon?

Hal ini berkaitan dengan hukum puasa sunnah sebelum mengqodho puasa Romadhon. Ada silang pendapat di antara para Ulama.

Para Ulama Malikiyyah dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat mewajibkan qodho Romadhon sebelum puasa sunnah. (Al-Bada’i’ 2/104, Mawahibul Jalil 2/417, Al-Majmu’ 6/375, Al-Mughni 4/401 – Shohih Fiqhussunnah 2/140)

Qodho hukumnya wajib sedangkan puasa Syawwal hukumnya sunnah (dianjurkan) maka yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah. Syaikh Al-‘Allamah Al-‘Utsaimin sejalan dengan pendapat ini. (Syarh Riyadhussholihin 3/507 dan Asy-Syarhul Mumti’ 6/448)

Dalilnya sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal maka seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim 1164)

“Barangsiapa yang berpuasa Romadhon” maksudnya telah berpuasa Romadhon secara sempurna. Karena apabila masih ada utang Romadhon kemudian dia berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia tidak mendapat pahala puasa setahun penuh. Orang yang masih punya utang puasa sehari saja di bulan Romadhon dia belum dianggap telah berpuasa Romadhon.

Sedangkan para Ulama Syafiiyyah menganjurkan untuk mendahulukan qodho puasa Romadhon sebelum berpuasa sunnah. (Al-Bada’i’ 2/104, Mawahibul Jalil 2/417, Al-Majmu’ 6/375, Al-Mughni 4/401 – Shohih Fiqhussunnah 2/140)

Artinya seseorang boleh berpuasa sunnah sebelum mengqodho akan tetapi mendahulukan yang wajib lebih diutamakan.

Adapun para Ulama dari kalangan Hanafiyyah dan Imam Ahmad dalam riwayat lain berpendapat bahwa qodho tidak wajib didahulukan  (Al-Bada’i’ 2/104, Mawahibul Jalil 2/417, Al-Majmu’ 6/375, Al-Mughni 4/401 – Shohih Fiqhussunnah 2/140). Yaitu boleh berpuasa sunnah meski belum mengqodho Romadhon. Dalilnya sebagai berikut:

1. “….Maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tinggalkan puasanya itu) pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqoroh: 184)

2. Dari ‘Aisyah, “Aku pernah punya utang puasa Romadhon akan tetapi aku tidak mampu mengqodhonya melainkan di bulan Sya’ban.” (HR. Muslim 1146)

Sisi pendalilannya bahwa ‘Aisyah menunda qodho sampai bulan Sya’ban sehingga puasa Syawwal dapat dilakukan sebelum mengqodho puasa Romadhon karena rentang waktu yang cukup panjang.

Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata, “Riwayat ‘Aisyah menunjukkan bolehnya menunda qodho Romadhon secara mutlak baik adanya ‘udzur atau tidak.

Sebagian Ulama memberi gambaran, “Apabila telah berkumandang adzan Dzhuhur maka wajib engkau sholat Dzhuhur, akan tetapi engkau boleh mendahulukan sholat sunnah rowatib sebelum sholat Dzhuhur. Itu berarti engkau telah mendahulukan yang sunnah sebelum yang wajib.” (Mawsu’ah Al-Fatawa Al-Islamiyah – Khulashotul Kalam Fi Ahkami Ulama’ Al-Baladil Harom hal. 193)

3. Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada beliau tentang qodho puasa Romadhon, “Jika engkau mau maka bisa (berpuasa) berlainan hari, jika engkau mau maka engkau dapat (berpuasa) berturut-turut.” (HR. Ad-Daruquthni)

Pendapat yang Lebih Kuat

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Ulama yang mewajibkan qodho Romadhon sebelum puasa sunnah. Alasanya antara lain sebagai berikut:

Pertama, hikmah dari puasa enam hari di bulan Syawwal seperti berpuasa setahun penuh, sementara orang yang berpuasa Syawwal sebelum menunaikan qodho Romadhon maka ganjarannya belum terhitung setahun.

Kedua, firman Allah dalam surat Al-Baqoroh 184 tersebut berkenaan dengan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan seperti orang yang sakit, dalam perjalanan safar atau ‘udzur yang lain. Jadi tidak melazimkan bolehnya berpuasa sunnah sebelum qodho Romadhon. “Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa) maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa) pada hari-hari yang lain.”

Ibnu Hazm berkata, “Apabila belum memiliki kemampuan maka dia boleh mengqodhonya tanpa berturut-turut dan cukup baginya firman Allah ta’ala, “Maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa) pada hari-hari yang lain”, dan di sini Allah tidak membatasinya dengan waktu dalam mengqodho puasa.” (Al-Muhalla tahqiq Al-‘Allamah Ahmad Syakir 3/308)

Ketiga, ‘Aisyah menunda qodho puasa karena adanya  ‘udzur (halangan) untuk menyegerakannya. Di sana ada isyarat bahwa andaikata ‘Aisyah mampu maka beliau tidak akan menundanya sampai bulan Sya’ban. Demikian yang dijelaskan oleh Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani dalam “Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqhissunnah” hal. 422

Keempat, tersembunyinya ‘udzur ‘Aisyah dari Al-Hafidzh Ibnu Hajar. (Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqhissunnah hal. 422)

Kelima, riwayat Ad-Daruquthni dari Ibnu ‘Umar sanadnya lemah karena ada rowi yang majhul bernama Sufyan bin Bisyr. (Tamamul Minnah Fit Ta’liq ‘ala Fiqhissunnah hal. 422)

Keenam, permisalan sebagian Ulama yang disebutkan di atas perlu ditinjau kembali, karena yang menjadi pokok pembahasan terkait utang puasa Romadhon yang harus segera dibayar. Sama seperti orang yang lupa dari sholatnya atau sudah di luar waktunya maka dia harus segera tunaikan setelah ingat.
___________

✍🏻Ustadz Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Amalan-Amalan Setelah Ramadhan (Bag.2)

Amalan lainnya yang bisa terus dijaga selepas Ramadhan adalah sebagai berikut:

 
Menjaga Shalat Malam

Inilah penyakit yang diderita oleh kaum muslimin setelah Ramadhan. Ketika  Ramadhan masjid terlihat penuh pada saat qiyamul lail (shalat tarawih). Namun coba kita saksikan setelah Ramadhan, amalan shalat malam ini seakan-akan hilang begitu saja. Orang-orang lebih senang tidur nyenyak di malam hari hingga shubuh atau pagi tiba, dibanding bangun untuk mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat malam. Seolah-olah amalan shalat malam ini hanya ada pada bulan Ramadhan saja yaitu ketika melaksanakan shalat tarawih. Seharusnya jika dia betul-betul menjalankan ibadah shalat tarawih dengan baik pasti akan membuahkan kebaikan selanjutnya.

Sebagian salaf mengatakan,

إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةَ بَعْدَهَا، وَإِنَّ مِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ بَعْدَهَا

“Sesungguhnya di antara balasan amalan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Dan di antara balasan dari amalan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir pada tafsir surat Al Lail)

Namun, ibadah shalat malam ini mungkin hanya ibadah musiman saja yaitu dilaksanakan hanya di bulan Ramadhan. Padahal keutamaan shalat malam ini amatlah banyak, di antaranya:

[1] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat setelah shalat wajib. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)

[2] Orang yang melakukan shalat malam dijamin masuk surga dan selamat dari adzab neraka. Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا اَلنَّاسُ! أَفْشُوا اَلسَّلَام, وَصِلُوا اَلْأَرْحَامَ, وَأَطْعِمُوا اَلطَّعَامَ, وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ, تَدْخُلُوا اَلْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai manusia! Sebarkanlah salam, jalinlah tali silturahmi (dengan kerabat), berilah makan (kepada istri dan kepada orang miskin), shalatlah di waktu malam sedangkan manusia yang lain sedang tidur, tentu kalian akan masuk ke dalam surga dengan penuh keselamatan.” (HR. Tirmidzi no. 2485 dan Ibnu Majah no. 1334. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 569 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

3] Orang yang melakukan shalat malam akan dicatat sebagai orang yang berdzikir kepada Allah
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

“Apabila seseorang bangun di waktu malam, lalu dia membangunkan istrinya, kemudian keduanya mengerjakan shalat dua raka’at, maka keduanya akan dicatat sebagai pria dan wanita yang banyak berdzikir pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 1335. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Shohih wa Dho’if Sunan Ibnu Majah bahwa hadits ini shohih). Hadits ini menunjukkan bahwa suami istri dianjurkan untuk shalat malam berjama’ah.

[4] Orang yang bangun di malam hari kemudian berwudhu dan melakukan shalat malam, dia akan bersemangat di pagi harinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

Sangat disayangkan sekali, sebagian orang lebih memilih tidur pulas di malam hari daripada bangun shalat malam. Inilah orang-orang yang mendapat celaan yaitu akan dikencingi setan sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari Abu Wa’il, dari Abdullah, beliau berkata, “Ada yang mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bahwa terdapat seseorang yang tidur malam hingga shubuh (maksudnya tidak bangun malam, pen). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan,

« ذَلِكَ الشَّيْطَانُ بَالَ فِى أُذُنَيْهِ ».

“Demikianlah setan telah mengincingi kedua telinganya.” (HR. An Nasa’i no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1330. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 640 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Hendaklah kita merutinkan amalan shalat malam ini di luar ramadhan sebagaimana kita rajin mengerjakannya di bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang dulu gemar shalat malam, namun sekarang dia meninggalkannya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,

« يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ »

“Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si A. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari no. 1152)

Sebaik-baik orang adalah yang mau mengerjakan shalat malam jika tidak berhalangan karena kecapekan atau ingin mengulang pelajaran sebagaimana Abu Hurairah.

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik orang adalah Abdullah bin Umar, seandainya dia biasa mengerjakan shalat malam.” (HR. Bukhari no. 1122 dan Muslim no. 2479)

Padahal shalat malam itu mudah dikerjakan, bisa dengan hanya mengerjakan shalat tahajud 2 raka’at dan ditutup witir 1 raka’at, namun sebagian orang enggan mengerjakan shalat yang utama ini.

Amalan yang Kontinu (Ajeg), Amalan yang Paling Dicintai

Kalau memang kita gemar melakukan shalat malam atau amalan sunnah yang lainnya, maka hendaklah amalan-amalan tersebut tetap dijaga. Kalau biasa mengerjakan shalat malam 3 raka’at dan dilakukan terus menerus (walaupun jumlah raka’at yang dikerjakan sedikit), maka itu masih mending daripada tidak shalat malam sama sekali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اكْلَفُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Bebanilah diri kalian dengan amal sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 1228 mengatakan hadits ini shohih)

Ingatlah bahwa rajin ibadah bukanlah hanya di bulan Ramadhan saja. Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu mereka pun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut. Dia pun menjawab,

بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ

“Alangkah buruknya tingkah mereka; mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan!” (Lihat Latho’if Ma’arif, 244)

Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengingatmu di waktu sempit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعَرَّفْ إِلَي اللهِ فِى الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِى الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalimu ketika susah.” (HR. Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini shohih)

 

Bid’ah di Bulan Syawal

Ada beberapa bid’ah yang sebaiknya dijauhi oleh setiap muslim di bulan Syawal:

1] Beranggapan sial jika menikah pada bulan Syawal

Mungkin bid’ah semacam ini jarang terjadi di tempat kita. Malah kebanyakan kaum muslimin di negeri ini melaksanakan hajatan nikah ketika Syawal karena pada saat itu adalah waktu semua kerabat berkumpul berlebaran.

Namun, inilah bid’ah yang terjadi di masa silam dulu (masa jahiliyah). Mereka enggan melaksanakan hajatan nikahan ketika bulan Syawal. Itulah i’tiqod (keyakinan) mereka. Sedangkan di negeri kita, bukan bulan Syawal yang dianggap sial, tetapi bulan Suro (Muharram). Kedua anggapan ini adalah anggapan yang salah. Mengenai anggapan sial nikah di bulan Syawal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah membantah hal ini. Sebagaimana terdapat riwayat dalam Sunan Ibnu Majah (haditsnya dishohihkan oleh Syaikh Al Albani) bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pada bulan Syawal dan keluarga beliau tetap harmonis.

Menganggap bulan Suro atau bulan Syawal sebagai bulan sial untuk melaksanakan beberapa hajatan adalah anggapan yang terlarang dalam agama ini. Beranggapan sial dengan bulan atau waktu sama saja dengan mencelanya. Dan mencela waktu itu sama saja dengan mencela yang menciptakan waktu yaitu Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menyatakan bahwa beranggapan sial seperti ini termasuk kesyirikan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ »

“Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda), tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan tawakkal (pada Allah).” (HR. Abu Daud no. 3912. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 429. Lihat penjelasan hadits ini dalam Al Qoulul Mufid – Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah)

2] ‘Idul Abror (’Ied pada tanggal 8 Syawal atau diistilahkan dengan Lebaran Ketupat)

Ini adalah bid’ah yang terjadi di beberapa daerah di negeri kita. Entah namanya apa, tetapi maksud dari acara tersebut itu sama.

Sebelumnya mereka melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Lalu mereka berbuka (tidak berpuasa) pada tanggal 1 Syawal. Setelah itu –mulai tanggal 2 Syawal-, mereka melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Lalu pada hari kedelepan dari bulan Syawal, mereka merayakan ‘ied (yang di kalangan Arab dikenal dengan ‘Idul Abror).

Abror di sini bermakna orang baik lawan dari orang fajir yang gemar berbuat maksiat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membantah perayaan ied semacam ini dengan mengatakan,

“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebutkan dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Adapun perayaan hari ke-8 Syawal, maka itu bukanlah ‘ied (yang disyari’atkan). Ini bukanlah ‘ied bagi abror (orang sholih/baik) atau pun orang fajir (yang gemar bermaksiat). Tidak boleh bagi seorang pun meyakini perayaan ini sebagai ‘ied. Janganlah membuat ‘ied yang baru selain ‘ied yang sudah ada dalam agama ini (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha).” (Al Ikhtiyarot Al Fiqhiyyah, 199)

Demikian pembahasan seputar amalan yang sebaiknya dilakukan setelah Ramadhan dan perkara yang sebaiknya dijauhi oleh setiap muslim. Semoga kita termasuk orang yang selalu mendapat taufik Allah dan dimudahkan untuk istiqomah dalam agama ini.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Selesai disusun di Panggang, Gunung Kidul
Menjelang waktu zawal, 4 Syawal 1429 H (bertepatan dengan 4 Oktober 2008)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Sumber : https://rumaysho.com/525-amalan-amalan-setelah-ramadhan-seri-2.html

●▬▬▬▬❀❀▬▬▬▬▬●
❀ Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
❀ Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah