Syarah Kitab Aqidah Washitiyah

BAGIAN I, II, III

Berkata Imam Ibnu Taimiyah,

و من الإيمان بالله ،الإيمان بما و صف به نفسه في كتابه و بما وصفه به رسول الله صلى الله عليه وسلم من غير تحرف،و لا تعطيل، و من غير تكييف، و لا تمثيل،__بل يؤمنون بالله سبحانه – ليس كمثله شي و هو السميع البصير

Dan diantara keimanan kepada Allah adalah, Iman pada sifat-sifat Nya, yg dia telah mensifati diri Nya dan sifat yg dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam tanpa

Tahrif : Mengubah lafadz

Tatil : Mengingkari

Takyif : Membagaimanakan

Tamsil : Menyerupakan

Yakni mengimani bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatupun, dan dia maha mendengar dan melihat.

Fawaid : Dengan seorang mengenal Rabb Nya, maka ia akan menemukan cinta kasih, ketenangan, kekokohan, istiqomah, keteguhan dan tidak mudahnya ia murtad dan goyah. Ia akan yakin dan berbunga hatinya dengan iman. Syaratnya ia harus faham siapa Rabb Nya dan sifat serta nama-nama Nya.Disini batasan iman islam dengan iman orang kafir dan juga ahli bid’ah.

Dimana mereka, orang kafir dan ahli bid’ah tidak mensifati Allah dengan semestinya. Tauhid Uluhiyyah dan Asma wa Sifat, jurang pemisah ahlul iman dengan ahlul bid’ah. Dan kitab Aqidah Washitiyah titik beratnya pada hal ini, yakni sifat Allah dan hak Allah semata untuk diibadahi.

Pertama, kita harus faham, bagaimana berinteraksi dengan nama dan sifat Allah

Kita imani lafad, makna lafad itu, tanpa di takwil. Umpama, sifat turun, tertawa, tangan, kaki, betis, istiwa, marah, ridha, benci, suka, cinta dan semisal. Kita yakini sifat ini ada pada Allah, karena dijelaskan di kitab dan sunnah, tanpa kita ingkari lafad, makna atau kita simpangkan pada makna lain. Jatuhnya ahli bi’dah, karena mereka berani berkomentar tentang Zat Allah tanpa ilmu, dan mengambil sebagian keyakinan ahli kitab dan para filusuf, ini sebab utama.Mereka mensifati Allah sebagaimana para filusuf memahami segala sesuatu dengan akal mereka. umpama, Jahmiyah, mereka mengatakan Allah tidak punya sifat, masa tuhan punya sifat.

Ahlus sunnah menjawab, sesuatu di kenali dengan sifat, bila tidak ada sifat, maka tidak ada wujud sesuatu itu atau omong kosong.

Asyariyah mengatakan, sifat Allah itu 20, atau 9, ada sifat Wajib, sifat tidak mungkin, dan sifat Jaiz. Ahlus sunnah menjawab, kalian tidak punya adab dengan Allah, kalian mewajibkan atau tidak mewajibkan Allah atas sesuatu, padahal ia berkehendak sesuai kehendak Nya.

Dan kenapa kalian batasi sifat Allah? Atau kalian haramkan Allah atas satu hal, siapa kalian mengatur-atur Allah? Apa kalian lebih pintar dari Allah?Qodariyah berkata, Allah tidak menakdirkan, kitalah yang mengatur hidup kita sendiri. Ahlus sunnah menjawab, bahkan Allah mengetahui yg Awal dan Akhir, semua hal telah diciptakan Allah, termasuk Takdir, kita di suruh berbuat, karena kita tidak tau Takdir kita, dan setiap orang akan di mudahkan menuju takdirnya.

Jabariyah berkata, kita adalah makluk yang di atur, seperti bulu, baik buruk bukan kita yang berniat, kita baik atau buruk sudah Takdir. Ahlusunnah menjawab, Benar Allah telah menakdirkan, namun juga Allah telah menyembunyikan takdir itu agar kita beramal.

Dengan amal itu, Allah memudahkan ahli surga ke surga, ahli neraka ke neraka, kita belum tau kita termasuk golongan mana.Adanya pahala, siksa, Surga dan Neraka adalah agar kita terus maju dalam usaha dan amal kebaikan, tinta telah kering dan lembaran telah tertulis, namun demikian Allah menyuruh kita beramal, karena itulah tujuan Allah merahasiakan Takdir Nya.

Bagian 2

🖋Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary

Sebelum kita masuk pembahasan malaikat, disini kita sedikit membahas dari yang lalu.

Bahwa kata Aqidah Salaf bermakna landasan yang tetap tidak berubah sampai kapanpun, meski berubahnya manusia dan masa. Saudara – saudara kita yang belajar Aqidah Salaf tahun 90-80 ke belakang, sebagaimana saya katakan kemarin, lebih kokoh manhajnya daripada hari ini.

Kenapa? (Kita akan sebut disini inisial saja, buat mempermudah) Bisa dikatakan bahwa saat ini kita beragama dan mengambil Manhaj Salaf hanya sebagian, dalam arti mengikuti tren yang ada.Agama seakan pakaian atau konser musik. Terbukti, ketika awal munculnya fitnah. Contoh, Abd Somad, Adi Hidayat , atau Umar Mita, subhanallah… Terlihatlah yang selama ini tersembunyi. Sampai – sampai saya, dan tentu Asatidah lain yang Salafy, di tuduh macam – macam karena mentahdzir Abd Somad dan Umar Mita, bahwa mereka bukan Salafy. Baru, setelah beberapa lama terlihat apa yang ada pada mereka dari penyimpangan.

Namun sudah terlanjur, mereka sudah memiliki masa…Kenapa ini terjadi?

1. Karena kita tidak belajar sejak awal kitab. Kita tahu dakwah salaf, hanya dari potongan – potongan video instagram.

2. Tidak adanya kejujuran dan niat serta doa yang tulus meminta kebenaran (Amaliah hati)

3. Kita beragama hanya euforia, dalam arti ikut yang rame, rame ini ikut, rame ini ikut. Padahal agama terutama masalah aqidah adalah tetap.

4. Sifat dari dunia dan manusia yang berubah, tidak ada yang tetap didunia ini, kecuali yang Allah rahmati.

5. Kita beragama hanya icip – icip dan ditepi, serta melihat untung, mana yang banyak itu yang diikuti, padahal sifat kebenaran itu tetap meski berubahnya waktu.

6. Trend

7. Kita tidak memiliki sandaran kokoh

8. Kita masih beragama secara ikut individu atau yg ditokohkan. Ini diantara sebab lemahnya aqidah kita.

Bagian 3

🖋 Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary

Syarah pembahasan malaikat

و ملائكته

Dan kita beriman kepada malaikat

الملائكته

Malailat adalah jamak dari ملاك Asal kata dari ملك

Yang bermakna

الألوكة

Penyampai

atau

الرسالة

Pembawa kabar (risalah)

Lihat Surah Fatir ayat 1

الحمد لله فاطر السموات والأرض جاعل الملائكة رسولاولي أجنحة مشنى وثلاث وربعيزيد في الخلق مايشاءأن الله على كل شيء قدير

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan – utusan yang mempunyai sayap masing – masing dua, tiga atau empat. Allah menambahkan pada ciptaan – Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Malaikat dicipta dari cahaya, dan diberi sifat ketaatan. Malaikat yang utama ada 3 :

Jibril, mikail, israfil.

Sebagaimana salah satu Do’a Iftitah di shalat malam,

اللهم رب جبرايل و ميكاءيل واسرافيل… فاطرا السماوات و الارض

Tugas malaikat beragam. Malaikat Allah sangat banyak, umpama, jangan kita bayangkan malaikat pencatat hanya ada 2, umpama… Ini fatal…. Kenapa fatal? Karena Raqib dan Atid itu adalah nama sifat untuk malaikat pencatat amal anak adam.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ . إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ .مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْل*ٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ) سورة ق/16-18.

“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. “

QS. Qoff: 16-18.

Malaikat ada juga yang dibenci kalangan yahudi, sebagaimana di Surah Al Baqoroh ayat 97-98.

Ada juga yang di sebut Syafa’at Malaikat. Sebagaimana di Surah Al Baqoroh dan Thaha, juga Yasin dan sebagainya…

Syafa’at Malaikat bisa di berikan dengan dua syarat,Izin dari Allah bagi pemberi Syafa’at, dan Allah Ridha kepada yang diberi syafa’at.

Terakhir, meskipun begitu mulianya Malaikat, tidak boleh bagi kita memberikan ibadah kepada mereka, dari do’a, nazar, sumpah, sembelihan, dan semisal.

————————————–

https://linktr.ee/ukhuwahfilhijrah

√Kunjungi website kami

√Follow TG, IG, FB, FP, LINE, TWITTER : Ukhuwah fil Hijrah

KITABUT TAUHID MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

KITABUT TAUHID
MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 11. LARANGAN DARI MINTA HUJAN DENGAN NAU’ (نَوْءٌ) atau ANWA’ (اْلأَنْوَاءُ)

(اْلأَنْوَاءُ) adalah jamak dari (نَوْءٌ), artinya bintang-bintang

Allahu ta’ala berfirman dalam QS. Al Waqi’ah ayat 68-70 :

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ
68. Tidakkah kalian melihat air yang kalian minum.

أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ
69. Apakah kalian yang menurunkan air hujan tersebut dari awan atau Kamikah yang menurunkannya?

لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ
70. Kalaulah Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan air hujan itu asin, maka tidakkah engkau bersyukur kepada Allah?

Rasulullah ﷺ bersabda, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

لاَ عَدْوَى وَلاَ هَامَةَ وَلاَ نَوْءَ وَلاَ صَفَرَ
“Tidak ada penyakit yang menular, tidak pula haamah (burung hantu) , naw-u (pengaruh bintang) ,tidak ada kesialan dibulan Safar”
HR. MUSLIM

Nau’ (pengaruh bintang), dimana orang-orang musyrikin Arab mempunyai keyakinan bahwa terjadinya hujan karena bintang ini dan itu.

وَلاَ صَفَرَ : Artinya tidak ada kesialan di bulan Safar. Karena bulan tidak bisa memberikan kesialan.

dari Abu Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ (رواه مسلم)

”Ada 4 perkara dari umatku, dari perkara jahiliyyah yang mereka tidak meninggalkannya yaitu ;

Berbangga dengan nasab / keturunan (berbangga dengan kedudukan), mencela nasab (keturunan orang lain), meminta hujan dengan (perantaraan) bintang-bintang, dan meratapi mayat”
HR. MUSLIM

Dan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

”4 perkara dari umatku, dari perkara jahiliyyah yang mereka tidak tinggalkan, diantaranya yaitu al-anwa’
— مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا —
ucapan mereka : ‘bahwa kita dihujani dengan bintang ini dan itu.’ )”
HR. TIRMIDZI

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani dia berkata:
قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ فِي إِثْرِ السَّمَاءِ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ ‏”‏ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ‏”‏ ‏.‏ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ ‏.‏ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ ‏”‏

Rasulullahﷺ mengimami kami sholat subuh di Hudaibiyyah, dimana tadi malamnya hujan. Setelah selesai sholat, Rasulullah ﷺ menghadap kepada manusia dan berkata:

”Tahukah kalian apa yang diucapkan oleh Rabb kalian?”

Mereka berkata : ”Allah dan rasul-Nya lebih tahu.

Rasulullah bersabda ; Allah berfirman : [ Masuk di pagi hari dari hamba-hamba Ku ada yang beriman dan ada yang kafir. Adapun orang yang berkata, “kita dihujani oleh karunia Allah dan rahmat-NYA”, maka itu adalah orang yang beriman kepada-KU dan kafir kepada bintang-bintang.]
[ Adapun orang yang berkata, “kita dihujani dengan bintang ini dan itu”, maka itu adalah orang yang kafir kepada-KU dan beriman kepada bintang – bintang.]
HR. BUKHARI MUSLIM

‼Hadits- hadits ini menunjukkan haramnya menisbatkan hujan kepada bintang.

Dan menisbatkan hujan kepada bintang;
Kalau maksudnya bahwa bintanglah yang menurunkannya, maka ini jelas kufur dan pelakunya adalah musyrik.

Kalau maksudnya bahwa Allah yang menurunkan tetapi bintang punya pengaruh, maka ini pun juga kufur dan syirik besar.

Kalau maksudnya, bintang adalah sebagai sebab turunnya hujan, ini juga perkara yang tidak benar. Karena bintang tidak memiliki manfaat dan mudhorot sama sekali.

Tetapi kalau maksudnya yaitu dari hasil pengalaman;
🔸”Kalau muncul bintang ini biasanya akan turun hujan, atau datang musim hujan.”
🔸 “Kalau ada bintang itu biasanya akan begini,”
Maka yang seperti ini diperbolehkan.

Namun tidak boleh kita menggunakan kata-kata “kita dihujani dengan bintang ini.” tidak demikian

Tapi yang benar, kata Imam Syafii : Kita katakan “Kita dihujani pada waktu begini dan begitu.”

Dalil yang menunjukkan bahwa itu boleh; adalah perkataan Umar pada hari Jumat diatas mimbar.

Umar mengatakan : “Berapa tersisa lagi dari bintang Tsurayya?”
Maka Abbas bangkit dan berkata, “Tidak tersisa sedikitpun juga kecuali bintang Uwa’.”
Maka kemudian beliaupun berdoa dan orang-orang pun berdoa hingga turunlah air hujan.

Artinya, seperti yang sudah kita sebutkan tadi;
Kalau kita mengatakan secara pengalaman, “Biasanya sih kalau ada bintang ini maka akan musim hujan dan yang lainnya…”

; Bukan karena meyakini bintang itu punya pengaruh, atau karena sebab bintang, atau bahkan sebab yang menurunkan hujan adalah bintang, —tidak sama sekali—, tapi hanya sebatas sesuatu yang biasa terjadi demikian secara pengalaman.

wallahu a’lam
__________

‎﷽

KITABUT TAUHID
MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 12. LARANGAN MENYEMBELIH UNTUK SELAIN ALLAH DAN TERLAKNAT ORANG YANG MELAKUKANNYA.

Menyembelih termasuk ibadah, maka memalingkan menyembelih kepada selain Allah termasuk kesyirikan.

Allahu ta’ala berfirman dalam QS. Al An’am ayat 162 -163:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabbul ‘a alamiin (Tuhan semesta alam).”

لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Tiada sekutu bagi-Nya; untuk itulah aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama kali Islam”.

Allahu ta’ala juga berfirman dalam QS. Al Kautsar ayat 2:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah untuk Rabb mu; dan sembelihlah.”

Ini menunjukkan bahwa sembelih itu adalah ibadah yang hanya ditujukan untuk Allah saja.

Dan Allah mewajibkan untuk menyembelih dengan nama Allah. Dan mengharamkan setiap binatang yang disembelih untuk nama selain Allah atau untuk selain Allah.

Allahu ta’ala berfirman dalam QS. An Nahl ayat 115:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

”Sesungguhnya yang diharamkan atas kalian adalah bangkai, darah, daging babi, dan apa-apa yang disembelih untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala.”

—> Seperti untuk kuburan, atau untuk selain Allah. walaupun menyembelihnya dengan nama Allah tapi kalau untuk selain Allah ; _untuk mayat yang ada dikuburan misalnya._
Maka itu adalah merupakan syirik dan tidak boleh kita memakannya.

Dari Amir bin Watsilah ia berkata :
“ Aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib, lalu ada seseorang datang dan berkata; “Apakah Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam merahasiakan sesuatu kepadamu?”
Maka Ali pun marah dan berkata: “Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam tidak pernah merahasiakan kepadaku sesuatupun yang beliau sembunyikan dari manusia. Beliau hanya menyampaikan kepadaku 4 kalimat.”
Lalu ia berkata; “Apa itu wahai amirul mukminin?”
Ali berkata, yaitu :

لَعَنَ اللهُ مَن لَعَنَ وَالِدَيهِ
“Allah melaknat orang yang melaknat bapaknya”

وَ لَعَنَ اللهُ مَن ذَبَحَ لِغَيرِ اللهِ
“dan semoga Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”

وَ لَعََنَ اللهُ مَن آوَى مُحدِثَا
“dan semoga Allah melaknat orang yang ‘muhdits’ (orang yang berbuat jahat, berbuat dosa, berbuat bid’ah)”

و لَعَنَ اللهُ مَن غَيَّرَ مَنَارَ الأَرضِ
“ dan semoga Allah melaknat orang yang merubah tanda batasan bumi / tanah (milik orang lain)”
HR MUSLIM

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang menyembelih untuk selain Allah, itu dilaknat pelakunya.

Oleh karena itulah kewajiban kita agar menyembelih itu hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala dan wajib dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun menyembelih untuk patung, atau untuk kuburan wali atau Nabi atau yang lainnya itu termasuk kesyirikan dan diharamkan.

Dan adapun menyembelih untuk sesuatu yang tujuannya mubah; seperti kita menyembelih ayam untuk sebatas kita makan, maka itu wajib bagi kita untuk menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala. Maka itu termasuk sesuatu yang di mubahkan, selama menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala padanya.

Wallahu a’lam

________

‎﷽

KITABUT TAUHID
MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 13. LARANGAN MENCINTAI “AHLUL HAWA” (PENGIKUT HAWA NAFSU DARI KALANGAN PENGEKOR MAKSIAT DAN AHLI BID’AH) DAN LARANGAN BERGAUL DENGAN MEREKA

عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ تَلاَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هَذِهِ الآيَةَ
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata; “Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam membaca ayat ini (QS. Ali Imran ayat 7”:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
Allah berfirman : “Dialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itu merupakan ummul kitab, (pokok-pokok isi Al qur’an) dan yang lainnya adalah (ayat-ayat) mutasyaabihaat.”*

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ
“Adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecondongan kepada kesesatan, selalu mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat untuk mencari fitnah dan mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah.”

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ
”Sementara orang-orang yang kokoh dalam keilmuan berkata: “Kami beriman kepadanya ( ayat-ayat yang mutasyaabihaat), semua itu berasal dari Robb kami”.

وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dan tidak ada yang ingat (dapat mengambil pelajaran daripadanya) kecuali orang-orang yang berfikir/berakal.”

Aisyah radhiyallahu anha berkata; “Rasulullah shallallaahu alayhi wasallam bersabda,
‏ فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ،
“Apabila kalian melihat orang-orang yang mencari-cari ayat-ayat mutasyaabihaat,
فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ، فَاحْذَرُوهُمْ ‏.
… mereka itu orang-orang yang telah Allah namai mereka (Allah sebut pada ayat tersebut) Maka waspadalah dari mereka.
[HR BUKHARI NO. 4547]

Hadits ini menunjukkan bahwasanya orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabihat, dan ini merupakan keyakinan dan perbuatan dan kebiasaan ahli bid’ah, selalu mencari-cari dalil yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Maka mereka disebut ‘ahlul hawa”/ pengikut hawa nafsu.

Kenapa?
Karena dalam mencari dalil sesuai dengan hawa nafsu, bukan tujuannya untuk mencari kebenaran.

Tentu beda antara orang yang mengikuti hawa nafsu dengan orang yang mencari kebenaran.
—> Kalau pencari kebenaran; sebelum dia beramal, dia akan berusaha dulu untuk mencari dalil-dalil. Kemudian setelah itu baru dia amalkan sesuai dengan yang kuat dari dalil.

—> Sedangkan pengikut hawa nafsu; Ia akan beramal dulu baru mencari-cari dalil yang sesuai dengan keinginan mereka. Dan tidak perduli lagi, kalau sudah mendapatkan dalil yang seakan-akan mendukung pendapat mereka, setelah itu ia tidak akan perduli lagi dengan dalil apapun dan pendapat apapun yang nyata-nyata jelas bertabrakan dengan keinginan mereka tersebut.
Maka inilah pengikut hawa nafsu, dan ini sangat berbahaya sekali

Sebab kalau kita beragama sesuai hawa nafsu dan selera, maka akan menyebabkan musibah besar dalam agama.

Apa musibahnya?
Yang Pertama:
Akhirnya hawa nafsu menjadi sandaran, sementara dalil hanya sebatas menjadi tameng atau perisai saja.

Kedua:
Akhirnya dalil menjadi permainan hawa nafsu manusia.

Ketiga :
Dalil akan ditafsirkan sesuai dengan keinginan manusia, dan keinginaan mereka.

Maka dari itu, merekalah yang disebut dalam ayat tersebut. Adapun orang-orang yang mengikuti _mutasyabihat_ karena mengharapkan fitnah dan mengharapkan ta’wilnya
(artinya; mereka menta’wil- ta’wil dengan ta’wil yang tidak benar) maka ini sangat berbahaya sekali.

Para ulama mengingatkan bahwa orang yang seperti ini harus kita waspadai.
Waspadai dengan cara apa? dengan cara kita tidak bergaul dengan mereka. Apalagi mencintai mereka. Sebab bergaulnya kita dengan mereka menyebabkan kita terkena syubhat mereka.

Tentu berbeda dengan orang yang jahil yang hanya terbatas ikut-ikutan. Orang seperti ini harus kita ajak kepada kebenaran.

*Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata; “Rasulullah ﷺ bersabda:

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ
” Qodariyah itu Majusi-nya umat Islam ini“
[Dihasankan oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah]

إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تشهدوهم
Kata Rasulullah…

Qodariyyah, siapa itu qodariyyah? yaitu orang yang menyatakan bahwa; Allah belum menakdirkan segala sesuatu, dan bahwasanya perbuatan hamba belum ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh seorang hamba sampai terjadinya perbuatan tersebut. Maka ini merupakan keyakinan qodariyyah.

Qodariyyah disebut oleh Rasulullah sebagai Majusi umat Islam.
Karena orang Majusi menganggap bahwa yang menciptakan kebaikan itu ‘cahaya’, yang menciptakan keburukan adalah ‘kegelapan’.

Orang Qodariyyah mengatakan bahwa yang melakukan keburukan dan menciptakannya adalah manusia itu sendiri.
Tidak ada campur tangan Allah sama sekali. Ini jelas kebathilan!

Maka kata Rasulullah,…
الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ
” Qodariyah itu Majusi-nya umat Islam ini“

إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تشهدوهم
” Qodariyyah, kalau mereka sakit jangan dijenguk, jika mereka meninggal jangan disaksikan jenazahnya (dilayat)“

Karena keyakinan mereka yang sangat merusak, menolak salah satu Rukun Iman yaitu ‘Beriman Terhadap Takdir’.

Wallahu a’lam

glossary:
ta’wil (yang dimaksud) = menafsirkan dengan tafsiran yang dipalingkan dari kebenaran.

______________

KITABUT TAUHID
MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 14. BAB LARANGAN DARI KHIANAT DAN MENYIA-NYIAKAN AMANAH

Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  ber-firman dalam QS. Al Anfaal ayat 27 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul dan jangan mengkhianati amanat-amanat kalian dalam keadaan kalian tahu bahwa itu amanah yang berat dimata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Dari Anas bin Malik  radhiyallahu ‘anhu, ia berkata – Rasulullaah ﷺ berkhutbah, beliau bersabda diantaranya :

لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ ،

” Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak punya amanah,

وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ.

Dan tidak ada agama bagi seseorang yang tidak melaksanakan perjanjian”
HR. Imam Ahmad rahimahullah dan lainnya

Dari Abu Hurairah juga dia berkata, adalah “Rasulullah ﷺ bersabda, berdo’a” :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُوعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada- Engkau dari kelaparan, karena kelaparan adalah seburuk-buruknya teman tidur.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ

Dan aku berlindung kepada Engkau dari khianat, karena dia adalah seburuk-buruknya teman”

Rasulullah ﷺ berlindung dari kelaparan dan dari teman yang berkhianat dan sifat khianat.
HR Abu Dawud dan an-Nasa’i

Dan dari hadits Abu Hurairah juga ia berkata , “Ketika nabi Rasulullah ﷺ berada di suatu majelis berbicara dengan kaum. Maka datanglah orang Arab Badui, dan berkata, ‘Kapan hari Kiamat?’ Namun Rasulullah ﷺ terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian orang berkata, ‘Rasulullah mendengar apa yang ia ucapkan tapi ia tidak suka dengan ucapannya. ‘Sebagian mengatakan, ‘Beliau tidak mendengar.’ Hingga apabila beliau telah selesai berbicara beliau bersabda, ‘Di mana tadi orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Orang itu berkata : ‘Aku disini wahai Rasulullah!’.. Rasulullah berkata,’ Yaitu apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat.’ Ia berkata : ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’. Rasulullah berkata, yaitu Apabila perkara atau urusan ini diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah tanda hari Kiamat!”.
HR Imam Bukhari

Hadits2 dan ayat tersebut menunjukkan akan haramnya sifat khianat yaitu tidak melaksanakan amanah yang dibebankan kepadanya.
—> Amanah terkadang berupa kepemimpinan. Orang yang ditunjuk sebagai pemimpin berarti ia telah memegang amanah.
—> Amanah terkadang berupa tugas dan tanggung jawab, karena suami punya amanah, istripun juga punya amanah.
—> Amanah berupa menyampaikan ilmu yang ditanggung oleh para ulama. Maka para ulama telah menanggung amanah untuk menyampaikan ilmu.

Demikian pula setiap orang yang menyampaikan ilmu wajib diamanah tidak boleh ia berdusta, tidak boleh ia melakukan kecurangan didalam menyampaikan ilmu.

Jadi Amanah itu sesuatu yang pasti ditanya oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  pada hari kiamat.

Maka ketika amanah telah hilang,
– Seorang pemimpin yang hilang amanahnya maka akan terjadi kedzaliman,
– Seorang ustadz yang hilang amanahnya yang ada adalah kedustaan,
– Seorang yang telah hilang sifat amanahnya ia tidak mau bertanggungjawab melaksanakan seenaknya saja.

Maka semua ini adalah bisa mengakibatkan hancurnya tatanan masyarakat, hancurnya kehidupan. Bahkan hilangnya kepercayaan.

Oleh karena itulah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung.

Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berfirman :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا

Mereka enggan untuk membawa amanat tersebut

وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ

Namun manusia malah mau membawa amanah tersebut.

Sebagaimana kita lihat disaat pasca pemilu atau sebelum pemilu mereka ramai-ramai berusaha untuk mencalonkan diri, mereka tidak sadar bahwa kepemimpinan itu amanah.

Langit, gunung, demikian pula bumi mereka tidak sanggup tapi manusia karena kebodohannya hanya sebatas memandang enaknya penghormatan, banyaknya harta dan lainnya mereka lupa bahwa itu adalah amanah yang berat di mata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Wallaahu ‘alam

___________

KITABUT TAUHID
MAUSUU’AH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 15. WASPADA DARI MAKSIAT SECARA UMUM DAN PENJELASAN BAHWA IMAN BERKURANG DENGAN MAKSIAT TERSEBUT

Dan Bahwasanya orang yang berbuat maksiat telah kehilangan kesempurnaan iman.

Dari Abu Hurairoh رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah orang yang berzina disaat ia berzina disebut mukmin

وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَحِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِن

Tidaklah orang yang minum arak disaat ia minum arak disebut mukmin

ٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَمُؤْمِنٌ

Dan tidaklah ada orang yang mencuri disaat ia mencuri disebut mukmin

وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُإِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Dan tidaklah ada orang yang merampok orang yang mempunyai kehormatan dan kedudukan ditengah-tengah masyarakat itu disebut mukmin.”
HR. Bukhari & Muslim

Artinya : ia telah kehilangan kesempurnaan iman. Tidak seperti yang dipahami oleh orang khawarij dimana mereka memahami hadits tersebut bahwa orang yang melakukan dosa-dosa tersebut artinya kafir murtad keluar dari agama Islam tersebut, ini jelas adalah pemahaman yang bathil.

Karena keyakinan ahlussunnah wal jama’ah mengatakan bahwa pelaku dosa besar tidak murtad dari agama Islam, kecuali apabila ia melakukan itu dengan keyakinan halalnya perbuatan maksiat. Maka yang seperti ini murtad dengan ijma seluruh ulama.

Dan dari Abdullah bin Mas’ud رَضِيَ اللَّهُ عَنْه bahwa Nabi ﷺ bersabda :

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci maki seorang muslim itu kefasikan dan memerangi adalah kekafiran.”

Yang dimaksud dengan kekafiran disini yaitu kufrun duna kufrin, kekafiran dibawah kekafiran. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
HR Imam Bukhari & Muslim

Dan dari Jarir رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ Ia berkata Rasulullah ﷺ di haji Wada ,

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

Jangan kalian kembali setelah aku menjadi kafir sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain.
HR. Bukhari & Muslim

Maksudnya jangan kalian kembali setelah aku menjadi kafir artinya kafir dibawah kekafiran.

Karena kufur itu ada 2 macam, kufur besar dan kufur kecil. Namun kata para ulama yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Kufur kecil yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Dan dari Abu Hurairoh رَضِيَ اللَّهُ عَنْه
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Ada 2 perkara yang akan tetap ada pada manusia dan itu kufur yaitu mencela nasab dan meratapi mayat ” diriwayatkan Imam Muslim.
Kufur disinipun juga maksudnya kufur kecil.

Dari hadits-hadits ini kata Syaikh Salim, menunjukkan bahwa yang pertama ahlussunnah wal jamaah bersepakat seluruhnya bahwa kufur itu bertingkat-tingkat , ada kufur besar yang akan mengeluarkan pelakunya dari Islam dan ada kufur kecil yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Contoh kufur besar : seperti kufurnya Fir’aun, kufurnya iblis, demikian pula kufur orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya.
Demikian pula orang-orang yang meyakini kehalalan apa yang Allah haramkan, padahal ia tahu itu adalah haram.

Contoh kufur kecil sebagaimana yang kita sebutkan tadi.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa pelaku dosa besar telah kehilangan kesempurnaan iman. Namun tidak hilang imannya sama sekali. Dan inilah keyakinan ahlussunnah waljama’ah.

Karena dosa selain syirik berada dibawah kehendak Allah. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  ber-firman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lebih rendah dari syirik.
(QS. An Nisa’: 48).

Maka dosa-dosa besar yang lebih rendah dari syirik masih diampuni oleh Allah.

Berarti pelakunya dibawah kehendak Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , Jika Allah kehendaki Allah ampuni jika Allah kehendaki Allah azab dia namun ia tidak kekal di dalam api neraka. Dan itulah keyakinan Ahlussunnah waljama’ah.

Wallaahu ‘alam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc

Larangan – Larangan Yang Berhubungan Dengan Tauhid Dan Iman

Kitab Mausu’ah al-Manahi asy-Syar’iyyah
(Ensiklopedia Larangan-Larangan Syariat)

Syaikh Salim bin Ied al-Hilali

LARANGAN LARANGAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN TAUHID DAN IMAN

 

Disini beliau membawakan beberapa kaidah yang berhubungan dengan masalah larangan.

PERTAMA

▶ Masalah yang berhubungan dengan UNGKAPAN dalam Alquran dan Hadits yang menunjukkan kepada yang sifatnya LARANGAN.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Kitab Fawaidul Fawaid berkata:

◼ Setiap perbuatan yang disuruh oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk meninggalkannya,

◼ atau pelakunya dicela/ dilaknat/ dibenci/ dimurkai/ Allah tidak mencintai pelakunya,

◼ atau Allah menyatakan tidak ridha kepada pelakunya,

◼ atau menyerupakannya dengan hewan atau setan,

◼ atau menjadikannya penghalang dari hidayah atau penghalang diterimanya amal,

◼ atau disifati dengan keburukan, atau disifati dengan karohah (yang dibenci),

◼atau yang para Nabi berlindung darinya/ atau para Nabi membencinya,

◼ atau dijadikan sebagai sebab terhalang dari kebaikan,

◼atau sebabnya adzab yang cepat maupun lambat,

◼ atau karena adanya celaan,

◼atau disifati dengan kesesatan/ maksiat/ keburukan (khubuts) / najis (rijs),

◼atau dianggap pelakunya menjadi fasik,

◼atau menjadi sebuah nama atau sebab untuk dosa,

◼ atau (Sebab)hilangnya kenikmatan karena melakukan perbuatan itu,

◼atau akan datangnya adzab bila melakukan perbuatan itu,

◼atau ia adalah merupakan batasan-batasan (hadd)

◼atau akan menyebabkan hati itu menjadi keras,

◼atau mendapatkan kehinaan,

◼atau akan menyebabkan ia dimusuhi Allah, atau dianggap pelakunya memerangi Allah, atau memperolok, atau menjadikan Allah melupakan dia,

◼ atau perintah untuk bersabar darinya, perintah untuk memaafkan, atau menyuruh kita untuk bertaubat,

◼atau pensifatan bahwa pelakunya itu hina,

◼atau dinisbatkan kepada perbuatan setan,

◼atau menjadikan setan bisa menguasai pelakunya,

◼atau pelakunya dianggap dzolim,

◼atau para Nabi berlepas diri dari pelakunya,

◼atau para Nabi mengadukan kepada Allah dari pelakunya,

◼ atau menjadi sebab terhalang dari surga,

◼atau pelakunya dianggap sebagai musuh Allah subhanahu wa ta’ala,

◼ atau pelakunya dianggap memerangi Allah dan Rasul-Nya,

◼atau pelakunya dianggap membawa dosa,

◼atau dikatakan disitu bahwa itu tidak bagus/tidak baik/tidak layak,

◼atau perintah untuk bertakwa dari perkara tersebut (artinya menjauhinya),

◼atau kita disuruh untuk melakukan kebalikannya/berhijrah darinya.

Maka semua ini adalah perkara-perkara yang menunjukkan bahwa perkara ini adalah perkara yang dilarang atau tidak boleh dilakukan.

KEDUA :

HARAMNYA MEMPERSEKUTUKAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA (YAITU : SYIRIK). BAHWASANNYA IA ADALAH DOSA YANG PALING BESAR.

Allah berfirman dalam QS. An Nisaa ayat 48 :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang Allah kehendaki.

Demikian pula Allah berfirman dalam QS. An Nisaa ayat 116 :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
*Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.*

➡ Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ
“Jauhi olehmu 7 perkara yang membinasakan”
(yang pertama kali Rasulullah sebutkan adalah “Syirik”)
HR. Imam Muslim

➡ Dan dari Abu Bakrah, ia berkata;
Nabi ﷺ bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ
”Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa besar yang paling besar?”

Mereka berkata, “Mau, ya Rasulullah.”

Kata Rasulullah :
الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ
”mempersekutukan Allah…”

وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
”durhaka kepada kedua orang tua…”

Yang tadinya beliau bertelekan (bersandar) lalu beliaupun duduk dan bersabda lagi:
أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ
”…Ketahuilah yaitu bersaksi palsu/berkata dusta (termasuk dosa besar), dan terus Nabi mengulang-ulangnya, sampai kami mengatakan, “andai beliau diam”
(HR. Bukhari Muslim)

➡ Dan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata;
Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ :
“Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”

Maka beliau bersabda:
أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
“yaitu kamu mengambil tandingan selain Allah sedangkanAllah yang telah menciptakan kamu.”

Kemudian Ibnu Mas’ud berkata lagi: “Kemudian apa wahai Rasulullah?”

Kata Rasulullah: “Kamu membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu”.

Aku berkata : “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?”,
Kata Rasulullah : “ berzina dengan istri tetanggamu”.
(HR. BUKHARI dan MUSLIM)

➡ Dan dari hadits Abu Hurairah,ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
من لقي الله لايشرك به شيئاً و أدى زكاة ماله طيبا بها نفسه محتسبا و سمع و أطاع فله الجنة
(أو دخل الجنة)
”Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah sedikitpun juga,
melaksanakan/mengeluarkan zakat hartanya dengan penuh keridhaan jiwa dan berharap pahala,
ia mendengar dan taat kepada pemimpinnya yang muslim,
maka ia akan masuk ke dalam surga.”
(Hadits Riwayat Imam Ahmad— hadits hasan)

➡ Dan dari hadits Abu Darda, ia berkata; Rasulullah ﷺ memberiku wasiat:
أنْ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ شَيْئًا , وَإِنْ قُطِعْتَ وَحُرِّقْتَ
“Jangan kamu sekutukan Allah walaupun tubuhmu dipotong-potong dan kamu dibakar,”

وَ لا تَتْرُك صَلاَةً مَكْتُوبَة مُتَعَمِّدا
”dan jangan kamu tinggalkan shalat dengan sengaja,”

فَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّدا فَقَدْ بَرِئَت مِنْهُ الذِمَّة
”barangsiapa yang meninggalkankannya (shalat) dengan sengaja, maka sungguh ia telah lepas tanggungannya.,”

Dalil-dalil ini menunjukkan, bahwa orang yang mati dalam keadaan musyrik (berbuat syirik besar), maka pada waktu itu semua amalannya tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan bahwasanya orang yang wafat diatas syirik besar maka ia kekal dalam api neraka dan dia tidak akan pernah masuk surga selama-lamanya.

Dimana hadits (dalil-dalil tadi) juga menunjukkan bahwa orang-orang kafir apabila masuk Islam dan dia wafat diatas keimanan dan tauhid, Allah akan gugurkan semua dosa-dosanya dan kesalahannya.

Karena dalam Islam hanya diterima tauhid, adapun syirik maka itu tidak diterima di dalam Islam.

KETIGA :

AKAN KEHARAMAN RIYA’ , DAN BAHWASANNYA SANKSINYA BERAT.

Riya’ adalah merupakan syirik kecil, dimana apabila amal terkena riya’ maka menyebabkan amal tersebut dibatalkan Allah ﷻ

Hakikat riya’ adalah:
Mengharapkan atau menginginkan pujian dari manusia, sehingga dia seakan-akan selain mengharapkan keridhoan Allah ﷻ juga mengharapkan keridhoan manusia.

Allah ﷻ menyebutkan bahwa riya’ adalah sifat orang-orang munafik.

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An Nisaa ayat 142 :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah ﷻ , dan Allah ﷻ akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri menuju shalat mereka berdiri dengan malasnya, dan mereka pun bermaksud riya’ ingin dilihat manusia. Dan mereka tidaklah berdzikir kepada Allah ﷻ kecuali sedikit saja.

Disini Allah ﷻ mensifati orang munafik, mereka itu riya’ ingin dilihat oleh manusia

Dan Allah ﷻ juga berfirman dalam QS. An Nisaa ayat 38:

وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

Dan orang-orang yang berinfak, menginfaqkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia, dan tidak beriman kepada Allah ﷻ dan kepada hari akhir. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu sungguh seburuk-buruknya teman.

Ini menunjukkan bahwa orang yang riya’ sama saja dengan menjadikan setan sebagai temannya

Riya’ adalah merupakan syirik tersembunyi.

Disebutkan dalam hadits Abu Sai’id al Khudri berkata:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Rasulullah ﷺ, keluar kepada kami, sementara kami sedang menyebut-nyebut tentang dajjal. Maka ﷺ bersabda:

”Maukah aku beritahukan kepada kalian yang lebih menakutkan atas kalian dari massihud dajjal?”
Kami berkata; “Mau, wahai Rasulullah”

Rasulullah bersabda: “Yaitu syirik yang tersembunyi. Yaitu seseorang shalat, lalu ia menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”.
HR. Ibnu Majjah

Maka dari itulah, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari riya’. Karena orang yang pertama kali diadzab pada hari kiamat, yaitu orang yang riya’ mengharap pujian dari manusia.

Lalu bagaimana caranya supaya kita selamat dari riya’?

Caranya:
1. Ikhlas.

Sebelum kita beramal, kita berusaha untuk mengoreksi hati kita. Apa tujuan dan motivasi kita dalam beramal.
Apakah mengharapkan wajah Allah ﷻ semata, ataukah mengharapkan pujian manusia dan kehidupan dunia.

Maka apabila di hati kita ada tujuan-tujuan selain Allah ﷻ, berarti kita belum ikhlas dengan sebenar-benarnya ikhlas.

2. Muroqqobah.

Disaat kita beribadah, kita berusaha untuk menggunakan muroqqobah, yaitu senantiasa memeriksa terus hati kita jangan sampai kemasukan riya’.

Kemudian setelah ibadah senantiasa kita kembali muhasabah, apakah ada riya’ masuk ke dalam ibadah kita atau tidak, untuk kemudian kita beristighfar kepada Allah ﷻ.

3. Diantara perkara yang menghilangkan riya’ juga, yaitu: menghadirkan akan kerasnya siksa Allah ﷻ

Dan mengimani bahwasanya manusia tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorot apapun juga. dan Bahwasanya pujian itu sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi diri kita, bahkan yang ada adalah mudhorot.

KEEMPAT :

KEHARAMAN YANG SANGAT UNTUK BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN ALLAH ﷻ .

Dari Sa’ad ibn Ubaidah ia berkata:
Aku mendengar dari Ibnu Umar ada seorang bersumpah dengan mengatakan _”Tidak, Demi Ka’bah!”_
Maka aku mendengar Ibnu Umar berkata kepadanya;
Sesungguhnya aku mendengar bahwasanya Rasulullah bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ, maka ia sungguh telah kafir atau berbuat syirik”
HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad

Demikian pula diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullahﷺ bersabda:

كل يمين يحلف بها دون الله شرك

“Setiap sumpah (yang orang bersumpah dengannya) dengan nama selain Allah ﷻ , maka itu termasuk syirik.”

Dan dari hadits Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ وَلاَ بِأُمَّهَاتِكُمْ وَلاَ بِالْأَنْدَادِ وَلاَ تَحْلِفُوا إِلاَّ بِاللهِ وَلاَ تَحْلِفُوا إِلاَّ وَأَنْتُمْ صَادِقُوْنَ

“Janganlah kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. tidak pula ibu-ibu kalian. tidak pula dengan tandingan-tandingan (patung), janganlah kalian bersumpah kecuali atas Nama Allah ﷻ dan jangan kalian bersumpah dengan Nama Allah ﷻ kecuali kalian dalam keadaan jujur.
HR. Abu Daud, dan haditsnya shahih

Dari Buraidah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِالْأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang bersumpah dengan nama “amanah” maka ia bukan dari golongan kami”
HR. Abu Daud, Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan hadits ini shahih

Hadits-hadits ini menunjukkan :

1⃣ HARAMNYA bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ dan perkara itu termasuk syirik.

Apakah syirik kecil atau besar?
Itu tergantung niatnya.

Kalau ternyata niatnya;
—> Yang ia sebut namanya selain Allah itu memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat atau mudhorot maka ini syirik besar.

—> Tetapi bila ia tidak punya keyakinan seperti itu, dan semata bersumpah dengan nama selain Allah maka itu syirik kecil.

Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, setelah menyebutkan hadits tentang larangan bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ, beliau berkata:
“dan sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini, bahwa maksud sabda Nabi ﷺ —“Sungguh ia telah berbuat kafir atau berbuat syirik”–, Maka ini maksudnya adalah ancaman yang keras”

Alasannya, adalah Hadits Ibnu Umar, bahwasanya Nabi ﷺ mendengar Umar berkata ”Demi ayah dan Demi ibuku…”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda; “Ketahuilah sesungguhnya Allah ﷻ melarang kalian bersumpah dengan nama ayah-ayah kalian.”
—> maka ini termasuk syirik kecil

2⃣ Kemudian hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan sumpah selain nama Allah ﷻ, maka kaffarat nya adalah dengan mengucapkan ( لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ) “Laa ilaaha illallah”.

Orang nyang bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ maka hendaklah ia mengucapkan “ Laa ilaaha illallah”

Kemudian faidah ini juga ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ مِنْكُمْ فَقَالَ فِي حَلْفِهِ بِاللاَّتَ فَلْيَقُلْ: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

وَ مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ.

“Barangsiapa di antara kalian yang berkata ketika bersumpah, –‘Demi Latta,’– maka hendaknya mengucapkan; LAA ILAAHA ILLALLAAH.”

3⃣ Al Hafidzh Ibnu Hajar berkata, berkata para ulama, :
Rahasia kenapa dilarang bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ, karena bersumpah dengan sesuatu itu menunjukkan bahwa ia mengagungkan sesuatu tersebut. Sementara keagungan itu hakikatnya hanyalah milik Allah ﷻ
(Demikian dalam Fathul Baari jilid 11 Hal. 31)

4⃣ Hadits ini juga menunjukkan bolehnya bersumpah dengan salah satu sifat Allah ﷻ.
Contoh dengan mengatakan:
— ( لاَ وَعِزَّتِكَ — “Laa wa ‘izzatika”) Demi Kemuliaan Mu, Yaa Allah
— Demi Kemurahan Mu, dan yang lainnya.

5⃣ Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang bersumpah dengan “nama selain Allah ﷻ ” dalam keadaan jujur itu _lebih berat_ keadaannya daripada orang yang bersumpah dengan “Nama Allah ﷻ ” dalam keadaan dusta.

Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Aku bersumpah dengan nama Allah ﷻ dalam keadaan berdusta, lebih aku sukai daripada aku bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ dalam keadaan jujur”

—> Karena bersumpah dengan nama selain Allah itu syirik.
—> Sedangkan bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta itu dosa besar,
dan syirik jauh lebih besar daripada dosa besar.

6⃣ Hadits ini menunjukkan bahwa wajib bersumpah dengan Nama Allah ﷻ dalam keadaan jujur, bukan dalam keadaan dusta.

Karena orang yang bersumpah dengan Nama Allah ﷻ dalam keadaan dusta, itu sama saja mempermainkan Nama Allah ﷻ.

Kemudian,
Bagaimana dengan hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullahﷺ atau sebagian sahabat bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ? Contoh dalam hadits:

“Sungguh, telah beruntung Demi Bapaknya, jika ia memang benar”

Maka ini kata beliau, dijawab dari beberapa jawaban;
Sebagian mengatakan bahwa ini telah di mansukh oleh hadits-hadits yang melarangnya.

KELIMA:

LARANGAN MENGATAKAN MAA SYAA ALLAH WA SYI’TA
ماشاء الله و شئت  .
Apa yang Allah ﷻ kehendaki dan apa yang kamu kehendaki

Dari Hudzaifah bin Yaman dari Nabi ﷺ bersabda,

Jangan kalian mengucapkan, ماشاء الله و شاءفلان
apa yang Allah ﷻ kehendaki dan kehendaki si fulan tapi ucapkanlah

ماشاء الله ثم شاءفلان
dengan apa yang dikehendaki kemudian dan apa yang dikehendaki si fulan.

(HR Abu Daud, Nasa’i, Ahmad dan lainnya.)

Disebutkan dalam hadits lain dari Thufail bin Sakhbaroh saudaranya Aisyah seibu, bahwa ia melihat dalam tidurnya ada beberapa Yahudi melewatinya dan berkata,

Apa kalian ini ? Mereka berkata, Kami Yahudi.

Kemudian ia berkata,
Sesungguhnya kalian itu kaum yang bagus kalau bukan karena kalian menganggap bahwa Uzair itu anak Allah ﷻ,

Lalu orang Yahudi berkata,
kalian juga kaum yang bagus kalau kalian tidak mengatakan ماشاء الله و شاء محمد
apa yang Allah kehendaki dan apa yang dikehendak Muhammad,

Kemudian dalam mimpinya ia melihat orang orang Nasrani melewatinya, lalu ia berkata,
Siapa kalian ?

Mereka berkata, kami Nasrani,

Kemudian ia berkata, sesungguhnya kalian kaum yang bagus kalau bukan kalian mengatakan ‘Isa bin Maryam anak Allah ﷻ,

Mereka berkata,
sesungguhnya kalian juga kaum yang bagus kalau bukan karena kalian mengatakan
ماشاء الله و شاء محمد

Dipagi harinya ia mengabarkan apa yang ia lihat didalam mimpinya, kemudian mendatangi Nabi ﷺ dan mengabarkannya, maka kemudian Nabi bersabda,

Apakah engkau mengabarkan seseorang ?

Ia berkata : “iya”
ketika telah sholat Rasulullah berkutbah dan memuji Allah ﷻ dan menyanjungnya

Kemudian beliau bersabda, sesungguhnya Thufail melihat dalam mimpi, maka ia telah mengabarkan kepada orang yang ia telah kabari, sesungguhnya kalian mengucapkan kalimat tadinya aku, kalian mengucapkan kalimat yang mencegahku untuk melarang kalian karena rasa malu, maka jangan kalian mengucapkan ماشاء الله و شاء محمد

(HR Imam Ahmad dari beberapa jalan, Ad Darimy, Ibnu Majah dan yang lainnya)

Dari hadits hadits ini kita ambil faidah sebagai berikut,

1⃣ Haramnya mengucapkan Apa yang Allah ﷻ kehendaki dan kehendak si fulan. Kenapa demikian ?
Karena kata kata ( و ) disini mempunyai kesan seakan akan kehendak Allah ﷻ sama dengan kehendak manusia, dan ini menyamakan antara kehendak Allah ﷻ dengan kehendak manusia.

Kata Ibnu Rojab, maka ini orang yang menyamakan antara Allah ﷻ dengan makhluk dalam kehendak . Dengan mengatakan ماشاء الله و شاء فلان dan ini termasuk kesyirikan tentunya

2⃣ Hendaknya seorang muslim menjauhi syirik dalam lafadz.

Maka ketika kita mengucapkan sesuatu melafadzkan sesuatu maka berhati hati apakah yang diucapkan ada kesyirikan apa tidak.

3⃣ Hendaknya ia mengucapkan ماشاء الله ثم شئت apa yang Allah ﷻ kehendaki kemudian apa yang kamu kehendaki.
Karena kata² ثم kemudian itu menunjukkan ketidaksamaan berbeda dengan و.

Oleh karena itulah kewajiban kita dalam hal ini mengikuti apa yang diperintahkan oleh Rasul ﷺ .

Hadits ini juga menunjukkan
4⃣ Bantahan kepada orang orang Jabariyah yang meniadakan kehendak hamba
Bahwasanya seorang hamba tidak punya kehendak.

Adapun ahlussunnah menganggap manusia punya kehendak, keinginan, kemampuan namun kehendak manusia memang mengingikuti kehendak Allah ﷻ tapi manusia juga memiliki kemampuan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu yahya Badrusallam lc

Sumber : WAG Al fawaid 16
Di publikasikan kembali oleh : Ukhuwahfillhijrah.com

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah