KEUTAMAAN HAJI, DAN HARAPAN UNTUK ORANG YANG BELUM MENUNAIKANNYA

🌺fawaid edisi khusus🌺

🕋  KEUTAMAAN HAJI, DAN HARAPAN UNTUK ORANG YANG BELUM MENUNAIKANNYA

(amaliah yang di harap menyamai pahala haji bagi orang yang belum menunaikan, sebuah kabar gembira)

🖋abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Imam Abu Farj Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab rahimahullah

Berkata

“… Ketika Allah taala menanamkan kerinduan dalam hati hamba hamba Nya yang beriman untuk menyaksikan Baitullah,

Dan tidak semua orang bisa menyaksikannya tiap tahun,

Maka Allah taala mewajibkan bagi yang mampu untuk berhaji satu kali seumur hidup,

Dan menjadikan sepuluh hari pertama Dzul hijjah sebagai musim bersama untuk beramal shalih antara orang orang yang berhaji dan orang orang yang tidak menunaikannya (pada tahun itu).

Barang siapa tidak mampu berhaji pada suatu tahun, ia dapat melakukan amal yang ia mampu melakukannya di rumah, yang lebih utama dari jihad, padahal jihad lebih utama dari haji*.

Jauhilah maksiat, karena ia menghalangi ampunan pada musim yang penuh dengan rahmat,

Marwazy meriwayatkan di kitab ‘wara’, dari Abdul Malik dari seorang shahabat atau tabiin **,

“Bahwa datang seorang dalam mimpinya *** di salah satu hari sepuluh hari awal dzulhijjah,

“tidak ada seorang muslim pun yang tidak di ampuni segala dosanya pada hari hari ini, setiap hari lima kali, kecuali para pemain”, mereka adalah pemain catur”.

Jika bermain catur saja menjadi penghalang ampunan, lalu bagaimana orang orang yang terus terusan dalam dosa ?,

Maksiat adalah penghalang seorang dari rahmat Allah taala, dan ketaatan adalah hal yang dapat mendekatkan kepada Allah dan rahmat Nya.

Saudara saudaraku, kalian telah berihram pada hari hari ini, dan berniat menuju ka’bah, memenuhi angkasa dengan talbiyah, takbir, tahlil, dan tahmid, mengagungkan Allah taala,

Sungguh mereka telah berangkat, sedang kita hanya bisa duduk, mereka mendekat, sedang kita menjauh,

Jika sekiranya kita memiliki sedikit bagian dari mereka, tentu kita bahagia.

Orang orang yang duduk karena udzur, di samakan dengan orang orang yang berjalan,

Boleh jadi, orang yang berjalan dengan hatinya (pahalanya) melebihi orang yang berjalan dengan raganya.

Seorang dari salaf bermimpi *** bahwa ada seorang di arafah tanggal 9 dzulhijjah, orang itu berkata padanya “apakah engkau melihat penuhnya manusia di sini ?, tidak seorang pun berhaji (mendapat pahala haji), kecuali seorang yang tidak ada di sini, karena ia berhaji dengan niatnya,  lalu ia meraih keutamaan orang orang yang berada di sini ****”.

Jangan sampai kita luput mendapat ghanimah pada hari agung ini, karena tidak ada gantinya, dan tidak bisa di hargai dengan uang,

Cekatlah dan tangkaslah dalam beramal, bersegeralah sebelum di serang ajal, sebelum menyesal orang orang yang lalai, sebelum ia meminta di kembalikan untuk beramal sedang tidak di penuhi permintaannya, sebelum di halangi orang orang yang berangan angan mewujudkan hayalan,

sebelum seorang tergadai di kubangan lubang amal yang ia persembahkan *****.

Wahai orang yang mulai nampak bibit ubannya, setelah 40 tahun,

Wahai orang yang berlalu di hadapannya tahun tahun, hingga berumur 50 tahun,

Wahai orang yang sudah di pintu kematian, saat umur 60 atau 70 tahun,

apa yang engkau tunggu setelah datang pengkabaran ?,

Apakah engkau tunggu kematian menjemputmu ?,

Wahai orang orang yang bilangan dosanya sebanyak bilangan genap dan ganjil,

Tidakklah engkau malu dengan kiraman katibin (malaikat yang mulia lagi mencatat) ?,

Atau engkau termasuk orang yang mendustakan hari berbangkit ?.

Wahai orang yang pekat gelap hatinya seperti malam bila datang,

Bukankah telah datang waktu untuk menerangi hati atau me lunak kannya ?,

Angin segar di hembuskan pada sepuluh hari ini (dzulhijjah),

Sesungguhnya Allah taala memiliki tiupan rahmat, tiada seorang mendapatkannya, kecuali ia akan berbahagia.”

📚 كتاب *لطائف المعارف* فيما لمواسم العام من الوظائف 518.

______ 🖋

Catatan:

* kami (abu abd rahman) tidak mendapati keterangan yang mengatakan jihad lebih utama dari haji.

Yang kami dapati riwayat Abdullah bin masud radiyallahu anhu,

سألت النبي صلى الله عليه وسلم   اي العمل احب إلى الله ؟

قال الصلاة على وقتها ، قال ثم أي ؟ قال بر الوالدين ، قال ثم اي ؟ قال الجهاد في سبيل الله

(hr Bukhari 527)

Aku bertanya pada nabi shalallahu alaihi wa salam, amal apa yang di cintai Allah,

Di jawab, shalat pada waktunya, lalu apa lagi, di jawab, berbuat baik dengan kedua orang tua, lalu apa lagi, di jawab, jihad di jalan Allah.

** riwayat yang terputus dan ada keraguan dari rawi. (mubham atau riwayat yg tidak di sebutkan nama dalam sanad).

*** dalam islam mimpi tidak di jadikan dasar hukum.

**** tulisan ini, wallahu a’lam, bukan bermaksud merendahkan ibadah haji, sebagaimana yang ada dalam fikiran kaum munafiq liberal.

Bahwa orang liberal berpendapat, lebih baik ibadah sosial dari ibadah haji, atau lainnya, atau ucapan mereka lebih baik hati bersih daripada beribadah tapi dengan orang lain jahat. ini satu kesalahan pemahaman.

Yang benar, sebagaimana penjelasan ibnu rajab dalam hadits niat (riwayat Umar bin Khattab radiyallahu anhu. Hadits Bukhari no 1. Muslim no 1907. Hadits ini di riwayatkan sendirian oleh yahya bin said, berlafad إنما الأعمال بالنيات) kadang amalan hati lebih baik dari amalan dzahir. Dan beliau jelaskan panjang lebar tentang amalan niat ini, (syarah hadits arbaun nawawi ‘jamiul ulumi wal hikam bab 1).

***** kami tidak tau maksud kalimat ini.

Pencari ilmu syar’i

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Jumlah Ahli Ilmu Berbanding Terbalik dengan Penceramah

Jaman Ahli Ilmunya Sedikit, Penceramahnya Banyak

Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata:

إنكم في زمان كثير فقهاؤه قليل خطباؤه، قليل سؤاله كثير معطوه، العمل فيه قائد للهوى، وسيأتي من بعدكم زمان قليل فقهاؤه كثير خطباؤه، كثير سؤاله قليل معطوه، الهوى فيه قائد للعمل، اعلموا أن حسن الهدي في آخىر الزمان خير من بعض العمل

“Sungguh kalian hidup di jaman ahli ilmunya banyak, penceramahnya sedikit, yang meminta-minta sedikit namun banyak yang memberi, di masa seperti ini amalnya seseorang yang mengendalikan hawa nafsunya. Dan kelak akan datang suatu jaman dimana ahli ilmunya sedikit, penceramahnya banyak, yang meminta-minta banyak namun sedikit yang memberi, di masa seperti itu hawa nafsu yang memimpin amalannya. Ketahuilah oleh kalian, bahwa baiknya petunjuk (ilmu dan pemahaman) di akhir jaman lebih baik dari melakukan sebagian amalan.” (Riwayat Imam Malik dalam “Al-Muwattho’ 1/173, Al-Bukhori dalam “Al-Adabul Mufrod” 785, Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani dalam “Al-Fath” 10/510 berkata, “Sanadnya shohih”, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shohih Al-Adabul Mufrod”)

Umat di jaman ini diuji dengan banyaknya penceramah yang mengajak kepada penyelewengan aqidah, banyaknya penceramah yang istihza’ (mengolok-olok) Allah dan Rosul-Nya, banyaknya penceramah yang tampil sebelum waktunya. Sedangkan ahli ilmunya sedikit, dimusuhi dan dituduh sebagai biang perpecahan.

Semoga Allah jadikan semangat berislam kita semangat ikhlas dan mutaba’ah yaitu mengikuti ajaran Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Bukan semangat mengikuti sosok tertentu atau semangat membela agama tanpa dilandasi ilmu karena yang demikian itu pada hakikatnya hawa nafsu.

Ustadz Fikri Abul Hasan

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Nasehat buat penuntut ilmu

MATERI KAJIAN ONLINE KE 7 UFHA

tema : Nasehat buat penuntut ilmu

Pemateri : Al-Akh Abu royhan Hafidzahullah 

📚  NASEHAT BUAT PENUNTUT ILMU

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Sebagai seorang muslim khususnya para penuntut ilmu, kita wajib mensyukuri Nikmat Islam dan hidayah sunnah yang Allah berikan kepada kita. Dua nikmat ini haruslah ada pada diri kita. Jika hanya nikmat Islam saja, maka ini belumlah cukup karena betapa banyak saudara kita yang beragama Islam namun hidayah sunnah belum ada pada mereka.

Kita bisa lihat banyak saudara-saudara kita masih mengamalkan perbuatan kesyirikan, bid’ah, dan lainnya padahal mereka muslim. Namun hidayah sunnah belum mereka dapatkan. Oleh karena itu, ada beberapa poin nasehat yang harus kita ketahui, diantaranya adalah :

1⃣ Seorang Penuntut Ilmu Hendaknya Beradab dalam Menuntut Ilmu

Ilmu itu butuh adab yang menyertainya dan sopan santun yang menjaganya, perilaku baik yang akan mengangkat derajatnya. Jangan sampai ilmu itu menyebabkan jeleknya adab, kemarahan, kekerasan dan kurang ajar terhadap sesama penuntut ilmu, lebih-lebih seorang murid dengan gurunya. Maka seorang murid wajib untuk beradab terhadap gurunya sekalipun ia mendapatkan kesalahan padanya dan sang murid menyangka bahwa dirinyalah yang benar, meski demikian hendaklah ia tetap menjaga adabnya baik dalam berkata, mengungkapnya dengan bahasa yang halus serta melembutkan perkataannya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama.”

(HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami).

2⃣ Menuntut Ilmu Itu Wajib (Fardhu Ain)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

*”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”* [HR. Ibnu Majah]

Menuntut ilmu adalah suatu kemuliaan yang sangat besar dan menempati kedudukan tinggi yang tidak sebanding dengan amal apapun.

*Dan Menuntut ilmu itu ibadah dan kita diciptakan untuk ibadah.* Kita tidak akan tahu akan Islam tanpa belajar. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(٥٦)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Az-Zariyat: 56]

*Menuntut ilmu itu salah satu jalan menuju Surga.* Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.

“Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga.”  [HR. Muslim]

Di dalam hadits ini terdapat janji Allah ‘Azza wa Jalla bahwa bagi orang-orang yang berjalan dalam rangka menuntut ilmu syar’i, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju *SURGA.*

Jadi laki-laki dan wanita *DIWAJIBKAN* menuntut ilmu, yaitu ilmu yang bersumber dari Al-Qur-an dan As-Sunnah karena dengan ilmu yang dipelajari, ia akan dapat mengerjakan amal-amal shalih, yang dengan itu akan mengantarkan mereka ke Surga.

*Kewajiban menuntut ilmu ini* mencakup seluruh individu Muslim dan Muslimah, baik dia sebagai orang tua, anak, karyawan, dosen, Doktor, Profesor, dan yang lainnya. Yaitu mereka wajib mengetahui ilmu yang berkaitan dengan muamalah mereka dengan Rabb-Nya, baik tentang Tauhid, rukun Islam, rukun Iman, akhlak, adab, dan mu’amalah dengan makhluk.*

Majelis-Majelis Ilmu juga merupakan Taman-Taman Surga. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْـجَنَّةِ فَارْتَعُوْا، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا رِيَاضُ الْـجَنَّةِ؟ قَالَ: *حِلَقُ الذِّكْرِ.*

“Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, perbanyaklah berdzikir.” Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman Surga itu?” Beliau menjawab, *”Yaitu halaqah-halaqah dzikir (majelis ilmu).”*  [HR. Tirmidzi]

Ketahuilah bahwa *majelis dzikir yang dimaksud adalah majelis ilmu, majelis yang di dalamnya diajarkan tentang tauhid, ‘aqidah yang benar menurut pemahaman Salafush Shalih, ibadah yang sesuai Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, muamalah, dan lainnya.*

3⃣ Agama Itu Adalah Nasihat

Dalam sebuat hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: ِللهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ.

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat.” Mereka (para Sahabat) bertanya: “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.” [HR. Muslim]

Nasihat ini ana kutip atau ana ambil dari nasihat Syaikh Ali Hasan Alhalabi hafidzahullah. Beliau salah satu ulama salafi sekaligus murid dari Syaikh Muhammad Nasaruddin Albani Rahimahullah.

Beliau hafidzahullah berkata :

Yang ingin aku ingatkan dalam rangka saling menasihati dan saling berwasiat, untuk menetapi kebenaran dan kesabaran adalah masalah ikhlas. Ikhlas merupakan rahasia (diterimanya) ibadah. Kita sering melihat amalan seseorang yang begitu tekun, begitu bersungguh-sungguh, baik dalam mengeluarkan shadaqah atau pun infak akan tetapi itu semua jadi bumerang baginya (tidak mendapatkan pahala).

Allah Jalla Jalaluhu berfirman :

وَقَدِمْنَاۤ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَآءً مَّنْثُوْرًا(٢٣)

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” [QS. Al-Furqan: 23]

Setiap amalan yang tidak ikhlas, bukan saja amalan tersebut tidak bermanfaat bagi pelakunya tetapi juga menjadi bencana dan bahaya yang akan menimpa pelakunya.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ…(٥)

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…” [QS. Al-Bayyinah: 5]

Ikhlas merupakan cahaya yang memberikan petunjuk dan menyinari pelakunya menuju jalan keselamatan serta mendekatkan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Untuk mewujudkan keikhlasan membutuhkan ketekunan, kesabaran serta kesungguhan, sebab menanamkan keikhlasan bukanlah perkara yang mudah karena setan selalu mengawasi gerak-gerik manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ(٨٢) اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ(٨٣)

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.” [QS. As-Shad: 82-83]

Yang dinamakan mukhlis adalah orang yang dikokohkan keikhlasan dan kemurnian niatnya serta kesucian hatinya menuju Rabbul Bariyyah, Yang Maha Mulia dalam ketinggian serta Agung, berada di atas ‘Arsy. Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ(٦٩)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”  [QS. Al-‘Ankabut: 69]

Perjalanan hidup manusia dalam beramal, kadang kala diliputi oleh rasa ikhlas dan jujur untuk melawan tipu daya setan yang mana (setan) tersebut selalu menghiasi amalannya yang tidak ikhlas dibuat seperti amalan yang ikhlas.

Demikian juga sebaliknya kadang kala setan menghiasi amalan orang yang ikhlas dibuat seperti amalan orang yang tidak ikhlas sehingga membuat dia berhenti dari beramal dan tidak beristiqomah.

Oleh karena itu, orang yang benar-benar memiliki kejujuran (dalam beribadah) kepada Allah Jalla Jalaluhu, akan tetap konsisten dalam beramal dan mampu menghalau tipu daya setan dengan melawan kecenderungan hawa nafsunya yang selalu mengarah kepada kejelekan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits qudsi, Allah Jalla Jalaluhu berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu terhadap diriKu.”

[HR. Bukhari 7405 Muslim 6952 ; bersumber dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu]

Maka berprasangka baiklah kepada Allah Jalla Jalaluhu dan peruntukkanlah semua amal kebaikanmu hanya kepada Allah Jalla Jalaluhu semata. Perangilah was-was setan dan hawa nafsumu, niscaya Allah Jalla Jalaluhu akan menolongmu. [Selesai Ucapan Syaikh]

4⃣  Sumber Dalam Beragama yaitu Al-Quran, As-Sunnah, Pemahaman Shahabat

Allah Ta’ala berfirman:

…فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّى هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى(١٢٣)

“…Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”

[QS. Ta-Ha: 123]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

…وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ(١)

“…Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang beriman.” [QS. Al Anfal: 1]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً(٥٩)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri (ulama dan umara’) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. An-Nisaa: 59]

Dari hadits, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَ هُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

“Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di Telaga (di Surga).” [Hadits shahih riwayat al-Hakim (I/93) dan al-Baihaqy (X/114)]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

“Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (ia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagimu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan.”*_ [HR Abu Dawud, no. 4.607; Tirmidzi, 2.676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah]

Dari keterangan di atas, jelaslah kedudukan As Sunnah terhadap Al Qur’an:
1. Memiliki kedudukan yang sama sebagai sumber agama, karena As Sunnah dan Qur’an, keduanya merupakan wahyu.
2. Memiliki kedudukan yang sama sebagai hujjah (argumen) dan wajib untuk diikuti.

Kesimpulannya, Al Qur’an dan As Sunnah adalah dua yang saling menyatu, tidak berpisah. Dua yang saling mencocoki, tidak bertentangan.

Adapun Dalil yang mewajibkan kita untuk merujuk dalam memahami kitab dan sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shaleh, berikut di antaranya:

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(١٠٠)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [QS. At-Taubah: 100]

Allah berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا(١١٥)

“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.”[QS. An-Nisaa’: 115]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka.” [Muttafaq`alaihi]

5⃣ Agama Islam Adalah Agama Ilmu

Bukan seenaknya orang berbicara. Menurut saya, ustadz dan lainnya. Kita harus berbicara sesuai ilmu (dalil). Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا(٣٦)

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” [QS. Al-Isra’: 36]

Dalam beragama harus ada dalil jangan hanya klaim semata. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهٰنَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِينَ(١١١)

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani. Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.” [QS. Al-Baqarah: 111]

Kaum muslimin dalam beragama saat ini :
– Mengikuti kebanyakan manusia.

Allah berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِى الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ(١١٦)

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”  [QS. Al-An’am: 116]

Allah berfirman dalam ayat di atas bahwa Manusia mengikuti orang banyak maka ia akan sesat.

– Mengikuti agama nenek moyang mereka.

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَآ أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۗ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ(١٧٠)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, (Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya). Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.” [QS. Al-Baqarah: 170]

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَآ أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطٰنُ يَدْعُوهُمْ إِلٰى عَذَابِ السَّعِيرِ(٢١)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang diturunkan Allah! Mereka menjawab, (Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami. Apakah mereka (akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun sebenarnya setan menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-nyala (Neraka)?”  [QS. Luqman: 21]

Allah berfirman:

وَكَذٰلِكَ مَآ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِى قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلٰىٓ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلٰىٓ ءَاثٰرِهِمْ مُّقْتَدُونَ(٢٣)

“Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.”  [QS. Az-Zukhruf: 23]

6⃣ Agama Islam Adalah Agama yang Sudah Sempurna

Suatu ajaran jika sudah dikatakan telah sempurna, maka tidak butuh adanya tambahan. Kalau ditambah, itu sama saja menyatakan bahwa ajaran tersebut tidaklah sempurna. Allah berfirman:

…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا ۚ …(٣)

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu…”[QS. Al-Ma’idah: 3]

Agama ini telah sempurna tidak butuh penambahan dan pengurangan. Nabi telah menjelaskan semua, berkata Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.

“Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.” [HR. At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (II/155-156 no. 1647) dan Ibnu Hibban (no. 65) dengan ringkas dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 1803]

Barang siapa yang membuat ibadah yang lain seperti dzikir dan lain-lain dimana Nabi tidak mencontohkan maka ia menuduh Nabi berkhianat.

Imam Malik bin Anas Rahimahullah dikenal sebagai ulama yang tegas dalam menyikapi bid’ah. Di antara perkataan beliau yang masyhur ialah: “Barangsiapa membuat bid’ah (perkara baru) di dalam Islam (dan) ia menganggapnya sebagai kebaikan, maka ia telah menyangka bahwa (Nabi) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah.  Karena Allah Ta’ala berfirman:

…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا…(٣)

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu…”[QS. Al-Maidah: 3]

Maka apa-apa yang pada hari itu bukan agama, pada hari ini pun tidak menjadi agama.” [Al I’tisham (1/64), karya Asy Syatibi]

Oleh karena itu, ibadah yang mereka lakukan dan tidak ada contohnya maka akan tertolak. Banyak hadits yang menyebutkan akan hal ini, diantaranya adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” [HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718]

Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim no. 1718]

Dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676]

Hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits tersebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR. Muslim no. 867]

7⃣ Senantiasa Ikhlas dalam Menuntut ilmu.

Ikhlas dalam menuntut ilmu itu bisa dicapai dengan beberapa hal:

– Pertama : Belajar dengan niat melaksanakan perintah Alloh.

Karena Alloh telah memerintahkannya, Alloh berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Alloh dan mintalah ampun atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Dan Alloh subhanahu wa ta’ala juga mendorong orang supaya menuntut ilmu. Sedangkan dorongan Alloh atas sesuatu memberikan konsekuensi kecintaan dan keridhoan Alloh terhadap hal itu.

– Kedua : Belajar dengan niat menjaga syariat Alloh.

Karena menjaga syariat Alloh hanya bisa dilakukan dengan mempelajari dan menghafalkannya, dan bisa juga dengan mencatat.

– Ketiga : Belajar dengan niat untuk melindungi syariat dan membelanya.

Karena seandainya tidak ada ulama niscaya syariat tidak akan terlindungi. Dan tidak ada seorang pun yang menjadi pembelanya.

– Keempat : Belajar dengan niat mengikuti syariat atau petunjuk Rasulullah Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Karena tidak mungkin bisa mengikuti syariat beliau kecuali dengan ilmu.

– Kelima : Belajar dengan niat menghilangkan kebodohan dari dirimu sendiri dan orang lain. (Diambil dari Kitabul ‘Ilmi, hal. 199, cetakan Daar Ats Tsuraya)

Dan terakhir dari ana, hendaknya kita mengikhlaskan hati kita dalam beribadah. Ketika ada saudara yang memberikan nasihat maka terimalah selama nasihat itu untuk kebaikan. Nasihat itu tanda cinta agar ada kebaikan bukan untuk menjatuhkanmu

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🖊Al -akh  Abu Royhan dari beberapa sumber

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Artikel :Ukhuwahfillhijrah.com
Link WAG : http://bit.ly/2UfH-Adm1
Follow our chanel : t.me/ukhuwwah