FIQIH ZAKAT

FIQIH ZAKAT

ZAKAT, SUDAHKAH KITA PATUH MEMBAYAR ZAKAT ?

(seputar hukum zakat mal dan fitrah)

abu abd rahman bin muhammad suud al atsary

Allah subhanahu wa taala berfirman

…. و ويل للمشركين • الذين لا يؤتون الزكوت …

سورة 41 فصلت 6-7

Dan celakalah orang orang musyrik* • yaitu orang orang yang tidak membayar zakat

* as Syaikh As sady rahimahullah berkata

“… yaitu orang orang yang mengibadati apa apa yang tidak mampu mendatangkan bermanfaat, mudharat, kematian, kehidupan, dan tidak membangkitkan, mereka menodai diri diri mereka, tidak membersihkan diri nya dengan men Esa kan Allah Rabb nya, dan tidak mengikhlaskan ibadah pada Nya.

Mereka tidak shalat dan tidak pula membayar zakat, tidak ada keihlasan pada Rabb dengan tauhid dan shalat, serta tiada memberi manfaat kepada sesama dengan membayar zakat…”

(tafsir taisir karimir rahman surah fushilat)

… و الذين يكنزون الذهب والفضة ولا ينفقونها في سبيل الله فبشرهم بعذاب أليم

سورة 9 التوبة 34

Dan orang orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfaqkannya di jalan Allah, maka berilah berita gembira pada mereka dengan azab yang pedih

خد من اموالهم صدقة تطهرهم و تزكيهم بها و صلى عليهم…

سورة 9 التوبة 103

Ambillah dari harta mereka sebagai sedekah * untuk membersihkan dan mensucikan mereka, dan doakanlah mereka.

*sedekah ada 2 sedekah wajib dan sedekah sunnah, sedang yang di maksud ayat ini adalah sedekah wajib/zakat.

HUKUM ZAKAT

berkata syaikh Abdul Adzim bin Badawi al Khalafi

“berkata Sayyid Sabiq rahimahullah

“zakat adalah satu amalan fardhu (wajib) yang di sepakati ummat islam, dan sudah di kenal dan termasuk ilmu agama yang tidak boleh tidak seorang harus tau, yang andaikan ada orang mengingkari wajibnya zakat, maka di nyatakan keluar dari islam…”

(fiqih sunnah 1/281. Al wajiz fi fiqih sunnah wal kitabi aziz /423).

SIAPA YANG WAJIB BERZAKAT

zakat di wajibkan pada

setiap muslim yang merdeka,

Memiliki harta yang wajib di zakati, setelah melewati satu tahun (haul) dan sudah mencapai ukuran minimal (nishab) untuk di keluarkan dan dimiliki / kuasai penuh,

kecuali tanaman yang wajib di zakati, di keluarkan saat panennya (lihat Q surah al an’am 141)

Juga yang perlu di perhatikan, bila harta yang wajib di zakati itu tercecer dalam bentuk uang, emas, atau perak, serta laba perdagangan, maka seluruhnya di gabung, dan bila setelah di hitung, jumlah nominalnya telah malampaui batas minimal wajib zakat mal, maka di keluarkan zakatnya.

juga zakat boleh di segerakan haulnya, jika ada sebab terpenuhinya wajib lainnya yakni nishab.

SIAPA YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

secara umum zakat di berikan pada

orang islam

mereka bukan sanak famili, seperti orang tua ke atas, bukan pula anak ke bawah, istri, sedang suami boleh menerima zakat istri sebagaimana hadits zainab istri Abdullah bin mas’ud yang bertanya pada nabi shalallahu alaihi wa salam (hr bukhari 1/619 no 1371)

dan bukan kerabat nabi/ ahlul bait (bani hasyim dan bani abdul muthalib).

Juga hal ini di sebutkan dalam firman Allah taala di surah 9 at taubah ayat 60 tentang 8 golongan penerima zakat

انما الصدقت

للفقراء
و المسكين
و العاملين عليها
والمؤلفة قلوبهم
و فى الرقاب
و الغارمين
و في سبيل الله
و ابن السبيل ….

Sesunguhnya sedekah /zakat itu Untuk orang fakir miskin amilnya (pengurus zakat) Muallaf yang telah di tundukkan hatinya riqob atau orang yang dalam tawanan atau budak gharim atau orang yang berhutang sabilillah atau orang yang berjuang di jalan Allah ibnu sabil atau orang yang dalam perjalanan …. (Qs 9 at Taubah ayat 60)

HARTA YANG WAJIB ZAKAT

harta yang wajib zakat ada 5

المواشي
الاثمان
الزروع
الثمار
عروضالتجارة

Di sebut dalam matan abi syuja’

“تجب الزكاة في خمسة اشياء
وهي : المواشي ، والاثمان ،و الزروع، والثمار ، و عروض التجارة”

di wajibkan zakat dalam 5 hal,

Yaitu:

hewan ternak
barang berharga
tanaman
buah buahan
hasil perdagangan

ZAKAT MAL

Yang kami maksud zakat mal adalah harta yang meliputi uang atau emas dan perak, serta hasil perdagangan. Yakni ketika seorang memiliki sejumlah harta yang telah terkumpul dua syarat baik haul dan nishabnya, dalam satu tahun yang setara ukuran (konversi) zakat emas atau perak. Untuk ukuran emas adalah 85 gram Untuk perak adalah 595 gram. Apakah harta yang kita miliki di konversikan pada emas atau perak, jumhur ulama mengatakan bahwa zakat mal di konversikan pada emas karena kesetabilan harga. Namun, Wallahu a’lam, kami (abu abd rahman) memandang untuk saat ini, ketika hawa nafsu di turuti, seorang loba pada harta, dan kekikiran di turuti, maka kita ambil konversi yang lebih kecil (perak) Dan harga emas dengan perak sangat jauh saat ini, Untuk harga emas saat ini bila 85 gram sekitar -+35 juta rupiah. Untuk harga perak saat ini bila 595 gram sekitar -+ 3 juta rupiah. (tergantung harga terbaru)

Jadi bila ada seorang memiliki sejumlah harta uang/harta/penghasilan/laba atau emas dan perak setara di atas, maka wajib baginya zakat. Bila seorang mengkonversikan dengan emas berarti setiap memiliki harta sekitar 35 juta, Atau, sebagaimana kami sebut, untuk mengambil konversi terkecil, yakni perak atau sekitar 3 juta. Maka bilaharta atau uang itu telah di milikinya selama satu tahun dan tidak berkurang, maka di keluarkan zakatnya 2 , 5 %. Juga, sebagaimana kami sebut di atas, bahwa “emas di gabung dengan perak (uang) untuk menyempurnakan nishab, dan nilai laba dagangan dapat di gabung dengan emas atau perak” (mudawanatu kubra malik 5/3 lihat az zakah fii islam syaikh said al qahthani)

Perhiasan wanita

berkata syaikh Abdul Adzim badawi “zakat perhiasan adalah wajib (jika telah tercapai minimal batas ukuran) berdasar keumuman hadits, sedang barang siapa mengeluarkan dari keumuman tersebut, ia tidak memiliki hujjah yang kuat” (al Wajiz, kitab zakah 427)

Di sebut dalam hadits Amr bin syuaib dari ayah, dari kekeknya, tentang wanita yang memakai gelang,

Lalu nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda

اتعطين زكاة هذا ؟

Sudahkah engkau keluarkan zakatnya gelang ini ?

(hr abu dawud, nasai, tirmidzy, shahih abu dawud 1563).

ZAKAT FITRAH

الفطر

dari perkataan

افطر الصائم

orang yang puasa itu berbuka, Istilah zakat fitrah adalah zakat wajib, dengan sebab seorang nantinya akan berbuka (berhari raya) dari puasa ramadhan

menurut ulama fiqih

zakat fitrah:
Adalah shadaqoh tertentu, dengan kadar tertentu, di bayar orang tertentu, dengan syarat tertentu, di bagikan pada orang tertentu, dengan sebab akan berbukanya seorang (berhari raya) dari puasa ramadhan, untuk mensucikan orang yang puasa dari hal sia sia, perkataan kotor, dan memberi makan orang miskin.

Hukum zakat fitrah adalah wajib (hr bukhari 1405)

Kapan di keluarkan

zakat fitrah di keluarkan sebelum seorang sebelum shalat ied, waktu wajibnya adalah sebelum tengelam matahari di hari terakhir bulan ramadhan, dan boleh di keluarkan sejak awal ramadhan sampai di tegakkan shalat iedul fitri.

“maka barang siapa membayarnya seusai shalat iedul fitri, maka itu sedekah biasa”

(hr ibnu majah 1/585)

Siapa yang wajib zakat fitrah

yakni setiap muslim yang merdeka, dan orang yang menjadi tangungannya, yang memiliki makanan pokok untuk dirinya dan keluarganya untuk sehari semalam (al wajiz kitab zakah 449)

berapa kadar besarnya

Yakni besaran kadar zakat fitrah adalah 1 sha atau kurang lebih 3 kilogram.

Kepada siapa zakat fitrah di berikan

Zakat fitrah di berikan pada orang fakir miskin di daerah ia (orang yang berzakat) berdomisili. Makruh, di berikan pada orang miskin di daerah lain, bila ada orang miskin di daerah tersebut. Sebagaimana fatwa syaikh ibnu baaz, dari hadits muad bin jabal “dari orang kaya mereka, untuk orang miskin mereka” Imam Ibnu Qoyim dalam zaadul maad fi hadyi khairil ibad berkata “merupakan petunjuk nabi shalallahu alaihi wa salam menghkususkan zakat fitrah untuk fakir miskin, dan tidak di bagikan kepada golongan yang delapan”.

Hukum zakat fitrah dengan harganya

Syaikh Abdul Aziz bin baaz rahimahullah berkata

“tidak boleh membayar zakat fitrah dengan harganya menurut jumhur ulama, dan ini sesuai perilaku nabi shalallahu alaihi wa salam” (majmu fatawa ibu baaz 14/202)

Jenis benda yang di gunakan membayar zakat

1 makanan pokok,

Maka telah dusta orang yang menyatakan bahwa membayar zakat dengan beras adalah bid’ah, dan menyamakan bidah maulid nabi dengan zakat mengunakan beras, karena beras termasuk makanan pokok.

2 empat jenis dari, kurma, syair (gandum), keju, kismis (anggur kering)

dari Abu Said al Khudri radiyallahu anhu

كنا نخرج زكاة الفطر

صاعا طعام
او صاعا من شعير
او صاعا من تمر
او صاعا من اقط
او صاعا من زبيب

kami biasa mengeluarkan zakat fitrah (di jaman nabi) dengan satu sha makanan, Atau, satu sha gandum, satu sha kurma, satu sah keju, satu sha kismis (hr mutafaq alaihi, tirmidzy, nasai, ibnu majah 1829). Alhamdulillah, kami dapat mnyelesaikan tulisan ini, sebagai nasehat bagi kami yang menulis, dan yang membaca. Bila para pembaca menemukan salah tulis atau salah tulisan, mohon memberi koreksi, dan kesempurnaan hanya milik Allah taala.

Di tulis awal hari rabu dan di selesaikan hari jumat bada waktu dzuhur.

::::::::::::::::::::::::::::
Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

FATAWA : Tempat Terbaik Wanita adalah Dirumahnya

FATAWA

💦 SAUDARIKU MUSLIMAH PULANGLAH, TEMPATMU DI RUMAH BUKAN DI JALANAN(

Hukum wanita keluar demo, minta sumbangan, orasi, dan semisal

Allah tabaroka wa ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

“Dan hendaklah kalian wahai para wanita tetap di rumahmu. Dan janganlah berhias dan bertingkah laku seperti wanita-wanita Jahiliyah dahulu.”

[Al-Ahzab: 33]

 

Sahabat yang Mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,

ما تعبدت الله امرأة ، بمثل تقوى الله ، وجلوسها في بيتها

 

“Tidaklah seorang wanita beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah yang melebihi ketakwaan kepada Allah dan diam di rumah.”

[Tafsir As-Sam’ani, 4/279]

 

Al-Imam As-Sa’di rahimahullah berkata,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ أي: اقررن فيها، لأنه أسلم وأحفظ لَكُنَّ، {وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى} أي: لا تكثرن الخروج متجملات أو متطيبات، كعادة أهل الجاهلية الأولى، الذين لا علم عندهم ولا دين، فكل هذا دفع للشر وأسبابه

“Firman Allah ta’ala,

“Dan hendaklah kalian wahai para wanita tetap di rumahmu.”

Maknanya:

Tinggallah di dalam rumah karena itu lebih menyelamatkan dan menjaga kalian.

Dan firman Allah ta’ala (pada lanjutan ayat),

“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.”

Maknanya:

Wahai para wanita, janganlah kalian sering keluar rumah dengan mempercantik diri atau mengenakan wewangian seperti kebiasaan wanita-wanita Jahiliyah dahulu yang tidak memiliki ilmu dan ketakwaan, maka semua larangan ini demi mencegah kejelekan dan sebab-sebabnya.”

[Tafsir As-Sa’di, hal. 663]


SAUDARIKU MUSLIMAH JANGAN JADIKAN DIRIMU SENJATA SETAN

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat, apabila ia keluar dari rumahnya maka setan akan memperindahnya, dan sungguh seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.”

[HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafaz ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]


Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

أَيْ زَيَّنَهَا فِي نَظَرِ الرِّجَالِ وَقِيلَ أَيْ نَظَرَ إِلَيْهَا لِيُغْوِيَهَا وَيُغْوِيَ بِهَا

“Maknanya adalah setan menghiasi wanita di mata laki-laki. Juga dikatakan maknanya adalah setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan laki-laki dengannya.”

[Tuhfatul Ahwadzi, 4/283]


Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ولا ينبغي أن يغرنا ما يدعو إليه أهل الشر والفساد من المقلدين للكفار، من الدعوة إلى اختلاط المرأة بالرجال؛ فإن ذلك من وحي الشيطان

“Tidaklah patut kita tertipu dengan ajakan orang-orang yang jelek dan rusak dari kalangan pengikut orang-orang kafir, yaitu ajakan untuk campur baur antara laki-laki dan wanita, karena sesungguhnya itu berasal dari ‘wahyu’ setan.”

[Syarhu Riyadhis Shaalihin, 3/152]

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Menerima Uang Asuransi Kematian, Bolehkah? (Tanya Jawab)

••◎❀❖ UKHUWAH FIL HIJRAH ❖❀◎••
Question and Answer

TANYA USTADZ

Nama : Eti
Asal : Semarang
Grup UFHA : UFHA 5

PERTANYAAN

Assalaamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Apakah boleh menerima uang asuransi kematian? Jika sudah terlanjur dikirimkan, apa yang harus kami lakukan? Apa dengan sedekah 2,5% sudah mampu membersihkan uang tersebut?

————————————-

JAWABAN:

وعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah.

Asuransi dan ikut asuransi hukumnya haram dan berdosa.

Karena asuransi adalah perjudian dan riba, serta menghilangkan tawakkal pada Allah ﷻ.

Ini nasehat bagi kita semua, hindari harta haram dan laknat dari Allah ﷻ.

Orang yang suka riba, diriwayatkan,

Esok pada hari kiamat dan hari pengadilan, ia akan diberi pedang, dan akan diajak duel oleh Rabbul ‘alamin, Allah ﷻ.

Hati hati.

Dalilnya surah Al Baqoroh ayat 279.

Bilapun terlanjur dapat asuransi kematian, ambil sesuai premi yang dibayar.

Uang sisanya bukan hak anda, bisa untuk sedekah untuk kepentingan fasilitas umum.

Dan sifat manusia adalah loba pada dunia.

Dikeluarkannya 2,5% tidak membuatnya halal.

Dijawab oleh:
Ustadz Abu Abdurrahman bin Muhammad Suud al Atsary حفظه الله تعالى

•┈┈┈••✦✿✦••┈┈┈•
ᴜᴋʜᴜᴡᴀʜғɪʟʟʜɪᴊʀᴀʜ.ᴄᴏᴍ

Kaidah Ushul Fiqih 10, 11, dan 12)

KAIDAH USHUL FIQIH

Kaidah yang ke 10
.

Perintah dan larangan dalam urusan ibadah pada asalnya wajib dan haram. Sedangkan dalam masalah adab pada asalnya sunnah dan makruh.
.
Perintah dan larangan yang ada dalam al qur’an dan hadits tidak lepas dari dua masalah:
.
Pertama: Masalah ibadah.

Contohnya perintah mengusap kepala dalam wudlu, perintah meluruskan shaff dalam sholat, perintah menggunakan sutrah.
larangan mencukur janggut, larangan menyerupai wanita dsb.
.
Maka dalam masalah ini, perintah pada asalnya wajib dan larangan pada asalnya haram. Tidak boleh dipalingkan kepada sunnah atau makruh kecuali dengan dalil.
.
Kedua: Masalah adab.

Contohnya perintah memulai yang kanan dalam berpakaian, memakai sendal dan sebagainya.
Larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing.
.
Maka perintah dalam masalah adab pada asalnya sunnah. Dan larangan pada asalnya makruh.
Tidak boleh dipalingkan kepada wajib atau haram kecuali dengan dalil.
.
Contoh yang haram karena ada dalil adalah larangan makan dan minum dengan tangan kiri. Hukumnya haram karena menyerupai setan.
.
Wallahu a’lam
.

Kaidah yang ke 11
.

Perintah Allah dan Rasul-Nya hendaknya dilaksanakan sesegera mungkin, tidak boleh ditunda-tunda.
.
Dalilnya adalah hadits kisah perdamaian hudaibiyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam marah kepada para shahabat karena mereka menunda-nunda perintah beliau untuk tahallul dan menyembelih hewan kurban.
.
Secara kebiasaanpun, apabila kita diperintah oleh atasan lalu kita laksanakan dengan segera, maka kita dianggap menghormati atasan.
.
Bila orang tua menyuruh anaknya pergi membeli sesuatu, lalu anak tersebut menunda-nunda perintahnya. Kemudian orang tuanya marah, maka hal seperti ini dibenarkan.
.
Maka tidak dibenarkan menunda- nunda haji bagi orang yang mampu tanpa udzur syar’iy dan sebagainya.
.
Wallahu a’lam
.

Kaidah yang ke 12

Apabila disebutkan keutamaan suatu amal dalam sebuah dalil tanpa ada perintah, maka hukumnya sunnah bukan wajib.
.
Contohnya hadits:
.
السواك مطهرة للفم مرضاة للرب
.
“Bersiwak itu mensucikan mulut dan mendatangkan keridlaan Rabb.” (HR Ahmad)
.
contohnya juga hadits:
.
من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة
.
“Barang siapa yang menghilangkan salah satu kesusahan mukmin, maka Allah akan hilangkan salah satu kesusahannya di hari kiamat.” (HR Muslim).
.
Contohnya juga hadits:
.
من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال فكأنما صام الدهر
.
“Barang siapa yang berpuasa Ramadlan lalu diikuti enam hari syawal, maka seakan akan berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim).
.
Diantara contohnya juga puasa tiga hari setiap bulan, puasa senin kamis dan lain sebagainya.
.
Wallahu a’lam
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Kaidah Ushul Fiqih 7,8, dan 9

KAIDAH USHUL FIQIH

🍀 Kaidah yang ke 7 🍀

Perkara yang diharamkan ada dua keadaan:

1. Diharamkan dzatnya seperti judi, arak, riba dan sebagainya.

2. Diharamkan karena menjerumuskan kepada yang haram. seperti melihat wanita yang bukan mahram diharamkan karena mendekati Zina. memakai sutera diharamkan karena mendekati tasyabbuh dengan wanita. dan sebagainya.

⚉ Perkara yang diharamkan dzatnya DIBOLEHKAN KETIKA DARURAT SAJA.

⚉ Sedangkan perkara yang diharamkan karena menjerumuskan, DIBOLEHKAN DISAAT ADA HAJAT.
contohnya memakai sutera bagi lelaki boleh untuk keperluan pengobatan gatal, melihat wanita boleh untuk tujuan menikahinya, dan sebagainya.
.
Wallahu a’lam


🍀 Kaidah yang ke 8 🍀

Larangan apabila berhubungan dengan dzat ibadah atau syaratnya maka ibadah tersebut batal tidak sah.
Tetapi bila tidak berhubungan dengannya maka sah namun berdosa.

Semua ibadah yang dilarang maka batil tidak sah.
contohnya puasa di hari raya, jual beli riba, sholat di saat haidl, wasiat untuk ahli warits dan sebagainya.

Demikian pula bila larangan mengenai syaratnya seperti memakai pakaian sutra bagi laki laki ketika sholat, jual beli yang mengandung ghoror (ketidak jelasan) karena syarat jual beli adalah harus jelas.
maka ini pun batil tidak sah.

Tapi bila tidak mengenai dzat ibadah dan tidak juga syaratnya seperti sholat dengan menggunakan peci hasil curian, haji dengan uang hasil korupsi, maka ibadahnya sah namun berdosa.

Wallahu a’lam


🍀 Kaidah yang ke 9 🍀

Pada asalnya segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia adalah halal dan suci. Sedangkan ibadah pada asalnya terlarang.

Dalil kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala.

هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا

“Dialah yang telah menciptakan untukmu apa yang ada di bumi ini semuanya.” (Al-Baqarah:29).

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan apa yang ada di bumi ini semuanya sebagai kenikmatan untuk kita sebagai sesuatu yang halal.
Maka tidak boleh mengharamkannya kecuali bila ada dalil.

Adapun dalil ibadah adalah hadits:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barang siapa yang mengada ada dalam perkara kami ini apa apa yang bukan darinya, maka ia tertolak.”(HR Muslim).

Maka tidak boleh kita beribadah kecuali setelah ada dalil yang memerintahkannya. Juga dikarenakan ibadah adalah jenis dari pembebanan, sedangkan pada asalnya manusia tidak diberikan beban.

ini adalah bentuk kemudahan syariat dan kesempurnaan islam. Sehingga kita tidak perlu melelahkan diri untuk membuat sebuah ibadah, karena kewajiban kita hanya ittiba saja.

Maka dalam masalah dunia, kita boleh berkreasi dan membuat tekhnologi yang bermanfaat untuk manusia, meskipun tidak ada di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. karena masalah dunia pada asalnya halal selama tidak ada dalil yang melarang.
.
Adanya mobil, pesawat, kapal, handphone, speaker dan sebagainya adalah masalah duniawi yang dihalalkan dan bukan bid’ah sama sekali.
.
Wallahu a’lam


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Fawaid : Keutamaan Sedekah di 10 Hari Awal Bulan Dzulhijjah

🌺Fawaid🌺

💵🍛 Keutamaan Sedekah di 10 Hari Awal Bulan Dzulhijjah


Asy-Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata :

“Apabila engkau bersedekah dengan dirham (uang) pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijah, dan engkau bersedekah dengan dirham pada sepuluh hari terahir bulan Ramadhan, maka manakah dari keduanya ini yang paling dicintai Allah?
Sedekah pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah lebih dicintai oleh Allah.”

📚 (Al-Liqa` Asy-Syahri, 10)


قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله:

«إذَا تصَدَّقْتَ بدرهَم في هذِه العَشْر، وتصَدَّقْتَ بدرْهَم في عَشْر رمَضَان؛ فأيُّهما أحَبُّ إلى الله؟
الصَّدَقَة في عَشْر ذِي الحِجَّة أحبُّ إلى الله منَ الصَّدَقَة في عَشْر رمَضَان»

[«اللقاء الشهري» (10)

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Fatawa : Hari Arafah & Idhul Adha Ikut Siapa?

🌺Fatawa🌺

🗒 Hari Arafah & Idhul Adha Ikut Siapa?

🖋 Abu Ubaidah As Sidawi


Bila terjadi perbedaan keputusan awal Dzulhijjah yang otomatis berbeda juga hari Arofah dan Idhul Adha-nya antara Pemerintah Saudi Arabia dan Pemerintah kita seperti yang terjadi tahun ini 1439 H, dimana terjadi perbedaan keputusan antara Saudi dengan Indonesia. Hari ahad ini 12 Agustus sudah tanggal 1 Dzulhijjah di Saudi, sedangkan keputusan Kemenag adalah besok Senin Agustus.

Bagaimana menyikapinya?

Kaum musliminin biasanya akan berbeda pendapat dalam sikap sebagai berikut:

Ada yang ikut pemerintah dalam Arofah dan idhul adha secara mutlak

– Ada yang ikut Saudi Arabia dalam Arofah dan idhul adha secara mutlak

– Ada yang ikut Saudi Arabia dalam Arofah saja, sedangkan idhul adha tetap ikut pemerintah.

Masalah ini masalah yang diperselisihkan ulama.

Adapun pendapat yang kuat menurut kami adalah tetap ikut Negara masing-masing dengan beberapa argumen kuat sebagai berikut:
1. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah:

الصَّوْمُ يَوْمَ يَصُوْمُ النَّاسُ وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ

Puasa itu hari manusia berpuasa dan hari raya itu hari manusia berhari raya. Perhatikanlah, Nabi tidak membedakan antara idhul fithri dan idhul adha.

Abul Hasan as-Sindi berkata dalam Hasyiyah Ibnu Majah:
“Dhohir hadits ini bahwa masalah-masalah ini (puasa, idhul fithri dan idhul adha) bukan urusan pribadi, tetapi dikembalikan kepada imam dan jama’ah kaum muslimin. Dan wajib bagi personil untuk mengikuti imam dan jama’ah. Oleh karenanya, apabila seorang melihat hilal lalu imam menolak persaksiannya, hendaknya dia tidak mengikuti pendapatnya tetapi dia harus mengikuti jama’ah dalam hal itu”.

2. Hal ini sesuai dengan kaidah-kaidah Islam:

حُكْمُ الْحَاكِمِ يَرْفَعُ الْخِلاَفَ

Keputusan hakim menyelesaikan perselisihan.
Oleh karenanya, para fuqoha’ menegaskan bahwa hukum/keputusan pemerintah dalam masalah ini menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat, karena hal ini akan membawa kemaslahatan persatuan kaum muslimin yang juga merupakan kaidah agung dalam Islam. (Lihat Al-Istidzkar Ibnu Abdil Barr 10/29 dan Rosail Ibnu Abidin 1/253).

Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syaukani tatkala mengatakan: “Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari’at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi yang mulia dan dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah”. (Al-Fathur Robbani 6/2847-2848).

Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhu Masyakhina Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, beliau berkata: “Demikian juga hari Arofah, ikutilah negara kalian masing-masing”. Kata beliau juga: “Hukumnya satu, sama saja (baik dalam idhul fithri maupun idhul adha)”.(Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 19/41, 43).


JAWABAN TERHADAP PENDAPAT YANG TIDAK MENGIKUTI PEMERINTAH

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa Arofah ikut Saudi karena Arofah itu berkaitan dengan tempat, sedangkan Arofah hanya ada di Saudi Arabia, maka pendapat ini perlu ditinjau ulang kembali, karena beberapa hal:

Pertama:
Akar perbedaan ulama dalam masalah ini bukan karena Arofah itu berkaitan dengan tempat atau tidak, tetapi kembali kepada masalah ru’yah hilal Dzulhijjah, apakah bila terlihat di suatu Negara maka wajib bagi Negara lainnya untuk mengikutinya ataukah tidak?! Dengan demikian, maka patokan Arofah adalah tanggal sembilan Dzulhijjah, adapun istilah “Arofah” hanya sekedar mim bab Taghlib (kebanyakan saja). Marilah kita cermati hadits berikut:

فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

Apabila hilal Dzulhijjah telah terlihat, dan salah seorang diantara kalian hendak berkurban, maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya sedikitpun hingga ia menyembelih kurbannya. (HR. Muslim)

Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa patokannya adalah terlihatnya hilal Dzilhijjah.

Kedua:
Kalau akar permasalahannya adalah karena tempat, hal itu berarti semua kaum muslimin harus mengikuti ru’yah Dzulhijjah Saudi Arabia, sedangkan hal ini tidak mungkin kalau tidak kita katakan mustahil, Karen Para ulama falak -seperti dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- telah bersepakat bahwa mathla’ hilal itu berbeda-beda. Dengan demikian maka mustahil bila semua kaum muslimin di semua Negara ikut ru’yah Saudi Arabia, karena dimaklumi bersama bahwa antara jarak antara Negara bagian barat dan timur sangat jauh sehingga menyebabkan perbedaan tajam tentang waktu terbit dan tenggelamnya matahari, mungkin matahari baru terbit di suatu tempat sedangkan dalam waktu yang bersamaan matahari di tempat yang lain akan terbenam?! Lantas, bagaimana mungkin semua kaum muslimin sedunia bisa berpuasa dan hari raya dalam satu waktu?!! (Qodhoya Fiqhiyyah Mu’ashiroh, Muhammad Burhanuddin hlm. 98-99. Lihat pula Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 19/47).

Ketiga:
Kalau semua kaum muslim sedunia harus mengikuti ru’yah Saudi dalam Arofah, kita berfikir jernih dan bertanya-tanya: Kalau begitu, bagaimana dengan orang-orang dulu yang tidak memiliki Hp atau telpon seperti pada zaman sekarang?! Apakah mereka menunggu khabar dari saudara mereka yang berada di Arofah saat itu?! Apakah perbedaan seperti ini hanya ada pada zaman kita saja?! Bukankah perbedaan seperti sudah ada sejak dahulu?!
Al-Hafizh Ibnu Rojab menceritakan bahwa pada tahun 784 H terjadi perselisihan di Negerinya tentang hilal Dzul Qo’dah yang secara otomatis terjadi perbedaan tentang hari Arofah dan idhul adha-nya. (Risalah fi Ru’yati Dzil Hijjah (2/599 -Majmu Rosail Ibnu Rojab-).

Karenanya, di zaman Ibnu Hajar terjadi perbedaan antara penduduk mekah dan penduduk Mesir dalam menentukan hari Arofah dan hari raya ‘Idul Adha.
Demikian juga Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, beliau berkata: “Tatkala itu wuquf (padang Arofah) di Mekah hari jum’at -setelah terjadi perselisihan-, sementara hari raya
adha di Qohiroh (Mesir) adalah hari jum’at”. (Inbaa’ Al-Ghomr bi Abnaa’ al-Umr fi At-Taariikh 2/425).
Seandainya para ulama dulu ikut ru’yah Saudi Arabia, lantas kenapa ada perselisihan semacam ini?!

Keempat :
Jika memang yang ditujukkan adalah menyesuaikan dengan waktu wukufnya para jama’ah haji di padang Arofah (dan bukan tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan masing-masing negeri), maka bagaimanakah cara berpuasanya orang-orang di Sorong Irian Jaya, yang perbedaan waktu antara Mekah dan Sorong adalah 6 jam?. Jika penduduk Sorong harus berpuasa pada hari yang sama -misalnya- maka jika ia berpuasa sejak pagi hari (misalnya jam 6 pagi WIT) maka di Mekah belum wukuf tatkala itu, bahkan masih jam 12 malam. Dan tatkala penduduk Mekah baru mulai wukuf -misalnya jam 12 siang waktu Mekah-, maka di Sorong sudah jam 6 maghrib?. Lantas bagaimana bisa ikut serta menyesuaikan puasanya dengan waktu wukuf??

(dinukil dari http://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/786-kapan-puasa-arofah)

Kelima :
Jika seandainya terjadi malapetaka atau problem besar atau bencana atau peperangan, sehingga pada suatu tahun ternyata jama’ah haji tidak bisa wukuf di padang Arofah, atau tidak bisa dilaksanakan ibadah haji pada tahun tersebut, maka apakah puasa Arofah juga tidak bisa dikerjakan karena tidak ada jama’ah yang wukuf di padang Arofah? Jawabannya tentu tetap boleh dilaksanakan puasa Arofah meskipun tidak ada yang wukuf di padang Arofah.

Ini menunjukkan bahwa puasa Arofah yang dimaksudkan adalah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Ala kulli hal (bagaimanapun juga), kami sangat menyadari bahwa masalah ini adalah masalah khilafiyyah mu’tabar,

Namun sebagai usaha persatuan kaum muslimin, kami menghimbau agar kaum muslimin tidak menyelisihi pemerintah mereka masing-masing karena hal itu berdampak negatif yang tidak sedikit, apalagi ini merupakan himbaun Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan Kemenag yang dalam hal ini mewakili pemerintahan Indonesia.

(Lihat Himpunan Fatwa Majlis Ulama Indonesia hlm. 42)

Sebagaimana juga kami menghimbau kepada para dai dan mubaligh serta para ustadz untuk menanamkan kepada masyarakat agar cerdas dalam menyikapi perbedaan dan berlapang dada dalam menyikapi perbedaan seperti ini.

Bila ada yang berkata: “Pendapat ini berarti menjadikan pemerintah sebagai Tuhan selain Allah”.

Maka kami katakan : Ini meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, ucapan ini kalau memang pemerintah merubah ketentuan syari’at lalu kita mengikutinya,

Adapun masalah kita sekarang adalah masalah ijtihadiyyah dan khilafiyyah yang mu’tabar,

Maka sangat tidak tepat sekali ucapan di atas diletakkan dalam masalah ini.

Wallahu A’lam.

(lihat Risalah fi Hilal Dzil Hijjah karya Ibnu Rojab 2/608).

🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Keistimewaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام ـ يعني أيام العشر ـ قالوا يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

“Tidaklah ada hari-hari dimana amalan sholih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” Para shohabat bertanya, “Wahai Rosulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau bersabda, “Tidak pula jihad di jalan Allah kecuali orang yang keluar berperang dengan jiwanya dan hartanya kemudian dia tidak kembali pulang.”(HR. Al-Bukhori 969, Abu Dawud 2438, At-Tirmidzi 757)

Dari Abu Qotadah rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa pada hari Arofah, beliau bersabda:

يكفر السنة الماضية والباقية

“(Puasa Arofah itu) menggugurkan dosa-dosa satu tahun sebelumnya dan setelahnya.” (HR. Muslim 1162)

Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin menjelaskan, “Kandungan hadits ini berisi anjuran berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, ”Tidaklah ada hari-hari dimana amalan sholih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

Perkataan beliau shollallahu ‘alaihi wasallam “amalan sholih” yaitu meliputi sholat, shodaqoh, puasa, dzikir, takbir, membaca Al-Qur’an, berbakti kepada kedua orang tua, silaturahim, berbuat baik sesama manusia, berbuat baik kepada tetangga dan selain itu dari amalan-amalan sholih yang lainnya.

Tidaklah ada hari-hari dalam setiap tahun yang bila dikerjakan amalan sholih padanya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Bahkan para shohabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau bersabda, “Tidak pula jihad di jalan Allah kecuali orang yang keluar berperang dengan jiwanya dan hartanya kemudian dia tidak kembali pulang.”

Hadits ini sebagai dalil tentang keutamaan beramal sholih pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, baik dengan berpuasa maupun amalan-amalan sholih yang lainnya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa jihad berperang di jalan Allah termasuk amalan yang utama, karena para shohabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?”

Faidah lainnya dari hadits ini adalah keutamaan amalan yang jarang dialami oleh banyak orang yaitu keluarnya seorang yang berjihad di jalan Allah dengan jiwanya dan hartanya berupa senjata dan hewan yang ditungganginya kemudian dia mati terbunuh lantas musuhnya mengambil senjata dan hewan tunggangannya. Maka orang seperti ini telah mengorbankan jiwanya dan hartanya di jalan Allah dan dia seutama-utamanya mujahid fi sabilillah. Amalan sholih seperti ini merupakan amalan yang lebih utama dari amalan lain yang dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan jika dilakukan jihad semacam itu pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah maka keutamaannya akan berlipat ganda.

Kemudian termasuk hari yang dianjurkan berpuasa adalah hari Arofah sebagaimana riwayat Abu Qotadah, “(Puasa Arofah itu) menggugurkan dosa-dosa satu tahun sebelumnya dan setelahnya.” Yakni satu tahun yang telah lewat karena hari Arofah berada di bulan terakhir dalam setahun serta menggugurkan dosa satu tahun setelahnya. Maka keutamaannya menggugurkan dosa selama dua tahun.” (Syarh Riyadhussholihin 3/504-505)
_______

✍🏻 Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Fatawa : Agustusan

🇮🇩🎋fatawa🎋🇮🇩

AGUSTUSAN

(sebuah nasehat dan renungan)

Oleh :

Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

__________________________________

Hukum acara peringatan 17 agustus

Atas berkat dan rahmat Allah subhanahu wa taala, kaum muslimin dapat keluar dari penjajahan kafir dan dapat menikmati hidup di alam merdeka dari kolonialisme.

Kontribusi terbesar setelah murni karunia Allah subhanahu wa taala, adalah usaha dan perjuangan kaum muslimin dalam merebut kemerdekaan.

Hanya kaum beriman (muslimin) yang punya adil terbesar dalam perjuangan kemerdekaan, di saat ummat dari agama lain mendukung penjajahan dan kolonialisme, bahkan hingga saat ini.

Lihatlah pujian salah satu sekolah agama (seminari) di jakarta, dalam salah satu diktat pengajaran sejarah, memuji penjajahan belanda atas tanah aceh dan mencela perjuangan rakyat aceh yang berusaha mengusir penjajah.

Naam, patut di syukuri, kemerdekaan yang di rebut dengan perjuangan, sehingga kita dapat beribadah dan mencari penghidupan dengan tenang.

Lalu, bagaimana cara memperingati dan mensyukuri kemerdekaan itu ?.

Apakah dengan memperingatinya setiap tahun, dengan pesta pora, karnaval, berjoget, dan musik, serta acara acara yang tidak ada tuntunannya ?

Sesungguhnya para pejuang berkorban agar kita merdeka dari penjajah agar kita dapat hidup layak, bermartabat, dan bebas sebagai hamba Allah, tidak di rendahkan dan di rampas hak hak kita.

Bukan agar kita setelah merdeka, kita peringati dengan hidup hura hura, bersenang senang, dan pesta pora menyambut “kemerdekaan”, dengan “menghidupan malam”, menyetel musik, menutup jalan kaum muslimin, atau minimal “doa lintas agama” atau “doa bersama”.

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan shahabat radiyalahu anhum, juga pernah melewati kesulitan, perjuangan, sehingga Allah memenangkan agamanya,

(Lihat surah 110 an Nasr ayat 1 -3 ).

Dan dalam sejarah, kita tidak menjumpai perayaan perayaan yang di lakukan shahabat dan pendahulu kita, setelah mereka menaklukkan satu negeri atau mendapat kemenangan.

Sebagaimana rasulullah shalallahu alaihi wa salam telah menganti perayaan perayaan jahiliyah saat itu, dengan perayaan yang terbaik, yakni Iedul Fitri dan Iedul Adha, yang kita tidak punya hari raya selainnya.

إن الله قد أبدلكم بهما خيرًا منهما، يوم الأضحى و يوم الفطر

“sesungguhnya Allah telah mengganti nya dengan yang lebih baik, yaitu dengan hari iedul adha dan iedul fitri”

(hr Abu Dawud 1134. Nasai 1556. Ahmad 11595).

Mensyukuri kemerdekaan, wahai saudaraku, adalah dengan kita memuji Allah, beribadah kepada Nya, menjaga kemananan negara, berkontribusi positif, dan tidak membuat kerusakan di dalamnya,

Menyemarakkan dengan tauhid, menjalankan sunnah rasul Nya shalallahu alaihi wa salam, saling menasehati atas dasar taqwa dan persaudaraan, taat kepada pemerintah dalam hal yang ma’ruf, dan mewaspadai upaya perusakan oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab baik dari luar atau dalam.

Bukan dengan perayaan yang jauh dari tuntunan, hura hura, dan kemaksiatan.

Semua itu masuk dalam kaidah,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

barang siapa mengerjakan satu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka perbuatan itu tertolak

(H.R Muslim).

_____________________________________

Hukum undian atau perlombaan berhadiah saat agustusan

Salah satu acara yang biasa di adakan saat agustusan, selain “doa bersama” dan karnaval, adalah perlombaan, jalan sehat, dan undian berhadiah.

Kita tidak melarang perlomban, jalan sehat, undian, atau semisal.

selama memenuhi kaidah kaidah syar’i, dan jauh dari kezaliman, serta kemaksiatan.

Yang kita bicarakan saat ini adalah undian jalan sehat atau lomba tujuh belasan, dengan menarik iuran dari peserta lomba dan jual kupon.

Yang kita masalahkan adalah sumber dari hadiah tersebut.

para ulama sepakat, bahwa satu perlombaan di bolehkan mendapat hadiah dari pihak ketiga, baik pemerintah, sponsor, atau donatur

(harta haram muamalat kontemporer hal 275).

Al Qurtubi rahimahullah berkata

“perlombaan… Yang hadiahnya di berikan oleh pemerintah, atau donatur, berupa sumbangan dari harta pribadinya, kemudian di berikan pada pemenang, hukumnya boleh, berdasar ijma ulama”

(fathul bari 6/85)

Imam Ibnu hazim rahimahullah berkata

“para ulama sepakat bahwa perjudian yang di haramkan Allah yaitu, orang yang melakukan perlombaan, barang siapa keluar sebagai pemenang berhak mendapat hadiah dari yang kalah”

Imam Ramli rahimahullah berkata

“… Karena tiap peserta berada dalam untung dan rugi, inilah perjudian yang di haramkan, kecuali ada peserta yang ikut bertanding tanpa membayar”

(nihayatul muhtaj 8/168)

Maka, bagaimana hukum satu perlombaan atau jalan sehat berhadiah dengan menjual kupon undian atau iuran ?

Hal ini di rinci.

1. Bila iuran atau penjualan kupon itu untuk konsumsi, baju, dan semisal, dan hadiah satu perlombaan di dapat dari pemerintah, sponsor, dan semisal, bukan di ambil dari iuran atau jual kupon,

atau kupon itu di beri secara cuma cuma (tidak membayar/gratis),

Maka hadiah yang di dapat boleh, dan bukan perjudian.

2. Bila kupon itu untuk hadiah, dan setiap peserta membeli atau membayar dengan jumlah uang tertentu, misal seharga 2 ribu rupiah, dan hasil dari iuran atau jual kupon untuk membeli hadiah dan di berikan pada pemenang,

maka hal ini harom dan termasuk judi.

Allah subhanahu wa taala memperingatkan kita,

انما الخمر و الميسر و الأنصاب و الأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه

Sesungguhnya khamr, judi, sesaji untuk berhala, dan mengundi, adalah rijs (najis dan kotor), perbuatan setan, maka jauhilah

(Surah 5 al Maidah 90).

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata

” ketika seorang berlomba dan ada hadiahnya, namun masing masing membayar iuran, maka hukumnya tidak boleh, dan termasuk judi, karena masing masing ada dua kemungkinan, beruntung atau rugi…”

(al mughni 11/131).

Dan ada fatwa dari MUI (jawa timur) yang kami ketahui, dari dewan fatwanya

‘bila peserta jalan sehat di pungut biaya, selanjutnya biaya itu di jadikan hadiah bagi pemenang, maka hal itu hukumnya harom’.

Di samping itu, kemungkaran lain dalam jalan sehat agustusan, adalah keluarnya wanita dengan pakaian tidak menutup aurat, bersolek / tabaruj, ikhtilat, dan kemungkaran seperti pangung gembira dengan musik dan joget serta lainnya, maka mafsadahnya sangat besar.

Semoga Allah subhanahu wa taala memberi kita hidayah.

__________________________

🇮🇩 HUKUM HORMAT KEPADA BENDERA DAN LAGU KEBANGSAAN

Al Lajnah Ad Daimah Saudi Arabia:
Apakah boleh berdiri untuk menghormati lagu kebangsaan atau hormat kepada bendera ?

Jawab:

Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan.

Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari yang tidak pernah dilakukan di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam ataupun pada masa al-Khulafa’ Ar-Rasyidin Radiyallahu‘anhum.

Dan yang demikian ini bertentangan dengan kesempurnaan TAUHID yang wajib dan keikhlasan di dalam mengagungkan Allah semata, dan ini merupakan jalan menuju KESYIRIKAN.

Dan yang demikian ini juga termasuk sikap tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, dan merupakan sikap taklid (mengikuti) kebiasaan mereka yang jelek, serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka.

Padahal, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita meniru seperti mereka atau menyerupai mereka.

Wa billahi at-Taufiq, wa shallaallhu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shahbihi wa sallam.

📚[Fatawa Al Lajnah Ad Daimah hal:149]

✍🏻 Catatan Tambahan dari Kami :
– Bila tidak ada bahaya yang mengancam, maka seorang muslim tidak boleh melakukannya, tapi kalau ada bahaya yang mengancam, maka boleh melakukannya dengan tetap mengingkari dalam hati.

-Tetap berusaha menyampaikan atau memberikan alasan (hujjah) kepada panitia akan permasalahan ini dengan tutur bahasa yang baik dan jangan lupa mendoakan mereka agar mereka bisa paham.

Wallahu a’lam

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Bagaimana Kurban Bagi Orang yang Sudah Meninggal?

BAGAIMANA KURBAN BAGI ORANG YANG SUDAH MENINGGAL?

Oleh :
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Menjawab pertanyaan diatas, berikut kami bawakan pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, yang kami ambil dari kitab Ahkam Al-Adhahi wal Dzakaah, dengan beberapa tambahan referensi lainnya.

Pada asalnya, kurban disyari’atkan bagi orang yang masih hidup, sebagaimana Rasulullah dan para shahabat telah menyembelih kurban untuk dirinya dan keluarganya. Adapun persangkaan orang awam adanya kekhususan kurban untuk orang yang telah meninggal, maka hal itu tidak ada dasarnya.

Kurban bagi orang yang sudah meninggal, ada tiga bentuk.

1. Menyembelih kurban bagi orang yang telah meninggal, namun yang masih hidup disertakan. Contohnya, seorang menyembelih seekor kurban untuk dirinya dan ahli baitnya, baik yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia.

Demikian ini boleh, dengan dasar sembelihan kurban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dirinya dan ahli baitnya, dan diantara mereka ada yang telah meninggal sebelumnya. Sebagaimana tersebut dalam hadits shahih yang berbunyi.

“Artinya : Aku menyaksikan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Id Al-Adha di musholla (tanah lapang). Ketika selesai khutbahnya, beliau turun dari mimbarnya. Lalu dibawakan seekor kambing dan Rasulullah menyembelihnya dengan tangannya langsung dan berkata : “Bismillah wa Allahu Akbar hadza anni wa amman lam yudhahi min ummati” (Bismillah Allahu Akbar, ini dariku dan dari umatku yang belum menyembelih) [1]. Ini meliputi yang masih hidup atau telah mati dari umatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Diperbolehkan menyembelih kurban seekor kambing bagi ahli bait, isteri-isterinya, anak-anaknya dan orang yang bersama mereka, sebagaimana dilakukan para sahabat” [2] Dasarnya ialah hadits Aisyah, beliau berkata.

“Artinya : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta seekor domba bertanduk, lalu dibawakan untuk disembelih sebagai kurban. Lalu beliau berkata kepadanya (Aisyah), “Wahai , Aisyah, bawakan pisau”, kemudian beliau berkata : “Tajamkanlah (asahlah) dengan batu”. Lalu ia melakukannya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabil pisau tersebut dan mengambil domba, lalu menidurkannya dan menyembelihnya dengan mengatakan : “Bismillah, wahai Allah! Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad”, kemudian menyembelihnya” [Riwayat Muslim]

Sehingga seorang yang menyembelih kurban seekor domba atau kambing untuk dirinya dan ahli baitnya, maka pahalanya dapat diperoleh juga oleh ahli bait yang dia niatkan tersebut, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Jika tidak berniat baik secara khusus atau umum, maka masuk dalam ahli bait semua yang termaktub dalam ahli bait tersebut, baik secara adat mupun bahasa. Ahli bait dalam istilah adat, yaitu seluruh orang yang di bawah naungannya, baik isteri, anak-anak atau kerabat. Adapun menurut bahasa, yaitu seluruh kerabat dan anak turunan kakeknya, serta anak keturunan kakek bapaknya.

2. Menyembelih kurban untuk orang yang sudah meninggal, disebabkan tuntunan wasiat yang disampaikannya. Jika demikian, maka wajib dilaksanakan sebagai wujud dari pengamalan firman Allah.

فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Artinya : Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah : 181]

Dr Abdullah Ath-Thayaar berkata : “Adapun kurban bagi mayit yang merupakan wasiat darinya, maka ini wajib dilaksanakan walaupun ia (yang diwasiati) belum menyembelih kurban bagi dirinya sendiri, karena perintah menunaikan wasiat” [3]

3. Menyembelih kurban bagi orang yang sudah meninggal sebagai shadaqah terpisah dari yang hidup (bukan wasiat dan tidak ikut yang hidup) maka inipun dibolehkan.

Para ulama Hambaliyah (yang mengikuti madzhab Imam Ahmad) menegaskan bahwa pahalanya sampai ke mayit dan bermanfaat baginya dengan menganalogikannya kepada shadaqah. Ibnu Taimiyyah berkata : “Diperbolehkan menyembelih kurban bagi orang yang sudah meninggal sebagaimana diperolehkan haji dan shadaqah untuk orang yang sudah meninggal. Menyembelihnya di rumah dan tidak disembelih kurban dan yang lainnya di kuburan” [4]

Akan tetapi, kami tidak memandang benarnya pengkhususan kurban untuk orang yang sudah meninggal sebagai sunnah, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi was al sallam tidak pernah mengkhususkan menyembelih untuk seorang yang telah meninggal. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyembelih kurban untuk Hamzah, pamannya, padahal Hamzah merupakan kerabatnya yang paling dekat dan dicintainya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pula menyembelih kurban untuk anak-anaknya yang meninggal dimasa hidup beliau, yaitu tiga wanita yang telah bersuami dan tiga putra yang masih kecil. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyembelih kurban untuk istrinya, Khadijah, padahal ia merupakan istri tercintanya. Demikian juga, tidak ada berita jika para sahabat menyembelih kurban bagi salah seorang yang telah meninggal.

Demikian sedikit ulasan berkenaan dengan kurban bagi orang yang telah meninggal.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VIII/1425H/2004M, Penulis Ustadz Kholid Syamhudi Lc. Penebit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]

_______
Footnote
[1]. Hadits shahih diriwayatkan Abu Dawud dan At-Tirmdzi.
[2]. Majmu Al-Fatawa (23/164)
[3]. Dr Abdullah bin Muhammad Ath-Thayar, Ahkam Al-Idain wa Asyara Dzilhijjah, cetakan Pertama Tahun 1413H Daar Al-Ahimah, Riyadh KSA, hal. 72
[4]. Majmu Al-Fatawa (26/306)

Sumber: almanhaj.or.id

__________________________

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Iuran Kurban di Sekolah

IURAN KURBAN DI SEKOLAH

Oleh
Syaikh Masyhur bin Hasan Salman

 

Pertanyaan :
Syaikh Masyhur bin Hasan Salman ditanya : Menjelang Idul Adha tiba, ada beberapa masalah yang senantiasa mengemuka dan perlu mendapat perhatian. Diantara masalah tersebut, yaitu penyembelihan hewan kurban di sekolah-sekolah. Kegiatan ini sangat marak, karena memang digalakkan oleh beberapa sekolah, baik swasta maupun negeri. Dimana sekolah-sekolah tersebut mengharuskan siswanya untuk mengeluarkan dana dengan jumlah tertentu sesuai dengan keputusan sekolah masing-masing. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli hewan kurban sapi atau kambing. Anggapan yang kemudian timbul, bahwa kegiatan sejenis ini termasuk dalam kategori pelaksanaan ibadah yang sah. Bagaimanakah pendapat ini ? Alasan yang melatar belakangi perbuatan ini, yaitu untuk melatih siswa melaksanakan ibadah.

Jawaban :
Mengenai penyembelihan kurban di sekolah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, baik oleh pihak sekolah ataupun pihak wali murid atau orang tua.

1. Jika seseoraang melaksanakan ibadah kurban dengan cara yang benar dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan syari’at, maka ibadah kurbannya tersebut sah dan cukup untuk dirinya dan anggota keluarganya yang lain, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Namun tidak disyari’atkan bila dikhususkan untuk orang yang sudah meninggal.

Sehingga, jika seorang siswa sudah melaksanakan ibadah kurban di sekolah atau di tempat lainnya dengan cara yang benar, maka syari’at kurban menjadi gugur atas anggota keluarga lainnya. Dalam hal ini, berarti ia mendapatkan limpahan wewenang dari orang tuanya.

Yang harus mendapat perhatian penuh, yaitu pelaksanaan sunnah yang berkaitan dengan ibadah kurban. Diantara sunnah-sunnah itu ialah ; bagi orang yang berkurban dan anggota keluarganya, disunnahkan untuk menyaksikan penyembelihannya, orang yang berkurban disunnahkan untuk mengkonsumsi sebagian daging hewan yang dikurbankan. Sunnah-sunnah ini, kadang kala terabaikan ketika seseorang berkurban di sekolah

2. Pihak sekolah tidak berhak mengharuskan siswanya untuk berkurban di sekolah. Yang berhak untuk menentukan tempat berkurban atau melimpahkan urusan kurban kepada orang lain adalah pemilik kurban, dalam hal ini wali siswa atau bapaknya. Pihak sekolah hanya berkewajiban untuk mengajarkan, melatih dan memotivasi siswanya untuk melaksanakan amalan-amalan ta’at dengan cara yang benar. Jika pihak sekolah mengharuskan siswanya untuk menyembelih hewan kurbannya di sekolah, berarti pihak sekolah telah melakukan sesuatu yang bukan wewenangnya.

3. Adapun masalah iuran untuk kurban, jika memenuhi ketentuan syari’at, maka perbuatan ini sah dan ibadah kurbannya sah. Yaitu satu sapi atau unta untuk tujuh orang. Jika menyalahi ketentuan ini, maka ibadah kurbannya tidak sah.

Khusus mengenai iuran kurban yang dikenakan kepada para siswa sebanyak lima ribu, sepuluh ribu atau beberapa ribu rupiah, kemudian dana yang terkumpul digunakan untuk membeli kambing atau sapi, dan kemudian mereka namakan perbuatan ini sebagai ibadah kurban, maka demikian ini merupakan perbuatan yang keliru. Hal ini, dilihat dari beberap segi:

A. Penyembelihan yang mereka namakan ibadah kurban ini menyelisihi yang telah menjadi ketetapan syari’at. Yaitu seekor kambing untuk satu orang dan seekor sapi untuk tujuh orang. Sedangkan ibadah kurban mereka ini, satu sapi atau kambing untuk puluhan orang, bahkan mungkin ratusan orang. Ini jelas menyelisihi ketetapan syari’at. Karena menyelisihi, maka iuran kurban yang seperti ini tidak bisa dinamakan sebagai ibadah kurban. Dengan kata lain, ibadah kurban seperti ini tidak sah.

B. Ibadah kurban hanya dibebankan kepada kaum muslimin yang mampu. Jika mampu, hendaknya ia berkurban. Dan jika tidak mampu, maka kewajiban syari’at tidak akan dibebankan kepada orang yang tidak mampu.

C. Selanjutnya kami [1], memberi saran, bila beralasan untuk melatih para siswa melakukan perbuatan ta’at, ini tujuan yang sangat mulia. Namun tujuan mulia ini, bukan berarti kemudian boleh dicapai dengan cara yang tidak dibenarkan. Mungkin ada cara lain yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan ini, yaitu dengan memotivasi para siswa untuk menabung. Kemudian jika pada tahun depan tabungannya cukup untuk melakukan kurban, maka dimotivasi untuk melakukannya, dan jika tidak cukup, mungkin bisa dilakukan pada tahun yang akan datang. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

(Diangkat dan disarikan dari sesi tanya jawab di Universitas Brawijaya Malang, Selasa 7 Desember 2004 dengan bahasa bebas)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VIII/1425/2004M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
________
Footenote
[1]. Tambahan penjelasan redaksi majalah as-sunnah

Sumber: /almanhaj.or.id/

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Patungan Hewan Qurban

Patungan Hewan Qurban

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Ustadz. Saya ingin bertanya. Teman-teman saya di kampus ingin berlatih berqurban. Rata-rata kami belum mampu membeli hewan qurban individual jadi kami berniat ‘patungan‘ untuk membeli hewan qurban. Apakah bisa berqurban diniatkan beramai-ramai seperti itu? Atau jadinya berniat sedekah saja? Terima kasih. Jazakumullah khairan katsiran

Dari: Refita Putriana

Jawaban:

Wa’alaikumus salam

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Dalam Ahkamul Udhiyah wa Dzakah (hlm. 26) dinyatakan bahwa kongsi atau gabungan beberapa orang dalam kegiatan berqurban itu ada dua:

Pertama, kongsi dalam pahala.

Yang dimaksud kongsi pahala, seorang shohibul qurban (pemilik hewan qurban) menyembelih hewan qurbannya dengan menyertakan beberapa orang untuk turut mendapatkan pahalanya. Kongsi semacam ini dibolehkan, sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa dalil berikut:

A. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengisahkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan kambing bertanduk, berdiri dengan kaki belang hitam, duduk di atas perut belang hitam, melihat dengan mata belang hitam. Kemudian beliau menyuruh Aisyah untuk mengambilkan pisau dan mengasahnya. Setelah kambingnya beliau baringkan, beliau membaca:

بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Bismillah, Ya Allah, terimalah qurban dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad – shallallahu ‘alaihi wa sallam – .” (HR. Muslim no. 1967)

B. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengikuti shalat idul adha bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di lapangan. Setelah selesai berkhutbah, beliau turun dari mimbar dan mendatangi kambing qurban beliau. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا عَنِّي، وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

Bismillah, wallahu akbar, ini qurban dariku dan dari umatku yang tidak berqurban. (HR. Ahmad 14837, Abu Daud 2810 dan dishahihkan Al-Albani).

Pada pernyataan di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan keluarga beliau dan umat beliau dalam pahala qurban yang beliau sembelih. Padahal saat itu, beliau hanya menyembelih kambing. Sehingga seluruh umat beliau yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala dari qurban beliau. (simak Ahkam Al-Idain fi As-Sunnah Al-Muthahharah, Ali bin Hasan Al-Halabi, hlm. 79).

Kedua, kongsi dalam kepemilikan

Dalam arti beberapa orang urunan untuk membeli seekor hewan qurban.
Untuk kongsi jenis ini hukumnya tidak dibolehkan, kecuali untuk sapi dan onta, dengan jumlah peserta kongsi maksimal 7 orang. Sedangkan kambing, hanya boleh menjadi milik satu orang.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan, “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan haji.

فأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل والبقر، كل سبعة منا في بدنة

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami urunan untuk berqurban onta atau sapi. Setiap tujuh orang diantara kami, berqurban seekor sapi atau onta. (HR. Muslim no. 1318).

Ketentuan bolehnya urunan dalam qurban, hanya boleh untuk sapi atau onta.

Oleh karena itu, praktek di beberapa sekolah, kampus, atau perusahaan, dengan mengadakan urunan untuk membeli seekor kambing, tidak bisa dinilai sebagai qurban. Karena kambing hasil urunan ini menjadi milik semua peserta urunan. Sehingga tidak memenuhi syarat jumlah kepemilikan.

Ketika kegiatan qurban tidak memenuhi persyaratan untuk bisa disebut qurban maka hewan yang disembelih hanya bisa disebut kambing untuk mendapatkan daging. Sebagaimana dulu pernah ada sahabat yang menyembelih kambing untuk qurban sebelum shalat id, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya:

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanya kambing daging.” (HR. Bukhari 955, Abu Daud 280).

Artinya, penyembelihan kambing ini tidak bernilai sebagai ibadah qurban, karena dilakukan sebelum waktunya, sehingga tidak mendapatkan pahala qurban.

Solusi:

Kambing ini bisa menjadi hewan qurban, jika dihadiahkan ke seseorang. Baik anggota yang ikut urunan atau orang lain. Misal dihadiahkan ke gurunya, dosennya, atau salah satu peserta urunan yang disepakati bersama. Sehingga kambing ini menjadi milik satu orang. Selanjutnya dia bisa berqurban dengan kambing itu, dan boleh menyertakan orang lain untuk turut mendapatkan pahalanya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Apakah Berkurban Wajib Bagi Jama’ah Haji?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban, Jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah mu’akkadah (yang dikuatkan), sebagian mereka mengatakan wajib bagi yang mampu melaksanakannya. Dan telah dijelaskan sebelumnya dalam jawaban soal nomor: 36432, perbedaan di atas adalah bagi mereka yang tidak menunaikan ibadah haji.

Adapun bagi jama’ah haji, para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban bagi mereka, antara tetap disyari’atkan bagi mereka berkurban sama dengan orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, atau mereka yang berhaji tidak disyari’atkan untuk berkurban.

Bagi mereka yang mengatakan bahwa jama’ah haji tidak disyari’atkan berkurban, mereka berbeda pendapat tentang sebab-sebabnya, menjadi dua pendapat:

Pertama:

Bahwa jama’ah haji tidak disyari’atkan shalat idul adha, ibadah mereka adalah menyembelih kambing bagi yang haji tamattu’ dan qiran.

Kedua:

Jama’ah haji adalah musafir, sedangkan kurban disyari’atkan bagi mereka yang mukim. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, menurut beliau bahwa jama’ah haji yang berasal dari Makkah bukan termasuk musafir, maka diwajibkan bagi mereka untuk berkurban, inilah rincian madzhab mereka, namun sebagian pendapat mereka adalah:

1.Adapun pendapat madzhab Hanafiyah, telah disebutkan dalam “al Mabsuuth” 6/171: “Kurban adalah wajib menurut kami bagi mereka yang mampu dan mukim”. Dan di dalam “al Jauharah an Nayyirah” 5/285-286: “Tidak wajib bagi orang yang pergi haji yang sedang musafir untuk berkurban, sedangkan bagi penduduk Makkah jika mereka berhaji, maka mereka wajib berkurban”.

2.Sedangkan Malikiyah mereka berkata: “Tidak ada kurban bagi jama’ah haji, disebabkan karena haji mereka, bukan karena mereka musafir”. Dan di dalam “al Mudawwanah” 4/101: “Malik berkata kepadaku: “Tidak ada kurban bagi Jama’ah haji, meskipun mereka berasal dari Mina”. Saya berkata: “Semua orang wajib berkurban menurut Malik kecuali jama’ah haji ?, beliau menjawab: “Ya”.

3.Sedangkan Syafi’iyyah berpendapat bahwa kurban itu sunnah bagi jama’ah haji atau yang lainnya. Imam Syafi’i –rahimahullah- berkata: “Seorang jama’ah haji yang berasal dari Makkah, berpindah-pindah, musafir, mukim, laki-laki, dan perempuan, bagi siapa saja yang mampu mendapatkan hewan kurban, baik semuanya, semua mereka tidak ada bedanya. Jika wajib bagi salah satu dari mereka, maka wajib bagi semua mereka. Dan jika tidak wajib bagi salah satu dari mereka, maka juga tidak wajib bagi semuanya. Dan jika wajib bagi sebagian mereka dan tidak wajib bagi sebagian yang lain, maka jama’ah haji lebih utama untuk diwajibkan berkurban; karena kurban adalah ibadah, dan yang berhaji sedang beribadah juga, adapun yang lainnya tidak dalam kondisi beribadah. Akan tetapi tidak boleh mewajikan (kurban) kepada semua orang kecuali dengan alasan, juga tidak boleh membedakan mereka kecuali dengan alasan pula”. (al Umm: 2/348)

4.Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata: “Kurban bagi jama’ah haji adalah sunnah, sebagaimana bagi mereka yang tidak berhaji”. Sebagian mengatakan: “Tidak ada kurban bagi jama’ah haji….”. dan di dalam “al Muhalla” 5/314-315 disebutkan: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyuruh untuk berkurban, maka jama’ah haji tidak boleh dihalangi dari keutamaan (berkurban) dan bertaqarrub kepada Allah tanpa dalil yang jelas”.

5.Sedangkan pendapat madzhab Hanabilah adalah bahwa kurban boleh dilakukan oleh jama’ah haji. Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata: “Maka jika (jama’ah haji) tidak membawa hady (kambing untuk disembelih), sedang ia wajib membayarkan denda kambing tersebut, maka ia wajib membelinya. Namun jika ia tidak wajib membayar denda, maka disunnahkan untuk berkurban dengan membeli hewan kurban untuk disembelih”. (al Mughni: 7/180). Telah disebutkan dalam hadits ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkurban atas nama istri-istrinya ketika di Mina pada haji wada’ “. (HR. Bukhori 5239, dan Muslim 1211)

Sebagian ulama, seperti Ibnu Qayyim menolak berdalil dengan hadits ini. Mereka berkata: “Yang dimaksud sembelihan dalam hadits di atas adalah al Hady (sembelihan haji)”. (Lihatlah: Zaad Ma’aad: 2/262-267)

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim memilih pendapat bahwa jama’ah haji tidak wajib berkurban. (al Iqna’: 1/409, dan al Inshaf: 4/110). Pendapat ini juga didukung oleh Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah-, dan beliau pernah ditanya: “Bagaimanakah seseorang menggabungkan antara kurban dan haji, apakah hal ini masyru’ (disyari’atkan) ?

Beliau menjawab:

“Jama’ah haji tidak ada berkurban bagi mereka, akan tetapi mereka menyembelih hady (sembelihan haji), oleh karenanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak berkurban pada haji wada’ akan tetapi ia menyembelih sembelihan haji. Akan tetapi jika orang yang berhaji berangkat sendirian, dan meninggalkan keluarganya di rumah, maka ia (sebaiknya) meninggalkan sejumlah uang yang bisa digunakan untuk berkurban sama keluarganya. Ia menyembelih sembelihan haji, dan keluarganya berkurban; karena berkurban disyari’atkan di daerah, sedangkan di Makkah adalah hady (sembelihan haji)”. (al Liqa’ asy Syahri).

Wallahu a’lam.

( islamqa.com )©

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

HUKUM MEMOTONG RAMBUT ATAU KUKU PADA SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH BAGI ORANG YANG AKAN MENYEMBELIH KURBAN

Oleh :
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya :

Ada seseorang yang akan menyembelih hewan kurban hanya untuk dirinya saja. Atau hendak berkurban untuk dirinya dan kedua orang tuanya. Bagaimana hukum memotong rambut dan kuku baginya pada hari-hari di antara sepuluh hari pertama Dzulhijjah? Apa hukumnya bagi perempuan yang rambutnya rontok ketika di sisir? Dan bagaimana pula hukumnya kalau niat akan berkurban itu baru dilakukan sesudah beberapa hari dari sepuluh hari pertama Dzulhijjah, sedangkan sebelum berniat ia sudah memotong rambut dan kukunya?

Sejauh mana derajat pelanggaran kalau ia memotong rambut atau kukunya dengan sengaja sesudah ia berniat berkurban untuk dirinya atau kedua orang tuanya atau untuk kedua orang tua dan dirinya? Apakah hal ini berpengaruh terhadap kesahan kurban?

Jawaban
Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًَا

“Apabila sepuluh hari pertama (Dzulhijjah) telah masuk dan seseorang di antara kamu hendak berkurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulitnya sedikitpun” [Riwayat Muslim]

Ini adalah nash yang menegaskan bahwa yang tidak boleh mengambil rambut dan kuku adalah orang yang hendak berkurban, terserah apakah kurban itu atas nama dirinya atau kedua orang tuanya atau atas nama dirinya dan kedua orang tuanya. Sebab dialah yang membeli dan membayar harganya. Adapun kedua orang tua, anak-anak dan istrinya, mereka tidak dilarang memotong rambut atau kuku mereka, sekalipun mereka diikutkan dalam kurban itu bersamanya, atau sekalipun ia yang secara sukarela membelikan hewan kurban dari uangnya sendiri untuk mereka. Adapun tentang menyisir rambut, maka perempuan boleh melakukannya sekalipun rambutnya berjatuhan karenanya, demikian pula tidak mengapa kalau laki-laki menyisir rambut atau jenggotnya lalu berjatuhan karenanya.

Barangsiapa yang telah berniat pada pertengahan sepuluh hari pertama untuk berkurban, maka ia tidak boleh mengambil atau memotong rambut dan kuku pada hari-hari berikutnya, dan tidak dosa apa yang terjadi sebelum berniat. Demikian pula, ia tidak boleh mengurungkan niatnya berkurban sekalipun telah memotong rambut dan kukunya secara sengaja. Dan juga jangan tidak berkurban karena alasan tidak bisa menahan diri untuk tidak memotong rambut atau kuku yang sudah menjadi kebiasan setiap hari atau setiap minggu atau setiap dua minggu sekail. Namun jika mampu menahan diri untuk tidak memotong rambut atu kuku, maka ia wajib tidak memotongnya dan haram baginya memotongnya, sebab posisi dia pada saat itu mirip dengan orang yang menggiring hewan kurban (ke Mekkah di dalam beribadah haji). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ

“Janganlah kamu mencukur (rambut) kepalamu sebelum hewan kurban sampai pada tempat penyembelihannya “ [Al-Baqarah : 196]

Walahu ‘alam

(Fatawa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, tanggal 8/12/1421H dan beliau tanda tangani)

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]

Sumber: almanhaj.or.id

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Al-Udhiyah (Hewan Kurban)

AL-UDH-HIYAH (HEWAN KURBAN)

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Definisi Udh-hiyyah
Al-Udh-hiyyah adalah hewan yang disembelih pada hari an-nahr (‘Idul Adh-ha) dan hari-hari tasyrik dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Hukum Udh-hiyyah
Bagi orang yang mampu, maka ia wajib melaksanakannya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا.

“Barangsiapa memiliki kemampuan (harta) dan tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” [1]

Segi pengambilan dalil dari hadits di atas yaitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang mampu dan tidak berkurban untuk mendekati tempat shalat, hal itu menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan sesuatu yang wajib (hukumnya bagi dirinya), seolah-olah tidak ada manfaatnya bagi hamba ini mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan shalat disertai meninggalkan kewajiban ini.

Dari Mukhaffaf bin Salim Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami berdiri di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di ‘Arafah, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِيْ كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ وَعَتِّيْرَةٌ، أَتَدْرُوْنَ مَا الْعَتِيْرَةُ؟ هِيَ الَّتِى يُسَمِّيْهَا النَّاسُ الرَّجَبِيَّةُ.

‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya wajib atas setiap keluarga untuk melaksanakan kurban dan ‘atirah setiap tahun. Apakah kalian tahu apakan ‘atirah itu? Itulah yang dinamakan oleh manusia dengan rajabiyah.’” [2]

Namun ‘atirah telah dihapus dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ فَرْعَ وَلاَ عَتِيْرَةَ.

“Tidak boleh far’ dan atirah.”• [3]

Dan dihapuskannya ‘atirah tidak mengharuskan dihapuskannya kurban juga.

Dari Jundub bin Sufyan al-Bajali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari raya kurban:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَعُدْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ.

‘Barangsiapa menyembelih sebelum shalat (‘Idul Adh-ha), maka hendaklah ia menyembelih (hewan) lainnya sebagai gantinya. Dan barangsiapa belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih.’”

Hadits ini sangat jelas menunjukkan kewajiban kurban, terutama lagi karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengulanginya.

Apa Saja Yang Bisa Dijadikan Hewan Kurban?
Kurban tidak boleh kecuali dari sapi, kambing dan unta, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut Nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka…” [Al-Hajj: 34]

Unta Dan Sapi Cukup untuk Berapa Orang?
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Kami pernah safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tibalah hari raya kurban maka kami berpatungan, seekor unta untuk 10 orang dan seekor sapi untuk 7 orang.”

Seekor Kambing Cukup Bagi Seorang Dan Keluarganya
Dari ‘Atha’ bin Yasar, ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, ‘Bagaimanakan cara berkurban pada zaman Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Pada zaman Rasulullah, seseorang menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya. Mereka memakannya dan memberi makan orang lain, kemudian manusia pun saling berbangga diri sehingga seperti yang engkau lihat sekarang.’”

Binatang Yang Tidak Boleh Digunakan Untuk Berkurban
Dari ‘Ubaid bin Fairuz, ia berkata, “Aku berkata kepada al-Bara’ bin Azib, ‘Beritahukanlah kepadaku apa saja binatang kurban yang dibenci atau dilarang Rasulullah?’ Dia berkata, ‘Rasulullah mengisyaratkan dengan tangan beliau begini, namun tanganku lebih pendek daripada tangan beliau: ‘Ada empat binatang yang tidak boleh digunakan untuk kurban, yaitu (1) binatang yang sangat nampak kebutaannya, (2) binatang sakit yang sangat nampak sakitnya, (3) binatang pincang yang sangat jelas kepincangannya, serta (4) binatang tua yang tidak lagi bersum-sum.’”

Berkata ‘Ubaid, ‘Aku benci kalau binatang itu telinganya kuper (cacat).’” Al-Bara’ berkata, “Apa yang engkau benci, tinggalkanlah, namun jangan haramkan atas orang lain.”

Kambing kacangan yang kurang dari setahun tidak sah untuk kurban, berdasarkan hadits al-Bara’ bin Azib, ia berkata, “Pamanku yang bernama Abu Burdah menyembelih sebelum shalat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Kambingmu itu hanya kambing untuk dimakan dagingnya saja.’ Lalu Abu Burdah berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai kambing kacangan yang umurnya kurang dari setahun, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sembelihlah, hanya saja tidak sah bagi selain engkau.’ Kemudian beliau bersabda,

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِيْنَ.

‘Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka ia hanyalah menyembelih untuk dirinya sendiri. Namun barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (‘Id), maka sungguh telah sempurna sembelihannya dengan mendapatkan sunnahnya kaum muslimin.’”

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2532)], Sunan Ibni Majah (II/1044, no. 3123).
[2]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2533)], Sunan at-Tirmidzi (III/37), no. 1555), Sunan Abi Dawud (VII/481, no. 2771), Sunan Ibni Majah (II/1045, no. 3125), Sunan an-Nasa-i (VII/167).
• Far’ adalah anak pertama unta atau kambing yang disembelih oleh orang Jahiliyyah untuk persembahan kepada tuhan mereka. Sedangkan atirah ada-lah binatang yang mereka sembelih sebagai sesajen bagi tuhan mereka.-ed.
[3]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IX/596, no. 5473), Shahiih Muslim (III/ 1564, no. 1976), Sunan Abi Dawud (VIII/32, no. 2814), Sunan at-Tirmidzi (III/34, no. 1548) dan Sunan an-Nasa-i (VII/167).

Sumber: https://almanhaj.or.id/1003-al-udh-hiyah-hewan-kurban.html

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah