Hukum Puasa Syawwal Sebelum Qodho Romadhon

Pembahasan ini terkait puasa sunnah sebelum qodho puasa Romadhon. Hukumnya diperselisihkan oleh para Ulama:

(1). Malikiyyah dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat berpendapat mewajibkan qodho (membayar) puasa Romadhon sebelum puasa sunnah. (Al-Bada’i’ 2/104, Mawahibul Jalil 2/417, Al-Majmu’ 6/375, Al-Mughni 4/401)

Karena qodho hukumnya wajib sedangkan puasa Syawwal hukumnya sunnah maka yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah. Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin sejalan dengan pendapat ini. (Syarh Riyadhussholihin 3/507, Asy-Syarhul Mumti’ 6/448)

Dalilnya hadits Nabi ﷺ, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal maka seperti berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim 1164)


“Barangsiapa yang berpuasa Romadhon” yakni telah puasa Romadhon dengan sempurna. Karena orang yang masih punya utang Romadhon lalu dia puasa enam hari di bulan Syawwal maka dia belum memperoleh pahala puasa setahun.

(2). Syafiiyyah berpendapat mendahulukan qodho Romadhon sebelum puasa sunnah adalah perkara yang dianjurkan tidak sampai derajat wajib. (Ibid)

Artinya boleh berpuasa sunnah sebelum qodho Romadhon akan tetapi yang lebih utama mendahulukan yang wajib.

(3). Hanafiyyah dan Imam Ahmad dalam riwayat lain berpendapat mendahulukan qodho bukan perkara yang wajib (Ibid). Sah-sah saja berpuasa sunnah meski belum qodho Romadhon dalilnya:

• Keumuman ayat, _

“Maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tinggalkan puasanya itu) pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqoroh: 184)

• Hadits Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ, “Jika engkau mau maka boleh berpuasa berlainan hari, jika engkau mau maka engkau boleh berpuasa berturut-turut.” (HR. Ad-Daruquthni)

• Riwayat Aisyah, “Aku pernah punya utang puasa Romadhon tetapi aku tidak mampu mengqodhonya melainkan pada bulan Sya’ban.” (HR. Muslim 1146)

Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqolani, “Riwayat Aisyah ini menunjukkan bolehnya menunda qodho Romadhon secara mutlak baik ada udzur atau tidak.”

• Pendalilan Syaikh Al-‘Allamah Asy-Syinqithi, “Apabila adzan dzhuhur telah berkumandang maka engkau wajib sholat dzhuhur, akan tetapi boleh bagimu mengerjakan sholat sunnah rowatib lebih dulu sebelum sholat dzhuhur. Itu berarti engkau mendahulukan yang sunnah sebelum yang wajib.” (Khulashotul Kalam Fi Ahkam Ulama Al-Baladil Harom hal. 193)

Pendapat Ulama yang lebih kuat di sisi kami adalah pendapat yang mewajibkan qodho sebelum puasa sunnah. Alasannya sebagai berikut:

(1). Hikmah puasa enam hari di bulan Syawwal seperti puasa selama setahun. Apabila seseorang masih punya utang Romadhon maka ganjarannya belum terhitung setahun.

(2). Ayat yang dinukil sesungguhnya berkenaan dengan orang-orang yang tidak mampu seperti orang yang sakit, sedang safar atau udzur lain. Hal itu tidak melazimkan bolehnya puasa sunnah sebelum qodho Romadhon.

Ibnu Hazm menjelaskan, “Apabila seseorang belum ada kemampuan maka dia boleh qodho tanpa berturut-turut dan cukup baginya firman Allah, “Maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa) pada hari-hari yang lain.” (Al-Muhalla 3/308 tahqiq Al-‘Allamah Ahmad Syakir)

(3). Hadits Ibnu Umar sanadnya lemah karena salah seorang rowinya Sufyan bin Bisyr berstatus majhul. (Tamamul Minnah hal. 422 – Al-‘Allamah Al-Albani)

(4). Aisyah menunda qodho puasa karena adanya udzur untuk menyegerakannya. Di sini ada isyarat andaikata Aisyah mampu maka beliau tidak akan menundanya sampai bulan Sya’ban dan udzur ini yang terluput dari Al-Hafidzh Ibnu Hajar. (Ibid)

(5). Pendalilan Al-‘Allamah Asy-Syinqithi kurang kuat karena yang menjadi pokok pembahasan dalam kasus ini adalah utang puasa Romadhon yang harus segera dibayar. Sama seperti orang yang lupa sholat hingga keluar waktunya ketika sudah sadar wajib segera dia tunaikan.

Kendati demikian, apabila seseorang dihadapkan kondisi udzur yang menuntut dia untuk puasa Syawwal terlebih dahulu karena waktunya mepet maka dia boleh mendahulukan puasa Syawwal sebelum qodho Romadhon, wa billaahit tawfiq.

https://t.me/manhajulhaq

Puasa Sunnah Syawwal Berbenturan Dengan Larangan Puasa Hari Sabtu

Puasa Sunnah Syawwal Berbenturan Dengan Larangan Puasa Hari Sabtu

Dijawab Oleh Ustadz Mukhsin Suaidi, Lc, M.E.I حفظه الله)


PERTANYAAN


Assalamu ‘alaikum ustadz,

Kalo kita puasa syawal dengan niat puasa sampai 6 hari dari hari Senin sampai Sabtu; apakah hari sabtunya kita dibolehkan puasa atau tidak? Karena ana pernah dengar bahwa kita diharuskan menyelisihi puasanya kaum yahudi. jazakumullahu khairan ustadz.


Ikhwan

Jawaban



وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Ada Ulama’ yang membolehkan pelaksanaan puasa 6 hari di bulan Syawwal meski salah satu hari nya bertepatan dengan hari Sabtu. Diantara ulama’ yang berpendapat demikian adalah syaikh Ibnu Baz dan syaikh Utsaimin. Syaikh Utsaimin berkata:
Keadaan kedua: Hari Sabtu bertepatan dengan puasa yang disyariatkan berpuasa di dalamnya seperti puasa bidh, puasa arafah, puasa asyura, puasa 6 hari di bulan Syawwal (bagi orang yang telah berpuasa Ramadhan) dan puasa 9 hari di bulan Dzul hijjah maka ketika itu tidak apa karena ia tidak berpuasa pada hari itu dikarenakan hari sabtu tersebut, akan tetapi dikarenakan bahwa hari tersebut termasuk hari-hari yang disyariatkan untuk berpuasa di dalamnya. Majmu’ Fatawa Wa Rasail Al-Utsaimin 20/58

Sebagian ulama’ berpendapat bahwa hukum asalnya tidak dibolehkan berpuasa selain puasa wajib pada hari sabtu. Ini berdasarkan petikan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut:


لَا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلَّا فِي مَا افْتُرِضَ عَلَيْكُم


Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu kecuali puasa yang diwajibkan atas kalian. HR. Abu Daud no.2421 dan Ibnu Majah no. 1726. Dishahihkan oleh Al-Albani
Pendapat ini yang dikuatkan oleh syaikh Al-Abani sebagaimana beliau terangkan di Tamam Al-Minnah 406-407

Untuk keluar dari perselisihan ini sebaiknya tidak melaksanakan puasa sunnah sunnah bulan Syawwal pada hari sabtu bila masih ada hari lain yang memungkinkan pelaksanaannya pada hari lain tersebut (tidak berurutan demi menghindari pelaksanaan puasa Syawwal pada hari sabtu). Perlu difahami bahwa menurut Ulama’ yang membolehkan puasa pada hari Sabtu untuk puasa Syawwal: Pelaksanaan puasa 6 hari di bulan Syawwal tidak mensyaratkan pelaksanaannya secara berturut-turut, sehingga bila kita menghindari berpuasa pada hari sabtu dan disebabkan hal itu puasa Syawwal kita tidak berturut-turut maka ini tidaklah dipermasalahkan oleh mereka.

Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya tentang puasa 6 hari di bulan Syawwal
Pertanyaan:
Apakah puasa 6 hari bulan Syawwal harus berturut-turut ataukah boleh puasanya terpisah-pisah dalam satu bulan tersebut?

Berpuasa 6 hari di bulan Syawwal adalah sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Boleh berpuasa hari tersebut secara berturut-turut atau terpisah-pisah karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memutlak kan puasa tersebut dan tidak menyebutkan berturut-turut atau terpisah-pisah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ


“Barang siapa yang telah berpuasa Ramadhan, kemudian diikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa setahun.” (HR. Muslim no.1164). Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/391 no.149


والله تعالى أعلم بالحق والصواب

Sumber http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/3034-puasa-sunnah-syawwal-berbenturan-dengan-larangan-puasa-hari-sabtu

Puasa Syawwal, Apakah Harus di Awal Bulan?Harus Berturut-Turut?

Pertanyaan

assalamualaikum warrahmatullahi wa barakatu.

ana ingin bertanya untuk waktu puasa sunnah syawal itu harus diawal bulan syawal setelah hari raya iedul fitri apa boleh di pertengahan bulan syawal?
apa boleh kita puasa sunnah syawal 7 hari setelah hari raya iedul fitri?

syukron..

ikhwan bekasi


Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Waktu puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal mulai hari ke dua hingga berakhirnya bulan Syawwal. Boleh dilaksanakan di awal, di tengah atau di akhir bulan Syawwal. Boleh dilakukan secara berturut-turt atau terpisah.

Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan:
Dan disunnahkan untuk berpuasa 6 hari Syawwal pada awal syawwal secara berturut-turut(maksudnya setelah hari ied, karena hari ied haram berpuasa.pent), dan jika dipisah-pisah pelaksanaannya atau dilaksanakan tidak pada awal Syawwal itu hukumnya boleh. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab oleh imam Nawawi 6/379

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Apakah puasa enam hari setelah Ramadhan harus dilakukan langsung setelah hari raya Idul Fitri, atau boleh dilakukan beberapa hari setelahnya? Apakah secara berturut-turut atau terpisah, selama masih bulan Syawal?

Mereka menjawab:
Tidak ada keharusan untuk berpuasa enam hari langsung setelah Idul Fitri. Bahkan, boleh dilakukan sehari atau beberapa hari setelah hari raya. Boleh dilaksanakan secara berturut-turut atau terpisah selama masih bulan Syawal sesuai dengan apa yang mudah menurut kemampuan. Ada keleluasaan dalam masalah ini, ini hukumnya sunnah dan bukan wajib.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 10/391 pertanyaan keempat dari fatwa no.3475

Dijawab Oleh Ustadz Mukhsin Suaidi, Lc, M.E.I حفظه الله)

Sumber http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/3925-puasa-syawwal-apakah-harus-di-awal-bulanharus-berturut-turut

Puasa Bulan Ramadhan + Puasa Enam Hari di Bulan Syawal Sebagai Penebus Puasa Wajib Yang Ditinggalkan di Masa Lalu?

Puasa Bulan Ramadhan + Puasa Enam Hari di Bulan Syawal Sebagai Penebus Puasa Wajib Yang Ditinggalkan di Masa Lalu?

PERTANYAAN
” Sesiapa berpuasa pada bulan ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan syawal , maka puasanya itu sama seperti puasa sepanjang tahun ( sepanjang masa ) ” Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim Persoalan saya : Pada tahun2 sebelum ini , saya sangat malas berpuasa . kadang sehari je puasa . tahun ni saya tanam azam untuk berpuasa penuh sebulan . ada kah saya dapat mencover puasa-puasa saya yang lalu dengan berpuasa penuh dibulan ramadhan dan berpuasa enam pada bulan syawal ?

Ikhwan (SANDAKAN)

Jawaban

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Puasa Ramadhan itu wajib bagi setiap muslim yang baligh (dewasa), berakal, dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan mukim (tidak bersafar). Diantara dalilnya adalah surat Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Diantara dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam

بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.”

Tidak cukup sampai di situ keterangan tentang ditekankanya syariat berpuasa Ramadhan bahkan ada nash yang menunjukkan efek dari orang yang sengaja tidak berpuasa meski dia tidak mempunyai udzur.

Abu Umamah menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata, ”Naiklah”. Lalu kukatakan, ”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata, ”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba- tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”

Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya, ”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.

Lihatlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja dalam hadits ini, maka bagaimana lagi dengan orang yangenggan berpuasa sejak awal Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sama sekali.

Adz Dzahabiy sampai-sampai mengatakan, “Siapa saja yang sengaja tidak berpuasa Ramadhan, bukan karena sakit atau uzur lainnya, maka dosa yang dilakukan lebih jelek dari dosa berzina, penarik upeti (dengan paksa), pecandu miras (minuman keras), bahkan orang seperti ini diragukan keislamannya dan disangka sebagai orang yang terjangkiti kemunafikan dan penyimpangan.” Dinukil dari buku panduan ramadhan karya Muhammad Abduh Tuasikal

Oleh karena itu penanya wajib untuk sungguh-sungguh dalam melaksanakan syariat puasa Ramadhan dan haram hukumnya bagi dia untuk tidak berpuasa Ramadhan kecuali bila memang dia ada udzur yang mendasarinya. Terkait pertanyaan apakah puasa Ramadhan ditambah puasa enam hari di bulan Syawwal, apakah itu bisa menebus dosa meninggalkan puasa ramadhan di masa lalu maka jawabannya tidak bisa karena hadits itu tidak dimaknai oleh Ulama’ sebagai amalan penebus puasa wajib yang ditinggalkan di masa lalu, bahkan Ulama’ juga juga tidak mengatakan bahwa kalau orang melaksanakan itu maka gugurlah pensyariatan puasa-puasa sunnah sepanjang tahun baginya.

Penanya wajib untuk menghitung puasa-puasa wajib yang ia tinggalkan di masa lalu kemudian menggantinya nanti setelah Ramadhan. Ulama’ yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya,” Ada seorang wanita tua berusia enam puluh tahun. Dia tidak mengetahui hukum haid bertahun-tahun lamanya dan tidak meng-qadha puasa Ramadhan karena menganggap bahwa puasa Ramadhan tidak perlu di-qadha, berdasarkan apa yang dia dengar dari orang awam.

Mereka menjawab: Dia harus bertobat kepada Allah karena tidak bertanya kepada ulama. Dengan demikian, dia wajib meng-qadha sesuai perkiraan jumlah hari yang ditinggalkan. Dia juga wajib membayar kafarat untuk setiap hari yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin setengah shagandum, kurma, beras, atau makanan lain yang merupakan bahan pokok penduduk. Itu jika dia mampu memberi makan. Apabila tidak mampu, maka kewajiban tersebut gugur baginya sehingga dia cukup meng-qadha puasa. Wabillahittaufiq, wa Shallallahuala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota 

Abdurrazzaq `Afifi selaku  Wakil Ketua Komite 

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku  Ketua

Fatawa al-lajnah ad-Daimah 10/151-152  Nomor (1790 )

Wallahu ta’ala a’lam

Dijawab Oleh Ustadz Mukhsin Suaidi, Lc, M.E.I حفظه الله)

 http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/7749-puasa-bulan-ramadhan-puasa-enam-hari-di-bulan-syawal-sebagai-penebus-puasa-wajib-yang-ditinggalkan-di-masa-lalu

Fikih Puasa Syawal (5.2)

Fiqih puasa Syawal

Bagian 5.2

Menggabung niat puasa Syawal dengan puasa lainnya

  1. Menggabung puasa Syawal dengan puasa ayyamul bidh

Hukumnya boleh dan sah. Karena puasa ayyamul bidh adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Ketika seseorang melaksanakan puasa 3 hari dalam satu bulan, kapanpun harinya dan apapun jenis puasa yang ia lakukan (yang disyariatkan) maka ia sudah mendapatkan keutamaan puasa ayyamul bidh.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyatakan:

إذا صام ست أيام من شوال سقطت عنه البيض ، سواء صامها عند البيض أو قبل أو بعد لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من الشهر ، وقالت عائشة رضي الله عنها : ” كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر لا يبالي أصامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره ” ، و هي من جنس سقوط تحية المسجد بالراتبة فلو دخل المسجد

“Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (ketika bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya’. Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan shalat tahiyatul masjid dengan mengerjakan salat rawatib jika seseorang masuk masjid” (Sumber: https://islamqa.info/ar/4015).

  1. Menggabung puasa Syawal dengan puasa Senin-Kamis

Hukumnya boleh dan sah. Karena puasa Senin-Kamis adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Karena puasa Senin-Kamis disyariatkan bukan karena dzatnya, namun karena diangkatnya amalan di hari itu sehingga dianjurkan berpuasa, apapun puasa yang dilakukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الأعمال ترفع يوم الاثنين والخميس فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Sesungguhnya catatan amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika catatan amalanku diangkat ketika aku sedang puasa” (HR. Ibnu Wahb dalam Al-Jami’, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1583).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan:

إذا اتفق أن يكون صيام هذه الأيام الستة في يوم الاثنين أو الخميس فإنه يحصل على أجر الاثنين بنية أجر الأيام الستة، وبنية أجر يوم الاثنين أو الخميس

“Jika puasa Syawal bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka ia mendapatkan pahala puasa Senin-Kamis dengan niat puasa Syawal atau dengan puasa Senin-Kamis” (Fatawa Al-Islamiyah, 2/154).

Demikian pembahasan singkat mengenai fikih puasa Syawal. Semoga menjadi tambahan ilmu bagi kita semua, dan semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk mengamalkannya.

Wabillahi at-taufiq was-sadaad.

*

Penulis : Yulian Purnama
Artikel : Muslim.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (5.1)

Fiqih puasa Syawal

Bagian 5.1

Menggabung niat puasa Syawal dengan puasa lainnya

Masalah ini dikenal dalam ilmu fikih sebagai masalah tasyrik an niyyat atau tasyrik ibadatain fi niyyah (menggabung beberapa niat dalam ibadah). Ada tiga rincian dalam masalah ini, yaitu sebagai berikut:

فَإِنْ كَانَ مَبْنَاهُمَا عَلَى التَّدَاخُل كَغُسْلَيِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَابَةِ، أَوِ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ، أَوْ غُسْل الْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، أَوْ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا غَيْرَ مَقْصُودَةٍ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ مَعَ فَرْضٍ أَوْ سُنَّةٍ أُخْرَى، فَلاَ يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي الْعِبَادَةِ؛ لأِنَّ مَبْنَى الطَّهَارَةِ عَلَى التَّدَاخُل، وَالتَّحِيَّةُ وَأَمْثَالُهَا غَيْرُ مَقْصُودَةٍ بِذَاتِهَا، بَل الْمَقْصُودُ شَغْل الْمَكَانِ بِالصَّلاَةِ، فَيَنْدَرِجُ فِي غَيْرِهِ.

أَمَّا التَّشْرِيكُ بَيْنَ عِبَادَتَيْنِ مَقْصُودَتَيْنِ بِذَاتِهَا كَالظُّهْرِ وَرَاتِبَتِهِ، فَلاَ يَصِحُّ تَشْرِيكُهُمَا فِي نِيَّةٍ وَاحِدَةٍ؛ لأِنَّهُمَا عِبَادَتَانِ مُسْتَقِلَّتَانِ لاَ تَنْدَرِجُ إِحْدَاهُمَا فِي الأْخْرَى

“[1] Jika latar belakang pelaksanaan kedua ibadah tersebut karena sifatnya tadakhul (saling bertemu satu sama lain), sebagaimana mandi Jum’at dan mandi janabah (ketika dalam kondisi junub di hari Jum’at, -pent.), atau mandi janabah dan mandi haid, atau mandi Jum’at dan mandi untuk salat Id, atau [2] salah satu dari ibadah tersebut ghayru maqshudah bidzatiha (yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, -pent.) sedangkan ibadah yang lain adalah ibadah wajib atau sunah, maka ini tidak mencacati ibadah (baca: boleh). Karena landasan dari taharah memang at-tadakhul dan salat tahiyyatul masjid dan yang semisalnya yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, namun yang dituntut adalah mengerjakan shalat ketika masuk masjid (apapun salat itu, -pent.). Maka ibadah tersebut bisa masuk pada ibadah yang lain. Adapun [3] menggabungkan niat antara dua ibadah maqshudah bi dzatiha (yang dituntut adalah dzat ibadahnya), seperti menggabungkan salat zuhur dengan salat rawatib zuhur, maka tidak sah menggabungkan keduanya dalam satu niat, karena keduanya adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, yang tidak bisa masuk antara satu dengan yang lain” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 12/24).

Maka dari kaidah ini bisa kita jawab permasalah-permasalahan berikut:

  1. Menggabung puasa Syawal dengan qadha puasa

Hukumnya tidak boleh dan tidak sah, karena puasa Syawal dan qadha puasa Ramadan keduanya adalah ibadah yang maqshudah bi dzatiha. Keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, sehingga tidak sah jika digabungkan dalam satu niat.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

أما أن تصوم الست بنية القضاء والست فلا يظهر لنا أنه يحصل لها بذلك أجر الست، الست تحتاج إلى نية خاصة في أيام مخصوصة

“Adapun jika anda puasa Syawal dengan menggabung niat puasa qadha dan puasa Syawal, maka saya memandang puasa Syawalnya tidak sah. Karena puasa Syawal membutuhkan niat khusus dan membutuhkan hari-hari yang khusus” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/4607).

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (4.2)

Fiqih puasa Syawal

Bagian 4.2

Tata cara puasa Syawal

  1. Bagi wanita hendaknya meminta izin kepada suaminya

Bila seorang wanita ingin mengerjakan puasa sunah, termasuk puasa Syawal, maka wajib meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu atau ia mengetahui bahwa suaminya mengizinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يحِلُّ للمرأةِ أن تصومَ وزَوجُها شاهِدٌ إلَّا بإذنِه، ولا تأذَنْ في بيته إلا بإذنِه

“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Bukhari no. 5195).

Dan puasa yang dimaksud dalam hadis ini adalah puasa sunah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا تصومُ المرأةُ وبعلُها شاهدٌ إلا بإذنِه غيرَ رمضانَ ولا تأذنْ في بيتِه وهو شاهدٌ إلا بإذنِه

“Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya, jika puasa tersebut selain puasa Ramadan. Dan tidak boleh seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Abu Daud no. 2458, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Sunan Abu Daud).

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:

قَوْلُهُ شَاهِدٌ أَيْ حَاضِرٌ قَوْلُهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْنِي فِي غَيْرِ صِيَامِ أَيَّامِ رَمَضَانَ وَكَذَا فِي غَيْرِ رَمَضَانَ مِنَ الْوَاجِبِ إِذَا تَضَيَّقَ الْوَقْتُ

“Sabda beliau [sedangkan suaminya hadir] maksudnya sedang tidak safar. [kecuali dengan seizinnya] maksudnya selain puasa Ramadan. Demikian juga berlaku pada puasa wajib selain puasa Ramadan jika waktunya sempit (maka tidak perlu izin, -pent.)”.

Beliau juga mengatakan:

وَفِي الْحَدِيثِ أَنَّ حَقَّ الزَّوْجِ آكَدُ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنَ التَّطَوُّعِ بِالْخَيْرِ لِأَنَّ حَقَّهُ وَاجِبٌ وَالْقِيَامُ بِالْوَاجِبِ مُقَدَّمٌ عَلَى الْقِيَامِ بِالتَّطَوُّعِ

“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa hak suami lebih ditekankan bagi wanita daripada ibadah sunah. Karena menunaikan hak suami itu wajib dan wajib mendahulukan yang wajib daripada yang sunah” (Fathul Baari, 9/296).

Bolehkah mendahulukan puasa Syawal sebelum menunaikan hutang puasa?

Dalam masalah ini kami nukilkan penjelasan bagus dari Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi dan ini pendapat yang lebih kami condongi dalam masalah ini:

“Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan dan kebolehan puasa sunah sebelum qadha puasa. Mereka khilaf (berselisih) dalam dua pendapat dan dua riwayat dari Imam Ahmad ada pada dua pendapat tersebut. Dan yang sahih hukumnya boleh.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits sahih yang marfu’:

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).

Sabda beliau “…puasa Ramadan lalu mengikutinya…” dimaknai oleh sejumlah ulama kepada wajibnya menyempurnakan puasa Ramadan sebelum mengerjakan puasa sunah. Dan ini juga zahir perkataan dari Sa’id bin Musayyab yang dibawakan Al-Bukhari secara mu’allaq (tidak menyebutkan sanad secara lengkap), beliau berkata tentang puasa sunah sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sebelum qadha puasa Ramadan:

لا يصلح حتى يبدأ برمضان

“Tidak dibenarkan kecuali diawali dengan (qadha) puasa Ramadan“

Al-Baihaqi dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari Utsman bin Muhib, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah ketika ditanya seseorang:

إن عليّ أياماً من رمضان أفأصوم العشر تطوعاً؟ قال: لا، ولم؟ إبدأ بحق الله ثم تطوع بعد ما شت

“Saya memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah saya puasa sunah sepuluh hari? Abu Hurairah menjawab: tidak boleh. Orang tersebut bertanya: mengapa? Abu Hurairah menjawab: dahulukan hak Allah, kemudian baru kerjakan yang sunah semaumu“.

Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha bahwa beliau menganggap hal itu makruh.

Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Sufyan, dari Hammad bahwa ia berkata:

سألت إبراهيم وسعيد بن جبير عن رجل عليه أيام من رمضان أيتطوع في العشر؟ قالا: يبدأ بالفريضة

“Aku bertanya kepada Ibrahim bin Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah ia puasa sunah sepuluh hari? Ibrahim bin Sa’id berkata: tidak boleh, dahulukan yang wajib.“

Dan mengakhirkan qadha puasa Ramadan hingga bulan Sya’ban hukumnya boleh, berdasarkan perbuatan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Salamah, ia berkata: aku mendengar Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كان يكون عليَّ الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضي إلا في شعبان

“Aku pernah memiliki hutang puasa Ramadan, dan aku tidak bisa menunaikannya hingga di bulan Sya’ban“

Pendapat yang sahih adalah boleh mengakhirkan qadha puasa Ramadhan walaupun bukan karena darurat, dengan cacatan bahwa menyegerakannya lebih utama. Jika tanpa darurat saja boleh, tentu mengakhirkannya karena mengerjakan puasa Syawal lebih layak untuk dibolehkan. Dan ini adalah salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad rahimahullah. Dengan catatan, bahwa ulama sepakat bahwa yang lebih utama adalah mendahulukan qadha puasa dan melepaskan diri dari tanggungan. Dalam pandangan kami, inilah makna yang diinginkan oleh Abu Hurairah, Sa’id bin Musayyib, Atha, Sa’id bin Jubair, Ibrahim bin Sa’id pada riwayat-riwayat di atas.

Dan perlu dicatat juga, bahwa orang yang tidak puasa Ramadan karena suatu uzur maka ditulis baginya pahala puasa untuk hari yang ia tinggalkan tersebut walaupun ia belum menunaikan qadha puasanya. Karena orang yang terhalang karena suatu uzur itu dihukumi sebagaimana orang yang mengamalkan amalan yang sah. Sebagaimana dalam sebuah hadis:

إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل وهو صحيح مقيم

“Jika seorang hamba sakit atau sedang safar, maka ditulis baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan dalam keadaan sehat dan tidak safar” (HR. Bukhari no. 2996).

Dan qadha puasa Ramadan waktunya luas, sedangkan puasa Syawal waktunya terbatas, sempit dan cepat berlalu” (Sumber: http://www.altarefe.com/cnt/ftawa/312).

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (4.1)

Fiqih puasa Syawal

Bagian 4.1

Tata cara puasa Syawal

Tata cara puasa Syawal secara umum sama dengan tata cara puasa Ramadan. Silakan simak tata cara puasa Ramadan pada artikel kami Ringkasan Fikih Puasa Ramadhan. Perbedaannya ada pada beberapa hal:

  1. Boleh niat puasa setelah terbit fajar

Telah kita ketahui bersama bahwa disyaratkan untuk menghadirkan niat pada malam hari sebelum puasa, yaitu sebelum terbit fajar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من لم يبيِّتِ الصِّيامَ قبلَ الفَجرِ، فلا صيامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak menghadirkan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. An-Nasai no. 2331, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai)

Namun para ulama menjelaskan bahwa ini berlaku untuk puasa wajib. Adapun puasa nafilah (sunah) maka boleh menghadirkan niat setelah terbit fajar. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan hal tersebut. Sebagaimana dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:

قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍ

يا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟

قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌء

قال فإني صائمٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku pada suatu hari: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini?)’. Aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatupun (untuk dimakan)’. Beliau lalu bersabda: ‘kalau begitu aku akan puasa’” (HR. Muslim no. 1154).

Imam An-Nawawi mengatakan:

وَفِيهِ دَلِيلٌ لِمَذْهَبِ الْجُمْهُورِ أَنَّ صَوْمَ النَّافِلَةِ يَجُوزُ بِنِيَّةٍ فِي النَّهَارِ قَبْلَ زَوَالِ الشَّمْسِ

“Hadits ini merupakan dalil bagi jumhur ulama bahwa dalam puasa sunah boleh menghadirkan niat di siang hari sebelum zawal (matahari mulai bergeser dari tegak lurus)” (Syarah Shahih Muslim, 8/35).

  1. Tidak harus berurutan

Tidak sebagaimana puasa Ramadan, puasa Syawal tidak disyaratkan harus berurutan (mutatabi’ah) dalam pelaksanaannya. Boleh dilakukan secara terpisah-pisah (mutafarriqah) harinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan,

صيام ست من شوال سنة ثابتة عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ويجوز صيامها متتابعة ومتفرقة ؛ لأن الرسول – صلى الله عليه وسلم – أطلق صيامها ولم يذكر تتابعاً ولا تفريقاً ، حيث قال – صلى الله عليه وسلم

من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر

أخرجه الإمام مسلم في صحيحه

“Puasa enam hari di bulan Syawal telah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan boleh mengerjakannya secara mutatabi’ah (berurutan) atau mutafarriqah (terpisah-pisah). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan puasa Syawal secara mutlaq (baca: tanpa sifat-sifat tambahan) dan tidak disebutkan harus berurutan atau harus terpisah-pisah. Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, ia mendapatkan pahala puasa setahun penuh‘ (HR. Muslim dalam Shahihnya)” (Majmu’ Fatawa wa Maqalah Mutanawwi’ah, 15/391).

  1. Boleh membatalkan puasa dengan atau tanpa uzur

Dibolehkan membatalkan puasa nafilah (sunnah) baik karena suatu udzur syar’i maupun tanpa udzur. Berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu’anha,

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال : هل عندكم شيء ؟ فقلنا : لا ، قال : فإني إذن صائم ، ثم أتانا يوما آخر فقلنا : يا رسول الله أهدي لنا حيس ، فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما ، فأكل

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari masuk ke rumah dan bertanya: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan)?’. Aisyah menjawab: ‘tidak’. Beliau bersabda: ‘kalau begitu aku akan berpuasa’. Kemudian di lain hari beliau datang kepadaku, lalu aku katakan kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, ada yang memberi kita hadiah berupa hayis (sejenis makanan dari kurma)’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu tunjukkan kepadaku, padahal tadi aku berpuasa’. Lalu Nabi memakannya” (HR. Muslim no. 1154).

Juga berdasarkan hadis dari Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya:

لقدْ أفطرتُ وكنتُ صائمةً فقال لها أكنتِ تقضينَ شيئًا قالتْ لا قالَ فلا يضرُّكِ إنْ كانَ تطوعًا

“Wahai Rasulullah, aku baru saja membatalkan puasa sedangkan tadi aku berpuasa, bolehkah? Nabi bertanya: ‘apakah itu puasa qadha?’ Aku menjawab: ‘bukan’. Nabi bersabda: ‘Jika demikian maka tidak mengapa, yaitu jika puasa tersebut puasa tathawwu’ (sunah)‘” (HR. Abu Daud no. 2456, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

إذا كان الصوم نافلة فله أن يفطر، ليس بلازم، له الفطر مطلقاً، لكن الأفضل ألا يفطر إلا لأسباب شرعية: مثل شدة الحر، مثل ضيف نزل به، مثل جماعة لزَّموا عليه أن يحضر زواج أو غيره يجبرهم بذلك فلا بأس

“Jika puasa tersebut adalah puasa sunah, maka boleh membatalkannya, tidak wajib menyempurnakannya. Ia boleh membatalkannya secara mutlak. Namun yang lebih utama adalah tidak membatalkannya kecuali karena sebab yang syar’i, semisal karena panas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya, maka tidak mengapa.” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/11778)

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (3)

Fiqih Puasa Syawal

Bagian 3

Buah dari puasa Syawal

Puasa Syawal menyempurnakan pahala puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh.

Puasa Syawal dan puasa Sya’ban sebagaimana salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat, ia menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada pada ibadah yang wajib. Karena ibadah-ibadah wajib akan disempurnakan dengan ibadah-ibadah sunah pada hari kiamat kelak. Kebanyakan orang, puasa Ramadannya mengandung kekurangan dan cacat, maka membutuhkan amalan-amalan yang bisa menyempurnakannya.

Terbiasa puasa selepas puasa Ramadan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Karena ketika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberikan ia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya. Sebagaimana perkataan sebagian salaf:

ثواب الحسنة الحسنة بعدها

“Balasan dari kebaikan adalah (diberi taufik untuk melakukan) kebaikan selanjutnya”

Maka barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, lalu diikuti dengan kebaikan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut diterima oleh Allah. Sebagaimana barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, namun kemudian diikuti dengan keburukan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut tidak diterima oleh Allah.

Orang-orang yang berpuasa Ramadan disempurnakan pahalanya di hari Idul Fitri dan diampuni dosa-dosanya. Maka hari Idul Fitri adalah hari pemberian ganjaran kebaikan. Sehingga puasa setelah hari Idul Fitri adalah bentuk syukur atas nikmat tersebut. Sedangkan tidak ada nikmat yang lebih besar selain pahala dari Allah ta’ala dan ampunan dari Allah.

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (2)

Fiqih Puasa Syawal

Bagian 2

Keutamaan puasa Syawal

Secara umum, semua keutamaan ibadah puasa juga terdapat dalam puasa Syawal. Mengenai keutamaan ibadah puasa, simak artikel tulisan kami “Ternyata Puasa Itu Luar Biasa”

Namun puasa Syawal memiliki keutamaan khusus, yaitu menyempurnakan ibadah puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

من صام ستَّةَ أيَّامٍ بعد الفطرِ كان تمامَ السَّنةِ من جاء بالحسنةِ فله عشرُ أمثالِها

“Barangsiapa yang puasa enam hari setelah Idul Fitri, maka baginya pahala puasa setahun penuh. Barangsiapa yang melakukan satu kebaikan, baginya ganjaran sepuluh kali lipatnya“

Dalam riwayat lain:

جعل اللهُ الحسنةَ بعشر أمثالِها ، فشهرٌ بعشرةِ أشهرٍ ، وصيامُ ستَّةِ أيامٍ بعد الفطرِ تمامُ السَّنةِ

“Allah menjadikan satu kebaikan bernilai sepuluh kali lipatnya, maka puasa sebulan senilai dengan puasa sepuluh bulan. Ditambah puasa enam hari setelah Idul Fitri membuatnya sempurna satu tahun” (HR. Ibnu Majah no. 1402, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no.1402 dan Shahih At-Targhib no. 1007).

Imam An-Nawawi mengatakan:

وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَرَمَضَانُ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَالسِّتَّةُ بِشَهْرَيْنِ

“Pahala puasa Syawal seperti puasa setahun penuh. Karena satu kebaikan senilai dengan sepuluh kebaikan. Puasa Ramadan sebulan senilai dengan sepuluh bulan, dan puasa 6 hari senilai dengan dua bulan (60 hari)” (Syarah Shahih Muslim, 8/56).

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Editor tim ufh

Fikih Puasa Syawal (1)

Fikih Puasa Syawal

Bagian 1

Di antara rahmat Allah ta’ala bagi hamba-Nya adalah Ia mensyariatkan puasa Syawal setelah bulan Ramadan, agar mereka bisa mendapatkan keutamaan seperti puasa setahun penuh. Berikut ini pembahasan ringkas mengenai fikih puasa Syawal, semoga bermanfaat.

Hukum Puasa Syawal

Puasa Syawal hukumnya mustahab (sunah), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:

صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُسْتَحَبٌّ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

“Puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab menurut mayoritas para ulama” (Al-Mughni, 3/176).

Dijelaskan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (28/92): “Jumhur ulama dari Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama Hanafiyah yang muta’akhir (kontemporer) berpendapat bahwa puasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadan itu mustahab. Dan dinukil dari Abu Hanifah bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh secara mutlak, baik jika dilaksanakan berurutan atau tidak berurutan. Dan dinukil dari Abu Yusuf (ulama Hanafi) bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh jika berurutan, namun boleh jika tidak berurutan. Namun jumhur (mayoritas) ulama Hanafiyah muta’akhirin berpendapat hukumnya tidak mengapa. Ibnu Abidin (ulama Hanafi) dalam kitab At-Tajnis menukil dari kitab Al-Hidayah yang mengatakan: ‘Pendapat yang dipilih para ulama Hanafi muta’akhirin hukumnya tidak mengapa. Karena yang makruh adalah jika puasa Syawal berisiko dianggap sebagai perpanjangan puasa Ramadan, sehingga ini tasyabbuh terhadap Nasrani. Adapun sekarang, ini sudah tidak mungkin lagi’. Al-Kasani mengatakan: ‘Yang makruh adalah puasa di hari Id, lalu puasa lima hari setelahnya. Adapun jika di hari Id tidak puasa lalu besoknya baru puasa enam hari, ini tidak makruh, bahkan mustahab dan sunah’.”

Maka yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yaitu puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab (sunah) sebagaimana ditunjukkan oleh hadis.

Penulis : Ustadz Yulian Purnama
Artikel : Muslim.or.id

Hukum Mengkhususkan Waktu Ziarah Kubur

Mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk Ziarah Kubur seperti bulan Romadhon, hari Ied, hari Jumat adalah perbuatan yang menyelisihi petunjuk Nabi. Beliau صلى الله عليه وسلم mengingatkan

“Janganlah kalian jadikan kuburanku
sebagai ied.”

(HR.Abu Dawud 2042, Ibnu Taimiyyah dalam “Iqtidho’ Ash-Shirothil Mustaqim” 2/169 berkata, “Sanadnya hasan memiliki syawahid”, Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam “Al-Futuhat Ar-Robbaniyyah” berkata, “Hasan”, Syaikh Nashir menshohihkannya dalam “Shohihul Jami” 7226)

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah berkata, ‘Ied bermakna sesuatu yang kehadirannya dan maksudnya berulang-ulang baik waktu maupun tempat.

Ied diambil dari kata “almu’awadah” (kembali) dan “al-i’tiyad” (biasa).

Kata Ied bila dipakai untuk nama tempat maka maknanya adalah tempat yang dituju untuk berkumpul dan menunaikan ibadah atau selainnya, seperti Masjidil Harom, Mina, Muzdalifah, Arofah, dan tempat-tempat lainnya yang dijadikan Allah sebagai ied bagi orang-orang yang beriman serta tempat pertemuan bagi manusia.”
(Ighotsatul Lahfan1/190)

Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fawzan berkata,
“Ied bermakna sesuatu yang selalu terjadi secara berulang-ulang.

Ied ada dua macam yaitu “ied zamani” (terkait waktu) seperti Ied Romadhon atau iedul adh-ha, dan ”ied makani” (terkait tempat) yaitu tempat yang dipakai untuk berkumpul dalam hitungan tahun, pekan atau bulan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.”

(Syarh Masa’il Jahiliyyah hal. 233)

Maka menjadikan kuburan sebagai ied bermakna menjadikannya sebagai tempat yang dikhususkan untuk beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah atau dikhususkan waktunya saat berziarah.

Perbuatan ini dilarang Nabiصلى الله عليه وسلم dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau.

Disalin dari E-book panduan ramadhan
Oleh Ustadz Fikri abul hasan

Sunnah-Sunnah yang Diabaikan Saat Berhari Raya

Sunnah yang dimaksud disini adalah
ajaran Nabi صلى الله عليه وسلم Yang di teladani oleh para Shohabat beliau. Ada sebagian sunnah yang
nampaknya kurang diperhatikan oleh
banyak kaum Muslimin saat Berhari raya :

1. Bertakbir Saat Menuju Lapangan


Allah berfirman:

“Dan hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur.”

(Al-Baqoroh : 185)

Bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم keluar Untuk sholat Iedul Fithri dan Iedul Adh-ha bersama Al- Fadhlbin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali,
Ja’far, Al-Hasan, Al-Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah dan Aiman : “Mengeraskan suaranya dengan tahlil dan takbir.” (Riwayat Al-Baihaqi dishohihkan oleh Syaikh Nashir dalam “Irwa’ul Gholil” 2/123)


Dari Nafi’, dari Ibnu Umar:

“Bahwa beliau Bertakbir ketika keluar dipagi hari menuju tanah lapang pada hari Ied.”

(Riwayat Al-Firyabi dalam “AhkamulIedain” hal.110 no.39 sanadnya shohih)

Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani berkata,
“Disini ada dalil disyariatkan nya Bertakbir dengan mengangkat suara selama perjalanan menuju tempat sholat. Kendati banyak orang yang mulai meremehkan sunnah ini hampir-hampir hanya menjadi sekedar cerita semata. Ini bukti lemahnya mental dalam berislam dan
malu menampakkan sunnah dengan terang- terangan. Perlu kami ingatkan juga bahwa mengeraskan takbir di sini tidaklah disyariatkan melafalkannya dengan satu suara secara bersama-sama.”

(Silsilah Ash-Shohihah 1/331)

Adapun bagi para wanita dianjurkan bertakbir tanpa mengeraskan suaranya sebagaimana yang diriwayatkan Ummu Athiyyah.(Fat-hul Bari 9/33)

Berikut redaksi takbir yang diriwayatkan
oleh para shahabatdiantaranya:

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

2. Wanita Haid Tetap Hadir di Lapangan

Ummu Athiyyah rodhiyallahu’anhu berkata:

“Rosulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan kami dihari Iedul Fithri dan Iedul Adh-ha untuk
mengeluarkan para gadis, wanita haid dan para wanita pingitan (menuju lapangan sholatIed). Adapun wanita haid mereka menjauhi sholat dan menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin.”

Ada yang bertanya,
“Wahai Rosulullah, bila salah
seorang diantara kami tidak memiliki jilbab?”

Maka beliau berkata,
“Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbab kepadanya.”

(HR. Al-Bukhori 351 dan Muslim 890)

3. Seusai Sholat ‘Ied Mengucapkan, “Taqobbalalloohu Minnaa wa Minkum”

Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafii (852H) berkata,
“Dalam “Al-Mahamiliyyat” dengan
sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata:

“Para shahabat Nabi bila bertemu dihari raya sebagian mereka berkata kepada yang lain, “Taqobbalalloohuminnaawamnkum”
(Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian).”

(Fathul Bari 2/446)

Ucapan ini sekalipun hukumnya mubah, akan tetapi sepatutnya kita teladani menyerupai para shohabat nabi.

4. Mengambil jalan lain sepulang sholat

Dari Jabir bin Abdillah:
“Nabi صلى الله عليه وسلم pada Hari raya biasa mengambil
jalan yang berlainan.”

(HR.Al-Bukhori 986)

Adapun sholat sunnah dua rokaat dirumah sepulang sholat Ied maka keabsahan riwayat nya diperselisihkan oleh para ulama.

5. Niatkan saling berkunjung karena Allah


Allah berfirman:

“Kecintaan-Ku berhak bagimereka yang saling mencintai karena Aku, kecintaan-Ku berhak bagi mereka yang saling tolong-menolong karena Aku, dan kecintaan-Ku berhak bagi mereka yang saling berkunjung
karenaAku.”

(HR.Ahmad dishohihkan oleh Syaikh Nashir dalam “Shohih At-Targhib” 3020)

Disalin dari E-book panduan ramadhan
Oleh Ustadz Fikri abul hasan

Bersungguh-Sungguh dalam Ketaatan Pada 10
Malam Terakhir Romadhon

Al-Imam Al-Hafidzh Muhammad
Abdurrohman Al-Mubarokfuri (1353 H) berkata:
“Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersungguh-sungguh di Sepuluh malam terakhir bulan Romadhon maknanya:
“Bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul qodr diantara sepuluh malam terakhir bulan Romadhon.”

Al-Qori berkata,
“Beliau bersungguh-sungguh dalam menambah ketaatan dan amalan ibadah tidak sebagaimana kesungguhan beliau di selain malam
tersebut.” (Tuhfatul Ahwadzi 2/618)

Disalin dari E-book panduan ramadhan
Oleh Ustadz Fikri abul hasan

Lailatul Qodr

Keistimewaan Lailatul Qodr (Malam Kemuliaan)

Allah’ azza wajalla berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qodr. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qodr itu?

Lailatul Qodr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ar-Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

(Al-Qodr:1-5)


Syaikh Al-‘Allamah As-Si’di menjelaskan,
“Amalan ketaatan yang dikerjakan pada malam lailatul qodr nilainya lebih utama dari amalan ketaatan yang dikerjakan selama seribu bulan (84 tahun). Hal Ini benar-benar membuat heran orang yang berakal. Allah memberi karunia kepada umat ini baik yang lemah maupun yang kuat dengan keutamaan malam lailatul qodr.
Amalan ketaatan yang dikerjakan pada malam itu dilipatgandakan seribu bulan dan umur seseorang pada malam itu hakikatnya dipanjangkan lebih dari 80 tahun.
Para malaikat Allah turun dalam jumlah yang lebih banyak untuk mengatur segala urusan dimalam lailatul qodr.
Pada malam itu diliputi kesejahteraan
terbebas dari petaka dan kejelekan serta kebaikan berlimpah ruah. Malam itu dimulai sejak terbenamnya matahari hingga terbit fajar.

Hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan malam lailatul qodr derajatnya mutawatir. Malam yang mulia itu terjadi diantara
sepuluh hari terakhir bulan Romadhon utamanya di malam-malam ganjil. Dan malam lailatul qodrakan terus berlangsung
setiap tahun sampai hari kiamat.”
(Taisirul Karimirrohman Fi tafsir kalamil Mannanhal. 931)

Dari Abu Huroiroh bahwa Rosulullah bahwa bersabda:

“Pada bulan Romadhon itu ada suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, maka siapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh dia telah dijauhkan dari kebaikan.”
(Shohih An-Nasa’i 2105)

Dari Aisyah bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Carilah malam lailatul qodr pada sepuluh malam terakhir bulan Romadhon.”
(HR.Al-Bukhori 2020 dan Muslim 1169)

Para Shohabat menjumpai malam lailatul qadr pada masa Rosulullah صلى الله عليه وسلم dan itu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan
Romadhon. Akan tetapi peristiwa tersebut berpindah-pindah dari tahun ketahun dan tidak berlangsung dalam satu waktu seperti yang diberitakan para shohabat dibawah ini :

Abu Sa’id Al-Khudri, lailatul qodr terjadi pada malam ke 21 Romadhon yaitu ditandai dengan langit terang tidak berawan dan kemudian turun hujan pada malam harinya menjelang shubuh.
(Riwayat Al-Bukhori 1877 dan Muslim 1995)

Abdullah bin Unais, lailatul qodr terjadi pada malam ke 23 Romadhon yang juga ditandai
dengan turun hujan pada malam harinya menjelang shubuh. (Riwayat Muslim 1997)

Ibnu Abbas, lailatul qodr terjadi pada malam ke 24 Romadhon.(Musnad At-Thoyalisi
2167-Fat-hulBari4/262)

Ubay bin Ka’ab, lailatul qodr terjadi pada malam ke 27 Romadhon dan ditandai keesokan harinya dengan matahari yang terbit dengan sinar yang tidak kuat.
(Riwayat Muslim 1999)

Abu Huroiroh, lailatul qadr terjadi pada malam 27 atau 29 Romadhon.
(Musnad At-Thoyalisi 2545)

Adapun anggapan orang bahwa lailatul qodr sudah diangkat maka Abu Huroiroh mengingkarinya.

Dari Abdullah bin Yahnus,
aku berkata kepada Abu Huroiroh:

“Ada orang menyangka bahwa Lailatul Qodr sudah diangkat (tidakakan terjadi lagi)!”.

Maka Abu Huroiroh menyangkal,
“Telah dusta orang yang mengatakannya.”
(Riwayat Abdurrozzaq 4/252)

Doa Malam Lailatul qodr

Aisyah rodhiyallahu’anhu berkata:

“Wahai Rosulullah bagaimana menurutmu bila aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qodr apa yang harus aku ucapkan?”
Beliau صلى الله عليه وسلم berkata, ucapkanlah

“Alloohummainnaka’afuwwuntuhibbul‘afwafa’fu’anni”
(Ya Allah Engkau Maha Pemaaf, Engkau senang memaafkan hamba-Mu maka berilah pemaafan kepadaku).”
(HR. At-Tirmidzi 2508, Silsilah Ash-Shohihah 3337)

Disalin dari E-book panduan ramadhan
Oleh Ustadz Fikri abul hasan