Tawakkal Lebih Kedepankan Dari Kekhawatiran

Fawaid pagi

TAWAKKAL LEBIH KEDEPANKAN DARI KE KHAWATIRAN

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Kadang kekhawatiran manusia lebih besar dari kenyataan yang ada.

Ketahuilah kekhawatiran tidak merubah apapun, tindakan berlebihan dan kehebohan, malah akan memperbesar masalah, dari masalah yang sebenarnya.

Situasi yang tidak menentu bisa menjadi sebab banyak hal, kerusuhan, naiknya harga harga, mobilisasi manusia, rawannya keamanan, dan begitu mudahnya manusia di politisasi.

Dunia ini telah mengalami berbagai hal, termasuk wabah, dan penyakit.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan penyakit, dan Dia yang memberi kesembuhan.

Antisipasi suatu keharusan, namun tidak perlu khawatir yang berlebihan.


Semoga Allah memberikan kebaikan kepada kita semua, mengangkat wabah ini, dan menormalkan lagi kondisi.

Sidoarjo, pagi yang cerah setelah di guyur hujan semalaman.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Kufur Dan Syirik Karena Warisan

Fawaid edisi khusus

KUFUR DAN SYIRIK KARENA WARISAN.

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.




Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يعرفون نعمت الله ثم ينكرو نها

Mereka mengetahui nikmat Allah kemudian mengingkarinya.

سورة النحل ٨٣.



Berkata Mujahid tentang ayat ini,

هو قول الرجل هذا مالي ورثته عن آبائي.

Ia adalah ucapan seorang, ini adalah hartaku, aku peroleh dari warisan bapakku.


Matan Kitabut Tauhid hal 126, cetakan Manarul Islam.



Berkata Syaikh Abdurrahman bin Hasan Rahimahullah.

Ayat ini berlaku umum, untuk siapapun yang menisbatkan segala nikmat, dan menyandarkan sebab-sebab itu pada selain Allah.


Berkata Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Hal ini banyak di singgung dalam Al Qur’an dan Sunnah, Allah Subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang menyandarkan nikmat itu pada selain Nya, dan menyekutukan (berbuat syirik pada) Nya.

Sebagaimana ucapan seorang.

(Saat naik kapal) angin bertiup dengan baik, dan nakoda nya mahir (atau contoh lain, mobil berjalan lancar, sopirnya pintar).


Fathul Majid 813.
Sumber: @pissalaf

Kesucian Cinta Atau Prahara Nafsu?

Fawaid Singkat

KESUCIAN CINTA ATAU PRAHARA NAFSU ?

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Cinta, berawal cinta di hati.

Hingga datang kematian laksanakan permainan.

Ia bermula dari lirikan mata.

Lalu menyala seperti kobaran api.

Seperti api yang hanya percikan.

Bila telah besar membakar seluruh kayu.

Kitab Raudhatul Muhibbin.

Sehari…

Kata cinta terbakar oleh hawa nafsu.

Terkotori oleh rayuan dari lisan tanpa iman, menggerogoti sanubari yang telah sakit.

Prahara hawa nafsu yang mencederai cinta.

Betapa banyak hijab rasa malu terobek oleh kedurjanaan.

Satu hari, hanya satu hari…

Semua berkata tentang “cinta”, seakan mereka hidup setiap detiknya, dalam kebuasan dan tidak berprikemanusiaan, dan tidak kenal cinta.

Cinta…

kata kesucian, sebagaimana kata iman dan pengorbanan, terkotori oleh lisan-lisan serigala yang menyalak bak malaikat.

Melepas rasa malu, untuk berbuat durhaka atas nama cinta.

Oh, celaka mereka, sekiranya mereka tau makna cinta dalam Islam.

Tidak akan terjadi drama menyedihkan dalam satu malam.

Ketika tirai malu di lepas, dan kesucian di robek, serta Iman tertanggalkan.

Celaka dan celaka.

Dimana para pria yang menundukkan pandangannya, yang memiliki sifat kesatria dan wibawa.

Di mana wanita-wanita Surga, yang terbungkus rasa malu nya???.

Dimana Orangtua, yang memiliki kasih sayang pada putra-putrinya.

Oh, seandainya aku memiliki kuasa atas orang-orang durhaka dan durjana itu.

Yang menginginkan kekejian menyebar di antara kaum Muslimin, dengan slogan slogannya yang indah namun menipu.

Mereka tidak memiliki cinta, dan tidak bisa merasakannya, karena hati mereka telah jauh dari kata cinta kasih.

Yang mereka tau.

Cinta yang hanya sekerat cokelat, dan kondom, untuk menanggalkan kesucian setiap wanita, atas nama cinta basi.

Dimana para wanita yang memiliki rasa malu dan tenang dengan jilbabnya?

Apakah mereka menyadari kerusakan ini?

Semoga…

Menjelang hari prahara hawa nafsu 12 Februari.

Sebuah Pelajaran Untuk Rendah Hati dari Seorang Imam

FAWAID EDISI KHUSUS

Sebuah Pelajaran untuk Rendah Hati, dari Seorang Imam.

Ustad Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Imam Abu Hasan, Ali bin Muhammad Al Mawardi (w 450 h) Rahimahullah, menceritakan tentang dirinya.

“Di antara yang aku peringatkan kepadamu tentang diriku (agar engkau tidak mengikutinya).

Sesungguhnya aku pernah menulis buku tentang bab jual beli, aku berusaha mengumpulkan semua pendapat ulama di dalamnya.

Aku melelahkan diriku untuk buku tersebut, dan bersusah payah untuknya.

Sehingga ketika buku telah selesai penulisannya, dan nyaris aku terkagum-kagum kepadanya, serta aku membayangkan diriku menjadi orang yang paling hebat dalam masalah ini.

Tiba tiba hadir dua orang Badui dalam majelis ilmuku.

Keduanya menanyakan tentang jual beli yang di lakukan di tempat mereka, dengan beberapa persyaratan, yang mengandung empat permasalahan besar, namun aku tidak mempunyai jawaban terhadap satu pun dari ke empat permasalahan tersebut.

Aku berfikir lama sekali tentang diriku, dan tentang dua orang tersebut.

Keduanya lalu bertanya,

“Apakah anda punya jawaban terhadap pertanyaan yang kami ajukan, dalam kapasitas anda sebagai Imam dalam Madzhab Syafi’i ?”.

Aku menjawab, “tidak”.

Lalu keduanya berkata, “celaka engkau”.

dan keduanya keluar dari majelis (saat) itu.

Kemudian keduanya datang kepada sebagian sahabatku, lalu mengajukan pertanyaan yang sama, tanpa pikir panjang, ia memberikan jawaban yang dapat memuaskan keduanya.

Usai mendapat jawaban dari pertanyaan nya, keduanya pergi dengan merasa puas, dan memuji ilmu sahabatku (di hadapanku).

Sedang aku, aku masih memikirkan dua orang tersebut, dan keadaan diriku.

Aku masih memikirkan keempat masalah tersebut hingga hari ini.

Itulah nasehat (Allah) yang tepat dan Maha Bijak (kepadaku).

Dengannya, (menjadi) kendali diri ini, dan sayap kesombongan menjadi rendah, itulah (sebuah) bimbingan dan petunjuk yang diberikan Allah kepadaku”.

Minhajul Yakin, Syarhu Adabi Dunya wa Diin, 109-110.

Sumber: IG @pissalaf

Hidangan Ilmu

Fawaid Edisi Khusus

Oleh : Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Dua hal yang wajib di hadirkan dalam halaqoh ilmu, bila ingin memperoleh buah dari ilmu.

Keikhlasan pendidik, dan beradabnya penuntut ilmu.

Keikhlasan seorang pendidik.Berkata Imam Badruddin Ibnu Jama’ah As Syafi’i rahimahullah.

Hendaknya seorang pengajar, yang ia harapkan dari mengajar dan mendidik murid-murid nya adalah:

1. Hendaknya ia hanya mengharapkan semata wajah Allah taala.

2. Menyebarkan ilmu.

3. Menghidupkan Syariat.

4. Menampakkan kebenaran.

5. Memadamkan kebatilan.

6. Melanggengkan kebaikan bagi ummat.

7. Berharap mendapatkan pahala dari ilmu yang bermanfaat.

8. Mengharapkan keberkahan doa kebaikan dan Rahmat.

9. Masuknya mereka dalam jajaran pembawa ilmu, antara Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan para muridnya.

10 masuknya ia pada jajaran orang yang mengemban dan menyampaikan agama dan hukum Allah.Karena mengajarkan ilmu merupakan hal terpenting dalam urusan agama, serta merupakan tingkat kemuliaan tertinggi bagi orang-orang beriman.

Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal hal yang bisa menghalangi dan mengotori hati kita dari ilmu yang bermanfaat (ketidak ikhlasan).

Lihat Tadzkiratus Sami wa Mutakalim hal 61-62.

Beradabnya penuntut ilmu. Selanjutnya beliau menjelaskan hal kedua, agar seorang mendapatkan buah ilmu. Beliau mengutip ucapan Al Ghazali rahimahullah.

Al Ghazali menganggap sikap seperti ini (merendahkan guru) sebagai kesombongan dan termasuk kebodohan.

As Syafi’i pernah di cela karena beliau memiliki kerendahan hati di depan para Ulama. Lalu beliau menulis dalam syairnya. Aku merendahkan jiwa kepada Ulama, sedang mereka memuliakan nya (ilmu). Dan jiwa (diri) yang tidak engkau rendahkan, tidak akan di muliakan. Baihaqi dalam Al Madkhal 645. Sebagaian ulama salaf berkata,”Sesungguhnya pengajar dan dokter, keduanya tidak akan tulus mengajar dan mengobati, jika keduanya di rendahkan. Maka bersabarlah atas penyakitmu, jika engkau kaku kepada dokternya.Dan bersabarlah atas kebodohan, bila engkau kaku pada pengajarnya”.

Berkata pentahqiq kitab mengenai ucapan di atas. Adapun zaman ini, semua terbalik, para guru di tuntut berusaha keras membuat para murid senang, dan harus bersabar atas semua sikap murid.

Kitab Al Mujalasat hal 1635.

Lihat Tadzkiratus Sami wa Mutakalim 116.

Sebuah Hiburan Bagi Kesedihan

Fawaid Edisi Khusus


Sebuah Hiburan Bagi Kesedihan.

Ustad Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.




Saat nabi mengalami pemboikotan, ditinggal wafat kedua pembelanya, Abu Thalib dan istrinya Khadijah Ummul mu’minin, dan terasa tidak ada lagi baginya penerimaan kaumnya, dan beliau yakin tidak ada yang mendukung dakwahnya di kalangan manusia, dan membuncah kesedihan atas semua itu.

Beliau melakukan perjalanan menuju Thaif, satu tempat yang jaraknya 80 km dari Makkah dengan berjalan kaki.

Kesedihan beliau bertambah dengan penolakan orang-orang Thaif, bahkan mereka mengusirnya dengan lemparan batu.

Namun Allah tidak membiarkan kekasih Nya bersedih terlalu lama.

Datanglah hiburan bagi kesedihan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.


Berupa datangnya malaikat Jibril dan malaikat gunung.

Kedua, beliau di tolak oleh orang-orang Thaif, namun, beliau di terima dakwahnya oleh sekumpulan jin yang menyatakan keimanannya kepada beliau shalallahu alaihi wa salam, lihat surah Al Haqqof ayat 29-32.

Dan kegembiraan ketiga, saat beliau berlindung dari pengusiran di perkebunan anggur keluarga Utbah, dengan kondisi tubuh berdarah darah, datang seorang budak yang berasal dari negeri Ninawa, negerinya Yunus alaihi salam, budak keluarga Utbah.

Setelah mereka bercakap-cakap, dan Budak yang bernama Addas (biografi beliau di terangkan dalam Al Ishabah 4/227), mengetahui bahwa di depannya adalah seorang rasul, ia mencium kaki Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan menyatakan diri masuk Islam.

Lihat Fiqih Sirah hal 219-224.

Demikian juga dengan Yunus bin Matta alaihi salam, saat beliau marah pada kaumnya, karena penolakannya.

Dalam kesedihan itu, dan telah yakin akan di dustakannya risalahnya, beliau meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah.

Saat beliau naik dalam bahtera, beliau menemui kesedihan berikutnya, bahwa ia harus di lemparkan kedalam lautan, tidak hanya itu.

Ikan besar bersiap menelannya, dan ia hidup dalam tiga kegelapan, kegelapan malam, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan perut ikan.

Namun, Allah melihat hamba hamba Nya, dan Yunus termasuk orang yang shalih dan ahli berdzikir dan bertasbih.

Allah mengeluarkan beliau dari perut ikan dalam keadaan sakit, lalu Dia maha kasih pada hamba Nya itu, dan berkenan memberi kan padanya kesenangan barang sedikit sebagai pelipur kesedihan.

Di tumbuhkan Nya pepohonan dari jenis labu untuk pemulihannya, dan tidak hanya itu.

Beriman setelahnya, Beratus-ratus orang dari manusia atas risalahnya.

Lihat kisah sepenuhnya di surah As Shaafaat ayat 139-148.

Demikian dengan Ibrahim alaihi salam, Zakaria dan istrinya alaihimus salam, Musa dan Isa alaihimus salam.

Juga Yusuf alaihi salam, Yusuf putra Ya’kub alaihimus salam.

Teladan dalam kesabaran, saat di kucilkan, di aniayah, dan di pisahkan dari orangtua dan kampungnya, oleh orang-orang terdekatnya, yakni saudara-saudaranya.

Lalu, bertubi-tubi musibah dan ujian mendera.

Namun pada akhirnya, bukan hanya saudaranya, bahkan seluruh negeri tunduk padanya, dengan semua karunia Allah.


Demikian lah kehidupan itu wahai saudaraku.

Tidak mungkin kita tetap pada satu keadaan, kesedihan dan kebahagiaan itu pasti silih berganti.

Di hina dan di rendahkan, di tinggalkan orang-orang terdekat, tidak ada penolong dan tempat berbagi kesedihan saat ujian menimpa.

Mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang yang kita kenal, teman, Karib, suami, anak, dan sahabat sahabat dekat.

Demikian juga saat dakwah kita di tolak oleh orang-orang yang kita cintai dari kerabat dan kaum kita, kita menginginkan kebaikan bagi mereka, namun perlakuan buruk kita terima.

Dan anda dapat menambahkan semua contoh contoh dalam kehidupan nyata anda atau orang terdekat anda.

Sore ini, saat kami berbaring, teringat beberapa ayat di dalam surah Al Kahfi, surah penghibur bagi hati yang sedih.

Yang tertatih dalam kebaikan dan terjauhkan karena penolakan dan perendahan, serta di tinggalkan orang-orang terdekat.

Itulah yang di rasa Ashabul Kahfi, saat mereka menegakkan kakinya, dan menyerukan keimanan mereka pada kaumnya.

Di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung harapan kebaikan dan optimisme bagi orang-orang yang terpinggirkan karena peremehan pemilik kebun.

Ia berkata,

فعسى ربي أن يؤتين خيرا من جنتك

Maka semoga Rabbku akan mendatangkan padaku apa yang lebih baik dari kebunmu.

سورة ١٨ الكهف ٤٠.

Juga harapan hamba yang shalih, teman seperjalanan Musa alaihimus salam, dalam ilmu dan hikmah.

Ketika ia di tanyakan tentang anak dan kesudahannya bagi orang tuanya yang shalih,

فأردنا أن يبد لهما ربهما خيرا منه زكوة و أقرب رحما

Dan kita berharap semoga Rabb keduanya mengantikan bagi keduanya seorang anak yang lebih tulus dalam mencintai mereka, dan lebih dekat kasihnya.

سورة ١٨ الكهف ٨١.

Ada satu kata dari dua ayat di surah yang sama ini,

خيرا من …

Apa yang lebih baik dari…

Dan,
خيرا منه

Yang lebih baik dari nya…



Allahu Akbar….



Wahai orang-orang yang bersedih dalam kecewa, terhempas semua asa dan cita, dan orang-orang yang memiliki kesedihan yang membuncah.

Orang-orang yang memulai langkah untuk belajar tentang keikhasan dan tabiat kehidupan.

Ingatlah Rabb mu.

Dialah yang membuat seorang hamba tertawa dan menangis, maka Dia juga lah tumpuan harapan dan asa itu.


Boleh jadi, kekecewaan itu akan berbuah manis dengan warna dan kondisi yang lain.

Saat orang berharap pada “A” ternyata, ia menemukan kasih Allah itu pada kondisi “B”.

Saat engkau di uji dengan anak, boleh jadi Allah membahagiakan mu dengan menantu dan cucu-cucu yang berbakti.


Saat ujian itu dari sisi suami, boleh jadi Allah menjadikan kebahagiaan itu pada berbakti nya anak dan perhatian teman-teman yang banyak.

Saat engkau di remehkan, di rendahkan, dan tidak di hargai keberadaanmu di sisi kaummu, boleh jadi, di tempat lain, orang orang menanti dan menerima dakwahmu.


Ingat wahai saudaraku, hanya kepada Allah pemilik Arsy yang agung, pemegang kunci kunci perbendaharaan, kepada Nya semua harapan tergantung, semua asa kembali, dan harapan itu ada.

Ingatlah, makhluk hanya hamba, tidak memiliki apa apa, jangan gantungkan semua hal dan harapan kepada mereka, harapan kepada mereka adalah hal yang tiada akan terpenuhi.

Dan dengannya, Allah memberikan pelajaran terpenting dalam hidup.

Hendaknya semua ketergantungan itu di serahkan kepada Allah, bukan sesama hamba.

Dan biarpun, hiburan itu tidak di dunia ini, seorang Muslim masih punya Akhirat.

Disana, harapan itu, di Surga tertinggi di sisi Allah, dan kesudahan yang baik bagi orang-orang bertaqwa.


Mari belajar kembali menata hati dan kedekatan dengan Allah, disanalah kebahagiaan dan harapan terpaut bagi hamba.





Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabb nya.

pencari ilmu Syar’i
Seputar tanya jawab keislaman:

https://bit.ly/2tW8u3N

Dijawab oleh :
Ust Abu Abdurrahman.

Tak Terbandingkan Selamanya

Fawaid edisi khusus

TAK TERBANDINGKAN, SELAMANYA

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah subhanahu wa taala berfirman menjelaskan keagungan Al Qur’an,

إن هذا القرآن يهدى للتى هي اقوم و يبشر المؤمنين الذين يعملون الصالحات أن لهم أجرا كبيراً .

Sesungguhnya Al Qur’an ini menunjukkan kepada jalan yang lebih lurus, juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shalih, bahwasanya bagi mereka pahala yang besar.

Q.S 17 Al Isra ayat 9.

saya juga akan terjemahkan kedalaman bahasa Jawa,

Sa estunipun Al Qur’an puniko ha nyukani pituduh kelawan ratan ingkan jejeg, lan ngabar aken babakan perkawis kabar bebungah tumrap tyang tyang ingkang iman kang sampun ngelampahi amal kabecikan, bilih tyang puniko angsal ganjaran kang ageng.

Quran Jarwo Boso Jawi Serat 17 Al Isra, Cacah 9.

Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah As Sady Rahimahullah menjelaskan,

يخبر (الله) تعلى عن شرف القرآن و جلالته ،

Allah taala mengabarkan tentang kemuliaan Al Qur’an dan keagungannya,

و انه (يهدى للتى هي اقوم) أي ، اعدل و أعلى من العقائد و الأعمال و الأخلاق ، فمن اهتدى بما يدعو إليه القرآن ، كان أكمل ألناس و أقولهم و اهداهم في جميع الأمور ،

Bahwasanya ia, “menunjukkan kepada jalan yang lebih lurus” yakni, lebih adil dan mulia dalam masalah aqidah (keimanan), amal, dan akhlak, maka barang siapa yang mengambil petunjuk dengan seruan ajaran Al Qur’an, maka dialah orang yang paling sempurna, orang paling lurus, dan orang paling mendapatkan petunjuk dalam semua urusannya,

(و يبشر المؤمنين الذين يعملون الصالحات) من الواجبات و السنن ،

“Juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shalih” yang mereka mengerjakan amal yang wajib dan sunnah,

(أن لهم اجرا كبيراً) أعده الله لهم في دار كرامته لا يعلم وصفه إلا هو.

“Bahwasanya bagi mereka pahala yang besar” Allah telah menyediakan bagi mereka dalam tempat kemuliaan Nya (surga) yang kebaikan dan keindahan sifat Surga itu tidak ada yang mengetahuinya saat ini, kecuali Dia sendiri.

Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalami Manan Surah 17/9. terbitan Darul Alamiyah Mesir.

Hendaknya seorang memiliki adab, tidak bicara mengenai agama kecuali dengan ilmu.

Karena apabila seorang berbicara tanpa ilmu, boleh jadi ia masuk rana yang bukan haknya berbicara dan menilai atau bahkan membandingkan.

Imam Muhammad bin Idris As Syafii Rahimahullah berkata.

Tidak di benarkan bagi siapa pun untuk berdalil dengan Qiyas (analogi / permisalan) kecuali ia menguasai seluruh (ilmu) hadits, berbagai penjelasan ulama, perselisihan (ilmiah) di antara mereka, juga harus menguasai ilmu Bahasa Arab, sebagaimana ia tidak di benarkan berdalil dengan Qiyas sampai ia terbukti memiliki kecerdasan, yang dengan nya ia mampu membedakan masalah yang terkesan serupa, dan di tambah hendaknya ia berlaku hati-hati.

Kitab Ar Risalah 509.

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata,

Semua bentuk Bid’ah dan pendapat sesat yang di susupkan kedalaman agama para Rasul, berawal dari Qiyas (analogi / kaidah berfikir) yang salah.

I’lamul Muwaqiin 2/29.

Kita lihat hari ini, orang yang melampau batas kadar dirinya,

Yang berani bicara tentang Allah dan asma serta sifat Nya, Rasul, Sunnah, Malaikat, kitab, agama Nya, hari akhir, dan hal-hal ghaib,

Tanpa ilmu, burhan, dan hujjah yang benar.

Mereka adalah orang yang tidak memiliki kemuliaan, harga diri, dan sifat kemanusiaan sebagai hamba.

Pembahasan kami ini terkait dan mencakup seluruh hal.

Namun, pada tulisan kali ini, kami batasi hanya untuk membahas orang-orang yang tidak memiliki adab kepada Al Qur’an.

Mereka berkata.

Al Qur’an jangan di makan mentah-mentah.

Seakan Al Qur’an itu, bagi mereka semacam tetumbuhan…

Al Qur’an itu jangan di baca langsung, nanti kamu konslet.

Seakan Al Qur’an itu, bagi mereka arus listrik.

Baik mana, Al Qur’an dengan ini dan itu…

Sebuah analogi salah… Dan memunculkan kesimpulan yang salah.

Nasalullaha salama wal afiah.

Kita berlindung dari ucapan kufur ini.

Apakah hati mereka tertutup atau mereka tidak berhati…

كلا بل ، ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون !!!.

Sekali-kali tidak, bahkan, itulah ‘Raan’ (penutup) yang menutupi di atas hati mereka, karena apa yang telah mereka kerjakan dari dosa !!!.

Qs Al Mutafifin ayat 14.

Ternyata dosa, kemaksiatan, dan jauhnya hati dari lentera hidayah, serta bimbingan Al Qur’an dan Sunnah, yang menjadikan mereka orang orang seperti itu,

sehingga ia keluar dari kebenaran.

Semoga Allah Subhanahu wa Taala menjadikan Al Qur’an bagi hati kita penyembuh, sebagai penerang bagi mata, pembersih dosa-dosa, serta menjadikan penjauh antara kita dengan neraka.

Ya Allah, jadikan al Qur’an hujjah bagi kami, bukan penghujat untuk kami.

Ya Allah jadikan kami ahli Mu, dan orang pilihan di sisi Mu, dengan sebab bacaan Al Qur’an kami.

Ya Allah, jadikan Al Qur’an bacaan bagi kami di pagi, siang, sore, dan malam kami.

Tenggelam kan kami dalam membaca, mentadabburi, serta mengamalkan nya.

Jadikan kami, keluarga kami, anak serta keturunan kami, sebagai Ahlul Qur’an, dan pembela Al Qur’an.

Oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.

Tidak Turun Hujan Karena Dosa Manusia

FAWAID

📝 Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah Subhanahu wa ta`ala berfirman,

Menjelaskan ucapan para Jin yang telah beriman,

و أن لو استقاموا على الطريقة لأسقينا هم ماء غذقا.

“Dan sekiranya mereka Istiqomah di atas jalan itu (Islam), benar-benar mereka akan di beri hujan yang tercurah”.

(QS. Jin ayat 16.)

Nabi shalallahu `alaihi wasallam bersabda,

و ما منعوا زكاة اموالهم إلا منعوا القطر من السماء و لو لا إليهائم لم يمطروا.


“Dan tidaklah mereka menahan Zakat harta mereka (yang wajib di keluarkan), kecuali akan di tahan hujan atas mereka dari langit, sekiranya bukan karena (belas kasih Allah kepada) hewan-hewan tentu mereka tidak akan di beri hujan”.

HR. Ibnu Majah 4019 , Shahih At Targhib 764.

Disebutkan dalam riwayat, Mujahid rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya binatang ternak melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Bani Adam, jika terjadi kemarau panjang”.

Mereka berkata, “ini disebabkan (kesialan) dosa manusia”.

Ikrimah rahimahullah berkata,

“Binatang melata, serangga, sampai kumbang dan kalajengking berkata,

“Kami terhalang dari hujan karena dosa anak Adam””.

(Kitab Ad Daa wa Ad Dawaa 144)

Inilah dampak buruk dari dosa dan maksiat.

Tidak hanya pelaku, namun juga makhluk-makhluk lainnya yang juga merasakan dampaknya.

Sehingga pelaku dosa tidak hanya mendapat dosa dari tindakannya, namun juga laknat dari makhluk lainnya.

Semoga Allah Subhanahu wa ta`ala membimbing kita semua diatas kebaikan dan mensucikan hati kita dari perbuatan dosa dan maksiat.

Sidoarjo, ba`da Maghrib.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Bila Engkau Bicara dan Menasehati Kesyirikan Hari ini

🖋 Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah subhanahu wa ta`ala berfirman menjelaskan kondisi orang-orang Musyrik…

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ

Bila disampaikan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas,

maka kalian akan melihat pada wajah-wajah orang Kafir itu pengingkaran,

hampir-hampir mereka meninju / bertindak anarkis kepada orang-orang yang menyampaikan ayat-ayat Kami kepada mereka…

Qs Hajj ayat 72.

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكُمُ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya engkau akan melihat (tanda-tanda) keingkaran pada wajah-wajah orang yang Kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka.
Katakanlah (Muhammad) apakah akan aku kabarkan kepadamu (mengenai sesuatu) yang lebih buruk daripada itu (yaitu) Neraka?
Allah telah mengancamkannya (Neraka) kepada orang-orang Kafir.
Dan Neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.

Demikian wahai saudaraku kenyataan pahit hari ini,

dimana kesyirikan di hidupkan seakan kecambah di musim hujan.

Bahkan kesyirikan di dukung pihak-pihak yang seharusnya mereka menutup celah itu.

Tempat-tempat kesyirikan menjamur, semakin bertambah dan di galakkan.

Bila ada seorang atau sekelompok orang yang ingin memberi nasehat,

bahwa hal itu kesyirikan,

serta merta wajah-wajah garang dan kebencian tampak di wajah-wajah mereka…

Mereka mengarahkan tangan, lisan, pandangan mata jahat penuh kebencian, bahkan senjata untuk berbuat anarkis dan kerusakan di muka bumi.

Bahkan seorang kyai, dan modin, yang seharusnya menjadi teladan bisa berkata:

“Ngomong syirik pisan kas… Tak kepruk ndas mu”

(Bicara syirik sekali lagi.. Saya kepruk kepala kamu).

Sambil mengacungkan besi dan cangkul ke atas wajah orang yang memberi nasehat…

Sedangkan wadyo bolo atau bolo kurowo mereka siap memberikan bogem mentah untuk pemberi nasehat…

Ya Allah, ampuni kami karena kelemahan kami dalam menyuarakan kebenaran.

Siapa Kamu dan Bapakmu?

SIAPA KAMU DAN BAPAKMU ? (sebuah jawaban kepada orang yang membandingkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dengan bapaknya).

🖋 Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Nabi shalallahu alaihi wa salam mengingatkan,

من بطا به عمله لم يسرع به نسبه

Barangsiapa lambat amalnya tidak akan bisa di kejar dengan kemuliaan nasabnya. (HR. Muslim No.2699, dari Abu Hurairah radiyallahu anhu)

Hari ini, kita temui banyak orang kurang ajar dan bersikap suul adab kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam. Apa hukuman dan ucapan yang pantas untuk orang yang sedemikian. Saya pernah menulis bab tentang hukum orang yang melecehkan Nabi, yang kami ambil dari Kitab Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah, Sarimul Maslul.

Dan satu peringatan keras, siapapun yang berani melecehkan Nabi shalallahu alaihi wa salam, mereka Kafir dengan ijma kaum Muslimin, dan wajib pemerintah menghukum dengan berat (mati), tanpa di mintai taubat. Hal ini, agar seorang tidak bermudah mudah melecehkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Sekarang, kami akan tulis sedikit, tentang ucapan yang pantas bagi orang yang suka membanggakan nasabnya, dari Kitab Manahi Syariyah, Syaikh Salim bin Ied Al Hilaly.

– Ucapan yang layak bagi mereka adalah “gigitlah kemaluan (zakar) bapakmu !!!”.

Dari shahabat Ubay bin Kaab radiyallahu anhu bahwa beliau mendengar seorang berkata,

“Hai keluarga fulan” (yakni membanggakan nasab). Lalu beliau berkata padanya, “Gigitlah kemaluan (zakar) bapakmu !!!”

Ubay mencela orang itu tanpa bahasa kiasan. Orang tersebut berkata pada beliau, “Wahai Abu Mundzir, engkau bukan orang yang suka berkata keji”

Ubay berkata padanya, Aku mendengar Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa berbangga dengan slogan Jahiliyah, maka suruhlah ia menggigit kemaluan (zakar) bapaknya, dan tidak usah memakai bahasa kiasan terhadapnya”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no 963).

Di ceritakan dalam musnad, Dua orang beradu nasab di sisi Nabi shalallahu alaihi wa salam, Seorang berkata, aku adalah Fulan bin Fulan, lalu engkau siapa?, celaka engkau !!!,

lalu Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda, Dua orang berbangga nasab pada masa Musa, seorang dari mereka berkata, aku Fulan bin Fulan, sampai ia menyebut sembilan nasab – lantas engkau ini siapa, celaka engkau???!!!.

Maka yang di tanya berkata, Aku Fulan bin Fulan bin Islam. Lalu Allah subhanahu wa taala mewahyukan pada Musa ‘alaihi salam, tentang dua orang tadi. Adapun engkau orang yang membanggakan nasab sampai sembilan orang, nenek moyangmu semua di neraka, dan engkau yang ke sepuluh. Sedang engkau orang yang menyandarkan dirinya pada dua orang, keduanya (bapak dan kakaknya) di surga, dan engkau yang ketiganya. (HR. Ahmad 5/128).

Lihat selengkapnya dalam Manahi Syariyah Fi Shahihi Sunnah An Nabawiyah 2/572.

Semoga tulisan ini, wasilah keridhaan Allah atas kami, karena marah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa salam di lecehkan seorang wanita tua yang tidak memiliki adab dan di ragukan keislaman nya, dan semoga tulisan ini ikhlas mengharap wajah Allah semata.

🖋☕ Pilang Kenceng Madiun Jawa Timur, waktu dhuha.

Oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.

Asas Persaudaraan Orang Beriman

🖋Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary

Syaikh Abdurahman bin Nasir bin Abdillah As Sady rahimahullah berkata,

هذا عقد عقده الله بين المؤمنين

أنه إذا وجد من أي شخص كان في مشرق الأرض و مغربها الايمان بالله و ملائكته و كتبه و رسوله و اليوم الأخر فإنه اخ للمؤمنين

اخوة توجب أن يحب له المؤمنون ما يحبون لانفسهم

و يكرهون له ما يكرهون لأنفسهم

Inilah ketetapan yang ditetapkan oleh Allah diantara orang beriman, bahwasanya siapapun yang di temui, di bagian bumi timur atau bagian bumi barat, seorang yang didalam dirinya terdapat keimanan kepada Allah, malaikat Nya, kitab Nya, para Rasul Nya dan hari akhir, maka dia menjadi saudara bagi orang orang beriman (lainnya).

Persaudaraan yang mewajibkan seorang untuk mencintainya sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri,

serta membenci (sesuatu) bagi saudaranya itu apa yang ia benci bila menimpa dirinya sendiri.

📚 كتاب تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان 7/133.

Inilah pijakan kokoh dalam keimanan, wujud sempurna dalam aqidah al wala’ wal bara’ (loyalitas dan pengingkaran) bahwa persaudaraan dalam islam di ikat dengan ikatan aqidah, dan dibangun atas kecintaan kepada Allah taala, serta Rasul Nya shalallahu alaihi wa salam.

Dan persaudaraan yang semacam ini, yang akan langgeng sampai nanti, di surga Nya, insya Allah.

https://linktr.ee/ukhuwahfilhijrah √Kunjungi website kami
√Follow TG, IG, FB, FP, LINE, TWITTER : Ukhuwah fil Hijrah

HARI ITU BERGANTI… HATI HATI.

Allah Ta’ala berfirman,

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

📖 (ال عمران:140).

“Dan hari itu Kami (Allah) pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran),

Dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’.

Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”.

📖 [QS. Ali Imron.140].

Dari Abdullah bin Umair berkata :

Aku masuk istana di Kufah saat itu kepala Al-Husain (yang di bunuhnya) diatas tameng, di tangan Ubaidillah bin Ziyad sedang Ubaidillah di atas dipan.

Kemudian aku masuk istana setelah masa berganti,

aku melihat kepala Ubaidillah bin Ziyad diatas tameng, ditangan Al-Mukhtar, sedang Al-Mukhtar di atas dipan.

Kemudian aku masuk istana setelah masa berganti,

aku melihat kepala Al-Mukhtar ditangan Mush’ab bin Az-Zubair, sedang Mush’ab di atas dipan.

Kemudian aku masuk istana setelah bergantian masa, aku melihat kepala Mush’ab bin Az-Zubair di tangan Abdul Malik bin Marwan, sedang Abdul Malik di atas dipan.

📖 [Al-Amali Al-Khomsiyyah 1/221].

Yang paling jelas… Apa faidah sekilas yang anda dapatkan setelah membaca tulisan di atas ???

Cinta Tanah Air

🖋Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud al Atsary

Mencintai tanah air adalah tabiat manusiawi, seorang pasti secara naluri mencintai tanah airnya, senantiasa ingat padanya, dan kangen bila berjauhan dari tempat kelahirannya.

Bilal radiyallahu anhu merasa kangen Makkah saat di Madinah, dalam demamnya ia melantunkan syair,

ألا ليت شعري هل ابيتن ليلة بواد حولي إذخر و جليل و هل أردن يوما مياه مجنة و هل يبدون لي شامة و طفيل

Oh angan, masihkah mungkin ku lalui malam di satu lembah di antara idkhir (rerumputan) dan jalil, masihkah mungkin bagiku di suatu hari menemui gemericik (air sumur) majinnah, dan apakah masih ku lihat syamah dan tufail (anak – anak Makkah) menampakkan diri.
(Ar rasul wa risalah 172).

Seorang muslim yang baik dan berilmu tentu mengharap kebaikan bagi negeri dan saudara – saudaranya kaum muslimin.

Yang dilarang adalah dua kutub sikap ekstrem, antara menelantarkan negeri, membiarkan negeri dikuasai orang kafir, dan kekayaannya dikuasai penjajah asing.

Serta sikap berlebihan dalam memandang negaranya, bahwa negaranya adalah segalanya (hidup mati) dan unggul di atas negara lain serta tertanamnya sikap nasionalisme sempit (qoumiyah dhayyiqoh).

Karena kaum muslimin menjalin ukhuwah di atas iman islamnya, bukan nasionalisme dari kaca mata penjajah.

Dan sejarah membuktikan bahwa kaum muslimin yang berperan aktif dalam setiap perlawanan kepada penjajahan di setiap negeri kaum muslimin.

Mengenai hukum seputar peringatan kemerdekaan (yaum wathani)
Para ulama berselisih, apakah hal itu bagian dari ritual keagamaan (Ied) atau kebiasaan yang berkaitan dengan urusan keduniaan.

Karena sebagai kaum muslimin, tentu kita tidak memiliki perayaan tahunan kecuali Iedul Fitri dan Iedul Adha.

Sebagian ulama yang membolehkan, memasukkannya kedalam urusan keduniaan.

Kami mencoba menimbang apakah peringatan kemerdekaan termasuk ritual Ied atau kebiasaan keduniaan:

  1. Diadakan setiap tahun (moment tahunan).
  2. Di setiap malam hari kemerdekaan dipastikan ada ritual malam renungan, baik di taman makam pahlawan, atau di gang – gang desa sampai menutup jalan yang dinamakan malam tirakatan dan kumpul warga dengan ritual tumpeng dan doa bersama.
  3. Dilakukan secara kolosal (satu negara).

Maka dari sisi ini, dapat diketahui bahwa peringatan hari kemerdekaan adalah Ied. Yang menggabungkan antara ritual kebiasaan dan adat serta ritual keagamaan sekaligus.

Yang juga terkait masalah hari kemerdekaan, adalah memasang bendera.

Memasang bendera termasuk urusan keduniaan, dan bendera adalah simbol dari setiap negara, dan tentunya hal ini boleh, di antara ulama yang berfatwa bolehnya mengkibarkan bendera adalah Syaikh Ubaid al Jabiri dalam fatwanya.

Perkara selanjutnya adalah, terkait dengan hormat bendera, apakah ia juga perkara tabiat keduniaan atau masuk pada rana hukum syariat?

Para ulama memasukkan hukum hormat bendera termasuk haram.

Lajnah Dâimah mengeluarkan putusan bahwa hormat bendera termasuk kemungkaran, masuk wilayah kesyirikan dan tasyabuh terhadap orang kafir.

لا يجوز للمسلم القيام اعظاما لأي علم وطني او سلام و طني

“Tidak dibolehkan bagi muslim berdiri untuk penghormatan pada bendera atau lagu kebangsaan.”
(Fatwa Lajnah Dâimah 1/ 235).

لا تجوز تحية العلم

“Tidak boleh memberi hormat pada bendera.”
(Fatwa Lajnah Dâimah 1 /236).

Yang ingin saya jelaskan juga dalam tulisan singkat ini adalah beberapa pertanyaan :

Bolehkah ikut malam tirakatan hari kemerdekaan?

Bolehkah ikut menyumbang dana acara hari kemerdekaan?

Bolehkah ikut lomba hari kemerdekaan?

Terkait malam tirakatan,
Hal ini tentu adalah ritual budaya yang dibungkus dengan ritual syariat.

Biasanya berisi acara tahlil dan dzikir bersama, dan juga tumpengan dan malam renungan.

Tidak jarang menutup jalan kaum muslimin (hukum terkait menutup jalan sudah dibahas pada tulisan lain).

Bila ditanya maka hal ini terkait kaidah umum, dari hadits Nabi ﷺ,

كل بدعة ضلالة

“Setiap bid’ah adalah sesat.”

(HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai dan lainnya, Tirmidzi no 1105).

Terkait iuran yang ditarik dari warga untuk ritual dan perayaan kemerdekaan,
Maka dilihat dari beberapa sisi:

  1. Biasanya diadakan pungutan sepihak dari RT atau RW.
  2. Tidak ada sebenarnya perda tentang itu (keharusan), namun bila ada warga yang menolak biasanya dipersalahkan.
  3. Tidak jarang hal itu untuk kemaksiatan, umpama karnaval yang kadang tabarruj, menampilkan banci, dan bersolek. Atau acara wayang, campur sari, minimal musikan dan nyayian, dan untuk tumpengan (makan bersama) di malam tirakatan.
  4. Kadang memaksa.
    Padahal kita tidak boleh mengambil harta manusia dengan cara batil dan dzalim.

Di terangkan dalam ayat,

و لا تأكلوا اموالكم بينكم بالباطل

“Dan janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara batil.”
(Qs Al-Baqarah ayat 188).

  1. Tidak boleh berkontribusi dalam kemungkaran.

Maka sepatutnya seorang muslim menolak bila iuran yang diminta untuk maksud – maksud yang tidak syari di atas.

Lalu bagaimana bila dipaksa ? Keharaman mengambil harta manusia secara dzalim itu terkait pihak yang memaksa.

Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Minhajul Qosidin memberi keringanan untuk orang yang di paksa menyerahkan hartanya (dalam jumlah tertentu) yang bila tidak ia akan mendapatkan kesulitan (dicaci atau mendapat prasangka buruk) , maka ia boleh menyerahkan hartanya.

Terakhir terkait lomba lomba yang diadakan.
Bila lomba itu tidak dipungut biaya, dan hadiah dari sponsor maka hal ini boleh.

Bila hadiah, diambil dari peserta lomba maka hal ini haram.

(Lihat perinciannya dalam harta haram muamalah kontemporer bab hadiah dari hal 272- 290)

Terkait ini pula jalan sehat yang hadiahnya dipungut dari penjualan kupon berhadiah.

Semoga dapat difahami tulisan singkat ini.

https://linktr.ee/ukhuwahfilhijrah | Follow TG, IG, FB, FP, LINE, TWITTER : Ukhuwah fil Hijrah