Empat Kegelapan

Fawaid edisi khusus

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah Subhanahu wa taala berfirman,

الر ، كتاب انزلناه إليك لتخرج الناس من الظلمات الى النور بإذن ربهم الى صراط العزيز الحميد

سورة ١٤ ابراهيم ١

Alif Lam Ra , kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dengan kehendak Rabb mereka, ke jalan yang maha perkasa lagi maha terpuji.

Imam Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah as Sa’dy rahimahullah berkata,

يخبر (الله) تعالى أنه انزل كتابه على رسوله محمد صلى الله عليه وسلم لنفع الخلق

Allah taala telah mengabarkan bahwasanya Dia menurunkan kitab Nya kepada rasul Nya Muhammad shalallahu alaihi wa salam untuk kemaslahatan makhluk Nya

ليخرج الناس

Agar dengan nya mengeluarkan manusia

من ظلمات الجهل ، و الكفر ، و الأخلاق السيئة ، و أنواع المعاصي

Dari gelapnya kebodohan, gelapnya kekafiran, gelapnya akhlak akhlak buruk, serta beragam maksiat

الى نور العلم ، و الايمان ، و الأخلاق الحسنة.

Kepada cahaya ilmu, keimanan, dan akhlak akhlak yang baik.

Lihat: taisir karimir rahman fi tafsir kalamim manan surah 14 /1. Hal 434. Cetakan darul alaminya, Mesir.

Di sini beliau menjelaskan bentuk bentuk kegelapan, ada empat kegelapan yang begitu berbahaya, dan kita berlindung kepada Allah dari nya:

  1. Kegelapan bodoh.
  2. Kegelapan kekafiran
  3. Kegelapan akhlak yang buruk
  4. Dan beragam maksiat.

Semoga Allah subhanahu wa taala melindungi kita semua dari nya.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Pencari ilmu syar’i

Dijawab oleh :
Ust Abu Abdurrahman.

Gabung kajian online :

G~WA PIS
https://bit.ly/2t90ZpK

IG:@pissalaf
IG:@Taaruf_pis
https://bit.ly/2Q57QJQ

FB:MT. Nisaa As Sunnah

Cara Lain…..

Fawaid edisi khusus

Cara lain….

Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda,

إن الشيطان قد ايش أن يعبده المصلون في جزيرة العرب و لكن في التخريش بينهم.

رواه مسلم ٢٨١٢.

Sesungguhnya setan telah putus asa untuk di ibadahi oleh orang orang yang shalat di jazirah Arab (kaum muslimin), namun ia tidak akan pernah putus asa dari menebar permusuhan di antara kalian (HR. Muslim no 2812).

Seorang muslim dengan muslim lainnya adalah sepenanggungan, dalam arti saling berkasih sayang, sepenanggungan dalam kegembiraan dan kesedihan.

Mereka bukan hanya sebatas keluarga, namun lebih dari itu, mereka adalah kaca bagi yang lain, kain yang menutupi aib dan sandaran saat menemui kesulitan dan tempat untuk saling memikul beban.

Syaikh Ali Hasan Al halaby hafidzahullah mengingatkan tentang keindahan persaudaraan dan taawun sesama muslim,

“و تعاونوا على البر و التقوى

Dan saling tolong menolong lah kalian dalam kebaikan dan taqwa. (Q.S. Al-Maidah ayat 2)

Kita (kaum muslimin) wajib mengaplikasikan sebagaimana di praktekkan salafus shalih. Dasar dalam amal, beban dakwah, dan perjumpaan dalam pertemanan adalah tauhid dan manhaj. Di antara konsekuensi tauhid adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya, meniti jalan salaf dari kalangan shahabat, tidak memusuhi orang lain (saudara nya) karena unsur golongan, dan tidak meninggalkan jamaah kaum muslimin. Yang di lakukan untuk menterjemahkan ayat di atas adalah perintah saling bertaawun atas dasar syariat.

Ayat ini adalah titik tolak dan asas, yang mencakup kemaslahatan dunia dan akhirat. Mencakup kemaslahatan antara satu muslim dengan muslim lainnya. Sebab setiap orang tidak bisa di lepaskan dari dua hal, kewajibannya dengan Allah, dan kewajiban antar manusia.

Kewajiban antar seorang muslim dengan saudaranya adalah berupa pergaulan yang baik, saling sepenanggungan dalam persahabatan, amal nyata dalam tolong menolong berdasarkan keridhaan Allah dan di atas ketaatan pada Nya. Karena hal ini adalah puncak kebahagiaan, serta pertemuan dan perpisahan, persahabatan dan permusuhan harus di dasarkan kepada dua perkara ini (Ridha Allah dan di dalam ketaatan)”. (Kitab ad dawah Ila llah, baina tajamu’ hizby wa taawun syar’iy Hal 133.)

Begitu indah asas Islam dalam persaudaraan dan pertemanan.

Namun, apakah iblis ridha dengan hal ini?

Jawabannya, tentu tidak.

Mereka tidak akan Ridha dengan kebaikan, mereka akan berusaha merobek tirai kebaikan, memporak porandakan bangunan, dan akan memadamkan setiap semangat kebaikan, agar tidak berkembang kebaikan dan yang tampak hanya keburukan dan kekejian serta perpecahan.

Imam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata,

“Tatkala ajaran yang berbinar bak siang hari dari kehidupan para shahabat (dengan wafatnya mereka) cahayanya mulai temaram, mulai muncul bayang bayang kegelapan, kemudian bisikan bisikan hawa nafsu mulai menyeruak, jalan yang tadinya lapang mulai menyempit, lalu mereka (kaum muslimin) mulai bergolongan dan mereka mulai tidak padu (dalam satu urusan). Di sinilah iblis bangkit menciptakan hal hal yang bisa mengecoh (dengan bentuk lain), mencabik cabik (hati), dan memecah belah (persatuan). Sekerlingan mata pun, ia tidak pernah berhenti mengintip (kelemahan)”. (Lihat muqodimah talbis iblis hal 19.)

Wahai saudaraku, ingatlah akan wasiat dan hal ini.

Aku (abu abd rahman bin muhammad suud) nasehat kan, dan aku berkewajiban menjadi orang pertama yang melaksanakan.

Sesungguhnya, penyakit yang di hembuskan iblis dan bala tentaranya di kalangan Ahlu Sunnah bukan mengajak mereka pada kesyirikan dan bid’ah.

Karena ia tau, Ahlu Sunnah memiliki ilmu, sehingga tidak terjerumus pada keduanya.

Maka ia dan bala tentaranya, masuk lewat pintu, dan menghasung lewat wajah yang lain, serta melakukan talbis dalam bentuk yang berbeda.

Mereka menyeruak di barisan ahlus Sunnah untuk memecah bela, menabur buruk sangka dan saling tidak percaya.

Mereka meniup api fitnah, dan mengobarkan perselisihan sengit yang menjalar sampai lubuk hati di antara sesama Ahlu Sunnah.

Sehingga dengan itu, runtuh persaudaraan,

Tertanam rasa saling curiga dan tidak mempercayai,

Hilang rasa kasih sayang berganti kebencian dan permusuhan.

Semoga Allah subhanahu wa taala melindungi kita semua dari hal itu.

Maka hendaknya kita semua:

  1. Membangun pondasi dan asas persaudaraan dan pertemanan, yakni saling percaya dan membangun persaudaraan diatas taqwa dan ketaatan.

Ini berlaku secara umum

  1. Saling sepenanggungan, dan berkerjasama di atas kebaikan dengan kebeningan jiwa dan menutup cela dan mengesampingkan ego masing masing untuk maslahat yang lebih besar.
  2. Saling menjaga perasaan, menahan tangan dan lisan dari hal hal buruk yang dapat memutus tautan hati dan memecah perasaan.
  3. Mendahulukan kepentingan umum dan kaum muslimin serta saudaranya dari kepentingan sendiri dan maslahat pribadi.
  4. Mengembalikan semua hal pada makna dan penafsiran yang baik dan jujur.
  5. Memberikan udzur, berlapang dada, dan melihat kebaikan melebihi kesalahan yang mungkin terjadi berupa gesekan.
  6. Saling mengunjungi, dan menyapa sebagai saudara, dan sedapat mungkin menyelesaikan masalah dengan segera, sehingga satu masalah tidak menjadikan sempitnya hati dan renggangnya hubungan.
  7. Tidak meninggalkan saudaranya dalam urusan penting, menganggapnya ada, dan hal ini berlaku umum, sehingga satu orang di antara mereka merasa di hargai keberadaannya di antara yang lain.
  8. Terakhir, wahai saudaraku,

Kerjasama dalam kebaikan, asas nya adalah keperdulian dan saling sepenanggungan.

Bukan materi

Sebuah usaha kebaikan, asas awal bukan materi, harta, dan semisal dari itu.

Namun upaya kita perduli, keseriusan kita menebar kebaikan dan menyebarkan dakwah.

Sebagai orang berkata, bagaimana orang berakal, bisa memulai kebaikan tanpa modal dan harta serta materi?

Mereka melupakan asas dakwah para Nabi alaihimus salam, dan tidak mengerti karakter agama yang mulia ini.

Bagi mereka materi adalah segalanya, tidak ada materi berhenti berbuat baik.

Tidak dan tidak,

Dengan persaudaraan dan pertemanan yang tulus, kita akan dapat melakukan tindakan tindakan dan kerja kerja Besar,

Inilah modal dalam persahabatan, setelah kita asaskan semua itu di atas taqwa dan ketaatan kepada Allah dan rasul Nya.

Semoga Allah subhanahu wa taala mengumpulkan kita di atas kebaikan dan ketaatan di jalan dan surga Nya.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Sebuah Pelajaran Untuk Rendah Hati dari Seorang Imam

Fawaid edisi khusus

Sebuah pelajaran untuk rendah hati, dari seorang imam.

Ustad abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Imam abu Hasan, Ali bin Muhammad Al mawardi (w 450 h) rahimahullah, menceritakan tentang dirinya,

“Di antara yang aku peringatkan kepadamu tentang diriku (agar engkau tidak mengikutinya),

Sesungguhnya aku pernah menulis buku tentang bab jual beli, aku berusaha mengumpulkan semua pendapat ulama di dalamnya.

Aku melelahkan diriku untuk buku tersebut, dan bersusah payah untuknya,

Sehingga ketika buku telah selesai penulisan nya, dan nyaris aku terkagum kagum kepadanya, serta aku membayangkan diriku menjadi orang yang paling hebat dalam masalah ini,

Tiba tiba hadir dua orang Badui dalam majelis ilmu ku.

Keduanya menanyakan tentang jual beli yang di lakukan di tempat mereka, dengan beberapa persyaratan, yang mengandung empat permasalahan besar, namun aku tidak mempunyai jawaban terhadap satu pun dari ke empat permasalahan tersebut,

Aku berfikir lama sekali tentang diriku, dan tentang dua orang tersebut.

Keduanya lalu bertanya,

“Apakah anda punya jawaban terhadap pertanyaan yang kami ajukan, dalam kapasitas anda sebagai imam dalam madzhab Syafi’i ?”,

Aku menjawab, “tidak”.

Lalu keduanya berkata, “celaka engkau”,

dan keduanya keluar dari majelis (saat) itu.

Kemudian keduanya datang kepada sebagian sahabatku, lalu mengajukan pertanyaan yang sama, tanpa pikir panjang, ia memberikan jawaban yang dapat memuaskan keduanya.

Usai mendapat jawaban dari pertanyaan nya, keduanya pergi dengan merasa puas, dan memuji ilmu sahabatku (di hadapanku).

Sedang aku, aku masih memikirkan dua orang tersebut, dan keadaan diriku.

Aku masih memikirkan keempat masalah tersebut hingga hari ini.

Itulah nasehat (Allah) yang tepat dan maha bijak (kepada ku),

Dengan nya, (menjadi) kendali diri ini, dan sayap kesombongan menjadi rendah, itulah (sebuah) bimbingan dan petunjuk yang di berikan Allah kepada ku”.


Minhajul yakin, syarhu Adabi Dunya wa Diin, 109-110.

Pencari ilmu syar’i

Seputar tanya jawab keislaman:

https://bit.ly/2tW8u3N

Dijawab oleh :
Ustadz Abu Abdurrahman

Seruan Dakwah Bukan pada Materi

Fawaid edisi khusus


Seruan dakwah bukan pada materi, namun mengajak manusia kepada Allah

Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.


Perjuangan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, yang beliau lewati begitu berat, melewati berbagai tantangan dan resiko,

Kita masih menceritakan rangkaian perjalanan dakwah beliau, setelah di tolak seruan dakwah beliau di thaif.


Beliau mendatangi dan menanyakan keadaan setiap qobilah yang kira kira mau menerima dakwah beliau,

Beliau berkata pada setiap qobilah yang beliau temui pada musim musim haji,



Beliau berkata,

“Wahai manusia, ucapkan Laa Ilaha Illallah, kalian akan beruntung”,

Tidak berhenti Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berkata, “wahai manusia ucapkan Laa Ilaha Illallah”,

Sementara Abu Lahab mengikutinya dari belakang dengan berkata,

“Ia adalah orang murtad dan pendusta”.

(Hr Ahmad 25/404 no 16023).

Fiqih Sirah hal 251.



Di riwayatkan dari az Zuhri,

Beberapa qobilah beliau (Rasulullah) datangi, menawarkan Islam, namun tidak satupun dari mereka yang menyambut seruannya

Mukhtashar siratir rasul hal 149.


Di antara yang beliau dakwahi adalah Bani Amr bin Sha’ah,

Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan menawarkan diri beliau kepada mereka,

Maka seorang dari mereka yang bernama Bahirah bin Firas, berkata pada kaumnya,

“Seandainya saya mengambil tawaran pemuda ini, pasti saya di musuhi Quraisy dan arab”.

Lalu ia berpaling kepada Rasulullah, dan berkata,

“Bagaimana pendapatmu, bila kami membaiat mu atas urusan ini (menerima Islam), lalu Allah memberimu kemenangan atas orang orang yang memusuhimu, apakah kami berhak atas urusan itu, setelah mu?”.

Nabi berkata,

“Semua urusan kembali kepada Allah, Dia akan tetapkan sesuai dengan kehendak Nya”.

Kemudian ia berkata kepada nabi (dengan kasar),

“Kami korbankan leher leher kami untuk (membela) mu, namun apabila urusan itu bila telah di menangkan Allah, kami tidak berhak atas urusan tersebut ?, (Menyingkirlah) kami tidak butuh terhadap urusanmu”.

Begitulah, mereka menolak tawaran beliau.

Sirah Ibnu Hisyam 1/424. Rahiqil Makhtum 177.


Berkata Syaikh Zaid bin Abd Karim,


“…. Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menawarkan dakwah ini pada setiap qobilah, sambil mengajak mereka kepada Allah dengan lembut dan sabar, beliau berkata,

“Adakah satu kaum yang akan membawaku pada kaumnya, karena orang orang Quraisy telah menghalang halangiku untuk menyampaikan risalah (ajaran) Rabbku ?”.

Seruan para da’i kadang terasa lambat…

(Hal ini) menunjukkan bahwa menawarkan dakwah kepada manusia pasti akan mendapatkan resiko (penolakan), semua itu harus menjadikan seorang da’i untuk bersabar (menyikapi penolakan), dan mengharapkan balasan dari Allah.

Kami katakan,

Bahwa setiap muslim adalah para da’i dengan kapasitas nya, untuk mengajak manusia kepada agama Allah.

Dan sesungguhnya dakwah ini tidak pernah menawarkan kepada manusia keuntungan keuntungan materi, harta dan piranti pirantinya.

Dakwah ini adalah sebuah misi, mengajak manusia kepada Allah dan rasul- Nya.

Dan sifat seorang da’i hendaknya memiliki kekokohan dan keteguhan serta kesabaran menghadapi setiap ganguan pada jalan Allah.

Rongga Hati

Fawaid Edisi Khusus


RONGGA HATI

Oleh: Ustaz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.






Dari Abu Hurairah Radiyallahu Anhu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda,


لأن يمتلئ جوف أحدكم قيحا حتى يريه خير له من أن يمتلئ شعرا

Bila saja di penuhi perut salah seorang kalian dengan nanah yang merusaknya, itu lebih baik dari daripada di penuhi dengan syair (yang melenakan).

HR. Bukhari 6155. Muslim 2257. Kata يريه bermakna mengerogoti sampai rusak/membusuk.



Imam Muhammad bin Abu Bakr bin Qoyyim (Imam ilIbnu Qoyyim) Rahimahullah berkata,


“sebuah bejana baru bisa diisi jika kosong dari lawan sesuatu tersebut, hukum ini berlaku untuk zat, benda, dan berlaku pula terkait keyakinan.”

Apabila hati seorang di penuhi oleh keyakinan dan rasa cinta pada yang batil, maka tidak tersisa ruang di dalam nya untuk perkara yang haq.

Bila lidah seorang terbiasa dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka tidak akan mungkin berbicara tentang kebaikan.

Bila tubuh telah di sibuk kan dengan selain kepada ketaatan pada Allah, maka tidak mungkin tubuh itu bisa tunduk pada ketaatan.

Maka, hatipun demikian,

Bila telah mencintai, sibuk dengan keinginan, rindu dan larut pada selain Allah, pasti ia tidak mungkin sibuk dalam mencintai Nya, menginginkan Nya, dan merindukan pertemuan dengan Nya, kecuali hati itu di kosongkan dari keterkaitan kepada selain Nya.

Gerakan lidah tidak mungkin sibuk menyebut Allah, dan sibuk dalam melayani Allah, kecuali jika lidah dan anggota tubuh tersebut di kosongkan terlebih dulu dari menyebut dan menghamba pada selain Nya.

Jika hati telah tersibukkan dengan makhluk, dan ilmu yang tidak bermanfaat, maka di pastikan tidak ada lagi ruang di dalam nya untuk Allah, termasuk mengenal nama, sifat, dan hukum hukum Nya.

Ada hikmah di balik semua itu.

Yaitu, pengaruh dari penyimakan hati serupa dengan penerima telinga,

Apabila hati terbiasa menyimak perkataan yang tidak berkaitan dengan (firman) Allah, niscaya ia tidak akan bisa mendengar dan memahami firman Nya dengan baik.

Sebagaimana hati cenderung cinta pada selain Allah, maka di dalamnya tidak akan ada kecenderungan pada Nya.

Bila hati sudah terbisa berbicara (dengan) selain dzikir kepada Allah, maka hati itu akan membicarakan kebatinan, demikian (juga) yang terucap dari lisannya.


Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda bahwa perut manusia bisa di penuhi syair,

Artinya, anggota tubuh itu dapat juga di penuhi syubhat yang meragukan, tahayul, asumsi (khayalan) humor, berbagai lelucon, dan dongeng dongeng.

Apabila hati telah terpenuhi hal hal tersebut (dari syair/musik, humor, tertawa, dan khayalan).

Kemudian datang berbagai kebaikan yang hendak menempatinya (yakni hati manusia yang sudah sibuk dengan selain dzikir, musik, dan kelalaian) berupa al quran dan nasehat.

Maka, semua hal (baik) itu akan tertolak dan tidak mendapat tempat, dan tidak di terima.

Akibatnya, seluruh pengajaran al quran dan ilmu ilmu itu akan melintas begitu saja dari hati (seorang) yang penuh keburukan itu, untuk mencari tempat (hati yang baik) yang lain.

Demikian anda akan melihat, jika anda memberi nasehat kepada hati yang di penuhi hal hal yang berlawanan dengan perkara yang di nasehatkan, niscaya nasehat itu tidak akan masuk, sebab hati itu akan menolak (karena sudah penuh dengan kekotoran), dan nasehat tidak akan bisa masuk ke dalam nya.

Nasehat akan berlalu, dan tidak akan tinggal di hati yang seperti itu”.

كتاب الفوائد 116.



Sumber: Pencari Ilmu Syar’i

Hidangan Ilmu

Fawaid Edisi Khusus

HIDANGAN ILMU

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Dua hal yang wajib di hadirkan dalam halaqoh ilmu, bila ingin memperoleh buah dari ilmu.

Keikhlasan pendidik, dan beradabnya penuntut ilmu.


Keikhlasan seorang pendidik.


Berkata imam Badruddin Ibnu Jama’ah As Syafi’i Rahimahullah,


Hendaknya seorang pengajar, yang ia harapkan dari mengajar dan mendidik murid murid nya adalah:


1. Hendaknya ia hanya mengharapkan semata wajah Allah Ta’ala.

2. Menyebarkan ilmu.

3. Menghidupkan syariat.

4. Menampakkan kebenaran.

5. Memadamkan kebatilan.

6. Melanggengkan kebaikan bagi ummat.

7. Berharap mendapatkan pahala dari ilmu yang bermanfaat.

8. Mengharapkan keberkahan doa kebaikan dan Rahmat.

9. Masuknya mereka dalam jajaran pembawa ilmu, antara Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dan para muridnya.

10. Masuknya ia pada jajaran orang yang mengemban dan menyampaikan agama dan hukum Allah.

Karena mengajarkan ilmu merupakan hal terpenting dalam urusan agama, serta merupakan tingkat kemuliaan tertinggi bagi orang-orang beriman.

Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal hal yang bisa menghalangi dan mengotori hati kita dari ilmu yang bermanfaat (ketidak ikhlasan).

Lihat Tadzkiratus Sami wa Mutakalim hal 61-62.



Beradabnya penuntut ilmu.


Selanjutnya beliau menjelaskan hal kedua, agar seorang mendapatkan buah ilmu.

Beliau mengutip ucapan Al Ghazali Rahimahullah,

Al Ghazali menganggap sikap seperti ini (merendahkan guru) sebagai kesombongan dan termasuk kebodohan.

As Syafi’i pernah di cela karena beliau memiliki kerendahan hati di depan para ulama.

Lalu beliau menulis dalam syairnya,

Aku merendahkan jiwa kepada ulama, sedang mereka memuliakan nya (ilmu).

Dan jiwa (diri) yang tidak engkau rendahkan, tidak akan di muliakan.

Baihaqi dalam Al Madkhal 645.



Sebagaian ulama Salaf berkata,

“Sesungguhnya pengajar dan dokter, keduanya tidak akan tulus mengajar dan mengobati, jika keduanya di rendahkan.

Maka bersabarlah atas penyakitmu, jika engkau kaku kepada dokternya.

Dan bersabarlah atas kebodohan, bila engkau kaku pada pengajarnya”.




Berkata pentahqiq kitab mengenai ucapan di atas.

Adapun zaman ini, semua terbalik, para guru di tuntut berusaha keras membuat para murid senang, dan harus bersabar atas semua sikap murid.

Kitab Al Mujalasat hal 1635.

Lihat Tadzkiratus Sami wa Mutakalim 116.

Mereka Mensifati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan Hina

Fawaid Edisi Khusus

Mereka mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hina.

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.




Tidak ada satu kaum yang menghinakan tuhan mereka sebagaimana orang orang nasrani.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,

Demi Allah, para penyembah berhala itu, sekalipun mereka musuh Allah, musuh para rasul, yang merupakan orang kafir yang paling kufur, tidak mau mensifati tuhan mereka yang mereka sembah selain Allah itu, seperti yang di berikan oleh ummat Nasrani pada Rabb semesta alam tuhan langit dan bumi.

Ighasatu Lahafan /701.

Kaum Nasrani yang mereka klaim tentang ajaran agama kasih Itu, mereka mensifati tuhan dengan buruknya.

Bahwa Allah menurut mereka (semoga Allah membinasakan mereka) tidak mau memaafkan dan tidak menerima taubat dari dosa manusia (Adam alaihi salam).


Sampai dia sendiri yang harus turun dari singgasana keagungan Nya (Arsy), untuk menanggung dosa anak manusia, dengan cara hina.

Ibnu Qayyim melanjutkan,

Kaum Nasrani telah memperedikatkan kepada Tuhan yang benar itu, suatu yang di benci bahkan oleh manusia yang paling rendah dan hina jika hal itu di peredikatkan pada budaknya, juga di benci penyembah berhala jika hal itu di peredikatkan pada berhalanya.

Kaum Nasrani tidak percaya bahwa Allah telah mengampuni dosa dan kesalahan Adam, menyematkan suatu kezaliman yang paling bodoh (bahwa Tuhan pendendam), yakni tuhan memasukan para nabi, rasul, serta orang shalih ke dalam neraka, di sebabkan dosa moyang mereka Adam.

Mereka memperedikatkan kepada Allah satu kebodohan yang luar biasa.

Di mana Allah – menurut mereka menyelamat kan mereka (manusia) dari siksa melalui satu pengorbanan berupa mendapat permusuhan Yahudi atas Nya, sehingga mereka membunuh Nya, menyalib, dan mengalirkan darah Nya.

Kami tidak mengetahui satu ummat manusia yang mencela dan mencaci maki tuhan dan sesembahannya seperti celaan yang di lakukan oleh ummat Nasrani ini.

Ighasatu Lahafan/702.



Demi Allah, kami (Abu Abd Rahman) katakan,

Bahwa mereka (Nasrani) telah mensifati tuhan dengan sifat yang buruk, yang mereka mensifati Nya sebagai:

– Tuhan pendendam.

– Tuhan yang turun dari kemuliaan Nya, untuk menebus dosa hamba Nya, dan tidak bisa langsung memaafkan, kecuali dengan trik semacam itu.


Lalu di mana sifat “kasih tuhan” itu di agama Nasrani ?



Inilah Allah Subhanahu wa taala, Rabb yang Allah telah mengabarkan kasih sayang Nya pada hamba hamba Nya,

و إني لغفار لمن تاب و ءأمن و عمل صالحاً ثم اهتدى

سورة ٢٠ طه ٨٢ .

Dan sesungguhnya Aku (Allah) benar benar maha pengampun bagi orang orang yang bertaubat, beriman, dan berbuat kebaikan, kemudian ia tetap dalam keistiqomahan di atas petunjuk.



Wahai kaum Nasrani, kami menyerukan kepada kalian.

Mari kita menuju kesepakatan, bahwa Illah kita adalah satu, tidak ada sekutu bagi Nya.

Dan berhentilah dari mengucapkan tiga.

Ini lebih baik bagi kalian.

Bila kalian berpaling, maka saksikanlah.

Kami adalah orang Islam.

Untuk Cemburu Karena Allah Saja, Engkau Tidak Mampu?

Fawaid Edisi Khusus

UNTUK CEMBURU KARENA ALLAH SAJA, ENGKAU TIDAK MAMPU ?

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam bersabda,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

شتمني إبن أدم و ما ينبغي له أن يستمني ،

و تكذبني و ما ينبغي له ،

أما سمته فقوله إن لي ولدا

و أما تكذيبه فقوله ليس يعيدني كما بداني.


Manusia telah mencela Ku, dan tidaklah patut mereka mencela Ku.

Dan manusia mendustakan Ku, dan tiada pantas mereka melakukan itu.

Adapun celaan mereka adalah ucapanya yang mengatakan Aku memiliki anak.

Dan adapun kedustaan mereka adalah ucapanya, bahwa Aku tidak kuasa menghidupkan (makhluk) kembali sebagaimana aku telah menciptakan (mereka) semula.

HR Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu /3193.



Tidak ada satu kaum yang mensifati tuhan nya dengan hina kecuali sebagaimana yang di lakukan orang orang nasrani.

Mereka mensifati Tuhannya dengan sifat pendendam, yang tidak bisa mengampuni dosa yang di lakukan hamba Nya, Adam ‘Alaihi Salam.

Sehingga dosa itu temurun kepada anak cucunya.

Dan tidak bisa “Tuhan kasih” itu memaafkan dan mengampuni dosa manusia, kecuali ia harus turun dari singgasana keagungan Arsy Nya, lalu mengalami apa yang di alami manusia, dari kesulitan dan kesengsaraan.

Hidup sembilan bulan di rahim, makan dari asupan darah haid, kemudian keluar mengoyak Farji wanita, lahir berupa bayi yang menetek, dan mengalami konsekuensi dari makan.

Di kemudian hari ia harus di hianati murid Nya, hidup sebagai pelarian dan buronan Yahudi dan Romawi.

Kemudian tangan tangan musuh menimpakan kehinaan pada diri Nya.

Di tampar, di cambuk, di ludahi, di pasangkan mahkota duri sebagai raja Yahudi, dan kemudian memanggul salib untuk menyalib diri Nya di antara dua pencuri.

Ia kemudian harus menangung dosa dari hamba ciptaan Nya sendiri, dengan cara hina semacam itu.

Tertancap di kayu salib, kemudian memanggil Tuhan selain diri Nya.

“Eli, Eli, Mengapa Engkau meninggal Ku ?”.

Dia tidak mati, sampai seorang serdadu Romawi menusuk rusuknya dengan tombak, dan di biarkan rambutnya mengering karena darah Nya.

Tidak di turunkan Dia, kecuali hari telah sore.



Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata,

“Apakah alam ini bisa bertahan tanpa Tuhan yang mendengar para penyeru Nya dan mengabulkan doa ?

Apakah langit yang tujuh itu kosong, saat Dia berada di dalam tanah yang mengubur Nya ?

Apakah alam ini kosong, tanpa Tuhan yang mengaturnya, saat tangan Nya di paku ?

Bagaimana para malaikat diam, sedang mereka mendengar tangis Nya ?

Bagaimana kayu salib mampu membawa Tuhan yang Haq, yang tengkuk Nya terbelengu ?

Bagaimana besi bisa menembus daging Nya, dan menimpakan penderita pada Nya ?
Bagaimana tangan musuh bisa memukul tengkuk Nya,

Apakah Kristus dengan sendirinya kembali hidup, atau Sang pemberi hidup (Allah) memiliki Tuhan selain diri Nya !!!???

Aduh, betapa ajaib, ada tanah yang mengubur Tuhan, dan ada yang lebih ajaib, ada rahim yang mengandung Tuhan ?.”

Kitab Ighasatu Lahafan min Mashaidis Syaitan juz 2 bab ke 14.



Wahai kaum muslimin, tidakkah kalian sedikit memiliki kecemburuan.

Ketika mereka mensifati Allah dengan sifat yang sedemikian ?

Saat mereka mengatakan “Allah itu tiga”.


Yang agama mereka, mereka bangun di atas konsili yang saling mengutuk di antara mereka.

Lalu rasa tanpa cemburu, kalian mengatakan,

“Selamat hari lahir Tuhan”.

Di mana aqidah Wala’ dan Bara’ kalian ???


Semoga Allah memberi kita Istiqomah dan keteguhan di atas iman tauhid.


Jangan korbankan Aqidah demi yang di sebut “toleransi”.

Karena mereka tidak pernah memiliki dan memahami kata itu, dan demikian lah sejarah itu, telah mengutarakannya sebagai sesuatu yang abadi.

Dan tidak perlu meneriakkan kata toleransi, karena selama ini kaum Muslimin telah membuktikan nya.

Bahkan sebelum kaum itu bisa mengeja kata… t-o-l-e-r-a-n-s-i.

Semoga pesan ini di terima setiap hati yang memiliki iman kepada Allah, lagi tulus beribadah kepada Nya.

Kewajiban Berdakwah dan Menyeru Ahli Kitab kepada Tauhid

Fawaid edisi khusus

KEWAJIBAN BERDAKWAH DAN MENYERU AHLI KITAB KEPADA TAUHID.

Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Allah Subhanahu wa taala berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah “Wahai Ahli Kitab, Marilah kita menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu,

bahwa kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, serta kita tidak menjadikan satu sama yang lain menjadi Rabb Rabb selain Allah.”

Jika mereka berpaling, maka katakanlah “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang orang islam.”

Qs 3 Ali Imran ayat 64.

Kewajiban kita, yang Allah bebankan kepada orang orang yang mampu,

Menyampaikan seruan tauhid kepada ahli kitab, Yahudi dan Kristen (Nasrani).

Mengajak kepada mereka, pada seruan yang sama, mentauhidkan Allah.

Sebagaimana di sebutkan sendiri di dalam kitab kitab mereka,

Di sebutkan dalam kitab mereka, ulangan 6/4.

Dengarlah wahai orang orang Israel, tuhan itu Allah kita, tuhan itu satu.

Di sebutkan dalam kitab mereka, Matius 4/8-10.

Engkau harus menyembah tuhan, Allah mu, dan kepada Dia saja engkau berbakti.

Di sebutkan juga di kitab mereka, keluaran 20:3 dan ulangan 5:7,

Dan jangan ada padamu Allah lain di hadapan Ku.

Inilah perjanjian yang Allah ambil dari mereka (ahli kitab) agar mereka tidak berbuat kesyirikan, mengibadahi patung, salib, serta orang orang yang di anggap suci, dan hanya mengibadahi satu Illah yakni Allah Subhanahu wa taala.

Merekalah yang Terputus..

Fawaid edisi khusus.

Merekalah yang terputus

abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Allah Subhanahu wa taala menjaga nabi Nya dari para pencelanya,

إن شانئك هو الأبتر.

Orang orang yang membencimu (Muhammad) itulah yang akan terputus.

Qs 108 Al Kautsar ayat 3.

Dening jarwo boso Jawi nipun,

Sak temene sopo bae kang srengki marang seliramu (Muhammad) Yo iku wong kang pedhot Sola dursilo.

Qur’an Jarwo boso Jawi serat satus wolu (108), cacah kaping telu (3).

Imam Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah as Sa’dy rahimahullah berkata,

أي :

مبغضك و ذامك و متنقصك ، المقطوع من كل خير ، مقطوع العمل ، و مقطوع الذكر ،

و أما محمد صلى الله عليه وسلم فهو الكمل حقاً ، الذي له الكمال الممكن للمخلوق من رفع الذكر و كثير الأنصار و الأتباع.

كتاب تسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان/ ١٠٠٠.

Yakni,

Kelompok orang orang yang tidak suka (marah) kepadamu (wahai Muhammad), mencacimu, dan menghinamu yang akan terputus (mereka) dari semua kebaikan, terputus semua amalnya, dan terputus nama baiknya,

Sedang nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam beliaulah yang benar benar sempurna,
Yang kesempurnaan menjadikan manusia mengagungkan reputasinya, yang paling banyak pembelanya, serta yang akan paling banyak yang meneladaninya.

Kitab taisir karimir Rahman fi tafsir kalamim manan halaman 1000, cetakan darul alamiyah, Mesir.

Bila rasa cintamu jujur, tentu engkau akan mengikutinya.

Tidak akan mungkin muncul celaan, caci maki padanya shalallahu alaihi wasallam, dan tidak akan ada niat membanding bandingkan.

Jangan salahkan bila ada jiwa jiwa yang marah, karena engkau penyebabnya, dengan caci maki dan buruknya adabmu pada nya shalallahu alaihi wasallam.

Wahai kaum muslimin, ajari putra putrimu adab dan rasa pemuliaan pada Nabinya shalallahu alaihi wasallam.

Agar tau dia akan hak rasul-nya.

Waktu Dhuha, Sidoarjo,

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Putus Segala Hal yang Tidak Membuat Kita Istiqomah

Fawaid edisi khusus

PUTUS SEGALA HAL YANG TIDAK BISA MEMBUAT KITA ISTIQOMAH !.

abu abd rahman bin muhammad suud Al atsary.

Allah taala berfirman mengabarkan salah satu hamba Nya yang shalih, Sulaiman alaihi salam,

و وهبنا لداود سليمان نعم العيد انه اواب . إذ عرض عليه بالعشي الصافنات الجياد . فقال إنى أحببت حب الخير عن ذكر ربي حتى توارت بالحجاب . ردوها علي فطفق مسحا بالسق و الأعناق

Dan kami anugerahkan kepada Dawud putranya, Sulaiman, ia adalah sebaik baik hamba, sesungguhnya ia adalah seorang yang awwab (berbakti kepada Rabbnya) . Ketika di pertunjukan kepadanya (kuda) yang tenang dan berlari cepat (di waktu sore) . Lalu ia berkata, sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap hal yang baik (kuda) sampai lupa mengingat Rabb ku, sampai mereka (kuda) berlalu dari pandangan . Bawalah kuda kuda itu kembali kepadaku, lalu ia mengusap (memotong) kaki dan lehernya.

Qs 38 Shaad ayat 30-33.

Ayat ini merupakan pujian terhadap Nabi yang shalih yakni Sulaiman bin Dawud alahimu salam.

Allah taala menceritakan, bahwa Sulaiman memiliki kuda kuda yang baik, yang di gunakan untuk berjihad,

Kuda kuda ini berjumlah ribuan ekor,

Di sebutkan, bahwa kesibukan nya melihat penampilan kuda kuda ini menyebabkan ia terluput dari shalat asar, yakni mendapatkan waktu akhir darinya.

Di sebutkan dari Hasan Al Basri rahimahullah,

Sulaiman bin Dawud berkata,

“Tidak demi Allah !, jangan engkau sibukkan aku dengan mu dari Rabbku, ini kesempatan terakhir kalian (para kuda)”, kemudian beliau perintahkan agar kuda kuda itu di sembelih.

Lihat lebih jelas dalam tafsir Ibnu Katsir surah 38/30-33.

Di sebut dalam musnad Ahmad,

إنك لا تدع شيا اتقاء الله الا اعطاك الله خير منه

Bahwasanya tidaklah engkau tinggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah gantikan untuk mu sesuatu yang lebih baik darinya.

Pelajaran apa yang dapat di ambil,

Betapa banyak di antara kita, kaum muslimin hari ini,

Tersibukkan diri dengan hal hal mubah, hal hal tidak berfidah, bahkan sia sia.

Sehingga dengan itu, terluput banyak kebaikan, dan tersia siakan waktu.

Semua hal hal itu melalaikan kita dari berdzikir kepada Rabb, terluputnya banyak ibadah dan kebaikan, serta menyia nyiakan umur, serta terbengkalainya kewajiban kewajiban.

Bila para Nabi, mereka memutus hal hal yang menjadikan mereka lalai dari berdzikir dan ibadah, sementara hal hal itu juga bagian dari kebaikan (contoh: seperti merawat dan melihat kuda yang di gunakan untuk berjihad) dan hal hal mubah,

Lalu bagaimana dengan hari ini, di mana orang orang tersibukkan diri dengan hal sia sia, makruh, dan bahkan haram ???.

Maka, wahai saudaraku…
Semoga Allah Subhanahu wa taala memberkahimu,

Putus semua hal yang akan melupakanmu dari Allah, berdzikir kepada Nya, dan penyebab terjerumus nya dirimu pada hal sia sia dan haram.

Kita tidak akan bisa kokoh dan Istiqomah, bila semua hal itu masih menyibukkan diri kita,

Baik HP dan permainan dan game game nya, pertemanan, pengangguran dalam waktu, kajian kajian syubhat, perbincangan tanpa arah, perdebatan, dan segala warna warni dari hal hal makruh, haram, dan ketidak jelasan.

Putus dan akhiri semua itu,

Semoga dengan itu, terwujud dalam dirimu dan diri kami, sabat dan Istiqomah.

Ya Allah anugerahkan kepada kami sabat dan Istiqomah, jauhkan dari kami hal hal sia sia dan kelalaian.

Bada subuh, oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Shalih dan Muslih

Fawaid

Fawaid edisi khusus



Shalih dan Muslih.


abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.




Dalam syair di katakan:


يا عبد الحرمين لو ابصرتنا #
لعلمت أنك في العبادة تلعب #.

من كان يخضب خده بدموعه #
فنحورنا بدمائنا تتخضب #.

أو كان يتعب حيله في باطل #
فخيولنا يوم الصبيحة تتعب #.

ريح العبير لكم و نحن عبيرنا … #
رهج السنابك و الغبار الأطيب #.

و لقد اتانا من مقال نبينا #
قول صحيح صادق لا يكذب #.

لا يستوي غبار حيل الله في … #
أنف أمرىء و ذخان نار تلعب #.

هذا كتاب الله ينطق بيننا #
ليس الشهيد بميت لا يكذب #.


Wahai orang yang beribadah di dua tanah haram seandainya engkau melihat kami #

Sungguh engkau akan mengetahui bahwa bahwa selama ini engkau bermain main dalam ibadah #.

Siapa yang membasuh pipinya dengan air matanya #

Maka kami membasuh wajah kami dengan darah #.

Atau bila orang lain melelahkan tungangan (kuda) nya dalam satu hal yang batil #

Maka kuda kuda kami kelelahan di esok hari (untuk berjuang) #.

Bau semerbak wewangian untuk kalian dan untuk kami tanah … #

Pada kuku kuda dan debu debu kebaikan #.

Dan telah datang kepada kami dari ucapan Nabi kita #

Ucapan yang benar lagi jujur tidak ada kedustaan #.

Tidaklah sama antara debu kuda Allah (yang di gunakan berjuang) di … #

Hidung seorang dengan asap neraka yang berkobar #.

Inilah kitabullah yang memutuskan perkara di antara kita #

Tidaklah seorang yang mati di jalan Allah mati, hal ini bukan sesuatu kedustaan #.


Kitab tafsir Ibnu Katsir surah 3/195



Di riwayatkan Ibnu Asyakir rahimahullah, dalam biografi Abdullah bin Mubarak rahimahullah, melalui jalan riwayat Muhammad bin Ibrahim bin abu Sakinah,

Bahwa aku (Ibnu Abi Sakinah) mendiktekan (menulis) untuk Abdullah bin Mubarak bait bait (syair) berikut ini di tarsus (wilayah asfahan),

Lalu aku sampaikan bait bait ini pada Fudhail bin Iyyadh rahimahullah tahun 170, di Masjidil Haram (Makkah) .


Lalu ia membacanya:


يا عبد الحرمين لو ابصرتنا #
لعلمت أنك في العبادة تلعب #.

من كان يخضب خده بدموعه #
فنحورنا بدمائنا تتخضب #.

أو كان يتعب حيله في باطل #
فخيولنا يوم الصبيحة تتعب #.

ريح العبير لكم و نحن عبيرنا #
رهج السنابك و الغبار الأطيب #.

و لقد اتانا من مقال نبينا #
قول صحيح صادق لا يكذب #.

لا يستوي غبار حيل الله في … #
أنف أمرىء و ذخان نار تلعب #.

هذا كتاب الله ينطق بيننا #
ليس الشهيد بميت لا يكذب #.

(Sudah kami terjemahkan di atas).


Ketika beliau membacanya, maka kedua matanya bercucuran meneteskan air mata,

Lalu beliau berkata,

“Abu abdur Rahman (yakni, Abdullah bin Mubarak) telah benar, dia telah menasehati ku.”



Dari riwayat di atas dapat kita ambil pelajaran,

Pertama, bahwa para ulama salaf, senantiasa saling berziarah dan memberi nasehat,

Dan hati hati mereka begitu lembut dengan nasehat dan menerimanya.


Kedua, para ulama dan orang terdahulu mereka memiliki hati yang lembut, mudah menerima nasehat, tidak mempersulit hidup, kuat dalam ibadah dan mencontoh nabi shalallahu alaihi wasallam.

Ketiga, mereka (para salaf) teladan dalam amal dzahir dan batin sekaligus.

Tidak seperti kita ( termasuk kami di dalamnya) hari ini, yang lemah dalam dua masalah sekaligus.

Yang lemah amalan dzahir dengan kemalasan, sekaligus lemah amalan batin dengan sedikitnya keikhlasan.


Maka, wahai jiwa, wahai diri….

Yang mulai redup cahaya hidayah di hatinya…


Yang terasa berat melangkah, baik dalam ibadah wajib dan Sunnah.

Yang lalai dari perbaikan batin (hati), sekaligus menghiasi dzahir dengan ketaqwaan.


Wahai engkau yang berusaha menshalihkan diri, namun belum berbenah dalam keshalihan bathin,

Dengarlah seruan Rabbmu,


و ثيابك فطهر

Dan baju (jiwa) mu, bersihkanlah.

Qs 74 Al Mudatsir ayat 4.


Yakni bersihkanlah hatimu dari kesyirikan, kenajisan, dan berusaha membenahi dzahir sekaligus bathin.


Wahai orang orang yang mementingkan untuk keshalihan diri, dengan mengurung jiwa di mihrab mihrab ke sufi an,

Yang belum pernah tersentuh bajunya dengan debu dalam dakwah dan perbaikan ummat.

Wahai orang orang yang belum siap dengan tantangan di jalan Allah, untuk menapaki jalan para rasul, dalam menyeru manusia, pada tauhid,

فلا إقتحم العقبه !


Mengapa kah mereka tidak memilih jalan terjal nan sukar !

Qs 90 Al balad ayat 12.


Dan lebih mencari “jalan aman” dan berbasa basi dalam dakwah.


Malulah dengan orang orang yang lebih jujur dalam pengakuan dan siap dalam mengemban perihnya dakwah,

Ketika ia menyeru manusia pada jalan tauhid dan Sunnah,

Lalu ia sanggup tegar dengan mengucapkan,

فإن تولوا فقولوا إشهدوا بانا مسلمون !

Jika mereka berpaling dari nasehat, maka katakan, saksikan oleh kalian bahwa kami adalah seorang muslim !

Qs 3 Ali Imran ayat 64.


Kepada jiwa jiwa lemah di hadapan kesyirikan,

Inilah panggilan pemuda pemuda ashabul Kahfi,

Ketika mereka berdiri di hadapan para pemuja berhala, lalu tanpa rasa gentar mereka berucap, Rabb kami adalah Allah, yang kami tiada akan menyeru Illah selain Nya !!!,

إنهم فتية امنوا بربهم و زدناهم هدئ . و ربطنا على قلوبهم إذ قاموا فقالوا ربنا رب السماوات و الأرض لن ندعوا من دونه الهة

_Mereka itu para pemuda yang beriman kepada Rabbnya, maka Kami tambah kan kepada mereka petunjuk. Dan Kami teguhkan hati mereka saat mereka berdiri, lalu berucap Rabb kami adalah Allah pencipta langit dan bumi, yang tiada kami akan menyeru Ulah selain Nya._

Qs 18 Al Kahfi ayat 13-14.


Wahai jiwa jiwa yang mulai kehilangan rasa cemburu pada agama,

Yang mulai hilang sensifitas saat agama dan keyakinan nya terlecehkan oleh orang orang fajir lagi khianat.


Wahai para pemuda, ini panggilan untukmu,

Para pemudah yang menghabiskan umur pada ke sia siaan,

Kapan datang waktu kepadamu, saat baju dan kulitmu terbasai keringat, di meja pembelajaran, saat tinta habis menulis rangkaian faidah dan pembahasan, serta kemudian, rambut dan mukamu berdebu menyerukan tauhid dan Sunnah di jalan dakwah yang terjal ini ???.


Wahai mata yang terpejam, wahai hati yang masih kosong dari hidayah, wahai jiwa yang tiada getaran iman, wahai orang yang berleha leha…. Saat nya …

Bangun !!!!.


Ini Islam dan kaum muslimin menunggu kontribusi mu dalam dakwah dan pembenahan ummat.

Ummat ini membutuhkan tidak hanya seorang yang shalih (baik) namun juga Muslih (mengusahakan perbaikan).


Sidoarjo, bada isya,

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Tawakkal Lebih Kedepankan Dari Kekhawatiran

Fawaid pagi

TAWAKKAL LEBIH KEDEPANKAN DARI KE KHAWATIRAN

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Kadang kekhawatiran manusia lebih besar dari kenyataan yang ada.

Ketahuilah kekhawatiran tidak merubah apapun, tindakan berlebihan dan kehebohan, malah akan memperbesar masalah, dari masalah yang sebenarnya.

Situasi yang tidak menentu bisa menjadi sebab banyak hal, kerusuhan, naiknya harga harga, mobilisasi manusia, rawannya keamanan, dan begitu mudahnya manusia di politisasi.

Dunia ini telah mengalami berbagai hal, termasuk wabah, dan penyakit.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan penyakit, dan Dia yang memberi kesembuhan.

Antisipasi suatu keharusan, namun tidak perlu khawatir yang berlebihan.


Semoga Allah memberikan kebaikan kepada kita semua, mengangkat wabah ini, dan menormalkan lagi kondisi.

Sidoarjo, pagi yang cerah setelah di guyur hujan semalaman.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Kufur Dan Syirik Karena Warisan

Fawaid edisi khusus

KUFUR DAN SYIRIK KARENA WARISAN.

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.




Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يعرفون نعمت الله ثم ينكرو نها

Mereka mengetahui nikmat Allah kemudian mengingkarinya.

سورة النحل ٨٣.



Berkata Mujahid tentang ayat ini,

هو قول الرجل هذا مالي ورثته عن آبائي.

Ia adalah ucapan seorang, ini adalah hartaku, aku peroleh dari warisan bapakku.


Matan Kitabut Tauhid hal 126, cetakan Manarul Islam.



Berkata Syaikh Abdurrahman bin Hasan Rahimahullah.

Ayat ini berlaku umum, untuk siapapun yang menisbatkan segala nikmat, dan menyandarkan sebab-sebab itu pada selain Allah.


Berkata Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Hal ini banyak di singgung dalam Al Qur’an dan Sunnah, Allah Subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang menyandarkan nikmat itu pada selain Nya, dan menyekutukan (berbuat syirik pada) Nya.

Sebagaimana ucapan seorang.

(Saat naik kapal) angin bertiup dengan baik, dan nakoda nya mahir (atau contoh lain, mobil berjalan lancar, sopirnya pintar).


Fathul Majid 813.
Sumber: @pissalaf

Kesucian Cinta Atau Prahara Nafsu?

Fawaid Singkat

KESUCIAN CINTA ATAU PRAHARA NAFSU ?

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Cinta, berawal cinta di hati.

Hingga datang kematian laksanakan permainan.

Ia bermula dari lirikan mata.

Lalu menyala seperti kobaran api.

Seperti api yang hanya percikan.

Bila telah besar membakar seluruh kayu.

Kitab Raudhatul Muhibbin.

Sehari…

Kata cinta terbakar oleh hawa nafsu.

Terkotori oleh rayuan dari lisan tanpa iman, menggerogoti sanubari yang telah sakit.

Prahara hawa nafsu yang mencederai cinta.

Betapa banyak hijab rasa malu terobek oleh kedurjanaan.

Satu hari, hanya satu hari…

Semua berkata tentang “cinta”, seakan mereka hidup setiap detiknya, dalam kebuasan dan tidak berprikemanusiaan, dan tidak kenal cinta.

Cinta…

kata kesucian, sebagaimana kata iman dan pengorbanan, terkotori oleh lisan-lisan serigala yang menyalak bak malaikat.

Melepas rasa malu, untuk berbuat durhaka atas nama cinta.

Oh, celaka mereka, sekiranya mereka tau makna cinta dalam Islam.

Tidak akan terjadi drama menyedihkan dalam satu malam.

Ketika tirai malu di lepas, dan kesucian di robek, serta Iman tertanggalkan.

Celaka dan celaka.

Dimana para pria yang menundukkan pandangannya, yang memiliki sifat kesatria dan wibawa.

Di mana wanita-wanita Surga, yang terbungkus rasa malu nya???.

Dimana Orangtua, yang memiliki kasih sayang pada putra-putrinya.

Oh, seandainya aku memiliki kuasa atas orang-orang durhaka dan durjana itu.

Yang menginginkan kekejian menyebar di antara kaum Muslimin, dengan slogan slogannya yang indah namun menipu.

Mereka tidak memiliki cinta, dan tidak bisa merasakannya, karena hati mereka telah jauh dari kata cinta kasih.

Yang mereka tau.

Cinta yang hanya sekerat cokelat, dan kondom, untuk menanggalkan kesucian setiap wanita, atas nama cinta basi.

Dimana para wanita yang memiliki rasa malu dan tenang dengan jilbabnya?

Apakah mereka menyadari kerusakan ini?

Semoga…

Menjelang hari prahara hawa nafsu 12 Februari.