Wahai puteriku (al-fawaid)

#fawaid edisi khusus

WAHAI PUTRIKU

syaikh DR, Ali at Tantawy al Misry rahimahullah memberi nasehat kepada anda wahai ukhti muslimah,

” *putriku tercinta, aku seorang yang telah berusia senja* (beliau meninggal berumur 89 th dan beliau menulis tulisan ini ketika berumur 55 th), *telah hilang masa remaja, impian dan khayalan, aku telah banyak melawat di berbagai negeri dan bertemu banyak orang*,

*aku telah merasakan pahit getirnya dunia, karena itu dengarlah nasehatku yang benar lagi jelas, di mana engkau tidak mendengar dari orang lain, bila aku bicara kepada kalian maka aku seakan berbicara kepada putriku putriku sendiri, karena aku juga seorang bapak dari beberapa putri*,

aku telah menulis serta telah mengajak kepada kebaikan, menyeru pada perbaikan moral, sampai pena tumpul, mulut letih namun aku belum merasakan keberhasilan, belum banyak yang kami bisa perbuat, kemungkaran semakin bertambah, wanita telanjang semakin banyak, serta kerusakan semakin bertambah,

wahai putriku aku belum menemukan cara terbaik untuk memperbaiki keadaan, namun aku yakin putriku jalan perbaikan itu ada di tanganmu,

benar lelakilah yang memulai dalam lorong dosa, namun bila wanita tidak setuju lelaki tidak akan berani, engkaulah yang membuka pintu, engkaulah yang berkata “silahkan”… lalu ketika pencuri mencuri, baru engkau berkata “tolong pencuri ! aku telah kecurian”

demi Allah, aku ulang demi Allah tidaklah engkau ketahui bahwa dalam khayalan seorang pemuda (tidak beragama) kecuali menghayalkan seorang wanita bila saja bisa telanjang di depannya,

demi Allah jangan percaya rayuan lelaki, demi Allah ia bohong, sungguh kehalusan budi, baiknya akhlak tidaklah di tebar kecuali untuk memperangkapmu, lalu bila engkau terjaring, ia akan mengembara kepada wanita lain,

masyarakat bisa memaafkan lelaki pendosa “oh dia lelaki yang bejat, namun sekarang ia taubat !”, namun mereka tidak akan pernah memaafkan wanita yang ternoda,

maka bila engkau bertemu lelaki di pinggir jalan yang menebar rayuan gombal maka hindarilah, bila mereka sampai lancang maka lepaslah sepatumu lempar padanya… maka orang orang di jalan akan membelamu,

sesungguhnya sebagian besar krisis rumah tangga di karenakan para lelaki tidak butuh lagi kepada istri karena banyaknya wanita tuna susila,

kenapa wanita shalihah belum juga sadar dengan bencana ini ?,
kenapa mereka tidak berusaha memperbaiki kerusakan ini ?,

maka hendaknya kalian peringatkan wanita wanita itu agar bertaqwa, sadarkan mereka tentang keburukan semua ini,

aku yakin kalian tidak akan kekurangan cara menempuh jalan perbaikan ini,
bila kalian memang tidak berhasil maka tugas kalian menjaga wanita wanita baik jangan sampai terjatuh pada kehinaan dan dosa ini,

wahai putriku aku tidak meminta kalian mengatasi hal ini dalam waktu singkat,

akan tetapi kembalilah pada kebaikan setapak demi setapak, sebagaimana kalian menerima kerusakkan setapak demi setapak, meski jalan perbaikan itu telah menjadi jauh, hal itu tidak masalah, orang orang yang tidak mau menempuh jalan terjal perbaikan ini yang jalan itu (perbaikan) adalah jalan satu satunya untuk mengubah keburukan ini, maka kapan lagi kontribusimu dalam usaha perbaikan ini ?,

sungguh para penyeru emansipasi itu telah berbohong, mereka adalah orang orang yang berkiblat pada eropa, mereka tidak memahami apa itu “kebebasan”

wahai putriku aku tidak berbicara pada para lelaki namun aku bicara pada kalian wahai putriku

sungguh bila mereka (pria hidung belang) mendengar nasehatku mereka akan marah, mencemooh, dan menyangahku karena mengangap aku telah menghalangi jalan syahwat mereka,

aku berbicara pada kalian wahai putriku… wanita yang beriman lagi beragama, putriku yang terhormat lagi terpelihara,

inilah nasehatku wahai putriku, inilah kebenaran,

“sadarlah bahwa perbaikan itu ada di tanganmu bukan di tangan kami kaum lelaki, kunci itu ada di tanganmu, perbaikilah diri diri kalian maka ummat akan baik”

©( diringkas dari kutaib (selebaran kecil) _ya ibnati_ oleh syaikh Ali Tantawy buku asli berukuran kecil 18 halaman terbitan maktabah li taawun da’wah al jaliyah fi jiddah (jedah dakwah center) berbahasa arab,
di bawahnya tertulis bahasa inggris
_under supervision of islamic affair, endowment propagation and guidance_)

Oleh :abu abd rahman bin muhammad suud al atsary

::::::::::::::::::::::::::::
📁 Artikel : Ukhuwahfillhijrah.com
♻Join telegram chanel :
✿ http://t.me/ukhuwahh

 

Sampai kapan kita bertaubat

*SAMPAI KAPAN KITA BERTAUBAT?*

¤ t.me/ukhuwahh

*Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah* berkata:

“Sebagian mereka berkata kepada syaikhnya:” Sesungguhnya aku berbuat dosa”

Syaikh:”Klo begitu, bertaubatlah”

Murid:”Tapi aku mengulanginya”

Syaikh:”Taubat kembali”

Murid:”Aku pun mengulangi dosa itu kembali”

Syaikh:”Ya bertaubatlah kembali”

Murid:”Sampai kapan (aku akan begitu)?”

Syaikh:”Sampai engkau membuat setan bersedih”

Majmu’ul Fatawa Ibnu Taimiyyah (7/492)

*Abu Abdillah Rahmat*

5 R. Tsani 1439
25 Desember 2017

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Artikel :Ukhuwahfillhijrah.com
Link WAG : http://bit.ly/2UfH-Adm1
Follow our chanel : t.me/ukhuwwah

Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

*KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT

✿ t.me/ukhuwahh

*Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz* rahimahullah berkata:

فمن أراد عز الدنيا والرزق الحلال فيها، والنعيم في الآخرة، فعليه بالتقوى.

“`”Siapa saja yang menginginkan kemuliaan dunia dan rezeki yang halal di dunia ini serta kenikmatan di akhirat, maka hendaklah dia bertakwa.”“`

Majmu’ul Fatawa, jilid 2 hlm. 285

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Artikel :Ukhuwahfillhijrah.com
Link WAG : http://bit.ly/2UfH-Adm1
Follow our chanel : t.me/ukhuwwah

Turut campur keluarga pada masalah rumah tangga

*SOLUSI PROBLEMATIKA RUMAH TANGGA AKIBAT TURUT CAMPURNYA KELUARGA*

✒ Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

✒ Al-Ustadz Muhammad Qodri, Lc hafizhahullah (Pembina Ma’had Tahfizhul Quran Markaz Tidzkar Kotamobagu Sulawesi Utara)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tanya: Ada seorang wanita yang berseteru dengan suaminya karena pengaruh sebagian keluarga wanita tersebut. Masalah ini sering terjadi di kalangan suami istri, namun ini begitu besar pengaruhnya sampai-sampai terputuslah hubungan keharmonisan suami istri dan berlanjut hingga wanita itu menutup diri dari suaminya dan tidak mau menemuinya, maka kami mohon pengarahan dari Syaikh?

Jawab: Pertama kali hendaknya kita peringatkan kepada keluarga agar tidak ikut campur dalam urusan suami istri kecuali atas permintaan keduanya. Jika suami istri meminta ikut campurnya keluarga dalam urusan mereka demi mencari jalan keluar (perdamaian) maka ini persoalan lain. Dan perdamaian itu baik.

Namun jika ikut campur keluarga bukan tujuan perdamaian maka tidak diperbolehkan mereka ikut campur dalam persoalan suami istri. Terlebih jika mereka memang tidak menginginkan perbaikan. Karena sebagian keluarga -hanya kepada Allah kita berlindung- yang mereka lakukan hanya berusaha untuk memenangkan anak wanita mereka, dan sebaliknya jika keluarga suami maka mereka akan memenangkan anak lelaki mereka.

Maka lihat bagaimana mereka berusaha menyalakan api kemarahan dan kebencian seorang istri terhadap suaminya atau sebaliknya dari suami terhadap istrinya.

Tidak diragukan lagi bahwa hal ini diharamkan dan termasuk dosa besar, karena ini adalah usaha memisahkan pasangan suami istri. Dan ini sama dengan perbuatan tukang sihir, sebagaimana firman Allah ta’ala,

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

“Maka mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) sesuatu Yang dapat memisahkan suami istri.” [Al-Baqarah: 102]

Tidak boleh bagi keluarga turut campur dalam urusan suami istri. Adapun berkaitan dengan permasalahan yang Anda tanyakan, maka kami katakan:

Jika demikian keadannya maka suami tersebut boleh memilih;

(1) Jika dia mau menceraikan dan meninggalkannya, firman Allah ta’ala,

وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلّاً مِنْ سَعَتِه

“Dan jika keduanya berpisah maka Allah Akan mencukupkan masing-masing dari luasnya rahmat-Nya.” [An-Nisa:130]

Demikianlah yang Allah ta’ala firmankan.

(2) Jika dia mau maka boleh baginya meminta kepada seorang Qodhi (Hakim Pengadilan Agama) untuk mendatangkan dua orang Hakam (Juru Damai dari kedua belah pihak) yang mana keduanya mempelajari dahulu permasalahan dengan cermat.

Jika keduanya memutuskan untuk tetap mempertahankan rumah tangga tersebut dengan memenuhi syarat-syarat yang menurut keduanya bermanfaat maka lakukanlah.

Dan jika keduanya memutuskan untuk berpisah apakah dengan ganti rugi (mengembalikan mahar) atau tidak maka keputusan kembali kepada ketetapan tersebut.

Namun jika Anda mengenal mereka wahai Penanya, berusahalah untuk mendamaikan keduanya.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

[Silsilah Liqooat Baabil Maftuh: 151]

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Artikel :Ukhuwahfillhijrah.com
Link WAG : http://bit.ly/2UfH-Adm1
Follow our chanel : t.me/ukhuwwah

Dahsyatnya Neraka (bagian 1)

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
DAHSYATNYA NERAKA
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Bagian 1

Iman tentang adanya surga dan neraka adalah satu prinsip dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Al-Imam Ahmad Rohimahullah berkata,_ “Surga dan neraka adalah dua makhluk Allah ta’ala yang telah diciptakan, sebagaimana sabda Rasulullah :
“Aku masuk ke surga, aku pun melihat istana di sana. “Aku juga melihat al-Kautsar. “Aku melihat ke surga, ternyata kebanyakan penduduk surga adalah demikian (yakni orang-orang fakir). Aku juga melihat neraka dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah demikian (yakni wanita –pent.).”
Barang siapa menganggap keduanya belum ada saat ini, berarti dia telah mendustakan al-Qur’an. Saya menduga, orang tersebut tidaklah mengimani adanya surga dan neraka.” (Lihat Ushulus Sunnah)
Al-Imam ath-Thahawi Rohimahullah berkata, “Surga dan neraka adalah dua makhluk yang telah diciptakan, tidak akan punah, dan tidak akan hancur.” (al-Aqidah ath-Thahawiyah)
Ibnu Abil ‘Izzi Rohimahullah berkata, “Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang telah ada sekarang.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah)

Dalil-Dalil Adanya Surga & Neraka

Dalil-dalil masalah ini dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sangatlah banyak, di antaranya: Allah berfirman:
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)
Allah ta’ala juga berfirman tentang neraka:
“Jika kalian tidak dapat membuat(nya), dan pasti kalian tidak akan dapat membuat(nya), jagalah diri kalian dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 24)

Allah ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (an-Najm: 13—15)

Adapun dalam sunnah Rasulullah, banyak hadits yang menerangkan masalah ini, di antaranya:
Dari Imran bin Hushain Rodhiyallohu ta’ala, dari Nabi Sholallohu ‘alaihi Wasallam:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melihat surga, ternyata kebanyakan penghuninya adalah fuqara. Aku pun melihat neraka dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR. al-Bukhari no. 3241 dan Muslim no. 2738)

Dari Abu Sa’id al-Khudri Rodhiyallohu ‘anhu, Rasulullah bersabda:

أَبْرِدُوا بِالظُّهْرِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

“Tundalah pelaksanaan shalat zhuhur hingga cuaca dingin, karena panas yang sangat terik adalah panas dari neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhari no. 3259)

Dari Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anhu, Rasulullah bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا. قَالُوا: مَا رَأَيْتَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalau kalian melihat apa yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Para sahabat berkata, “Apa yang engkau lihat, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Aku telah melihat surga dan neraka.” (HR. Muslim no. 426)

Dalam tulisan ini, kami hanyalah membahas tentang neraka. Kita akan mencoba mengilmui sebagian pembahasan tentang neraka: sifat-sifatnya, macam-macam siksa di dalamnya, dan cara menyelamatkan diri dari neraka.

Bersambung…
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Sumber, Asy Syariah Edisi 073, 26 April 2012 (ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Editor : ukhuwahfillhijrah

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Artikel : www.Ukhuwahfillhijrah.com
Link WAG : http://bit.ly/2UfH-Adm1
follow our chanel : t.me/ukhuwwah

Baru Saja Belajar Agama, Jangan Merasa Derajat Lebih Tinggi dari Lainnya

Baru Saja Belajar Agama, Jangan Merasa Derajat Lebih Tinggi dari Lainnya

Ini adalah kesalahan dalam berdakwah, yang baru ngaji/belajar agama tapi sudah membicarakan kesalahan orang lain,
bukannya membina tetapi menghukum dan menghina
bukannya mengajak surga tapi memvonis neraka dan sesat
bukannya memberi kemudahan tapi membuat dada sesak
bukannya memberi senyum tetapi muka masam

Ketika awal-awal mengenal dakwah ahlus sunnah bisa jadi ada rasa bangga dan sombong bahwa ia telah mendapat hidayah dan merasa ia sudah selamat dunia-akherat. Padahal ini adalah Ini baru fase yaq’zah [keterbangunan], awal mengangkat jangkar kapal, baru akan mulai mengarungi ilmu, amal, dakwah dan bersabar diatasnya.

Maka janganlah kita menganggap diri kita akan selamat dari dosa dan maksiat hanya karena baru mengenal dakwah ahlus sunnah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” [An-Najm: 32]

Ibnu Mas’ud,

“Kalau kalian MENGETAHUI dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan MELEMPARKAN tanah di atas kepalaku, dan aku berangan-angan Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil Abdullah bin Kotoran.” [HR.Hakim Al-Mustadrok 3/357 no 5382, shahih]

 

Semoga  kita selalu bisa tawadhu’, Semakin berilmu dan semakin tidak sombong dan tawadhu’.

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sibuk Bekerja Bukanlah Alasan Untuk Meninggalkan Belajar Agama

 Sibuk Bekerja Bukanlah Alasan Untuk Meninggalkan Belajar Agama

As-Syaikh Abdullah al-Bukhari Hafidzahullah.

Pertanyaan:
Bagaimana penuntut ilmu menggabungkan antara menuntut ilmu (agama) dan mencari rezeki ❓

✏Jawaban:

“Siapa yang mengatakan bahwasanya ada kontradiksi (pertentangan) diantara keduanya ⁉

Tidak ada kontradiksi antara menuntut ilmu dan mencari rezeki,

Bukankah Nabi Shallallahu alaihi wasallam sungguh beliau dahulu pengembala kambing, Para sahabatpun bekerja dan belajar -Radhiyallahu ‘anhum- demikian pula orang yang setelah mereka, para imam mereka semua bekerja dan belajar. ⁉

Kenapa sekarang ini ada penghalang ⁉

kita menjadikan yang seperti ini sebagai penghalang untuk merealisasikan belajar (agama) ⁉

Seakan -akan mencari rezeki sekarang ini perkara baru, dahulu mereka (para salaf) tidak mencari rezeki ya’ni :
menuntut ilmu, kemudian harta mendatanginya,
❌Tidak sama sekali,

Mereka tidak pernah memanjangkan tangannya, karena mereka mengetahui (sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam) :

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima pemberian).”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Mereka bekerja, mencari rezeki, akan tetapi mereka jadikan hal itu ditangan mereka, bukan dihati,

Berbeda dengan kebanyakan orang dizaman sekarang, keadaan mereka adalah sebaliknya, mencari harta mereka posisikan dihati mereka, menuntut ilmu sisa sisa waktu (saja).

العلم إذا أعطيت كلك أعطاك بعضه فكيف إذا أعطيت بعضك !؟!؟

Ilmu itu apabila kamu kerahkan seluruh kemampuanmu dia akan memberikan sebagiannya,
Maka bagaimana jika kamu kerahkan sebagian kemampuanmu apa yang akan dia berikan ⁉

(Maka kesimpulannya adalah) tidak ada pertentangan antara belajar dan bekerja, belajar dan bekerjalah tidak mengapa.”

Alih bahasa:
Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu ‘umar غفر الله له

Website: 🌎
Salafycurup.co

faedah istighfar

BERUNTUNGLAH ORANG ORANG YANG MEMPERBANYAK ISTIGHFAR
__________________________________________

Mungkin banyak kaum muslimin yang belum mengetahui faedah-faedah istighfar.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Beruntunglah orang yang mendapati dalam shahifah (catatan amalnya) istighfar yang banyak.”
(HR. Ibnu majah)
sanadnya hasan shahih, dalam kitab Aunul Ma’bud, 4/267

Ia bukanlah kalimat yang diucapkan ketika meminta ampun kepada Allah Ta’ala semata.
Saudaraku, ia adalah kalimat yang ringan diucapkan, namun begitu jarang kita mendengarnya.

Sesungguhnya jika kita menjadikannya sebagai salah satu kalimat dzikir di sela-sela waktu kita, niscaya simpul-simpul kesulitan akan dibuka oleh Allah Ta’ala. Dan pintu-pintu rizki akan dibukakan olehNya.

Semoga lisan kita senantiasa mengucapkan istighfar kepada Allah Ta’ala.

_____________________________
Ustadz Abu abdillah amir

faedah menuntut ilmu

FAEDAH
—————–
Menolong yang Susah Hingga Faedah Menuntut Ilmu

•••••••••

Ini faedah dari menolong yang susah hingga menuntut ilmu agama.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang meringankan kesusahan dunia saudaranya, Allah akan mengangkat kesulitannya pada hari kiamat.

Siapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang susah, Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat.

Siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.

Allah senantiasa akan menolong hamba selama ia menolong saudaranya.

Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, Allah akan memberikan ia kemudahan menuju surga.

Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, lalu ia membaca kitab Allah, lalu ia mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepadanya ketenangan, akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi malaikat, Allah akan senantiasa menyebutnya di sisi makhluk-Nya yang mulia.

Siapa yang lambat amalnya, maka kedudukan nasabnya yang mulia tidak bisa mengejar lambatnya amalnya tadi.” (HR. Muslim)

Faedah HaditsHadits di atas menunjukkan keutamaan bagi orang yang membantu hajat kaum muslimin dengan ilmu, harta, pertolongan, memberikan maslahat hingga nasihat.Menunjukkan keutamaan berjalan untuk menuntut ilmu dengan syarat mengharap wajah Allah. Karenanya hendaklah ada waktu kita yang disibukkan dengan belajar ilmu syar’i.Berkumpul di rumah Allah untuk belajar agama juga punya keutamaan mendapatkan ketenangan, naungan rahmat, dikelilingi malaikat hingga disanjung oleh Allah di sisi makhluk-Nya yang mulia.Jangan bergantung pada bagusnya nasab sedangkan amalan begitu kurang.

Referensi:

Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 72.

Reposted by : 👥 Grup wa manhaj salaf

nasehat untuk penuntut ilmu

Nasehat untuk penuntut ilmu

Salah satu nasehat yang Indah dari Asy-Syaikh Albani rahimahullah kepada penuntut ilmu yaitu :

ⓐ Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih.

tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama.

Allah Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ

“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)

ⓑ Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian “Para Penuntut Ilmu” telah terperosok dan terjatuh padanya.

Diantara perkara-perkara itu :

1- Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri), sombong, dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.“`

2- Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan “harta warisan” berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam.“`

Semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua….

✍🏻 ustadz abu royhan

nasehat untuk yang baru hijroh

NASEHAT UNTUK YANG BARU HIJROH

Kenikmatan paling besar yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya adalah nikmat berupa hidayah tawfiq. Yaitu petunjuk dari Allah untuk mengamalkan ajaran Islam sesuai yang dicontohkan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Inilah pokok segala kenikmatan. Sedangkan orang yang berilmu saja tetapi enggan beramal, maka dia baru mendapat hidayah dilalah, belum mendapat hidayah yang sesungguhnya yaitu hidayah tawfiq.

Hidayah tawfiq inilah yang dimohonkan dalam setiap sholat kita sehari semalam tatkala melafalkan, “Ihdinasshirothol mustaqim” (Ya Allah tunjukilah kami kepada jalan yang lurus). Yaitu jalannya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan para shohabat beliau. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai maupun jalannya orang-orang yang sesat. Maka siapapun kita sangat butuh kepada hidayah tawfiq ini agar selamat dari penyimpangan.

Nasehat kami untuk saudara-saudara yang belum lama hijroh di antaranya sebagai berikut:

1. Ikhlaskan niat karena Allah, karena keikhlasan termasuk syarat diterimanya amalan. Dari ‘Umar bin Al-Khotthob bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

“Hanyalah nilai setiap amalan itu bergantung dengan niatnya dan bagi setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang niat hijrohnya karena Allah dan Rosul-Nya, maka hijrohnya dinilai untuk Allah dan Rosul-Nya, dan barangsiapa yang niat hijrohnya karena dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, maka nilai hijrohnya itu sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhori 1/9 dan Muslim 1907)

Berhijroh meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah haruslah ikhlas motivasinya karena Allah. Karena amalan yang dibangun di atas pondasi keikhlasan tidak gampang goyah dan akan berkesinambungan. Para Ulama berkata:

ما كان لله يبقى

“Amalan yang diniatkan karena Allah akan berkelanjutan.”

Sedangkan amalan yang diniatkan karena selain Allah, dunia yang menjadi motivasinya, atau hanya sekedar ikut-ikutan, maka akan sirna, pelakunya mudah mengeluh, goncang dan berubah-ubah sesuai keadaan.

2. Sibuk mempelajari ilmu syar’i, utamanya ilmu yang berhubungan dengan masalah manhaj dan aqidah. Ilmu-ilmu ini yang menjadi tahapan dasar dalam tholabul ‘ilmi, kedudukannya bagaikan pondasi bagi sebuah bangunan. Semakin kuat pondasinya maka akan semakin kokoh bangunan amalannya.

Orang-orang yang mengabaikan manhaj dan aqidah sangat mudah bergeser dari jalan hijrohnya. Perilaku maupun pikiran jahiliyahnya di masa lalu bisa saja muncul kembali menghambat proses hijrohnya ke jalan Allah. Hal ini pernah dialami oleh sebagian shohabat Nabi yang baru masuk Islam, tatkala meminta kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam agar menjadikan “Dzatu Anwath” (pohon keramat) bagi mereka seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin. Lantas beliau shollallahu ‘alaihi wasallam mengingkarinya.

Begitupula dengan orang-orang yang dulunya terjerumus dalam bid’ah dan maksiat, maka sangat mungkin muncul kembali kebiasaan buruknya itu jika tidak bersungguh-sungguh tholabul ‘ilmi dengan mempelajari manhaj dan aqidah yang benar.

3. Mencari guru dan pembimbing yang dikenal berjalan di atas manhaj dan aqidah Ahlussunnah serta istiqomah berpegang dengan sunnah (ajaran) Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya ilmu ini agama dan akan menjadi darah daging kita.

Al-Imam Muhammad bin Sirin berkata:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذوا دينكم

“Ilmu ini adalah agama maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqoddimah Shohih Muslim)

Perkara ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) para Ulama.

Adapun menerima kebenaran bisa dari siapa saja selama dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiyyah kebenarannya.

4. Selektif dalam berkawan. Tidak sedikit orang yang belok dari jalan hijrohnya akibat salah pergaulan. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memberi permisalan sahabat yang baik bagai penjual minyak wangi, meski engkau tidak mendapat minyaknya, minimal engkau kebagian aromanya. Sedangkan sahabat yang jelek bagai seorang pandai besi, sekalipun engkau selamat dari apinya, minimal tercium baunya yang tidak enak.

Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang bergantung dengan agama sahabatnya, hendaklah kalian lihat, siapakah yang dijadikan oleh kalian sebagai sahabat.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albani dalam “Ash-Shohihah” 927)

Maka selektif dalam pergaulan adalah hal yang penting dan mempengaruhi kualitas hijroh seseorang. Pertimbangkan masak-masak apakah keberadaanmu dapat berpengaruh dalam kebaikan atau malah sebaliknya?

5. Berupaya memperbaiki penampilan sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah dan Rosul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam. Tampil beda bukan sekedar “ganti casing”, tetapi sebagai realisasi ketaatan, perbaikan dan memelihara syiar Islam. Para Ulama berkata:

أن فساد الظاهر دليل على فساد الباطن

“Bahwa rusaknya lahir sebagai bukti rusaknya batin.”

Amalan lahir dan amalan batin sesungguhnya berkaitan satu sama lain. Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging, jika dia baik, maka akan menjadi baiklah seluruh jasad. Jika dia rusak, maka akan menjadi rusaklah seluruh jasad, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah jantung (hati).”

6. Menjauhi perdebatan dan banyak berkomentar dalam hal yang bukan kapasitasnya. Debat yang dimaksud adalah debat yang tercela, yaitu debat kusir yang jauh dari ilmu, hujjah dan pemahaman. Karena hal itu akan mengeraskan hati, mewariskan kemunafikan, dan menghalangi diri dari hal-hal yang bermanfaat.

Orang yang baru hijroh sesungguhnya lebih membutuhkan ilmu dan bertanya kepada para ahli terkait masalah-masalah ilmiyah yang dibutuhkannya. Bukan sibuk berdebat dan mengomentari segala perkara. Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقا

“Aku menjamin sebuah rumah di bagian depan surga bagi orang yang meninggalkan miro’ (debat logika) meski dia sebagai pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shohihah” 273)

7. Banyak berdoa kepada Allah agar diberi keistiqomahan dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan bersabar dalam menghadapi segala fitnah (ujian). Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر

“Kelak akan datang suatu zaman pada manusia, dimana orang yang sabar memegang agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shohihah” 957)

Adapun doa yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shohih At-Tirmidzi” 2140)

___________

✍🏻ustadz  Fikri Abul Hasan