Waspada Baiat Bid’ah

Waspada Baiat Bid’ah

Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fawzan berkata, “Baiat tidak diberikan kecuali kepada penguasa muslim. Adapun baiat selain itu adalah baiat bid’ah yang menjadi sumber perpecahan, maka yang diwajibkan bagi kaum muslimin yang tinggal di suatu negeri atau kerajaan memberikan baiat kepada seorang penguasa muslim.” (Al-Muntaqo 1/367)

Baiat adalah janji taat dalam perkara yang ma’ruf. Baiat hanya diberikan kepada penguasa muslim dan keabsahannya tidak disyaratkan setiap rakyat datang membaiat penguasanya. Para Ulama sepakat cukup bagi ahlul halli wal ‘aqdi yang terdiri dari para Ulama dan para ahli yang membaiatnya sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam An-Nawawi.

Adapun baiat terhadap guru ngaji, pimpinan organisasi, ketua kelompok maka semua itu adalah baiat bid’ah yang memecah belah kaum muslimin. Ketika Abu Bakr dibaiat menjadi pemimpin kaum muslimin maka tidak ada shohabat Nabi lain seperti Umar yang ikut dibaiat. Begitupula ketika Umar dibaiat menjadi pemimpin sepeninggal Abu Bakr maka tidak ada shohabat Nabi lain yang juga ikut dibaiat.

Waspadalah dari baiat-baiat bid’ah yang bermacam-macam karena itu ciri yang paling menonjol dari kelompok-kelompok menyimpang yang menyelisihi ajaran Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan para shohabat beliau.
____________

 Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel: http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Turunkan Harga dengan Istighfar

Turunkan Harga dengan Istighfar

Dihikayatkan dari sebagian Salaf, dahulu orang-orang mengadu kepadanya lantaran melambungnya harga-harga, maka beliau menasehatkan:

أنزلوها بالاستغفار

“Turunkan harga dengan istighfar.”

Allah berfirman:

استغفروا ربكم إنه كان غفاراً ‏• يرسل السماء عليكم مدراراً ‏• ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهاراً

“Mohon ampunlah kepada Robb-mu karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan menciptakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (Nuh: 10-12)

Dalam redaksi yang lain:

أنزلوها بالتقوى

“Turunkan harga dengan ketaqwaan.” Allah berfirman:

ومن يتق الله يجعل له مخرجا • ويرزقه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah jadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Tholaq: 2-3)

Perbanyak istighfar memohon ampun kepada Allah dengan memperbaiki diri atas segala kesalahan di atas ilmu dan pemahaman yang benar.
_______________

Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Ketika Adzan Kami Di Permasalahkan

fawaid edisi khusus

KETIKA ADZAN KAMI DI PERMASALAHKAN

(dilema antara kedengkian orang kafir dan kebodohan sebagian kaum muslimin terhadap sunnah)

🖋abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Dalam hadits yang panjang, dari shahabat Abdullah bin Zaid bin Abd Rabbih radiyallahu anhu, beliau menceritakan tentang lafad Adzan yang kita dengar dan saksikan, dan kisah yang mengawalinya, yang masyhur itu,

فأخبرته بما رأيت ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان هذه الرؤيا حق إنشاء الله ، ثم امر بالتأدين ، فكان بلال مول أبي بكر يؤذن بذلك

“Maka aku kabarkan pada beliau tentang mimpiku”,

Maka Rasulullahi shalallahu alaihi wa salam bersabda, “sesungguhnya mimpi itu benar, insya Allah”,

Lalu beliau menyuruh kami mengumandangkan adzan, maka Bilal (bin Rabbah) budak yang di merdekakan (maulla) Abu Bakr mengumandangkan adzan dengan lafad itu”

(Hr. Shahih Abu Dawud 469. Tirmidzy 122)

 

Hukum Adzan

Adzan bermakna,

Pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat dengan lafad lafad tertentu.

(fiqih sunnah sayyid Sabiq 1/94)

Sebagaimana hadits Malik bin Khuwairits radiyallahu anhu,

قال النبي صلى الله عليه وسلم

اذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم احدكم وليؤمكم أكبركم

Bahwa Nabi shalallahu alaihi salam bersabda

“Bila waktu shalat tiba, maka hendaknya salah seorang di antaramu, mengumandangkan adzan untukmu, dan hendaknya yang tertua darimu yang mengimamimu”

(Hr mutafaq alaihi. lihat fath 2 no 631. Muslim 674)

Dan kaidahnya, satu perintah adalah wajib, bila tidak ada yang mengalihkan makna pada selain wajib.

Adzan sebagai pembeda negeri muslim dan negeri kafir

Rasulullah shalallahu alaihi salam, menjadikan pembeda antara negeri kaum muslimin dan negeri kafir dengan terdengarnya suara adzan,

Di ceritakan oleh shahabat Anas radiyallahu anha,

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان اذا غزا بنا قوما لم يكن يغزو بنا حتى يصبح وينظر، *فإن سمع أذانا* كف عنهم ، و ان لم يسمع أدانا أغار عليهم

Bahwa Nabi shalallahu alaihi salam bila ingin memerangi satu kaum bersama kami, beliau tidak menyerangnya bersama kami hingga menunggu waktu subuh, dan memperhatikan (situasi), *bila beliau mendengar suara adzan*, maka beliau mencukupkan / menahan diri dari mereka, namun, bila tidak mendengar suara adzan, beliau menyerbu / memerangi mereka”

(Hr mutafaq alaihi. Lihat fath 2 no 610. Dan ini lafadnya. Dan Muslim semakna).

الله أكبر الله أكبر 2x، أشهد أن لا إله إلا الله 2x، أشهد أن محمداً رسول الله 2x، حي على الصلاة 2x، حي على الفلاح 2x، الله أكبر الله أكبر ، لا إله إلا الله.

Betapa indah kalimat kalimat di atas, kalimat tauhid, kalimat yang di seru seorang muslim pada penghambaan pada penciptanya.

Kalimat yang di lantunkan para penyeru (muadzin) sejak di syariatkannya, kalimat yang dengannya di jadikan pembeda antara negeri muslim dan kafir.

Kalimat yang selalu di nanti oleh para abid (ahli ibadah) untuk mengibadati Rabbnya dan Illah bagi seluruh makhluk.

ketika Adzan kami di persoalkan

Suatu hari, salah satu tetangga kami yang kebetulan seorang nasrani dari protestan, dan saat itu kami tinggal di dekat masjid, di daerah industri tambak rejo waru sidoarjo sekitar tahun 2005 yang lalu.

Ia mendebat kami tentang permasalahan “suara adzan” yang cukup keras dan mengangu istirahatnya, terutama waktu subuh,

“bising dan membuatku marah”, katanya.

“apa ummat islam tidak punya toleransi ?”, tambahnya.

Kami teringat sejarah perang salib, saat saat sebelum kaum salib terusir oleh tentara mamluk untuk yang kedua dari baitul maqdis dan selamanya, setelah di kalahkan Salahuddin al Ayubbi rahimahullah,

Tersebutlah seorang raja bernama Frederick 2 dari roma, yang menguasai baitul maqdis selama 50 tahun (maret 1225 m) setelah melakukan negosiasi dengan putra putra Salahuddin yang berebut kekuasaan setelah wafatnya ayah mereka.

Saat memasuki baitul maqdis, raja ini (frederick 2) melarang adzan di masjid al Aqsa karena di anggap mengangu tidurnya.

Juga, kasus kasus semacam ini, senter terdengar lagi tahun ini (2018 m).

Wallahu mustaan.

Kembali pada cerita tentang tetangga protestan kami saat itu,

Dengan “sedikit marah” karena dorongan kecemburuan kami pada ajaran islam yang di celanya, dalam hal ini adzan,

Setelah berfikir sejenak, kami jelaskan duduk persoalannya, dan “secara sedih” kami juga “memintakan maaf” atas sikap sebagian saudara kami muslim padanya.

timbangan kasus

Tetangga kami yang beragama protestan yang “mendebat” kami masalah adzan itu, sebenarnya tidak mendebat adzannya yang rata rata sekitar 2 – 5 menit, ia mentolerir hal itu,

Yang ia permasalahkan adalah adanya “nyanyi nyanyi dan selawatan” sebelum itu.

Masya Allah.

Memang saudaraku, secara adil, barakallahufiikum…

Sebenarnya yang di permasalahkan sebagian orang itu, yang “benci” adzan itu, bukan adzannya… Tapi, “suara suara sampingan” yang menyertai adzan itu.

Contoh kasus di Surabaya – Sidoarjo kami singkat (SuSi).

Di sekitar SuSi, biasanya setengah jam sebelum adzan itu, para muadzin di masjid masjid umum, dengan keras, mereka menstel suara “nyayian sufi” Gus dur* (padahal yang bernyayi adalah gus nidzam dari daerah tulangan, sidoarjo) , kemudian “syiir arab” dari suara Qori Misyari Rasid Afasi, *kemudian baru bacaan al Qur’an atau suara shalawat tarkhim oleh syaikh Khalil Hushari dari mesir yang terkenal itu, yang mengkisahkan peristiwa isra miraj nabi muhammad shalallahu alaihi salam dan perintah shalat.

Sepengetahuan kami, yang mempopulerkan qiraah dan shalawat harkhim untuk pertama kalinya di daerah SuSi adalah radio yasmara, radio dangdutan yg mengudara dari masjid kembang kuning surabaya (masjid mbah karimah) sekitar tahun 70 an,

Untuk masjid masjid umum lainnya di indonesia mungkin sama atau serupa kasusnya.

Baru, setelah ritual ritual itu, adzan di kumandangkan,

Setelah adzan, ada tambahan “selawatan” menunggu (baca mengangu orang shalat sunnah) dengan keras sampai iqomah.

Jadi total suara keras yang di sampaikan lewat speaker masjid dan mushallah di wilayah SuSi adalah sekitar -+ 30 menit sebelum masuk waktu shalat, lebih lama dari adzan dan shalatnya sendiri.

Seorang muslim harus adil dalam menyikapi semua hal, ingat kita adalah ummat pertengahan,

ingat,

و كذالك جعلناكم أمة وسطا…

Demikianlah Kami jadikan kalian ummat yang pertengahan

(Qs 2 al baqoroh 143).

sikap kita sebagai muslim

1. Berpegang teguh dengan aqidah dan manhaj salafus shalih, al qur’an dan sunnah, serta melihat bagaimana shahabat mempraktekkan cara beragama dan memahaminya, karena sebaik baik cara beragama adalah generasi salaf dari ummat ini.

2. Kita terus mendoakan para pemegang kekuasaan kaum muslimin dan pemimpin kita, agar mereka di jaga dan di beri hidayah Allah subhanahu wa taala, agar kekuasaannya di jadikan alat membela kaum muslimin dan islam,

Serta pihak pihak yang memiliki akses kepada pemegang kekuasaan, untuk memberi nasehat secara sembunyi dan penuh hikmah.

3.  Tidak berbuat anarkis, dan bertindak tanpa ilmu, yang dapat memperkeruh keadaan serta membantu pemerintah dengan dakwah, menyebar sunnah dan meneguhkan tauhid serta menjaga keamanan negara.

4. Tentu kita, sebagai orang yang beriman menolak dengan keras opini dan usulan pelarangan adzan yang di gulirkan sebagian pihak yang membeci islam, yang mereka benci bukan hanya adzan bahkan syariat islam itu sendiri*

5. Secara umum, baik kalangan non muslim dan umat islam sendiri, tidak mempermasalahkan suara adzan,

yang di permasalahkan oleh mereka adalah “suara suara yang mengiringi adzan”, baik sebelum maupun sesudahnya.

Negeri ini (indonesia) adalah negeri kaum muslimin, sebelum kita dan orang orang yang menolak adzan itu lahir, adzan sudah bersahut sahutan di kumandangkan tiap waktu shalat, di masjid masjid kaum muslimin.

6. Hendaknya kita, terutama para takmir masjid dan juga muadzin, berusaha mempelajari sunnah sunnah nabawi,

Memberikan hak hak pada kita dan selain kita,

Tidak berbuat dzalim, baik sikap, atau ucapan, atau ganguan hatta pada orang bukan islam sekalipun, inilah ajaran agama kita.

untuk para takmir dan muadzin, hendaknya mempelajari adab adab penyelengaraan masjid, sunnah sunnah seputar shalat dan adzan, sehingga kita dapat beribadah dengan tenang dan tidak ada pihak pihak yang merasa di ganggu meski sekedar ganguan suara dengan sebab jauhnya kita dari ilmu dan sunnah

semoga Allah memberkahi hidup kita, dan menjadikan kita sebab sebab hidayah bagi orang lain.

Artikel : Ukhuwahfillhijrah.com Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Dunia Lebih Jelek Daripada Bangkai Kambing

RINGKASAN MUQADDIMAH KAJIAN.

“DUNIA LEBIH JELEK DARIPADA BANGKAI KAMBING.”

Oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah

[1]- Tonggak Islam dibangun di atas 2 (dua) perkara:

Hus-nul Qashd (keinginan yang baik); yakni: niat yang ikhlas, dan

Shihhatul Fahm (pemahaman yang benar).
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- dalam “I’laamul Muwaqqi’iin”.

[2]- Sedangkan fitnah (ujian/kejelekan) di dalam kehidupan ada 2 (dua):

Fitnah Syahwat, yang merusak keinginan, dan ini yang akan kita bahas. Karena dunia merusak tujuan hidup seseorang.

Fitnah Syubhat, yang merusak ilmu dan pemahaman. Seorang yang terkena Fitnah Syubhat: ia mungkin tidak silau dengan dunia, bahkan ia (bersabar) hidupnya susah (miskin); tapi dia sesat. Seperti orang-orang Khawarij: ada syubhat di kepalanya yaitu barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah; maka ia kafir (tanpa perincian), sehingga mereka mengkafirkan ‘Ali bin Abi Thalib -radhiyallaahu ‘anhu- dan lainnya.

[3]- (Kecintaan terhadap) dunia bisa memalingkan tujuan hidup seseorang. Padahal Allah menciptakan jin dan manusia: untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

“beribadah kepada-Ku” maknanya: agar mentauhidkan Allah, karena ibadah tidak sah tanpa adanya Tauhid. Sehingga agama Islam adalah agama Tauhid, bahkan Allah memerintahkan para nabi dan rasul untuk mendakhwahkan Tauhid, sebagaimana dalam firman-Nya:

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ …}

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”…” (QS. An-Nahl: 36)

Thaghut adalah: segala sesuatu yang diibadahi selain Allah.

Sehingga rukun dakwah ada 2 (dua):

Memerintahkan untuk beribadah kepada Allah.

Menjauhkan segala yang diibadahi selain Allah.

[4]- Jadi, kita hidup di dunia untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk bermain-main atau jalan-jalan. Bukan berarti jalan-jalan itu tidak boleh, akan tetapi tujuan kita adalah ibadah. Bahkan dalam hadits qudsi Allah perintahkan kita agar memfokuskan hidup untuk ibadah. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ، مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak Adam! Fokuskanlah (gunakanlah) waktumu untuk beribadah kepada-Ku; niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya; maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak tutup kefakiranmu.” [HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya]

Maka, dengan kita beribadah kepada Allah; rizki pasti datang (tentunya disertai ikhtiar). Oleh karena itulah: setelah Allah jelaskan:

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Allah berfirman:

{مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ * إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ}

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 57-58)

[5]- Maka hal ini harus kita imani: kita harus hidup unttuk beribadah kepada Allah (dengan mentauhidkan-Nya), dan Allah tidak akan menyia-nyiakan kita; Allah pasti beri rizki.

Contohnya adalah: kisah Maryam (yang fokus beribadah, kemudian Allah berikan rezeki). Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{… وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

“… dan (Allah) menyerahkan pemeliharaannya (Maryam) kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali ‘Imraan: 37)

Contoh lainnya: Allah perintahkan kita dan keluarga kita untuk Shalat, dan Allah sebutkan: dengan kita Shalat; maka Allah beri rezeki. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ}

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Akan tetapi kita beribadah harus tetap ikhlas karena Allah dan juga ittibaa’ (mengikuti Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-). Itulah dua syarat diterimanya ibadah.

[6]- Keadaan kaum muslimin sekarang sedang terpuruk. Hal itu dikarenakan mereka belum menegakkan ibadah dengan sebenar-benarnya. Karena kalau mereka menegakkan ibadah dengan sebenar-benarnya; niscaya Allah akan berikan kekuasaan. [Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang beramal shalih: bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)]

[7]- Banyak dari kita yang tertipu dengan dunia; baik orang awam, penuntut ilmu, da’i, bahkan ulama. Padahal Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sudah peringatkan dalam sabdanya:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah (kerusakan) yang pertama kali terjadi pada Bani Isra-il adalah karena wanita.” [HR. Muslim]

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah ummatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya)

Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

[8]- Jadi, sekali lagi: yang kita bahas adalah Fitnah Syahwat, yaitu: cinta kepada dunia. Karena semua sibuk dengan dunia. Harusnya kesibukan kita adalah: beramal shalih untuk masuk Surga.

Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa salllam- mengiming-imingi para Shahabat dengan Surga. [Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada penduduk Yatsrib pada Bai’at ‘Aqabah kedua:

“Kalian membai’atku untuk mendengar dan ta’at dalam keadaan semangat maupun malas, berinfak dalam keadaan sempit maupun lapang, amar ma’ruf nahi munkar, berkata (yang benar) dalam (agama) Allah dengan tidak takut -di jalan Allah- terhadap celaan orang yang mencela, dan kalian menolongku; -jika aku datang kepada kalian- maka kalian bela aku sebagaimana kalian membela diri-diri kalian, istri-istri kalian, dan anak-anak kalian, DAN BALASAN KALIAN ADALAH SURGA.” [HR. Ahmad, dan lainnya]

Dan ketika Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- disuruh memilih: “Apakah engkau ingin Allah menjadikanmu sebagai seorang raja sekaligus nabi, atau seorang hamba sekaligus rasul?” Jibril berkata: “Merendahlah kepada Rabb-mu wahai Muhammad!” Maka beliau menjawab:

بَلْ عَبْدًا رَسُوْلاً

“Bahkan (aku ingin menjadi) seorang hamba sekaligus rasul.” [HR. Ahmad, dan lainnya]

[9]- Semua sibuk dengan dunia; baik yang miskin maupun yang kaya. Harusnya kita memiliki kekayaan hati, karena itulah kekayaan yang hakiki. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“(Hakikat) kaya bukanlah dengan banyaknya harta benda. Namun kaya (yang sebenarnya) adalah kaya hati.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

“kaya hati” maksudnya: merasa ridha dan cukup dengan rezeki yang Allah karuniakan.

[10]- Dan bukan hanya orang awam saja yang sibuk dengan dunia, bahkan da’i pun sibuk dengan dunia: harta, jabatan, dan kedudukan. Bahkan sampai beramal untuk mendapatkan dunia; maka ini syirik. Oleh karena itulah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab -rahimahullaah- membuat bab dalam Kitab Tauhid:

بَابُ: مِنَ الشِّرْكِ: إِرَادَةُ الْإِنْسَانِ بِعَمَلِهِ الدُّنْيَا

“Bab: Termasuk Bentuk Syirik: Seseorang Melakukan Amal (Shalih) Untuk (Mengharap) Dunia”

Maka, kita harus ikhlas beramal untuk akhirat. Adapun dunia maka Allah sifatkan dengan:

}…مَتَاعُ الْغُرُوْرِ}

“…kesenangan yang palsu/menipu.” (QS. Al-Hadiid: 20

ditulis oleh: Ahmad Hendrix, dengan tambahan nash/teks beberapa dalil yang diisyaratkan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Bosan Beramal (?)

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam masuk menemui ‘Aisyah sedang di sisinya ada seorang wanita. Beliau berkata:

من هذه؟ قالت: فلانة تذكر من صلاتها ، قال: مع عليكم بما تطيقون ، فوالله لا يمل الله حتى تملوا ، وكان أحب الدين إليه ما دام عليه صاحبه

“Siapa ini?”, ‘Aisyah berkata, “Dia Fulanah sembari menyebutkan sholatnya (semalam suntuk). Maka beliau berkata, “Wajib bagi kalian beramal sesuai dengan kemampuan, demi Allah sungguh Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan, dan yang paling Allah cintai dalam beragama ini adalah amalan yang berkesinambungan.”

(HR. Al-Bukhori 43 dan Muslim 785)


Al-Hafidzh Ibnu Abdil Barr berkata:

معناه عند أهل العلم إن الله لا يمل من الثواب والعطاء على العمل حتى تملوا أنتم

“Maknanya menurut para Ulama bahwa Allah tidak akan bosan memberi pahala dan karunia-Nya terhadap amalan kalian sampai kalian bosan dari beramal.” (Al-Istidzkar Al-Jami’ Li Madzahib Fuqoha’ Al-Amshor 5/210)

Orang-orang yang takalluf (membebani diri) dalam beramal kelak dikemudian hari akan ditimpa kejenuhan. Pahalanya akan terputus bersamaan dengan putusnya amalan. Maka hendaknya seseorang beramal menurut batas kemampuannya. Jangan sampai dia banyak beramal akan tetapi menelantarkan kewajiban. Karena yang Allah uji di antara hamba-Nya adalah yang paling baik amalannya, bukan yang paling banyak.

Hadits ini juga sebagai dalil makruhnya sholat semalam suntuk menurut jumhur (mayoritas) Ulama. Namun sekelompok Salaf membolehkannya selama shubuhnya tidak terlewat, pendapat ini diriwayatkan dari Imam Malik.

Faidah:
Amalan yang dianjurkan menjadi tercela bila dikerjakan secara berlebihan, maka bagaimana lagi dengan amalan bid’ah yang jelas-jelas tidak ada syariatnya.
____________

✍🏻 Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Wanita Mana yang Paling Baik?

ٲي النــســـــاء خيــــــر ؟
WANITA MANA YANG PALING BAIK?

 

قيل لرسولِ اللهِ ﷺ أيُّ ًالنساءِ خيرٌ ؟

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah ditanya : wanita manakah yang paling baik?

قــــال رسول الله ﷺ :
التي تسرُّه إذا نظر ، وتطيعُه إذا أمر ، ولا تخالفُه في نفسِها ومالها بما يكره .

Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda

yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci”

صححه الألبانـي فـي صحيح النسائي – رقم: (3231)
dishohihkan Al Albani dalam Shahih An Nasai no 3231

فجمع النبي ﷺ ثلاث صفات عظيمة
في الزوجة الصالحة الخيِّرة ، وهي :

Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengumpulkan 3 sifat agung yang terdapat pada seorang wanita shalihah pilihan, yaitu:

إذا نظر إليها سرَّته بدِينها ،وبأخلاقها ،
وبمعاملتها ، وبمظهرها .

1. Bila melihatnya, ia menyenangkan suaminya dengan agamanya, dengan akhlaknya, dengan muamalahnya dan penampilannya*

وإذا غاب عنها حفظته في عرضها، وحفظته في ماله،
2. Bila suaminya tidak ada, ia menjaga harta bendanya suaminya, menjaga suaminya dalam hal hartanya

وإذا أمرها أطاعته ،ما لم يأمرها بمعصية ،
3. Dan bila suaminya memerintahkannya, ia mentaatinya selama suaminya tidak memerintahkannya dengan suatu kemaksiatan

maka pilihlah ia menjadi istrimu..

وفي صحيح سنن ابن ماجة : ن ثوبان رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: ليتخذ أحدكم قلبا شاكرا ولسانا ذاكرا وزوجة مؤمنة تعين أحدكم على أمر الآخرة

Dan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah : dari Tsauban Radhiyaalahu Anhu bahwasannya Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Hendaknya salah seorang dari kalian mejadikan hati itu bersyukur, dan membuat lisan itu berdzikir, dan mengambil isteri yang baik, yang membantu kalian dalam perkara akhirat.”

Karena ia adalah sebaik baik perbendaharaan manusia

و زوجة صالحة تعينك على أمر دنياك و دينك خير ما اكتنز الناس.

isteri yang sholihah, membantumu dalam dunia dan agamamu, adalah sebaik baik perbendaharaan manusia.”

أخرجه البيهقي في شعب الإيمان وصححه الألباني في صحيح الجامع.

 HR. Baihaqi dalam Syuabul Iman dan di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’

Karena Ia juga Sebaik Baik perhiasan dunia, lebih baik dari emas, harta, dan seluruh perhiasan dunia

الدنيا متاع، وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim: 1467)

Jangan pernah engkau salah pilih ya akhi, Benar benar carilah ia, niscaya engkau akan beruntung

فعليك بذات الدين والخلق تربت يمينك.

“maka wajib bagimu mencari yang beragama dan berakhlak, beruntunglah engkau.”

رواه أحمد بإسناد صحيح والبزار وأبو يعلى وابن حبان في صحيحه وصححه الألباني.
(Riwayat Ahmad dengan sanad shahih , dan Bazzar , Abu Ya’la dan Ibnu Hibban dalam shahih nya , dan dishahihkan Al- Albani.)

Sehingga ketika engkau telah mendapatkannya. Engkau ya akhi, benar benar telah menyempurnakan separuh agamamu

من رزقه الله امرأة صالحة فقد أعانه على شطر دينه فليتق الله في الشطر الباقي. .

“Barangsiapa diberi Allah wanita sholihah maka sungguh dibantu dalam separuh agamanya , maka bertaqwalah dia kepada Allah dengan setengahnya lagi.”

رواه الطبراني في الأوسط والحاكم ومن طريقه للبيهقي وقال الحاكم: صحيح الإسناد وحسنه الألباني رحم الله الجميع

 (Riwayat thabrani dalam Al Ausath dan Al Hakim dari jalurnya milik Al- Baihaqi, dan Hakim mengatakan : shahih sanadnya dan dihasankan oleh Al-Albani , semoga Allah merahmati semuanya.)

Tapi, kalau engkau tidak berhasil mendapatkannya, maka engkau akan mengalami kesengsaraan saudaraku

وثلاث من الشقاوة – وفي رواية : أربع – وذكرمنها : المرأة تراها فتسوؤك و تحمل لسانها عليك و إن غبت عنها لم تأمنها على نفسها و مالك.

Dan Tiga Kesengsaraan  riwayat lain: empat, diantaranya adalah : “Seorang wanita yang jika engkau melihatnya, membuatmu enggan, dan selalu berkata buruk , dan jika engkau tidak ada maka engkau tidak merasa aman dengan dirinya dan hartamu.”

أخرجه الحاكم وصححه الألباني في صحيح الجامع.
(Riwayat Hakim dan di shahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’)

Dan berhati hatilah engkau dari sejelek jeleknya wanita. Jangan sampai engkau memilihnya, memilih wanita yang tabarruj, memilih wanita yang suka maksiat, memilih wanita yang berpakaian ketat. Tidak layak wanita seperti itu menjadi ibu bagi anak anakmu

خير نسائكم الولود الودود المواسية المواتية إذا اتقين الله. و شر نسائكم المتبرجات المتخيلات و هن المنافقات لا يدخل الجنة منهن إلا مثل الغراب الأعصم

Sebaik baik wanita kalian ialah yang subur, mencintai suami dan taat kepadanya lagi bertaqwa kepada Allah. Dan sejelek-jelek wanita kalian ialah yang bertaburruj lagi angkuh, dan merekalah wanita munafiq. Tidak ada yang masuk surga dari mereka kecuali gagak bersayap putih.”

Gagak bersayap putih, artinya mustahil baginya akan masuk surga. Karena namanya gagak selama lamanya tidak akan memiliki sayap putih.

jika demikian, maka jadikanlah dirimu layak untuk mendapatkanya. Laki laki yang baik untuk wanita yang baik. Jika engkau laki laki yang buruk, maka jadikan dirimu layak untuk mendapatkannya. Karena istri adalah cerminan suami.

ٱلْخَبِيثَـٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَـٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَـٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَـٰتِ ۚ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).

untuk mendapatkannya pula, tak lupa memperbanyak doa

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍۢ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

مجمــوعــات

مؤسسة توحيد الله بسورابايا_,اندونيسيا

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Sepuluh (10) Hari Awal Dzulhijjah Sangat Mulia, Bahkan Al-Imam Yahya Bin Ma’in (wafat 233 H) Mengurangi Membicarakan Manusia

fawaid edisi khusus

SEPULUH (10) HARI AWAL DZULHIJJAH SANGAT MULIA, BAHKAN AL-IMAM YAHYA BIN MA’IN (WAFAT 233 H) MENGURANGI MEMBICARAKAN MANUSIA !

 

Al-Imam Ibnu Abī Hātim ar-Rāzī rahimahullah berkata,

“Aku mendengar ayahku berkata,

“Aku mendatangi Yahyā bin Ma’īn pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah, dan padaku terdapat sebuah catatan tentang nama para penukil ātsar (nama para perawi)*, aku bertanya kepadanya secara pribadi, maka ia pun menjawab pertanyaanku, ketika aku memperbanyak pertanyaan kepadanya (tentang para perawi),

ia berkata kepadaku,

“Di sisimu ada sebuah catatan (tentang para perawi yang hendak ditanyakan)..?”,

Aku menjawab,

“Iya (di sisiku terdapat sebuah catatan),

maka ia pun mengambilnya dan melihat isi catatan tersebut, lalu berkata:

أياما مثل هذا وذكر الناس فيها ؟؟؟

“Pada hari-hari seperti ini (maksudnya 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah, apakah pantas untuk membicarakan kekurangan) manusia di dalamnya ???”

Maka Yahyā bin Ma’īn pun enggan untuk menjawab pertanyaanku..(rahimahumullah)”

[Al-Jarh wa at-Ta’dīl, juz 1 hal. 317]

yakni tentang jahr wa ta’dil: ilmu yang membicarakan profil perawi hadits, apakah orangnya terpercaya atau tidak.

 

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com

Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Fawaid Edisi Khusus

Fawaid Edisi Khusus

KEUTAMAAN HAJI DAN HARAPAN UNTUK ORANG YANG BELUM MENUNAIKANNYA

(amaliah yang di harap menyamai pahala haji bagi orang yang belum menunaikan, sebuah kabar gembira)

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Imam Abu Farj Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab rahimahullah

Berkata

“… Ketika Allah taala menanamkan kerinduan dalam hati hamba hamba Nya yang beriman untuk menyaksikan Baitullah,

Dan tidak semua orang bisa menyaksikannya tiap tahun,

Maka Allah taala mewajibkan bagi yang mampu untuk berhaji satu kali seumur hidup,

Dan menjadikan sepuluh hari pertama Dzul hijjah sebagai musim bersama untuk beramal shalih antara orang orang yang berhaji dan orang orang yang tidak menunaikannya (pada tahun itu).

Barang siapa tidak mampu berhaji pada suatu tahun, ia dapat melakukan amal yang ia mampu melakukannya di rumah, yang lebih utama dari jihad, padahal jihad lebih utama dari haji.

Jauhilah maksiat, karena ia menghalangi ampunan pada musim yang penuh dengan rahmat,

Marwazy meriwayatkan di kitab ‘wara’, dari Abdul Malik dari seorang shahabat atau tabiin,

“Bahwa datang seorang dalam mimpinya di salah satu hari sepuluh hari awal dzulhijjah,

“tidak ada seorang muslim pun yang tidak di ampuni segala dosanya pada hari hari ini, setiap hari lima kali, kecuali para pemain”, mereka adalah pemain catur”.

Jika bermain catur saja menjadi penghalang ampunan, lalu bagaimana orang orang yang terus terusan dalam dosa ?,

Maksiat adalah penghalang seorang dari rahmat Allah taala, dan ketaatan adalah hal yang dapat mendekatkan kepada Allah dan rahmat Nya.

Saudara saudaraku, kalian telah berihram pada hari hari ini, dan berniat menuju ka’bah, memenuhi angkasa dengan talbiyah, takbir, tahlil, dan tahmid, mengagungkan Allah taala,

Sungguh mereka telah berangkat, sedang kita hanya bisa duduk, mereka mendekat, sedang kita menjauh,

Jika sekiranya kita memiliki sedikit bagian dari mereka, tentu kita bahagia.

Orang orang yang duduk karena udzur, di samakan dengan orang orang yang berjalan,

Boleh jadi, orang yang berjalan dengan hatinya (pahalanya) melebihi orang yang berjalan dengan raganya.

Seorang dari salaf bermimpi bahwa ada seorang di arafah tanggal 9 dzulhijjah, orang itu berkata padanya “apakah engkau melihat penuhnya manusia di sini ?, tidak seorang pun berhaji (mendapat pahala haji), kecuali seorang yang tidak ada di sini, karena ia berhaji dengan niatnya, lalu ia meraih keutamaan orang orang yang berada di sini”.

Jangan sampai kita luput mendapat ghanimah pada hari agung ini, karena tidak ada gantinya, dan tidak bisa di hargai dengan uang,

Cekatlah dan tangkaslah dalam beramal, bersegeralah sebelum di serang ajal, sebelum menyesal orang orang yang lalai, sebelum ia meminta di kembalikan untuk beramal sedang tidak di penuhi permintaannya, sebelum di halangi orang orang yang berangan angan mewujudkan hayalan,

sebelum seorang tergadai di kubangan lubang amal yang ia persembahkan.

Wahai orang yang mulai nampak bibit ubannya, setelah 40 tahun,

Wahai orang yang berlalu di hadapannya tahun tahun, hingga berumur 50 tahun,

Wahai orang yang sudah di pintu kematian, saat umur 60 atau 70 tahun,

apa yang engkau tunggu setelah datang pengkabaran ?,

Apakah engkau tunggu kematian menjemputmu ?,

Wahai orang orang yang bilangan dosanya sebanyak bilangan genap dan ganjil,

Tidakklah engkau malu dengan kiraman katibin (malaikat yang mulia lagi mencatat) ?,

Atau engkau termasuk orang yang mendustakan hari berbangkit ?.

Wahai orang yang pekat gelap hatinya seperti malam bila datang,

Bukankah telah datang waktu untuk menerangi hati atau me lunak kannya ?,

Angin segar di hembuskan pada sepuluh hari ini (dzulhijjah),

Sesungguhnya Allah taala memiliki tiupan rahmat, tiada seorang mendapatkannya, kecuali ia akan berbahagia.”

كتاب *لطائف المعارف* فيما لمواسم العام من الوظائف 518.

Catatan:

kami (Abu Abd Rahman) tidak mendapati keterangan yang mengatakan jihad lebih utama dari haji.

Yang kami dapati riwayat Abdullah bin masud radiyallahu anhu,

سألت النبي صلى الله عليه وسلم اي العمل احب إلى الله ؟

قال الصلاة على وقتها ، قال ثم أي ؟ قال بر الوالدين ، قال ثم اي ؟ قال الجهاد في سبيل الله

(hr Bukhari 527)

Aku bertanya pada nabi shalallahu alaihi wa salam, amal apa yang di cintai Allah,

Di jawab, shalat pada waktunya, lalu apa lagi, di jawab, berbuat baik dengan kedua orang tua, lalu apa lagi, di jawab, jihad di jalan Allah.

Untuk mengetahui dengan mudah ciri satu riwayat dhaif, yaitu riwayat yang terputus sanadnya dengan tidak di sebutnya satu inisial atau ada keraguan dari rawi. (istilah nya mubham, atau riwayat yg tidak di sebutkan salah satu nama dalam sanad).

Dalam islam mimpi tidak bisa di jadikan dasar hukum.

Tulisan ini, wallahu a’lam, bukan bermaksud merendahkan ibadah haji, sebagaimana yang ada dalam fikiran kaum munafiq liberal.

Bahwa orang liberal berpendapat, lebih baik ibadah sosial dari ibadah haji, atau lainnya, atau ucapan mereka lebih baik hati bersih daripada beribadah tapi dengan orang lain jahat. ini satu kesalahan pemahaman.

Yang benar, sebagaimana penjelasan ibnu rajab dalam hadits niat (riwayat Umar bin Khattab radiyallahu anhu. Hadits Bukhari no 1. Muslim no 1907. Hadits ini di riwayatkan sendirian oleh yahya bin said, berlafad إنما الأعمال بالنيات) kadang amalan hati lebih baik dari amalan dzahir. Dan beliau jelaskan panjang lebar tentang amalan niat ini. (syarah hadits arbaun nawawi ‘jamiul ulumi wal hikam bab 1).

Kami tidak tau maksud kalimat ini.

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Taqlid dan Pengaruh Buruknya

Berikut beberapa faidah dari daurah bersama Syaikh Abdul Hadi al Umairi yang berlangsung di Mesjid Al Fitrah (Rabu, 6 Juli 2018.)
 

Taqlid dan Pengaruh Buruknya

📋 Fawaaid:

✅ Pembukaan dengan khutbah hajah, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

✅ Termasuk kenikmatan dari Allah mengumpulkan hambaNya di rumah Nya, mempelajari agamanya dan sunnah-sunnah nabi Nya.

✅ Kenikmatan lainnya adalah kemudahan untuk berkumpul di majlis ilmu. Semua ini adalah tanda kebaikan.

✅ Syaikh menyampaikan (sering menyampaikan pada kesempatan lainnya) dari apa yg beliau lihat di negeri ini (berupa) hijab dan shalat jamaah yang diamalkan. Beliau bersyukur dengan kondisi ini dimana pada masa yg sunnah terasing, namun terlihat syiar di tempat ini. Beliau merasakan perbedaan dengan tempat-tempat lainnya. Beliau menegaskan wajibnya menjaga stabilitas di tempat ini, ukhuwah dan perkara-perkara yang mendukung syiar agama.

✅ Materi kajian “Taqlid dan dampak buruknya” adalah materi yg sangat penting. Apalagi masa seperti ini, ilmu agama sangat dibutuhkan dan merupakan kebaikan dari Allah hambaNya.

Sebagaimana dlm hadits shahih:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين.

Kebalikan dari hadits di atas, bukanlah kebaikan ketika Allah menjauhkan ilmu agama dari seorang hamba.

✅ Imam Ahmad mengingatkan perihal pentingnya ilmu agama. Kebutuhan manusia terhadap ilmu agama lebih besar dari kebutuhan terhadap makan dan minum.

Dimana makan minum mencukupi dengan 2 atau 3 kali, namun ilmu agama dibutuhkan setiap saat dalam setiap urusan.

✅ Ilmu agama adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan oleh Rasulullah. Termasuk ilmu agama adalah ijma dan qiyas yang benar.

✅ Allah menyebutkan kondisi Yahudi dan Nasrani, dimana Yahudi dimurkai Allah karena tidak mengamalkan apa yg mereka ketahui, adapun Nasrani disesatkan Allah karena beramal tanpa ilmu.

✅ Pertengahan adalah umat Rasulullah yang berada diantara Yahudi dan Nasrani, dimana umat Rasulullah yang sejati bersemangat belajar ilmu agama dan semangat mengamalkannya, keduanya merupakan kenikmatan dari Allah.

✅ Taqlid secara umum adalah seseorang menerima ucapan orang lain tanpa adanya upaya mengetahui hujjah dan memahami dalil. dan mayoritas umat manusia terjebak dengan taqlid.

✅ Diantara dasar-dasar yang perlu diketahui: Rabb kita adalah satu, kitab kita satu, nabi kita satu, kiblat kita satu.

✅ Allah berfirman: “wahai umat manusia, beribadahlah kalian kepada Rabb kalian yg telah menciptakan kalian dan umat-umat sebelum kalian.”

✅ Syariat yang Allah turunkan kepada para nabi adalah mengajarkan untuk mentauhidkan Allah, demikian juga yg diturunkan kepada Rasulullah.

✅ Al-Qur’an adalah satu yang diturunkan kepada Rasulullah untuk disampaikan kepada umatnya, maka seorang muslim wajib merealisasikan: Mentaati Rasulullah, membenarkan apa yg disampaikan, melakukan apa yg diperintahkan, menjauhi larangan, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yg diajarkan oleh Rasulullah.

Inilah yang harus diwujudkan dalam kehidupan, sehingga dengan ini tidak ada celah untuk berpecah.

✅ Tidak ada sosok yang boleh diikuti secara mutlak selain Rasulullah. Wajib mengikuti perintahnya, menjauhi larangannya dan ini bukanlah sikap taqlid, namun ini merupakan ittiba’. Semuanya, baik laki-laki maupun wanita wajib mengikuti perintahnya.

✅ Allah telah menegaskan dalam firman Nya. “sungguh telah ada dalam diri Rasulullah ushluh yg banyak,” Dalam ayat lain Allah berfirman “apa yang datang darinya ambillah..,”

✅ Rasulullah telah bersabda: “tunaikanlah shalat sebagaimana kalian melihat aku shalat“, demikian juga hadits manasik haji.

✅ Kesetiaan para sahabat adalah kesetiaan secara totalitas, bahkan para sahabat mencintai sampai makanan yg disukai Rasulullah dalam keadaan mereka tidak menyukai sebelumnya. Mereka selalu bergegas mengamalkan apa yg disampaikan Rasulullah dalam semua perkara dan ini pula yg diajarkan kepada para tabiin.

✅ Tidak ada sikap taqlid pada masa shahabat, tabiin dan generasi setelah mereka hingga abad ke 3.

✅ Mulai abad ke 4 mulai muncul taqlid kepada sosok tertentu.

✅ Ibn Suud berkata: “aku hanya beriman dengan apa yg Rasulullah dengannya beriman…”.

Ibn Umar berkata “aku berkata Rasulullah bersabda namun kalian berkata umar berkata demikian, aku kuatir akan dijatuhkan ke atas kalian batu dari langit.

Demikian pula dengan para imam 4 yang mashur, berkata:

➡ Imam Abu Hanifah: “Tidak halal bagi kalian mengambil ucapan ku jika kalian tidak tahu dr mana aku mengambil nya.”

➡ Imam Malik: “Semua orang berhak diambil dan ditolak pendapat nya kecuali pemilik kubur ini (Rasulullah).”

➡ Imam Syafi’i: “Bila itu hadits shahih maka itulah mazhabku.”

➡ Imam Ahmad: “Jangalah kalian taqlid padaku, juga Syafi’i, abu Hanifah, dan auza’i.”

✅ Abu Yusuf, adalah murid abu Hanifah namun mereka tidak sepakat dalam sepertiga pendapat abu Hanifah. Beliau tidak bertaqlid, dan demikian murid-murid besar para imam, mereka tidak bertaqlid namun menggali dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

✅ Taqlid muncul pada abad ke4. Secara umum taqlid ada 2:

1. Sifatnya masyru’

Taqlid jenis ini ada perbedaan diantara ulama. Diantara mereka ada yg melarang secara mutlak dengan alasan hakikatnya tidak ada yg boleh diikuti secara totalitas selain Rasulullah. Sebagian lain berpendapat wajib untuk bertaqlid, yang ini akan menutup pintu ijtihad.

➡ Ibn Qudamah dan lainnya mengambil jalan pertengahan dengan membolehkan taqlid.

➡ Ibn Taimiyah, Al bani menyatakan bolehnya taqlid yang masyru’ (beliau menyatakan tidak menemukan dalil yg melarangnya) dengan alasan bahwa kaum muslimin tidaklah satu tingkatan dalam memahami ilmu agama. Ada yg mampu berijtihad dan sebagian besar tidak mampu berijtihad, maka kondisi ini membolehkan taqlid, bahkan ijma’ ulama berpendapat demikian.

Hal yang sangat penting bagi awam muslimin menyatakan aku mengikuti pendapat imam ini dan ini dr imam ahlussunah dalam perkara asma wa shifat. Karena mereka tidak mengetahui secara mendalam ttg iradah kauniyah, iradah syari’iyyah.

2.Yang Tercela

Adapun yang kedua yaitu taqlid yang sangat tercela (mazmum).

➡ Imam Syafi’i berkata, telah sepakat ulama bila telah datang dari Rasulullah sunnah yang jelas maka tidak boleh baginya meninggalkan sunnah itu untuk mengikuti yang lainnya.

Ketika hal itu dilanggar maka muncullah sikap fanatisme (ta’ashub) yg berlebihan sampai saling mengkafirkan.

Contohnya, muncul dari sebagian muqallid Hanafi untuk tidak boleh menikahkan anak perempuan mereka dengan laki-laki dari syafiiyah namun boleh sebaliknya.

✅ Akibat buruk dari taqlid diantaranya adalah terpecah belah kaum muslimin.

Dulunya di Masjidil Haraam ada 4 sampai dengan 5 tempat imam, yg shalat sesuai mazhabnya. Hal tersebut muncul karena taqlid yang tercela, dan terjadi hingga dakwah tauhid yang kemudian hanya 1 imam. Di Damaskus bahkan masih terjadi hingga saat ini.

✅ Perpecahan muncul dari ta’ashub, disebabkan oleh fanatisme yg lahir dr sikap taqlid mazmum, yang mengingkari hadits 2 yang jelas. Padahal sudah jelas larangan berbuat demikian.

✅ Diantara para muqallid menyatakan, jika hadits tidak ada dalam mazhab kami maka hadits itu dalam 2 kondisi, mansukh atau dhaif, dan sikap-sikap ekstrim lainnya seperti menganiaya ulama2 yg menyelisihi pendapat mazhab mereka.

✅ Sikap yg benar adalah seperti dikatakan Syafi’i, siapapun yang telah datang baginya hadist dan sunnah yang shahih, tidak boleh baginya mengambil pendapat selainnya.

✅ Syaikh menambahkan, mengingatkan janganlah menganggap enteng persaudaraan walau hanya dengan senyum. Rasulullah mengatakan senyuman kamu bagi saudaramu adalah sedekah.

✅ Beliau mempersaksikan bahwa orang Indonesia memiliki kebiasaan yang tidak didapatkan di negeri-negeri lainnya, yaitu tersenyum kepada saudaranya, bahkan kepada yg belum dikenalnya. Begitulah pengalaman Syaikh di tempat-tempat mulai dari bandara, toko dsb.

✅ Karena sebagian kita tidak mampu bersedekah dengan harta, maka senyum adalah sedekah oleh kaya maupun yg miskin.

Selesai.

✒ Disimpulkan oleh: Tim Syiar Tauhid Aceh
🌍 Sumber: https://bit.ly/2KPRkM9

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Sifat Pemaaf

Fawaid

اللهم انك عفو تحب العفو فأعف عني

Ustadz Abu abd rahman bin muhammad suud

Berkata imam Abu Faraj Abdurahman bin Ahmad bin Rajab rahimahullah

“al Afwu (pemaaf) adalah salah satu nama Allah subhanahu wa taala yang indah,

Karenanya, Dia tidak menghukum hamba karena keburukan keburukan yang telah mereka kerjakan, dan menghapus jejak keburukan dari mereka (bila mereka memohon ampunan),

Allah subhanahu wa taala mencintai maaf, dan Dia menyukai untuk memaafkan hamba hamba Nya,

Sebagaimana Dia juga menyukai jika para hamba Nya saling memaafkan sesama mereka,

Jika sebagian manusia memaafkan sebagian yang lain, maka Allah subhanahu wa taala akan memaafkan mereka,

Allah subhanahu wa taala lebih menyukai menurunkan ampunan dari pada siksa Nya,

اعوذ برضاك من سخطك و بعفوك من عقوبتك

aku berlindung dengan Ridha Mu dari Kemurkaan Mu, dan Pemaafan Mu dari Siksa Mu

(hr Muslim 486)

كتاب: لطائف المعارف فيما لمواسم المام من الوظائف 391

pencari ilmu syar’i

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Untuk Apa Waktumu?

Petuah Salaf 2

 

 

قــال العـلامة ابن عـثيمين رحمہ الله تعالـﮯ

Al Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah Ta’ala berkata:

«إذا رأيت وقتك يمضي وعمرك يذهب وأنت لم تنتج شيئا مفيداً
ولا نافعاً، ولم تجد بركةً في الوقت ،

Jika engkau melihat waktumu yang telah berlalu, umurmu yg terlewat, sedang engkau tidak menghasilkan sesuatu yang berfaidah, tidak pula bermanfaat, dan engkau tidak mendapati keberkahan waktu.

فاحذر أن يكون أدركك قوله تعالى: {ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وكان أمره فرطا}»

Maka hati hatilah, barangkali engkau termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala :

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta mengikuti hawa nafsunya sedangkan keadaannya tercerai berai (melampaui batas).

[تفسير سورة الكهف].
Tafsir Al Kahfi

✒ Akhukum fillah Zakariya Rizky

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

 

 

Kewajiban Istri Terhadap Suaminya

ما يجب أن تكون عليه الزوجة مع زوجها

|| •• الشيخ المربي محمد بن عمر بازمول حفظه الله تعالى •• ||

ﻣﻤﺎ ﻳﺤﺴﻦ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻣﻊ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ..

ﺃﻥ ﺗﺘﺸﺒﻪ ﺑﻨﺴﺎﺀ ﺍﻟﺠﻨﺔ ..
ﻭ ﻫﻮ ﺃﻥ ﺗﻘﻮﻝ ﻟﺰﻭﺟﻬﺎ ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻟﻪ ﻧﺴﺎﺀ ﺍﻟﺠﻨﺔ :

(( ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺃﺭﻯ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺷﻲﺀ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻨﻚ ))

ﻛﺬﻟﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﺗﻌﻮﺩ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﺃﻥ ﺗﺴﻤﻌﻪ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ..
ﺗﺠﺒﺮ ﺧﺎﻃﺮﻩ .. ﺗﻨﺸﻄﻪ .. ﺗﺠﻌﻠﻪ ﻳﺮﺿﻰ ﻋﻨﻬﺎ ..

ﻭ ﻫﻮ ﺃﻳﻀﺎ ﻳﺮﺍﺿﻴﻬﺎ ﺑﻤﺜﻞ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ .

[“ﺷﺮﺡ ﻣﻌﺎﺭﺝ ﺍﻟﻘﺒﻮﻝ” | (شـ : 21) ].

KEWAJIBAN ISTRI TERHADAP SUAMINYA

🖊 Oleh : Syaikh Al Murobby Muhammad bin Umar Baazmuul -semoga Allah menjaganya-

“Hal yang disenangi dari istri terhadap suaminya di dunia ini adalah …

Hendaknya sang istri mencontoh wanita-wanita penghuni surga, Yaitu wanita-wanita yang berkata kepada suaminya seperti perkataan wanita penghuni surga :

“Demi Allah, aku tidak melihat di surga hal yang lebih indah daripada dirimu”

Demikian pula di dunia ini, hendaknya sang istri membiasakan untuk mengucapkan ucapan ini dihadapan suaminya,

Agar ucapan itu bisa mengobati luka hatinya,

Membuat suami bersemangat,

Dan membuat suami ridha dengan sang istri.

👍🏽Demikian pula sang suami, hendaknya dia membuat senang istrinya dengan ucapan ucapan seperti ini.”

{Lihat kitab : Syarah Ma’aarijul Qobuul, kaset no.21}

🏷Dikutip dari Channel : https://t.me/fatawinissa

Diterjemahkan oleh Ummu Abdurrahman dan telah dikoreksi oleh Al Ustadz Abu ‘Amr As-Sidawiy hafizhahullah.

Saalikat Manhaj Salaf

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Ketika Hati Telah Terbalik, Disebabkan Ia Condong Kepada Syubhat dan Fitnah

Fawaid

KETIKA HATI TELAH TERBALIK, DISEBABKAN IA CONDONG KEPADA SYUBHAT DAN FITNAH

(nasehat bagi kaum muslimin agar berhati hati di jaman penuh fitnah)

🖋 abu abd rahman bin muhammad suud al atsary

Ketika Nabi shalallahu alaihi wa salam mengingatkan kita, ummatnya, akan berbagai macam fitnah, yang di misalkan beliau sebagaimana anyaman anyaman tikar,

Beliau menyebut dua kondisi dari ummatnya,

Ada yang kondisi hati mereka laksana batu putih, karena menolak syubhat dan fitnah, dari para penyerunya,

Ada yang hati mereka hitam legam, laksana bejana terbalik, yang bagian hitamnya di atas,

tidak mengetahui yang ma’ruf (benar) dan tidak mengingkari kemungkaran

Sebagaimana di riwayatkan shahabat Hudzaifah bin Yaman radiyallahu anhu

… والآخر اسود مربادا كالكوز مجخيا *لا يعرف معروفا و لا ينكر منكرا …

… kemudian hati yang lain hitam keruh, seperti bejana yang terbalik, tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemunkaran …

📚 (Hr Muslim 369)

Makna dari

tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemunkaran

Adalah sikap yang di mulai dari sikap condong pada pelaku dan penyeru kebatilan,

Di mulai dengan setitik nokta, kemudian melebar,

Bilamana ia mulai ada kecenderungan kepada kebatilan dan berjalan bersama dan di jalan orang orang yang membawa kesesatan, jadilah terbalik hatinya

-kita berlindung kepada Allah taala dari hal tersebut-

Lihatlah keadaan manusia saat ini, maka anda akan menemukan kenyataan pahit,

Di mana para penyeru kesesatan, pendusta, dan pembawa syubhat di elu elu kan, di puji sebagai “ulama” sebagai “ustad”,

Sementara, para Dai Dai yang mengingatkan manusia pada penyimpangan, kedustaan, dan syubhat para penyerunya, di caci maki dan di anggap sok suci dan merasa benar sendiri,

Kita berlindung kepada Allah taala dari penyimpangan, dan hati yang terbalik, tidak tau kebenaran, dan tidak mengingkari kemunkaran, sementara ia merasa di atas petunjuk.

 

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

 

Kemudahan akan senantiasa ada bersama kesulitan. Tidak ada kemudahan jika tidak datang kesulitan, karena kemudahan senantiasa datang bersama dengan kesulitan.

Sehingga, jika anda ditimpa kesulitan, di sana juga ada kemudahan yang akan mengeluarkan anda dari kesulitan.

♦️قـال السعدي رحمه الله تعالى :
Syaikh As Sa’di Rahimahullah berkata:

لو دخل العُسر جحر ضب لدخل عليه اليُسر فإستخرجه منه
kalau seandainya kesulitan itu masuk ke dalam lubang biawak, sungguh kemudahan juga akan masuk ke dalamnya, dan dia akan mengeluarkan kesulitan dari lubang itu

كما قال تعالى :
{ سيجعـل الله بعـد عـسر يُسْـرا }
sebagaimana Firman Allah Ta’ala ,”Allah akan menjadikan setelah kesulitan adalah kemudahan

📜 تفسير السعدي (صـ ٩٢٩)
📕 Tafsir As Sa’di hal 929

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ”

“Ketahuilah bahwasannya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan”. [Hr. Tirmidzi)

 

Akhukum fillah Zakariya Rizky
[YAYASAN ISLAM TAUHIDULLAH SURABAYA]

Berlangganan tulisan Broadcast WA harian UFH
Silahkan klik link ⤵
http://bit.ly/AdmBroadcast

Atau ke
📲 08885451490
(only chat wa)
format :
#daftar#nama#domisili

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

AL- fawaid Ramadhan

 RAMADHAN TINGGAL 2/3 NYA, SUDAH SEJAUH MANA KITA ???

(mengevaluasi ibadah dan kebaikan, serta dosa kita selama duapuluh hari ramadhan, bila belum optimal segera kejar ketertinggalan)

🖋abu abd rahman bin muhammad suud al atsary

Saudaraku… Semoga Allah subhanahu wa taala memberkahi kita semua.

Allah subhanahu wa taala berfirman mengingatkan hamba hamba Nya,

و كل انسن الزمنه طئره فى عنقه ، و نخرج له يوم القيمة كتاب يلقه منشورا • اقرأ كتبك كفى بنفسك اليوم عليك حسيبا

سورة 17 الإسراء 13 – 14

_Dan setiap manusia itu telah kami tetapkan catatan amalnya pada lehernya, dan Kami akan keluarkan nanti baginya satu kitab pada hari kiamat dalam keadaan terbuka • bacalah sendiri kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai pembuat perhitungan sendiri terhadap dirimu_.

Berkata imam Abdurrahman bin Nasir bin abdillah as Sady rahimahullah,

“ini merupakan pemberitaan tentang kesempurnaan keadilan Allah, dimana Dia menetapkan amal perbuatan pada seorang sebagaimana kalung yang menempel pada lehernya sendiri,

Maksydnya, setiap amal yang di kerjakan, baik itu amal baik atau buruk, niscaya Allah menetapkan ganjaran pada pelakunya, tidak akan berpindah pada orang lain,

Ia tidak di hisab berdasar amal orang lain,

Begitu juga orang lain, tidak di minta tangung jawab atas amalnya (orang tadi),

و نخرج له يوم القيمة كتاب يلقه منشورا

Yang di dalamnya terdapat segala sesuatu yang pernah di kerjakan, berupa kebaikan atau keburukan, baik besar atau kecil,

Kemudian di katakan padanya,

اقرأ كتبك كفى بنفسك اليوم عليك حسيبا

Inilah bentuk keadilan dan keobyektifan terbesar, di mana di katakan pada seorang

“hitunglah dirimu sendiri”, sehingga ia mengetahui fakta dosa yang ada pada dirinya yang mendatangkan sebab siksa”.

📖 Kitab taisir karimir rahman fi tafsir kalamim manan surah 17 ayat 13 -14.

Juga firman Nya,

و وضع الكتاب فترى المجرمين مشفقين مما فيه ، و يقولون يويلتنا مال هذا الكتاب ؟ لا يغادر صغيرة و لا كبيرة إلا احصها !!! ، و وجدوا ما عملوا حاضرا ، و لا يظلم ربك أحدا

سورة 18الكهف 49

_Dan di sodorkan padanya kitab (catatan amal), maka kalian akan melihat para mujrim (pelaku kejahatan) apatis (takut dan gentar) atas apa yang telah tertulis di dalamnya, mereka berkata “celaka kami, kitab macam apa ini ?, yang tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, melainkan tercatat semuanya !!!, dan mereka mendapati semua apa yang telah di kerjakan di hadirkan, dan Rabbmu tidak lah berbuat dzalim pada seorang pun_.

Berkata imam Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah as Sady rahimahullah,

“pada waktu (perhitungan akhirat) itulah buku buku catatan para malaikat yang berbakti di hadirkan,

Maka hati manusia melayang layang, dan kesulitan kesulitan semakin menjadi lantaran kejadian itu,

Hampir gunung gunung terkikis karenanya,

Orang orang jahat takut karenanya,

Ketika mendapati amal perbuatannya terbukukan, ucapan dan tindakkan mereka di perhitungkan,

Lalu mereka berseru,

يويلتنا مال هذا الكتاب لا يغاذر صغيرة و لا كبيرة إلا احصها

yakni, kitab ini tidak meninggalkan perbuatan kecil dan besar melainkan tercatat lagi terpelihara di dalamnya,

Tidak terlewatkan amal yang sembunyi atau terang, baik di malam atau siang,

و وجدوا ما عملوا حاضراً

yakni, mereka tidak mampu lagi mengingkarinya,

و لا يظلم ربك احدا

saat itu, mereka di beri balasan atas amalnya, dan di mintai pengakuan, (setelah mengakui kesalahan) maka mereka di timpa kehinaan, dan jatuhlah ketetapan siksa pada nya,

Bahkan manusia tidak akan keluar (baik) dari keadilan atau kemurahan Nya”.

📖 kitab taisir karimir rahman fi tafsir kalamim manan surah 18 ayat 49.

Berkata imam Zainudin Abu Farj, Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab rahimahullah,

“adapun puasa ramadhan dan shalat malamnya, maka keduanya menjadi pelebur dosa hingga ramadhan berakhir,

Jika satu bulan sempurna, berarti puasa dan shalat malam bagi seorang muslim telah sempurna, yang hal itu menjadi sebab terampuninya dosa yang telah lalu,

Sebagian orang (ulama) mengatakan bahwa dosa dosa di ampuni dengan shalat malam, ketika selesai shalat malam pada akhir bulan ramadhan sebelum datangnya siang,

Sedang ampunan dengan puasa, akan terjadi sampai puasa mereka berakhir, sehingga mereka di ampuni di malam idul fitri”

📚 kitab lathaifu maarif 395.

Beliau melanjutkan,

“Muwariq al Ajali berkata di tanah lapang (untuk shalat ied) pada saudaranya

‘pada hari ini satu kaum (yang di ampuni dosanya) akan pulang sebagaimana hari mereka di lahirkan ibunya’,

dalam riwayat mursal, dari Abu Ja’far berkata

‘siapa yang mendapati ramadhan, lalu puasa di siang hari, shalat malamnya, menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, lisan, dan tanggannya, shalat berjamaah, segera shalat jumatnya, berarti telah berpuasa dan mendapat pahala penuh, ia telah mendapat lailatul qodr, *dan memenangkan hadiah dari Rabbnya, hadiah yang tidak serupa dengan hadiah dari para pejabat*’ ”

📚 kitab lathaifu maarif 396.

“siapa saja yang amalnya (di bulan ramadhan) kurang, maka pahalanya akan kurang seukuran dengan itu, (bila ia mendapati itu) maka jangan menyalahkan, selain dirinya sendiri”

📚 kitab lathaifu maarif 397.

Di riwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu, beliau berkata di akhir ramadhan,

“aduh, siapakah yang di terima amalnya, sehingga aku memberinya ungkapan tahniah (suka cita),

Dan siapakah yang tertolak amalnya, sehingga aku memberinya ungkapan ta’ziyah (bela sungkawa)”

📚 kitab lathaifu maarif 399.

“wahai ramadhan, engkau telah melimpahkan kasih sayang, orang orang yang mencintaimu telah berderai air mata,

Hati mereka teriris karena sakitnya perpisahan,

Semoga renungan perpisahan ini bisa memadamkan apa yang telah terbakar oleh api kerinduan,

Mudah mudahan saat taubat, dan pelepasan diri dari dosa dapat menambal lubang lubang kekurangan,

Mudah mudahan orang yang terputus dan tertinggal dari rombongan orang orang yang di terima amalnya bisa menyusul,

Mudah mudahan belenggu dosa dan kesalahan terlepaskan, semoga orang orang yang seharusnya masuk neraka terbebaskan, semoga rahmat Allah taala atas pelaku maksiat (pengampunan) bisa di rasakan”

📚 kitab lathaifu maarif 410.

Di tulis malam 20 dari Ramadhan 1439 hijriyah, bada tarawih.

oleh: yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.

Artikel : www.ukhuwahfillijrah.com