Engkau (ya Allah) adalah pelindung para Mustadhafin (orang lemah) dan Engkau jugalah pelindung ku

Do’a

Engkau (ya Allah) adalah pelindung para Mustadhafin (orang lemah) dan Engkau jugalah pelindung ku.

📝 Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Setelah melewati perjalanan panjang dakwah, dan saat itu Rasulullah shalallahu alaihi wa salam merasa banyak penolakan, maka, pada bulan syawal, tahun ke sepuluh dari kenabian, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam keluar menuju Thaif.

Jarak Thaif dan Mekkah sekitar enam puluh mil, berjalan kaki pergi pulang. Tidaklah beliau menemui satu kabilah, kecuali beliau serukan Islam.

Setiba di Thaif, beliau mendapat tantangan dan pengusiran, selama sepuluh hari beliau di Thaif, mengajak tiap kabilah masuk Islam. Tidak ada yang menerima dakwah beliau, bahkan sebagian orang mengatakan, “keluarlah dari daerah kami”. Dan mereka menyuruh anak-anak dan budak-budak mereka mengikuti beliau dengan mencaci maki, dan berdiri di samping kanan kiri sambil melempari beliau dengan batu, sehingga kedua sandalnya terwarnai oleh darah. Hingga, sampailah beliau di perkebunan milik Utbah bin Syaibah, beliau lalu duduk dan memanjatkan doa,

أللهم إليك أشكو ضعف قوتي و قلة حيلتي و هواني على الناس يا أرحم الراحمين ،انت رب المستضعفين و انت ربي ،إلى من تكلني ، أ إلى بعيد يتجهمنا أم إلى عدو ملكته أمري ،إن لم يكن بك غضب علي فلا أبالي ،غير أن عفيتك هي أوسع لي ،أعوذ بنور وجهك ألذي أشرقت له الظلمات ،و صلح عليه أمر الذنيا و الأخرة من أن ينزل بي غضبك أو يحل علي سخطك ،لك العتبى حتى ترض و لا حول و لا قوة إلا بك.

“Ya Allah, kepada Mu aku haturkan kelemahan diriku dan sedikitnya kesanggupan ku serta kerendahan diriku di hadapan manusia, wahai Zat yang penyayang di antara para penyayang. Engkau Rabb nya orang-orang lemah, dan Engkau jualah Rabbku. Kepada siapa diriku akan Engkau serahkan, apakah pada orang jauh yang berwajah bengis, atau kepada musuh yang menguasai urusanku? Namun, sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, semua hal ini tidak akan ku perdulikan. Selain itu Kelapangan / nikmat Mu pada ku sungguh lebih besar. Aku berlindung kepada Cahaya Wajah Mu yang menyibak kegelapan, dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat, dari murka Mu yang (jangan sampai) akan turun pada Ku dan kebencian Mu yang Engkau berikan pada diriku, kepada Mu segala harapan / rintihan hingga Engkau ridha, tiada daya dan upaya melainkan atas perkenanan Mu.

📖 كتاب : الرحيق المختوم الشيخ صفي الرحمن المبرك كفوري

106. Wahai orang-orang yang terhimpit masalah, dan ia menemui tembok tebal. Wahai orang-orang yang bersedih dan ia merasa sendirian.Wahai orang-orang yang kesusahannya seakan tiada terobati.Inilah, satu pintu yang terbuka untuk mu, harapan itu masih ada.Inilah Rabb seluruh manusia, dan Rabb yang harapanmu, tergantung di Tangan Nya. Oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.

Do’a Ketika Minum Susu

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ“

Barangsiapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barangsiapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.”

(HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322. At Tirmidzi dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sumber : http://www.rumaysho.com

Doa malam lailatul Qadar

Doa yang Dibaca di Malam Lailatul Qadar
_________________________________________

Apa do’a yang dianjurkan banyak dibaca pada malam lailatul qadar?

Ada do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam kemuliaan tersebut yaitu do’a:
*Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni*
(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”. Hadits di atas disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom pada hadits no. 706.

Maksud dari “innaka ‘afuwwun” adalah yang banyak memberi maaf. Demikian kata penulis kitab Tuhfatul Ahwadzi.

Para ulama menyimpulkan dari hadits di atas tentang anjuran memperbanyak do’a “Allahumma innaka ‘afuwwun …” pada malam yang diharap terdapat lailatul qadar. Do’a di atas begitu jaami’ (komplit dan syarat makna) walau terlihat singkat. Do’a tersebut mengandung ketundukan hamba pada Allah dan pernyataan bahwa dia tidak bisa luput dari dosa. Namun sekali lagi meminta ampunan seperti ini tidaklah terbatas pada bulan Ramadhan saja.

Al Baihaqi rahimahullah berkata, “Meminta maaf atas kesalahan dianjurkan setiap waktu dan tidak khusus di malam lailatul qadar saja.” (Fadho-ilul Awqot, hal. 258).

Ibnu Rajab rahimahullah juga memberi penjelasan menarik,

و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

“Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (sholih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”

Yahya bin Mu’adz pernah berkata,

ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو

“Bukanlah orang yang arif jika ia tidak pernah mengharap ampunan Allah.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 362-363).

Hadits ‘Aisyah di atas juga menunjukkan bahwa do’a di malam lailatul qadar adalah do’a yang mustajab sehingga dia bertanya pada Rasul mengenai do’a apa yang mesti dipanjatkan di malam tersebut.

Hadits ‘Aisyah juga menunjukkan bahwa jika seseorang berdo’a pada Allah diperantarai dengan tawassul melalui nama-nama Allah. Seperti dalam do’a terlebih dahulu memuji Allah dengan ‘Allahumma innaka ‘afuwwun, yaitu Ya Allah yang Maha Pemberi Maaf’. Bentuk do’a semacam ini adalah bertawassul terlebih dahulu dengan nama atau sifat  Allah yang sesuai dengan isi do’a.

Dalil di atas juga menunjukkan bahwa sifat ‘afwu (pemaaf) adalah di antara sifat Allah. Maksud ‘afwu adalah memaafkan dosa yang diperbuat hamba. Begitu pula hadits tersebut menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah. Penetapa sifat di sini adalah sesuai dengan keagungan Allah, tanpa dimisalkan dengan makhluk dan tanpa ditolak maknanya. 

Wallahu a’lam.

✒ ustadz Abu Abdillah amir

┏••••••••••❁✿❁••••••••••┓
🎀Ukhuwah fil Hijrah🎀
┗••••••••••❁✿❁••••••••••┛

✿Link pendaftaran WAG: http://bit.ly/2UfH-Adm1
✿Telegram Chanel : t.me/ukhuwahh
✿Website : https://ukhuwahfillhijrah.com
✿Twitter : twitter.com/UkhuwahFil
✿Instagram : instagram.com/ukhuwahfilhijrah
✿Facebook : facebook.com/ukhuwahfilhijrah
✿Fanspage : facebook.com/ufha.ufhi/

Panduan dzikir pagi

Panduan dzikir pagi

💫صحيح الأذكار لإمام السنة المحدِّث الألباني رحمه الله.

🌕أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . رَبِّ إنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِاِ اليَوم وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِاِ اليَوم وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ . رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ . رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ . ))

📚(مختصر مسلم: 1894)

🌕 – (( اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ, ))

📚(الصحيحة: 262) .

🌕 – ((اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي؛ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ أَنْتَ)) .

📚(مختصر البخاري: 2420)

🌕 – ((يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ, أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ, وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ)) .

📚(صحيح الترغيب: 661)

🌕 – ((اللَّهُمّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ, رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أشهد أن لا إله إلا أنت, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَِرَْكِهِ, وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ)) .

📚(صحيح الكلم: 21)

🌕 – ((اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي, وَدُنْيَايَ, وَأَهْلِي, وَمَالِي, اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِن رَّوْعَاتِي, اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ, وَمِن ْ خَلْفِي, وَعَنْ يَمِينِي, وَعَنْ شِمَالِي, وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي)) .

📚(صحيح الكلم: 23),(صحيح ابن ماجه: 3135)

🌕- ((لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ, وَلَهُ الْحَمْدُ, وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ)) .

📚(صحيح الترغيب: 656),
(صحيح الترمذي: 5077)

🌕 – ((بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ؛ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)) .
ثلاث مرات .

📚(صحيح الترمذي: 3388)

🌕 – ((اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لاَ إِلَـهَ إلاَّ أَنْتَ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إلاَّ أَنْتَ)) . تعيدها ثلاثًا حين تصبح,
وثلاثًا حين تُمسي .

📚(صحيح أبي داود: 5090)

🌕 – ((لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ)) . عشر مرات .

📚(الصحيحة: 2563)

🌕 – ((سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ)) . مائة مرة .

📚(مختصر مسلم: 1903),(صحيح أبي داود: 5091)

🌕 – ((سُبْحَانَ اللهِ)) . مائة مرة .
((الحَمْدُ للهِ)) . مائة مرة .
((اللهُ أكْبَرُ)) . مائة مرة .
((لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ, وَلَهُ الْحَمْدُ, وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ)) . مائة مرة .

📚(صحيح الترغيب: 658)

🌕 -( قُلْ : ” قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ” ، وَالمُعَوِّذَتَيْنِ ، حِينَ تُمْسِي وَتُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ )

📚(صحيح الترمذي ).
(وأبو داود )رقم/5082

🌕 – آية الكرسيّ: ((اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ . . .)) .

📚(صحيح الترغيب: 658)

🌕- ((رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا, وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا, وَبِمُحَمَّدٍ نَّبِيًّا)) .

📚(الصحيحة: 2686)

🌕 – ((أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ، وَكَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَدِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَمِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا -وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ-))

📚(الصحيحة: 2989),

🌕- ((سُبْحَانَ اللهِ وبحمده عَدَدَ خَلْقِهِ, وَرِضَا نَفْسِهِ, وَزِنَةَ عَرْشِهِ, وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ)) . ثلاث مرات .

📚(الصحيحة: 2156)

🌕 – ((ما أصبحت غَداةً قطُّ إلا استغفرت الله فيها مائة مرة)) .
📚(الصحيحة: 1600)

 

di susun Oleh : Ustadzah ummu Abdurrohman Nabila

Teladan dari ummul mukminin juwairiyah radhiyallahu ‘anha

TELADAN DARI UMMUL MUKMININ JUWAIRIYAH radhiyallahu ‘anha yang baiknya dicontoh dengan diamalkan pada pagi hari

Dari Juwairiyyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sisinya pada pagi hari setelah shalat Shubuh, sedangkan Juwairiyyah berada di tempat shalatnya.

Setelah itu, beliau pulang setelah tiba waktu Dhuha sedangkan Juwairiyyah masih dalam keadaan duduk.

Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau tetap dalam keadaan ketika aku tinggalkan?”
.
Ia menjawab, “Ya.”
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan setelahmu 4 kalimat sebanyak 3 kali, yang jika ditimbang dengan yang engkau ucapkan sejak tadi tentu akan menyamai timbangannya yaitu,
.
‎سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
.
“SUBHAANALLOHI WA BI-HAMDIH, ‘ADADA KHOLQIH, WA RIDHOO NAFSIH, WA ZINATA ‘ARSYIH, WA MIDAADA KALIMAATIH
.
(Artinya: Mahasuci Allah. Aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya).” (HR. Muslim, no. 2726)

Cara baca dzikir di atas lainnya bisa dilihat dalam bahasan Riyadhus Sholihin di sini:

Salah Satu Dzikir Pagi yang Istimewa

SUDAH DIAMALKAN PAGI INI? Ingat dibaca 3 kali yah dzikir di atas.

@kajianislamchannel

Doa setelah bangun tidur

Bacaan pertama yang bisa dibaca di pagi hari setelah bangun tidur adalah,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa ilaihin nushur” [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari no. 6325)

17 pertahanan diri dari gangguan setan

TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

✅ Seorang hamba selayaknya membentengi diri dari gangguan setan dengan pertahanan yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih berupa doa dan dzikir:

➡ Pertama: Isti’adzah (meminta perlindungan) kepada Allah Yang Maha Besar (yaitu dengan membaca: A’uzubillah). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36)

➡ Kedua: Membaca bismillah. Bismillah menghalangi setan ikut serta saat makan, minum, bersenggama, masuk rumah dan seluruh kondisinya.

➡ Ketiga: Membaca mu’awwidzatain saat hendak tidur, setelah shalat, saat sakit dan lain-lain. Mu’awwidzatain adalah surat Al-Falaq dan An-Naas.

➡ Keempat: Membaca ayat Al-Kursy:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

➡ Kelima: Membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah yaitu:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ، لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

➡ Keenam: Membaca surat Al-Baqarah.

➡ Ketujuh: Banyak berzikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan bertahlil.

➡ Kedelapan: Membaca do’a saat keluar rumah:

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

(Bismillah aku bertawakal kepada Allah dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah)

➡ Kesembilan: Berdo’a saat berada di suatu tempat:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan mahluk-Nya)

➡ Kesepuluh: Menahan menguap dan meletakkan tangan di mulut ketika menguap.

➡ Kesebelas: Adzan.

➡ Keduabelas: Membaca do’a memasuki masjid.

➡ Ketigabelas: Membaca doa keluar masjid.

➡ Keempatbelas: Berwudhu dan shalat terutama saat marah atau syahwat sedang membara. Karena wudhu sangat ampuh meredam amarah dan gejolak syahwat.

➡ Kelimabelas: Menaati Allah dan Rasul-Nya, dan menghindari: Banyak bicara, memandang hal yang haram, makan yang banyak dan banyak bergaul.

➡ Keenambelas: Membersihkan rumah dari gambar bernyawa, foto makhluk bernyawa, patung, anjing dan lonceng.

➡ Ketujuhbelas: Menghindari tempat berdiamnya jin dan setan, yaitu pada reruntuhan rumah dan tempat-tempat najis, seperti: Jamban, tempat pembuangan sampah, dan tempat yang tidak dihuni, seperti: Gurun, tepian pantai yang jauh dari pemukiman, kandang unta dan lain-lain.

Dinukil dari kitab Mulakhkhos Al-Fiqh Al-Islamikarya Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri hafizhahullah]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

www.facebook.com/sofyanruray.info

Doa terlindung dari Riya

Doa agar terlindung dari riya’

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

“Alloohumma innaa na’uudzubika min an nusyrika bika syai’a na’lamuh, wa nastaghfiruka limaa laa na’lam”

(Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatupun sedang kami menyadarinya dan kami memohon ampun kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami tidak menyadarinya”).

(HR. Ahmad 32/384, At-Thobaroni dalam “Al-Awsath” 3479 dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shohih At-Targhib wat Tarhib” 1/9)

dzikir pagi & petang

Kedahsyatan Dzikir Pagi Dan Sore

Diantara dzikir yang menjadi kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dzikir pagi dan sore. Karena pentingnya dzikir ini, Allah perintahkan agar kaum muslimin merutinkannya. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, perbanyaklah berdzikir kepada Allah dan bertasbihlah untuknya di waktu pagi dan sore.” (Al-Ahzab [33]: 42-43).

Kapan waktunya?

• Pagi: setelah subuh sampai matahari terbit.
• Sore: setelah asar sampai matahari terbenam.

Allah berfirman: “Bertasbihlah dengan memuji Allah, sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.” (Qaf [50]: 39).

Hanya saja, jika tidak sempat dilakukan di waktu tersebut atau kelupaan maka boleh dilakukan setelah terbit matahari (untuk pagi) atau setelah terbenam (untuk sore). (Fiqh al-Ad’iyah: 3/11).

Sumber: http://www.facebook.com/doa.dzikir.shahih.harian/posts/151120638321336