aqidah & manhaj (kaidah 7)

 Kaidah yang ke 7

Bahwa mereka mengagungkan seluruh perkara-perkara agama.
Maka mereka menyerukan kepada apa yang di seru oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai kemampuan.

Manhaj salaf tidak pernah meremehkan perkara masalah apapun dari urusan agama.
Adapun orang yang tidak mengikuti salaf, mereka meremehkan sebagian perkara agama dengan alasan furu’ (cabang) katanya.
Sehingga mereka menganggap bahwa masalah furu’ itu tidak perlu di besar-besarkan.

Sehingga dengan seperti itu mereka tidak menghormati masalah-masalah yang sifatnya furu’.
Masalah-masalah yang mereka anggap sepele, seperti masalah jenggot, masalah isbal dan yang lainnya.

Sedangkan PENGIKUT MANHAJ SALAF TIDAK PERNAH MEREMEHKAN MASALAH-MASALAH AGAMA SEKECIL APAPUN JUGA.

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Baqarah : 208] :

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah di dalam Islam seluruhnya.”

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, jilid 1 halaman 335:
“Allah memerintahkan hamba-hambanya yang beriman yang membenarkan Rasulnya, agar mereka berpegang kepada seluruh tali-tali Islam dan syari’at-syari’atnya.
Dan mengamalkan seluruh perintah-perintahNya. Dan meninggalkan semia larangan-laranganNya. Selama mereka punya kemampuan.”

Allah juga berfirman [QS Al-Hajj : 32]

‎ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu adalah termasuk ketaqwa’an hati.

Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah, itu adalah menunjukkan ketaqwaan hati. Sedangkan seluruh agama, seluruh yang Allah perintahkan dalam Alqur’an dan di perintahkan oleh Rasul, sekecil apapun itu adalah syiar Allah yang harus kita agungkan.

Allah juga berfirman [QS An-Nur : 15]

‎إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ

“Ingatlah ketika kalian mengambilnya dengan lisan-lisan kalian dan kalian mengucapkan dengan mulut-mulut kalian, apa-apa yang tidak ada padanya ilmunya dan kalian menganggap itu hina atau remeh. Padahal itu di sisi Allah besar.”

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang meremehkan perintah-perintah Allah, syariat Allah yang mereka anggap remeh, maka ini termasuk perkara kemunafikan.

Dan berapa banyak yaa ahowat Islam, perkara-perkara yang di anggap remeh, tapi ternyata…سُبْحَانَ اللّهِ … itu tonggak kebaikkan kaum muslimin.

Contoh misalnya masalah yang berhubungan dengan takjil atau mempercepat/mempergegas berbuka puasa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Senantiasa umatku diatas kebaikan, selama mereka bergegas berbuka puasa.”

Ini dia masalah meluruskan shaff, ternyata jika kita tidak lakukan itu menyebabkan itu hati kita bercerai berai.
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan Hadits An-Nu’man bin Basyir raddliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎ عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“hai hamba-hamba Allah luruskan shaff-shaff dan kalian atau Allah akan jadikan hati kalian bercerai berai.“

Nah ini Ikhwatul Islam, JADI KITA DI DALAM MENDIDIK ADALAH DIDIKLAH MEREKA DALAM MENGAGUNGKAN SYARIAT-SYARIAT ALLAH SEKECIL APAPUN.
Selama itu adalah perintah Allah dan perintah Rasulnya. Kita mengagungkan Ia.
Jangan menganggap meremeh masalah yang dianggap katanya furu’ (bercabang)

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Aqidah & manhaj (kaidah 6)

Kaidah yang ke 6

Mereka memulai dakwah mereka, dengan yang dimulai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Mereka mendahulukan apa yang di dahulukan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Maka dengan cara seperti ini sangat memungkinkan untuk menghasilkan maslahat dan menjauhi mafsadah.

Maksud beliau adalah dalam berdakwah kita hendaknya melihat mana yang lebih di dahulukan yaitu masalah TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.

Ambil sebuah contoh misalnya nasihat Luqman kepada anaknya.

Allah Ta’ala berfirman [QS. Luqman : 13]

‎وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, dimana Luqman menasehatinya. Ia berkata, ‘Hai anakku jangan kamu sekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedholiman yang agung.”

Maka para Rasulpun demikian, mereka memulai dakwah dari TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.

Tidak ada Rasul yang memulai dakwahnya dari ekonomi misalnya, atau dari politik misalnya……Tidak ada.
Semua Rasul berdakwah di mulai dari tauhid, menjauhkan agar manusia menjauhkan kesyirikan.

Allah berfirman: [QS Al-Anbiyaa:25]

‎وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah kami utus seorang Rasulpun, kecuali kami wahyukan kepadanya , bahwa tidak ada ILLAH yang berhak di sembah kecuali Aku. Maka sembahlah Aku.”

Maka di dalam berdakwah, ketika TIDAK memulai dari sisi tauhid, tapi lebih misalnya mendahulukan masalah-masalah yang lain.
Ini adalah ciri dakwah yang tidak sesuai dengan manhaj para nabi.

Dan dakwah seperti ini tidak akan berdiri di atas azas yang kokoh.
KARENA PONDASI SESEORANG ADALAH TAUHID.
Pondasi amal tauhid seseorang tidak akan beramal, kecuali apabila aqidah telah kuat di hati, menghujam di dada.
Tapi ketika aqidah itu masih lemah, maka dia tidak akan membuahkan amal.

Adanya orang-orang yang masih suka berbuat maksiat itu akibat dari pada lemahnya keimanan, lemahnya aqidah.

Maka dari itulah, ketika pondasinya telah di kuatkan, إِنْ شَاءَ اللّهُ untuk membuat diam dan yang lainnya itu lebih kokoh lagi… bi-iznillah.

Oleh karena itulah ya Akhowat Islam , semua yang mereka memulai dakwahnya dari TAUHIDULLAH, pasti Allah akan bela, Alllah akan tolong mereka.
Bahkan buah dan hasilnya akan lebih berkah.

Maka lihatlah bagaimana dakwahnya Syaikhul Islam Taimiyah, dakwahnya Syaikh Muhamammad bin Abdul Wahab dan juga para ulama-ulama yang mereka memulai dakwahnya dari TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.
Maka sangat berkah sekali dan hasilnya pun juga memberikan berbagai macam kebaikan-kebaikan.

Ya inilah ya Akhul Islam, kaidah yang ke 6 yang harus kita perhatikan di dalam masalah berdakwah yaitu memulai yang paling penting, kemudian setelahnya yang penting-penting.
Jangan sampai kita memulai yang tidak terlalu penting, lalu kita tinggalkan yang lebih penting dari itu.

Demikian pula kita dalam menuntut ilmupun juga demikian.
Kita mulai menuntut ilmu dari perkara yang paling penting terlebih dahulu.
Yaitu untuk masalah tauhid, masalah iman dan segala sesuatu yang menyempurnakan keimanan.

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

hukum mengucapkan selamat tahun baru imlek

 

Ucapan Selamat Tahun Baru Imlek Tidak Terkait Akidah, Bolehkah?

Ada yang mengatakan bahwa seorang Muslim boleh mengucapkan selamat hari raya Imlek atau Gong Xi Fa Cai karena tidak berhubungan dengan akidah. Karena Imlek tidak terkait akidah dan Gong Xi Fa Cai artinya: “Selamat dan semoga sejahtera”. Benarkah demikian?

Hari Raya Nairuz dan Mahrajan dilarang walaupun tidak terkait akidah

Simak hadits berikut! Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:

قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال ما هذان اليومان قالوا كنا نلعب فيهما في الجاهلية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر

“Di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam baru hijrah ke Madinah, warga Madinah memiliki dua hari raya yang biasanya di hari itu mereka bersenang-senang. Rasulullah bertanya: ‘Perayaan apakah yang dirayakan dalam dua hari ini?’. Warga madinah menjawab: ‘Pada dua hari raya ini, dahulu di masa Jahiliyyah kami biasa merayakannya dengan bersenang-senang’. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan ‘Idul Fithri’ ” (HR. Abu Daud, 1134, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Dua hari raya Jahiliyah itu adalah Nairuz dan Mahrajan. Dan disebutkan dalam hadits di atas bahwa dua hari raya tersebut adalah hari senang-senang saja tidak ada kaitannya dengan akidah, namun tetap dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena merayakan hari raya selain hari raya kaum Muslimin adalah bentuk menyerupai non-Muslim. Al Majd Ibnu Taimiyah (kakek dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) rahimahullah menjelaskan:

الحديث يفيد حرمة التشبه بهم في أعيادهم لأنه لم يقرهما على العيدين الجاهليين ولا تركهم يلعبون فيهما على العادة

“hadits ini memberi faidah tentang haramnya tasyabbuh kepada orang kafir dalam hari raya mereka, karena Nabi tidak mentolerir dirayakannya dua hari raya Jahiliyyah tersebut, dan tidak membiarkan penduduk Madinah bermain-main di dua hari raya tersebut pada sudah menjadi tradisi” (Faidhul Qadir, 4/511).

Ibnu Hajar Al Asqalani juga menjelaskan:

وَاسْتُنْبِطَ مِنْهُ كَرَاهَةُ الْفَرَحِ فِي أَعْيَادِ الْمُشْرِكِينَ وَالتَّشَبُّهِ بِهِمْ

“diambil istinbath (kesimpulan hukum) dari hadits ini bahwa terlarangnya bersenang-senang di hari raya kaum Musyrikin dan tasyabbuh (menyerupai) kebiasaan mereka” (Fathul Baari, 2/442).

Kata Umar, jauhi semua hari raya orang kafir

Umar bin Khathab radhiallahu’anhu jugamengatakan:

اجْتَنِبُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ فِي عِيدِهِمْ

“Jauhi perayaan hari-hari raya musuh-musuh Allah” (HR. Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir no. 1804, dengan sanad hasan).

Beliau tidak mengatakan: “jauhi hari-hari raya musuh Allah yang terkait akidah” tapi hari raya secara umum yang mencakup semua hari raya selain hari raya kaum Muslimin, baik terkait akidah ataupun tidak.

Lalu, jika beliau sahabat yang mulia ini radhiallahu’anhu mewasiatkan kita untuk menjauhinya, apakah malahjustru kita akan ikut serta atau memberi selamat?

Hari raya suatu kaum itu terkait perkara akidah

Jika dikatakan bahwa hari raya Imlek tidak terkait akidah, maka itu kurang tepat. Karena sebenarnya setiap hari raya yang dimiliki suatu kaum itu terkait dengan perkara akidah. Karena perayaan atau id suatu kaum adalah representasi dan ciri khas kaum tersebut. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda:

إن لكل قوم عيدا ، وهذا عيدنا

“Setiap kaum memiliki ‘Id sendiri dan ‘Idul Fithri ini adalah ‘Id kita (kaum muslimin)” (HR. Bukhari no. 952, 3931, Muslim no. 892).

Maka minimalnya, perayaan atau id sangat terkait dengan akidah al wala wal bara’. Yaitu keyakinan bahwa kaum Muslimin hendaknya loyal (wala) kepada saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan iman yang benar, dan berlepas diri (bara’) dari setiap orang yang kufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan bentuk bara’ah adalah tidak mengikuti mereka dan menyerupai kebiasaan dan ciri khas mereka.

Terlebih lagi pada umumnya hari raya suatu kaum sangat terkait dengan akidah yang mereka miliki. Termasuk juga perayaan imlek. Sebagaimana dijelaskan dalam wikipedia,

Praktik perayaan tahun baru Imlek di Indonesia
Tahun baru Imlek biasanya berlangsung sampai 15 hari. Satu hari sebelum atau pada saat hari raya Imlek, bagi etnis Tionghoa adalah suatu keharusan untuk melaksanakan pemujaan kepada leluhur, seperti dalam upacara kematian, memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), bersembahyang leluhur seperti yang dilakukan di hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur). Oleh sebab itu, satu hari sebelumnya atau pada saat Hari Raya Imlek para anggota keluarga akan datang ke rumah anggota keluarga yang memelihara lingwei (meja abu) leluhur untuk bersembahyang, atau mengunjungi rumah abu tempat penitipan lingwei leluhur untuk bersembahyang. Sebagai bentuk penghormatan dan sebagai tanda balas-budi maka pada saat acara sembahyang dilakukan pula persembahan jamuan makan untuk arwah para leluhur. Makna dari adanya jamuan makan untuk arwah leluhur adalah agar kegembiraan dan kebahagian saat menyambut hari raya Imlek yang dilakukan di alam manusia oleh keturunannya juga dapat turut serta dinikmati oleh para leluhur di alam lain. Selain jamuan makan juga dilakukan persembahan bakaran Jinzhi (Hanzi=金紙;sederhana=金纸;hanyu pinyin=jīnzhǐ;Hokkien= kimcoa;harafiah=kertas emas) yang umumnya dikenal sebagai uang arwah (uang orang mati) serta berbagai kesenian kertas (紙紮) zhǐzhā (pakaian, rumah-rumahan, mobil-mobilan, perlengkapan sehari-hari, dan pembantu). Makna persembahan bakaran Jinzhi dan zhǐzhā yang dilakukan oleh keturunannya adalah agar arwah para leluhur tidak menderita kekurangan serta sebagai bekal untuk mencukupi kebutuhannya di alam lain. Praktik jamuan makan dan persembahan bakaran Jinzhi dan zhǐzhā yang dilakukan oleh keturunannya untuk arwah para leluhur di alam lain merupakan bentuk perwujudan tanda bakti dan balas-budi atas apa yang telah dilakukan oleh orang-tuanya saat masih hidup kepada anak-anaknya di alam manusia.

(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek)

Jelas sekali perayaan ini sangat jauh dan bertentangan dengan akidah Islam. Apakah layak seorang Muslim memberi selamat atas perayaan ini?

Ulama Ijma Terlarangnya Ucapan Selamat Hari Raya Non-Muslim

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah mengatkan:

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.

“Adapun memberi ucapan selamat terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang merupakan ciri khas orang kafir hukumnya haram secara ijma’ (kata sepakat) para ulama. Semisal memberi ucapan selamat pada hari raya dan selamat atas puasa dengan mengatakan, ‘Semoga hari raya ini berkah untuk anda’, atau ucapan: “saya ucapkan selamat atas hari raya anda ini” atau semisal itu. Andaikan pengucapkan tidak jatuh pada kekufuran, maka tetap saja ini adalah perkara yang diharamkan. Ucapan selamat yang demikian itu sama seperti kita mengucapkan selamat atau sujudnya seseorang kepada salib. Bahkan perbuatan ini lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dibenci Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat kepada orang yang minum khamr, membunuh, berzina, atau ucapan selamat atas maksiat yang lainnya” (Ahkam Ahlidz Dzimmah, 1/441).

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, ulama besar Saudi Arabia, menjelaskan :

“Tidak boleh memberi selamat pada hari raya orang kafir, karena di dalamnya terdapat banyak hal-hal yang terlarang, diantaranya:

Pertama, ini adalah bentuk wala‘ (loyal) terhadap orang kafir, dan kita dilarang untuk wala’ kepada mereka berdasarkan banyak dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Diantaranya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al Maidah: 51).

Dan diantara bentuk muwalah(loyal) kepada mereka adalah memberikan ucapan selamat kepada mereka. Karena hal ini akan membangun rasa cinta kepada mereka dan kepada agama mereka. Sebab orang yang tidak kita cintai tentu tidak akan kita beri ucapan selamat. Allah Ta’alaberfirman:

لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al Mujadalah: 22).

Jika kita dilarang untuk mencintai kerabat kita yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka bagaimana lagi dengan selainnya?

Kedua: ucapan selamat merupakan bentuk ridha terhadap perayaan mereka dan pengakuan akan benarnya perayaan mereka dan juga dukungan terhadapnya.

Satu saja dari perkara di atas sudah cukup untuk mengatakan terlarangnya mengucapkan selamat hari raya orang kafir. Maka bagaimana lagi jika perkara-perkara di atas terkumpul semuanya? ” (Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13680).

Kesimpulan

Terlarang bagi seorang Muslim untuk memberi ucapan selamat Imlek walaupun diklaim tidak terkait dengan akidah. Karena ucapan selamat merupakan bentuk wala dan juga dukungan terhadap perayaan yang batil tersebut. Terlebih lagi jika ternyata perayaan tersebut sangat terkait dengan akidah yang batil.

Sikap seorang Muslim dalam menghadapi orang kafir di hari raya mereka adalah dengan bersikap biasa saja, menganggap hari tersebut sebagaimana hari-hari biasanya. Tidak boleh pula mengganggu dan menzalimi mereka tanpa hak. Kedepankan akhlak mulia dan muamalah yang baik, tunjukkan keindahan Islam, dengan demikian bisa menjadi sebab mereka untuk mendapatkan hidayah Islam.

Semoga Allah memberi taufiq.

***

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslim.or.id

imlek dan hujan

Imlek dan Hujan

Tidak sekali atau dua kali, tetapi sudah berkali-kali, bahkan mungkin sudah sering kita mendengar perkataan orang-orang yang mengaitkan antara turunnya hujan dengan hari imlek alias lebaran Cina. Padahal, Rasulullah pernah mengabarkan tentang kufurnya seorang yang menyandarkan turunnya hujan dengan keberadaan bintang. Rasulullah menyatakan di dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman,

‎“أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَكَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ.“

“Di antara hamba-Ku ada yang menjadi beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Adapun yang mengatakan, “Kami telah diberi hujan karena keutamaan dan rahmat Allah”, maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Sedangkan bagi yang mengatakan, “Kami telah diberi hujan dengan bintang ini dan bintang itu,’ maka itulah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.’” [HR. Bukhari dan Muslim]

Hadits di atas dijelaskan oleh para ulama, bahwa yang dimaksudkan hukum kufur pada teks yaitu bisa menjadi kufur akbar (besar) atau kufur ashgar (kecil). Kufur akbar (besar) alias menjadi kafir dianggap murtad keluar dari Islam. Adapun kufur ashgar (kecil) yaitu yang tidak menjadikan pelakunya murtad keluar dari islam.

Hukumnya menjadi kufur akbar adalah ketika ada seorang yang meyakini bahwa hanya bintang-bintang sendiri itulah yang menyebabkan turunnya hujan tanpa mengaitkan dengan kekuasaan dan kehendak Allah. Sedangkan hukumnya menjadi syirik asghar adalah ketika ada orang yang masih meyakini bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah sedangkan kedudukan bintang-bintang hanya sebagai penyebab turunnya hujan saja, ini hukumnya syirik ashgar karena dia telah menyakini sesuatu yang bukan sebab menjadi sebuah sebab. Maka ketahuilah bahwa bintang-bintang atau hari imlek bukanlah sebab turunnya hujan!

Mari kita bersihkan diri dari keyakinan kufur ini, dan jangan biarkan orang-orang yang kita cintai masih menyimpan keyakinan syirik ini. Sekali lagi, hari imlek bukanlah penyebab turunnya hujan! Akan tetapi hujan adalah karunia dari Allah semata, tidak ada hubungannya dengan hari imlek, firman-Nya,

‎“وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ“

“Dan jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”. Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”. Tetapi kebanyakan mereka tidak memahami.” [QS. Al-Ankabut: 63].

Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat.

👤 Ditulis oleh: Hamba Allah

📨 Diposting dan disebarkan oleh Maa Haadzaa

Aqidah & Manhaj (kaidah 5)

Kaidah yang ke 5

Bahwa dakwah yang mereka prioritaskan dan pertama kali mereka serukan adalah TAUHID

Maka dakwah tidak akan pernah sukses, dan ibadahpun tidak akan di terima kecuali dengan Tauhid.

Karena para Rasul demikian di perintahkan oleh Allah.

Allah berfirman [QS Al-Anbiyaa:25]

‎وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah kami utus seorangpun Rasul sebelummu, kecuali Kami wahyukan kepadanya: Bahwa tidak ada Illah yang berhak di sembah kecuali Aku, maka beribadahlah kepada Ku.”

Nabi juga ketika mengirim para da’i ke negeri-negeri, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang beliau ajarkan kepada mereka supaya yang pertama kali mereka dakwahkan adalah LAA ILLAAHA ILLALLAH

Seperti dalam hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’az ke Yaman, beliau bersabda:
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kamu dakwahi adalah syahadat LAA ILLAAHA ILLALLAH

Maka dari itulah dakwah-dakwah yang tidak memulai dari tauhid, hakikatnya adalah dakwah yang membuang pokok dan azas segala sesuatu.
Makanya dakwah para Nabi dari tauhid dulu.
Karena itulah pokoknya, azasnya.
Amalnya tidak akan di terima kecuali dengan tauhid.

Bahkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan datang kecuali dengan adanya tauhid.

Maka TAUHIDULLAH yaitu mengesakan Allah dan menjauhkan kesyirikan adalah sumber kemenangan, sumber keberkahan, sumber pertolongan, bahkan sumber berbagai macam kebahagiaan bagi seorang hamba adalah Tauhidullah Jalla Jalalu

Maka suatu dakwah yang tidak memperhatikan masalah tauhid itu adalah dakwah yang tidak sesuai dengan dakwah para nabi.

Kita lihat di zaman sekarang ada yang memulai dakwah , dan prioritas dakwahnya terlihat dalam masalah politik, yang lain bahas masalah khilafa, yang lain bahas masalah fadhail amal.
Ini semua tentunya dakwah yang tidak sesuai dengan manhaj para Rasul.

Dakwah yang haq, dakwah yang sesuai dengan manhaj para Rasul adalah dakwah yang menitik beratkan kepada masalah tauhid.
Menjadikan manusia untuk hanya mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.

Karena itulah perintah Allah yang teragung/ yang terbesar.
Bahkan itulah tujuan penciptaan manusia dan jin.

Allah berfirman:
“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku saja.“

Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.
Maka seorang yang beramal dengan amal apa saja, kalau ia berbuat syirik tidak akan di terima Allah.

Maka bagaimana suatu dakwah akan tegak, akan menang sementara mereka tidak peduli dengan adanya kesyirikan. Tidak berusaha untuk mengingkari kesyirikan.

Maka dakwah yang haq adalah dakwah yang benar-benar mengagungkan masalah tauhid.
Dakwah yang benar-benar memprioritaskan masalah Tauhid Wallahi jalla wa’ala

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Barusalam Lc, حفظه الله تعالى

aqidah & manhaj (kaidah 4)

=======

KAIDAH yang ke 4

Bahwa mereka memahami Al-Qur’an dan Sunnah tidak berdiri sendiri, tapi mereka memahaminya dengan pemahaman para Salafus Shalih, bukan dengan pemahaman ro’yu-ro’yu sendiri …. tidak.

Ini merupakan kaidah yang sangat penting sekali Akhowat islam a’azzaniyallah waiyakum, di dalam masalah kaidah Tarbiyah dan Ishlah.

Kenapa..?

Karena kita semua yakin bahwa generasi yang paling tau tentang Al Qur’an dan Hadits adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada generasi yang langsung di puji oleh Allah kecuali generasi para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alqur’an telah memuji para sahabat.
Allah Ta’ala berfiman [QS At Taubah : 100]

‎. وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan. Maka Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Maka dari itu Allah menyatakan keridhaan kepada kaum Muhajirin dan Anshor.
Dan Allah menyatakan ke ridhaan kepada orang-orang yang mengikuti Muhajirin dan Anshor.

Maka Allah mengatakan, Allah ridha kepada nereka, berarti ridha kepada apa?
Kepada aqidah mereka, ibadah mereka, tata cara pemahaman mereka, manhaj mereka, dalam tata cara beragama mereka, Allah ridha

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

‎خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي

“Sebaik-baiknya manusia generasiku”

Sebaik dalam masalah apa..?
Dalam seluruh perkara-perkara agama, pemahaman terhadap alqur’an dan hadits terutama..
Maka tentu yang paling paham tentang Alqur’an dan Hadits adalah para sahabat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdullah bin Mas’ud berkata:

‎من كانَ منكم مُتأسياً فليتأسَّ بأصحابِ رسول ِاللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ,

“Siapa yang mengambil sunnah, ambillah sunnahnya para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Mereka adalah yang paling baik hatinya, yang paling dalam ilmunya, yang paling ringan bebannya. Dan mereka kaum yang paling lurus petunjuknya.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengabarkan akan munculnya zaman fitnah.

Apa kata para sahabat.?
“Apa yang harus kami lakukan hai Rasulullah, menghadapi zaman fitnah itu ?”

Apa kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎تَرْجِعُوْا إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ

“Kamu kembalilah kepada urusan kamu yang pertama.”

Urusan yang pertama, siapa..? Kalau bukan sahabat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dari itu setiap orang yang memahami Alqur’an dan Hadits dengan pemahaman sendiri tanpa merujuk pemahaman para Salafus Shalih, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in pastilah ia akan tersesat jalan…..pasti itu!!

Karena para ulamapun telah menyatakan untuk rujuk kepada pemahaman para sahabat terutama Imam Syafi’i rahimahullah yang luar biasa sekali dalam membela pemahaman sahabat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lihat saja contohnya orang khawarij.
Orang khawarij tidak mau merujuk pemahaman para sahabat dalam memahami Al Qur’an dan Hadits.
Padahal Rasulullah mensifati orang khawarij itu apa?

‎يَقْرَءُوْنَ الْقُرآنْ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيْهُمْ

“…Mereka hafal Al-Qur’an, tapi tidak sampai kerongkongan mereka.”
Artinya pemahaman mereka dangkal.

Mereka mengucapkan ucapan perkataan, sebaik-baiknya manusia yaitu membawakan hadits-hadits Rasul, tapi mereka tersesat.
Mereka melesesat dari agama, kata Rasulullah. Kenapa..?
Jawabnya satu, karena mereka tidak mau mengikuti pemahaman para sahabat.

Makanya Abdullah bin Umar berkata:
“Khawarij itu seburuk-buruk mahluk di sisi Allah.”

Mereka membawakan ayat-ayat tentang orang-orang kafirin tapi kemudian di jadikan orang-orang yang beriman.

Nah ini adalah akibat tidak mengikuti pemahaman para sahabat, salafus shalih.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

aqidah dan mahaj (kaidah 3)

=======

KAIDAH yang ke 3

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa tidak boleh Alqur’an berdiri sendiri tanpa Sunnah karena Alqur’an harus di jelaskan dengan Sunnah.
Dan Alqur’an tidak mungkin berdiri tanpa Sunnah.
Karena Sunnahlah yang menjelaskan Alqur’an

Allah berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman taati Allah dan ta’ati Rasul dan Ulil Amri di antara kalian.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits yang di riwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tarmidzi mengabarkan akan adanya orang yang akan menolak Sunnah.
Beliau berkata:
“Ketahuilah sesungguhnya aku di berikan oleh Allah Alqur’an dan yang semisal bersamanya itu Sunnah.”

Ketahuilah hampir nanti ada orang yang kenyang duduk di atas dipannya dan berkata cukup Alqur’an saja.
Yang kalian dapatkan dalam Alqur’an halalkan dan yang kalian dapatkan dalam Alqur’an haramkan.

Jadi Rasulullah mengabarkan disini bahwa nanti ada suatu kaum yang mengatakan cukup Alqur’an saja tidak perlu sunnah dan سُبْحَانَ اللّهِ … benar yang Rasulullah kabarkan dan itu muncul di zaman sebagaimana kita lihat di zaman inipun juga banyak sekali.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu

‎فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرً

“Sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu nanti akan melihat perpecahan yang banyak“

‎فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ

“Hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidu yang tertunjuki“

‎عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dan kami peganglah, gigitlah ia dengan gigi geraham dan jauhi oleh kamu perkara-perkara yang di ada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat
[HR Abu Dawud dan Tarmidzi]

Dan Tarmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih.
Maka ini Hadits menunjukkan. Bahwa wajib kita berpegang kepada sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu sebagian Ulama berkata, bahwa Sunnahlah yang menjelaskan Alqur’an . Tidak kebalikan.

Sekarang kalau ada orang berkata kita tidak butuh Sunnah cukup Alqur’an , lalu apakah ada dalam Alqur’an penjelasan-penjelasan rinci tentang tata cara sholat, di mulai dari Takbiratul Ihram sampai salam.
Penjelasan sholat-sholat sunnah dan yang lainnya, sama sekali tidak ada. Tentang jumlah raka’atnya juga tidak ada.

Maka orang yang tidak percaya kepada Sunnah dan hanya mengandalkan Alqur’an pasti mau tidak mau dia akan buat sendiri tata cara sholat yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Demikian pula di Alqur’an tidak ada disebutkan tentang tata cara zakat secara terperinci, haji secara terperinci.
Puasa dan banyak lagi hukum-hukum yang lainnya.
Makanya Sunnah menjelaskan Alqur’an.
Karena Sunnah itu menjelaskan Alqur’an

Allah berfirman {An-Nahl: 44}

‎ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan sesungguhnya kami telah menurunkan kepada engkau Az-Zikr (Alqur’an) agar kamu hai Muhammad menjelaskan kepada manusia apa yang di turunkan kepada mereka tersebut.“

👉🏼Artinya : Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu menjelaskan Alqur’an.

👉🏼Maka wajib kita memahami Alqur’an dengan pemahaman Rasulillah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Demikian pula pemahaman para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Barusalam Lc, حفظه الله تعالى

Aqidah & Manhaj (kaidah 2)

=======

KAIDAH yang ke 2

Bahwa landasan persyariatan demikian pula landasan dalam berdakwah beribadah adalah Alqur’an dan Sunnah yang shohihah.
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan dalam Alqur’an untuk mentaati Allah dan Rasulnya.

Allah berfirman:

‎وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Taati Allah dan taati Rasul agar kamu di rahmati.” [Al- Imran : 132]

Allah juga berfirman [Az-Zukhruf :43]

‎فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Berpeganglah kepada yang di wahyukan kepadamu.”

Allah memerintahkan nabinya untuk berpegangan kepada wahyu.
Berarti kalau Rasulullah saja berpegangan kepada wahyu, kewajiban kita adalah untuk berpegang kepada wahyu seluruhnya.

Sedangkan Alqur’an dan hadits adalah wahyu.

Allah juga berfirman [Al-Hujurat :1]

‎بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu mendahului Allah dan Rasulnya.”

Yaitu mendahului Allah dan Rasulnya dengan akal kita, pemikiran kita, dengan hawa nafsu atau mendahulukan pendapat siapapun diatas Allah dan Rasulnya.
Itu semua dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Aku tinggalkan kepada kalian 2 perkara. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama berpegang pada 2 perkara tersebut, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.”

Kata Beliau (Syaikh Al Ubailaan):
“Ini sebetulnya penyempurnaan dari kaidah yang pertama.
Bahwa tidak akan di terima di sisi Allah kecuali apabila sesuai dengan apa yang di turunkan oleh Allah dalam Alqur’an dan Sunnah.
Kalau tidak sesuai dengan apa yang di turunkan, maka itu tertolak.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang beramal setengah suatu amalan yang dengan tidak ada perintah kami, maka itu tertolak.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kalian.”

Allah tidak mengatakan, dan taati ulil amri. Karena ketaatan kepada ulil amri — dan ulil amri yang dimaksud di sini ulama dan umaro — Ketaatan kepada mereka mengikuti ketaatan kepada Allah dan Rasulnya.

Para ulama berkata: Allah memerintahkan manaati Allah, manaati Rasulnya dan menaati Ulil Amri dari kalangan ulama dan umaro.

Dan yang di maksud dengan ulil amri adalah ulama dan Umaro

Tapi ketaatan kita kepada ulil amri itu apabila sejalan dengan perintah Allah dan rasulnya.

Bukan dalam perkara yang menyelisihi perintah Allah dan perintah rasulnya.

Karena tidak boleh kita menaati mahluk untuk memaksiati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka inilah ya akhowati islam dasar kita dalam beraga, di dalam ibadah, dalam berdakwah.

Di dalam persyariatan semuanya harus berdasarkan kepada Alqur’an, yang kedua berdasarkan kepada hadits yang shohih.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Barusalam Lc, حفظه الله تعالى

AQIDAH & MANHAJ (kaidah 1)

AQIDAH DAN MANHAJ

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

KAIDAH YANG PERTAMA, kata beliau (Syaikh Al Ubailaan) : Agama kita dibangun diatas 2 pokok yang agung.

◆Yang pertama yaitu ikhlas–>yaitu ikhlas, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

◆Yang kedua adalah Mutaba’ah (ittiba kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam).

Ini adalah merupakan 2 POKOK YANG AGUNG, yang merupakan makna daripada
Asyhadu alla ilaaha illallah
Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Ketika kita mengucapkan Asyhadu alla ilaaha illallah artinya mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Dan ketika kita mengatakan _Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah_ artinya kita memurnikan ittiba atau mutaba’ah kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Dimana amal kita harus sesuai dengan apa yang di syari’atkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam

Allah berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 2:

‎الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ

“Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan agar Allah menguji kalian siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya.”

Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah:

“Yang lebih baik amalnya, artinya yang paling ikhlas dan yang paling benar.”

Yang paling ikhlas artinya yang betul-betul karena Allah.

Dan yang paling benar artinya yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Kata Beliau (Syaikh Al Ubailaan) : Manusia di lihat dari 2 pokok ini, ada 4 macam:

◈ Yang ke 1 :

Ahlul Ikhlas.

Mereka adalah orang-orang yang betul-betul ikhlas wal Mutaba’ah (dan betul-betul mengikuti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam).

Maka ini adalah derajat yang paling tinggi.

◈ Yang ke 2:

Orang yang tidak ikhlas dan tidak pula mutaba’ah.

Sudahlah hatinya tidak ikhlas, tidak mengharapkan wajah Allah, sudah begitu tidak sesuai dengan contoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Ini yang paling buruk tentunya

◈ Yang ke 3 :

Orang yang ikhlas amalannya, tapi tidak sesuai dengan contoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, namun ia berbuat mengada-ada kebid’ahan.

Maka amalannya juga tertolak.

◈ Yang ke 4:

Orang yang amalannya sesuai dengan sunnah Rasul tapi tidak ikhlas, maka inipun sama tidak diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Maka yang terbaik adalah yang pertama, yang sesuai dengan sunnah Rasulullah dan ia ikhlas di dalam mengamalkan ibadah tersebut.

▶Maka setiap kita berusahalah semaksimal mungkin akhowati islam untuk merealisasikan keikhlasan dengan cara mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah, bukan karena pujian manusia, bukan pula karena mengharap dunia, tidak pula karena ia ingin diberikan kesenangan dari kehidupan dunia ini.

▶Maka ini adalah merupakan akhowati islam kaidah yang harus kita benar-benar kita perhatikan dalam masalah tarbiyah dan islah, yaitu ikhlas dan mutaba’ah.

Wallahu a’lam

✒ *Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc*, حفظه الله تعالى

____________________

📚