imlek dan hujan

Imlek dan Hujan

Tidak sekali atau dua kali, tetapi sudah berkali-kali, bahkan mungkin sudah sering kita mendengar perkataan orang-orang yang mengaitkan antara turunnya hujan dengan hari imlek alias lebaran Cina. Padahal, Rasulullah pernah mengabarkan tentang kufurnya seorang yang menyandarkan turunnya hujan dengan keberadaan bintang. Rasulullah menyatakan di dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman,

‎“أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَكَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ.“

“Di antara hamba-Ku ada yang menjadi beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Adapun yang mengatakan, “Kami telah diberi hujan karena keutamaan dan rahmat Allah”, maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Sedangkan bagi yang mengatakan, “Kami telah diberi hujan dengan bintang ini dan bintang itu,’ maka itulah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.’” [HR. Bukhari dan Muslim]

Hadits di atas dijelaskan oleh para ulama, bahwa yang dimaksudkan hukum kufur pada teks yaitu bisa menjadi kufur akbar (besar) atau kufur ashgar (kecil). Kufur akbar (besar) alias menjadi kafir dianggap murtad keluar dari Islam. Adapun kufur ashgar (kecil) yaitu yang tidak menjadikan pelakunya murtad keluar dari islam.

Hukumnya menjadi kufur akbar adalah ketika ada seorang yang meyakini bahwa hanya bintang-bintang sendiri itulah yang menyebabkan turunnya hujan tanpa mengaitkan dengan kekuasaan dan kehendak Allah. Sedangkan hukumnya menjadi syirik asghar adalah ketika ada orang yang masih meyakini bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah sedangkan kedudukan bintang-bintang hanya sebagai penyebab turunnya hujan saja, ini hukumnya syirik ashgar karena dia telah menyakini sesuatu yang bukan sebab menjadi sebuah sebab. Maka ketahuilah bahwa bintang-bintang atau hari imlek bukanlah sebab turunnya hujan!

Mari kita bersihkan diri dari keyakinan kufur ini, dan jangan biarkan orang-orang yang kita cintai masih menyimpan keyakinan syirik ini. Sekali lagi, hari imlek bukanlah penyebab turunnya hujan! Akan tetapi hujan adalah karunia dari Allah semata, tidak ada hubungannya dengan hari imlek, firman-Nya,

‎“وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ“

“Dan jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”. Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”. Tetapi kebanyakan mereka tidak memahami.” [QS. Al-Ankabut: 63].

Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat.

👤 Ditulis oleh: Hamba Allah

📨 Diposting dan disebarkan oleh Maa Haadzaa

Aqidah & Manhaj (kaidah 5)

Kaidah yang ke 5

Bahwa dakwah yang mereka prioritaskan dan pertama kali mereka serukan adalah TAUHID

Maka dakwah tidak akan pernah sukses, dan ibadahpun tidak akan di terima kecuali dengan Tauhid.

Karena para Rasul demikian di perintahkan oleh Allah.

Allah berfirman [QS Al-Anbiyaa:25]

‎وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah kami utus seorangpun Rasul sebelummu, kecuali Kami wahyukan kepadanya: Bahwa tidak ada Illah yang berhak di sembah kecuali Aku, maka beribadahlah kepada Ku.”

Nabi juga ketika mengirim para da’i ke negeri-negeri, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang beliau ajarkan kepada mereka supaya yang pertama kali mereka dakwahkan adalah LAA ILLAAHA ILLALLAH

Seperti dalam hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’az ke Yaman, beliau bersabda:
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kamu dakwahi adalah syahadat LAA ILLAAHA ILLALLAH

Maka dari itulah dakwah-dakwah yang tidak memulai dari tauhid, hakikatnya adalah dakwah yang membuang pokok dan azas segala sesuatu.
Makanya dakwah para Nabi dari tauhid dulu.
Karena itulah pokoknya, azasnya.
Amalnya tidak akan di terima kecuali dengan tauhid.

Bahkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan datang kecuali dengan adanya tauhid.

Maka TAUHIDULLAH yaitu mengesakan Allah dan menjauhkan kesyirikan adalah sumber kemenangan, sumber keberkahan, sumber pertolongan, bahkan sumber berbagai macam kebahagiaan bagi seorang hamba adalah Tauhidullah Jalla Jalalu

Maka suatu dakwah yang tidak memperhatikan masalah tauhid itu adalah dakwah yang tidak sesuai dengan dakwah para nabi.

Kita lihat di zaman sekarang ada yang memulai dakwah , dan prioritas dakwahnya terlihat dalam masalah politik, yang lain bahas masalah khilafa, yang lain bahas masalah fadhail amal.
Ini semua tentunya dakwah yang tidak sesuai dengan manhaj para Rasul.

Dakwah yang haq, dakwah yang sesuai dengan manhaj para Rasul adalah dakwah yang menitik beratkan kepada masalah tauhid.
Menjadikan manusia untuk hanya mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.

Karena itulah perintah Allah yang teragung/ yang terbesar.
Bahkan itulah tujuan penciptaan manusia dan jin.

Allah berfirman:
“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku saja.“

Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.
Maka seorang yang beramal dengan amal apa saja, kalau ia berbuat syirik tidak akan di terima Allah.

Maka bagaimana suatu dakwah akan tegak, akan menang sementara mereka tidak peduli dengan adanya kesyirikan. Tidak berusaha untuk mengingkari kesyirikan.

Maka dakwah yang haq adalah dakwah yang benar-benar mengagungkan masalah tauhid.
Dakwah yang benar-benar memprioritaskan masalah Tauhid Wallahi jalla wa’ala

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Barusalam Lc, حفظه الله تعالى

aqidah & manhaj (kaidah 4)

=======

KAIDAH yang ke 4

Bahwa mereka memahami Al-Qur’an dan Sunnah tidak berdiri sendiri, tapi mereka memahaminya dengan pemahaman para Salafus Shalih, bukan dengan pemahaman ro’yu-ro’yu sendiri …. tidak.

Ini merupakan kaidah yang sangat penting sekali Akhowat islam a’azzaniyallah waiyakum, di dalam masalah kaidah Tarbiyah dan Ishlah.

Kenapa..?

Karena kita semua yakin bahwa generasi yang paling tau tentang Al Qur’an dan Hadits adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada generasi yang langsung di puji oleh Allah kecuali generasi para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alqur’an telah memuji para sahabat.
Allah Ta’ala berfiman [QS At Taubah : 100]

‎. وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan. Maka Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Maka dari itu Allah menyatakan keridhaan kepada kaum Muhajirin dan Anshor.
Dan Allah menyatakan ke ridhaan kepada orang-orang yang mengikuti Muhajirin dan Anshor.

Maka Allah mengatakan, Allah ridha kepada nereka, berarti ridha kepada apa?
Kepada aqidah mereka, ibadah mereka, tata cara pemahaman mereka, manhaj mereka, dalam tata cara beragama mereka, Allah ridha

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

‎خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي

“Sebaik-baiknya manusia generasiku”

Sebaik dalam masalah apa..?
Dalam seluruh perkara-perkara agama, pemahaman terhadap alqur’an dan hadits terutama..
Maka tentu yang paling paham tentang Alqur’an dan Hadits adalah para sahabat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdullah bin Mas’ud berkata:

‎من كانَ منكم مُتأسياً فليتأسَّ بأصحابِ رسول ِاللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ,

“Siapa yang mengambil sunnah, ambillah sunnahnya para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Mereka adalah yang paling baik hatinya, yang paling dalam ilmunya, yang paling ringan bebannya. Dan mereka kaum yang paling lurus petunjuknya.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengabarkan akan munculnya zaman fitnah.

Apa kata para sahabat.?
“Apa yang harus kami lakukan hai Rasulullah, menghadapi zaman fitnah itu ?”

Apa kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎تَرْجِعُوْا إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ

“Kamu kembalilah kepada urusan kamu yang pertama.”

Urusan yang pertama, siapa..? Kalau bukan sahabat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dari itu setiap orang yang memahami Alqur’an dan Hadits dengan pemahaman sendiri tanpa merujuk pemahaman para Salafus Shalih, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in pastilah ia akan tersesat jalan…..pasti itu!!

Karena para ulamapun telah menyatakan untuk rujuk kepada pemahaman para sahabat terutama Imam Syafi’i rahimahullah yang luar biasa sekali dalam membela pemahaman sahabat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lihat saja contohnya orang khawarij.
Orang khawarij tidak mau merujuk pemahaman para sahabat dalam memahami Al Qur’an dan Hadits.
Padahal Rasulullah mensifati orang khawarij itu apa?

‎يَقْرَءُوْنَ الْقُرآنْ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيْهُمْ

“…Mereka hafal Al-Qur’an, tapi tidak sampai kerongkongan mereka.”
Artinya pemahaman mereka dangkal.

Mereka mengucapkan ucapan perkataan, sebaik-baiknya manusia yaitu membawakan hadits-hadits Rasul, tapi mereka tersesat.
Mereka melesesat dari agama, kata Rasulullah. Kenapa..?
Jawabnya satu, karena mereka tidak mau mengikuti pemahaman para sahabat.

Makanya Abdullah bin Umar berkata:
“Khawarij itu seburuk-buruk mahluk di sisi Allah.”

Mereka membawakan ayat-ayat tentang orang-orang kafirin tapi kemudian di jadikan orang-orang yang beriman.

Nah ini adalah akibat tidak mengikuti pemahaman para sahabat, salafus shalih.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

aqidah dan mahaj (kaidah 3)

=======

KAIDAH yang ke 3

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa tidak boleh Alqur’an berdiri sendiri tanpa Sunnah karena Alqur’an harus di jelaskan dengan Sunnah.
Dan Alqur’an tidak mungkin berdiri tanpa Sunnah.
Karena Sunnahlah yang menjelaskan Alqur’an

Allah berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman taati Allah dan ta’ati Rasul dan Ulil Amri di antara kalian.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits yang di riwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tarmidzi mengabarkan akan adanya orang yang akan menolak Sunnah.
Beliau berkata:
“Ketahuilah sesungguhnya aku di berikan oleh Allah Alqur’an dan yang semisal bersamanya itu Sunnah.”

Ketahuilah hampir nanti ada orang yang kenyang duduk di atas dipannya dan berkata cukup Alqur’an saja.
Yang kalian dapatkan dalam Alqur’an halalkan dan yang kalian dapatkan dalam Alqur’an haramkan.

Jadi Rasulullah mengabarkan disini bahwa nanti ada suatu kaum yang mengatakan cukup Alqur’an saja tidak perlu sunnah dan سُبْحَانَ اللّهِ … benar yang Rasulullah kabarkan dan itu muncul di zaman sebagaimana kita lihat di zaman inipun juga banyak sekali.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu

‎فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرً

“Sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu nanti akan melihat perpecahan yang banyak“

‎فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ

“Hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidu yang tertunjuki“

‎عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dan kami peganglah, gigitlah ia dengan gigi geraham dan jauhi oleh kamu perkara-perkara yang di ada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat
[HR Abu Dawud dan Tarmidzi]

Dan Tarmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih.
Maka ini Hadits menunjukkan. Bahwa wajib kita berpegang kepada sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu sebagian Ulama berkata, bahwa Sunnahlah yang menjelaskan Alqur’an . Tidak kebalikan.

Sekarang kalau ada orang berkata kita tidak butuh Sunnah cukup Alqur’an , lalu apakah ada dalam Alqur’an penjelasan-penjelasan rinci tentang tata cara sholat, di mulai dari Takbiratul Ihram sampai salam.
Penjelasan sholat-sholat sunnah dan yang lainnya, sama sekali tidak ada. Tentang jumlah raka’atnya juga tidak ada.

Maka orang yang tidak percaya kepada Sunnah dan hanya mengandalkan Alqur’an pasti mau tidak mau dia akan buat sendiri tata cara sholat yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Demikian pula di Alqur’an tidak ada disebutkan tentang tata cara zakat secara terperinci, haji secara terperinci.
Puasa dan banyak lagi hukum-hukum yang lainnya.
Makanya Sunnah menjelaskan Alqur’an.
Karena Sunnah itu menjelaskan Alqur’an

Allah berfirman {An-Nahl: 44}

‎ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan sesungguhnya kami telah menurunkan kepada engkau Az-Zikr (Alqur’an) agar kamu hai Muhammad menjelaskan kepada manusia apa yang di turunkan kepada mereka tersebut.“

👉🏼Artinya : Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu menjelaskan Alqur’an.

👉🏼Maka wajib kita memahami Alqur’an dengan pemahaman Rasulillah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Demikian pula pemahaman para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Barusalam Lc, حفظه الله تعالى

Aqidah & Manhaj (kaidah 2)

=======

KAIDAH yang ke 2

Bahwa landasan persyariatan demikian pula landasan dalam berdakwah beribadah adalah Alqur’an dan Sunnah yang shohihah.
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan dalam Alqur’an untuk mentaati Allah dan Rasulnya.

Allah berfirman:

‎وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Taati Allah dan taati Rasul agar kamu di rahmati.” [Al- Imran : 132]

Allah juga berfirman [Az-Zukhruf :43]

‎فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Berpeganglah kepada yang di wahyukan kepadamu.”

Allah memerintahkan nabinya untuk berpegangan kepada wahyu.
Berarti kalau Rasulullah saja berpegangan kepada wahyu, kewajiban kita adalah untuk berpegang kepada wahyu seluruhnya.

Sedangkan Alqur’an dan hadits adalah wahyu.

Allah juga berfirman [Al-Hujurat :1]

‎بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu mendahului Allah dan Rasulnya.”

Yaitu mendahului Allah dan Rasulnya dengan akal kita, pemikiran kita, dengan hawa nafsu atau mendahulukan pendapat siapapun diatas Allah dan Rasulnya.
Itu semua dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Aku tinggalkan kepada kalian 2 perkara. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama berpegang pada 2 perkara tersebut, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.”

Kata Beliau (Syaikh Al Ubailaan):
“Ini sebetulnya penyempurnaan dari kaidah yang pertama.
Bahwa tidak akan di terima di sisi Allah kecuali apabila sesuai dengan apa yang di turunkan oleh Allah dalam Alqur’an dan Sunnah.
Kalau tidak sesuai dengan apa yang di turunkan, maka itu tertolak.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang beramal setengah suatu amalan yang dengan tidak ada perintah kami, maka itu tertolak.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kalian.”

Allah tidak mengatakan, dan taati ulil amri. Karena ketaatan kepada ulil amri — dan ulil amri yang dimaksud di sini ulama dan umaro — Ketaatan kepada mereka mengikuti ketaatan kepada Allah dan Rasulnya.

Para ulama berkata: Allah memerintahkan manaati Allah, manaati Rasulnya dan menaati Ulil Amri dari kalangan ulama dan umaro.

Dan yang di maksud dengan ulil amri adalah ulama dan Umaro

Tapi ketaatan kita kepada ulil amri itu apabila sejalan dengan perintah Allah dan rasulnya.

Bukan dalam perkara yang menyelisihi perintah Allah dan perintah rasulnya.

Karena tidak boleh kita menaati mahluk untuk memaksiati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka inilah ya akhowati islam dasar kita dalam beraga, di dalam ibadah, dalam berdakwah.

Di dalam persyariatan semuanya harus berdasarkan kepada Alqur’an, yang kedua berdasarkan kepada hadits yang shohih.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Barusalam Lc, حفظه الله تعالى

AQIDAH & MANHAJ (kaidah 1)

AQIDAH DAN MANHAJ

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

KAIDAH YANG PERTAMA, kata beliau (Syaikh Al Ubailaan) : Agama kita dibangun diatas 2 pokok yang agung.

◆Yang pertama yaitu ikhlas–>yaitu ikhlas, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

◆Yang kedua adalah Mutaba’ah (ittiba kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam).

Ini adalah merupakan 2 POKOK YANG AGUNG, yang merupakan makna daripada
Asyhadu alla ilaaha illallah
Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Ketika kita mengucapkan Asyhadu alla ilaaha illallah artinya mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Dan ketika kita mengatakan _Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah_ artinya kita memurnikan ittiba atau mutaba’ah kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Dimana amal kita harus sesuai dengan apa yang di syari’atkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam

Allah berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 2:

‎الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ

“Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan agar Allah menguji kalian siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya.”

Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah:

“Yang lebih baik amalnya, artinya yang paling ikhlas dan yang paling benar.”

Yang paling ikhlas artinya yang betul-betul karena Allah.

Dan yang paling benar artinya yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Kata Beliau (Syaikh Al Ubailaan) : Manusia di lihat dari 2 pokok ini, ada 4 macam:

◈ Yang ke 1 :

Ahlul Ikhlas.

Mereka adalah orang-orang yang betul-betul ikhlas wal Mutaba’ah (dan betul-betul mengikuti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam).

Maka ini adalah derajat yang paling tinggi.

◈ Yang ke 2:

Orang yang tidak ikhlas dan tidak pula mutaba’ah.

Sudahlah hatinya tidak ikhlas, tidak mengharapkan wajah Allah, sudah begitu tidak sesuai dengan contoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Ini yang paling buruk tentunya

◈ Yang ke 3 :

Orang yang ikhlas amalannya, tapi tidak sesuai dengan contoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, namun ia berbuat mengada-ada kebid’ahan.

Maka amalannya juga tertolak.

◈ Yang ke 4:

Orang yang amalannya sesuai dengan sunnah Rasul tapi tidak ikhlas, maka inipun sama tidak diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Maka yang terbaik adalah yang pertama, yang sesuai dengan sunnah Rasulullah dan ia ikhlas di dalam mengamalkan ibadah tersebut.

▶Maka setiap kita berusahalah semaksimal mungkin akhowati islam untuk merealisasikan keikhlasan dengan cara mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah, bukan karena pujian manusia, bukan pula karena mengharap dunia, tidak pula karena ia ingin diberikan kesenangan dari kehidupan dunia ini.

▶Maka ini adalah merupakan akhowati islam kaidah yang harus kita benar-benar kita perhatikan dalam masalah tarbiyah dan islah, yaitu ikhlas dan mutaba’ah.

Wallahu a’lam

✒ *Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc*, حفظه الله تعالى

____________________

📚