Salah Paham Tabarruk

Salah Paham Tabarruk


Sebagai seorang muslim kita meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang diberkahi Allah baik pada jasad beliau, benda-benda yang pernah beliau gunakan, maupun perbuatan-perbuatan beliau.
Ini adalah keistimewaan yang Allah berikan secara khusus kepada beliau sehingga para shohabat bertabarruk (mencari berkah) dengan beliau dan perbuatan ini tidak bertolak belakang dengan aqidah tauhid selama diyakini keberkahan itu hanya datang dari Allah.
Akan tetapi sebagian orang mencampuradukkan dua permasalahan yang tidak sama yaitu antara meyakini Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai sosok yang diberkahi, dengan mengultuskan beliau yang diyakini dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot, sehingga ada di antara manusia yang berdoa kepada beliau, meminta-meminta kepada beliau sepeninggal beliau, padahal perbuatan semacam itu tergolong ibadah yang merupakan hak Allah semata.
Para Ulama menjelaskan makna berkah adalah kebaikan yang tetap dan berlimpah. Sedangkan tabarruk bermakna “tholabul barokah” yaitu mencari berkah.
Tabarruk terbagi menjadi dua yaitu tabarruk yang masyru’ (ditunjukkan oleh dalil-dalil syariat) dan tabarruk yang mamnu’ (dilarang). Tabarruk yang masyru’ seperti tabarruk dengan amalan sholih untuk mencari pahala, contohnya membaca Al-Qur’an atau beribadah di Masjidil Harom. Adapun tabarruk yang mamnu’ seperti tabarruk yang syirik dan bid’ah. (Tas-hilul Aqidah Al-Islamiyyah hal. 288)
Tabarruk yang syirik contohnya seperti meyakini keberkahan itu berasal dari dzat yang ditabarrukinya bukan dari Allah. Sedangkan tabarruk yang bid’ah seperti sholat di sisi kuburan para Nabi atau orang sholih, tabarruk dengan tubuhnya orang-orang sholih, tabarruk dengan lantai Masjidil Harom dan lantai Masjid Nabawi, tabarruk dengan tanah atau pasir di tanah harom, tabarruk dengan ibadah di gua Hiro’ atau gua Tsur dan hal-hal yang diada-adakan lainnya yang tidak ditunjukkan oleh dalil syariat.

✍🏻 Fikri Abul Hasan
Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Anggapan Sial di Bulan Safar

Manhaj

ANGGAPAN SIAL DI BULAN SHAFAR.

Oleh : Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Termasuk perbuatan jahiliyah adalah anggapan sial pada hari atau bulan tertentu.

Dalam tradisi nusantara, terkhusus jawa, mereka menganggap ada bulan dan hari sial, di antaranya, bulan muharram (sura) sampai sampai seorang takut mengadakan hajat, dan salah satu hari di bulan shafar yang di sebut rebo wekasan (rabu terakhir) yang di yakini turunnya berbagai bala musibah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah dalam Kitabut Tauhid pada bab ke 28,

باب ما جاء في التطير

Bab yang menerangkan tentang permasalahan tathayur.

Menyampaikan hadits dari Abu Hurairah radiyallahu anhu dari Nabi shalallahu alaihi wa salam,

Beliau bersabda,

لا عدوى ، و لا طيرة ، و لا هامة ، و لا صفر ،

و لا نوء ، و لا غول

“Tidak ada adwa, tidak ada thiyarah, tidak ada hamah, tidak ada shafar, tidak ada nau’, tidak ada ghul”

[HR.Bukhari dan tambahan dari lafadz muslim]

Penjelasannya :
Adwa adalah prasangka bahwa penyakit dapat menular dengan sendirinya tanpa seijin Allah.

Thiyarah adalah prasangka buruk dengan melihat binatang tertentu.

Hamah, adalah perasaan sial karena melihat burung hantu, atau sangkaan burung hantu adalah roh orang mati.

Shafar adalah merasa sial dengan bulan safar,

Imam Bukhari mengatakan, bahwa shafar adalah penyakit yang berhubungan dengan perut (Tuhfatul Ahwazy 5/432).

Nau’ adalah salah satu jenis bintang, yakni keyakinan bahwa hujan turun karena sebab bintang tertentu, bukan kehendak Allah.

Ghul, adalah keyakinan bahwa hantu dapat membahayakan atau menakuti seorang.

Berkata Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh,

“Maksud bab ini, adalah bahwasanya thiyarah (pesimis /merasa sial) bila sampai menyebabkan seorang menjalankan atau membatalkan suatu yang telah di niatkan, maka hal ini termasuk dalam kesyirikan, dan bertentangan dengan tauhid.
Thatayur adalah perbuatan orang musyrik, yakni musuh para rasul, dan thatayur adalah tindakkan tercela”
(Syarah Kitabut Tauhid 151).

Maka dari itu wahai saudaraku,
Hendaknya kita semua memurnikan tauhid kita kepada Allah subhanahu wa taala, dengan menyandarkan yakin, tawakkal, dan semua taqdir yang baik dan yang buruk hanya kepada Nya semata.

Dan hendaknya kita menjauhkan segala prasangka buruk, pesimis, merasa sial, baik dengan apa yang kita lihat, dengar, dan alami, karena hal itu jelas merusak tauhid, dan menghilangkan tawakkal.

Serta, sepatutnya, bagi seorang muslim, menjauhi keyakinan keyakinan jahiliyah, atau aqidah dan adat adat jelek, yang di ambil dari orang orang musyrik, yang mereka mendasari semua itu tanpa bimbingan dan ilmu.
Dan lebih parahnya lagi, keyakinan syirik pertama ini, di lanjut dan di tambah kesyirikan yang kedua, setelah mereka melepas keyakinan kepada Allah dan ketawakkalan pada Nya,

Dengan terjerumus pada bertawakkal pada jimat jimat (orang jawa menyebut “anak e akik” karena besarnya keyakinan pada batu atau benda bertua).

Dari shahabat Ibnu Mas’ud radiyallahu anhu, bahwa beliau mendengar dari nabi,

إن الرقى ، و لتمائم ، و التولة شرك

“sesungguhnya ruqyah /suwuk (yang tidak syari), tamimah, dan tiwalah adalah kesyirikan” [HR.Ahmad, Abu Dawud]

Penjelasannya :
Ruqyah adalah suwuk yang biasa di baca dengan komat kamit dan suara yang tidak jelas oleh dukun, biasanya di desa di sebut “wong pinter” atau tukang nyuwuk.

Tamimah adalah sejenis kalung untuk menangkal bahaya dan sawan (ain) dan biasanya di letakkan di leher dan tangan bayi, atau jimat.

Baik berupa gelang, buntalan, atau besi, atau sabuk, atau baju, atau kain, atau kulit hewan, atau bulu, atau sejenisnya.

Tiwalah adalah sejenis sihir pengasih atau pemaling الصرف و العطف

Maka hendaknya seorang yang telah melakukan kesyirikan, segera bartaubat sebelum mati. Karena dosa syirik yang di bawa mati, menjadikan seorang tidak selamat selamanya di akhirat.


Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Mencintai Keluarga Nabi Tidak Berarti Mengultuskannya

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu:

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ( وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ ) قَالَ : ( يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ – أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا – اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ ، لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Ketika turun ayat, “Dan berilah peringatan pada keluargamu yang terdekat”, maka Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berdiri seraya bersabda, “Wahai orang-orang Quroisy -atau perkataan yang semisal- tebuslah diri-diri kalian, karena aku tidak kuasa sedikitpun melindungi kalian di hadapan Allah kelak. Wahai bani Abdi Manaf, aku tidak kuasa sedikitpun melindungi kalian di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdil Muttholib, aku tidak kuasa sedikitpun melindungi engkau di hadapan Allah. Wahai Shofiyyah bibi Rosulullah, aku tidak kuasa sedikitpun melindungi engkau di hadapan Allah. Wahai Fathimah binti Muhammad, mintalah dariku hartaku sekehendakmu, karena aku tidak kuasa sedikitpun melindungi engkau di hadapan Allah kelak.” (HR. Al-Bukhori 2753 dan Muslim 206)

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya agar memutus segala harapan kepada selain Allah. Semua jenis peribadahan seperti istighotsah (meminta bantuan), isti’adzah (memohon perlindungan), memohon syafaat hanya ditujukan kepada Allah semata.
Adapun Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam beliau hanya menjalankan misi risalah, menunaikan amanah yang semua itu adalah karunia dari Allah.
✍🏻 Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Aqidah Manhaj Salaf [Kaidah 30,31, & 32]

AQIDAH MANHAJ SALAF

🌼 Kaidah yang ke 30 🌼

⚉ Mereka meyakini wajibnya berpegang kepada manhaj Nabi dalam berdakwah kepada Allah

Allah Ta’aala berfirman [ QS Al-A’raf :3]

‎اتَّبِعُواْ مَا أنزل إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian“

‎وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء

“..dan jangan kamu ikuti selain Allah sebagai tandingan-tandingan“

Allah juga berfirman [QS Yusuf : 108]

‎قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِ

“Diatas BASHIIRAH (ilmu yakin) aku dan orang-orang yang mengikuti“

Ayat ini menunjukkan bahwa,
kewajiban kita berdakwah itu kepada Allah di atas bashiirah dan tentunya dengan mengikuti manhaj para Nabi dalam berdakwah

Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah pernah di tanya tentang seorang syaikh yang mendakwahi orang-orang yang suka berbuat maksiat dengan cara mengumpulkan mereka, dengan memukul rebana, lalu kemudian bernyanyi dengan syair-syair yang disebut sya’ir-sya’ir yang membuat hati mereka tergugah.
Kemudian rupanya ketika syaikh ini melakukan perbuatan itu mereka bertaubat, mereka kemudian meninggalkan maksiat.
Maka ditanya Syaikhul Islam, “Apakah yang seperti ini Boleh ? karena maslahatnya besar dan tidak mungkin mendakwahi mereka kecuali dengan ini ?

Maka Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah menjawab:
pertama pertama beliau menyebutkan kaidah-kaidah dahulu.

Yang pertama bahwasanya harus diyakini, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti membawa petunjuk dan agama yang haq untuk memenangkan diatas seluruh agama.

Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan kabar gembira dengan kebahagiaan bagi orang yang menaati dan kesengsaraan bagi orang yang memaksiatinya.

Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan manusia untuk mengembalikan semua yang di perselishkan kepada agama Allah kepada Alqur’an dan Hadits Nabi.

Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya beliau berdakwah kepada Allah dan kepada jalan yang lurus.

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya beliau beramar ma’ruf nahi mungkar, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku wasiatkan kalian untuk mendengar dan ta’at, karena sesungguhnya siapa yang hidup diantara kalian nanti akan melihat perpecahan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang ditunjuki.”

Pegang ia dengan gigi geraham dan jauhi oleh kalian perkara-perkara diada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat. Dan ayat-ayat dan dalil yang lainnya.

Beliau (Syaikh Al Ubailaan) berkata, “Apabila kaidah ini telah di ketahui, maka hendaklah diketahui bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’aala. Dialah yang memberikan hidayah kepada orang-orang tersesat.
Maka harus kita mengikut apa yang Allah utus dengannya RasulNya dan Alqur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka kalaulah apa yang Allah utus denganNya para Rasul itu tidak mencukupi berarti agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ini kurang, tidak sempurna.
Dan harus diketahui bahwasanya amalan sholeh yang Allah perintahkan, baik itu yang sifatnya wajib ataupun sunnah.

Demikian pula amalan buruk yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’aala yang harus kita imani apabila tidak terdapat padanya maslahat dan mafsadah.
Maka kemudian maslahatnya lebih besar dari pada mafsadahnya, maka tentu syari’at akan mensyari’atkannya.

Tapi kalau ternyata mafsadah lebih besar tentu syari’at akan melarangnya.
Maka apabila demikian, kata beliau (Syaikh Al Ubailaan): perbuatan syaikh tersebut mengumpulkan orang-orang yang suka berbuat maksiat.
Lalu dengan mendendangkannya nyanyian dengan memakai rebana.
Ini termasuk perkara yang tidak sesuai syari’at.
Ini menunjukkan syaikh tersebut bodoh terhadap tata cara-tata cara syari’at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dan para tabi’in dahulu mereka mendakwahi orang-orang yang lebih buruk dari mereka, yaitu orang kafir, dari orang fasik di masa itu.

Demikian pula orang-orang yang berbuat maksiat tapi tidak dengan cara seperti itu.
Akan tetapi dengan cara-cara yang sesuai dengan syari’at, maka tidak boleh dikatakan bahwasanya tak ada cara yang syar’i, untuk mendakwahi orang-orang yang berbuat maksiat.

Karena telah juga kita ketahui secara pasti berapa banyak orang yang bertaubat kepada Allah dengan cara-cara syari’at.
Bahkan lihat para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Mereka bertaubat kepada Allah dengan cara-cara syari’at bukan dengan cara-cara bid’ah seperti itu.

Berapa banyak kaum muslimin di negeri-negeri kaum muslimin yang mereka masuk Islam, mereka bertaubat dengan kepada Allah dengan cara-cara syari’at bukan dengan cara-cara bid’ah seperti itu.

Sehingga tidak boleh juga dikatakan orang yang berbuat maksiat tidak mungkin bertobat kecuali dengan cara-cara bid’ah tersebut.

Maka sesungguhnya yang terbaik adalah caranya sesuai dengan syari’at
Bukan kita melihat pada hasil.
Sebuah kesalahan tentunya bahwa kalau ada orang mengatakan yang penting hasilnya. Ini bukanlah cara yang sesuai dengan syari’at.

Yang terpenting adalah apakah caranya sesuai syari’at, sesuai dengan manhaj para Nabi atau tidak.

Wallahu a’lam 🌴
________

🌼 Kaidah yang ke 31 🌼

⚉ Mereka meyakini bahwa bermuamalah atau menghadapi kejadian-kejadian yang berubah-rubah masalah yang pasti tentunya akan berubah-rubah sesuai kondisi dan tempat, itu harus di bangun diatas pemahaman yang benar terhadap dalil-dalil syari’at dan pengetahuan yang luas tentang sunnah-sunnah Allah kepada mahluk-mahluknya.

Allah Ta’ala berfirman [QS An-Nisa : 83]

‎وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ

“Apabila datang kepada mereka perkara yang berhubungan dengan rasa aman atau rasa takut, mereka segera menyebarkannya.”

‎وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ

“Kalaulah mereka mengembalikan urusan tersebut kepada Rasul dan kepada Ulil Amri yaitu para Ulama diantara mereka akan tahulah orang-orang yang bisa beristimbath diantara mereka.”

Disinilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh untuk mengembalikan segala urusan itu kepada Rasul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah meninggal maka kepada Ulil Amri.

Ulil Amri yang di maksud disini adalah para Ulama yang mampu beristimbah (pengambilan hukum) dan memahami dengan pemahaman yang benar dari Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka kewajiban kita, masalah-masalah yang berhubungan dengan berita-berita atau masalah-masalah yang berubah sesuai dengan situasi dan kondisi itu tidak di serahkan kepada orang-orang yang dangkal pemahamannya, tidak diserahkan kepada orang-orang yang kurang pemahamannya terhadap Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi diserahkan dan di tanyakan kepada mereka yang betul-betul sangat memahami Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menguasai ilmu-ilmu alat untuk beristimbath atau berijtihad.

Maka ikhwatul Islam, saudara-saudaraku sekalian berkata Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimalllah, ketika menafsirkan firman Allah [QS Al Maidah: 105]:

‎يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian memelihara diri kalian sendiri“

‎لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

“tidak akan membahayakan kalian orang yang tersesat apabila kalian telah mendapat hidayah“

Berkata Syaikhul Islam: “Hendaklah kalian memelihara diri kalian sendiri tidak membahayakan kalian orang yang sesat apabila kalian mendapatkan hidayah”.

Tidak menunjukkan kita meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar , sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang masyhur daru Abu Bakar ash-Siddiq, bahwa beliau berkhotbah di mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:
“Hai manusia, kalian membaca ayat ini dan meletakkan bukan pada tempatnya dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran lalu mereka tidak merubahnya, hampir-hampir Allah ratakan azab untuk mereka semua”

Maka disini Abu Bakar mengingkari sebagian orang yang memahami ayat tersebut, bahwa kalau ada orang yang berniat kemungkaran, ya sudah tidak perlu kita ingkari, yang penting kita sudah beriman maka tidak akan membahayakan kita, orang yang tersesat tersebut.
Maka kata abu bakar ”Bukan itu maksudnya”, berarti kalian sudah meletakkan ayat tersebut bukan pada tempatnya, akan tetapi tetap kita disuruh mengingkari kemungkaran beramar ma’ruf nahi mungkar.

Maka kalau kita sudah berusaha dan ternyata mereka tetap tidak mau meninggalkan kemungkarannya, maka pada waktu itu kita berusaha untuk memelihara diri kita sendiri.
Jadi tidak bertabrakan antara ayat-ayat amar ma’ruf nahi mungkar dengan ayat surat Al Maidah: 136.

Ini adalah merupakan contoh bagaimana meletakkan dalil pada tempatnya, karena
kesesatan yang terjadi adalah ketika dalil itu ditempatkan bukan pada tempatnya, dipahami dengan pemahaman dan nalar sendiri karena dangkalnya pemahaman. Maka, kewajiban kita adalah untuk memahami dalil, kemudian menerapkannya pada penerapan yang benar dalam permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi.

Wallahu a’lam 🌴
_______________

🌼 Kaidah yang ke 32 🌼

⚉ Wajibnya memperingatkan ummat dari kesesatan para pemimpin -pemimpin kebid’ahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS Al A’raf :181]:

‎وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

“Dan diantara manusia yang kami ciptakan adalah ummat yang memberikan hidayah dengan kebenaran dan dengannya juga mereka bersikap adil.“

Artinya, seakan Beliau (Syaikh Al Ubailaan) mengisyaratkan bahwa mentahzir, memperingatkan manusia dari bahaya kesesatan pemimpin-pemimpin kebid’ahan itu termasuk memberikan hidayah kepada kebenaran, namun tentunya dengan sikap adil, bukan dengan sikap yang berlebihan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga dalam Alqur’an mentahzir,memperingatkan akan orang-orang yang menyesatkan.
Allah berfirman, contohnya dalam QS At Taubah : 34

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya banyak dari para pendeta dan rahib-rahib yang makan harta manusia dengan kebathilan dan menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala“

Disini Allah memperingatkan bahwa kebanyakan para pendeta dan para rahib-rahib Yahudi dan Nasrani itu, mereka suka memakan harta manusia dengan bathil.
Disini Allah memperingatkan agar kita ummat Islam tidak mencontoh mereka, dan agar kita tidak menjadi orang-orang yang memakan harta manusia dengan bathil.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Seperti para pemimpin kebid’ahan dari orang-orang yang menyelisihi Alqur’an dan Sunnah atau orang-orang yang membuat ibadah-ibadah yang menyelisihi Alqur’an dan Sunnah.”
Maka menjelaskan keadaan mereka dan mentahzir ummat dari mereka itu wajib, dengan kesepakatan kaum Muslimin.

Sampai-sampai dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hambal, “…bagaimana orang yang berpuasa dan sholat dan ber’itikaf. Apakah itu lebihkah engkau cintai ? Atau engkau berbicara tentang para ahli bid’ah ?…”
Kata Imam Ahmad, “…apabila ia berpuasa, ia sholat, ‘itikaf itu untuk dirinya. Dan apabila ia berbicara tentang ahli bid’ah maka itu untuk kebaikan kaum muslimin lebih utama..” kata Imam Ahmad bin Hambal.

Maka disini beliau menjelaskan bahwa manfaatnya untuk kaum muslimin besar.

Namun tentunya yang perlu di perhatikan dalam masalah ini juga dalam masalah tahzir mentahzir hendaknya:
1. Orang yang mentahzir itu ikhlas karena Allah bukan karena mengharapkan kemasyuran atau karena takut di tahzir orang.
2. Hendaknya dia melihat maslahat dan mudhorot.

Di zaman sekarang seperti di negri kita ini, ketika kita mentahzir seseorang, akhirnya orang itu malah masyur di kalangan manusia. Akhirnya malah banyak orang yang mengikuti dia.
Maka kalau ternyata hal seperti ini, keadaanya seperti itu, maka tidak di syari’atkan… kenapa?
Karena ternyata mudhorotnya jauh lebih besar, maka kita sebatas membantah pendapat-pendapatnya secara ilmiah, itu tidak mengapa.

Atau kita menyebutkan nama dia sambil kita mengkritik pendapat-pendapatnya yang nyeleneh dengan secara ilmiah, itupun silakan, kalau memang maslahatnya jauh lebih besar.

Demikian pula kewajiban kita adalah niatnya untuk menasehati Ummat.
Kemudian kita juga berusaha untuk mendo’akan agar orang yang di tahzir ini mendapatkan hidayah.

Dan kemudian, jangan serampangan dalam mentahzir, karena berapa banyak di zaman ini serampangan dan sangat mudah.
Hanya karena kesalahan-kesalahan yang sifatnya ijtihadiyah, yang ia pandang rojih, lalu ia tahzir orang lain.
Padahal itu masalah-masalah yang sifatnya ijtihadiyah. Seperti menghukumi suatu yayasan apakah itu hizbi atau tidak.
Itu sifatnya ijtihadi yang tentunya kita tidak boleh, gara-gara itu kemudian kita berpecah belah.
Seperti yang terjadi di zaman sekarang, serampangan dalam tahzir mentahzir.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Aqidah Manhaj Salaf [Kaidah 27, 28, & 29]

AQIDAH MANHAJ SALAF

🌼 Kaidah yang ke 27 🌼
.
⚉ Mereka mewaspadai tata cara ahli bid’ah yang menuduh para ulama yang mengikuti manhaj salaf, dengan tuduhan bahwa mereka itu radikal.

Maka kita waspadai tata cara seperti itu, karena itulah tata cara ahli bid’ah agar manusia lari dari kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Israa : 73

‎وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا

“Dan mereka hampir-hampir memfitnahmu dari apa yang telah kami wahyukan kepada engkau agar kamu mengada-ada atas kami selain itu.”

‎ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا

“Jika kamu lakukan itu mereka akan menjadikanmu sebagai kekasih“

Artinya mereka berusaha terus memberikan tuduhan-tuduhan yang bermacam-macam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membawa kebenaran, agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan keinginan mereka dengan berbagai macam cara dan tuduhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Apa yang kalian sebutkan berupa ucapan yang lemah lembut dan berbicara yang lebih baik dan kalian tahu bahwa aku lebih manusia yang paling banyak menggunakan kelembutan.”

Akan tetapi kata beliau segala sesuatu pada tempatnya.
Sementara Allah dan Rasulnya memerintahkan kita bersikap keras terhadap orang yang bersikap zolim dan memusuhi Alqur’an dan Sunnah.
Dan kitapun juga sikapi dengan yang sama.
Kita di perintahkan untuk mengajak bicara mereka dengan sikap yang lebih baik jika mereka berbuat seperti itu.

Allah berfirman dalam surat Al-Munafiqun : 8

‎وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Milik Allahlah kemuliaan (‘izzah) dan juga milik rasul-Nya dan milik kaum mukminin“

Allah juga berfirman dalam surat Al -Mujadila : 20

‎إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya mereka itu orang-orang yang berada dalam kerendahan.“

Dan hendaklah kita ketahui, kata beliau; “Bahwa tidak boleh kita mengharapkan keridhoan makhluk hal ini.”
Mau mencerca, mau gimana…”terserah”.
Karena…

1. Bahwa mengharapkan ridha mahluk itu tidak mungkin.

Imam Asy-Syafi’i berkata:

‎رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ

“Keridhaan manusia itu tujuan yang tidak mungkin dicapai.
Hendaklah kamu berpegang kepada yang membenahi dirimu
Pegang Ia dan tinggalkan selain itu.”
Dan jangan kamu merasa risih dengan ledekan-ledekan manusia kepadamu.

2. Bahwa kita diperintahkan untuk mengharap dan mencari ridha Allah dan rasul-Nya.

Allah berfirman dalam surat At-Tauba : 62

‎وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ

“Allah dan rasul-Nya lebih berhak, mereka cari ridho-Nya.“

-Maka kewajiban adalah takut kepada Allah daripada kepada manusia.

-Kewajiban kita adalah jangan sampai kita hanya karena takut kepada manusia kemudian kita tinggalkan yang di perintahkan oleh Allah dan rasul-Nya.

-Maka kita berusaha untuk membantah para ahli bid’ah itu dengan hujjah-hijjah yang kuat agar manusia memahami dan mengetahui tentang hakikatnya, sehingga pada waktu itu kita telah membela kebenaran dan ini termasuk jihad yang besar.

Wallahu a’lam 🌴
.

________________

🌼 Kaidah yang ke 28 🌼
.
⚉ Mereka tidak memberikan loyalitas, tidak pula memberikan permusuhan pada selain keridhoan Allah.

Artinya loyalitas mereka dan permusuhan mereka semuanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena hawa nafsu, bukan pula karena kepentingan dunia dan politik itulah sifat Ahlusunnah waljama’ah.

Allah Ta’ala berfirman [QS At-Taubah:71]

‎وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan kaum mukminin dan kaum mukminat sebagian mereka adalah wali untuk yang lainnya.”

Wali itu artinya memberikan loyalitas, dari kata Wala’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga perkara, siapa yang tiga perkara itu ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman.”
Diantaranya dari tiga itu, yaitu orang yang mencintai seseorang yang ia cintai karena Allah, bukan karena apa-apa.

Maka dari itu kewajiban kita adalah memberikan loyalitas dan permusuhan itu betul-betul karena Allah.

Allah menyebutkan dalam Alqur’an [QS Al-Baqarah : 167]

‎وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

Allah berfirman tentang kedudukan api neraka dan orang-orang yang mengikuti.
“Dan berkatalah orang-orang yang mengikut mereka, kalaulah kami masih ada kesempatan untuk kembali ke dunia kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka sekarang di akhirat berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amalan-amalan mereka menjadi penyesalan atas mereka dan mereka tidak akan pernah keluar dari api neraka.”
Nauzubillah…

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat ini, orang-orang yang di ikuti oleh para pengikut-pengikut waktu di dunia, dimana para pengikut memberikan loyalitas bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Oleh karena itu kamu dapati banyak orang mencintai suatu kaum dan membencinya hanya karena hawa nafsu.”

Mereka sendiri tidak mengetahui maknanya, tidak pula mengetahui di atas dasar apa, bahkan mereka memberikan loyalitas secara mutlak begitu saja dengan tanpa melihat apakah itu sesuai dengan dalil yang shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ummah atau tidak.
Bahkan mereka juga tidak memahami makna loyalitas yang mereka berikan tersebut.

Maka beliau berkata :
“-Maka tidak boleh bagi seorangpun menjadikan seseorang dalam ummat Islam ini yang ia memberikan loyalitas dan permusuhan di atasnya selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.
.
-Tidak boleh seseorang itu menjadikan perkataan siapapun yang ia memberikan loyalitas dan permusuhan kecuali kepada firman Allah dan RasulNya saja, dan apa yang menjadi ijma para ulama seluruhnya.
.
– Maka siapa yang melakukan ini yaitu yang memberikan loyalitas dan permusuhan terhadap seseorang selain Nabi atau terhadap ucapan seseorang selain Nabi, maka ini termasuk perbuatan ahli bid’ah yang memecah belah ummat, memecah belah agama ini.“
.
(Majmu fatawa jilid 20, halaman 164)

Wallahu a’lam 🌴

_______________

🌼 Kaidah yang ke 29 🌼
.
(simak audio di link berikut) : http://bbg-alilmu.com/archives/36668

⚉ Bahwa mereka mewanti-wanti jangan sampai menjadikan agama sebagai wasilah untuk meraih dunia.

Allah berfirman [QS Al-Israa’ : 18]
.
‎مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ]
.
“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka Kami akan percepat untuk dia dalam kehidupan dunia tersebut bagi siapa yang Kami kehendaki, kemudian Kami jadikan untuk dia sebagai sesuatu yang tercela dan hina“
.
Ayat ini tegas mengatakan bahwa orang yang tujuannya hanya dunia dan tidak mengharapkan sama sekali kehidupan akhirat, maka orang seperti ini akan di berikan apa yang dia inginkan, jika Allah kehendaki, namun di akhirat ia akan mendapatkan api neraka.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
.
‎تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ
.
“Celakalah hambanya dinar, hamba dirham, hamba baju“
.
‎إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ
.
“kalau ia di beri baru ia ridho“
kalau ia di beri dunia baru ridho.
.
‎وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ
.
“jika ia tidak diberi dunia dia marah“
Artinya ridho dan marahnya karena dunia,bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
.
Kemudian kata beliau (Syaikh Al Ubailaan): “Pelaku bid’ah, dia adalah pengikut hawa nafsu, dimana ia beramal sesuai dengan hawa nafsunya, bukan karena sesuai dengan agamanya, dan ia berpaling dari kebenaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya.”
.
Maka orang seperti ini akan Allah berikan sangsi sesuai dengan hawa nafsunya.
Orang seperti ini berhak untuk mendapatkan siksa di dunia dan akhirat.
.
Para Ulama Salaf yang menganggap fasik orang-orang khawarij dan yang sejenisnya, sebagaimana di riwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash, bahwa ia menafsirkan firman Allah [ QS Al-Baqarah 26-27]
.
‎وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
.
“Tidaklah Allah menyesatkan kecuali orang-orang fasik“
.
Siapa dia?
.
‎الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ
.
“Yaitu orang-orang yang membatalkan perjanjian Allah setelah ia mengambilnya dan mereka memutuskan apa yang telah Allah perintahkan untuk disambung dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itu orang-orang yang merugi“
.
Dan bisa jadi tujuannya ini, kata beliau (Syaikh Al Ubailaan).
Terlebih apabila manusia telah berpecah belah dan ia termasuk orang-orang yang mencari kedudukan untuk dirinya dan untuk teman-temannya.
.
Apabila seorang muslim saja yang memerangi orang-orang kafir hanya karena sebatas keberanian atau karena riya’ ingin di puji. Itu bukan dijalan Allah.
.
Bagaimana dengan orang-orang ahli bid’ah yang berdebat, yang berjidal, diatas hawa nafsunya maka tentu mereka lakukan itu karena fanatik yang buta, maka tentu mereka lebih berhak lagi untuk dikatakan tidak di jalan Allah.
.

Maka dari itulah kewajiban kita adalah jangan sampai menjadikan ibadah ataupun agama ini sebagai wasilah untuk meraih dunia.
.
Sehingga pada waktu itu niat kita, tujuan kita hanya sebatas dunia saja.
.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Imam Ahmad, Tarmidzi dan yang lainnya:
.
‎مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ
.
“Tidaklah 2 ekor serigala yang lapar di lepaskan pada sekelompok kambing lebih berbahaya dari pada orang yang tamak terhadap harta dan kedudukan yang sangat bahaya untuk agamanya.“
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Aqidah Manhaj Salaf [Kaidah 24,25, & 26]

AQIDAH MANHAJ SALAF

KAIDAH yang ke 24

Mereka menetapkan bahwa MAKSUD TUJUAN SYARI’AT itu 3:

1. Menolak Mafsadat
2. Mendatangkan Maslahat
3. Berjalan di atas jalan yang baik dan kebiasaan yang bagus.

Adapun yang pertama yaitu MENOLAK MAFSADAT ini berhubungan dengan 6 perkara;

1. Agama
Sebagaimana Allah berfirman [QS Al-Baqarah : 193]

‎وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ

“Perangilah mereka sampai tidak lagi ada fitnah dan agama menjadi milik Allah Subhanahu wa Ta’ala“

2. Jiwa
Sebagaimana Allah berfirman [QS Al-Baqarah : 179]

‎وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Bagi kalian dalam qishaash itu terdapat kehidupan, hai orang-orang yang memiliki pikiran“

3. Akal
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan arak karena untuk mencegah akal.

4. Nasab
Allah mengharamkan zina karena untuk menjaga di nasab

5. Kehormatan
Allah berfirman [QS Al-Hujurat : 12]

‎وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

“Janganlah sebagian kalian mengghibahi yang lainnya_
Karena ini berhubungan dengan kehormatan.”

‎6. الـمـال (Harta)
Allah berfirman [QS An-Nisaa : 29]

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian dengan kebatilan diantara kalian“

Jadi inilah 6 perkara yang berhubungan dengan maksud yang pertama yaitu DAFUL MAFAASID (mencegah mafsadat).
.
.
Maksud yang ke dua yaitu JALBUL MASHAALIH (mendatangkan maslahat)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan semua segala sesuatu yang sifatnya maslahatnya besar untuk kehidupan manusia.
Allah berfirman “contohnya” [QS Al-Jumu’ah : 10]

‎فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila telah selesai sholat, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah berupa rezeki“
Karena itu adalah merupakan maslahat untuk mereka.

Allah juga berfirman [QS An-Nisa’ : 29]

‎إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Kecuali apabila itu adalah perdagangan yang kalian saling ridho padanya“
Yaitu kemaslahatan karena perdagangan adalah merupakan maslahat.

Demikian pula semua maslahat di perintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan semua mafsadat dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
.
.
Maksud yang ke tiga yaitu:
Akhlak yang baik dan adat kebiasaan yang bagus, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kita untuk berakhlak yang baik.

Allah berfirman [QS Al-Qalam : 4]

‎وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau wahai Muhammad diatas akhlak yang baik“

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga dalam hadits yang banyak menganjurkan kita kepada akhlak karimah yang baik, kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam kehidupan kita.
Nah inilah daripada TUJUAN DI SYARI’ATKANNYA SYARI’AT ISLAM, sungguh sangat mulia sekali.

Dimana tidak ada agama yang lebih mulia dari agama Islam yang tujuannya yang tiada lain adalah untuk memelihara kehidupan manusia, memberikan kepada mereka maslahat-maslahatnya dan menolak dari mereka hal-hal yang bisa merusaknya.
.
.
Maka Islam menganjurkan kita untuk senantiasa berakhlak yang baik terhadap tetangga, terhadap saudara, terhadap penguasa, terhadap ulama, apalagi kepada orangtua. Terlebih juga akhlak kita kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.

Wallahu a’lam

Kaidah yang ke 25

Penjelasan tentang sebagian sebab-sebab kebatilan itu laris di tengah masyarakat.

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan ada sekitar 5 sebab, kenapa kebatilan itu bisa laris di tengah masyarakat._
Kita akan bahas satu persatu…

Kata beliau:

SEBAB yang pertama :

Yaitu pelakunya yang ingin melariskan kebatilan itu datang membawa kata-kata yang indah, di berikan pakaian, kefasihan dan ungkapan-ungkapan yang mengasyikkan.

Maka orang-orang yang mempunyai akal yang lemah, pengetahuan yang dangkal itu segera menerimanya dan menganggapnya baik.

Bahkan orang-orang yang seperti ini akan segera meyakininya dan mengikutinya.
Karena ucapannya yang begitu indah.

Seperti di zaman sekarang kita lihat banyak mereka yang melariskan kebatilan itu berceramah dengan gaya yang sangat menarik, retorika, cara yang menawan, kata-kata yang lembut.
Sehingga orang-orang yang lemah pemikirannya sangat mudah sekali untuk menerimanya.
Ini di isyaratkan dalam firman Allah [QS Al-An ‘am : 112]

‎وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ

“Demikian kami jadikan untuk setiap Nabi itu berupa syaitan-syaitan manusia dan jin, sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lainnya ucapan yang dihiasi dengan tipuan“

‎ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ

“Kalaulah Allah atau Rabb-mu berkehendak, tentu mereka tidak akan melakukannya.”

‎فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan itu“

Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa musuh-musuh para nabi itu menggunakan kata-kata yang di indah-indahkan, sehingga akhirnya tertipulah orang-orang yang lemah keilmuannya, lemah akalnya.

SEBAB yang ke 2 :

Yaitu dia mengeluarkan makna yang ingin ia batalkan, artinya kebenaran itu di gambarkan dengan gambaran yang buruk, membuat manusia lari darinya.
Dimana ia berusaha untuk memilih lafadz-lafadz untuk membatilkan kebenaran itu dengan lafadz-lafadz yang paling tidak disukai oleh hati.
Sehingga akhirnya orang yang mendengarnya menganggap bahwa makna ayat atau makna hadits itu atau makna ucapan itu ternyata begitu padahal tidak demikian.

Demikianlah ahli bid’ah dan kesesatan di zaman sekarang mereka menamai Ahlus Sunnah dengan mujassimah, hasawiyah dan yang lainnya.

Mereka berusaha supaya manusia lari dari Ahlus Sunnah seperti halnya di zaman sekarang orang yang mengatakan Allah berada diatas Arsy, dianggap mujassimah.
Katanya dia menyamakan Allah dengan hambaNya.
Padahal hakikatnya ketika kita mengatakan Allah bersemayam di atas Arsy, tidak sama dengan hamba-hambaNya, justru mereka yang menolak.
Yaitu hakikatnya menyamakan dengan mahluknya.

Tapi itulah mereka gunakan dengan kata-kata yang membuat manusia itu lari.

SEBAB yang 3 :

Orang ahli bid’ah itu menisbatkan ta’wil dan kebid’ahan kepada orang yang tinggi kedudukannya.

Seperti ahlul bait misalnya atau ulama Misalnya:
Karena dengan seperti itu akan diterima oleh orang banyak.
Seperti orang yang menolak adanya Allah bersemayam diatas Arsy, menisbatkan bahwa itu ucapan keyakinan Imam Syafi’i rahimahullah.
Namun mereka sendiri tidak mampu untuk membawakan sanad kepada Imam Syafi’i rahimahullah.

Kenapa..?
Supaya di terima bahwa ini ada ucapan Ulama, apalagi ulama besar Imam Syafi’i rahimahullah, walau dengan tanpa sanad sekalipun. Mereka berusha berbagai macam cara supaya keyakinan mereka tersebut diterima.

SEBAB yang ke 4 :

Yaitu takwil atau kebid’ahan mereka itu diterima oleh orang-orang yang terkenal dalam suatu ilmu/pekerjaan yang sifatnya duniawiyah.

Misalnya:
dia terkenal sebagai profesor yang cerdik, cendikiawan atau terkenal sebagai seorang dokter atau seorang ilmuwan yang berhubungan dengan masalah pertanian atau yang lainnya.
Supaya bisa diterima oleh orang-orang awam.
Sehingga pada waktu itu mereka bisa melariskan kebatilan mereka dengan cara menisbatkan ucapan tersebut atau diterima oleh salah satu daripada orang-orang yang terkenal tersebut, tanpa melihat apa dia memang seorang ulama yang betul-betul berilmu ataukah dia ahli ilmu dunia saja yang penting terkenal dan diterima oleh masyarakat.

Halnya seperti di zaman kita, orang yang sangat terkenal itu sangat diketahui oleh masyarakat ketika menerima pendapat tersebut untuk di lariskan kepada masyarakat agar di terima untuk orang-orang awam yang lemah keilmuannya atau di zaman sekarang dengan cara di boomingkan seseorang, yang tentunya ilmunya sebetulnya bukan ilmu yang kuat, tapi sengaja boomingkan karena pendapat-pendapatnya itu menjadi subhat bagi orang-orang awam yang kurang faham apa dan bagaimana memahami dien dan dalil.

SEBAB yang ke 5 :

Yaitu menjadikan aneh bagi jiwa, bagi orang yang tidak mengenal makna-makna yang aneh.
Karena jiwa kita ini suka mencari yang aneh-aneh, biasanya langsung terkenal.
Maka dengan cara seperti ini mereka berusaha melariskan kebatilan, menggunakan cara seperti itu.

SEBAB yang ke 6 :

Memberikan mukadimah sebelum ia mentakwil, sebelum ia melariskan kebatilannya, dia menggunakan mukadimah-mukadimah akal yang bagaimana caranya supaya diterima.

Contoh misalnya :
kalau merekan memberikan, kalau Alqur’an dan Hadits bertabrakan dengan akal, maka akal didahulukan daripada dalil.

Atau mereka berkata Alqur’an atau Hadits itu masih mentah. Sedangkan pendapat ulama sudah matang. Maka lebih baik kita merujuk pendapat ulama tanpa melihat dalil.

Dan kebatilan-kebatilan yang lainnya yang merupakan mukadimah-mukadimah yang tujuannya ingin melariskan kebatilan mereka.

Wallahu a’lam

Kaidah yang ke 26

**Bahwa mereka mewanti-wanti manusia dari bahaya berbuat bid’ah dalam agama.

**Dan juga bahaya berkata atas Allah dengan tanpa ilmu.

Karena dua perkara ini adalah perkara yang bisa menghancurkan kemudian merusak syari’at Islam.

Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap kali khotbah Jum’at, beliau selalu berkata:

“Sebaik-baiknya ucapan adalah ucapan Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah dan seburuk-buruknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat.” (dikeluarkan Imam Muslim dalam shohihnya).

Bayangkan Nabi dalam khotbahnya selalu mengingatkan masalah bid’ah, ini menunjukkan kebid’ahan/bid’ah itu memang sangat bahaya sekali.
Bid’ah itu bisa merusak kesempurnaan Islam.

Bid’ah itu menyebabkan akhirnya di masukkan kedalam Islam sesuatu yang bukan agama, sehingga akhirnya seseorang yang tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil.

Demikian pula mereka mewanti-wanti agar jangan berkata atas Allah dengan tanpa ilmu.

Karena berkata tanpa ilmu ini sebab utama muncul berbagai macam pemikiran-pemikiran yang menyimpang, munculnya bid’ah, munculnya kesyirikan, munculnya penyimpangan adalah merupakan disebabkan adalah berkata atas Allah tanpa ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan [QS Al-A’raf : 33]

‎قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Katakanlah sesungguhnya Rabku mengharamkan perbuatan fahisya (maksiat) yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, dan berbuat zolim tanpa haq dan kamu mempersekutukan Allah dalam perkara yang tidak di turunkan padanya perkara ilmuNya.”

Kemudian Allah menutup ayat itu dengan firmannya

‎وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan kamu berkata atas Allah dengan tanpa ilmu“

Maka ini menunjukkan bahwa berkata tanpa ilmu itu merupakan itu adalah merupakan keharaman yang paling besar/ yang paling agung.
Sampai-sampai Allah menutup ayat tersebut dengan berkata tanpa ilmu .

Oleh karena itu ya Akhul Islam, Saudara-saudaraku sekalian kita berusaha dalam berbicara masalah agama ini betul-betul diatas ilmu, diatas dalil, diatas hujjah bukan sebatas ro’yu dan pendapat semata.

Karena agama ini yang berasal dari Allah dan itu adanya dari Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, adapun pendapat-pendapat ulama bukanlah dalil dan hujjah.

Hujjah itu Alqur’an dan Hadits.

Ulama itu hanya sebatas wasilah untuk memahami Alqur’an dan Hadits, bukan untuk menolak Alqur’an dan Hadits.

Maka dari itulah zaman sekarang, kita melihat banyak orang-orang yang mudah berbicara tanpa ilmu, sebatas dengan ro’yu-ro’yunya saja.

Allahul musta’an

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Mengikuti Kebiasaan Nenek Moyang Adalah Tradisi Jahiliyyah

MENGIKUTI KEBIASAAN NENEK MOYANG ADALAH TRADISI JAHILIYYAH

Oleh
✍🏻 Ustadz Fikri Abul Hasan

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, termasuk tradisi jahiliyyah adalah berdalil dengan kebiasaan nenek moyang tanpa melihat landasannya.

Allah berfirman:

قال فما بال القرون الأولى

“Fir’aun berkata, “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu.” (Thoha: 51)

Allah juga berfirman:

وما سمعنا بهذا في آبائنا الأولين

 

“Belum pernah kami mendengar (seruan seperti ini) pada masa nenek moyang kami terdahulu.” (Al-Mu’minun: 24)

Penjelasan Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fawzan

Seharusnya yang dilakukan oleh orang-orang yang berakal adalah melihat apa yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam lalu membandingkannya dengan apa yang diajarkan oleh nenek moyang mereka sehingga menjadi jelaslah mana haq dan mana yang batil. Adapun jika mereka menutup diri dan berkata,

“Kami tidak akan menerima kecuali yang sesuai ajaran nenek moyang kami dan kami tidak mau menerima apa-apa yang menyelisihinya”.

Maka tindakan seperti ini bukanlah sikapnya orang-orang yang berakal, lebih-lebih lagi bagi mereka yang menginginkan keselamatan.

Saat ini banyak sekali para penyembah kuburan jika mereka dilarang dari mengkeramatkannya mereka beralasan, “Tradisi ini sudah berlaku sejak dulu di negeri ini, dilakukan oleh banyak orang, dan sudah berlangsung lama”. Begitu pula dengan orang-orang yang membuat perayaan maulid padahal tidak ada contohnya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan para shohabat, jika mereka dinasehati dan dilarang bahwa perayaan itu adalah mengada-ada dalam Islam, maka mereka beralasan, “Perayaan ini sudah dilakukan oleh orang-orang sebelum kami, kalau saja ini batil tentu mereka tidak akan melakukannya.” Alasan seperti ini sama seperti alasan orang-orang di masa jahiliyyah.

Maka ukuran kebenaran bukan berdasarkan pendapat manusia, akan tetapi didasarkan kepada apa yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Manusia mereka bisa benar dan bisa salah sedangkan ajaran yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kebenarannya pasti maka yang harus dilakukan adalah meneladaninya.

Allah tidak mewakilkan kita kepada orangtua kita dan nenek moyang kita. Andaikata apa yang menjadi tradisi orangtua dan nenek moyang itu mencukupi kita tentu kita tidak perlu berhujjah lagi dengan ajaran yang dibawa oleh para Rosul ‘alaihimussholatu wassalam.

(Syarh Masa’il Jahiliyyah 64-65 secara ringkas)


Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Wasiat-Wasiat Generasi Salaf

Oleh :

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari

GENERASI SALAF SEBAGAI GENERASI PILIHAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah : 100]

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pujian kepada para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah generasi terbaik yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nya dalam mengemban risalah ilahi.

Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau kelebihan mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi Rabbani yang selalu mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan menapak tilasi jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan bisa meraih kembali masa keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik”. Sungguh sebuah ucapan yang pantas di tulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini mengambil generasi terbaik itu sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan niscaya kebahagiaan akan menyongsong mereka.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf menyucikan jiwa mereka, yang kami nukil dari petikan kata-kata mutiara dan hikmah yang sangat berguna bagi kita.

SALAF DAN TAZKIYATUN NUFUS
Salah satu sisi ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Allah selalu menyebutan tazkiyatun nufus bersama dengan ilmu. Allah berfirman:

كَمَآأَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّالَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [Al-Baqarah : 151]

Artinya, ilmu itu bisa jadi bumerang bila tidak disertai dengan tazkiyatun nufus. Oleh sebab itu dapat kita temui dalam biografi ulama salaf tentang kezuhudan, keikhlasan, ketawadhu’an dan kebersihan jiwa mereka. Begitulah, mereka selalu saling mengingatkan tentang urgensi tazkiyatun nufus ini. Dari situ kita dapati ucapan-ucapan ulama salaf sangat menghunjam ke dalam hati dan penuh dengan hikmah. Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: “Mengapa ucapan-ucapan para salaf lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita?” beliau menjawab: “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman, sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia dan mencari ridha manusia!”

SALAF DAN KEGIGIHAN DALAM MENUNTUT ILMU
Imam Adz-Dzahabi berkata: “Ya’qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari Shalih bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar berkata: “Saya datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya: “Sampaikanlah kepadaku beberapa hadits!” Beliau berkata: “Bacalah!”
“Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku!” jawabku.
“Bacalah!” kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau. Akhirnya ia berkata: “Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan pukul dia lima belas kali!” Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku lima belas cambukan. Kemudian ia membawaku kembali kepada beliau. Pelayan itu berkata: “Saya telah mencambuknya!” Maka aku berkata kepada beliau: “Mengapa tuan menzhalimi diriku? tuan telah mencambukku lima belas kali tanpa ada kesalahan yang kuperbuat? Aku tidak sudi memaafkan tuan!”
“Apa tebusannya?” tanya beliau.
“Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits!” jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan kepada beliau: “Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits untukku!” Imam Malik hanya tertawa dan berkata: “Pergilah!”

SALAF DAN KEIKHLASAN
Generasi salaf adalah generasi yang sangat menjaga aktifitas hati. Seorang lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau. Dengan marah ia berkata: “Demi Allah satu rakaat yang kukerjakan di tengah malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada orang-orang!”

Ar-Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!”

Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti, mendengarkan dan mencintai mereka. Imam Mujahid pernah berkata: “Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati manusia kepadanya.”

Memang diakui, menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan tidak mendapat bagian apapun darinya. Sahal bin Abdullah berkata: “Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.”

Sehingga Abu Sulaiman Ad-darani berkata: “Beruntunglah bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha Allah!”

Mereka juga sangat menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasan, seperti gila popularitas, gila kedudukan, suka dipuji dan diangkat-angkat.

Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: “Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka popularitas.”

Yahya bin Muadz berkata: “Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan.”

Abu Utsman Sa’id bin Al-Haddad berkata: “Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila sanjungan.”

Oleh karena itulah ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada murid-muridnya. Ar-Rabi’ bin Shabih menuturkan: “Suatu ketika, kami hadir dalam majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: “Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat ini!”

SALAF DAN TAUBAT
Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!

‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar.”

Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!”

TANGIS GENERASI SALAF
Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Ketika membaca firman Allah:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” [Al-Ahzab : 33]

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.

Demikian pula Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, ketika membaca ayat.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” [Al-Hadid : 16]

Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.

Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat

لِيَوْمٍ عَظِيمٍ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” [Al-Muthaffifiin : 5-6]

Beliau menangis dan bertambah keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.

SALAF DAN TAWADHU’
Pernah disebut-sebut tentang tawadhu’ di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: “saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu’!” Mereka berkata: “Apa itu tawadhu’ wahai Abu Sa’id?” Beliau menjawab: “Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.”

Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin Uyainah, ia berkata: “Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih senior dari kami.”

Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: “Apa itu tawadhu’?” Ia menjawab: “Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!”

Mutharrif bin Abdillah berkata: “Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali diriku merasa semakin kecil.”

SALAF DAN SIFAT SANTUN
Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata: “Apakah engkau gila!” Umar menjawab: “Tidak” Namun para pengawal berusaha meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya berkata: “Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak.”

Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: “Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau!” Ia menjawab: “Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain engkau!”

SALAF DAN SIFAT ZUHUD
Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.”

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: “Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.”

Demikianlah beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi kita dalam menuju proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dalam meniti jejak generasi salaf dalam setiap aspek kehidupan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]


Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

AMBIL YANG BAIKNYA DAN BUANG YANG BURUKNYA

Demikianlah diantara kaedah yang bathil terkait menuntut ilmu dan bermajlis ilmu. Karena diantara adab didalam menuntut ilmu adalah tidaklah ilmu diambil kecuali dari Ulama Ahli Sunnah, maka ambilah kebenaran darimanapun datangnya, akan tetapi didalam menuntut ilmu maka perhatikanlah darimana ilmu itu diambil, wajib berhati hati memilih tempat pengajian, waspada didalam menghadiri majlis majlis ilmu.

Imam Muhammad Ibnu Sirin -rahimahullah- berkata :

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

 

“Sesungguhnya ‘Ilmu ini adalah Agama, maka perhatikanlah darimana kalian mengambil agama kalian”

(Muqaddimah shahih Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda :

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي نَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ.

 

“Akan muncul pada akhir jaman sekelompok manusia yang akan menceritakan hadits kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian mendengarnya demikian juga bapak-bapak kalian. Maka berhati-hatilah kalian dari mereka.”

(Syarah Sunnah, Al Baghawi no 107, Muqaddimah shahih Muslim, hal. 6)

Menuntut ilmu dari ahli bid’ah berkonsekwensi menyalahi prinsip agama yaitu menghajer dan memboikot ahli bid’ah.

Al-Imam Al-Baghawi -Rahimahullah– menyebutkan kesepakatan ulama salaf dalam memboikot ahlul bid’ah, beliau berkata:

وَقَدْ مَضَتِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ وَأَتْبَاعُهُمْ، وَعُلَمَاءُ السُّنَّةِ عَلَى هَذَا مُجْمِعِينَ مُتَّفِقِينَ عَلَى مُعَادَاةِ أَهْلِ الْبِدْعَةِ، وَمُهَاجَرَتِهِمْ.

“Dan telah berlalu para shahabat, tabi’in, dan pengikut mereka, serta ulama sunnah atas perkara ini, yaitu mereka bersepakat untuk memusuhi ahlul bid’ah dan meninggalkan mereka.”(Syarhus Sunnah 1/227)

Al-Imam Abdurrahman bin Mahdi -rahimahullah– berkata :

ثلاثة لا يؤخذ عنهم: المتهم بالكذب، وصاحب بدعة يدعو إلى بدعته، والرجل الغالب عليه الوهم والغلط.

“Tiga (jenis manusia) yang tidak diambil (ilmunya) dari mereka, yaitu: Orang yang tertuduh melakukan kedustaan, Pelaku kebid’ahan yang menyeruh kepada bid’ahnya, dan seseorang yang cenderung keliru dan salah” (Syarah ‘ilal At Tirmidzi 1/110)

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata,

أَخْزَى اللَّهُ الكَرَابِيْسِي، لا يجالس ولا يكلم، ولا تكتب كتبه، ولا تجالس من يجالسه.

“Semoga Allah menghinakan al-Karobisi (salah satu tokoh Ahli Bid’ah), tidak boleh dijadikan teman duduk, tidak boleh diajak bicara, tidak boleh disalin kitab-kitabnya, dan kami tidak duduk bersama orang yang duduk dengannya.” (Al Masaail riwayat Ibnu hani An Naisaburi 3/154)

Abdul Wahhab Al-Khaffaf -rahimahullah– berkata,

مررت بعمرو بن عبيد وحده ، فقلت : مالك ؟ تركوك ! قال : نهى الناس عن ابن عون ، فانتهوا

“Aku melewati Amr bin Ubaid (tokoh mu’tazilah) sedang duduk sendirian. Maka aku bertanya kepadanya, “apa yang terjadi denganmu sehingga manusia meninggalkanmu?’ Ia menjawab, ‘Ibnu ‘Aun (ulama sunnah) telah melarang manusia dariku, maka mereka pun pergi (meninggalkanku).” (Mizanul I’tidal 3/274)

Sufyan Ats-Tsauri -rahimahullah- berkata,

مَنْ سَمِعَ مِنْ مُبْتَدِعٍ لَمْ يَنْفَعْهُ اللَّهُ بِمَا سَمِعَ وَمَنْ صَافَحَهُ فَقَدْ نَقَضَ الإِسْلَامَ عُرْوَةً عُرْوَةً

“Barangsiapa mendengar dari ahli bid’ah, maka Allah tidak akan memberi manfaat dengan apa yang ia dengar. dan barangsiapa berjabatan tangan dengannya, maka sungguh ia telah melepas Islam seutas demi seutas.” (Al-Jami’ Li AKhlaqi Ar-Rawi 1/138 hal.163)

Al Fudhail bin Iyadh -rahimahullah– berkata :

مَنْ أَحَبَّ صَاحِبَ بِدْعَةٍ، أَحبَطَ اللهُ عَمَلَهُ، وَأَخْرَجَ نُوْرَ الإِسْلاَمِ مِنْ قَلْبِهِ، لاَ يَرْتَفِعُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ إِلَى اللهِ عَمَلٌ، نَظَرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجلُو القَلْبَ، وَنَظَرُ الرَّجُلِ إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ يُورِثُ العَمَى، مَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ لَمْ يُعْطَ الحِكْمَةَ.

“Barang siapa yang mencintai ahlil bid’ah maka gugurlah amalannya, keluar cahaya islam dari dalam hatinya, ahli bid’ah amalannya tidak akan naik (diterima), seorang mukmin ketika melihat saudaranya yang mukmin akan membeningkan hati, sementara melihat ahli bid’ah akan mengakibatkan kebuataan (hati) dan barang siapa yang duduk dengan ahli bid’ah maka tidak akan diberi hikmah (ilmu)” (Siyar A’lam an Nubala 8/435)

Al-Qahthani -rahimahullah- berkata dalam bait sya’ir Nuniyah nya,

لا يصحب البدعي إلا مثله … تحت الدخان تأجج النيران

” Tidaklah berteman dengan ahli bid’ah kecuali orang yang sepertinya …di bawah asap ada api yang berkobar “ (An Nuniyah, hal. 45)

Oleh karena itu, janganlah mengambil ilmu dari ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang atau memiliki penyakit di dalam hatinya. Karena mengambil ilmu dari mereka akan mewariskan penyimpangan dari al-haq baik disadari ataupun tidak.

Bundar Ibnul Husein -rahimahullah- berkata,

صُحْبَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ تُورِثُ الْإِعْرَاضَ عَنِ الْحَقِّ

 

Berteman dengan ahli bid’ah akan mewariskan berpalingnya dari kebenaran.” (As-Siyar 16/106)

Maka didalam menuntut ilmu syari’at ini tidak dibenarkan berprinsip ambil ilmu dari siapa saja, lalu ambil yang baiknya dan buang yang buruknya, karena bagaimana mungkin kita mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk, sementara ilmu kita tidak kokoh karena bercampur aduknya pemahaman yang hak dan yang bathil. (Dinukil dari kitab An Nubadz Fi Adabi Tholabil ‘Ilmi, hal. 17-20, karya Syaikh Hamad Ibrahim Al-‘Utsman hafidzahullah)

Abu Ghozie As Sundawie

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Langkah Setelah Hijrah

-Manhaj-

LANGKAH SETELAH HIJRAH

Oleh : Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsar

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda

يحشر المرء على دين خليله ، فلينظر أحدكم من يخالل

Seorang akan di kumpulkan (di hari kiamat) berdasar agama teman dekat nya, maka hendaknya kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya

(Hr. Abu Dawud 4833. Tirmidzy 2378. as Shahihah 927).

لا تصاحب إلا مؤمنا ، و لا يأكل طعامك إلا تقي

Jangan kalian bersahabat kecuali dengan seorang yang beriman, dan hendaknya jangan ada yang memakan makanan kalian kecuali orang yang bertaqwa

(Hr. Abu Dawud 4832. Tirmidzy 2390. Shahih Jami 3741).

Imam Abu Farj Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab rahimahullah berkata,

“Orang yang bermaksiat adalah orang yang membawa kesialan pada diri nya dan orang lain,

Karena di khawatirkan azab akan di turunkan kepadanya, lalu azab itu menimpa manusia secara merata, khususnya bagi orang yang tidak mengingkari perbuatan tersebut,

Oleh karena itu, menjauhkan diri darinya adalah keharusan.

Pada saat pembunuh seratus nyawa dari bani Israil bertaubat dan bertanya kepada orang Alim, adakah taubat baginya, lalu orang Alim berkata “ya, siapa yang dapat menghalagi seorang hamba dari taubatnya ?”, lalu sang Alim tadi menyuruhnya untuk meninggalkan kampung yang rusak menuju perkampungan yang baik,

Kemudian kematian menghampirinya ketika di antara dua kampung tersebut,

Terjadilah perdebatan antara malaikat rahmat dan malaikat azab, mengenai orang tersebut,

Kemudian Allah taala mewahyukan kepada mereka agar mengukur jarak antara dua kampung, manakah yang lebih dekat, maka ia di golongkan ke tempat itu,

Malaikat itu mendapati bahwa orang itu lebih dekat ke perkampungan yang baik dengan selisih jarak satu lemparan batu,

Maka orang itu di ampuni.

(lihat sendiri kisahnya di Bukhari 3470. Dan Muslim 2766)

Menjauhi tempat maksiat dan para pelakunya merupakan hijrah yang di perintah,

Karena seorang muhajir adalah orang yang berhijrah dari yang di larang Allah taala,

Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata

“barang siapa ingin bertaubat, maka hendaknya ia keluar dari tempat tempat yang penuh kezaliman dan tidak bergaul dengan teman teman sebelumnya, jika tidak, maka apa yang di inginkan tidak akan tercapai”

Bersikap hati hatilah kalian dari perbuatan dosa karena ia adalah kesialan, membuat seorang hamba menjadi hina, balasannya adalah azab yang pedih, hati yang menyukainya adalah hati yang sakit, jiwa yang condong padanya adalah jiwa yang menyimpang, selamat darinya merupakan keutamaan, terbebas darinya adalah kebahagiaan, melakukan dosa, apalagi setelah beruban, adalah musibah besar.

Wahai orang orang yang kehilangan hatinya, carilah hati tersebut di majelis majelis dzikir (majelis nasehat dan ilmu), mudah mudahan engkau menemukannya kembali,

Wahai orang orang yang sakit hatinya, bawalah hati itu ke majelis majelis dzikir, mudah mudahan hatimu terobati,

Majelis dzikir (majelis nasehat dan ilmu) adalah tempat berobat bagi perbuatan dosa,

Yakni, hati yang sakit akan di obati sebagaimana di obati penyakit jasmani di tempat tempat berobat (rumah sakit) dunia,

Majelis dzikir ibarat tempat rekreasi bagi hati seorang beriman, yaitu ketika hatinya bertamasyah dengan menikmati ucapan ucapan hikmah, layaknya rekreasi yang di lakukan manusia di kebun dan taman dunia,

Majelis kami adalah majelis di dalam kebun ke khusyu’an, santapan kami adalah rasa lapar, minuman kami adalah air mata, yang kami bisa menukil ucapan hikmah yang di dengar,

Di dalamnya kami bisa mengobati penyakit yang tidak bisa di obati oleh Jalinus dan Bakhtisyu,

Di dalamnya kami meminum ramuan penawar dosa dan maksiat, barang siapa meminumnya, maka ia tidak akan kembali kepada kemaksiatan,

Betapa banyak orang yang tidak sadar (pinsan) yang sadar akan kemasiatannya, betapa banyak orang yang terbebas dari sengatan hawa nafsunya, dan betapa banyak orang yang terputus dari rahmat Allah kembali pada rahmat Nya ?,

Jika seorang thabib (dokter) bersedia meminum resep yang di berikan untuk mengobati manusia (pasien), tentu ucapannya akan di turuti,

Wahai orang orang yang mensia siakan umurnya, sungguh sukses (berhasil) orang orang yang mendengarkan perkataan yang baik, (namun) orang yang di dengarkannya (ucapannya) menjadi celaka,

Wahai orang orang yang gagal usahannya, sungguh telah sampai ke tujuannya orang orang yang mengikuti perkataan yang baik, (namun) orang yang di ikutinya menjadi tertinggal”

📚 كتاب لطائف المعارف فيما لمواسمالعام من الوظائف 134 – 136.

Cat. :

1. Jalinus adalah dokter di masa yunani kuno (201 sm)

2. Bakhtisyu bin jarjis adalah dokter dari Syiriah di masa Khalifah Abbasyiah (184 h)

Lihat al a’lam 2/44)

Ucapan terakhir ibnu rajab ini, kelihatannya di tujukan pada diri beliau sendiri, bila beliau sampai berani menyalahi ucapan dan nasehatnya sendiri.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Beberapa Penyimpangan Aqidah

Beberapa penyimpangan aqidah

Ikhwanul Muslimin (IM)

 Aqidah kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) sangat erat dengan aqidah pendirinya yaitu Hasan Al-Banna di Mesir. Beliau mengaku bahwa aqidah yang dianutnya mengambil dari thoriqot shufiyyah al-hasshofiyyah. Beliau juga beraqidah tafwidh yang menyelisihi aqidah Salaf dalam perkara tauhid al-asma’ was shifat. Dan kelompok Ikhwanul Muslimin ini sejak berdirinya sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran bid’ah Jamaluddin Al-Afghoni.

Namun seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran di kemudian hari dari kader-kader kelompok Ikhwanul Muslimin. Yaitu sebagian dari mereka tetap mengikuti Hasan Al-Banna. Sebagian yang lainnya mengikuti pemikiran Sayyid Quthb; tokoh ini yang menjadi sumber inspirasi bagi gerakan khowarij kontemporer. Dan sebagian yang lain mengikuti salaf dalam perkara aqidah tauhid dengan merujuk kepada kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab lantaran menetap di Saudi.

Akan tetapi mereka semua pada hakikatnya satu jasad yakni berjalan di atas manhaj yang satu yaitu manhaj ahlul bid’ah wal furqoh yang menganggap daulah sebagai tujuan, menganggap politik (kekuasaan) sebagai ushul syariat sehingga menghalalkan segala cara dengan alasan maslahat, fanatik hizbiyyah (kelompok), tidak perhatian dengan dakwah tauhid dan aqidah, menghidupkan bid’ah, berloyalitas dengan kelompok-kelompok yang menyimpang dan masih banyak lagi sebagaimana yang telah diperingatkan oleh para Ulama. Wa billahit tawfiq.

Syiah rofidhoh dianggap sesat oleh para Ulama lantaran i’tiqod (keyakinan) mereka bahwa Allah tidak menjaga kesucian Al-Qur’an. Mereka meyakini Al-Qur’an telah diubah oleh tangan-tangan kotor seperti perubahan yang terjadi pada kitab Taurot dan Injil. Keyakinan sesat ini telah dibantah oleh Allah dalam firman-Nya surat Al-Hijr ayat ke 9 bahwa Al-Qur’an tidak akan pernah berubah sampai hari Kiamat.

Syiah mengkafirkan orang-orang yang dipuji oleh Allah yaitu para shohabat Nabi kecuali segelintir saja. Syiah juga berlaku ghuluw (melampaui batas) terhadap Ali bin Abi Tholib dan keluarganya sampai meyakini Ali sebagai titisan Allah yang berhak disembah dan Ali telah mengingkarinya.

Masih banyak lagi keyakinan Syiah yang sesat dan kufur seperti keyakinan al-bada’ (ada hal-hal yang tersembunyi dari Allah), mengklaim para Ulama mereka lebih tinggi kedudukannya dari para nabi dan para malaikat, menghalalkan nikah mut’ah, menghalalkan dusta yang semua itu membuktikan bahwa Syiah rofidhoh kelompok yang berada di luar Islam.

Shufi atau tarekat Shufiyyah penyimpangannya antara lain beragama hanya mengandalkan perasaan, mimpi-mimpi dan cerita-cerita khurofat. Bukan mengikuti dalil-dalil Al-Qur’an was Sunnah berdasarkan pemahaman Salafussholih.

Syiah dan Shufi keduanya ajaran yang memiliki keserupaan yaitu sama-sama mengultuskan Ulamanya, sama-sama mengkeramatkan kuburannya, sama-sama membenci dakwah tauhid dan sunnah dengan slogan cinta Allah, cinta Nabi dan keluarganya.
___________

Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Manhaj Salaf dalam Beraqidah

Pengertian aqidah dijelaskan oleh Syaikh Nashir bin Abdil Karim Al-‘Aql dalam pendahuluan kitab beliau,  “Mujmal Ushul Ahlissunnah wal Jama’ah fil Aqidah”:

العقيدة لغة: من العقد، والتوثيق، والإحكام، والربط بقوة. اصطلاحاً: الإيمان الجازم بالذي لا يتطرق إليه شك لدى معتَقِده.

Aqidah dalam bahasa Arob berasal dari kata al-‘aqd (ikatan), at-tawtsiq (keyakinan), al-ihkam (mengokohkan), ar-robthu biquwwah (mengikat dengan kuat). Sedangkan menurut istilah ialah keimanan yang pasti dan tidak ada celah sedikitpun keraguan pada diri orang yang meyakininya.

فالعقيدة الإسلامية تعني: الإيمان الجازم بالله تعالى ـ و ما يجب له من التوحيد والطاعة ـ وبملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقدر، وسائر ما ثبت من أمور الغيب، والأخبار، والأصول، علمية كانت أو عملية

Maka yang dimaksud aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang pasti kepada Allah dengan menjalankan kewajibannya dari hak-hak tauhid dan ketaatan, dan keimanan yang pasti kepada malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir, taqdir yang baik dan buruk, dan keimanan yang pasti terhadap segenap perkara yang ghoib, berita-berita, serta ushul (prinsip-prinsip) agama, baik secara ilmiyyah maupun amaliyyah.

Adapun manhaj Salaf dalam beraqidah poinnya sebagai berikut:

1. Dalam perkara i’tiqod (keyakinan) sumber pengambilannya murni dari Al-Qur’an was Sunnah serta memahami keduanya dengan pemahaman shohabat Nabi, tabi’n dan tabi’it tabi’in.

2. Menjadikan sunnah yang shohihah sebagai hujjah dalam beraqidah, baik sunnah yang berkualitas mutawatir maupun ahad.

3. Tunduk terhadap setiap pemberitaan yang bersumber dari wahyu dan tidak menolaknya dengan akal. Tidak tenggelam dalam perkara ghoib karena hal itu bukan wilayah kerja akal.

4. Tidak larut dalam pembahasan ilmu kalam maupun filsafat.

5. Membantah ilmiyyah pena’wilan (memalingkan makna) secara batil.

6. Menjama’ (mengompromikan) dalil-dalil Al-Qur’an was Sunnah dalam menjawab satu permasalahan. (Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah hal. 48 Syaikh Abdussalam As-Suhaimi)
__________

✍🏻 Fikri Abul Hasan

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Taqlid dan Pengaruh Buruknya

Berikut beberapa faidah dari daurah bersama Syaikh Abdul Hadi al Umairi yang berlangsung di Mesjid Al Fitrah (Rabu, 6 Juli 2018.)
 

Taqlid dan Pengaruh Buruknya

📋 Fawaaid:

✅ Pembukaan dengan khutbah hajah, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

✅ Termasuk kenikmatan dari Allah mengumpulkan hambaNya di rumah Nya, mempelajari agamanya dan sunnah-sunnah nabi Nya.

✅ Kenikmatan lainnya adalah kemudahan untuk berkumpul di majlis ilmu. Semua ini adalah tanda kebaikan.

✅ Syaikh menyampaikan (sering menyampaikan pada kesempatan lainnya) dari apa yg beliau lihat di negeri ini (berupa) hijab dan shalat jamaah yang diamalkan. Beliau bersyukur dengan kondisi ini dimana pada masa yg sunnah terasing, namun terlihat syiar di tempat ini. Beliau merasakan perbedaan dengan tempat-tempat lainnya. Beliau menegaskan wajibnya menjaga stabilitas di tempat ini, ukhuwah dan perkara-perkara yang mendukung syiar agama.

✅ Materi kajian “Taqlid dan dampak buruknya” adalah materi yg sangat penting. Apalagi masa seperti ini, ilmu agama sangat dibutuhkan dan merupakan kebaikan dari Allah hambaNya.

Sebagaimana dlm hadits shahih:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين.

Kebalikan dari hadits di atas, bukanlah kebaikan ketika Allah menjauhkan ilmu agama dari seorang hamba.

✅ Imam Ahmad mengingatkan perihal pentingnya ilmu agama. Kebutuhan manusia terhadap ilmu agama lebih besar dari kebutuhan terhadap makan dan minum.

Dimana makan minum mencukupi dengan 2 atau 3 kali, namun ilmu agama dibutuhkan setiap saat dalam setiap urusan.

✅ Ilmu agama adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan oleh Rasulullah. Termasuk ilmu agama adalah ijma dan qiyas yang benar.

✅ Allah menyebutkan kondisi Yahudi dan Nasrani, dimana Yahudi dimurkai Allah karena tidak mengamalkan apa yg mereka ketahui, adapun Nasrani disesatkan Allah karena beramal tanpa ilmu.

✅ Pertengahan adalah umat Rasulullah yang berada diantara Yahudi dan Nasrani, dimana umat Rasulullah yang sejati bersemangat belajar ilmu agama dan semangat mengamalkannya, keduanya merupakan kenikmatan dari Allah.

✅ Taqlid secara umum adalah seseorang menerima ucapan orang lain tanpa adanya upaya mengetahui hujjah dan memahami dalil. dan mayoritas umat manusia terjebak dengan taqlid.

✅ Diantara dasar-dasar yang perlu diketahui: Rabb kita adalah satu, kitab kita satu, nabi kita satu, kiblat kita satu.

✅ Allah berfirman: “wahai umat manusia, beribadahlah kalian kepada Rabb kalian yg telah menciptakan kalian dan umat-umat sebelum kalian.”

✅ Syariat yang Allah turunkan kepada para nabi adalah mengajarkan untuk mentauhidkan Allah, demikian juga yg diturunkan kepada Rasulullah.

✅ Al-Qur’an adalah satu yang diturunkan kepada Rasulullah untuk disampaikan kepada umatnya, maka seorang muslim wajib merealisasikan: Mentaati Rasulullah, membenarkan apa yg disampaikan, melakukan apa yg diperintahkan, menjauhi larangan, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yg diajarkan oleh Rasulullah.

Inilah yang harus diwujudkan dalam kehidupan, sehingga dengan ini tidak ada celah untuk berpecah.

✅ Tidak ada sosok yang boleh diikuti secara mutlak selain Rasulullah. Wajib mengikuti perintahnya, menjauhi larangannya dan ini bukanlah sikap taqlid, namun ini merupakan ittiba’. Semuanya, baik laki-laki maupun wanita wajib mengikuti perintahnya.

✅ Allah telah menegaskan dalam firman Nya. “sungguh telah ada dalam diri Rasulullah ushluh yg banyak,” Dalam ayat lain Allah berfirman “apa yang datang darinya ambillah..,”

✅ Rasulullah telah bersabda: “tunaikanlah shalat sebagaimana kalian melihat aku shalat“, demikian juga hadits manasik haji.

✅ Kesetiaan para sahabat adalah kesetiaan secara totalitas, bahkan para sahabat mencintai sampai makanan yg disukai Rasulullah dalam keadaan mereka tidak menyukai sebelumnya. Mereka selalu bergegas mengamalkan apa yg disampaikan Rasulullah dalam semua perkara dan ini pula yg diajarkan kepada para tabiin.

✅ Tidak ada sikap taqlid pada masa shahabat, tabiin dan generasi setelah mereka hingga abad ke 3.

✅ Mulai abad ke 4 mulai muncul taqlid kepada sosok tertentu.

✅ Ibn Suud berkata: “aku hanya beriman dengan apa yg Rasulullah dengannya beriman…”.

Ibn Umar berkata “aku berkata Rasulullah bersabda namun kalian berkata umar berkata demikian, aku kuatir akan dijatuhkan ke atas kalian batu dari langit.

Demikian pula dengan para imam 4 yang mashur, berkata:

➡ Imam Abu Hanifah: “Tidak halal bagi kalian mengambil ucapan ku jika kalian tidak tahu dr mana aku mengambil nya.”

➡ Imam Malik: “Semua orang berhak diambil dan ditolak pendapat nya kecuali pemilik kubur ini (Rasulullah).”

➡ Imam Syafi’i: “Bila itu hadits shahih maka itulah mazhabku.”

➡ Imam Ahmad: “Jangalah kalian taqlid padaku, juga Syafi’i, abu Hanifah, dan auza’i.”

✅ Abu Yusuf, adalah murid abu Hanifah namun mereka tidak sepakat dalam sepertiga pendapat abu Hanifah. Beliau tidak bertaqlid, dan demikian murid-murid besar para imam, mereka tidak bertaqlid namun menggali dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

✅ Taqlid muncul pada abad ke4. Secara umum taqlid ada 2:

1. Sifatnya masyru’

Taqlid jenis ini ada perbedaan diantara ulama. Diantara mereka ada yg melarang secara mutlak dengan alasan hakikatnya tidak ada yg boleh diikuti secara totalitas selain Rasulullah. Sebagian lain berpendapat wajib untuk bertaqlid, yang ini akan menutup pintu ijtihad.

➡ Ibn Qudamah dan lainnya mengambil jalan pertengahan dengan membolehkan taqlid.

➡ Ibn Taimiyah, Al bani menyatakan bolehnya taqlid yang masyru’ (beliau menyatakan tidak menemukan dalil yg melarangnya) dengan alasan bahwa kaum muslimin tidaklah satu tingkatan dalam memahami ilmu agama. Ada yg mampu berijtihad dan sebagian besar tidak mampu berijtihad, maka kondisi ini membolehkan taqlid, bahkan ijma’ ulama berpendapat demikian.

Hal yang sangat penting bagi awam muslimin menyatakan aku mengikuti pendapat imam ini dan ini dr imam ahlussunah dalam perkara asma wa shifat. Karena mereka tidak mengetahui secara mendalam ttg iradah kauniyah, iradah syari’iyyah.

2.Yang Tercela

Adapun yang kedua yaitu taqlid yang sangat tercela (mazmum).

➡ Imam Syafi’i berkata, telah sepakat ulama bila telah datang dari Rasulullah sunnah yang jelas maka tidak boleh baginya meninggalkan sunnah itu untuk mengikuti yang lainnya.

Ketika hal itu dilanggar maka muncullah sikap fanatisme (ta’ashub) yg berlebihan sampai saling mengkafirkan.

Contohnya, muncul dari sebagian muqallid Hanafi untuk tidak boleh menikahkan anak perempuan mereka dengan laki-laki dari syafiiyah namun boleh sebaliknya.

✅ Akibat buruk dari taqlid diantaranya adalah terpecah belah kaum muslimin.

Dulunya di Masjidil Haraam ada 4 sampai dengan 5 tempat imam, yg shalat sesuai mazhabnya. Hal tersebut muncul karena taqlid yang tercela, dan terjadi hingga dakwah tauhid yang kemudian hanya 1 imam. Di Damaskus bahkan masih terjadi hingga saat ini.

✅ Perpecahan muncul dari ta’ashub, disebabkan oleh fanatisme yg lahir dr sikap taqlid mazmum, yang mengingkari hadits 2 yang jelas. Padahal sudah jelas larangan berbuat demikian.

✅ Diantara para muqallid menyatakan, jika hadits tidak ada dalam mazhab kami maka hadits itu dalam 2 kondisi, mansukh atau dhaif, dan sikap-sikap ekstrim lainnya seperti menganiaya ulama2 yg menyelisihi pendapat mazhab mereka.

✅ Sikap yg benar adalah seperti dikatakan Syafi’i, siapapun yang telah datang baginya hadist dan sunnah yang shahih, tidak boleh baginya mengambil pendapat selainnya.

✅ Syaikh menambahkan, mengingatkan janganlah menganggap enteng persaudaraan walau hanya dengan senyum. Rasulullah mengatakan senyuman kamu bagi saudaramu adalah sedekah.

✅ Beliau mempersaksikan bahwa orang Indonesia memiliki kebiasaan yang tidak didapatkan di negeri-negeri lainnya, yaitu tersenyum kepada saudaranya, bahkan kepada yg belum dikenalnya. Begitulah pengalaman Syaikh di tempat-tempat mulai dari bandara, toko dsb.

✅ Karena sebagian kita tidak mampu bersedekah dengan harta, maka senyum adalah sedekah oleh kaya maupun yg miskin.

Selesai.

✒ Disimpulkan oleh: Tim Syiar Tauhid Aceh
🌍 Sumber: https://bit.ly/2KPRkM9

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Salah Kaprah Soal Manhaj

Manhaj artinya metode atau cara beragama. Sedangkan Salaf adalah ringkasan dari kata Salafussholih yaitu para pendahulu yang sholih dari kalangan shohabat Nabi, tabi’in, tabi’it tabi’in. Maka manhaj Salaf pengertianya cara beragama yang diajarkan oleh Salafussholih baik dalam perkara aqidah, ibadah maupun akhlaq.

Terminologi manhaj secara khusus sesungguhnya lebih menitikberatkan kepada masalah prinsip yang membedakan antara ahlussunnah dengan ahlul bid’ah. Oleh karena itu tak perlu heran apabila ada dai yang selalu tegas setiap kali menyinggung masalah manhaj. Selama tujuannya untuk menyelamatkan manusia dari fitnah dan tidak dijadikan stempel untuk fanatik buta.

Justru yang mengherankan apabila ada orang yang duduk bercengkrama bersama dai-dai ahli bid’ah dengan alasan hikmah. Padahal Ibnu ‘Abbas telah memperingatkan kita:

لا تجالس أهل الأهواء ، فإن مجالستهم ممرضة للقلوب

“Janganlah kalian duduk bercengkrama dengan para pengekor hawa nafsu (ahlul bid’ah) karena duduk bersama mereka membuat hati berpenyakit.” (Riwayat Al-Ajurri dalam “Asy-Syari’ah” 1/453)

Para Ulama menjelaskan bahwa larangan di sini terkait hati manusia yang lemah dan syubhat menyambar-nyambar, dan urusan agama tidaklah diukur dari siapa yang menang dalam perdebatan.

Perhatikan bagaimana sikap Sa’id bin Al-Musayyib ketika melihat orang yang mengerjakan sholat lebih dari dua rokaat setelah fajar dengan ruku dan sujud yang panjang, lantas beliau menegur orang tersebut namun dia beralasan:

يا أبا محمد يعذبني الله على الصلاة؟ قال : لا ولكن يعذبك على خلاف السنة

“Wahai Abu Muhammad (Sa’id), apakah Allah akan mengazabku lantaran aku sholat?” Maka beliau menjawab, “Tidak! Tetapi Allah akan mengazabmu karena engkau menyelisihi sunnah (cara sholat Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam)!” (Riwayat Ad-Darimi dalam Musnadnya 1/404)

Alhasil perkara manhaj merupakan prinsip beragama yang berat resikonya bila dilanggar. Sebab itu butuh ketegasan dalam bersikap karena kondisinya sedang memperingatkan orang dari ancaman azab. Apakah orang yang nyaris terbakar atau hampir terperosok ke dalam jurang diperingatkan dengan suara yang halus dan berlemah lembut? Tentunya tidak demikian.
________

Ada orang harokah yang bilang, “Manhaj tidak penting karena tidak akan ditanya di alam kubur”, bagaimana cara meluruskannya?

Jawab: Ungkapan seperti itu menunjukkan yang berkata tidak mengerti esensi manhaj dalam beragama. Manhaj adalah cara beragama Nabi shollallahu ‘alaih wasallam dan para shohabat beliau baik dalam hal aqidah, ibadah maupun akhlaq. Manhaj ini yang menentukan benar tidaknya aqidah seseorang dalam beriman. Praktis orang yang mampu menjawab pertanyaan kubur adalah orang yang benar manhajnya dalam beraqidah. Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan:

فإنه من يعش منكم فسيري اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة

“Barangsiapa yang masih hidup sepeninggalku maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku (cara beragamaku) dan sunnah para Khulafa’rrosyidin Al-Mahdiyyin sepeninggalku, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara baru yang diada-adakan dalam beragama, karena setiap bid’ah (perkara baru yang diada-adakan) itu sesat.” (HR. Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676 dan beliau berkata,  “Hadits hasan ahohih” Syaikh Al-Albani menshohihkannya dalam “Shohihul Jami’” 2546)

Pendek kata, jika buang air kecil saja yang tidak bersih di dunia bisa mengakibatkan siksa kubur, apalagi dengan manhaj yang menyimpang?
__________

✍🏻 Fikri Abul Hasan

●▬▬▬▬❀❀▬▬▬▬▬●
❀ Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
❀ Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Manhaj (Untukmu Yang Menapaki Jalan Hijrah)

UNTUKMU YANG MENAPAKI JALAN HIJRAH

(sebuah nasehat dan arahan bagi para pemuda dan pemudi yang berniat menapaki jalan salafus shalih, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan shahabatnya radiyallahu anhum)

🖋abu abd rahman bin muhammad suud al atsary

… انهم فتية امنوا بربهم و زدنهم هدى

سورة 18 الكهف 13

… Mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Rabbnya, maka Kami tambahkan pada mereka petunjuk

Allah subhanahu wa taala memuji para pemuda dengan pujian yang besar, yang tidak di berikan kepada golongan tua,

Dengan tidak mengecilkan peran orang orang tua, kami ingin menjelaskan, bahwa kebanyakan yang pertama kali menerima seruan para rasul alaihimus salam adalah dari kelompok pemuda (salah satu contoh lihat surah 10 yunus ayat 83).

Kami tujukan tulisan ini kepada anda, wahai pemuda pemudi islam, wahai putra putri yang mewarisi jiwa dan semangat shahabat Nabi semisal Zaid bin Tsabit, Bilal bin Rabbah, Umar bin khattab, Ali bin Abi Thalib, dan para pemuda dari kalangan shahabat nabi radiyallahu anhum, juga kalangan pemuda dari generasi berikutnya, semisal, Rib’i bin Amir, Qa’qa, Shalahuddin al ayubi, dari para pendahulu yang shalih,

Atau dari kalangan tua yang memiliki semangat dalam kebaikan, yang memiliki kejernihan fikiran yang mewarisi jiwa Abu Bakr as siddiq, Saad bin Abi Waqqas, Abdullah bin Mas’ud, atau Anas bin Malik radiyallahu anhum.

Terkhusus untuk kelompok pertama, yang masih mencari jati diri di tengah riuhnya dunia, yang ingin kembali kepada kemurnian islam di tengah serangan syubhat dan syahwat yang bertebaran, yang ingin belajar memperbaiki diri, dan menapaki jalan pendahulunya yang shalih di tengah banyaknya rintangan.

____

Sebuah permasalahan di ajukan kepada kami, oleh seorang ibu yang telah lama hadir di kajian sunnah, tentang putrinya, putri yang selama ini di rawat dan di kasihi sepenuh hati, “putri kecil” yang sekarang mulai menapaki masa masa remaja dan pubertas,

“ibu ijinkan aku untuk memakai cadar”

Haru, gembira, berdebar, khawatir, bercampur menjadi satu,

putri yang ia besarkan dan ia didik, sekarang memutuskan ‘berhijrah’.

Wahai putra putriku, wahai engkau yang menginginkan kesucian dan perbaikan,

Aku berbicara kepada kalian, tidakkah ku tujukan pembicaraan ini pada para pemuda pemudi yang hidup dalam kehedonisan, yang menghabiskan umur dengan kesia siaan, yang tidak memikirkan diri apalagi agamannya.

Beruntung, di kehidupan kita yang singkat ini, kita di beri anugerah Allah subhanahu wa taala hidayah, di lembutkannya hati kita, di arahkannya ubun ubun kita pada kebaikan, sehingga di ujung pencarian kita menemukan “kilauan cahaya” hidayah sunnah, “menciduk hidayah” dari oase kenabian, menemukan islam, tidak hanya sekedar “islam”, tapi islam yang di atas sunnah, di tengah banyaknya firqoh, dan golongan golongan sesat yang mengatas nama kan islam, masing masing kelompok merasa di atas kebenaran dan bangga dengan kelompoknya (lihat surah 30 ar Ruum ayat 31).

Semoga kita di golongkan sebagai,

من يردالله به خيرا يفقهه في الدين…

“barang siapa di kehendaki Allah kebaikan, maka ia di arahkan untuk faham pada agama…”

(hr. Bukhari kitabu ilmi 1/24 no 71.Muslim kitabu zakat 2386).

Wahai putra putriku yang lurus lagi menginginkan kebaikan,

Berbahagialah dan bersyukurlah, bila kita terlahir dari keluarga yang mengenal sunnah, dari lingkungan masyarakat yang islami, dan teman teman yang se manhaj,

Namun,

Demikianlah, Allah subhanahu wa taala dengan takdir dan hikmah Nya, tidak menjadikan hidup itu selalu lurus dan mudah,

Dan sebenarnya, di sinilah, di kehidupan yang tidak selalu sesuai keinginan, ada ruang bagi kita untuk berkesempatan ‘berbuat’ dan ‘berniat’,

Kita di lahirkan dari keluarga “islam” yang jauh dari sunnah dan islam itu sendiri, masyarakat “islam” yang awam dan cenderung liberal, dan kehidupan sosial yang tidak mendukung, bahkan cenderung melemahkan semangat dalam kebaikan.

Maka,

Langkah awal bagimu, yang ingin berhijrah, dan merubah diri menuju kebaikan,

Adalah pertama, mengikhlaskan niat hijrahmu karena Allah subhanahu wa taala semata,

Selalu periksa niat itu, karena usahamu dalam hijrah dan perbaikan, bukan sesaat, atau sehari,

Di sana, akan ada ujian, rintangan, dan kendala kendala,

ليسئل الصدقين عن صدقهم …

سورة 33 الاحزاب 8

agar Dia (Allah) menanyakan kepada orang orang yang jujur tentang kejujuran mereka …

Berkata Fudhail bin Iyyad rahimahullah

“jika para shiddiqin (dari kalangan nabi) seperti Ismail bin Ibrahim dan Isa bin Maryam alaihimus salam akan di tanya, maka bagaimana pula dengan orang orang yang suka berdusta seperti kita?”.

Kejujuran niat dalam hijrah, akan terlihat dengan berjalannya waktu,

Kenapa kita memilih jalan hijrah?

Untuk siapa kita berhijrah?

Bagaimana kita berhijrah?

Jangan sampai jalan hijrahmu undur ke belakang setelah lurusnya,

Jangan sampai, karena buruknya niatmu dalam hijrah, lalu engkau menukar hidayah dengan penyimpangan,

Atau salah langkah dalam hijrah.

Dalam satu kesempatan, seorang wanita yang dalam keseharian kami tau dan di kenal masyarakat bercadar, lalu entah kenapa, satu hari kami lihat ia memakai celana pendek dan tidak berkerudung sampai saat ini,

Ada juga, seorang pria yang tiba tiba gemar mengaji sunnah, yang dulunya ia hidup secara umum, dan ia melamar wanita muslimah salafiyah, setelah menikah, ia tidak lagi terlihat ngaji, dan hidup secara liberal.

Ambillah pelajaran wahai ulil abshar !!!.

Yang kedua, hendaknya engkau tunjukkan sikap lebih baik setelah hijrahmu, dari sebelumnya,

Berbuatlah baik sebagaimana Rabbmu berbuat baik pada mu,

Pergaulilah orang tuamu dengan kasih dan penghormatan serta kebaktian,

Berinteraksilah dengan manusia dengan lapang dada dan welas asih, dengan tetap memperhatikan batasan syariah,

Jangan sampai, hijrahmu, sikap dan “pakaianmu”, menjadikan engkau ekslusif dan merasa “bersih”, sehingga menghalagimu untuk menebar hidayah kepada orang orang yang masih berkubang dosa dan kebodohan.

ada satu hal yang ingin kami sampaikan dalam kesempatan ini,

kecenderungan sebagian orang yang baru hijrah, ia bersikap memisahkan diri dari masyarakat, bersikap keras, dan tidak ramah,

secara psikologi, hal ini adalah hal wajar bila segera di atasi,

karena ia baru keluar dari pemahaman lama, kepalsuan, dan merasa di tipu, oleh pemahaman lama,

secara naluri, dirinya membuat “imunitas” untuk mempertahankan diri dari kubangan lama yang baru ia tinggalkan, jangan sampai kembali,

namun perlu di sadari, bahwa masyarakat secara umum, mereka adalah orang jahil,

mereka bukan ahli bid’ah, namun korban kebidahan dan ahlinya,

maka tugasmu, adalah menyelamatkan mereka, menasehati dan mengajak dengan sabar dan hikmah,

ingatlah, engkau dulu semacam mereka, sebelum mendapat hidayah,

bersikap lembut, dan ramahlah pada mereka, kecuali dari kalangan yang telah menutup hidayah bagi dirinya, dan menunjukkan kesombongan di depan kebenaran.

Ketiga, hendaknya engkau bersabar dan istiqomah di tengah keterasingan, dan sikap yang tidak simpatik dan terhadap gangguan manusia,

Sungguh, di antara manusia ada yang menjadi musuh musuh sunnah, mereka iblis berbaju manusia, yang kesana kemari menghabur fitnah, lagi menghalangi kebaikan, dan terus menerus dalam kemaksiatan,

Mereka senang dengan tersebarnya kekejian di antara kaum muslimin,

Media masa akan menyudutkanmu, melecehkanmu, menyebutmu sebagai “radikal”, teroris”, “garis keras”, “ekslusif”, dan ucapan ucapan keji, dari para pemilik media tidak beragama,

Orang orang yang kurang agama, akan mencaci dan mengejek hijrahmu,

Teman teman lama akan menarik tanganmu untuk kembali,

Orang tuamu akan “menahanmu” karena ketidak tau- annya,

Masyarakatmu akan mencibir, atau mungkin “memboikotmu”,

Dan mungkin, Allah subhanahu wa taala berkehendak mensucikan harta dan rejekimu,

sehingga engkau menyangka bumi sempit, padahal ia luas,

Dengan semua itu, hatimu di awal awal langkah akan menyesak sampai ke hati, dan pengelihatanmu akan berbolak balik karena sangat besarnya ujian ujian di awal hijrah ini,

bahkan, mungkin engkau akan berperasangka yang tidak tidak kepada Allah subhanahu wa taala,

di sanalah, di goncang orang orang beriman dengan goncangan yang sangat,

Namun, di sana, nanti, akan engkau rasakan “manisnya iman” setelah datangnya ujian ujian.

Inilah nasehat indah dari yang jujur lagi di benarkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,

… فإن من ورائكم اياما الصبر فيهن مثل القبض على الجمر …

“… Karena sesungguhnya di belakang kalian hari hari yang mengharuskan kesabaran, di mana kesabaran saat itu seakan memegang bara api …”

(hr Abu Dawud 4341. Tirmidzy 3058. Ibnu Majah 4014)

Namun ada pahala besar menanti,

Siapa yang bersabar di masa itu, ia mendapat 50 pahala,

50 pahala dari siapa?, 50 pahala dari shahabat, sebagaimana di sebut Abdullah bin mubarak (sebagaimana di sebut dalam hadits tirmidzy).

Keempat, berhati hatilah dari Dai Dai penebar syubhat,

Dalam langkah hijrahmu, berhati hatilah,

Banyak di kanan kirimu “jalan jalan lain”, dan perangkap perangkap dari kalangan setan jin dan manusia yang tidak ridha dengan langkah hijrahmu,

Di sana ada Dai Dai jahat, yang akan menghentikan langkah hijrahmu, membuat kabut di depan pengelihatanmu, sehingga engkau tidak lagi mengetahui jalan sunnah nabimu shalallahu alaihi wa salam,

Maka beliau shalallahu alaihi wa salam mewanti wanti,

… تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ …

“… maka wajib bagi kalian berpegang dengan sunnah, dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham …”.

wahai anak anak ku, kapan seorang mengigit sesuatu dengan gigi geraham?

Yakni, ketika ada orang lain yang ingin merebut “sesuatu” itu, sedang ia ingin mempertahankannya.

Demikianlah hendaknya sikapmu di hadapan sunnah dan jalan hijrahmu,

Sungguh di sana, ada Dai Dai jahat*, berpakaian sunnah, bicara dengan dalil, menyampaikan hujjah, fasih, bahkan “viral”, semua manusia kagum dengannya,

Namun ia membawa racun penyimpangan, mengajak manusia pada “dirinya”, dan tidak perduli dengan keselamatanmu dalam aqidah dan manhaj,

yang mereka fikirkan hanya ketenaran di tengah manusia,

Yang “di terima di sini dan di sana”,

Merekalah sejahat jahatnya Dai,

Mereka mengajak pada persatuan yang mengeyampingkan manhaj dan aqidah, ada juga yang mengajak pada faham khawarij yang reaksioner, mutazilah yang memuja akal, tasawwuf yang mengajak untuk mengagumi mimpi dan kasyaf (penyingkapan) serta tingkatan tingkatan, atau filsafat yang mengajarkan kekufuran, atau qodariyah, atau jabariyah, atau murjiah, atau jahmiyah.

atau harakah harakah bid’ah, yang dakwahnya dari A sampai Z, adalah kekuasaan dan politik, yang dakwahnya semacam karet, bak ular dan belut, yang bisa di tarik ulur, sesuai selera hawa nafsu,

bukan dakwahnya para nabi, yang mengajak pada tauhid dan manhaj yang lurus.

Berhati hatilah, jangan salah langkah, jangan salah memilih kajian, jangan salah memilih tokoh,

Ambil ilmu dari orang yang lurus aqidah dan manhajnya.

Inilah wasiat itu, semoga engkau memahami dan mengingat terus akan wasiat ini, semoga Allah menerima niat dan kesungguhan kalian.

barang siapa bersungguh sungguh dalam mencari jalan Allah, maka Allah akan membimbing ubun ubunnya pada jalan Nya.

●▬▬▬▬❀❀▬▬▬▬▬●
❀ Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
❀ Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah