Syarat Kaidah Menolak Mafsadah Lebih Didahulukan dari Mengambil Maslahat

Syarat Kaidah Menolak Mafsadah Lebih Didahulukan dari Mengambil Maslahat

Di antara kaidah syariat yang perlu dipelajari oleh para penuntut ilmu adalah kaidah Fiqh yang berbunyi:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menolak Mafsadah lebih didahulukan daripada mengambil Maslahat.”

Kaidah ini hasil Istinbath para Ulama dalam meneliti dalil-dalil Al-Qur’an was Sunnah. Kaidah ini juga dikenal dengan “Fiqhul Ma’alat” yaitu meninjau dampak dari pemberlakuan suatu perkara apakah berakibat kepada maslahat yang lebih besar ataukah Mafsadah.

Adapun Mafsadah yang dimaksud yaitu bahaya yang menyangkut agama maupun jiwa seseorang. Sedangkan yang dimaksud Maslahat sebaliknya.

Perlu diingat, kaidah ini tidaklah berlaku secara mutlak seperti yang dipraktekkan oleh sebagian orang. Akan tetapi para Ulama merinci syaratnya yaitu apabila Mafsadahnya lebih besar dari Maslahatnya atau Maslahatnya sebanding dengan Mafsadahnya maka menolak Mafsadah lebih didahulukan daripada mengambil Maslahat.

Adapun jika Maslahatnya jauh lebih besar dari Mafsadahnya maka kaidah ini tidak berlaku yakni yang maslahat tetap didahulukan meski ada Mafsadahnya. Dan yang menimbang sisi Maslahat dan Mafsadah adalah para ahlinya.

Dalil kaidah ini antara lain sabda Nabi ﷺ kepada Aisyah Ummul Mukminin Rodhiyallahu ‘Anha:

يا عائشة لو لا أن قومك حديثوا عهد بجاهلية لأمرت بالبيت فهدم فأدخلت فيه ما أخرج منه وألزقته بالأرض

“Wahai Aisyah, andai kata bukan karena kaummu baru saja meninggalkan masa Jahiliyyah maka akan kuperintahkan mereka merombak Baitullah. Kemudian aku masukkan apa yang dikeluarkan darinya dan aku turunkan sejajar dengan tanah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Di dalam hadits ini ada “Dalalah Dzhohiroh” (indikasi yang jelas) terhadap makna kaidah Fiqh diatas. Bahwa Nabi ﷺ mengutamakan menolak Mafsadah yang lebih besar dari apa yang beliau khawatirkan yaitu larinya manusia dari Islam, ketimbang mengambil Maslahat dengan merombak kembali pondasi Ka’bah seperti yang dibangun Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam.

Berbeda dengan keadaan orang yang hanya mengandalkan semangat dalam beragama tanpa bimbingan ilmu dan pemahaman yang benar. Mungkin mereka akan ngegas rombak Baitullah tanpa mempedulikan aspek Maslahat dan Mafsadah.

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Syarah Kitab ‘Aqidah Al-Wasathiyah : Sifat Allah

AQIDAH


كتاب شرح العقيدة الواسطية

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary



Berkata Imam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah Rahimahullah,

و قوله فاعبده و اصطبر لعبادته هل تعلم له سميا ؟

Dan firman Allah taala,

Maka sembahlah Dia, dan bersabarlah dalam mengibadati Nya, apakah kalian mengetahui ada satu hal yang sama dengan Nya?

Qs. Maryam 65.



Syarah singkat

Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi menjadi dua.

Sifat Subutiyah (yang di tetapkan).

Dan sifat Manfiyah (yang di tiadakan).

Karena kesempurnaan tiada terwujud kecuali menetap dan menafikkan.

Menetapkan sifat sempurna, dan meniadakan sifat kekurangan.

Kata

هل تعلم له سميا

Bermakna menafikkan yakni sebuah tantangan, bermakna, bila kamu benar (orang Musyrik), tunjukkan kepada kami satu hal yang sama dengan Nya.

السمي

Bermakna tandingan (selain Allah).

Yakni adakah saingan atau tandingan bagi Nya, yang berhak menyaingi nya, dan berhak menyandang nama Nya?


Tentu, tidak perlu di jawab, karena tidak ada.


Maka, wajib bagi kalian hanya beribadah kepada Nya saja.


Dan hal ini menunjukkan kesempurnaan mutlak tentang sifat dan nama, serta hak peribadatan, yakni kewajiban hamba beribadah semata hanya untuk Allah.

Sifat Wajah Bagi Allah

كتاب شرح العقيدة الواسطية

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Sifat Wajah bagi Allah.

و يبقى وجه ربك ذو الجلال و الاكرام

Dan kekallah Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.

Qs at Rahman ayat 27.

Dengan membaca ayat ini, maka akan jelas kekuarangan makhluk dan kesempurnaan Khaliq (Allah).

Wajah maknanya sudah di fahami.

Hanya saja, bentuknya tidak di ketahui bagaimana bentuk Wajah Allah.

Sebagaimana sifat Nya, kita beriman kepada sifat sifat Allah, termasuk sifat Wajah, dan tentu dengan semua sifat kesempurnaan bagi Nya, kemuliaan, dan kebesaran Nya.

Jika seorang membayangkan wajah Allah dengan hati dan membicarakan nya dengan lisan, maka ia telah berbuat Bid’ah, dan berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

Kekosongan Jiwa dari Islam yang Benar

ESAI EDISI KHUSUS

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud

Publik Indonesia di gemparkan lagi dengan fenomena munculnya “negara kerajaan Abal-Abal” di Purworejo Jawa tengah. Hal ini bukan pertama dan bukan akan yang terakhir.

Hal-hal semacam ini sesungguhnya adalah hal yang remeh, bila di lihat dari sisi fenomenalnya, bahkan akan membuat kita terpingkal karenanya.

Namun dari sisi Aqidah, maka hal semacam ini merupakan hal yang besar, di mana hal-hal yang di satu sisi sebuah fenomena remeh temeh, lucu, dan “meng ada-ada”, namun di sisi lain menunjukkan bahwa ada sisi yang salah dalam dakwah keislaman di Indonesia.

Selama ini kita berbangga dengan kemayoritasan, dan terbuai dengan “banyak”.

Perlu pembenahan dalam dakwah kita (sebagai seorang Salafy secara intern), ternyata dakwah selama ini hanya di permukaan, belum menyentuh akar rumput yakni Masyarakat tingkat bawah.

Kajian kita, hanya sebatas sesama “orang yang sudah ngaji”, tidak lebih.

Kedua, secara umum dakwah yang dilakukan ulama dan kyai (tradisional) tidak pernah menyentuh permasalahan mendasar dari kebutuhan ummat, yakni pembenahan Aqidah Islam yang berasaskan Aqidah Ahlus Sunnah.

Yang dilakukan para kyai hari ini, hanya sebatas kajian umum, melawak dan sedikit nasehat di kajiannya, dan selesai.

Tidak ada pembenahan Aqidah secara signifikan.

Di tambah para kyainya bermain politik praktis, sehingga ummat tidak ada yang menjaganya.

Ketiga, kita tidak pernah melewatkan juga dari sisi pembawa ajaran nyeleneh dan aneh di tengah masyarakat, yang mereka adalah orang-orang Zindiq yang ingin membawa masyarakat kepada kesesatannya.

Keempat, dari sisi masyarakat umum ada ruang kosong dan gersang di hati mereka.

Mereka merasakan kegersangan hati.

Sebab utama:

1. Kebodohan akan ajaran agama Islam yang benar.

2. Mereka tidak merasakan fungsi dai, kyai, dan juru dakwah secara langsung, sehingga mereka jauh dari bimbingan.

Ulamanya sudah terjun ke politik, rakyat dan Ummat dijadikan alat jual beli perpolitikan dan nilai tawar, serta masyarakat dibiarkan atau ada upaya pembiaran untuk “bodoh” agar mudah di kendalikan.

3. Ini juga kesalahan secara umum, mereka sendiri menjauh dari majelis ilmu, dan berat pada hawa nafsu, terbukti mereka lebih suka acara-acara tidak Syar’i dari pada kajian, dan poin ketiga ini adalah imbas dari poin kedua.

4. Secara umum masyarakat kita (Jawa) berfikir praktis, dalam arti sebuah ajaran tidak dilihat baik atau buruk, tapi dilihat manfaat atau tidak secara langsung pada kehidupan dunia mereka.

Meskipun menyembah batu, asal dengan itu “terpenuhi” semua kebutuhan, mereka akan lakukan.

5. Adanya kekosongan Ruhani dan Iman yang merata di masyarakat Muslim Nusantara ini, dan ini faktor utama.

6. Kebodohan, kurang secara ekonomi, sedikitnya diri bersentuhan dengan agama, kurang nya nasehat, dan dekatnya mereka dengan tokoh-tokoh sesat (apapun motifnya).

Menjadikan masyarakat kita mudah ikut aliran sesat, dan Kufur.

Sehingga kita kadang terhenyak dari kesadaran, satu aliran yang buat orang yang ngaji itu, sangat remeh…

Namun memiliki pengikut, dan jumlahnya banyak.

Ini membuktikan:

1. Dakwah Islam terutama Salafy belum berjalan sebagaimana mestinya.

Belum menyentuh masyarakat bawah.

2. Kita tidak boleh lagi terbuai dengan kemayoritasan di negeri ini.

3. Banyak pihak yang ingin merusak kaum Muslimin.

4. Masyarakat Islam di Indonesia belum mengenal Islam yang benar, keislaman mereka masih seputar ikut kemayoritasan dan simbolis saja meskipun tidak dominan.

Semoga dengan hal ini membuat kita sadar akan pentingnya Aqidah, Manhaj, dan dakwah ke masyarakat bawah yang belum tersentuh sama sekali.

Dakwah Tauhid Sebab Turunnya Rahmat & Pertolongan Allah, Penghalang Azab, Sebab Keamanan & Terwujudnya Keadilan

Allah berfirman:

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنا يعبدونني لا يشركون بي شيئا ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang beramal sholih di antara kalian, bahwa sungguh-sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Allah memberi kekuasaan kepada orang-orang sebelum mereka, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah keadaan mereka setelah mereka dalam keadaan ketakutan menjadi aman tentram, mereka tetap beribadah kepada-Ku semata dan tidak berbuat syirik sedikitpun. Dan barangsiapa tetap kufur setelah itu maka mereka adalah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Al-Imam Al-Qurthubi berkata, “Mereka tetap beribadah kepada-Ku semata” yaitu mereka dalam keadaan beribadah kepada Allah dengan niat yang ikhlas tidak mencampurinya dengan amalan-amalan syirik sedikitpun.” (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an 12/280)

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Menuntut Ilmu Hanya Bersandar Pada Kaset-Kaset Ceramah dan Memggampangkan untuk Duduk di Halaqah-Halaqah Ilmi

Pertanyaan:
Semoga Allah Jalla Jalaluhu menjadikan kebaikan bagi Syaikh, sebagian pemuda hanya bersandar pada kaset-kaset dalam menuntut ilmu, dimana mereka menggampangkan dalam duduk di halaqah-halaqah (tempat pengajian) dengan alasan bahwa pelajaran Syaikh ini direkam dan ada kasetnya ? Apa nasehat Syaikh kepada mereka.

Jawaban:
Mendengarkan secara langsung dengan menghadiri pelajaran-pelajaran terdapat beberapa manfaat yang tidak dijumpai dari hanya mendengarkan ilmu (melalui kaset saja). Tidak dapat diragukan lagi bahwa mendengarkan ilmu melalui kaset terdapat faedah dan banyak manfaatnya, karena engkau mendengarkan ilmu dari ahli ilmu yang kokoh ilmunya, akan tetapi di sana terdapat perkara-perkara lain yang tidak didapati jika kita mendengarkan ilmu hanya melalui kaset-kaset diantaranya.

1. Duduk bersama para penuntut ilmu lainnya dalam sebuah Halaqah di Masjid, hal ini memberikan perkara-perkara Ibadah dan jiwa bagi penunutut ilmu.

2. Mengambil manfaat dari petunjuk pengajar dalam ucapan, pandangan, pendidikan dan pengajarannya, cara mengingatkannya, jalannya, cara menyelesaikan perkara, bagaimana ketika menghadapi suatu perkara, bagaimana cara menjawab, bagaimana bermualamah dengan orang yang menyalahinya, dengan orang yang kurang baik adabnya, dengan orang-orang yang memuliakan secara berlebih-lebihan. Semua adab-adab ini diperoleh dari petunjuk para ulama dengan cara duduk menuntut ilmu dihadapan mereka.

3. Selain itu ada hal-hal berupa ibadah (yang dapat dicontoh dari para ulama) seperti rasa takut kepada Allah Jalla Jalaluhu. Sedangkan engkau jika melihat para ulama dalam membimbing manusia dalam beribadah, berdzikir, dan kesungguhan mereka dalam berbuat kebaikan, engkau akan terpengaruh dalam suatu perkara yang engkau memerlukannya yaitu Istiqomah dan ketekunan dalam ibadah kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Adapun mendengar ilmu melalui kaset, kamu hanya dapat mendengarkan ilmu akan tetapi tidak dapat melihat petunjuk para ulama, Ibadahanya, Shalatnya, kesegeraannya ke Masjid, kesungguhannya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, hafalannya, Shalat malamnya dan semisal itu, yang mana hal-hal tersebut hanyalah didapati dari berguru dan mendengarkan ilmu secara langsung. Oleh karena itu Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata :

“Guru kami itu, tidaklah kami hadir di Majlisnya kecuali manfaat yang kami dapati dari tangisannya (karena takut kepada Allah Jalla Jalaluhu), melebihi manfaat yang kami dapati dari ilmunya”.

Beliau mendapatkan ilmu dari guru beliau, akan tetapi faedah yang beliau dapatkan dari tangisan, rasa takut guru beliau kepada Allah Jalla Jalaluhu, dan sikap Wara’nya, lebih banyak dari mendapatkan ilmu guru beliau.

Hal-hal ini memberikan pengaruh bagi penuntut ilmu. Sesungguhnya penuntut ilmu itu akan sangat terpengaruh oleh sosok kepribadian seorang guru dan akhlaknya, bagaimana gurunya bermu’amalah dan bagaimana gurunya menangis karena takut kepada Allah Jalla Jalaluhu, bagaimana gurunya shalat, bagaimana gurunya banyak membaca Al-Qur’an, bagaimana kekhususannya, bagaimana ia bermuamalah dengan keluarganya. Sedangkan mendengarkan kaset tidak mengetahui hal-hal seperti itu. Mendengarkan ilmu melalui kaset itu penting, akan tetapi seseorang harus berguru dihadapan ulama sehingga tidak luput darinya sisi-sisi kebaikan lainnya.

Dijawab oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh

Sumber : https://almanhaj.or.id

Kajian Aqidah : Mencintai Allah

Kajian Aqidah


شرح العقيدة الواسطية


Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.



Berkata Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rahimahullah,

و قوله

Dan firman Nya,


قل إن كنتم تحبو الله فاتبعوني يحببكم الله…


Katakan, bila kalian mengklaim cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai mu.

Qs Ali Imran ayat 31.



Syarah singkat:

Inilah ayat Imtihan (ujian) bagi setiap klaim.

Allah Subhanahu wa taala menetapkan satu keputusan.

Bahwa tanda cinta kepada Nya adalah mengikuti Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Barangsiapa berkata, aku cinta Allah dan Rasul Nya, lalu ia membuat ibadah Muhdats (baru),

Maka kita katakan, kalian dusta.

Seandainya cintamu benar, engkau akan mengikutinya rasul, dan tidak akan lancang menyusupkan sesuatu yang lain pada agamanya.

Bila benar cinta seorang beriman, maka Allah akan lebih dalam membalasnya, dan demikian kemudahan dan kasih sayang Allah pada hamba Nya.

من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي

و من ذكرني في ملاء ذكرته في ملاء خير منه

Barangsiapa mengingat Ku pada dirinya, Aku mengingatnya pada diri Ku.

Barangsiapa mengingat Ku di khalayak, maka Aku mengingatnya di depan khalayak yang lebih baik (di sisi malaikat).

Jadi ingatlah, bahwa kaidah besar yang berlaku.

Cinta Allah pada hamba Nya lebih besar dan pahala amalmu lebih besar dari amal itu sendiri.

Inilah karunia dan Fadhilah dari Allah untuk kaum beriman.

Hukum Kalung dan Gelang Kesehatan

Hukum Kalung & Gelang Kesehatan

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Apakah Syirik memakai kalung yang zaman sekarang diperjualbelikan terbuat dari batu yang katanya untuk menyerap penyakit?

Jawab: Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh. Belakangan ini banyak orang menggunakan kalung, gelang atau benda-benda lainnya yang diyakini dapat menjadi sebab kesembuhan bagi suatu penyakit. Namun sebelum menyimpulkan hukumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa dalam syariat hanya ada dua sebab yang boleh ditempuh yaitu:

(1). Sebab yang Syar’i (disyariatkan)
(2). Sebab yang Kauni (terbukti melalui penelitian)

Sebab yang Syar’i yaitu sebab yang ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an was Sunnah bahwa sesuatu itu dapat menjadi sebab yang mendatangkan kesembuhan dari Allah. Contohnya seperti Ruqyah Syar’iyyah, berbekam, minum air zam-zam atau mengkonsumsi madu.

Sedangkan sebab yang Kauni yaitu sebab yang terbukti melalui penelitian para ahli bahwa sesuatu itu dapat menjadi sebab yang berpengaruh atau mengobati penyakit. Contohnya seperti pengobatan medis, pengobatan herbal, atau sebab yang jelas hubungan sebab akibatnya selama tidak menyelisihi Syariat.

Maka apabila kalung atau gelang batu yang dipakai untuk pengobatan itu tidak ditunjukkan secara Syar’i atau tidak terbukti secara kauni maka penggunaannya dilarang karena tergolong Syirik. Hal ini juga berlaku bagi benda-benda lainnya atau sebab-sebab yang lain seperti keris, centong, peniti, tali atau air yang dijampi-jampi dengan cara yang tidak Syar’i.

Akan tetapi apabila gelang atau kalung kesehatan itu terbukti secara kauni dapat berpengaruh bagi aliran darah atau mengendurkan saraf setelah diteliti oleh para ahli maka hukum memakainya diperbolehkan.

Namun perlu diingat, sekuat apapun sebab yang ditempuh baik yang Syar’i maupun yang Kauni, tetap kesembuhan itu diyakini hanya datang dari Allah. Karena hanya Allah yang menentukan sebab itu berpengaruh atau tidak. Jika Allah menghendaki sebab itu tidak berpengaruh bagi penyakit maka obat yang paling Syar’i dan mujarab sekalipun tidak akan menjadi sebab kesembuhan sama sekali. wa Billahit Tawfiq.

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Hukum Mengatakan Allah ada Dimana-mana

Pertanyaan.
Dalam sebuah siaran radio ditampilakan kisah dengan menggunakan kata-kata : Seorang anak bertanya tentang Allah kepada ayahnya, maka sang ayah menjawab : “Allah itu ada dimana-mana”. Bagaimana pandangan hukum agama terhadap jawaban yang menggunakan kalimat semacam ini?

Jawaban.
Jawaban ini bathil, merupakan perkataan golongan Bid’ah dari aliran Jahmiyah dan Mu’tazilah serta aliran lain yang sejalan dengan mereka. Jawaban yang benar adalah yang diikuti oleh Ahli Sunnah wal Jama’ah, yaitu Allah itu ada di langit diatas Arsy, diatas semua mahlukNya. Akan tetapi ilmuNya ada dimana-mana (meliputi segala sesuatu).Hal ini sebagaimana disebutkan didalam beberapa ayat Al Qur’an, hadits-hadits Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, Ijma’ dari pendahulu umat ini. Sebgaimana contoh adalah firman Allah Azza wa Jalla.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy” [Al A’raf/7 : 54]

Didalam Al Qur’an ayat ini tersebut pada 6 tempat. Yang dimaksud dengan “bersemayam” menurut Ahli Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas Arsy sesuai dengan keagungan Allah. Tidak ada yang dapat mengetahui bagaimana bersemayamnya itu, seperti dikatakan oleh Imam Malik ketika beliau ditanya orang tentang hal ini. Beliau menjawab:

اْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Kata bersemayam itu telah kita pahami. Akan tetapi, bagaimana caranya tidak kita ketahui. Mengimani hal ini adalah wajib, tetapi mempersoalkannya adalah Bid’ah“.

Yang beliau maksudkan dengan mempersoalkannya adalah Bid’ah yakni mempersoalkan cara Allah bersemayam diatas Arsy. Pengertian ini beliau peroleh dari gurunya, Syaikh Rabi’ah bin Abdurrahman yang bersumber dari riwayat Ummu Salamah Radhiallahu anha. Hal ini merupakan pendapat semua Ahli Sunnah yang bersumber dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dan para tokoh Islam sesudahnya. Allah telah menerangkan pada beberapa ayat lainnya bahwa Dia dilangit dan Dia berada diatas, seperti dalam firmanNya:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” [Faathir/35:10]

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” [Al Baqarah/2:255]

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴿١٦﴾أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?, Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku” [Al Mulk/67:16-17]

Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang dengan jelas memuat penegasan bahwa Allah itu ada di langit, Dia berada diatas. Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud oleh ayat-ayat yang menggunakan kata-kata bersemayam. Dengan demikian dapatlah diketahui perkataan Ahlu Bid’ah : Allah itu berada dimana-mana, merupakan hal yang sangat Bathil. Perkataan ini merupakan pernyataan Firqoh yang beranggapan bahwa alam ini penjelmaan Allah, suatu aliran Bid’ah lagi sesat, bahkan aliran Kafir lagi sesat serta mendustakan Allah dan RasulNya Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Dikatakan demikian karena dalam riwayat yang sah dari beliau Shalallahu alaihi wa sallam dinyatakan bahwa Allah ada dilangit, sebagaimana sabda beliau Shalallahu alaihi wa sallam :

أَلاَ تَأْمَنُوْنِي وَ أَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah kepercayaan dari Tuhan yang ada di langit“. [Bukhari no.4351 Kitabul Maghazi ; Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]

Hal ini juga disebutkan pada hadits-hadits (tentang) Isra’ Mi’raj, dan lain-lain.

[Majallatuud Dakwah no.1288]

Dijawab oleh:
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Sumber: https://almanhaj.or.id/58-hukum-mengatakan-allah-ada-dimana-mana.html

Pendangkalan Aqidah Berkedok Karomah

Pendangkalan Aqidah Berkedok “Karomah”

Al-Imam Asy-Syafii:

 إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة 

“Apabila kalian melihat ada orang yang bisa berjalan di atas air dan terbang di udara (yakni membuat keanehan-keanehan) maka janganlah kalian terpedaya olehnya (mengklaimnya sebagai wali Allah) sampai kalian periksa amalannya apakah mencocoki Al-Qur’an dan petunjuk Nabi ﷺ” (Tafsir Ibnu Katsir 1/233).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

لا يكون وليا لله إلا من آمن بالرسول وبما جاء به واتبعه باطنا وظاهرا ومن ادعى محبة الله وولايته وهو لم يتبعه فليس من أولياء الله؛ بل من خالفه كان من أعداء الله وأولياء الشيطان قال تعالى: قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله 

“Tidaklah seseorang menjadi wali Allah kecuali apabila dia beriman kepada Rosul, beriman dengan apa yang dibawa olehnya, dan mengikuti beliau lahir batin. Siapa saja yang mengaku cinta Allah dan wali-Nya tetapi kenyataannya dia tidak mengikuti ajaran beliau maka dia bukan wali Allah. Bahkan siapa saja yang menyelisihi ajaran beliau maka dia termasuk musuh Allah dan wali Syaithon. Allah berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian”.” (Al-Furqon Baina Awliya’irrohman wa Awliya’issyaithon hal. 121).

Al-Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi:

فمن اعتقد في بعض البله أو المولعين -مع تركه لمتابعة الرسول في أقواله وأفعاله وأحواله- أنه من أولياء الله ، ويفضله على متبعي طريقة الرسول صلى الله عليه وسلم ، فهو ضال مبتدع مخطئ في اعتقاده

“Siapa saja yang meyakini sebagian orang-orang dungu sebagai wali-wali Allah padahal mereka meninggalkan ajaran Nabi dalam perkataannya, perbuatannya, keadaannya, dan diyakini kedudukannya lebih utama daripada orang-orang yang mengikuti jalannya Rosul ﷺ maka dia adalah orang yang sesat ahli Bid’ah menyimpang Aqidahnya.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyyah 2/769).

Maka jangan Anda terperdaya oleh keanehan-keanehan wali Syaithon, sebab Karomah yang datang dari Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang bertauhid dan berpegang dengan Sunnah (petunjuk) Nabi ﷺ untuk menolong agama-Nya.

Namun ada Karomah yang paling besar yang luput dari pandangan banyak orang yaitu Karomah Istiqomah sebagaimana yang disampaikan oleh para Ulama:

أعظم الكرامة لزوم الاستقامة

“Seagung-agungnya Karomah para wali adalah menetapi Istiqomah.” (Madarijussalikin 2/106).

Yakni Istiqomah di atas Tauhid dengan meninggalkan Syirik dan Istiqomah mengikuti Sunnah dengan meninggalkan Bid’ah, meski dia tidak pernah berjalan di atas air atau terbang di udara. Inilah wali Allah yang sesungguhnya.

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Kajian Aqidah

Kajian Aqidah

العقيدة الواسطية

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Berkata imam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rahimahullah,


و قوله

Dan firman Nya,

إن الله هو الرزاق ذو القوةالمتين

Sesungguhnya Allah dialah Ar Razaaq lagi Dzu Quwwatil Matiin

Qs Adz-zariyat 58.


Syarah singkat:


القوة
Inilah penetapan bagi Allah akan sifat Al Quwwah (pemilik kekuatan).


الرزاق

Bermakna sangat memberi rezeki.

Yakni makhluk butuh akan rezeki Allah, sedang Allah tidak butuh dan berharap rezeki (sesaji) dari makhluk Nya.

Rezeki ada dua.

Rezeki umum,

yakni yang terkait urusan dunia.

Seperti harta, kesehatan, dan kelapangan, kedudukan dan semisalnya.

Di dalamnya berserikat orang beriman dan Kafir.


Rezeki khusus,

yang terkait agama, keselamatan, iman, amal shalih, kehalalan dan semisalnya.

Dan rezeki wajib di cari sebagai sebab, sebagaimana pengampunan yang di harapkan kepada Allah.


ذو القوة

Terkait sebelumnya, bahwa manusia itu lemah asalnya, ia tidak sanggup kecuali dengan pertolongan Allah.

Dalam pembahasan ini, ada tiga penetapan bagi Allah sifat.

Yakni Ar Rizqu, Al Quwwah, dan Al Matiin.

Yakni seorang hamba mengaitkan segala rezeki, menyandarkan hidup dan mencari kekuatan disisi Allah.

Bukan Sebuah Toleransi, Namun Kekufuran

OASE KEHIDUPAN.


Bukan Sebuah Toleransi, namun Kekufuran.

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Allah Subhanahu wa taala berfirman,

Mengingatkan makar orang-orang Kafir,

و دوا لو تدهن فيدهنون

Dan mereka berharap kalian bersikap mencari muka / lunak kepada mereka (orang Kafir) sehingga mereka pun bersikap lunak.

Qs Al Qolam 9.


Syaikh Shaleh bin Abdullah bin Humaid berkata,

“Makanya, mereka orang Kafir berharap kamu dapat condong kepada mereka, dan berharap kamu meninggalkan kebenaran yang ada padamu, sebab itu mereka menampakkan kelembutan padamu agar kamu condong kepada mereka”.

Tafsir Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh.



Bangsa yang terjajah adalah bangsa yang mewarisi sifat sifat rendah diri, bahkan pada penjajahnya.

Dan kita melihat hari ini, apa yang datang dari orang Kafir, serasa indah, maju, dan berperadaban.

Lebih dari itu, rasa rendah diri itu, juga muncul pada rana agama.

Sehingga muncul rasa cari muka dan merasa rendah pada Kekafiran dan orang Kafir.


Musibah kedua, orang-orang yang dijadikan panutan dari kalangan tokoh agama, malah menghasung Kemungkaran, bahkan itu adalah Kekafiran.

Agar kita sedikit bersikap longgar, ndepe-ndepe di depan orang Kafir.

Dan merasa sungkan, bila tidak ikut “bertoleransi” (?)

Akhirnya muncul musibah, kaum muslimin di paksa, untuk wajib ikut merayakan natal, ikut kebaktian, mengisi acara gereja, minimal sungkan untuk tidak mengucapkan Natal dan ikut Tahun Baru.

Hal ini di sadari atau tidak merupakan kekufuran.

Sementara, mereka para tokoh, seakan tidak bisa makan, kecuali mengemis di depan pintu-pintu Gereja dan tempat penyembahan berhala, dan mengiring ummatnya dan menjual mereka, untuk kepentingan dunia mereka.

Yang di giring bak kerbau yang tidak berakal karena telah tergadaikan agama nya kepada Kyai (?).

Sementara, Kyainya adalah tokoh-tokoh jahat, yang mempolitisir ummat untuk kepentingan dunianya.


Ya Allah kami berdoa kepada Mu, siapapun yang menginginkan keburukan bagi kaum Muslimin, kembalikan keburukan itu pada mereka,


اللهم من ارد للمسلمين سوء فاشغله في نفسه

و رد كيده في نخر

و أجعل تدبيره تدميرا عليه.



Subuh, Sidoarjo

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabb nya.

Kajian ‘Aqidah

Kajian Aqidah

شرح العقيدة الواسطية

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.



Berkata Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rahimahullah,

و قوله (الله) سبحانه

Dan firman Allah Subhanahu wa taala,

و عنده مفتاح الغرب

Dan di sisi Nya semua kunci-kunci hal gaib.

Qs Al an’am 59.



Syarah singkat:

الغيب

Adalah Masdar dari kata,

غاب – بغيب – غيبا

Yakni sesuatu yang tidak terlihat.

Sifat ghaib adalah relatif.

Namun ghaib yang mutlak adalah ilmu Allah.

Sedang,

المفتاح

Bermakna, kunci atau tempat penyimpanan.

Hal-hal gaib yang ada di sisi Allah ada beberapa:

– Hari kiamat

– Turunnya hujan

– Apa yang ada pada kandungan

– Perkara yang akan terjadi

– Ilmu tentang kematian.

Hal ini mutlak ada pada ilmu Allah.

Barangsiapa menyatakan dirinya tau hal gaib, maka ia adalah menempatkan dirinya sebagai tandingan Allah dan Thaghut.

Allah menjelaskan detail ilmunya,

و ما تسقط من ورقة إلا يعلمها

Tiada satu pun daun yang jatuh dari pohonnya kecuali Dia mengetahuinya.

Bila satu daun dari jutaan pohon yang ada di bumi, begitu juga jumlah tetesan hujan, dan jumlah pasir, maka Allah lebih mengetahui hamba hamba yang Dia ciptakan.

Maka seorang tidak boleh menyandarkan keberhasilan atau kegagalan pada dirinya.

Namun ia bersyukur atas keberhasilan, dan ia sandarkan kelemahan dan kekurangan diri kepada Allah, dan senantiasa menggantung kan dirinya pada Nya.

Luasnya ilmu Allah, bahwa Dia tau hal yang telah terjadi, yang tengah terjadi dan yang akan terjadi, semua atas kehendak Nya yang mutlak dan takdir Nya.

Wajib Bahu Membahu Menumpas Radikalisme dan Terorisme

FATAWA

WAJIB BAHU-MEMBAHU MENUMPAS RADIKALISME DAN TERORISME

Haiah Kibarul Ulama mengatakan:

‏تجتاح العالم دعوات للتخويف من الآخر، وواجب المسلمين مشاركة عقلاء العالم في مواجهة هذه الدعوات المتطرفة.
(كلما أوقدوا نارا للحرب أطفأها الله)

Dunia (islam) sedang menumpas seruan-seruan yang mengajak untuk melancarkan teror kepada orang lain, dan kewajiban kaum Muslimin adalah ikut andil bersama-sama dengan orang-orang yang berakal sehat di dunia ini untuk menghadang seruan-seruan radikal semacam ini.

ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﺃَﻭْﻗَﺪُﻭﺍْ ﻧَﺎﺭًﺍ ﻟِّﻠْﺤَﺮْﺏِ ﺃَﻃْﻔَﺄَﻫَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ.

“Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, maka Allah memadamkannya.” (QS. Al-Maidah: 64)

🌍 Sumber || https://twitter.com/ssa_at/status/747018511470460929

Kami (Abu Abd Rahman) tambahkan :

Teroris adalah upaya menakut-nakuti dan upaya membuat kerusakan di muka bumi tanpa hak.

Baik individu, organisasi, kelompok masa, atau bahkan negara.

Contoh terorisme adalah :

Peledakan bom.

Pembantaian muslim di Papua.

Penjajahan Yahudi atas Palestina.

Dan semisal itu.

Maka memaksakan istilah terorisme hanya untuk ummat Islam saja adalah bentuk terorisme lain.

Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita semua dari fitnah.

Hakikat Tawassul Antara yang Dilarang & Diperbolehkan

Tawassul artinya menjadikan sesuatu sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tawassul ada yang diperbolehkan yaitu Tawassul yang Masyru’ (disyariatkan), dan ada Tawassul yang dilarang yaitu Tawassul yang Syirik dan Bid’ah.

Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz berkata, “Para Ulama semisal Al-Imam Ibnul Qoyyim dan selain beliau menyebutkan Tawassul ada tiga macam:

(1). Tawassul Syirik Akbar (Membatalkan Islam).
Contohnya berdoa kepada mayyit, beristighotsah kepada mayyit, menyembelih dan bernadzar untuk mayyit (dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah). Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

(2). Tawassul Bid’ah (Tidak Dicontohkan Nabi ﷺ).
Contohnya Tawassul dengan dzat makhluk seperti ucapan, “Alloohumma inni as’aluka bidzaati fulan..” (Ya Allah aku memohon kepada Engkau dengan perantaraan Fulan), “Alloohumma inni as’aluka bi’ibadikassholihin..” (Ya Allah aku memohon kepada engkau dengan perantara hamba-Mu yang sholih), “Alloohumma inni as’aluka bi Muhammad..bi Musa..” (Ya Allah aku memohon kepada engkau dengan perantara Nabi Muhammad.. Nabi Musa), semua ini Tawassul Bid’ah yang menjadi sarana kepada kesyirikan.

(3). Tawassul Masyru’ (Disyariatkan).
Tawassul dengan nama Allah dan sifat-Nya yang mulia seperti ucapan, “As’aluka birohmatik..” (Aku memohon kepada Engkau ya Allah dengan rahmat-Mu), “As’aluka bi’ilmik..”(Aku memohon kepada Engkau dengan ilmu-Mu), “As’aluka bi-ihsanik..”(Aku memohon kepada Engkau dengan kebaikan-Mu). Dalilnya firman Allah ta’ala:

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asma’ul husna (nama-nama yang indah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan asma’ul husna itu.” (Al-A’rof: 180)

Begitupula Tawassul dengan amalan sholih, Tawassul dengan keimanan, Tawassul dengan doa orang sholih yang masih hidup (termasuk meminta doa Nabi ﷺ sewaktu beliau masih hidup), semua itu Tawassul yang disyariatkan.” ( Via binbaz.org.sa)

Orang yang membolehkan Tawassul Syirik dan Bid’ah umumnya berhujjah dengan hadits palsu, Istidlal (pendalilan) yang tidak pada tempatnya, tidak amanah dalam menerjemahkan hadits.

https://t.me/manhajulhaq