Pendangkalan Aqidah Berkedok Karomah

Pendangkalan Aqidah Berkedok “Karomah”

Al-Imam Asy-Syafii:

 إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة 

“Apabila kalian melihat ada orang yang bisa berjalan di atas air dan terbang di udara (yakni membuat keanehan-keanehan) maka janganlah kalian terpedaya olehnya (mengklaimnya sebagai wali Allah) sampai kalian periksa amalannya apakah mencocoki Al-Qur’an dan petunjuk Nabi ﷺ” (Tafsir Ibnu Katsir 1/233).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

لا يكون وليا لله إلا من آمن بالرسول وبما جاء به واتبعه باطنا وظاهرا ومن ادعى محبة الله وولايته وهو لم يتبعه فليس من أولياء الله؛ بل من خالفه كان من أعداء الله وأولياء الشيطان قال تعالى: قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله 

“Tidaklah seseorang menjadi wali Allah kecuali apabila dia beriman kepada Rosul, beriman dengan apa yang dibawa olehnya, dan mengikuti beliau lahir batin. Siapa saja yang mengaku cinta Allah dan wali-Nya tetapi kenyataannya dia tidak mengikuti ajaran beliau maka dia bukan wali Allah. Bahkan siapa saja yang menyelisihi ajaran beliau maka dia termasuk musuh Allah dan wali Syaithon. Allah berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian”.” (Al-Furqon Baina Awliya’irrohman wa Awliya’issyaithon hal. 121).

Al-Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi:

فمن اعتقد في بعض البله أو المولعين -مع تركه لمتابعة الرسول في أقواله وأفعاله وأحواله- أنه من أولياء الله ، ويفضله على متبعي طريقة الرسول صلى الله عليه وسلم ، فهو ضال مبتدع مخطئ في اعتقاده

“Siapa saja yang meyakini sebagian orang-orang dungu sebagai wali-wali Allah padahal mereka meninggalkan ajaran Nabi dalam perkataannya, perbuatannya, keadaannya, dan diyakini kedudukannya lebih utama daripada orang-orang yang mengikuti jalannya Rosul ﷺ maka dia adalah orang yang sesat ahli Bid’ah menyimpang Aqidahnya.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyyah 2/769).

Maka jangan Anda terperdaya oleh keanehan-keanehan wali Syaithon, sebab Karomah yang datang dari Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang bertauhid dan berpegang dengan Sunnah (petunjuk) Nabi ﷺ untuk menolong agama-Nya.

Namun ada Karomah yang paling besar yang luput dari pandangan banyak orang yaitu Karomah Istiqomah sebagaimana yang disampaikan oleh para Ulama:

أعظم الكرامة لزوم الاستقامة

“Seagung-agungnya Karomah para wali adalah menetapi Istiqomah.” (Madarijussalikin 2/106).

Yakni Istiqomah di atas Tauhid dengan meninggalkan Syirik dan Istiqomah mengikuti Sunnah dengan meninggalkan Bid’ah, meski dia tidak pernah berjalan di atas air atau terbang di udara. Inilah wali Allah yang sesungguhnya.

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Kajian Aqidah

Kajian Aqidah

العقيدة الواسطية

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Berkata imam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rahimahullah,


و قوله

Dan firman Nya,

إن الله هو الرزاق ذو القوةالمتين

Sesungguhnya Allah dialah Ar Razaaq lagi Dzu Quwwatil Matiin

Qs Adz-zariyat 58.


Syarah singkat:


القوة
Inilah penetapan bagi Allah akan sifat Al Quwwah (pemilik kekuatan).


الرزاق

Bermakna sangat memberi rezeki.

Yakni makhluk butuh akan rezeki Allah, sedang Allah tidak butuh dan berharap rezeki (sesaji) dari makhluk Nya.

Rezeki ada dua.

Rezeki umum,

yakni yang terkait urusan dunia.

Seperti harta, kesehatan, dan kelapangan, kedudukan dan semisalnya.

Di dalamnya berserikat orang beriman dan Kafir.


Rezeki khusus,

yang terkait agama, keselamatan, iman, amal shalih, kehalalan dan semisalnya.

Dan rezeki wajib di cari sebagai sebab, sebagaimana pengampunan yang di harapkan kepada Allah.


ذو القوة

Terkait sebelumnya, bahwa manusia itu lemah asalnya, ia tidak sanggup kecuali dengan pertolongan Allah.

Dalam pembahasan ini, ada tiga penetapan bagi Allah sifat.

Yakni Ar Rizqu, Al Quwwah, dan Al Matiin.

Yakni seorang hamba mengaitkan segala rezeki, menyandarkan hidup dan mencari kekuatan disisi Allah.

Bukan Sebuah Toleransi, Namun Kekufuran

OASE KEHIDUPAN.


Bukan Sebuah Toleransi, namun Kekufuran.

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Allah Subhanahu wa taala berfirman,

Mengingatkan makar orang-orang Kafir,

و دوا لو تدهن فيدهنون

Dan mereka berharap kalian bersikap mencari muka / lunak kepada mereka (orang Kafir) sehingga mereka pun bersikap lunak.

Qs Al Qolam 9.


Syaikh Shaleh bin Abdullah bin Humaid berkata,

“Makanya, mereka orang Kafir berharap kamu dapat condong kepada mereka, dan berharap kamu meninggalkan kebenaran yang ada padamu, sebab itu mereka menampakkan kelembutan padamu agar kamu condong kepada mereka”.

Tafsir Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh.



Bangsa yang terjajah adalah bangsa yang mewarisi sifat sifat rendah diri, bahkan pada penjajahnya.

Dan kita melihat hari ini, apa yang datang dari orang Kafir, serasa indah, maju, dan berperadaban.

Lebih dari itu, rasa rendah diri itu, juga muncul pada rana agama.

Sehingga muncul rasa cari muka dan merasa rendah pada Kekafiran dan orang Kafir.


Musibah kedua, orang-orang yang dijadikan panutan dari kalangan tokoh agama, malah menghasung Kemungkaran, bahkan itu adalah Kekafiran.

Agar kita sedikit bersikap longgar, ndepe-ndepe di depan orang Kafir.

Dan merasa sungkan, bila tidak ikut “bertoleransi” (?)

Akhirnya muncul musibah, kaum muslimin di paksa, untuk wajib ikut merayakan natal, ikut kebaktian, mengisi acara gereja, minimal sungkan untuk tidak mengucapkan Natal dan ikut Tahun Baru.

Hal ini di sadari atau tidak merupakan kekufuran.

Sementara, mereka para tokoh, seakan tidak bisa makan, kecuali mengemis di depan pintu-pintu Gereja dan tempat penyembahan berhala, dan mengiring ummatnya dan menjual mereka, untuk kepentingan dunia mereka.

Yang di giring bak kerbau yang tidak berakal karena telah tergadaikan agama nya kepada Kyai (?).

Sementara, Kyainya adalah tokoh-tokoh jahat, yang mempolitisir ummat untuk kepentingan dunianya.


Ya Allah kami berdoa kepada Mu, siapapun yang menginginkan keburukan bagi kaum Muslimin, kembalikan keburukan itu pada mereka,


اللهم من ارد للمسلمين سوء فاشغله في نفسه

و رد كيده في نخر

و أجعل تدبيره تدميرا عليه.



Subuh, Sidoarjo

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabb nya.

Kajian ‘Aqidah

Kajian Aqidah

شرح العقيدة الواسطية

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.



Berkata Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rahimahullah,

و قوله (الله) سبحانه

Dan firman Allah Subhanahu wa taala,

و عنده مفتاح الغرب

Dan di sisi Nya semua kunci-kunci hal gaib.

Qs Al an’am 59.



Syarah singkat:

الغيب

Adalah Masdar dari kata,

غاب – بغيب – غيبا

Yakni sesuatu yang tidak terlihat.

Sifat ghaib adalah relatif.

Namun ghaib yang mutlak adalah ilmu Allah.

Sedang,

المفتاح

Bermakna, kunci atau tempat penyimpanan.

Hal-hal gaib yang ada di sisi Allah ada beberapa:

– Hari kiamat

– Turunnya hujan

– Apa yang ada pada kandungan

– Perkara yang akan terjadi

– Ilmu tentang kematian.

Hal ini mutlak ada pada ilmu Allah.

Barangsiapa menyatakan dirinya tau hal gaib, maka ia adalah menempatkan dirinya sebagai tandingan Allah dan Thaghut.

Allah menjelaskan detail ilmunya,

و ما تسقط من ورقة إلا يعلمها

Tiada satu pun daun yang jatuh dari pohonnya kecuali Dia mengetahuinya.

Bila satu daun dari jutaan pohon yang ada di bumi, begitu juga jumlah tetesan hujan, dan jumlah pasir, maka Allah lebih mengetahui hamba hamba yang Dia ciptakan.

Maka seorang tidak boleh menyandarkan keberhasilan atau kegagalan pada dirinya.

Namun ia bersyukur atas keberhasilan, dan ia sandarkan kelemahan dan kekurangan diri kepada Allah, dan senantiasa menggantung kan dirinya pada Nya.

Luasnya ilmu Allah, bahwa Dia tau hal yang telah terjadi, yang tengah terjadi dan yang akan terjadi, semua atas kehendak Nya yang mutlak dan takdir Nya.

Wajib Bahu Membahu Menumpas Radikalisme dan Terorisme

FATAWA

WAJIB BAHU-MEMBAHU MENUMPAS RADIKALISME DAN TERORISME

Haiah Kibarul Ulama mengatakan:

‏تجتاح العالم دعوات للتخويف من الآخر، وواجب المسلمين مشاركة عقلاء العالم في مواجهة هذه الدعوات المتطرفة.
(كلما أوقدوا نارا للحرب أطفأها الله)

Dunia (islam) sedang menumpas seruan-seruan yang mengajak untuk melancarkan teror kepada orang lain, dan kewajiban kaum Muslimin adalah ikut andil bersama-sama dengan orang-orang yang berakal sehat di dunia ini untuk menghadang seruan-seruan radikal semacam ini.

ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﺃَﻭْﻗَﺪُﻭﺍْ ﻧَﺎﺭًﺍ ﻟِّﻠْﺤَﺮْﺏِ ﺃَﻃْﻔَﺄَﻫَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ.

“Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, maka Allah memadamkannya.” (QS. Al-Maidah: 64)

🌍 Sumber || https://twitter.com/ssa_at/status/747018511470460929

Kami (Abu Abd Rahman) tambahkan :

Teroris adalah upaya menakut-nakuti dan upaya membuat kerusakan di muka bumi tanpa hak.

Baik individu, organisasi, kelompok masa, atau bahkan negara.

Contoh terorisme adalah :

Peledakan bom.

Pembantaian muslim di Papua.

Penjajahan Yahudi atas Palestina.

Dan semisal itu.

Maka memaksakan istilah terorisme hanya untuk ummat Islam saja adalah bentuk terorisme lain.

Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita semua dari fitnah.

Hakikat Tawassul Antara yang Dilarang & Diperbolehkan

Tawassul artinya menjadikan sesuatu sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tawassul ada yang diperbolehkan yaitu Tawassul yang Masyru’ (disyariatkan), dan ada Tawassul yang dilarang yaitu Tawassul yang Syirik dan Bid’ah.

Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz berkata, “Para Ulama semisal Al-Imam Ibnul Qoyyim dan selain beliau menyebutkan Tawassul ada tiga macam:

(1). Tawassul Syirik Akbar (Membatalkan Islam).
Contohnya berdoa kepada mayyit, beristighotsah kepada mayyit, menyembelih dan bernadzar untuk mayyit (dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah). Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

(2). Tawassul Bid’ah (Tidak Dicontohkan Nabi ﷺ).
Contohnya Tawassul dengan dzat makhluk seperti ucapan, “Alloohumma inni as’aluka bidzaati fulan..” (Ya Allah aku memohon kepada Engkau dengan perantaraan Fulan), “Alloohumma inni as’aluka bi’ibadikassholihin..” (Ya Allah aku memohon kepada engkau dengan perantara hamba-Mu yang sholih), “Alloohumma inni as’aluka bi Muhammad..bi Musa..” (Ya Allah aku memohon kepada engkau dengan perantara Nabi Muhammad.. Nabi Musa), semua ini Tawassul Bid’ah yang menjadi sarana kepada kesyirikan.

(3). Tawassul Masyru’ (Disyariatkan).
Tawassul dengan nama Allah dan sifat-Nya yang mulia seperti ucapan, “As’aluka birohmatik..” (Aku memohon kepada Engkau ya Allah dengan rahmat-Mu), “As’aluka bi’ilmik..”(Aku memohon kepada Engkau dengan ilmu-Mu), “As’aluka bi-ihsanik..”(Aku memohon kepada Engkau dengan kebaikan-Mu). Dalilnya firman Allah ta’ala:

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asma’ul husna (nama-nama yang indah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan asma’ul husna itu.” (Al-A’rof: 180)

Begitupula Tawassul dengan amalan sholih, Tawassul dengan keimanan, Tawassul dengan doa orang sholih yang masih hidup (termasuk meminta doa Nabi ﷺ sewaktu beliau masih hidup), semua itu Tawassul yang disyariatkan.” ( Via binbaz.org.sa)

Orang yang membolehkan Tawassul Syirik dan Bid’ah umumnya berhujjah dengan hadits palsu, Istidlal (pendalilan) yang tidak pada tempatnya, tidak amanah dalam menerjemahkan hadits.

https://t.me/manhajulhaq

Hinanya Kesyirikan

Fawaid edisi khusus(menyibak fenomena kesyirikan pada sebagian kaum Muslimin dengan dalih menghidupkan tradisi).Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary. يٰصٰىحِبَىِ السِّجْنِ ءَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوٰحِدُ الْقَهَّارُ(Yusuf berkata) wahai teman sepenjara, apakah Rabb-Rabb yang bermacam-macam itu lebih baik dari Allah yang Esa lagi perkasa?. مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءً سَمَّيْتُمُوهَآ أَنْتُمْ وَءَابَآؤُكُمْ مَّآ أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ  ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ  ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا إِلَّآ إِيَّاهُ  ۚ ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.Apa yang kalian sembah selain Nya, tidaklah kecuali nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat-buat, Allah tidak menurunkan keterangan dari hal itu, menetapkan satu hal itu tidak ada yang berhak kecuali Allah, Dia telah memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Nya, inilah agama yang tegak itu, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Surah Yusuf : 39-40).Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah As Sady rahimahullah menjelaskan, ا ارباب عاجزة ضعيفة لا تنفع و لا تضر و لا تعطي و لا تمنع و هي متفرقة ما بين اشجار و احجار و ملائكة و اموات و غير ذلك من أنواع المعبودات التي يتخذها المشركون. Apakah Rabb-Rabb yang lemah, tidak berdaya, tidak bisa memberi manfaat, tidak bisa mendatangkan keburukan, tidak bisa memberi, tidak mampu menahan, sedangkan mereka bentuknya bermacam-macam dari pohon, batu, malaikat, orang mati yang telah di kubur, dan lainnya, dari macam-macam sesembahan yang di yakini orang Musyrik. Lalu beliau melanjutkan, فإن الفرق بين عباذة الله وحده لا شريك له و بين الشرك به اظهر الأشياء و ابينها ، و لكن لعدم العلم من أكثر الناس بذلك ، حصل منهم ما حصل من الشرك. Perbedaan antara peribadatan kepada Allah yang Esa dan tiada sekutu bagi Nya dengan perbuatan Syirik adalah perkara yang jelas dan begitu terang, namun karena tidak adanya ilmu di kebanyakan manusia tentang hal ini (Tauhid dan Syirik), maka terjadilah apa yang terjadi dari perbuatan Syirik. Lihat lebih jelasnya di kitab Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalami Manan surah 12 ayat 39-40. Hal 409. Cetakan Darul Alamiyah Mesir. Berawal nya tulisan ini, terkait ucapan seorang tokoh agama di sebuah masjid, dengan suara melalui speaker yang cukup keras di malam maulid nabi shalallahu alaihi wa salam dan di barengkan dengan acara haul,”Sak niki mboten wonten nami-nipun Syirik, mboten wonten nami-nipun bid’ah,Wong khol di warah syirik, wong maulid nabi, di warah bid’ah, anak e wong payan, ae di ulang tahun-i, mosok kanjeng nabi orah”(sekarang tidak ada yang namanya syirik dan tidak ada yang namanya bid’ah, Orang ngadakan haul di bilang syirik, Orang adakan maulid nabi di bilang bid’ah, anaknya orang payan (payan, sebuah dusun di sedati, sidoarjo) saja di ulang tahun-i, masak nabi tidak). Sebuah ungkapan dan ucapan yang jauh dari Ilmu.Bila taraf kyai, seperti itu, yakni bicara tanpa ilmu, lalu bagaimana dengan ummatnya???. Sedang Allah subhanahu wa taala menjelaskan sebagian manusia jatuh pada kesyirikan, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هٰٓؤُلَآءِ شُفَعٰٓؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ  ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْأَرْضِ  ۚ سُبْحٰنَهُۥ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُونَ.Dan mereka mengibadahi selain Allah apa yang tidak bisa mendatangkan keburukan dan manfaat, dan mereka berkata, inilah pemberi syafa`at untuk kami di sisi Allah, apakah kalian akan mengajari Allah tentang sesuatu yang tidak di ketahui Nya dari apa yang ada di langit dan bumi? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (Surah Yunus : 18).Lalu di katakan, hari ini tidak ada kesyirikan???. Tentu satu ucapan dusta. Kami (Abu Abd Rahman) kutip dari buku fakta baru Wali Songo, Bausquet dalam tulisannya tahun 1938, berkata, singkatnya, di bawah baju berlubang-lubang Islam, tampak badan Animisme, sedikit ke Hinduan, yang bagi rakyat merupakan agama mereka yang sejati, Islam Indonesia mempunyai corak yang sangat menyimpang dari Islam biasa.Lihat Agama asli Indonesia /Oleh Jwm Bakker, Sj /184. Fakta baru Wali Songo 268.Wahai para kyai, para ulama, dan ustad, kewajiban mu, adalah menerangkan dengan jelas, agama Allah yang Hanif. Jangan karena kepentingan, kalian sembunyikan kebenaran.Bahkan kalian adalah orang yang pertama yang menganjurkan kesyirikan dan bid’ah. Seruan-seruan pada kejahiliyaan dan kesyirikan melalui seruan untuk kembali pada agama nusantara, adalah bentuk pemurtadan gaya baru. Bila misi dan zending, berupa memurtadkan kaum Muslimin kepada kekafiran Kristen, maka upaya untuk mengajak pada tradisi, dan agama nusantara, adalah upaya sistematis untuk memurtadkan kaum Muslimin kepada agama asli Indonesia, yang tidak lain kejahiliyaan lama berupa Animisme dan kesyirikan. فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُونِهِۦ  ۗ قُلْ إِنَّ الْخٰسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوٓا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ  ۗ أَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ.Maka sembahlah sesuka kalian apa yang kalian inginkan selain Nya (bila memang kalian tidak nurut dengan nasehat), katakan, sesungguhnya orang-orang yang rugi, adalah orang yang merugikan dirinya dan keluarga nya (karena ajakannya) pada hari kiamat, ketahuilah, itulah kerugian yang jelas. (Surah Az Zumar : 15).Bertaqwalah wahai para pengemban agama. Di tangan kalian baik buruknya ummat, Perbaiki ummat ini, jangan malah di hasung pada kesyirikan dan bid’ah.

Makna Syahadatain (Dua Kalimat Syahadat)

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, “Aku mendengar Rosulullah ﷺ bersabda:بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمد عبده رسوله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، وحج البيت ، وصوم رمضان”Pondasi agama Islam dibangun di atas lima perkara, (1) Bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan Rosul-Nya, (2) Menegakkan sholat, (3) Menunaikan zakat, (4) Pergi haji ke Baitullah, (5) Puasa di bulan Romadhon.” (HR. Al-Bukhori 8 dan Muslim 16)Bersaksi dengan syahadat tauhid “Laa ilaaha illallaah” yakni aku bersaksi dengan lisanku dan membenarkan dengan hatiku bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah, dan tidak ada selain Allah yang patut diberikan penghambaan dan pengagungan sebagaimana pengagungan kepada Allah.Para Ulama berkata bahwa kalimat “Laa ilaaha illallaah” mengandung dua rukun:(1). An-Nafyu (penafian) yang terkandung dalam kalimat “Laa ilaaha” (tidak ada sesembahan yang benar) yaitu meniadakan dan menganggap batil segala sesembahan selain Allah (baik dalam bentuk keris, batu, pohon, jimat-jimat, manusia, jin, hewan dan makhluk-makhluk yang lain).(2). Al-Itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat “illallaah” (hanya Allah semata) yaitu menetapkan hanya Allah semata satu-satuNya pihak yang berhak disembah dengan cara yang diridhoi-Nya. Allah berfirman kepada Nabi Ibrohim ‘alaihissalam, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kalian sembah, tetapi (aku hanya menyembah) Tuhan yang menjadikanku.” (Az-Zukhruf: 26-27)Bersaksi dengan syahadat tho’ah “Muhammadan ‘Abduhu wa Rosuluh” yakni aku bersaksi dengan lisanku dan membenarkan dengan hatiku bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba Allah dan Rosul-Nya. Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia dan mewajibkan mereka untuk membenarkan kabar yang beliau bawa dan menaati beliau melebihi ketaatan kepada manusia seluruhnya. Siapa saja yang menaati beliau maka dia Mukmin, sedangkan siapa saja yang mengingkari beliau maka dia Kafir.Adapun syahadat tho’ah “Muhammad ‘Abduhu wa Rosuluh” mengandung dua rukun:(1). Tidak Ifroth (berlebihan-lebihan) yang terkandung dalam kalimat “Abduhu” (hamba-Nya) yaitu beliau ﷺ juga manusia yang diciptakan sebagaimana manusia yang lainnya, tidak boleh menempatkan beliau melebihi kedudukannya sebagai seorang hamba seperti berdoa meminta kepada beliau di sisi kuburannya, meyakini ruh beliau hadir di majelis-majelis, mengikuti beliau tetapi tidak sesuai petunjuk syariatnya seperti mengadakan perayaan dan peringatan yang tidak ada contohnya.(2). Tidak Tafrith (meremehkan) yang terkandung dalam kalimat “Rosuluh” (Rosul-Nya) yaitu Allah mengangkat derajat beliau ﷺ di atas seluruh manusia sebagai seorang Nabi dan Rosul, maka tidak boleh meremehkan kedudukan beliau dengan menganggapnya sebagai tokoh sejarah saja, mengolok-olok ajaran beliau, bahkan kita wajib mencintai beliau melebihi orangtua, anak, dan manusia seluruhnya termasuk diri kita sendiri.Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Imron: 164)Bid’ah (Penyimpangan) Terkait Pengucapan Dua Kalimat Syahadat(1). Mengharuskan seorang muslim memperbaharui syahadatnya di depan seorang imam, atau pimpinan pengajian, atau ketua organisasi karena dianggap belum sah persaksiannya.(2). Menambah syahadat “Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullah” (Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah).https://t.me/manhajulhaq

Hukum Mengolong-golongkan atau Mengkotak-kotakkan Kaum Muslimin

Pertanyaan:

Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Termasuk persoalan yang memprihatinkan sekarang ini adalah kami dapati sebagian orang berusaha mengkotak-kotakkan kaum Muslimin dan mereka merasa senang dengan perbuatan tersebut?

Jawaban :

Seorang muslim tidak dibolehkan menyibukkan dirinya mengomentari orang lain serta memecah belah persatuan kaum Muslimin. Memvonis atau menghakimi orang lain tanpa ilmu termasuk tindak pengrusakan yang dilarang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.”

[Al-Isra/17:36]

Seorang Muslim seyogyanya melakukan perbaikan dan menjaga persatuan kaum Muslimin serta berusaha merapatkan barisan mereka di atas panji-panji kebenaran. Bukan justru memecah belah Ahlus Sunnah dan memilah-milah mereka menjadi beberapa golongan dan kelompok. Yang dituntut darinya jika melihat kesalahan di tengah kaum Muslimin adalah berusaha memperbaikinya. Jika dilihatnya ada celah untuk berpecah maka ia wajib berusaha menyatukannya. Inilah yang dituntut dari seorang Muslim. Yaitu menyeru kepada persatuan dan menambal celah-celah perpecahan. Usaha itu merupakan bentuk nasihat yang sangat agung bagi penguasa dan segenap kaum Muslimin.

[Disalin dari kitab Muraja’att Fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Dua Kelompok Menyimpang dalam Masalah Taqdir

EDISI MANHAJ

Dikatakan menyimpang karena menyelisihi Aqidah Salaf yaitu Aqidah Nabi ﷺ dan para Shohabat beliau Rodhiyallahu ‘anhum.

(1). Kelompok Jabriyyah.
Meyakini seorang hamba dipaksa dalam melakukan amalannya, tidak memiliki kehendak dan kemampuan sama sekali. Ibarat wayang yang digerakkan oleh dalang. Pemahaman ini yang diadopsi oleh orang-orang tarekat yang menihilkan syariat.

(2). Kelompok Qodariyyah.
Meyakini seorang hamba mutlak bebas dalam melakukan amalannya, semuanya terjadi murni atas pilihannya sendiri tidak berjalan di bawah kehendak Allah. Pemahaman ini yang diadopsi oleh orang-orang Syi`ah dan Mu’tazilah diantara mereka mengatakan, manusia berbuat dulu baru Allah menetapkan.

Pemahaman kedua kelompok yang menyimpang ini sejak dulu telah diperingatkan oleh para Ulama.

Jabriyyah berlaku Ghuluw (melampaui batas) dalam menetapkan taqdir dengan menafikan kehendak seseorang sehingga berbuat kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan, kemaksiatan dengan alasan taqdir.

Sedangkan Qodariyyah berlaku Ghuluw dalam menetapkan kehendak seorang hamba dengan menafikan kehendak Allah sama sekali. Menurut mereka, beriman kepada taqdir berarti pasrah menafikan usaha. Disadari atau tidak, mereka telah menganggap Allah jahil (tidak mengetahui) apa yang diperbuat oleh hamba-Nya.

Subhaanallah ‘Amma Yashifuun (Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan).

Adapun yang benar adalah Aqidah Ahlussunnah yang mengikuti para Salaf. Ahlussunnah pertengahan di antara kedua kelompok tersebut, tidak Ghuluw seperti Jabriyyah dalam menetapkan taqdir, dan tidak Ghuluw seperti Qodariyyah dalam menetapkan kehendak manusia. Ahlussunnah meyakini manusia berbuat dan berkehendak sesuai pilihannya akan tetapi tidak keluar dari kehendak Allah dan ketetapan-Nya.

https://t.me/manhajulhaq

Jangan Cabut Ketaatan Meskipun Penguasamu Zalim

🖋 Abu Abd Rahman Bin Muhammad Suud Al Atsary.

Semenjak berakhirnya masa kolonialisme Kafir barat, bisa dikatakan kaum Muslimin tercabik-cabik, baik negeri mereka, kesatuan mereka dan kekayaan mereka.

Bahkan Aqidah mereka, mereka mengambil Aqidah yang cenderung kepada Sufi dan Liberal atau mengambil sikap ekstrem Khawarij, setelah melalui masa penjajahan yang panjang. Serta tidak bersatunya kalimat mereka di atas Aqidah yang lurus dan Manhaj yang selamat.

Nyaris kaum Muslimin seakan anak ayam yang kehilangan induk. Tidak ada seorang yang berkuasa, menggunakan kekuasaannya untuk membela Islam dan kaum Muslimin, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.

Di tambah lagi, sebagian pemuda yang memiliki semangat dalam masa-masa hijrah dan kenyataan yang tidak bisa di pungkiri, melihat sebagian pemimpin tidak menjalankan syariat Allah subhanahu wa taala dan cenderung memusuhinya, dan hidup Hedonis.

Sebagian mereka mengambil sikap tanpa bimbingan ulama dan cenderung bersikap berlebihan.

Tentunya hal ini perlu disikapi para ulama dengan baik, tidak hanya menyalahkan satu sisi, baik dari sisi pemerintah yang wajib mereka menjadi media nasehat, amar ma’ruf dan nahi munkar, serta tentunya nasehat kepada pemerintah tidak perlu disampaikan pada khalayak umum.

Dan juga, mereka wajib memberi bimbingan kepada para pemuda yang memiliki semangat beragama, yang biasanya para pemuda dengan sifat-sifatnya, enggan melihat kezaliman dan kemunkaran yang dibiarkan dan dibela.

Di sini, kami menjelaskan tentang sikap kami, Ahlus Sunnah Wal Jamaah kepada pemerintah. Dan nasehat umum kepada kita semua, rakyat dan sikapnya kepada pemerintah.

Selebihnya lihat tulisan saya, Syarah Aqidah Washitiyah. Bahwa kami bersikap sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Nabi shalallahu alaihi wa salam menasehatkan,

أو صيكم بتقوى ألله ، و السمع و الطاعة ، و إن تأمر عليك عبد.

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memerintah kalian adalah budak. (HR. Ahmad, Tirmidzy, Abu Dawud)

Nabi shalallahu alaihi wa salam menjelaskan akan munculnya pemimpin-pemimpin zalim, mementingkan dirinya sendiri, yang cenderung memusuhi Islam, tidak ada pembelaan kepada Islam dan kaum Muslimin,

يكون بعدي أئمة لا يهدون بهدي و لا يستنون بسنتي ، و سيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس ،قلت ، كيف أصنع يا رسول الله صلى الله عليه وسلم إن أدركت ذلك ؟، قال تسمع و تطيع ، و إن ضرب ظهرك و اخد مالك ، فاسمع و اطع.

“Akan muncul setelah ku, pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku, dan mengambil sunnah bukan dengan sunnahku.

Dan akan tegak orang yang memimpin di antara mereka yang hatinya seperti hati setan dalam badan manusia.

Lalu aku (Hudzaifah) berkata, bagaimana yang akan aku perbuat, bila ku dapati wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa salam kondisi semacam itu ?

Beliau bersabda, dengar dan taatlah, meskipun dipukul punggungmu dan diambil hartamu dengan dzalim, dengar dan taatlah. (HR. Muslim)

Wahai kaum muslimin, hendaknya engkau taat, tidak mencabut ketaatan kepada pemimpin, selama kezaliman penguasa itu dalam hal dunia.

Seperti ketika mereka mengambil hak dan hartamu. Seorang Salafy, tidak akan mempermasalahkan sulitnya dunia, naiknya harga, dan kesulitan kesulitan lainnya. Bahkan mereka terdepan bila diminta penguasanya membantu dalam ekonomi dan bila di seru untuk berjihad. Sekali lagi, hendaknya kita semua, bagaimana pun kezaliman yang kita lihat, jangan ambil sikap mencabut ketaatan selama mereka Muslim dan shalat. Inilah Aqidah kita.

على المرء المسلم السمع و الطاعة ، فيما أحب و كره ، إلا أن يؤمر بمعصية ، فإن أمر بمعصية فلا سمع و لا طاعة.

Atas setiap orang Islam, untuk mendengar dan taat kepada pemerintah atas apa yang mereka sukai dan mereka benci dari mereka. Kecuali bila di perintah dalam kemaksiatan, bila di perintah kepada maksiat maka tidak ada mendengar dan taat. (HR. Bukhari Muslim)

Umpama pemerintahmu melarang engkau menerapkan sunnah, melepas cadarmu, padahal engkau meyakinkan cadar itu wajib, atau melarangmu shalat, dan menunjukkan keistiqomahan. Maka cukup, engkau tidak taat dalam hal itu. Namun jangan sekali kali engkau angkat ketaatan darinya, dan mengambil jalan yang tidak syari dalam merubah satu kemunkaran kepada bentuk kemunkaran lain yang lebih buruk. Serta, sertakan untuk mereka, pemerintah dalam doa doamu, agar Allah memperbaiki mereka dan memberi hidayah kepada mereka.

Semoga dengan ketaatan mu pada pemerintah, baik kondisi senang atau yang tidak di senangi, dalam rangka ketaatan pada Allah dan rasul Nya, Allah subhanahu wa taala angkat musibah, kezaliman, dan ketidak adilan yang menimpa kaum muslimin. Tetap di jalur yang syari.

Syarah Kitab Aqidah Washitiyah

BAGIAN I, II, III

Berkata Imam Ibnu Taimiyah,

و من الإيمان بالله ،الإيمان بما و صف به نفسه في كتابه و بما وصفه به رسول الله صلى الله عليه وسلم من غير تحرف،و لا تعطيل، و من غير تكييف، و لا تمثيل،__بل يؤمنون بالله سبحانه – ليس كمثله شي و هو السميع البصير

Dan diantara keimanan kepada Allah adalah, Iman pada sifat-sifat Nya, yg dia telah mensifati diri Nya dan sifat yg dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam tanpa

Tahrif : Mengubah lafadz

Tatil : Mengingkari

Takyif : Membagaimanakan

Tamsil : Menyerupakan

Yakni mengimani bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatupun, dan dia maha mendengar dan melihat.

Fawaid : Dengan seorang mengenal Rabb Nya, maka ia akan menemukan cinta kasih, ketenangan, kekokohan, istiqomah, keteguhan dan tidak mudahnya ia murtad dan goyah. Ia akan yakin dan berbunga hatinya dengan iman. Syaratnya ia harus faham siapa Rabb Nya dan sifat serta nama-nama Nya.Disini batasan iman islam dengan iman orang kafir dan juga ahli bid’ah.

Dimana mereka, orang kafir dan ahli bid’ah tidak mensifati Allah dengan semestinya. Tauhid Uluhiyyah dan Asma wa Sifat, jurang pemisah ahlul iman dengan ahlul bid’ah. Dan kitab Aqidah Washitiyah titik beratnya pada hal ini, yakni sifat Allah dan hak Allah semata untuk diibadahi.

Pertama, kita harus faham, bagaimana berinteraksi dengan nama dan sifat Allah

Kita imani lafad, makna lafad itu, tanpa di takwil. Umpama, sifat turun, tertawa, tangan, kaki, betis, istiwa, marah, ridha, benci, suka, cinta dan semisal. Kita yakini sifat ini ada pada Allah, karena dijelaskan di kitab dan sunnah, tanpa kita ingkari lafad, makna atau kita simpangkan pada makna lain. Jatuhnya ahli bi’dah, karena mereka berani berkomentar tentang Zat Allah tanpa ilmu, dan mengambil sebagian keyakinan ahli kitab dan para filusuf, ini sebab utama.Mereka mensifati Allah sebagaimana para filusuf memahami segala sesuatu dengan akal mereka. umpama, Jahmiyah, mereka mengatakan Allah tidak punya sifat, masa tuhan punya sifat.

Ahlus sunnah menjawab, sesuatu di kenali dengan sifat, bila tidak ada sifat, maka tidak ada wujud sesuatu itu atau omong kosong.

Asyariyah mengatakan, sifat Allah itu 20, atau 9, ada sifat Wajib, sifat tidak mungkin, dan sifat Jaiz. Ahlus sunnah menjawab, kalian tidak punya adab dengan Allah, kalian mewajibkan atau tidak mewajibkan Allah atas sesuatu, padahal ia berkehendak sesuai kehendak Nya.

Dan kenapa kalian batasi sifat Allah? Atau kalian haramkan Allah atas satu hal, siapa kalian mengatur-atur Allah? Apa kalian lebih pintar dari Allah?Qodariyah berkata, Allah tidak menakdirkan, kitalah yang mengatur hidup kita sendiri. Ahlus sunnah menjawab, bahkan Allah mengetahui yg Awal dan Akhir, semua hal telah diciptakan Allah, termasuk Takdir, kita di suruh berbuat, karena kita tidak tau Takdir kita, dan setiap orang akan di mudahkan menuju takdirnya.

Jabariyah berkata, kita adalah makluk yang di atur, seperti bulu, baik buruk bukan kita yang berniat, kita baik atau buruk sudah Takdir. Ahlusunnah menjawab, Benar Allah telah menakdirkan, namun juga Allah telah menyembunyikan takdir itu agar kita beramal.

Dengan amal itu, Allah memudahkan ahli surga ke surga, ahli neraka ke neraka, kita belum tau kita termasuk golongan mana.Adanya pahala, siksa, Surga dan Neraka adalah agar kita terus maju dalam usaha dan amal kebaikan, tinta telah kering dan lembaran telah tertulis, namun demikian Allah menyuruh kita beramal, karena itulah tujuan Allah merahasiakan Takdir Nya.

Bagian 2

🖋Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary

Sebelum kita masuk pembahasan malaikat, disini kita sedikit membahas dari yang lalu.

Bahwa kata Aqidah Salaf bermakna landasan yang tetap tidak berubah sampai kapanpun, meski berubahnya manusia dan masa. Saudara – saudara kita yang belajar Aqidah Salaf tahun 90-80 ke belakang, sebagaimana saya katakan kemarin, lebih kokoh manhajnya daripada hari ini.

Kenapa? (Kita akan sebut disini inisial saja, buat mempermudah) Bisa dikatakan bahwa saat ini kita beragama dan mengambil Manhaj Salaf hanya sebagian, dalam arti mengikuti tren yang ada.Agama seakan pakaian atau konser musik. Terbukti, ketika awal munculnya fitnah. Contoh, Abd Somad, Adi Hidayat , atau Umar Mita, subhanallah… Terlihatlah yang selama ini tersembunyi. Sampai – sampai saya, dan tentu Asatidah lain yang Salafy, di tuduh macam – macam karena mentahdzir Abd Somad dan Umar Mita, bahwa mereka bukan Salafy. Baru, setelah beberapa lama terlihat apa yang ada pada mereka dari penyimpangan.

Namun sudah terlanjur, mereka sudah memiliki masa…Kenapa ini terjadi?

1. Karena kita tidak belajar sejak awal kitab. Kita tahu dakwah salaf, hanya dari potongan – potongan video instagram.

2. Tidak adanya kejujuran dan niat serta doa yang tulus meminta kebenaran (Amaliah hati)

3. Kita beragama hanya euforia, dalam arti ikut yang rame, rame ini ikut, rame ini ikut. Padahal agama terutama masalah aqidah adalah tetap.

4. Sifat dari dunia dan manusia yang berubah, tidak ada yang tetap didunia ini, kecuali yang Allah rahmati.

5. Kita beragama hanya icip – icip dan ditepi, serta melihat untung, mana yang banyak itu yang diikuti, padahal sifat kebenaran itu tetap meski berubahnya waktu.

6. Trend

7. Kita tidak memiliki sandaran kokoh

8. Kita masih beragama secara ikut individu atau yg ditokohkan. Ini diantara sebab lemahnya aqidah kita.

Bagian 3

🖋 Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary

Syarah pembahasan malaikat

و ملائكته

Dan kita beriman kepada malaikat

الملائكته

Malailat adalah jamak dari ملاك Asal kata dari ملك

Yang bermakna

الألوكة

Penyampai

atau

الرسالة

Pembawa kabar (risalah)

Lihat Surah Fatir ayat 1

الحمد لله فاطر السموات والأرض جاعل الملائكة رسولاولي أجنحة مشنى وثلاث وربعيزيد في الخلق مايشاءأن الله على كل شيء قدير

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan – utusan yang mempunyai sayap masing – masing dua, tiga atau empat. Allah menambahkan pada ciptaan – Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Malaikat dicipta dari cahaya, dan diberi sifat ketaatan. Malaikat yang utama ada 3 :

Jibril, mikail, israfil.

Sebagaimana salah satu Do’a Iftitah di shalat malam,

اللهم رب جبرايل و ميكاءيل واسرافيل… فاطرا السماوات و الارض

Tugas malaikat beragam. Malaikat Allah sangat banyak, umpama, jangan kita bayangkan malaikat pencatat hanya ada 2, umpama… Ini fatal…. Kenapa fatal? Karena Raqib dan Atid itu adalah nama sifat untuk malaikat pencatat amal anak adam.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ . إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ .مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْل*ٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ) سورة ق/16-18.

“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. “

QS. Qoff: 16-18.

Malaikat ada juga yang dibenci kalangan yahudi, sebagaimana di Surah Al Baqoroh ayat 97-98.

Ada juga yang di sebut Syafa’at Malaikat. Sebagaimana di Surah Al Baqoroh dan Thaha, juga Yasin dan sebagainya…

Syafa’at Malaikat bisa di berikan dengan dua syarat,Izin dari Allah bagi pemberi Syafa’at, dan Allah Ridha kepada yang diberi syafa’at.

Terakhir, meskipun begitu mulianya Malaikat, tidak boleh bagi kita memberikan ibadah kepada mereka, dari do’a, nazar, sumpah, sembelihan, dan semisal.

————————————–

https://linktr.ee/ukhuwahfilhijrah

√Kunjungi website kami

√Follow TG, IG, FB, FP, LINE, TWITTER : Ukhuwah fil Hijrah

Aqidah Manhaj

AQIDAH MANHAJ

🌼 Kaidah yang ke 50 🌼

⚉ Bahwa Assalafiyyun Ahlussunnah wal Jama’ah menyebutkan terjadi kesalahan dalam memahami waro’ dari 3 sisi:

1⃣ Yaitu banyak orang mempunyai keyakinan bahwa waro’ itu hanya berhubungan dengan meninggalkan sesuatu yaitu meninggalkan yang haram, meninggalkan yang syubhat, namun mereka malah kemudian jatuh kepada meremehkan kewajiban, dan ini sebuah pemahaman yang salah,

Ada orang maasya Allah meninggalkan yang haram, meninggalkan yang syubhat, tapi ternyata dia malah meninggalkan yang wajib seperti menyambung silaturahim, memenuhi hak tetangga, memberikan santunan kepada fakir miskin dan yang lainnya.

Maka ini tentu sebuah kesalahan, bahwa waro’ hanya sebatas di pahami untuk meninggalkan sesuatu yang haram dan sesuatu yang samar.

2⃣ Yaitu ada orang yang melakukan kewajiban dan juga sesuatu yang samar.
Ada orang yang meninggalkan yang haram dan juga sesuatu yang samar, sehingga waro’nya ini malah menimbulkan was-was.
Sebuah contoh ada orang yang berwudhu, lama wudhunya sampai setengah jam, kenapa ?
Karena dia takut jangan-jangan saya belum mencuci anggota badan saya, jangan-jangan saya tadi sudah batal, sehingga akhirnya apa ? Dia menganggap itu sebuah waro’. Padahal itu bukan waro’, itu adalah was-was , maka ini jelas perkara yang tidak dibenarkan, bahkan termasuk berlebih-lebihan yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasalam sebutkan:

‎هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ

“Celakalah orang-orang yang berlebih-lebihan.“

3⃣ Yaitu seseorang hanya sebatas melihat dari satu sisi tapi melupakan sisi yang lain.
Contoh misalnya dia melihat dari sisi kerusakannya saja. Tapi tidak melihat dari sisi maslahatnya.
Padahal syari’at Islam itu mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah.
Kalau ternyata maslahatnya jauh lebih besar daripada mafsadahnya, maka itu di syari’atkan.
Kalau ternyata mafsadahnya jauh lebih besar daripada maslahatnya maka itu di haramkan.
Dan apabila maslahat dan mafsadah sama, maka hendaknya kita berusaha untuk tinggalkan.

Nah tapi ada orang yang hanya sebatas melihat dari satu sisinya saja, dari sisi kerusakannya saja dan menganggap itulah waro’. Padahal tidak demikan, memang misalnya disana ada kerusakannya tapi disana maslahatnya jauh lebih besar yang orang tersebut tidak melihat dari sisi situ.

 Maka dari itu pahamilah bahwa hakikat waro’ adalah meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan akan merugikan akhirat kita.
Berupa meninggalkan yang haram, meninggalkan yang samar, melaksanakan berbagai macam kewajiban-kewajiban, namun mereka tidak jatuh kepada was-was, mereka betul-betul berpegang kepada dalil, berpegang kepada kaidah-kaidah yang telah di tetapkan oleh syari’at, sehingga ketika terjadi was-was mereka kembalikan kepada sesuatu yang bersifat yakin. Nah inilah perkara yang benar dalam memahami waro’.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

🌼 Kaidah yang ke 51 🌼

⚉ Bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah menyeru kepada apa yang di seru oleh Alqur’an yaitu akhlak yang mulia.

Allah berfirman [ QS Al-A’raf : 199]

‎خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Ambillah maaf dan perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh“

Ibnul Qayyim berkata:
“Perhatikanlah ayat ini apa yang terkandung padanya berupa akhlak yang baik dan melaksanakan hak Allah pada mereka dan selamat dari keburukan mereka.

Kalaulah manusia seluruhnya mengambil dan mengamalkan ayat ini tentu itu akan mencukupi mereka, karena sifat maaf itu menyebabkan akhlak mereka itu menjadi selamat, tabiat mereka pun menjadi lembut, demikian pula untuk memberikan harta.”

Demikian pula sikap yang baik, maka itu adalah sikap mereka kepadanya, adapun sikap ia kepada mereka yaitu menyuruh kepada mereka kepada yang ma’ruf, dan itu sesuatu yang sifatnya disaksikan oleh akal akan kebaikannya bahwasanya itu adalah perkara yang baik, demikian pula apa yang Allah perintahkan. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh supaya kita selamat daripada kebodohan mereka.

Orang bodoh kalau kita layani pasti mereka akan membalas dengan yang lebih, maka sehingga akhirnya kitapun ikut berbuat bodoh, tapi dengan cara kita berpaling dari orang bodoh maka kita selamat dari kebodohan mereka.

Beliau melanjutkan lagi, “Maka adakah kesempurnaan bagi seorang hamba dari belakang ini semua, maka adakah pergaulan dan siasat yang lebih baik daripada pergaulan dan siasat seperti ini.”

Ini merupakan ayat yang luar biasa, memberikan kepada kita pendidikan bagaimana kita bersikap kepada makhluk, yaitu dengan sikapi mereka dengan maaf. Dan maaf itu tidak sama sekali tidak menjatuhkan harga diri kita, bahkan menambah kemulian.

Yang kedua, memerintahkan mereka kepada yang ma’ruf, kemudian berpaling dari orang yang bodoh. Terkadang banyak orang-orang yang mencaci maki kita ataukah sikap-sikap lainnya yang merupakan kebodohan, tidak perlu kita ladeni, tidak perlu kita layani. Kita berpaling dari orang yang bodoh itu adalah lebih baik.

Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

🌼 Kaidah yang ke 52 🌼

⚉ Mereka meyakini bahwa Allah menjadikan kepemimpinan dalam agama itu hasil dari kesabaran dan keyakinan, dan keyakinan itu tidak mungkin di hasilkan kecuali dari ilmu yang dalam dan kuat.

Allah Ta’ala berfirman [QS As Sajadah : 24]

‎وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin dalam agama yang memberikan hidayah dengan perintah Kami disaat mereka sabar dan mereka yakin dengan ayat-ayat Kami.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah:
“Agama ini seluruhnya adalah berilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya. Dan mengamalkan ilmu harus dan membutuhkan kesabaran. Bahkan menuntut ilmu sendiri juga membutuhkan kesabaran, sebagaimana dikatakan oleh Mu’adz bin Jabal, “…hendaklah kalian menuntut ilmu karena mencari ilmu itu ibadah dan mengenalnya adalah menimbulkan rasa takut. Dan membahasnya termasuk jihad. Mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak tahu itu shodaqoh. Dan mengulang ilmu adalah tasbih. Dengan ilmu Allah di kenal dan di ibadahi. Dengan ilmu juga Allah di agungkan, di muliakan dan di tauhidkan…“

Allah mengangkat dengan ilmu itu suatu kaum, maka Allah jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin untuk manusia.
Dimana manusia mengambil hidayah dengan mereka. Dan mengambil pendapat mereka.”

Kata beliau, disini beliau menganggap membahas ilmu itu termasuk jihad. Sementara untuk berjihad itu butuh kesabaran.

Oleh karena itu Allah berfirman [QS Al’Ashr : 1-3]

‎وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2)

“Demi masa sesungguhnya manusia dalam kerugian“

‎إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh, sering bertawashi, saling berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat tentang kesabaran“

Maka ilmu yang bermanfaat itu pokok hidayah. Dan mengamalkan kebenaran itulah jalan kebenaran, jalan yang terbimbing, maka kebalikan dari ilmu yang bermanfaat itu adalah kesesatan, sementara kebalikan dari mengamalkan kebenaran itu adalah kerugian.

Jadi kesesatan itu hakikatnya beramal dengan tanpa ilmu. Sementara penyimpangan hakikatnya adalah mengikuti hawa nafsu.

Allah Ta’ala berfirman [QS An Nazm]

‎وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى . مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى

“Demi bintang apabila telah “hawa” (telah muncul atau telah terbenam). Maka teman kalian itu tidak tersesat (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam), tidak pula menyimpang“

Maka hidayah tidak mungkin diraih kecuali dengan ilmu, sementara bimbingan tidak akan diraih kecuali dengan kesabaran.

Oleh karena itu Ali bin Abi Talib rodhiyallahu ‘anhu berkata,

‎الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ

“Ketahuilah sabar dalam iman itu bagaikan kepala untuk badan, apabila kepala putus dari badan, maka akan matilah jasad, demikian pula iman pun akan mati tanpa kesabaran.” Kemudian Ali bin Abi Thalib mengangkat suaranya dan berkata, “ketahuilah tidak ada iman bagi orang yang tidak punya kesabaran.” (Dalam Majmu Fatawa jilid 10 halaman 40)

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.


Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Aqidah Manhaj

AQIDAH MANHAJ

🌼 Kaidah yang ke 46 🌼

⚉ Bahwa mereka mengingatkan kaum muslimin dan mewanti-wanti mereka dari fitnah yang menyesatkan.
Ibnul Qayyim membawakan hadits Hudzaifah ibnul Yamaan, dimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

“Fitrah akan di jalin di dalam hati seperti tikar yang dijalin seutas demi seutas, hati mana saja yang menerima fitnah, maka akan di berikan padanya goresan hitam. Dan hati mana saja mengingkari akan diberikan padanya goresan putih”.

Sehingga hati menjadi dua hati, yang pertama hati yang hitam dan kelam, bagaikan cangkir yang di balikkan, sudah tidak lagi mengenal yang ma’ruf, tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya saja. Dan hati yang putih tidak ter-mudhorotin oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada. (Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya).

Kata Ibnul Qayyim disini Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memberikan perumpamaan, dijalinnya fitnah dihati itu seperti tikar, sedikit demi sedikit. Lalu kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam membagi hati menjadi dua, hati yang menerima fitnah, maka lalu ia menjadi hitam dan hati yang menolak fitnah maka iapun menjadi putih. Kata beliau “wal Fitan” dan fitnah-fitnah yang masuk ke hati itu sebabnya adalah akibat penyakit, yaitu penyakit syahwat dan penyakit syubhat.
Maka ketika hati menerima penyakit syahwat atau penyakit syubhat (pemikiran-pemikiran yang menyesatkan) maka ia akan menjadi gelap gulita, sehingga tidak lagi bisa melihat hakikat kebenaran. Maka di zaman sekarang kita banyak melihat para penuntut ilmu sengaja memasukkan syubhat itu ke hatinya, dengan cara membuka situs-situs yang syubhat, website-website yang syubhat atau duduk di majelis-majelis ustadz yang banyak syubhatnya dengan alasan katanya, ambil baiknya dan buang buruknya. Padahal dia belum punya kemampuan ilmu untuk membedakan…

Akibatnya apa ?
Masuklah syubhat tersebut ke dalam hatinya. Sehingga apa yang terjadi ?
Menyebabkan hatinya menjadi kelam, akhirnya apa ?
Ia berada di atas kebingungan, kegelapan, mana yang sebetulnya di atas kebenaran. Yang musibahnya kemudian, kalau hatinya terbalik melihat kebathilan sebagai sebuah kebenaran, dan kebenaran sebagai sebuah kebathilan. Akibat daripada kurangnya keilmuan, sudah begitu di kuasai oleh syubhat dan syahwat.

Oleh karena itulah kewajiban kita, ini merupakan manhaj Salaf, selalu mengingatkan manusia untuk hati-hati jangan sampai kita terjerumus dalam fitnah yang menyesatkan tersebut.

Maka Asatidzah, Ustadz-Ustadz jika mengingatkan tentang kesalahan da’i-da’i yang sedang tenar misalnya.
Kenapa ?
Karena itu syubhat, dan itu bisa membahayakan hati kita, dan syubhat itu menyambar-nyambar… maka bukanlah ustadz-ustadz tersebut sedang karena dengki ataupun mencari ketenaran,… tidak, demi Allah.

Tapi itulah manhaj Salaf, manhaf Ahlussunnah wal Jama’ah untuk mengingatkan manusia daripada fitnah-fitnah yang menyesatkan.

👉🏼 Karena fitnah syubhat dan fitnah syahwat ini adalah 2 fitnah yang sangat berat sekali, yang bisa menyebabkan hati kita bahkan bisa mati, bahkan hati kita menjadi hati yang seperti Rasulullah sebutkan dalam hadits tersebut, tidak lagi bisa mengenal kebaikan, tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali sesuai dengan hawa nafsunya saja. Akibat apa ?
Karena hati tersebut tidak dijaga dari fitnah-fitnah yang akan bisa merusaknya.
.
Wallahu a’lam 🌴

🌼 Kaidah yang ke 47 🌼

⚉ Ahlussunnah wal Jama’ah mempunyai keyakinan bahwa diantara tanda ahli bid’ah yang paling tampak adalah “at Talawwun wat Tanaqqul” yaitu yang tidak kokoh di atas sunnah, diatas kebenaran, dia akan mengukuti hawa nafsunya sesuai dengan keinginan hawa nafsu bukan diatas hidayah, tidak pula berusaha untuk menggigit dengan gigi gerahamnya.

Karena memang demikian bid’ah itu menyebabkan seseorang itu bersikap memandang bahwasanya sunnah itu hanya sebatas alternatif saja, bukan satu-satunya jalan yang harus ditempuh.

👉🏼 Sementara Ahlussunnah menganggap bahwa sunnah itu harga mati, dalam artian tidak ada jalan lain kecuali sunnah Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam.

👉🏼 Dimana jalan menuju Allah dan menuju syurga hanya melalui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, tidak mungkin melalui pemikiran barat ataupun filsafat ataupun ilham dan pikiran-pikiran manusia.

Maka dari itu Ahlussunnah wal Jama’ah menganggap bahwa inilah jalan yang paling harus ditempuh satu-satunya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan pemahaman para Salafush-sholih.

Berkata Abul Faroj Al Hamdani; aku mendengar al-Marwazi berkata Imam Ahmad ditanya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam

‎إن الله احتجز التوبة صاحب بدعة

“sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari pelaku bid’ah.”

Apa maksudnya ? kata Imam Ahmad, artinya ia tidak di berikan oleh Allah taufiq dan tidak di mudahkan untuk bertaubat, akibat daripada mereka menganggap baik bid’ah.

Kalau orang sudah menganggap (bid’ah) baik, maka bagaimana akan bertaubat, bertaubat itu kalau biasanya ia telah menganggapnya buruk, baru ia akan bertaubat dan kembali, tapi ketika selama ia menganggap itu perbuatannya baik dan bagus, sesuai dengan akal pikirannya, maka ia tidak akan bertaubat, dan pasti akan dipersulit taubatnya. Artinya tidak akan diberi taufiq untuk bertaubat.

Oleh karena itu disebutkan oleh Al Imam Ibnul Qayyim, dalam Ibnu Taimiyyah – Majmu Fatawa jilid 10 halaman 9 (atau jilid 9 halaman 10) dimana beliau berkata :

“Oleh karena itu para Ulama Islam seperti Sofyan as-Tsaury dan yang lainnya berkata :

“Sesungguhnya bid’ah itu lebih dicintai oleh iblis daripada maksiat.”

‎لا يُتاب منها

“karena perbuatan bid’ah menjadikan seseorang itu tidak akan bertaubat.”

‎والمعصية يُتاب منها

“Sedangkan orang berbuat maksiat memandang itu buruk sehingga ada kemungkinan kuat untuk bertaubat.”

Kemudian beliau berkata, “…dan perkataan para ulama bahwa bid’ah itu tidak diberikan padanya taubat artinya orang ahli bid’ah yang mengambil agamanya dengan sesuatu yang Allah tidak syari’atkan dan tidak pula Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wasallam syariatkan, itu telah dihiaskan kepadanya amalannya tersebut sehingga ia menganggapnya baik, dan tidak mungkin ia bertaubat selama ia menganggapnya baik….”

At-Taubat itu awalnya di mulai dari seseorang menganggap sesuatu itu buruk, maka demikian orang yang berbuat bid’ah dia akan menganggap baik semua perkara yang ternyata TIDAK PERNAH disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wasallam. Sehingga orang seperti ini bagaimana akan kokoh diatas sunnah, diatas jalan Salafush-sholih.

👉🏼 Maka dia akan Talawwun (berganti-ganti aqidah), Tanaqqul (berpindah-pindah) sehingga ia tidak diberikan oleh Allah keistiqomahan, akibat daripada terkena syubhat-syubhat yang menyebabkan akhirnya ia tidak bisa istiqamah diatasnya.

Wallahu a’lam 🌴

🌼 Kaidah yang ke 48 🌼

⚉ Merupakan Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu bergaul, bermuamalah dengan akhlaq, kejujuran, penuh amanah dan nasehat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS An Nisaa : 81]

‎وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

“Mereka orang-orang munafik itu berkata: kami taat, apabila mereka keluar dari sisimu, diantara mereka ada yang tidak jujur, artinya mengucapkan apa yang tidak ada pada hati mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka tersebut, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai wakil.”

Berkata orang-orang kepada Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, sesungguhnya kami masuk kepada penguasa kami dan kami mengucapkan kepada mereka tidak sesuai dengan apa yang ada di hati kami, ketika kami keluar dari sisi penguasa. Artinya ketika ketemu dengan penguasa Ucapannya A tapi keluar dari mereka ucapannya B.

Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa mengatakan kami dahulu menganggap itu adalah sikap munafik [dikeluarkan oleh Imam Bukhori].

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Seorang mukmin apabila berada diantara orang-orang kafir dan orang-orang yang jahat, sementara ia tidak mampu untuk menjihadi mereka dengan tangannya karena dia tidak mampu, tapi apabila ia mampu ia dengan menjihadi mereka dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga maka dengan hatinya dan ia tidak pernah berdusta dan mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak ada dalam hatinya atau ia memperlihatkan agamanya, atau ia menyembunyikan agamanya.”

Namun bukan berarti dia menyesuai agama mereka, akan tetapi sama halnya dengan mukmin di zaman Fir’aun dan istri Fir’aun yang tidak menyetujui agamanya Fir’aun.
Namun mereka tidak berdusta, tidak juga mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak ada di hatinya. Bahkan mereka menyembunyikan imannya karena takut. Dan menyembunyikan agama itu sesuatu yang lain. Beda dengan memperlihatkan agama yang bathil, karena itu perkara yang berbeda.

👉🏼 Maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membolehkan, memperlihatkan ucapan yang bathil atau kekufuran. Kecuali kalau dipaksa, dimana di bolehkan berucap kekufuran, karena terpaksa.
Karena waktu itu Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhumaa dipaksa, disiksa akhirnya terpaksa ia mengucapkannya, maka Allah mema’afkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara munafik dan orang yang di paksa.
Sementara ahli bid’ah jenis mereka sama dengan orang-orang munafiqin, seperti halnya orang syi’ah. Mereka berbicara didepan Ahlussunnah tidak sesuai dengan apa yang ada dihati mereka. Di depan ahlussunnah berbicaranya “A” tapi dibelakang mereka bicaranya “B”.

Demikian pula keadaan ahli bid’ah yang lainnya, mereka itu terkadang bermuka dua.

Kata beliau ( Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى ): “Adapun orang-orang rafidhoh, orang syi’ah, ia tidaklah bergaul dengan seseorang terutama dari kalangan Ahlussunnah, kecuali pasti menggunakan sikap nifaq (kemunafikan), karena agama mereka rusak. Mereka menganggap dusta itu halal.”
Mereka menganggap dusta itu bahkan bagian dari agama mereka, sehingga dusta itu menjadi syi’ar mereka. Itulah orang-orang syi’ah dan rafidhoh.

👉🏼 Maka sungguh sangat aneh orang-orang yang percaya kepada orang-orang syi’ah rofidhoh. Karena mereka adalah kaum yang menghalalkan dusta, terutama terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

 

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Aqidah Manhaj

AQIDAH MANHAJ

Kaidah yang ke 43

Bahwa mereka menyuruh manusia untuk senantiasa meng-esakan Allah dengan cara menggantungkan diri kita kepada-Nya, dalam ibadah dan minta pertolongan.

Dan selalu berpegang kepada petunjuk Nabi, pada setiap urusan mereka. Diantaranya juga apa yang kita hadapi atau yang di hadapi oleh manusia berupa problematika-problematika hidup bahkan juga menyembuhkan masalah-masalah kejiwaan.

Ahlussunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa manusia di ciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan seluruh kaum muslimin berkeyakinan ini. Dan tentunya Allah yang menciptakan yang paling tau tentang apa yang paling mashlahat untuk manusia.

Allah Ta’ala berfirman [QS Asy-Syu’araa’ : 78-80]

‎الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (٧٨) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (٧٩) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (٨٠)

”{78}. Dialah Allah yang telah menciptakan aku, dan Dia pula yang memberikan aku hidayah, {79}. dan Dia pula yang memberikan aku makan dan memberikan aku minum, {80}. dan apabila aku sakit, maka Dialah yang memberikan kesembuhan kepadaku.”

Maka Allah yang menciptakan manusia , tentu yang paling tau obat yang paling manjur untuk hatinya dan untuk badannya, bahkan seluruh problematika hidup manusia. Pastilah Allah telah memberikan jalan keluarnya melalui wahyu yang Allah berikan kepada Rasul-Nya.

Sebuah contoh misalnya musibah-musibah yang menimpa kehidupan manusia telah Allah tentukan.
Allah berfirman [QS Al-Baqarah :155]

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“sungguh Kami akan menguji kalian, dengan sedikit rasa takut , rasa lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Maka berikan kabar gembira untuk orang-orang yang sabar“

Lihatlah Allah mengatakan, bahwa yang namanya manusia pasti akan di uji, lalu Allah mengatakan berikan kabar gembira untuk orang-orang yang sabar.

Siapa dia?
Siapa yang bisa mampu untuk menghadapi, yaitu berbagai macam ujian dan cobaan itu?
Yaitu Allah mengatakan:

‎الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: (إِنَّا لِلَّهِ) sesungguhnya kami milik Allah, [artinya: penyerahan diri kepada Allah secara total.]
‎(وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah,” [artinya berkeyakinan bahwa semua manusia pasti akan di kembalikan kepada Allah untuk di berikan balasan terhadap perbuatan mereka].

Maka dengan keyakinan bahwa kita semua ini milik Allah, dan semua kita akan kembali kepada Allah, tentu seseorang akan bisa bersabar menghadapi semua itu, karena ia mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang besar ketika ia bersabar.

Maka Allah mengatakan :

‎أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“merekalah orang-orang yang akan mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan Rahmat-Nya. Dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah“
[QS Al-Baqarah : 155-157]

Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah menentukan ujian dan cobaan untuk hidup manusia, berbagai macam problematika hidup adalah ujian.
Ternyata Allah juga telah memberikan padanya obat yang paling baik untuk kehidupan manusia, yaitu BERGANTUNG KEPADA ALLAH, yakin bahwa kita milik Allah dan menyerahkan semuanya kepada Allah dan yakin akan bahwasanya adanya kebangkitan kehidupan akhirat, dimana setiap manusia pasti akan diberikan balasan .

Maka kata Ibnul Qayyim :
“kalimat ini yaitu اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ termasuk obat yang paling bagus bahkan paling bermanfaat untuk di dunia dan di akhirat.”
Karena ia mengandung 2 pokok yang agung.
Apa itu ?

1. Meyakini bahwa seorang hamba hartanya semuanya milik Allah, dimana Allah hanya meminjamkan saja kepada dia. Maka ketika dia tahu bahwasanya ini semua pinjaman dari Allah lalu pemiliknya telah mengambilnya kembali, ia segera ridho karena memang itulah kewajiban seorang hamba demikian.

2. Bahwa tempat kembali hamba adalah kepada Allah.
Maka pastilah kehidupan dunia akan segera hilang dan diganti dengan kehidupan akhirat, maka dengan keyakinan seperti ini dia berharap akan pahala yang besar kelak pada kehidupan akhirat, sehingga pada waktu itu membuat dia sabar dalam menghadapi problematika-problematika hidupnya.

Wallahu a’lam

Kaidah yang ke 44

Mereka meyakini bahwa hak Allah itulah tujuan. Adapun hak manusia maka itu mengikuti saja.

Karena apa?
Karena Allah Ta’ala berfirman [QS Adz-Dzariyat : 56]

‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

”Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku”

Berarti tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk merealisasikan ibadah.
Berarti ini menunjukkan bahwa hak ibadah itulah yang merupakan tujuan.
Adapun hak manusia bukan tujuan.

Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam juga bersabda kepada Muadz: “Hai Muadz, tahukan kamu apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah”.
Aku berkata Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, kata Muadz, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas hamba yaitu agar mereka beribadah kepada-Nya, dan tidak mempersekutukan-Nya sedikitpun juga. Dan hak hamba atas Allah, Allah tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan-Nya”.
(Diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim)_

Ini menunjukkan bahwa hak Allah yang paling agung adalah agar kita beribadah kepada Allah.
Dan inilah merupakan hak Allah yang paling Agung.

Adapun hak manusia, kita melaksanakan hak mereka tetap, karena melaksanakan hak Allah. Allah yang memerintahkan kita berbuat baik kepada manusia, maka kita berbuat baik kepada mereka dalam rangka beribadah kepada Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Sebagian orang filsafat mengatakan bahwa tujuan adanya agama adalah sebatas mengadakan maslahat dunia saja, bukan sebatas maslahat agama.” Ini kata mereka orang filsafat.
Ini jelas adalah merupakan perkataan yang bathil.

Tentunya saudaraku… bahwa tujuan atau hak Allah yang paling besar yang harus kita perhatikan adalah ibadah… itulah tujuan yang harus kita benar-benar perhatikan.

Adapun hak manusia kita amalkan, kita lakukan, karena itupun juga dalam rangka melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kaidah yang ke 45

Adapun masalah yang tidak tampak (yaitu yang ada di hatinya) dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Artinya, kita di dalam menghukumi manusia sesuai dengan yang terlihat di mata kita.
Kalau dia menampakkan keburukan, kita menilai dia buruk.
Kalau dia menampakkan kebaikan, maka kita menilai dia baik.

Siapapun yang memperlihatkan dua kalimat syahadat, sholat, zakat, puasa, kita hukumi dia orang Islam, tidak boleh kita katakan kafir sampai ada sesuatu bukti yang sangat meyakinkan bahwa dia telah kafir.
Dan orang yang melakukan kekafiran di lihat, apakah sudah tegak hujjah atau belum, apakah sudah sampai atau belum ke dia keterangan yang menjelaskan bahwasanya dia ;

1. melakukan itu dalam keadaan tahu
2. sudah hilang darinya syubhat-syubhat, sudah tegak padanya hujjah.

Karena masalah kafir-mengkafirkan tentunya bukan masalah yang mudah, butuh kepada pemenuhan syarat-syaratnya dan menghilangkan penghalang-penghalangnya.

Yang jelas kita menghukumi orang itu sesuai dengan yang tampak kepada kita.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

‎إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ

“Kalian bersengketa kepadaku, barangkali sebagian kalian lebih pandai mengemukakan hujjahnya/argumennya daripada yang lain.

‎وإنَّما أقضي بينكما بما أسمعُ

dan aku memutuskan keputusannya sesuai dengan yang aku dengar dari hujjah-hujjah kalian. Maka siapa yang aku berikan kepadanya hak saudaranya, maka janganlah ia mengambilnya, karena itu hakikatnya, aku telah memberikan padanya bagian dari api neraka.”
[Diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim]

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah