Hukum menjadi model busana syar’i

#Tanya Ustadzah
Nama : Yuliana
Asal : Jakarta

Assalamu’alaykum ustadzah,, mau bertanya, hukum selfi itu kan tidak boleh, bagaimana kalau seseorang dijadikan model untuk busana syar’i, dan hasil foto nya di publikasi kan, supaya org melihat busana yg dikenakan model.
Jazaakillahu khayran

Jawaban
Oleh Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman

Syara’ membolehkan wanita untuk bekerja, namun tidak semua pekerjaan boleh dilakukan oleh wanita. Kaum wanita boleh bekerja dan mencari nafkah dari kecakapan atau keterampilan yang dia miliki, baik kemampuan fisik maupun non-fisik. Mereka boleh menjadi guru, juru masak, laboran, programmer, juru tulis, tukang jahit, dll., asalkan semua profesi itu tetap dilakukan di atas rel hukum syara’ yang mengatur mereka sebagai wanita.

Hanya saja, Islam melarang mereka untuk menebar pesona kepada pria manapun kecuali suami. Dengan kata lain, Islam mengharamkan setiap usaha kaum Hawa untuk menonjolkan dan menunjukkan sisi-sisi “menarik” pada diri mereka kepada pria asing. Aktivitas tebar pesona inilah yang oleh bahasa dan syara’ disebut tabarruj. Dikatakan : tabarrajat al-mar’ah (seorang wanita bertabarruj) artinya adzharat zînatahâ wa mahâsinahâ li al-ajânib (wanita itu memamerkan perhiasan dan kecantikannya kepada pria asing –bukan mahram-nya–)

[1]. Tabarruj dilakukan oleh seorang wanita melalui penampilan yang tidak biasa ditampilkan oleh umumnya wanita dalam kehidupan sehari-hari, baik dengan pakaian, perhiasan, riasan maupun gerakkan tertentu dengan maksud menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang cukup menarik/cantik ketika dilihat oleh kaum pria. Dalam tradisi kita, kaum wanita kompak untuk berlomba tampil cantik dengan memakai pakaian dan riasan wajah tertentu ketika berangkat ke pesta, dimana pakaian dan riasan seperti itu secara umum tidak biasa ditampilkan pada hari-hari lain. Inilah tabarruj.

Jika tabarruj/memamerkan kecantikan saja dilarang, maka –dalam Islam- tidak ada ruang bagi kaum Hawa untuk mengkomersialkan kecantikan mereka. Mereka tidak boleh berkecimpung dalam profesi yang tidak memperkerjakan kemampuan dan keterampilan, tapi sekedar mengeksploitasi  kecantikan dan kewanitaan.

Dengan kata lain, mereka tidak boleh digaji karena keindahan rambut, tubuh, gaya, lenggak-lenggok, senyuman, wajah, pakaian, suara yang menggoda, dan sebagainya. Semua itu haram untuk dikomersialkan, dan haram hukumnya menyewa seluruh “asset” mereka yang seperti itu.

“Islam melarang pria dan wanita untuk terjun dalam segala bentuk profesi yang membahayakan akhlak atau yang dapat merusak masyarakat. Maka dari itu wanita tidak boleh berkecimpung dalam segala bentuk pekerjaan yang bermaksud untuk “memperkerjakan” aspek kewanitaan (feminitas).

Diriwayatkan dari Râfi‘ ibn Rifâ‘ah, ia menuturkan: “Nabi telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan dengan kedua tangannya. Beliau bersabda, “begini (dia kerjakan) dengan jari-jemarinya seperti membuat roti, memintal, atau menenun.” (HD. Ahmad)

Dengan demikian, seorang wanita dilarang untuk bekerja di toko sekedar untuk menarik pelanggan atau bekerja di kantor-kantor diplomatik, konsulat dan yang sejenisnya dengan maksud untuk memanfaatkan unsur kewanitaannya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan politik.

Wanita juga dilarang bekerja sebagai pramugari di pesawat-pesawat terbang dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang mengeksploitasi unsur kewanitaannya”.

Saat ini, wanita banyak dibayar sebagai model untuk mempromosikan berbagai produk, mulai dari oli sampai jilbab. Gambar mereka terpampang di pinggir-pinggir jalan sampai di internet.

Bahkan banyak kita jumpai iklan produk yang sengaja menampilkan sisi menarik wanita, seperti menampilkan wanita cantik dengan pakaian yang indah, senyum yang manis, dan gaya yang menawan. Kebanyakkan poster iklan menampilkan model wanita dengan kondisi seperti itu. Bahkan, promosi jilbab dan busana Muslimah sekalipun, sering memilih wanita yang memiliki postur, proporsi tubuh, wajah, warna kulit dan senyum yang “layak tonton”.

Tujuannya, jilbab atau busana yang dipakai akan tampak lebih menarik ketika ia dipasang pada model yang menarik pula. Padahal, jilbab dan busana muslimah adalah pakaian syar’i bagi wanita untuk dipakai di kehidupan umum, bukan perhiasan, bukan sarana penarik perhatian, bukan alat untuk memaksimalkan kecantikan. Jika jilbab digunakan untuk mempercantik diri dalam kehidupan umum, maka jilbab justru menjadi sarana tabarruj itu sendiri.

Maka dari itu, mengupah dan mengambil upah untuk penampilan seperti itu adalah haram. Sebab, menampilkan wanita dalam keadaan demikian jelas tergolong mengeksploitasi sisi-sisi menarik yang ada pada diri wanita. Nuansa pemanfaatan “aspek menarik” pada wanita itu kental sekali dalam menampilkan model-model tersebut. Jika mereka tidak ingin memanfaatkan sisi kecantikan wanita dalam gambar itu, tentu mereka akan cukup menampilkan foto jilbab dan busana muslimah saja tanpa model yang berpose lengkap dengan gaya dan senyumannya yang menggoda. Wallahu a’lam 

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

Sedekah atas nama orang tua

#Tanya Ustadzah 2#
Nama : Alfira
Asal : Makassar

Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh

Apakah bisa seorang anak bersedekah atas nama orang tuanya yg masih hidup dan tanpa di ketahui oleh orang tuanya? Dan apakah si anak tetap mendapat pahala dari sedekah tersebut?
Jazakillahu khoir…

JAWABAN 🔏

Dalam kitab Nailul Maarib bi Syarhi Dalilith Thalib dinyatakan,
“Semua bentuk amal shaleh yang dilakukan seorang muslim lalu ia niatkan pahalanya untuk orang tuanya atau saudaranya muslim yang hidup ataupun mati, maka ia akan mendapatkan pahala dan pahalanyapun akan sampai kepada orang yang dituju. Meskipun orang dituju tidak tahu si pengirim pahala tersebut. Seperti doa (berdasarkan kesepakatan ulama), permohonan ampunan.”

Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata,
“Sedekah untuk orang lain akan diterima dan bermanfaat, baik untuk ayah, ibu atau selain keduanya. Sedekah untuk orang lain yang hidup ataupun mati, didalamnya terdapat kebaikan yang banyak. (Fatwa Nur Ala Darb, 14/303).

Kesimpulan :
Seorang anak yang bersedekah atas nama orang tuanya maka :
1. Anak tersebut akan mendapatkan pahala sedekah dan pahala birrul walidain
2. Pahala tersebut akan sampai kepada orang tuanya dan akan menjadi amal sholih baginya insyaa Alloh.
Wallahua’lam.

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

Dampak positif bahasa arab & hukum mengajari anak bahasa inggris

DAMPAK POSITIF BAHASA ARAB TERHADAP AKHLAQ DAN AGAMA SESEORANG

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Ketauhilah bahwasannya terbiasa berbahasa arab memberikan dampak positif pada akal, akhlaq, dan agama seseorang dengan pengaruh yang kuat dan jelas,

Juga memberikanu dampak positif dalam menyerupai generasi terbaik ummat ini dari kalangan shahabat dan tabiin. Menyerupai mereka akan menambah (baik) akal, agama, dan akhlaq seseorang.

Karena bahasa arab itu sendiri termasuk dari agama. Mengilmuinyay adalah wajib*, karena memahami al-Quran dan as-Sunnah (hukumnya) wajib, dan tidak bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa arab.

✔Sesuatu yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, makay sesuatu tersebut hukumnya adalah wajib

Sumber : Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim Jilid 1 hal. 468

لابـد مـن تـعلـم الـعربيـة :

تأثيـر اللـغة الـعربية على الأخـلاق والـدين

قـال شـيخ الإسـلام ابن تيـميـة رحمـه الله تعـالى :

« وﺍﻋﻠـﻢ ﺃﻥّ ﺍﻋﺘﻴـﺎﺩ ﺍﻟﻠـﻐﺔ يؤثر ﻓﻲ ﺍﻟـﻌﻘﻞِ ﻭﺍﻟـﺨﻠﻖِ ﻭﺍﻟـﺪﻳﻦِ ﺗﺄﺛﻴـﺮﺍً ﻗﻮﻳـّﺎًu ﺑﻴّﻨـﺎً ، ﻭﻳﺆﺛﺮ ﺃﻳﻀﺎً ﻓﻲ ﻣـﺸـﺎﺑﻬﺔِ ﺻـﺪﺭِ ﻫـﺬﻩ ﺍﻷﻣـّﺔِ ﻣﻦ ﺍﻟـﺼﺤﺎﺑـﺔِ ﻭﺍﻟـﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ، ﻭﻣﺸـﺎﺑﻬﺘﻬـﻢ ﺗﺰﻳـﺪu ﺍﻟـﻌﻘﻞَ ﻭﺍﻟـﺪﻳﻦَ ﻭﺍﻟـﺨﻠﻖَ ، ﻭﺃﻳﻀـﺎً ﻓـﺈﻥّ ﻧﻔـﺲ ﺍﻟﻠـﻐﺔ ﺍﻟـﻌﺮﺑﻴﺔ ﻣـﻦu ﺍﻟـﺪﻳﻦ ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺘﻬـﺎ ﻓﺮﺽٌ ﻭﺍﺟـﺐٌ ، لأﻥّ ﻓﻬـﻢ ﺍﻟـﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟـﺴﻨّﺔ ﻓـﺮﺽٌ ، ﻭﻻu ﻳُﻔﻬـﻢ ﺇﻻّ ﺑﻔﻬـﻢ ﺍﻟﻠـﻐﺔ ﺍﻟـﻌﺮﺑﻴﺔ ، ﻭﻣـﺎ ﻻ ﻳﺘـﻢّ ﺍﻟـﻮﺍﺟﺐ ﺇﻻّ ﺑﻪ ﻓﻬـﻮ ﻭﺍﺟـﺐ »

[ اقتضاء الصراط المستقيم(٤٦٨/١)]u

🌏http://www.manhajul-anbiya.net/dampak-positif-bahasa-arabu-terhadap-akhlaq-dan-agama-seseorang.

 HUKUM MENGAJARI ANAK BAHASA INGGRIS

 Asy Syeikh Al Utsaimin rohimahullah:

Oleh karena itu aku berpendapat orang tua yang mengajari anaknya bahasa inggris sejak kecil akan dihisab/ditanya atasnya nanti di hari kiamat. Karena yang demikian akan menjadikan anaknya cinta dengan bahasa ini dan lebih mengutamakannya dari bahasa arab.

Syarhul Mumti’ 12/43

 

Berbakti kepada orang tua yang telah meninggal

BAGAIMANA BERBAKTI KEPADA ORANG TUA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA ?

1⃣ Mendo’akannya.

Selalu Mendo’akan kedua Orang Tuanya. Seperti Do’a

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

”…Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua Ibu-bapakku, dan semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari Kiamat)..”

[QS.Ibrahim: 41].

Terdapat Hadits yang Shahih, bahwasannya setiap anak Adam jika Meninggal Dunia, maka Terputuslah Amalnya Kecuali (salah satu diantaranya) adalah :

”Do’a anak yang Shalih…”.

Kenapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan “Anak yang Shalih..”??

Para Ulama Menyebutkan bahwasannya,….
Hanya Anak yang Shalih-lah yang Pasti men-Do’akan orang tuanya yang telah Meninggal.

Karena, bagaimana bisa bagi anak yang Pendosa (Durhaka) mendo’akan orang tuanya, sedangkan untuk mendo’akan diri sendirinya dia Sulit, dikarenakan dia sering bergelimang didalam Kemaksiatan (Dosa)..?? Wal ‘iayadzubillaah.

Mendo’akan orang tuanya dengan Tata Cara yang telah di Syariatkan oleh Agama. Bukan dengan tata cara yang di-ada-adakan seperti Perbuatan Bid’ah.

📌 Contohnya :

➖Membaca al Qur’an dikuburannya,
➖Membuat dan melakukan Ritual-ritual Bid’ah seperti selamatan kematian

Jelas ini Perbuatan yang baru dan mengada-ada didalam Ajaran Islam yang Wajib kita Tinggalkan..

Dan Bukan dengan ber-Do’a dengan tata cara yang bukan dari Islam (Melainkan dari Ajaran agama Hindu) seperti :

➖ Acara2x Selametan Kematian pada hari 1-7, 40 hari, 100 hari setahun atau 1000 hari.. Jelas ini adalah hal yang diada-adakan..

Tidak pernah di Syari’atkan oleh Agama ini (tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan juga tidak pernah di Amalkan oleh para Shahabat..

Wajib ditinggalkan dan di Ingkari.. Karena ini Merupakan perbuatan Bid’ah.
Dan setiap Bid’ah itu Sesat walaupun banyak orang Menyangka Baik (Hasanah).

Kalau-lah Perbuatan (Amalan ini) Baik dan membawa Kebaikan, PASTI mereka (para Sahabat Nabi dan para Tabi’in) Mendahului kita dalam Mengamalkannya.

2⃣ Selalu Memintakan Ampun untuk Keduanya.

Anak yang Shalih adalah anak yang Selalu Memintakan Ampunan untuk Orang tuanya (baik mereka belum Meninggal ataupun sesudah Meninggal) didalam Sholatnya atau Waktu-waktu yang di Syari’atkan (waktu-waktu yang Mustajab/Do’a2x yang akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).

3⃣ Membayarkan Hutang-hutangnya.

Membayar Hutang-Hutang mereka, jika pada masa hidupnya mereka mempumyai Hutang kepada orang lain, karena Hutang yang belum terbayar ketika seseorang meninggal akan memberatkan orang tua kita di hadapan Allah Ta’ala kelak.

4⃣ Menunaikan janji dan wasiat kedua orang tua yang belum terpenuhi semasa hidup mereka, dan melanjutkan amal-amal baik yang pernah mereka kerjakan selama hidup mereka.

Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amal baik tersebut dilanjutkan.

Hanya Melaksanakan Wasiat Orang tua yang sesuai Syari’at dan Tidak Perlu menjalankan Wasiat mereka yang bertentangan dengan Syari’at.

Atau tidak perlu Menjalankan Wasiat orang Tua kita yang jika dijalankan Wasiat itu tidak ada Masylahatnya, bahkan banyak Mudhorotnya (Menyusahkan) kita.

5⃣ Bersedekah atas nama orang tua yang meninggal.

Sedekah yang dikeluarkan seorang anak untuk salah satu atau untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia, maka pahalanya akan sampai kepada keduanya. Selain itu segala amal shalih yang diamalkan anaknya maka pahalanya akan sampai kepada kedua orang tuanya tanpa mengurangi pahala si anak tersebut.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أُمّـِيْ افْـتُـلِـتَتْ نَـفْسُهَا (وَلَـمْ تُوْصِ) فَـأَظُنَّـهَا لَوْ تَـكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَـهَلْ لَـهَا أَجْـرٌ إِنْ تَـصَدَّقْتُ عَنْهَا (وَلِـيْ أَجْـرٌ)؟ قَالَ: «نَعَمْ» (فَـتَـصَدَّقَ عَـنْـهَا).
Bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba (dan tidak memberikan wasiat), dan aku mengira jika ia bisa berbicara maka ia akan bersedekah, maka apakah ia memperoleh pahala jika aku bersedekah atas namanya (dan aku pun mendapatkan pahala)? Beliau menjawab, “Ya, (maka bersedekahlah untuknya).” ( Shahîh, HR al-Bukhari (no. 1388), Muslim (no. 1004), Ahmad (VI/51), Abu Dawud (no. 2881), an-Nasa-i (VI/250), Ibnu Majah (no. 2717), dan al-Baihaqi (IV/62; VI/277-278).

6⃣Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat Ibu dan Ayah.

💠 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal”.

(HR. Ibnu Hibban).

📖 Selengkapnya :
Buku Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua)/Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas/Pustaka At Taqwa Bogor

✒ Editor : Admin AsySyamil.com

 

Menjadi istri shalihah

RENUNGAN BAGI KAUM WANITA, YANG INGIN MENJADI ISTERI SHALIHAH❗

Al-Imamadz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, Wajib juga atas seorang isteri :

🌺 Senantiasa memiliki sifat malu terhadap suaminya,

🌺 Menundukkan pandangannya di hadapan sang suami,

🌺 MENTAATI PERINTAH SUAMI,

🌺 Diam ketika suami berbicara,
🌺 menyambut ketika suami datang,

🌺 Menjauhi semua yang boleh membuat suami marah,

🌺 Berdiri mengantar sang suami ketika keluar,

🌺 Menawarkan dirinya kepada sang suami saat tidur,

🌺 Tidak berkhianat ketika suami tidak ada, baik dalam hal urusan ranjang, harta, maupun rumah sang suami,

🌺 Aroma yang wangi, Selalu menjaga aroma mulut dengan bersiwak,

🌺 Selalu berhias di hadapan sang suami,

🌺 Tidak berghibah,

🌺 Memuliakan keluarga dan karib kerabat sang suami,

🌺 Melihat apa yang sedikit dari suami sebagai suatu yang banyak.

🌍 Sumber : Kitab “al-Kaba’ir” , 1/66

🌐 Majmu’ah Manhajul Anbiya

adab keluar dari group

KELUAR GRUP WA TANPA PERMISI ADALAH ADAB YANG BURUK

Hendaknya minta izin, permisi atau mohon diri serta mengucapkan salam ketika keluar grup

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ

“Jika kalian mendatangi suatu majelis, maka ucapkanlah salam. Jika kalian ingin berdiri meninggalkan majelis maka ucapkan salam” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 2707).

Al Khallal mengatakan:

الرجل يستأذن إذا أراد أن يقوم عن المجلس

“Seseorang hendaknya minta izin jika ingin keluar dari majlis” (Adabus Syar’iyah, 1/416).

Imam Ahmad ditanya:

إذا جلس رجل إلى قوم يستأذنهم إذا أراد أن يقوم قال : قد فعل ذلك قوم ما أحسنه

“Apakah jika seeorang ingin keluar dari majelis, ia meminta izin dahulu?. Imam Ahmad menjawab: perbuatan ini adalah kebiasan kaum-kaum yang baik” (Adabus Syar’iyah, 1/416)

Maka, keluar majelis, termasuk keluar grup Whatsapp tanpa permisi, tanpa mohon diri, adalah adab yang buruk. Hendaknya diperhatikan.

*

@fawaid_kangaswad