Perbedaan Mandi Junub dan Mandi Haid

SIFAT MANDI JUNUB DAN PERBEDAANNYA DENGAN MANDI HAID

Pertanyaan

Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’ ditanya : Apakah ada perbedaan antara mandi junub seorang pria dengan mandi junub seorang wanita ? Dan apakah seorang wanita harus melepas ikatan rambutnya atau cukup baginya menuangkan air di atas kepalanya tiga kali tuang berdasarkan suatu hadits ? Apa bedanya antara mandi junub dengan mandi haid?

Jawaban

Tidak ada perbedaan bagi pria dan wanita dalam hal sifat mandi junub, dan masing-masing tidak perlu melepaskan ikatan rambutnya akan tetapi cukup baginya untuk menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga tuang kemudian setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhnya berdasarkan hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَرَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ:لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍثُمََّ تُفِيْضِيْنَ

“Sesungguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepala saya, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?”. Rasulullah menjawab : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, maka (dengan demikian) kamu telah bersuci” [Hadits Riwayat Muslim].

Jika di atas kepala seorang lelaki maupun wanita terdapat ikatan atau pewarna rambut atau sesuatu lainnya yang dapat menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala, maka wajib dihilangkan, akan tetapi jika itu ringan dan tidak menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala maka tidak wajib dihilangkan.

Adapun mandinya wanita setelah haidh, para ulama berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya melepaskan ikatan rambutnya untuk mandinya. Yang benar, bahwa ia tidak harus melepaskan ikatan rambutnya untuk mandi tersebut, hal ini berdasarkan beberapa riwayat hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan Muslim bahwa ia (Ummu Salamah) berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَرَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ:لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍثُمََّ تُفِيْضِيْنَ

“Sesunguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?” Rasulullah menjawab: Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, (dengan demikian) maka kamu telah bersuci”.

Riwayat hadits Nabi ini adalah merupakan dalil yang menunjukkan tidak adanya kewajiban untuk melepaskan ikatan rambut untuk mandi junub atau untuk mandi haidh, akan tetapi sebaiknya ikatan rambut itu dilepas saat mandi haidh sebagai sikap waspada dan untuk keluar dari perselisihan pendapat serta memadukan dalil-dalil dalam hal ini.

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’, 5/320]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-fatwa Tentang Wanita Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

Artikel:

Ukhuwahfillhijrah.com

Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

 

 

Allah Mencintai Kelembutan

Allah Mencintai Kelembutan

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Ada sekelompok orang Yahudi yang minta izin menemui Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka mengucapkan, “Assaamu’alaikum” (Semoga kematian menimpamu). ‘Aisyah berkata, “Bal ‘alaikumussaam wal la’nah” (Bahkan kalianlah yang semoga mendapat kematian dan laknat). Maka Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berkata:

مهلا ياعائشة ، فإن الله يحب الرفق في الأمر كله

“Tenanglah wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua perkara.” Aku berkata, “Wahai Rosulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan? Berkata Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam:

فقد قلت: وعليكم

“Aku sudah membalasnya dengan ucapan, “Wa ‘alaikum” (Juga atas kalian).” (HR. Muslim 2165)

Beberapa Faidah Hadits:

1. Perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua perkara”, menunjukkan keagungan akhlaq beliau shollallahu ‘alaihi wasallam dan kesempurnaan perangai beliau yang mampu mengendalikan amarah.

2. Anjuran berlaku lembut, sabar, menahan marah dan santun terhadap orang lain selama tidak ada alasan untuk bersikap keras.

3. Celaan ‘Aisyah terhadap orang-orang Yahudi menunjukkan bolehnya membela diri dari kejahatan orang yang zalim.

4. Membela orang yang baik dari siapa saja yang menyakitinya.

5. Dianjurkan tidak meladeni kebodohan orang selama tidak menimbulkan bahaya dan kerusakan. Al-Imam Asy-Syafii berkata, “Orang yang cerdas lagi berakal adalah yang tidak menghiraukan perbuatan bodoh orang lain.” (Syarh Shohih Muslim 14/209-210 – Al-Imam An-Nawawi)

Sungguh betapa indahnya kelembutan. Apabila sifat lembut dan menahan amarah ada pada diri seorang hamba  maka hal itu akan menghiasi dirinya di pandangan Allah dan juga di pandangan manusia.
__________

✍🏻 Fikri Abul Hasan

●▬▬▬▬❀❀▬▬▬▬▬●
❀ Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
❀ Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tumal Hakim

fawaid edisi khusus

🥀 TUMAL HAKIM

(sebuah nasehat pentingnya belajar dengan guru, dan adab adab yang di tinggalkan penuntut ilmu atas mereka (guru), saat ini)

🖋 abu abd rahman bin muhammad suud al atsary

Berkata syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah

(di riwayatkan) Imam ibnu Hayyan sering melantunkan syair di bawah ini

يظن الغمر ان الكتب تهدى

اخافهم لإدراك العلوم

وما يدرى الجهول بأن فيها

غوامض حيرت عقل الفهيم

إذا رمت العلوم بغير شيخ

ضللت عن الصراط المستقيم

وتلتبس الأمور عليك حتى

تصير اضل من توما الحكيم

📚 (syarah hilyah thalibil ilmi syaikh muhammad shalih utsaimin 103)

Orang yang bodoh menyangka bahwasanya kitab bisa membuat orang yang pandai memperoleh ilmu

Orang yang bodoh itu tidak tau
Bahwa dalam kitab itu banyak kesulitan yang bisa membingungkan akal

Kalau engkau menginginkan ilmu tanpa guru
Niscaya engkau tersesat dari jalan yang lurus

Dan banyak masalah yang rancu bagimu
Dan engkau akan lebih tersesat dari “Tumal Hakim”.

Imam ibnu Khaldun rahimahullah dalam Muqodimahnya,

من لم يشافه عالما بأصوله

يقينه فى المشكلات ظنون

📚 (muqodimah ibnu khaldun 551)

Barang siapa tidak belajar dasar dasar ilmu langsung dari ulama

Maka, kesimpulan kesimpulan yang di yakininya dalam banyak masalah yang sulit sebenarnya hanya dugaan dugaan semata.

MEMULIAKAN GURU DENGAN BAIK, SIFAT YANG TELAH HILANG DARI SEBAGIAN PENUNTUT ILMU,

DAN SIKAP PADA GURU DI ANTARA BERLEBIHAN DAN MEREMEHKAN

(kami ringkas dari bab ke tiga kitab hilyah)

Berkata syaikh Bakr bin Abdullah abu zaid rahimahullah dalam kitab hilyahnya

Karena dasar keilmuan tidak dapat di peroleh dengan belajar sendiri dari kitab, namun dari bimbingan guru yang akan membuka pintu pintu ilmu baginya, agar engkau selamat dari kesalahan dan ketergelinciran,

karena itu, hendaknya engkau jaga kehormatannya, yang mana hal itu adalah tanda keberhasilan, kesuksesan, serta engkau mendapat ilmu dan taufiq,

Jadikan gurumu orang yang engkau hormati, hargai, agungkanlah dan berlemah lembutlah, berlaku sopan…

jangan banyak bicara dan berdebat dengannya…

Jangan ngotot untuk mendapat jawaban darinya…

Janganlah engkau memangilnya dengan namanya saja atau dengan gelarnya saja…

…Bersikap memuliakan majelis ilmu, dan nampakkanlah kegembiraan dan bisa mengambil faidah saat belajar,

Dan saat engkau menemukan kesalahan gurumu atau kebimbangannya, jangan jadikan alasan untuk meremehkannya, karena itu bisa menjadi sebab engkau tidak mendapat ilmu, dan siapakah orang yang tidak pernah bersalah ?,

Hati hati, jangan sampai membuat gurumu gusar, hindari perang urat syaraf dengannya, dalam arti jangan menguji kemampuannya keilmuan atau ketabahan hatinya,

Kalau engkau belajar pada guru lain, hendaknya engkau meminta ijinnya, karena sikap ini menunjukkan kecintaanmu padanya, serta membuatnya mencintai dan menyayangimu,

…. Dan ketahuilah bahwa dengan kadar (seberapa) engkau menjaga kehormatan gurumu, maka engkau akan mendapat kesuksesan dan keberhasilan, sebaliknya, bila engkau meremehkannya, maka di situlah tanda kegagalan.

Saya memohon kepada Allah taala, semoga melindungimu dari perbuatan orang ‘ajam (selain orang arab), juga ahli thariqoh, serta ahli bidah di masa ini,

Di antaranya sikap tunduk (pada guru) yang keluar dari batasan syar’i,

Misalnya, menjilat tangan guru, mencium pundaknya (dalam etika sufi), memegang tangan guru (saat salaman) dengan kedua tangannya, begitu juga menundukkan badan saat bersalaman, serta mengunakan kalimat yang merendahkan diri (dalam etika sufi) yang biasa di gunakan untuk menunjukkan status pembantu dan budak,

…. Guru adalah adalah tauladan dalam akhlak dan dan perangai, sedang masalah belajar ilmu (darinya) adalah laba belaka (masalah lain lagi),

Hanya saja, jangan sampai kecintaamu pada guru menyebabkan engkau jatuh pada perbuatan tercela tanpa engkau sadari (sebagaimana orang orang sufi memberlakukan mursyid thariqohnya)

… Karena gurumu menjadi seorang mulia dengan ilmunya (bukan dengan penghormatan berlebih) ,

Aktifitas seorang guru (dalam memberi pelajaran) haruslah sebatas kemampuan pelajar dalam mendengar, konsentrasinya, dan batasan ia menerima pelajaran darinya,

Oleh karena itu (ini untuk murid yang lain), berhati hatilah jangan sampai (engkau) menjadi sebab terputusnya ilmu, karena rasa malas, patah semangat, menyerah, dan menyebabkanmu berfikir yang tidak tidak,

Imam khatib Baghdadi rahimahullah berkata

“hak ilmu (untuk di berikan) itu hendaknya tidak di berikan kecuali pada yang mencarinya, tidak di berikan kecuali pada orang yang menginginkannya, bila seorang pengajar, melihat rasa enggan dari muridnya, hendaknya ia diam (berhenti dari meneruskan pelajaran)…”

📚 di ringkas dari kitab حلية طالب العم

makna tumal hakim memiliki cerita tersendiri, tapi dalam pembahasan ini, kami sebut saja sebagai seorang jahil yang berlagak bijaksana. Naam.

semoga Allah taala memberi kita ilmu yang bermanfaat, dan keikhlasan hati

dan juga adab adab yang baik, baik dalam sikap, ucapan, dan tindakkan yang mencerminkan sebagai seorang penuntut ilmu, dan juga bisa menempatkan diri pada satu majelis dan berinteraksi dengan manusia.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Mengapa Ulama Banyak Yang Miskin?

Fawaid edisi khusus

Mengapa Ulama Banyak Yang Miskin ?

Sepanjang pembacaan ana yang terbatas mengenai biografi ulama, didapatkan kebanyakan dari mereka hidup dalam kemiskinan.

Memang ada juga ulama yang kaya raya, tapi mayoritas ulama berada dalam kemiskinan.

Begitu identiknya ulama dan kemiskinan sampai-sampai ada ungkapan penyair yang mengatakan bahwa kemiskinan tempat tinggalnya di surban para fuqaha.

Ada juga yang mengatakan :

“Kemiskinan ulama adalah kemiskinan yang dipilih, sedangkan kemiskinan fuqara adalah kemiskinan karena terpaksa”.

Maksudnya para ulama memang memilih miskin karena fokus mengejar akhirat dan meninggalkan dunia.

Mereka juga menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta kepada manusia, terutama dari penguasa.

Dan sungguh, meminta kepada Allah merupakan kemuliaan, sedangkan meminta kepada manusia hanyalah kehinaan yang didapatkan.

Sebagaimana pernah dinasihatkan :

لا تسألن بني آدم حاجة
وسل الذي أبوابه لا تحجب
الله يغضب إن تركت سؤاله
وبني آدم حين يسأل يغضب

“Jangan sekali-kali engkau meminta kepada bani Adam satu permintaan,
Mintalah kepada Zat yang pintu-pintu-Nya tidak berada dalam ketutupan,
Allah akan marah jika engkau tidak mengajukan kepada-Nya permintaan,
Sedangkan bani Adam akan marah jika engkau mengajukan suatu permohonan.”

Sebab lain dari kemiskinan ulama adalah karena mereka sangat mencintai ilmu dibanding lainnya. Sehingga mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan ilmu yang di inginkannya, walaupun harus mengorbankan harta benda yang ada.

Lihatlah kisah-kisah mereka :

– Al-Hafiz Abul A’la al-Hamdani menjual rumahnya untuk membeli beberapa kitab seharga 60 dinar. (Siyar A’lam An-Nubala : 21/40, adz-Dzahabi).

– Imam Malik menjual kayu atap rumahnya untuk biaya menuntut ilmu. (Tartibul Madarik : 1/130, al-Qadhi Iyadh).

– Syu’bah bin Hajaj menjual harta warisan yang didapatkannya untuk bekalnya belajar. (Tazkirah al-Huffaz : 1/195, adz-Dzhabi).

– Yahya bin Ma’in mendapat warisan lebih dari sejuta dirham, semuanya habis ia gunakan untuk biaya menuntut ilmu. (Al-Manhaj al-Ahmadi : 1/95, al-Ulaimi).

– Shalih bin Ahmad menjual tanahnya seharga 700 dinar. Uangnya beliau bagi-bagikan untuk para penuntut ilmu yang belajar kepadanya. (Tazkirah al-Huffaz : 4/1249, adz-Dzahabi).

– Ziyad bin Abdullah al-Buka’i menjual rumahnya untuk bekalnya mengadakan rihlah menuntut ilmu. (Tahzibut Tahzib : 3/375, Ibnu Hajar Asqalani).

– Abdullah bin Ahmad al-Khasysyab pernah membeli kitab seharga 500 dinar. Karena tidak memiliki uang untuk membayarnya, beliau menjual rumahnya. (Dzail Thabaqat Hanabilah : 1/319, Ibnu Rajab).

– Abdul Haq bin Muhammad bin Harun as-Suhami menjual perhiasan, perabot serta rumahnya untuk membeli kitab “Syarah al-Mudawanah”. (Ad-Dibaj al-Mudzahab : 3/1013, Ibnu Farhun al-Maliki).

Serta masih banyak kisah lainnya.

Kemiskinan dan keadaan yang menimpa ulama tidaklah membuat mereka patah dan lemah semangat dalam berkarya. Karya-karya mereka tetap mengalir bagaikan air. Mungkin karena niat yang ikhlas mencari ridha Allah semata, lalu Allah memberi barokah pada ilmu dan umur mereka. Semestinya kemiskinan memang bukan suatu penghalang, karena yang menjadi pendorong utama adalah niat dan kemauan. Selain itu, miskin sesungguhnya bukanlah miskin harta, tetapi miskin sesungguhnya adalah miskin ilmu dan miskin akhlak mulia.

Oleh : ustadz abd rahman bin muhammad suud al atsary

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

JANGAN TERGESA-GESA DALAM MEMBERIKAN JAWABAN

🔰🔰🔰🔰
JANGAN TERGESA-GESA DALAM MEMBERIKAN JAWABAN.
____________

🌿🌿🌿
Saudaraku seiman,
Sering sekali diantara kita jika ditanya sesuatu maka segera untuk memberikan jawaban,

Demikian pula sebaliknya, jika kita bertanya tentang sesuatu, tak jarang kita menginginkan untuk segera mendapatkan jawabannya, bahkan sebagian dari kita mendesak seorang ‘alim atau seorang ustadz untuk segera memberikan jawabannya.

☝🏻Wahai saudaraku…
Tidakkah kita tahu, bahwa seluruh apa yang kita ucapkan itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala!!?

🍃 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺆُﻭﻻً

*_”Dan janganlah engkau bersikap (berkomentar) dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, seluruhnya akan dimintai pertanggungjawaban.”_*
QS. Al Isro’: 36.

🍁🍁🍁
Saudaraku…

Menjawab itu berat…
Menjawab itu tanggung jawab…
Maka janganlah engkau tergesa-gesa dalam menjawab ataupun menuntut suatu jawaban, karena semuanya butuh dipikirkan dan di ilmui.

▪ Berkata Nafi’ rahimahullah:

” إَنَّ رَجُلا سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ
( رضي الله عنهما ) عَنْ مَسْأَلَةٍ

فَطَأْطَأَ ابْنُ عُمَرَ رَأْسَهُ ، وَلَمْ يُجِبْهُ حَتَّى ظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ مَسْأَلَتَهُ ،

فَقَالَ لَهُ : ‘ يَرْحَمُكَ اللَّهُ أَمَا سَمِعْتَ
مَسْأَلَتِي ؟ ‘ قَالَ : ‘ بَلَى وَلَكِنَّكُم ْ كَأَنَّكُمْ
تَرَوْنَ أَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِسَائِلِنَا عَمَّا تَسْأَلُونَنَا
عَنْهُ، اتْرُكْنَا يَرْحَمْكَ اللَّهُ حَتَّى نَتَفَهَّمَ فِي
مَسْأَلَتِكَ، فَإِنْ كَانَ لَهَا جَوَابٌ عِنْدَنَا، وَإِلا
أَعْلَمْنَاكَ أَنَّهُ لا عَلِمَ لَنَا بِهِ ‘ ” …

»» Sesungguhnya seorang lelaki bertanya kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhu tentang suatu permasalahan, lalu Beliaupun menundukkan kepalanya dan tidak menjawab, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia tidak mendengar soal tsb,

Maka dikatakan kepada beliau;

Semoga Allah merahmati anda, apakah anda mendengarkan pertanyaan ku?

Maka beliau menjawab;

Iya (aku mendengar), akan tetapi sepertinya kalian berpandangan bahwasanya Allah tidak akan bertanya kepada kami terhadap pertanyaan yang kalian lontarkan kepada kami!!,
Tinggalkanlah kami hingga kami memahami pertanyaan engkau (terlebih dahulu), jika kami memiliki jawaban maka (itulah yang diharapkan), jika tidak maka kami akan sampaikan bahwa kami tidak memiliki ilmu tentang hal tersebut.
_______
📕 Ath Thabaqot Libni Sa’ad (5202).
✍ Ustadz Fauzan Abu Muhammad Hafizhahullah.
┅┅══✿❀🌕❀✿══┅┅

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Artikel :Ukhuwahfillhijrah.com
Link WAG : http://bit.ly/2UfH-Adm1
Follow our chanel : t.me/ukhuwwah

Rukun-rukun I’tikaf

🆂🅴🆁🅸 🆁🅰🅼🅰🅳🅷🅰🅽 

🕌🕌 RUKUN-RUKUN I’TIKAAF

https://t.me/ukhuwahh

1. Niat, karena tidak sah satu amalan melainkan dengan niat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. [al-Bayyinah/98: 5]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلّ امْرِئٍ مَا نَوَى…

“Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat, dan manusia akan mendapatkan balasan menurut niat, dan manusia akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya”. [HR. al-Bukhari no. 1, Fat-hul Baari VI/48, Muslim no. 1907]

Niat tempatnya di hati, tidak dilafazhkan.

2. Tempatnya harus di masjid.

Hakikat i’tikaaf, ialah tinggal di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Mengenai tempat i’ikaaf harus di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala.

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tetapi janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beri’tikaaf di masjid”. [al-Baqarah/2: 187]

Jadi, i’tikaaf itu hanya sah bila dilaksanakan di masjid.

[Disalin dari buku I’tikaaf, Penulis Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah,

📂 editor : admin ukhuwahfilhijrah

Keutamaan Mencintai dan Meneladani Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

#Tanya Ustadz 1
Nama: Debbie
UFHA 6

Asaalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…
Afwan ana seorang ibu dimana dalam mendidik anak zaman now di era globalisasi ini susah sekali mendekatkan anak untuk bisa memfavoritkan baginda Rasulullah Shaulallahu Alaihi Wassalam sebagai dambaannya….sedang anak saya selalu bilang ‘ gimana mau suka bun…aku aja tidak pernah tau rupanya seperti apa..?’
Selalu itu yang jadi kebingungan ana untuk menjawabnya…mohon bimbingan serta penjelasanny Ustadz…

Jawaban 1
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kata pepatah, _Tak kenal maka tak sayang”_, maka kewajiban orangtua adalah mengenalkan siapa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anaknya. Kenalkan kepada mereka bagaimana kedudukan beliau, keramahan beliau, kejujuran beliau, keadilan beliau, ajaran beliau yang mulia, termasuk juga postur tubuh beliau shollallahu ‘alaihi wasallam agar mereka lebih mencintainya.

Jelaskan juga keharusan mencintai Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam atas seluruh manusia lebih dari siapapun termasuk dari dirinya sendiri. Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس اجمعين

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhori 15 dan Muslim 44)

Peringatkan juga bahwa manusia kelak akan dibangkitkan di hari kiamat bersama orang yang dicintainya dan diidolakannya. Jika dia mencintai orang-orang kafir atau orang-orang yang durhaka kepada Allah maka dia akan dibangkitkan bersamanya dan orang yang dicintainya itu akan berlepas diri darinya.

Di samping itu, orangtua juga dituntut untuk menyontohkan anak-anaknya agar mencintai dan meneladani Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang perilaku dan akhlaq seseorang bisa mewakili banyak kajian hadits-hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh Ustadz Fikri Abul Hasan Hafidhahullahu ta’ala

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Fanspage : www.facebook.com/ufha.ufhi/
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

ILMU AGAMA TANPA AKHLAK MULIA ADALAH SIA-SIA

*ILMU AGAMA TANPA AKHLAK MULIA ADALAH SIA-SIA*

—————————

❅ https://t.me/MuliaDenganSunnah

“Perhatikan adab dan akhlakmu, wahai penuntut ilmu!”“`

Sebuah nasihat yang sangat bagus bagi kaum muslimin khususnya bagi para penuntut ilmu agama. Ilmu agama yang mulia ini hendaknya selalu digandengkan dengan akhlak yang mulia.

Terlebih para da‘i yang akan menyeru kepada kebaikan dan menjadi sorotan oleh masyarakat akan kegiatan keseharian dan muamalahnya._

Nasihat tersebut dari seorang ulama yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,

طالب العلم : إذا لم يتحل بالأخلاق الفاضلة فإن طلبه للعلم لا فائدة فيه

_“Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faidah menuntut ilmunya”._ (Syarhul Hilyah Thalabul Ilmi, Hal. 7)

Memang demikian contoh dari para ulama sejak dahulu, mereka sangat memperhatikan adab dan akhlak. Jangan sampai justru dakwah rusak karena pelaku dakwah itu sendiri yang kurang adab dan akhlaknya. Ulama dahulu benar-benar mempelajari adab dan akhlak bahkan melebihi perhatian terhadap ilmu.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,

طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم

_“Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama dua puluh tahun, dan adalah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”._ (Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra [I/466], Cet. Pertama, Maktabah Ibnu Taimiyah, Maktabah Syamilah)

Hendaknya kaum muslimin terutama para penuntut ilmu dan da‘i sangat memperhatikan hal ini. Jika setiap orang atau sebuah organisasi, kita permisalkan.

Mereka punya target dan tujuan tertentu, maka tujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Kita berupaya untuk mewujudkan hal ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ

_“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”._ (HR. al-Hakim, dinilai shahih oleh adz-Dzahabi dan al-Albani)

Beliau memerintahkan kita agar bergaul dan bermuamalah dengan manusia berhiaskan akhlak yang mulia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

_“Bergaulah dengan manusia dengan akhlak mulia”._ (HR. at-Tirmidzi, beliau menilai hasan shahih)

Beliau adalah suri teladan bagi kaum muslimin dan beliau punz sudah mencontohkan kepada kita akhlak beliau yang sangat mulia dalam berbagai kisah sirah beliau. Allah memuji akhlak beliau dalam al-Qur’an.

Allah ta‘ala berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

_“Sesungguhnya Engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”._ (QS. al-Qalam [68]: 4)

Demikian juga pujian dari istri beliau, perlu diketahui bahwa komentar dan testimoni istri pada suami adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak sebenarnya seseorang.

‘A’isyah berkata mengenai akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

_“Akhlak beliau adalah al-Qur’an”._ (HR. Muslim No. 746, Abu Daud No. 1342, dan Ahmad [6/54])

Seperti apa akhlak mulia itu

Definisi akhlak mulia cukup sederhanya, sebagaimana ulama menerangkan,

بَذْلُ النَّدَى وَكَفُّ الْأَذَى وَاحْتِمَالُ الْأَذَى

_“Akhlak mulia adalah;_

1 Berbuat baik kepada orang lain,_

2 Menghindari sesuatu yang menyakitinya,
dan

3 Menahan diri ketika disakiti”
(Madarijus Salikin [II/318-319])

Mari kita wujudkan akhlak yang mulia, mempelajari bagaimana akhlak mulia dalam Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Balasan akhlak mulia sangat besar yaitu masuk surga dan merupakan sebab terbanyak orang masuk surga.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ

_“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”._ (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim. Syaikh al-Albani menilai hasan

DUA GOLONGAN MANUSIA YANG TIDAK AKAN MEMPEROLEH ILMJ

*DUA GOLONGAN MANUSIA YANG TIDAK AKAN MEMPEROLEH ILMU*

===============================

Berkata Al-Imam Mujahid (Ulama Taabi’in) rahimahullah :

“لا ينال العلم مستحي و لا مستكبر”

“Sesungguhnya (ada dua golongan) yang tidak akan pernah memperoleh ilmu, yaitu orang yang malu-malu dan Sombong”.

[Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya pada kitabul ‘ilm]

Ta’liq (catatan) :

Sungguh benar apa yang di katakan oleh Sang Imam di atas. Sungguh banyak kita dapatkan dari kalangan Syabab Sunnah maupun selain syabab yang sudah sekian lama mengenal dakwah sunnah, lebih dari itu dia berada di lingkungan Ilmu dan orang-orang yang berilmu, dengan kesehatan dan kesempatan yang Allah anugrahkan padanya, Namun sayang sungguh sayang, sifat malu dan sombong (egois) telah menghalanginya dari warisan Para Nabi itu.

Sehingga tidak sedikit dari mereka (yang kondisinya seperti di atas) ada yang belum bisa Membaca Al-qur’an dengan benar, belum pernah belajar sifat shalat Nabi, sifat wudhu’ Rasul, dan kitab-kitab Aqidah dasar.

Akhi… Kenapa engkau mampu melawan sifat malu dan egomu demi pendidikan dunia ini, Namun engkau tidak mampu melakukan hal itu demi meraih warisan para Nabi yang merupakan cahaya dalam kehidupan mu.

Apalah arti “SENIOR” yang di sandangkan kepadamu kalau hakikatnya adalah tong kosong nyaring bunyinya..!

Ingatlah dakwah Sunnah yang Suci ini tidaklah memprioritaskan kuwantitas, tetapi dia adalah Dakwah yang memprioritaskan KUALITAS .

Sedikit pedas Namun mamfaatnya Insya Allah Manis.

Ustadz Farhan Bin Ramli Bin Ahmad hafizhahullah

– Mari sebarkan Dakwah Sunnah bersama kami –

adab adab berpakaian

ADAB-ADAB BERPAKAIAN

Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani

1. Tidak dibolehkan memakai sutera dan emas bagi kaum lelaki berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kain sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya sedangkan emas dipegang dengan tangan kirinya kemudian bersabda:

إِنَّ هذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أَمَّتِيْ.

“Sesungguhnya keduanya haram atas kaum lelaki dari ummatku.” [HR. Abu Dawud no. 4057 diriwayatkan pula dengan sanad hasan oleh an-Nasa-i VIII/160 dan Ibnu Hibban no. 1465]

2. Tidak dibolehkan bagi laki-laki memanjangkan pakaian atau celana panjang, burnus (sejenis mantel yang bertudung kepala) atau jubah sampai melebihi mata kaki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ.

“Kain yang dibawah mata kaki maka tempatnya di Neraka.” [HR. Al-Bukhari no. 5787 dan an-Nasa-i VIII/207 no. 5331]

3. Diwajibkan bagi wanita muslimah untuk memanjangkan pakaiannya hingga dapat menutupi kedua mata kakinya dan hendaknya menjulurkan kain kerudung jilbab pada kepalanya hingga menutupi leher dan dadanya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzaab/33: 59]

Dan firman Allah Azza wa Jalla:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [An-Nuur/24: 31]

4. Seorang muslim tidak dibenarkan menutup kain ke seluruh tubuhnya dan tidak menyisakan tempat keluar untuk kedua tangannya karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal ini dan tidak boleh berjalan dengan satu sandal, hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِيْ نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيْعًا أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيْعًا.

“Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal saja namun hendaknya memakai keduanya atau melepaskannya sama sekali.” [HR. Al-Bukhari no. 5856 dan Muslim no. 2097 (68)]

5. Laki-laki muslim tidak boleh menggunakan busana muslimah dan wanita muslimah tidak boleh menggunakan busana laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَعَنَ اللهُ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki.”[1]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya:

لَعَنَ اللهُ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ.

“Allah melaknat laki-laki yang mengenakan busana wanita dan wanita yang menggunakan busana laki-laki.”[2]

6. Bagi seorang muslim, jika hendak mengenakan sandal maka haruslah memulai dengan kaki kanan dan jika hendak melepaskan memulai dengan kaki kiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِاليُمْنَى وَإِذَا خَلَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ.

“Apabila salah seorang di antara kamu memakai sandal (sepatu), maka mulailah dengan yang kanan dan apabila melepasnya mulailah dengan yang kiri.” [HR. Al-Bukhari no. 5855 dan Muslim no. 2097]

7. Hendaknya memulai memakai baju dari bagian kanan sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya.” [HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268 (67)]

8. Hendaknya ketika memakai baju baru, sorban (kopiah atau peci) baru, dan jenis pakaian lainnya yang baru untuk mengucapkan do’a:

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ ماَ صُنِعَ لَهُ.

“Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberikanku pakaian, aku memohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari tujuan dibuatnya pakaian ini.”[3]

[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]
___
Footnote
[1]. Lafazh di atas adalah lafazh yang keliru karena tidak ditemukan lafazh la’ana Allah, namun yang benar adalah la’ana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ الْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki.” [HR. Al-Bukhari no. 5886, 6834, Abu Dawud no. 4930]-pent.

[2]. Tetapi lafazh ini salah karena mencantumkan lafazh لَعَنَ اللهُ (Allah melaknat), padahal yang benar adalah لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ (Rasulullah melaknat) dan ini riwayat Imam al-Bukhari, namun pada riwayat Abu Dawud dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu adalah sebagai berikut:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang mengenakan busana wanita dan wanita yang menggunakan busana laki-laki.” [HR. Abu Dawud no. 4098]-penj.

[3]. HR. Abu Dawud no. 4020, at-Tirmidzi no. 1822, al-Hakim IV/192 dengan menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu.

Sumber: https://almanhaj.or.id/4013-adab-adab-berpakaian.html

________________________________

Reposted GROUP ukhuwahfilhijrah
Artikel : https://ukhuwahfillhijrah.com/2018/03/25/adab-adab-berpakaian/
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link pendaftaran group :http://bit.ly/2UfH-Adm1

Adab Sebelum tidur

Adab Islami Sebelum Tidur

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Adab islami sebelum tidur yang seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut.

Pertama: Tidurlah dalam keadaan berwudhu.

Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Kedua: Tidur berbaring pada sisi kanan.

Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).

Ketiga: Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017). Membaca Al Qur’an sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini lebih menenangkan hati dan pikiran daripada sekedar mendengarkan alunan musik.

Keempat: Membaca ayat kursi sebelum tidur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)

Kelima: Membaca do’a sebelum tidur “Bismika allahumma amuutu wa ahyaa”.

Dari Hudzaifah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)

Masih ada beberapa dzikir sebelum tidur lainnya yang tidak kami sebutkan dalam tulisan kali ini. Silakan menelaahnya di buku Hisnul Muslim, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.

Keenam: Sebisa mungkin membiasakan tidur di awal malam (tidak sering begadang) jika tidak ada kepentingan yang bermanfaat.

Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)

Semoga kajian kita kali ini bisa kita amalkan. Hanya Allah yang beri taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Ustad Muhammad Abduh Tuasikal

Reposted GROUP ukhuwahfilhijrah
Artikel :https://ukhuwahfillhijrah.com/adab-sebelum-tidur/
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link pendaftaran group :http://bit.ly/2UfH-Adm1

Tilawah dalam keadaan tidak berhijab

#Tanya Ustadzah 1❓
Nama : Dita
Asal : Palembang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bolehkah tilawah dalam keadaan tidak berhijab syar’i di dalam rumah (karena gerah dsb)?
Jazakillah khair

🔏 Jawaban
Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman Hafidhahallaahu Ta’ala

Menutup aurat adalah syarat sahnya shalat dan untuk menjaga aurat dari pandangan orang yang bukan mahrom adalah kewajiban setiap wanita muslimah.

Untuk membaca Alquran, tidak ada persyaratan bagi wanita untuk menutup kepalanya atau menutup aurotnya secara syar’i. Karena tidak disyaratkan untuk menutup aurat lengkap ketika membaca Al quran, namun jika kita menutup aurat lebih baik, hal itu untuk menghormati Alquran.

Membaca Alquran ketika sendirian atau ketika bersama mahromnya tanpa berkerudung atau berkerudung kecil boleh, karena berkerudung bukan syarat membaca al Qur’an.

Berbeda dengan shalat. Shalat seseorang bisa tidak sah sholatnya kecuali dengan menutup aurat secara sempurna.”

Fatawa Nurun ala ad-Darb: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4805.shtml

Pertanyaan semisal juga pernah diajukan di Syabakah Al-Fatwa Asy-Syar’iyah. Syaikh Prof. Dr. Ahmad Hajji Al-Kurdi memberi jawaban, “Jika tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa tindakan itu termasuk melecehkan atau tidak menghormati Alquran, maka perbuatan semacam ini tidak haram. Hanya saja kurang sesuai dengan adab yang diajarkan ketika membaca Alquran yaitu menutup kepalanya.”
Allahu a’lam

Fa antunna jazaakunnaullooh khoir

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

Hukum Penggunaan Emoticon

🥇 BEST QUESTION OF THE WEEK 🥇

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

TANYA USTADZ 2⃣

Nama : Erna
Asal : Purbalingga

📝 PERTANYAAN

Assalamualaikum….
Mau tanya tentang dalil dilarangnya penggunaan emoticon seperti emot kuning di WA.
Syukran

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

🔏 JAWABAN

وعليكم السلام ورحمة اللّٰه وبركاته

Fatwa Asy-Syaikh Doktor Sa’ad Al-Khotslaan hafizohulloh, anggota Kibar Ulama Arab Saudi)

Pertanyan :

ما حكم استخدام الوجوه التعبيرية المعروفة ب( الفيسات) في وسائل التقنية الحديثة ؟

“Apakah hukum menggunakan gambar ekspresi wajah yang dikenal dengan (face) dalam sarana tekhnologi modern?”

Jawab :

الذي يظهر أنه لابأس بذلك ؛ وذلك لأنها ليست صورا بالمعنى الشرعي وإنما هي مجرد رموز يؤتى بها للتعبير عن جملة من الكلام .. ، ثم على تقدير أنها صورة فقد ذكر الفقهاء أن الصورة إذا قطع منها ما لا تبقى معه الحياة فلا تكون محرمة ، وقد قال ابن عباس رضي الله عنهما ” الصورة الرأس ، فإذا قطع الرأس فلا صورة ” وقد روي مرفوعا  ، قال الموفق ابن قدامة رحمه الله : (وإن قطع منه ما لا يبقى الحيوان بعد ذهابه كصدره أو بطنه أو جعل له رأس منفصل عن بدنه لم يدخل تحت النهي لأن الصورة لا تبقى بعد ذهابه فهو كقطع الرأس ( المغني 8/111)  . والله أعلم

” Yang nampak adalah tidak mengapa hal tersebut. Hal ini karena gambar-gambar ekspresi wajah tersebut bukan gambar (makhluk hidup-pen) menurut syari’at, akan tetapi hanyalah sekedar simbol-simbol (rumus-rumus) yang didatangkan untuk mengekspresikan sejumlah perkataan…”

Kemudian kalaupun itu adalah gambar (makhluk hidup-pen) maka para fuqoha (ahli fikih) telah menyebutkan bahwasanya gambar jika telah dipotong/dihilangkan darinya apa yang kehidupan tidak mungkin tanpanya maka tidaklah haram.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa telah berkata, “Gambar adalah kepala, maka jika telah dipotong/dihilangkan kepalanya maka hilanglah (hakekat) gambar”, dan juga ini telah diriwayatkan secara marfu’.

Al-Muwaffaq Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata : “Jika dipotong bagian yang hewan tidak bisa hidup tanpanya dengan dihilangkannya –seperti dadanya atau perutnya- atau dijadikan kepala yang terpisah dari badannya maka tidak masuk dalam larangan, karena gambar (makhluk hidup-pen) tersebut tidak tersisa (hakekatnya-pen) setelah dihilangkan bagian tersebut. Maka jadilah seperti pemotongan kepala” (al-Mughni 8/111), Wallahu A’lam. (Sumber : http://www.saad-alkthlan.com/text-875)
 
Catatan : Penggunaan gambar-gambar ekspresi wajah diperselisihkan oleh para ulama, karenanya tentu meninggalkannya lebih baik agar keluar dari khilaf para ulama.
👉 Kalaupun menggunakannya maka hendaknya jangan menggunakan gambar-gambar ekspresi wajah yang menunjukkan kurangnya rasa malu seseorang.
Wallahu A’lam

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 15-11-1434 H / 21 September 2013 M

👤 Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com

✒ Dijawab oleh : Ustadz Permana hafidhohullohu ta’ala

﹏﹏﹏•••••••◈◈◈﹏﹏﹏

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

JANGAN ENGKAU HINAKAN DIRIMU SENDIRI

JANGAN ENGKAU HINAKAN DIRIMU SENDIRI

📝 Ibnu ‘Abdil Bar rahimahullah berkata:

«كان يقال: ستةٌ إذا أُهينوا فلا يلوموا أنفسهم

Dahulu dikatakan: Enam orang yang bila mereka dihinakan, maka janganlah menyalahkan diri mereka sendiri

١ .الذَّاهب إلى مائدة لم يُدعَ إليها.

● Orang yang pergi menghadiri sebuah jamuan padahal dia tidak diundang

٢ .وطالب الفضل من اللئام.

● Orang yang meminta keutamaan kepada seorang yang suka mencela

٣. والداخل بين اثنين في حديثهما من غير أن يُدخلاه فيه.

● Orang yang ikut masuk (nimbrung) pada pembicaraan dua orang padahal ia tidak dimasukkan ke dalamnya.

٤. والمستخِفّ بالسلطان.

● Orang yang meremehkan penguasa

.
٥. والجالس مجلساً ليس له بأهلٍ.

● Orang yang duduk dalam sebuah majelis yang ia tidaklah pantas

٦. والمقبِل بحديثه على من لا يسمع منه ولا يصغي إليه.

● Orang yang menghadapkan pembicaraannya kepada orang yang tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya.

(Al-Adab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih (347))

📚 Sumber || https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=163228

Hukum menggunakan windows bajakan

#Tanya Ustadzah
Nama : Mita
Asal : Papua
assalamualaikum ustadz mau tanya apa hukum menggunakan windox bajakan?

_Jazakunullahu khairan

Jawaban
Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman Hafidhohallah

Tidak dibenarkan bagi anda untuk menggandakan program-program komputer  yang pemiliknya melarang untuk digandakan kecuali atas seizinnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

المُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka.“
Dan juga berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيبة من نَفْسٍ

“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali atas kerelaan darinya“.
Dan juga berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ سَبَقَ إِلَى مُبَاحٍ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

“Barang siapa telah lebih dahulu mendapatkan sesuatu yang mubah (halal) maka dialah yang lebih berhak atasnya“.
Hukum ini berlaku baik pencetus program adalah seorang muslim atau kafir selain kafir harbi (yang dengan terus terang memusuhi umat Islam), karena hak-hak orang kafir selain kafir harbi dihormati  layaknya hak-hak seorang muslim.

Wabillahittaufiq,  dan semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts All ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Riset dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)

Yang menandatangani fatwa ini:
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh
Anggota: Syaikh Sholih Al Fauza

Note :
Penggunaan program bajakan terlarang dalam Islam.
Jika program tersebut sudah tersebar di internet dan tidak ada perintah untuk minta izin terlebih dahulu bagi orang yang akan mengunduhnya maka hal tersebut tidak mengapa.

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈