Keutamaan Mencintai dan Meneladani Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

#Tanya Ustadz 1
Nama: Debbie
UFHA 6

Asaalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…
Afwan ana seorang ibu dimana dalam mendidik anak zaman now di era globalisasi ini susah sekali mendekatkan anak untuk bisa memfavoritkan baginda Rasulullah Shaulallahu Alaihi Wassalam sebagai dambaannya….sedang anak saya selalu bilang ‘ gimana mau suka bun…aku aja tidak pernah tau rupanya seperti apa..?’
Selalu itu yang jadi kebingungan ana untuk menjawabnya…mohon bimbingan serta penjelasanny Ustadz…

Jawaban 1
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kata pepatah, _Tak kenal maka tak sayang”_, maka kewajiban orangtua adalah mengenalkan siapa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anaknya. Kenalkan kepada mereka bagaimana kedudukan beliau, keramahan beliau, kejujuran beliau, keadilan beliau, ajaran beliau yang mulia, termasuk juga postur tubuh beliau shollallahu ‘alaihi wasallam agar mereka lebih mencintainya.

Jelaskan juga keharusan mencintai Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam atas seluruh manusia lebih dari siapapun termasuk dari dirinya sendiri. Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس اجمعين

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhori 15 dan Muslim 44)

Peringatkan juga bahwa manusia kelak akan dibangkitkan di hari kiamat bersama orang yang dicintainya dan diidolakannya. Jika dia mencintai orang-orang kafir atau orang-orang yang durhaka kepada Allah maka dia akan dibangkitkan bersamanya dan orang yang dicintainya itu akan berlepas diri darinya.

Di samping itu, orangtua juga dituntut untuk menyontohkan anak-anaknya agar mencintai dan meneladani Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang perilaku dan akhlaq seseorang bisa mewakili banyak kajian hadits-hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh Ustadz Fikri Abul Hasan Hafidhahullahu ta’ala

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Fanspage : www.facebook.com/ufha.ufhi/
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

ILMU AGAMA TANPA AKHLAK MULIA ADALAH SIA-SIA

*ILMU AGAMA TANPA AKHLAK MULIA ADALAH SIA-SIA*

—————————

❅ https://t.me/MuliaDenganSunnah

“Perhatikan adab dan akhlakmu, wahai penuntut ilmu!”“`

Sebuah nasihat yang sangat bagus bagi kaum muslimin khususnya bagi para penuntut ilmu agama. Ilmu agama yang mulia ini hendaknya selalu digandengkan dengan akhlak yang mulia.

Terlebih para da‘i yang akan menyeru kepada kebaikan dan menjadi sorotan oleh masyarakat akan kegiatan keseharian dan muamalahnya._

Nasihat tersebut dari seorang ulama yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,

طالب العلم : إذا لم يتحل بالأخلاق الفاضلة فإن طلبه للعلم لا فائدة فيه

_“Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faidah menuntut ilmunya”._ (Syarhul Hilyah Thalabul Ilmi, Hal. 7)

Memang demikian contoh dari para ulama sejak dahulu, mereka sangat memperhatikan adab dan akhlak. Jangan sampai justru dakwah rusak karena pelaku dakwah itu sendiri yang kurang adab dan akhlaknya. Ulama dahulu benar-benar mempelajari adab dan akhlak bahkan melebihi perhatian terhadap ilmu.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,

طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم

_“Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama dua puluh tahun, dan adalah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”._ (Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra [I/466], Cet. Pertama, Maktabah Ibnu Taimiyah, Maktabah Syamilah)

Hendaknya kaum muslimin terutama para penuntut ilmu dan da‘i sangat memperhatikan hal ini. Jika setiap orang atau sebuah organisasi, kita permisalkan.

Mereka punya target dan tujuan tertentu, maka tujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Kita berupaya untuk mewujudkan hal ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ

_“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”._ (HR. al-Hakim, dinilai shahih oleh adz-Dzahabi dan al-Albani)

Beliau memerintahkan kita agar bergaul dan bermuamalah dengan manusia berhiaskan akhlak yang mulia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

_“Bergaulah dengan manusia dengan akhlak mulia”._ (HR. at-Tirmidzi, beliau menilai hasan shahih)

Beliau adalah suri teladan bagi kaum muslimin dan beliau punz sudah mencontohkan kepada kita akhlak beliau yang sangat mulia dalam berbagai kisah sirah beliau. Allah memuji akhlak beliau dalam al-Qur’an.

Allah ta‘ala berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

_“Sesungguhnya Engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”._ (QS. al-Qalam [68]: 4)

Demikian juga pujian dari istri beliau, perlu diketahui bahwa komentar dan testimoni istri pada suami adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak sebenarnya seseorang.

‘A’isyah berkata mengenai akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

_“Akhlak beliau adalah al-Qur’an”._ (HR. Muslim No. 746, Abu Daud No. 1342, dan Ahmad [6/54])

Seperti apa akhlak mulia itu

Definisi akhlak mulia cukup sederhanya, sebagaimana ulama menerangkan,

بَذْلُ النَّدَى وَكَفُّ الْأَذَى وَاحْتِمَالُ الْأَذَى

_“Akhlak mulia adalah;_

1 Berbuat baik kepada orang lain,_

2 Menghindari sesuatu yang menyakitinya,
dan

3 Menahan diri ketika disakiti”
(Madarijus Salikin [II/318-319])

Mari kita wujudkan akhlak yang mulia, mempelajari bagaimana akhlak mulia dalam Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Balasan akhlak mulia sangat besar yaitu masuk surga dan merupakan sebab terbanyak orang masuk surga.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ

_“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”._ (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim. Syaikh al-Albani menilai hasan

DUA GOLONGAN MANUSIA YANG TIDAK AKAN MEMPEROLEH ILMJ

*DUA GOLONGAN MANUSIA YANG TIDAK AKAN MEMPEROLEH ILMU*

===============================

Berkata Al-Imam Mujahid (Ulama Taabi’in) rahimahullah :

“لا ينال العلم مستحي و لا مستكبر”

“Sesungguhnya (ada dua golongan) yang tidak akan pernah memperoleh ilmu, yaitu orang yang malu-malu dan Sombong”.

[Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya pada kitabul ‘ilm]

Ta’liq (catatan) :

Sungguh benar apa yang di katakan oleh Sang Imam di atas. Sungguh banyak kita dapatkan dari kalangan Syabab Sunnah maupun selain syabab yang sudah sekian lama mengenal dakwah sunnah, lebih dari itu dia berada di lingkungan Ilmu dan orang-orang yang berilmu, dengan kesehatan dan kesempatan yang Allah anugrahkan padanya, Namun sayang sungguh sayang, sifat malu dan sombong (egois) telah menghalanginya dari warisan Para Nabi itu.

Sehingga tidak sedikit dari mereka (yang kondisinya seperti di atas) ada yang belum bisa Membaca Al-qur’an dengan benar, belum pernah belajar sifat shalat Nabi, sifat wudhu’ Rasul, dan kitab-kitab Aqidah dasar.

Akhi… Kenapa engkau mampu melawan sifat malu dan egomu demi pendidikan dunia ini, Namun engkau tidak mampu melakukan hal itu demi meraih warisan para Nabi yang merupakan cahaya dalam kehidupan mu.

Apalah arti “SENIOR” yang di sandangkan kepadamu kalau hakikatnya adalah tong kosong nyaring bunyinya..!

Ingatlah dakwah Sunnah yang Suci ini tidaklah memprioritaskan kuwantitas, tetapi dia adalah Dakwah yang memprioritaskan KUALITAS .

Sedikit pedas Namun mamfaatnya Insya Allah Manis.

Ustadz Farhan Bin Ramli Bin Ahmad hafizhahullah

– Mari sebarkan Dakwah Sunnah bersama kami –

adab adab berpakaian

ADAB-ADAB BERPAKAIAN

Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani

1. Tidak dibolehkan memakai sutera dan emas bagi kaum lelaki berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kain sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya sedangkan emas dipegang dengan tangan kirinya kemudian bersabda:

إِنَّ هذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أَمَّتِيْ.

“Sesungguhnya keduanya haram atas kaum lelaki dari ummatku.” [HR. Abu Dawud no. 4057 diriwayatkan pula dengan sanad hasan oleh an-Nasa-i VIII/160 dan Ibnu Hibban no. 1465]

2. Tidak dibolehkan bagi laki-laki memanjangkan pakaian atau celana panjang, burnus (sejenis mantel yang bertudung kepala) atau jubah sampai melebihi mata kaki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ.

“Kain yang dibawah mata kaki maka tempatnya di Neraka.” [HR. Al-Bukhari no. 5787 dan an-Nasa-i VIII/207 no. 5331]

3. Diwajibkan bagi wanita muslimah untuk memanjangkan pakaiannya hingga dapat menutupi kedua mata kakinya dan hendaknya menjulurkan kain kerudung jilbab pada kepalanya hingga menutupi leher dan dadanya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzaab/33: 59]

Dan firman Allah Azza wa Jalla:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [An-Nuur/24: 31]

4. Seorang muslim tidak dibenarkan menutup kain ke seluruh tubuhnya dan tidak menyisakan tempat keluar untuk kedua tangannya karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal ini dan tidak boleh berjalan dengan satu sandal, hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِيْ نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيْعًا أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيْعًا.

“Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal saja namun hendaknya memakai keduanya atau melepaskannya sama sekali.” [HR. Al-Bukhari no. 5856 dan Muslim no. 2097 (68)]

5. Laki-laki muslim tidak boleh menggunakan busana muslimah dan wanita muslimah tidak boleh menggunakan busana laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَعَنَ اللهُ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki.”[1]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya:

لَعَنَ اللهُ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ.

“Allah melaknat laki-laki yang mengenakan busana wanita dan wanita yang menggunakan busana laki-laki.”[2]

6. Bagi seorang muslim, jika hendak mengenakan sandal maka haruslah memulai dengan kaki kanan dan jika hendak melepaskan memulai dengan kaki kiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِاليُمْنَى وَإِذَا خَلَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ.

“Apabila salah seorang di antara kamu memakai sandal (sepatu), maka mulailah dengan yang kanan dan apabila melepasnya mulailah dengan yang kiri.” [HR. Al-Bukhari no. 5855 dan Muslim no. 2097]

7. Hendaknya memulai memakai baju dari bagian kanan sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya.” [HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268 (67)]

8. Hendaknya ketika memakai baju baru, sorban (kopiah atau peci) baru, dan jenis pakaian lainnya yang baru untuk mengucapkan do’a:

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ ماَ صُنِعَ لَهُ.

“Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberikanku pakaian, aku memohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari tujuan dibuatnya pakaian ini.”[3]

[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]
___
Footnote
[1]. Lafazh di atas adalah lafazh yang keliru karena tidak ditemukan lafazh la’ana Allah, namun yang benar adalah la’ana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ الْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki.” [HR. Al-Bukhari no. 5886, 6834, Abu Dawud no. 4930]-pent.

[2]. Tetapi lafazh ini salah karena mencantumkan lafazh لَعَنَ اللهُ (Allah melaknat), padahal yang benar adalah لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ (Rasulullah melaknat) dan ini riwayat Imam al-Bukhari, namun pada riwayat Abu Dawud dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu adalah sebagai berikut:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang mengenakan busana wanita dan wanita yang menggunakan busana laki-laki.” [HR. Abu Dawud no. 4098]-penj.

[3]. HR. Abu Dawud no. 4020, at-Tirmidzi no. 1822, al-Hakim IV/192 dengan menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu.

Sumber: https://almanhaj.or.id/4013-adab-adab-berpakaian.html

________________________________

Reposted GROUP ukhuwahfilhijrah
Artikel : https://ukhuwahfillhijrah.com/2018/03/25/adab-adab-berpakaian/
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link pendaftaran group :http://bit.ly/2UfH-Adm1

Adab Sebelum tidur

Adab Islami Sebelum Tidur

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Adab islami sebelum tidur yang seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut.

Pertama: Tidurlah dalam keadaan berwudhu.

Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Kedua: Tidur berbaring pada sisi kanan.

Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).

Ketiga: Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017). Membaca Al Qur’an sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini lebih menenangkan hati dan pikiran daripada sekedar mendengarkan alunan musik.

Keempat: Membaca ayat kursi sebelum tidur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)

Kelima: Membaca do’a sebelum tidur “Bismika allahumma amuutu wa ahyaa”.

Dari Hudzaifah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)

Masih ada beberapa dzikir sebelum tidur lainnya yang tidak kami sebutkan dalam tulisan kali ini. Silakan menelaahnya di buku Hisnul Muslim, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.

Keenam: Sebisa mungkin membiasakan tidur di awal malam (tidak sering begadang) jika tidak ada kepentingan yang bermanfaat.

Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)

Semoga kajian kita kali ini bisa kita amalkan. Hanya Allah yang beri taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Ustad Muhammad Abduh Tuasikal

Reposted GROUP ukhuwahfilhijrah
Artikel :https://ukhuwahfillhijrah.com/adab-sebelum-tidur/
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link pendaftaran group :http://bit.ly/2UfH-Adm1

Tilawah dalam keadaan tidak berhijab

#Tanya Ustadzah 1❓
Nama : Dita
Asal : Palembang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bolehkah tilawah dalam keadaan tidak berhijab syar’i di dalam rumah (karena gerah dsb)?
Jazakillah khair

🔏 Jawaban
Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman Hafidhahallaahu Ta’ala

Menutup aurat adalah syarat sahnya shalat dan untuk menjaga aurat dari pandangan orang yang bukan mahrom adalah kewajiban setiap wanita muslimah.

Untuk membaca Alquran, tidak ada persyaratan bagi wanita untuk menutup kepalanya atau menutup aurotnya secara syar’i. Karena tidak disyaratkan untuk menutup aurat lengkap ketika membaca Al quran, namun jika kita menutup aurat lebih baik, hal itu untuk menghormati Alquran.

Membaca Alquran ketika sendirian atau ketika bersama mahromnya tanpa berkerudung atau berkerudung kecil boleh, karena berkerudung bukan syarat membaca al Qur’an.

Berbeda dengan shalat. Shalat seseorang bisa tidak sah sholatnya kecuali dengan menutup aurat secara sempurna.”

Fatawa Nurun ala ad-Darb: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4805.shtml

Pertanyaan semisal juga pernah diajukan di Syabakah Al-Fatwa Asy-Syar’iyah. Syaikh Prof. Dr. Ahmad Hajji Al-Kurdi memberi jawaban, “Jika tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa tindakan itu termasuk melecehkan atau tidak menghormati Alquran, maka perbuatan semacam ini tidak haram. Hanya saja kurang sesuai dengan adab yang diajarkan ketika membaca Alquran yaitu menutup kepalanya.”
Allahu a’lam

Fa antunna jazaakunnaullooh khoir

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

Hukum Penggunaan Emoticon

🥇 BEST QUESTION OF THE WEEK 🥇

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

TANYA USTADZ 2⃣

Nama : Erna
Asal : Purbalingga

📝 PERTANYAAN

Assalamualaikum….
Mau tanya tentang dalil dilarangnya penggunaan emoticon seperti emot kuning di WA.
Syukran

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

🔏 JAWABAN

وعليكم السلام ورحمة اللّٰه وبركاته

Fatwa Asy-Syaikh Doktor Sa’ad Al-Khotslaan hafizohulloh, anggota Kibar Ulama Arab Saudi)

Pertanyan :

ما حكم استخدام الوجوه التعبيرية المعروفة ب( الفيسات) في وسائل التقنية الحديثة ؟

“Apakah hukum menggunakan gambar ekspresi wajah yang dikenal dengan (face) dalam sarana tekhnologi modern?”

Jawab :

الذي يظهر أنه لابأس بذلك ؛ وذلك لأنها ليست صورا بالمعنى الشرعي وإنما هي مجرد رموز يؤتى بها للتعبير عن جملة من الكلام .. ، ثم على تقدير أنها صورة فقد ذكر الفقهاء أن الصورة إذا قطع منها ما لا تبقى معه الحياة فلا تكون محرمة ، وقد قال ابن عباس رضي الله عنهما ” الصورة الرأس ، فإذا قطع الرأس فلا صورة ” وقد روي مرفوعا  ، قال الموفق ابن قدامة رحمه الله : (وإن قطع منه ما لا يبقى الحيوان بعد ذهابه كصدره أو بطنه أو جعل له رأس منفصل عن بدنه لم يدخل تحت النهي لأن الصورة لا تبقى بعد ذهابه فهو كقطع الرأس ( المغني 8/111)  . والله أعلم

” Yang nampak adalah tidak mengapa hal tersebut. Hal ini karena gambar-gambar ekspresi wajah tersebut bukan gambar (makhluk hidup-pen) menurut syari’at, akan tetapi hanyalah sekedar simbol-simbol (rumus-rumus) yang didatangkan untuk mengekspresikan sejumlah perkataan…”

Kemudian kalaupun itu adalah gambar (makhluk hidup-pen) maka para fuqoha (ahli fikih) telah menyebutkan bahwasanya gambar jika telah dipotong/dihilangkan darinya apa yang kehidupan tidak mungkin tanpanya maka tidaklah haram.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa telah berkata, “Gambar adalah kepala, maka jika telah dipotong/dihilangkan kepalanya maka hilanglah (hakekat) gambar”, dan juga ini telah diriwayatkan secara marfu’.

Al-Muwaffaq Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata : “Jika dipotong bagian yang hewan tidak bisa hidup tanpanya dengan dihilangkannya –seperti dadanya atau perutnya- atau dijadikan kepala yang terpisah dari badannya maka tidak masuk dalam larangan, karena gambar (makhluk hidup-pen) tersebut tidak tersisa (hakekatnya-pen) setelah dihilangkan bagian tersebut. Maka jadilah seperti pemotongan kepala” (al-Mughni 8/111), Wallahu A’lam. (Sumber : http://www.saad-alkthlan.com/text-875)
 
Catatan : Penggunaan gambar-gambar ekspresi wajah diperselisihkan oleh para ulama, karenanya tentu meninggalkannya lebih baik agar keluar dari khilaf para ulama.
👉 Kalaupun menggunakannya maka hendaknya jangan menggunakan gambar-gambar ekspresi wajah yang menunjukkan kurangnya rasa malu seseorang.
Wallahu A’lam

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 15-11-1434 H / 21 September 2013 M

👤 Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com

✒ Dijawab oleh : Ustadz Permana hafidhohullohu ta’ala

﹏﹏﹏•••••••◈◈◈﹏﹏﹏

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

JANGAN ENGKAU HINAKAN DIRIMU SENDIRI

JANGAN ENGKAU HINAKAN DIRIMU SENDIRI

📝 Ibnu ‘Abdil Bar rahimahullah berkata:

«كان يقال: ستةٌ إذا أُهينوا فلا يلوموا أنفسهم

Dahulu dikatakan: Enam orang yang bila mereka dihinakan, maka janganlah menyalahkan diri mereka sendiri

١ .الذَّاهب إلى مائدة لم يُدعَ إليها.

● Orang yang pergi menghadiri sebuah jamuan padahal dia tidak diundang

٢ .وطالب الفضل من اللئام.

● Orang yang meminta keutamaan kepada seorang yang suka mencela

٣. والداخل بين اثنين في حديثهما من غير أن يُدخلاه فيه.

● Orang yang ikut masuk (nimbrung) pada pembicaraan dua orang padahal ia tidak dimasukkan ke dalamnya.

٤. والمستخِفّ بالسلطان.

● Orang yang meremehkan penguasa

.
٥. والجالس مجلساً ليس له بأهلٍ.

● Orang yang duduk dalam sebuah majelis yang ia tidaklah pantas

٦. والمقبِل بحديثه على من لا يسمع منه ولا يصغي إليه.

● Orang yang menghadapkan pembicaraannya kepada orang yang tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya.

(Al-Adab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih (347))

📚 Sumber || https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=163228

Hukum menggunakan windows bajakan

#Tanya Ustadzah
Nama : Mita
Asal : Papua
assalamualaikum ustadz mau tanya apa hukum menggunakan windox bajakan?

_Jazakunullahu khairan

Jawaban
Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman Hafidhohallah

Tidak dibenarkan bagi anda untuk menggandakan program-program komputer  yang pemiliknya melarang untuk digandakan kecuali atas seizinnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

المُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka.“
Dan juga berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيبة من نَفْسٍ

“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali atas kerelaan darinya“.
Dan juga berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ سَبَقَ إِلَى مُبَاحٍ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

“Barang siapa telah lebih dahulu mendapatkan sesuatu yang mubah (halal) maka dialah yang lebih berhak atasnya“.
Hukum ini berlaku baik pencetus program adalah seorang muslim atau kafir selain kafir harbi (yang dengan terus terang memusuhi umat Islam), karena hak-hak orang kafir selain kafir harbi dihormati  layaknya hak-hak seorang muslim.

Wabillahittaufiq,  dan semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts All ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Riset dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)

Yang menandatangani fatwa ini:
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh
Anggota: Syaikh Sholih Al Fauza

Note :
Penggunaan program bajakan terlarang dalam Islam.
Jika program tersebut sudah tersebar di internet dan tidak ada perintah untuk minta izin terlebih dahulu bagi orang yang akan mengunduhnya maka hal tersebut tidak mengapa.

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

Hukum menjadi model busana syar’i

#Tanya Ustadzah
Nama : Yuliana
Asal : Jakarta

Assalamu’alaykum ustadzah,, mau bertanya, hukum selfi itu kan tidak boleh, bagaimana kalau seseorang dijadikan model untuk busana syar’i, dan hasil foto nya di publikasi kan, supaya org melihat busana yg dikenakan model.
Jazaakillahu khayran

Jawaban
Oleh Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman

Syara’ membolehkan wanita untuk bekerja, namun tidak semua pekerjaan boleh dilakukan oleh wanita. Kaum wanita boleh bekerja dan mencari nafkah dari kecakapan atau keterampilan yang dia miliki, baik kemampuan fisik maupun non-fisik. Mereka boleh menjadi guru, juru masak, laboran, programmer, juru tulis, tukang jahit, dll., asalkan semua profesi itu tetap dilakukan di atas rel hukum syara’ yang mengatur mereka sebagai wanita.

Hanya saja, Islam melarang mereka untuk menebar pesona kepada pria manapun kecuali suami. Dengan kata lain, Islam mengharamkan setiap usaha kaum Hawa untuk menonjolkan dan menunjukkan sisi-sisi “menarik” pada diri mereka kepada pria asing. Aktivitas tebar pesona inilah yang oleh bahasa dan syara’ disebut tabarruj. Dikatakan : tabarrajat al-mar’ah (seorang wanita bertabarruj) artinya adzharat zînatahâ wa mahâsinahâ li al-ajânib (wanita itu memamerkan perhiasan dan kecantikannya kepada pria asing –bukan mahram-nya–)

[1]. Tabarruj dilakukan oleh seorang wanita melalui penampilan yang tidak biasa ditampilkan oleh umumnya wanita dalam kehidupan sehari-hari, baik dengan pakaian, perhiasan, riasan maupun gerakkan tertentu dengan maksud menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang cukup menarik/cantik ketika dilihat oleh kaum pria. Dalam tradisi kita, kaum wanita kompak untuk berlomba tampil cantik dengan memakai pakaian dan riasan wajah tertentu ketika berangkat ke pesta, dimana pakaian dan riasan seperti itu secara umum tidak biasa ditampilkan pada hari-hari lain. Inilah tabarruj.

Jika tabarruj/memamerkan kecantikan saja dilarang, maka –dalam Islam- tidak ada ruang bagi kaum Hawa untuk mengkomersialkan kecantikan mereka. Mereka tidak boleh berkecimpung dalam profesi yang tidak memperkerjakan kemampuan dan keterampilan, tapi sekedar mengeksploitasi  kecantikan dan kewanitaan.

Dengan kata lain, mereka tidak boleh digaji karena keindahan rambut, tubuh, gaya, lenggak-lenggok, senyuman, wajah, pakaian, suara yang menggoda, dan sebagainya. Semua itu haram untuk dikomersialkan, dan haram hukumnya menyewa seluruh “asset” mereka yang seperti itu.

“Islam melarang pria dan wanita untuk terjun dalam segala bentuk profesi yang membahayakan akhlak atau yang dapat merusak masyarakat. Maka dari itu wanita tidak boleh berkecimpung dalam segala bentuk pekerjaan yang bermaksud untuk “memperkerjakan” aspek kewanitaan (feminitas).

Diriwayatkan dari Râfi‘ ibn Rifâ‘ah, ia menuturkan: “Nabi telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan dengan kedua tangannya. Beliau bersabda, “begini (dia kerjakan) dengan jari-jemarinya seperti membuat roti, memintal, atau menenun.” (HD. Ahmad)

Dengan demikian, seorang wanita dilarang untuk bekerja di toko sekedar untuk menarik pelanggan atau bekerja di kantor-kantor diplomatik, konsulat dan yang sejenisnya dengan maksud untuk memanfaatkan unsur kewanitaannya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan politik.

Wanita juga dilarang bekerja sebagai pramugari di pesawat-pesawat terbang dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang mengeksploitasi unsur kewanitaannya”.

Saat ini, wanita banyak dibayar sebagai model untuk mempromosikan berbagai produk, mulai dari oli sampai jilbab. Gambar mereka terpampang di pinggir-pinggir jalan sampai di internet.

Bahkan banyak kita jumpai iklan produk yang sengaja menampilkan sisi menarik wanita, seperti menampilkan wanita cantik dengan pakaian yang indah, senyum yang manis, dan gaya yang menawan. Kebanyakkan poster iklan menampilkan model wanita dengan kondisi seperti itu. Bahkan, promosi jilbab dan busana Muslimah sekalipun, sering memilih wanita yang memiliki postur, proporsi tubuh, wajah, warna kulit dan senyum yang “layak tonton”.

Tujuannya, jilbab atau busana yang dipakai akan tampak lebih menarik ketika ia dipasang pada model yang menarik pula. Padahal, jilbab dan busana muslimah adalah pakaian syar’i bagi wanita untuk dipakai di kehidupan umum, bukan perhiasan, bukan sarana penarik perhatian, bukan alat untuk memaksimalkan kecantikan. Jika jilbab digunakan untuk mempercantik diri dalam kehidupan umum, maka jilbab justru menjadi sarana tabarruj itu sendiri.

Maka dari itu, mengupah dan mengambil upah untuk penampilan seperti itu adalah haram. Sebab, menampilkan wanita dalam keadaan demikian jelas tergolong mengeksploitasi sisi-sisi menarik yang ada pada diri wanita. Nuansa pemanfaatan “aspek menarik” pada wanita itu kental sekali dalam menampilkan model-model tersebut. Jika mereka tidak ingin memanfaatkan sisi kecantikan wanita dalam gambar itu, tentu mereka akan cukup menampilkan foto jilbab dan busana muslimah saja tanpa model yang berpose lengkap dengan gaya dan senyumannya yang menggoda. Wallahu a’lam 

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

Sedekah atas nama orang tua

#Tanya Ustadzah 2#
Nama : Alfira
Asal : Makassar

Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh

Apakah bisa seorang anak bersedekah atas nama orang tuanya yg masih hidup dan tanpa di ketahui oleh orang tuanya? Dan apakah si anak tetap mendapat pahala dari sedekah tersebut?
Jazakillahu khoir…

JAWABAN 🔏

Dalam kitab Nailul Maarib bi Syarhi Dalilith Thalib dinyatakan,
“Semua bentuk amal shaleh yang dilakukan seorang muslim lalu ia niatkan pahalanya untuk orang tuanya atau saudaranya muslim yang hidup ataupun mati, maka ia akan mendapatkan pahala dan pahalanyapun akan sampai kepada orang yang dituju. Meskipun orang dituju tidak tahu si pengirim pahala tersebut. Seperti doa (berdasarkan kesepakatan ulama), permohonan ampunan.”

Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata,
“Sedekah untuk orang lain akan diterima dan bermanfaat, baik untuk ayah, ibu atau selain keduanya. Sedekah untuk orang lain yang hidup ataupun mati, didalamnya terdapat kebaikan yang banyak. (Fatwa Nur Ala Darb, 14/303).

Kesimpulan :
Seorang anak yang bersedekah atas nama orang tuanya maka :
1. Anak tersebut akan mendapatkan pahala sedekah dan pahala birrul walidain
2. Pahala tersebut akan sampai kepada orang tuanya dan akan menjadi amal sholih baginya insyaa Alloh.
Wallahua’lam.

●SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrah●
┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

● silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber ●

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

Dampak positif bahasa arab & hukum mengajari anak bahasa inggris

DAMPAK POSITIF BAHASA ARAB TERHADAP AKHLAQ DAN AGAMA SESEORANG

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Ketauhilah bahwasannya terbiasa berbahasa arab memberikan dampak positif pada akal, akhlaq, dan agama seseorang dengan pengaruh yang kuat dan jelas,

Juga memberikanu dampak positif dalam menyerupai generasi terbaik ummat ini dari kalangan shahabat dan tabiin. Menyerupai mereka akan menambah (baik) akal, agama, dan akhlaq seseorang.

Karena bahasa arab itu sendiri termasuk dari agama. Mengilmuinyay adalah wajib*, karena memahami al-Quran dan as-Sunnah (hukumnya) wajib, dan tidak bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa arab.

✔Sesuatu yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, makay sesuatu tersebut hukumnya adalah wajib

Sumber : Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim Jilid 1 hal. 468

لابـد مـن تـعلـم الـعربيـة :

تأثيـر اللـغة الـعربية على الأخـلاق والـدين

قـال شـيخ الإسـلام ابن تيـميـة رحمـه الله تعـالى :

« وﺍﻋﻠـﻢ ﺃﻥّ ﺍﻋﺘﻴـﺎﺩ ﺍﻟﻠـﻐﺔ يؤثر ﻓﻲ ﺍﻟـﻌﻘﻞِ ﻭﺍﻟـﺨﻠﻖِ ﻭﺍﻟـﺪﻳﻦِ ﺗﺄﺛﻴـﺮﺍً ﻗﻮﻳـّﺎًu ﺑﻴّﻨـﺎً ، ﻭﻳﺆﺛﺮ ﺃﻳﻀﺎً ﻓﻲ ﻣـﺸـﺎﺑﻬﺔِ ﺻـﺪﺭِ ﻫـﺬﻩ ﺍﻷﻣـّﺔِ ﻣﻦ ﺍﻟـﺼﺤﺎﺑـﺔِ ﻭﺍﻟـﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ، ﻭﻣﺸـﺎﺑﻬﺘﻬـﻢ ﺗﺰﻳـﺪu ﺍﻟـﻌﻘﻞَ ﻭﺍﻟـﺪﻳﻦَ ﻭﺍﻟـﺨﻠﻖَ ، ﻭﺃﻳﻀـﺎً ﻓـﺈﻥّ ﻧﻔـﺲ ﺍﻟﻠـﻐﺔ ﺍﻟـﻌﺮﺑﻴﺔ ﻣـﻦu ﺍﻟـﺪﻳﻦ ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺘﻬـﺎ ﻓﺮﺽٌ ﻭﺍﺟـﺐٌ ، لأﻥّ ﻓﻬـﻢ ﺍﻟـﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟـﺴﻨّﺔ ﻓـﺮﺽٌ ، ﻭﻻu ﻳُﻔﻬـﻢ ﺇﻻّ ﺑﻔﻬـﻢ ﺍﻟﻠـﻐﺔ ﺍﻟـﻌﺮﺑﻴﺔ ، ﻭﻣـﺎ ﻻ ﻳﺘـﻢّ ﺍﻟـﻮﺍﺟﺐ ﺇﻻّ ﺑﻪ ﻓﻬـﻮ ﻭﺍﺟـﺐ »

[ اقتضاء الصراط المستقيم(٤٦٨/١)]u

🌏http://www.manhajul-anbiya.net/dampak-positif-bahasa-arabu-terhadap-akhlaq-dan-agama-seseorang.

 HUKUM MENGAJARI ANAK BAHASA INGGRIS

 Asy Syeikh Al Utsaimin rohimahullah:

Oleh karena itu aku berpendapat orang tua yang mengajari anaknya bahasa inggris sejak kecil akan dihisab/ditanya atasnya nanti di hari kiamat. Karena yang demikian akan menjadikan anaknya cinta dengan bahasa ini dan lebih mengutamakannya dari bahasa arab.

Syarhul Mumti’ 12/43

 

Berbakti kepada orang tua yang telah meninggal

BAGAIMANA BERBAKTI KEPADA ORANG TUA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA ?

1⃣ Mendo’akannya.

Selalu Mendo’akan kedua Orang Tuanya. Seperti Do’a

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

”…Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua Ibu-bapakku, dan semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari Kiamat)..”

[QS.Ibrahim: 41].

Terdapat Hadits yang Shahih, bahwasannya setiap anak Adam jika Meninggal Dunia, maka Terputuslah Amalnya Kecuali (salah satu diantaranya) adalah :

”Do’a anak yang Shalih…”.

Kenapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan “Anak yang Shalih..”??

Para Ulama Menyebutkan bahwasannya,….
Hanya Anak yang Shalih-lah yang Pasti men-Do’akan orang tuanya yang telah Meninggal.

Karena, bagaimana bisa bagi anak yang Pendosa (Durhaka) mendo’akan orang tuanya, sedangkan untuk mendo’akan diri sendirinya dia Sulit, dikarenakan dia sering bergelimang didalam Kemaksiatan (Dosa)..?? Wal ‘iayadzubillaah.

Mendo’akan orang tuanya dengan Tata Cara yang telah di Syariatkan oleh Agama. Bukan dengan tata cara yang di-ada-adakan seperti Perbuatan Bid’ah.

📌 Contohnya :

➖Membaca al Qur’an dikuburannya,
➖Membuat dan melakukan Ritual-ritual Bid’ah seperti selamatan kematian

Jelas ini Perbuatan yang baru dan mengada-ada didalam Ajaran Islam yang Wajib kita Tinggalkan..

Dan Bukan dengan ber-Do’a dengan tata cara yang bukan dari Islam (Melainkan dari Ajaran agama Hindu) seperti :

➖ Acara2x Selametan Kematian pada hari 1-7, 40 hari, 100 hari setahun atau 1000 hari.. Jelas ini adalah hal yang diada-adakan..

Tidak pernah di Syari’atkan oleh Agama ini (tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan juga tidak pernah di Amalkan oleh para Shahabat..

Wajib ditinggalkan dan di Ingkari.. Karena ini Merupakan perbuatan Bid’ah.
Dan setiap Bid’ah itu Sesat walaupun banyak orang Menyangka Baik (Hasanah).

Kalau-lah Perbuatan (Amalan ini) Baik dan membawa Kebaikan, PASTI mereka (para Sahabat Nabi dan para Tabi’in) Mendahului kita dalam Mengamalkannya.

2⃣ Selalu Memintakan Ampun untuk Keduanya.

Anak yang Shalih adalah anak yang Selalu Memintakan Ampunan untuk Orang tuanya (baik mereka belum Meninggal ataupun sesudah Meninggal) didalam Sholatnya atau Waktu-waktu yang di Syari’atkan (waktu-waktu yang Mustajab/Do’a2x yang akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).

3⃣ Membayarkan Hutang-hutangnya.

Membayar Hutang-Hutang mereka, jika pada masa hidupnya mereka mempumyai Hutang kepada orang lain, karena Hutang yang belum terbayar ketika seseorang meninggal akan memberatkan orang tua kita di hadapan Allah Ta’ala kelak.

4⃣ Menunaikan janji dan wasiat kedua orang tua yang belum terpenuhi semasa hidup mereka, dan melanjutkan amal-amal baik yang pernah mereka kerjakan selama hidup mereka.

Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amal baik tersebut dilanjutkan.

Hanya Melaksanakan Wasiat Orang tua yang sesuai Syari’at dan Tidak Perlu menjalankan Wasiat mereka yang bertentangan dengan Syari’at.

Atau tidak perlu Menjalankan Wasiat orang Tua kita yang jika dijalankan Wasiat itu tidak ada Masylahatnya, bahkan banyak Mudhorotnya (Menyusahkan) kita.

5⃣ Bersedekah atas nama orang tua yang meninggal.

Sedekah yang dikeluarkan seorang anak untuk salah satu atau untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia, maka pahalanya akan sampai kepada keduanya. Selain itu segala amal shalih yang diamalkan anaknya maka pahalanya akan sampai kepada kedua orang tuanya tanpa mengurangi pahala si anak tersebut.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أُمّـِيْ افْـتُـلِـتَتْ نَـفْسُهَا (وَلَـمْ تُوْصِ) فَـأَظُنَّـهَا لَوْ تَـكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَـهَلْ لَـهَا أَجْـرٌ إِنْ تَـصَدَّقْتُ عَنْهَا (وَلِـيْ أَجْـرٌ)؟ قَالَ: «نَعَمْ» (فَـتَـصَدَّقَ عَـنْـهَا).
Bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba (dan tidak memberikan wasiat), dan aku mengira jika ia bisa berbicara maka ia akan bersedekah, maka apakah ia memperoleh pahala jika aku bersedekah atas namanya (dan aku pun mendapatkan pahala)? Beliau menjawab, “Ya, (maka bersedekahlah untuknya).” ( Shahîh, HR al-Bukhari (no. 1388), Muslim (no. 1004), Ahmad (VI/51), Abu Dawud (no. 2881), an-Nasa-i (VI/250), Ibnu Majah (no. 2717), dan al-Baihaqi (IV/62; VI/277-278).

6⃣Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat Ibu dan Ayah.

💠 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal”.

(HR. Ibnu Hibban).

📖 Selengkapnya :
Buku Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua)/Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas/Pustaka At Taqwa Bogor

✒ Editor : Admin AsySyamil.com

 

Menjadi istri shalihah

RENUNGAN BAGI KAUM WANITA, YANG INGIN MENJADI ISTERI SHALIHAH❗

Al-Imamadz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, Wajib juga atas seorang isteri :

🌺 Senantiasa memiliki sifat malu terhadap suaminya,

🌺 Menundukkan pandangannya di hadapan sang suami,

🌺 MENTAATI PERINTAH SUAMI,

🌺 Diam ketika suami berbicara,
🌺 menyambut ketika suami datang,

🌺 Menjauhi semua yang boleh membuat suami marah,

🌺 Berdiri mengantar sang suami ketika keluar,

🌺 Menawarkan dirinya kepada sang suami saat tidur,

🌺 Tidak berkhianat ketika suami tidak ada, baik dalam hal urusan ranjang, harta, maupun rumah sang suami,

🌺 Aroma yang wangi, Selalu menjaga aroma mulut dengan bersiwak,

🌺 Selalu berhias di hadapan sang suami,

🌺 Tidak berghibah,

🌺 Memuliakan keluarga dan karib kerabat sang suami,

🌺 Melihat apa yang sedikit dari suami sebagai suatu yang banyak.

🌍 Sumber : Kitab “al-Kaba’ir” , 1/66

🌐 Majmu’ah Manhajul Anbiya

adab keluar dari group

KELUAR GRUP WA TANPA PERMISI ADALAH ADAB YANG BURUK

Hendaknya minta izin, permisi atau mohon diri serta mengucapkan salam ketika keluar grup

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ

“Jika kalian mendatangi suatu majelis, maka ucapkanlah salam. Jika kalian ingin berdiri meninggalkan majelis maka ucapkan salam” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 2707).

Al Khallal mengatakan:

الرجل يستأذن إذا أراد أن يقوم عن المجلس

“Seseorang hendaknya minta izin jika ingin keluar dari majlis” (Adabus Syar’iyah, 1/416).

Imam Ahmad ditanya:

إذا جلس رجل إلى قوم يستأذنهم إذا أراد أن يقوم قال : قد فعل ذلك قوم ما أحسنه

“Apakah jika seeorang ingin keluar dari majelis, ia meminta izin dahulu?. Imam Ahmad menjawab: perbuatan ini adalah kebiasan kaum-kaum yang baik” (Adabus Syar’iyah, 1/416)

Maka, keluar majelis, termasuk keluar grup Whatsapp tanpa permisi, tanpa mohon diri, adalah adab yang buruk. Hendaknya diperhatikan.

*

@fawaid_kangaswad