Terlalu Mudah Memvonis Kafir Terhadap Kaum Muslimin

Fatawa Ulama https://t.me/almanhajaqidah Pertanyaan.Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Seringkali kami perhatikan segelintir penuntut ilmu terlalu mudah memvonis kafir terhadap kaum muslimin. Bahkan segelintir orang ini menuntut kaum muslimin supaya melaksanakan hukuman mati atas orang yang telah divonis kafir –menurut mereka- apabila penguasa (pemerintah) tidak melaksanakannya. Bagaimana pendapat Anda dalam masalah ini?Jawaban.Pelaksanaan hukuman pidana merupakan wewenang penguasa semata. Tidak setiap orang berhak menegakkan hukum pidana ini. Sebab bila demikian prakteknya jelas akan terjadi kekacauan, kerusakan dan keresahan di kalangan masyarakat. Dan juga akan menyalakan api pemberontakan dan fitnah. Pelaksanaan hukuman merupakan wewenang penguasa muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:تَعَافَوْا الْحُدُوْدَ فِيْمَا بَيْنَكُمْ فَإِذَا أَبْلَغَتِ الحُدُوْدُ السُّلْطَانَ فَلَعَنَ اللهُ الشَّافِعَ وَ الْمُشَفَّعَ“Saling memaafkanlah di antara kalian, namun jika urusannya telah diangkat kepada sultan (penguasa), maka Allah melaknat pemberi rekomendasi dan terpidana yang direkomendasi.”Salah satu kewajiban dan wewenang sultan dalam Dienul Islam adalah melaksanakan hukuman setelah diproses secara syar’i oleh mahkamah syariat atas terdakwa pelaku kejahatan yang berhak mendapat hukuman, seperti hukuman atas orang murtad, pencuri dan lain sebagainya.Walhasil, pelaksanaan hukuman merupakan wewenang sultan. Jika seandainya kaum Muslimin tidak memiliki sultan (penguasa) maka cukuplah dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar serta dakwah kepada jalan Allah dengan hikmah, pengajaran yang baik serta perdebatan dengan cara yang terbaik. Individu-individu masyarakat tidak berhak melaksanakan Hudud (hukuman). Sebab sebagaimana yang kami sebutkan, dapat menimbulkan kekacauan, pemberontakan dan fitnah. Dan juga dapat menimbulkan Mafsadat yang lebih besar daripada Mashlahatnya. Salah satu kaidah syar’i yang disepakati bersama menyatakan: “Menolak Mafsadat lebih diutamakan daripada meraih Maslahat.”[Disalin dari kitab Muraja’att fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Ayah dan Ibu yang Menderita

Orangtua yang telah sukses membesarkan anak-anaknya ialah yang berhasil mendidik mereka menjadi shalih dan shalihah, yang selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta yang senantiasa berbakti kepada kedua orangtuanya.

Apalah artinya orangtua yang memiliki anak yang kaya, menduduki jabatan yang tinggi, memiliki penghasilan yang besar dll, tapi mereka durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak berbakti kepada kedua orangtuanya.

“Tahukah kalian siapa orang yang mandul itu ? Kami berkata : “Orang yang mandul itu adalah orang yang tidak memiliki anak”.

Rasulullah ﷺ bersabda :

“Bukan itu orang yang disebut mandul, tetapi orang yang punya banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak ada yang memberi manfaat kepadanya sesudah dia meninggal dunia”

(HR. Muslim no. 2608, Hadits dari Abdullah bin Mas’ud)

Apabila orangtua melalaikan, meremehkan, serta tidak mau memperdulikan pendidikan anaknya, maka anak itu akan menjadi luka di tenggorokannya dalam kehidupan dunia, dan menjadi sebab ditimpakannya adzab kepada orangtuanya kelak di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Janganlah seorang Ibu menderita karena anaknya, dan jangan (pula) seorang Ayah (menderita) karena anaknya” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

“Katakanlah : “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat”. Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Az-Zumar [39]: 15)

Ditulis oleh Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

“Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun…”

HR.MUSLIM

BAROKALLAHUFIKUM

Jangan Cabut Ketaatan Meskipun Penguasamu Zalim

🖋 Abu Abd Rahman Bin Muhammad Suud Al Atsary.

Semenjak berakhirnya masa kolonialisme Kafir barat, bisa dikatakan kaum Muslimin tercabik-cabik, baik negeri mereka, kesatuan mereka dan kekayaan mereka.

Bahkan Aqidah mereka, mereka mengambil Aqidah yang cenderung kepada Sufi dan Liberal atau mengambil sikap ekstrem Khawarij, setelah melalui masa penjajahan yang panjang. Serta tidak bersatunya kalimat mereka di atas Aqidah yang lurus dan Manhaj yang selamat.

Nyaris kaum Muslimin seakan anak ayam yang kehilangan induk. Tidak ada seorang yang berkuasa, menggunakan kekuasaannya untuk membela Islam dan kaum Muslimin, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.

Di tambah lagi, sebagian pemuda yang memiliki semangat dalam masa-masa hijrah dan kenyataan yang tidak bisa di pungkiri, melihat sebagian pemimpin tidak menjalankan syariat Allah subhanahu wa taala dan cenderung memusuhinya, dan hidup Hedonis.

Sebagian mereka mengambil sikap tanpa bimbingan ulama dan cenderung bersikap berlebihan.

Tentunya hal ini perlu disikapi para ulama dengan baik, tidak hanya menyalahkan satu sisi, baik dari sisi pemerintah yang wajib mereka menjadi media nasehat, amar ma’ruf dan nahi munkar, serta tentunya nasehat kepada pemerintah tidak perlu disampaikan pada khalayak umum.

Dan juga, mereka wajib memberi bimbingan kepada para pemuda yang memiliki semangat beragama, yang biasanya para pemuda dengan sifat-sifatnya, enggan melihat kezaliman dan kemunkaran yang dibiarkan dan dibela.

Di sini, kami menjelaskan tentang sikap kami, Ahlus Sunnah Wal Jamaah kepada pemerintah. Dan nasehat umum kepada kita semua, rakyat dan sikapnya kepada pemerintah.

Selebihnya lihat tulisan saya, Syarah Aqidah Washitiyah. Bahwa kami bersikap sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Nabi shalallahu alaihi wa salam menasehatkan,

أو صيكم بتقوى ألله ، و السمع و الطاعة ، و إن تأمر عليك عبد.

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memerintah kalian adalah budak. (HR. Ahmad, Tirmidzy, Abu Dawud)

Nabi shalallahu alaihi wa salam menjelaskan akan munculnya pemimpin-pemimpin zalim, mementingkan dirinya sendiri, yang cenderung memusuhi Islam, tidak ada pembelaan kepada Islam dan kaum Muslimin,

يكون بعدي أئمة لا يهدون بهدي و لا يستنون بسنتي ، و سيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس ،قلت ، كيف أصنع يا رسول الله صلى الله عليه وسلم إن أدركت ذلك ؟، قال تسمع و تطيع ، و إن ضرب ظهرك و اخد مالك ، فاسمع و اطع.

“Akan muncul setelah ku, pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku, dan mengambil sunnah bukan dengan sunnahku.

Dan akan tegak orang yang memimpin di antara mereka yang hatinya seperti hati setan dalam badan manusia.

Lalu aku (Hudzaifah) berkata, bagaimana yang akan aku perbuat, bila ku dapati wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa salam kondisi semacam itu ?

Beliau bersabda, dengar dan taatlah, meskipun dipukul punggungmu dan diambil hartamu dengan dzalim, dengar dan taatlah. (HR. Muslim)

Wahai kaum muslimin, hendaknya engkau taat, tidak mencabut ketaatan kepada pemimpin, selama kezaliman penguasa itu dalam hal dunia.

Seperti ketika mereka mengambil hak dan hartamu. Seorang Salafy, tidak akan mempermasalahkan sulitnya dunia, naiknya harga, dan kesulitan kesulitan lainnya. Bahkan mereka terdepan bila diminta penguasanya membantu dalam ekonomi dan bila di seru untuk berjihad. Sekali lagi, hendaknya kita semua, bagaimana pun kezaliman yang kita lihat, jangan ambil sikap mencabut ketaatan selama mereka Muslim dan shalat. Inilah Aqidah kita.

على المرء المسلم السمع و الطاعة ، فيما أحب و كره ، إلا أن يؤمر بمعصية ، فإن أمر بمعصية فلا سمع و لا طاعة.

Atas setiap orang Islam, untuk mendengar dan taat kepada pemerintah atas apa yang mereka sukai dan mereka benci dari mereka. Kecuali bila di perintah dalam kemaksiatan, bila di perintah kepada maksiat maka tidak ada mendengar dan taat. (HR. Bukhari Muslim)

Umpama pemerintahmu melarang engkau menerapkan sunnah, melepas cadarmu, padahal engkau meyakinkan cadar itu wajib, atau melarangmu shalat, dan menunjukkan keistiqomahan. Maka cukup, engkau tidak taat dalam hal itu. Namun jangan sekali kali engkau angkat ketaatan darinya, dan mengambil jalan yang tidak syari dalam merubah satu kemunkaran kepada bentuk kemunkaran lain yang lebih buruk. Serta, sertakan untuk mereka, pemerintah dalam doa doamu, agar Allah memperbaiki mereka dan memberi hidayah kepada mereka.

Semoga dengan ketaatan mu pada pemerintah, baik kondisi senang atau yang tidak di senangi, dalam rangka ketaatan pada Allah dan rasul Nya, Allah subhanahu wa taala angkat musibah, kezaliman, dan ketidak adilan yang menimpa kaum muslimin. Tetap di jalur yang syari.

Ciri Ahlussunnah Mendoakan Kebaikan Penguasa

Para Ulama terdahulu seperti Al-Imam Fudhoil bin Iyadh dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

لو كان لنا دعوة مجابة لدعونا بها للسلطان

“Andaikata kami punya doa yang pasti dikabulkan niscaya kami akan doakan kebaikan bagi penguasa.” (As-Siyasah Asy-Syar’iyyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 129)

Baiknya penguasa diharapkan menjadi sebab kebaikan bagi rakyat dan bangsanya. Sedangkan jeleknya penguasa akibat doa kutukan dan hinaan justru akan mengundang fitnah dan banyak kerusakan.

Oleh sebab itu mendoakan kebaikan penguasa menjadi prinsip Ahlussunnah yang membedakannya dari ahlul bid’ah. Hal itu sejalan dengan tujuan utama syariat yaitu mewujudkan maslahat dan menyempurnakannya serta menolak mafsadah dan menguranginya.

Al-Imam Abu Muhammad Al-Hasan Al-Barbahari berkata, “Apabila engkau melihat ada orang yang mendoakan kebaikan bagi penguasa maka ketahuilah insyaallah dia seorang Ahlussunnah.” (Syarhussunnah hal. 116)

Lalu bagaimana dengan riwayat yang menyebutkan doa Nabi ﷺ:

اللهم من ولى من أمر أمتي شيئا فشق عليهم فاشقق عليه ومن ولى من أمر أمتي شيئا فرفق بهم فارفق به

“Ya Allah, siapa saja yang memiliki wewenang mengatur suatu urusan umatku lantas ia menyulitkan mereka maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang memiliki wewenang mengatur suatu urusan umatku lantas ia memperlakukannya dengan baik maka perbaikilah dia.” (HR. Muslim 1828)

Bukankah beliau menyontohkan bolehnya mendoakan kejelekan bagi penguasa?

Jawab, di sini yang disebut Nabi ﷺ adalah pihak yang punya wewenang secara umum, beliau tidak menyebut secara ta’yin (individu) sehingga tidak dipahami bahwa mendoakan kejelekan penguasa secara khusus dianggap sebagai sunnah beliau.

Al-Imam Al-Munawi menjelaskan, “Bahwa pihak yang memiliki wewenang tersebut seperti pemerintahan, khilafah, penguasa, hakim meliputi kepemimpinan yang lainnya secara umum.” (Faidhul Qodhir 2/106)

Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin berkata, “Termasuk kepemimpinan dalam urusan sekolah dan masjid.” (Syarh Riyadhussholihin 3/633)

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memberi tawfiq kepada para penguasanya. Serahkan segala sesuatu kepada ahlinya dan jangan mengisi hati dengan kesalahan-kesalahan penguasa karena hal itu akan membuka pintu kejelekan.

Ustadz Fikri Abul Hasan


Instagram : instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Artikel : Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Turut Campur Urusan Orang

Turut Campur Urusan Orang

Dari Abu Hurairoh bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Termasuk baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya.” (HR. At-Tirmidzi 2317, Ibnu Majah 3976, Shohihul Jami’ 5911)

Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin menjelaskan, “Sudah sepatutnya manusia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya baik dalam urusan agamanya maupun dunianya, sebab hal itu akan lebih memelihara waktunya, lebih selamat bagi agamanya dan lebih mudah menutupi kekurangannya. Andaikata dia ikut campur urusan manusia niscaya itu akan membuat dirinya penat.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah hal. 97)

Bagaimana dengan seorang isteri membuka pesan-pesan yang masuk di ponsel suaminya apakah termasuk hadits di atas?

Jawab, perbuatan seperti itu tergolong adab yang jelek terhadap suami dan masuk dalam cakupan hadits di atas. Seorang isteri hendaknya sibuk mengurusi apa yang menjadi kewajibannya dan tidak ikut campur dalam perkara yang bukan haknya.

Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Makan dan Minum Sambil Tiduran (Tanya Ustadz)

#TANYA USTADZ

Nama: Eka Fatma
Asal: Jawa Timur
Group UFHA: 10

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Pertanyaan:

apakah di perboleh minum sambail tiduran ustadz ??
Syukron jazaakallahu khairan.

_____________________

Jawaban

Tidak boleh (makruh) makan dan minum sambil malas malasan,

Atau tidur atau bersandar atau bertelekan.

Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda

أما أنا فلا اكل متكئأ

Sedang aku, tidak makan dg bertelekan.

Kitab syamailul muhammadiyah hadits ke 125 oleh tirmudzy dari Abu Juhaifah.

Pertanyaan yg baik, sekaligus sebagai nasehat untuk yg masih melakukan adab yg buruk ini.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel:  http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Orang yang Paling Baik Islamnya

Orang yang Paling Baik Islamnya

Dari Abdullah bin Amr, bahwa seseorang bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam:

أي الإسلام خير؟ قال: تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف

“Amalan apa yang paling baik dalam berislam? Beliau menjawab, “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal. ” (HR. Al-Bukhori 12 dan Muslim 39)

Memberi makan dan mengucapkan salam adalah amalan yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Padahal di sisi Allah terhitung sebagai amalan terbaik dalam berislam karena di dalamnya terkumpul dua kebaikan. Yaitu baiknya ucapan dan baiknya perbuatan.

Al-Hafidzh Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata:

وجمع في الحديث بين إطعام الطعام وإفشاء السلام لأنه به يجتمع الإحسان بالقول والفعل وهو أكمل الإحسان ، وإنما كان هذا خير الإسلام بعد الإتيان بفرائض الإسلام وواجباته

“Terhimpunnya dalam hadits dua amalan sekaligus yakni memberi makan dan menebar salam karena dengan keduanya berkumpul kebaikan. Yaitu kebaikan dengan perkataan dan perbuatan, dan ini merupakan kebaikan yang paling sempurna. Keduanya dianggap sebagai amalan yang paling baik tentunya setelah menunaikan kewajiban-kewajiban dalam berislam.” (Fat-hul Bari Ibnu Rojab Al-Hanbali 1/43)

Para Ulama juga menjelaskan, memberi makan tidak hanya kepada orang yang membutuhkan tetapi juga tercakup di dalamnya memberi makan keluarga, kerabat, tamu dan yang lainnya. Perbuatan ini tergolong shodaqoh. Adapun menebar salam menunjukkan ketawadhuan baik terhadap orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal selama dia diyakini seorang muslim, baik terhadap orang besar maupun orang kecil, yaitu mengucapkan, “Assalamu’alaikum”, atau “Assalamu’alaikum warohmatullah”, atau “Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh”.

Al-Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan, “Kata “As-Salam” terkandung di dalamnya dua makna, yaitu dzikir kepada Allah dan memohon keselamatan. Kedua makna ini yang menjadi maksud orang menyampaikan salam. Kalimat assalamu’alaikum mengandung salah satu nama Allah sekaligus memohon keselamatan kepada-Nya.” (Bada’iul Fawa’id 2/121)

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu menebar kebaikan dan menggolongkan kita termasuk orang yang paling baik Islamnya.

Fikri Abul Hasan

https://t.me/manhajulhaq

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

12 Adab Bertanya Di Sosial Media

Nasehat

12 Adab Bertanya Di Sosial Media

(1). Ikhlaskanlah diri karena Allah dalam bertanya, dan niatkan itu sebagai ibadah.

(2). Tidak bertanya kecuali kepada orang yang berilmu, atau menurut dugaannya yang kuat ia mampu untuk menjawab pertanyaan.

(3). Memulai pertanyaan dengan salam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“(Ucapkan) salam sebelum bertanya. Siapa yang bertanya kepada kalian sebelum ia mengucapkan salam, maka janganlah kalian menjawabnya” (HR. Ibnu an-Najar, hadits dari Jabir, lihat Shahiihul Jaami’ no. 3699 dan HR. Ibnu ‘Adi dalam al-Kaamil II/303, hadits dari Ibnu Umar, lihat ash-Shahiihah no. 816)

Para sahabat pernah bertanya tanpa ucapan salam, tapi tetap dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dipahami bahwa mengucapkan salam sebelum bertanya bukanlah sesuatu yang wajib, tetapi sangat dianjurkan dan telah menghidupkan sunnah.

(4). Hendaknya memperbagus pertanyaan tentang ilmu yang bermanfaat, yang akan menunjukkan kepada berbagai kebaikan dan mengingatkan dari segala kejelekan.

(5). Gunakanlah bahasa yang penuh sopan santun, lemah lembut dan tidak mengandung penghinaan serta kemarahan.

(6). Ketika telah selesai menulis pertanyaan maka sampaikan perkataan terima kasih, dan mendoakan ustadz yang akan menjawabnya.

(7). Janganlah mengadu domba diantara ahli ilmu. Seperti berkata : “Tapi ustadz fulan telah berkata begini dan begitu”, dan cara seperti ini termasuk kurang beradab dan sangat tidak sopan. Hati-hatilah terhadap hal seperti ini.

Tetapi jika memang harus melakukannya maka hendaknya berkata : “Bagaimana pendapatmu tentang ucapan yang telah mengatakan begini dan begitu ?” Tanpa menyebut nama orang yang mengucapkan

(8). Hendaknya bersabar dalam menunggu jawaban yang telah diajukan. Karena bisa jadi ustadz tersebut sedang sibuk dengan berbagai aktivitasnya atau sedang beristirahat, sakit, melayani tamu, safar dll.

(9). Janganlah menceritakan aib atau dosa yang pernah dilakukan sendiri, keluarga atau orang lain sehingga diketahui oleh semua anggota group di sosial media.

Jika masalah itu harus juga disampaikan karena ingin untuk mendapatkan solusi dan pencerahan, maka hendaknya disampaikan secara pribadi saja kepada ustadz tertentu yang dianggap bisa memberikan solusi dan menyimpan rahasia.

(10). Hendaknya penanya tidak marah atau tersinggung ketika diluruskan pemahamannya atau cara bertanyanya yang salah dll.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :

وقد كان السلف يحبون من ينبههم على عيوبهم
ونحن الآن في الغالب أبغض الناس إلينا من يعرفنا عيوبنا !

“Dahulu kaum salaf sangat senang ada orang yang mengingatkan kekurangan mereka, akan tetapi kita sekarang pada umumnya sangat benci kepada orang yang mengingatkan kekurangan kita” (Minhajul Qashidin hal 196)

(11). Janganlah bertanya hanya sekedar untuk menambah wawasan tanpa mau mengamalkan, atau sekedar mencari-cari keringanan hukum.

Misalnya, penanya bertanya kepada seorang ustadz, karena jawabannya tidak berkenan dalam hatinya, lalu ia pun bertanya lagi ke ustadz lainnya, dan jika jawabannya sesuai dengan hawa nafsunya maka ia pun menerimanya. Ini merupakan bukti bahwa penanya tidak menghendaki syariat kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.

(12). Jangan merendahkan dan melecehkan ustadz jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan.

Yaqut al-Hamawi rahimahullah berkata :

“Orang alim (ustadz) pasti ada saja yang tidak diketahuinya. Bisa saja dia tidak mengetahui jawaban terhadap masalah yang ditanyakan kepadanya, mungkin karena masalah tersebut belum pernah didengar sebelumnya atau karena dia lupa” (Irsyaad al-Ariif 1/24).

Contoh cara bertanya yang terbaik :

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Afwan ustadz, saya mau bertanya mengapa diri ini selalu cenderung kepada dosa dan maksiat serta sulit diajak untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, padahal saya sudah berusaha untuk senantiasa menghadiri majelis ilmu dan berdoa kepada Allah agar dikuatkan iman ? Semoga ustadz beserta keluarga selalu dirahmati dan diberkahi Allah Ta’ala.
شكرا و جزاك الله خيرا

Ustadz Najmi Umar Bakkar
https://telegram.me/najmiumar

 

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Adakah Ghibah yang Halal ?

Adakah Ghibah yang Halal?

Al-Hafidzh Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata, “Ketahuilah, bahwa ghibah yaitu menyebut seseorang dengan apa yang tidak disukainya adalah perkara yang diharomkan oleh agama. Yaitu apabila niatnya semata-mata untuk mencela, mencari aib atau merendahkannya. Namun apabila di sana ada kemaslahatan bagi kaum Muslimin secara umum atau sebagiannya secara khusus dimana maksud dan tujuannya itu untuk suatu kemaslahatan, maka hal tersebut tidaklah diharomkan oleh agama bahkan termasuk sunnah.” (Al-Farqu bainan Nashihah wat Ta’yir hal. 9)

Al-Hafidzh Ibnu Katsir Asy-Syafii berkata, “Ghibah adalah perbuatan yang harom menurut kesepakatan para Ulama dan tidak diperbolehkan kecuali jika terdapat maslahat yang kuat seperti dalam ilmu al-jarh wat ta’dil (kritik dan pujian) atau dalam rangka nasehat.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/215)

Perbuatan ghibah hukum asalnya adalah harom  sebagaimana firman Allah ta’ala:

ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه واتقوا الله إن الله تواب رحيم

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain, sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang telah mati pasti kalian tidak menyukainya, maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih.” (Al-Hujurot: 12)

Akan tetapi hukum asal itu bisa beralih kepada hukum mubah atau bahkan wajib apabila dilandasi dalil-dalil syar’i dan pertimbangan maslahat yang kuat. Seperti perbuatan Hindun isteri Abu Sufyan yang mengadu kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam perihal suaminya yang kikir (Al-Bukhori 3564), beliau tidak menegur Hindun saat mengghibahi suaminya itu bahkan beliau membolehkan mengambil harta suaminya sekedar mencukupi kebutuhan dirinya dan anaknya.

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafii menjelaskan, “Ketahuilah, ghibah diperbolehkan bila didasari tujuan yang benar dan syar’i. Yakni mustahil sampai kepada tujuan yang benar dan syar’i melainkan dengan mengghibahinya di antaranya ada enam sebab:

1. Mengadukan kezaliman kepada pihak-pihak yang mempunyai wewenang dan kekuatan.

2. Meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran.

3. Meminta fatwa.

4. Tahdzir (memperingatkan) kaum muslimin dari kejelekan, bahaya penyimpangan maupun kesesatan.

5. Seseorang yang terang-terangan menampakan kefasikan, kebid’ahan, atau kemungkaran.

6. Mengenal seseorang dengan julukan tertentu seperti orang yang sudah dikenal dengan julukan al-a’masy (si picek). (Riyadhussholihin min Kalam Sayyidil Mursalin hal. 510 secara ringkas)

Fikri Abul Hasan

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Mandi Haid

MELEPASKAN IKATAN RAMBUT UNTUK MANDI HAID

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh ditanya : Apakah hukumnya melepaskan ikatan rambut ketika mandi setelah habis masa haidh.?

Jawaban
Menurut dalil yang lebih kuat adalah tidak ada kewajiban melepaskan ikatan rambut ketika hendak mandi bagi wanita yang telah selesai haidh, sebagaimana tidak adanya kewajiban tersebut untuk mandi junub. Hanya saja, memang terdapat dalil-dalil yang mensyari’atkan untuk melepaskan ikatan rambut ketika mandi haidh, akan tetapi perintah yang terdapat dalam dalil-dalil ini bukan menunjukkan hal yang wajib berdasarkan dari hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha : “Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengikat rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?” dan dalam riwayat lain : “dan untuk mandi haid?”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ

Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air atas kepalamu sebanyak tiga kali, ….” [Hadits Riwayat Muslim]

Ini adalah pendapat yang dipilih oleh pengarang kitab Al-Inshaf dan Az-Zarkasyi, sedangkan dalam mandi junub maka hukum melepaskan ikatan rambut bagi wanita tidaklah sunnah (mandub). Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata : “Apakah aku harus memerintah mereka untuk memotong rambut itu ?”

Kesimpulannya adalah :
melepaskan ikatan rambut tidaklah disyari’atkan saat mandi junub akan tetapi hal itu ditekankan dan dianjurkan saat mandi haidh. Penekanan ini pun berbeda-beda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah, berdasarkan keringanan dan kesulitan melepaskan ikatannya.

[Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/61]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Perbedaan Mandi Junub dan Mandi Haid

SIFAT MANDI JUNUB DAN PERBEDAANNYA DENGAN MANDI HAID

Pertanyaan

Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’ ditanya : Apakah ada perbedaan antara mandi junub seorang pria dengan mandi junub seorang wanita ? Dan apakah seorang wanita harus melepas ikatan rambutnya atau cukup baginya menuangkan air di atas kepalanya tiga kali tuang berdasarkan suatu hadits ? Apa bedanya antara mandi junub dengan mandi haid?

Jawaban

Tidak ada perbedaan bagi pria dan wanita dalam hal sifat mandi junub, dan masing-masing tidak perlu melepaskan ikatan rambutnya akan tetapi cukup baginya untuk menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga tuang kemudian setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhnya berdasarkan hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَرَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ:لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍثُمََّ تُفِيْضِيْنَ

“Sesungguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepala saya, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?”. Rasulullah menjawab : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, maka (dengan demikian) kamu telah bersuci” [Hadits Riwayat Muslim].

Jika di atas kepala seorang lelaki maupun wanita terdapat ikatan atau pewarna rambut atau sesuatu lainnya yang dapat menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala, maka wajib dihilangkan, akan tetapi jika itu ringan dan tidak menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala maka tidak wajib dihilangkan.

Adapun mandinya wanita setelah haidh, para ulama berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya melepaskan ikatan rambutnya untuk mandinya. Yang benar, bahwa ia tidak harus melepaskan ikatan rambutnya untuk mandi tersebut, hal ini berdasarkan beberapa riwayat hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan Muslim bahwa ia (Ummu Salamah) berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَرَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ:لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍثُمََّ تُفِيْضِيْنَ

“Sesunguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?” Rasulullah menjawab: Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, (dengan demikian) maka kamu telah bersuci”.

Riwayat hadits Nabi ini adalah merupakan dalil yang menunjukkan tidak adanya kewajiban untuk melepaskan ikatan rambut untuk mandi junub atau untuk mandi haidh, akan tetapi sebaiknya ikatan rambut itu dilepas saat mandi haidh sebagai sikap waspada dan untuk keluar dari perselisihan pendapat serta memadukan dalil-dalil dalam hal ini.

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’, 5/320]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-fatwa Tentang Wanita Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

Artikel:

Ukhuwahfillhijrah.com

Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

 

 

Allah Mencintai Kelembutan

Allah Mencintai Kelembutan

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Ada sekelompok orang Yahudi yang minta izin menemui Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka mengucapkan, “Assaamu’alaikum” (Semoga kematian menimpamu). ‘Aisyah berkata, “Bal ‘alaikumussaam wal la’nah” (Bahkan kalianlah yang semoga mendapat kematian dan laknat). Maka Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berkata:

مهلا ياعائشة ، فإن الله يحب الرفق في الأمر كله

“Tenanglah wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua perkara.” Aku berkata, “Wahai Rosulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan? Berkata Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam:

فقد قلت: وعليكم

“Aku sudah membalasnya dengan ucapan, “Wa ‘alaikum” (Juga atas kalian).” (HR. Muslim 2165)

Beberapa Faidah Hadits:

1. Perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua perkara”, menunjukkan keagungan akhlaq beliau shollallahu ‘alaihi wasallam dan kesempurnaan perangai beliau yang mampu mengendalikan amarah.

2. Anjuran berlaku lembut, sabar, menahan marah dan santun terhadap orang lain selama tidak ada alasan untuk bersikap keras.

3. Celaan ‘Aisyah terhadap orang-orang Yahudi menunjukkan bolehnya membela diri dari kejahatan orang yang zalim.

4. Membela orang yang baik dari siapa saja yang menyakitinya.

5. Dianjurkan tidak meladeni kebodohan orang selama tidak menimbulkan bahaya dan kerusakan. Al-Imam Asy-Syafii berkata, “Orang yang cerdas lagi berakal adalah yang tidak menghiraukan perbuatan bodoh orang lain.” (Syarh Shohih Muslim 14/209-210 – Al-Imam An-Nawawi)

Sungguh betapa indahnya kelembutan. Apabila sifat lembut dan menahan amarah ada pada diri seorang hamba  maka hal itu akan menghiasi dirinya di pandangan Allah dan juga di pandangan manusia.
__________

✍🏻 Fikri Abul Hasan

●▬▬▬▬❀❀▬▬▬▬▬●
❀ Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
❀ Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tumal Hakim

fawaid edisi khusus

🥀 TUMAL HAKIM

(sebuah nasehat pentingnya belajar dengan guru, dan adab adab yang di tinggalkan penuntut ilmu atas mereka (guru), saat ini)

🖋 abu abd rahman bin muhammad suud al atsary

Berkata syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah

(di riwayatkan) Imam ibnu Hayyan sering melantunkan syair di bawah ini

يظن الغمر ان الكتب تهدى

اخافهم لإدراك العلوم

وما يدرى الجهول بأن فيها

غوامض حيرت عقل الفهيم

إذا رمت العلوم بغير شيخ

ضللت عن الصراط المستقيم

وتلتبس الأمور عليك حتى

تصير اضل من توما الحكيم

📚 (syarah hilyah thalibil ilmi syaikh muhammad shalih utsaimin 103)

Orang yang bodoh menyangka bahwasanya kitab bisa membuat orang yang pandai memperoleh ilmu

Orang yang bodoh itu tidak tau
Bahwa dalam kitab itu banyak kesulitan yang bisa membingungkan akal

Kalau engkau menginginkan ilmu tanpa guru
Niscaya engkau tersesat dari jalan yang lurus

Dan banyak masalah yang rancu bagimu
Dan engkau akan lebih tersesat dari “Tumal Hakim”.

Imam ibnu Khaldun rahimahullah dalam Muqodimahnya,

من لم يشافه عالما بأصوله

يقينه فى المشكلات ظنون

📚 (muqodimah ibnu khaldun 551)

Barang siapa tidak belajar dasar dasar ilmu langsung dari ulama

Maka, kesimpulan kesimpulan yang di yakininya dalam banyak masalah yang sulit sebenarnya hanya dugaan dugaan semata.

MEMULIAKAN GURU DENGAN BAIK, SIFAT YANG TELAH HILANG DARI SEBAGIAN PENUNTUT ILMU,

DAN SIKAP PADA GURU DI ANTARA BERLEBIHAN DAN MEREMEHKAN

(kami ringkas dari bab ke tiga kitab hilyah)

Berkata syaikh Bakr bin Abdullah abu zaid rahimahullah dalam kitab hilyahnya

Karena dasar keilmuan tidak dapat di peroleh dengan belajar sendiri dari kitab, namun dari bimbingan guru yang akan membuka pintu pintu ilmu baginya, agar engkau selamat dari kesalahan dan ketergelinciran,

karena itu, hendaknya engkau jaga kehormatannya, yang mana hal itu adalah tanda keberhasilan, kesuksesan, serta engkau mendapat ilmu dan taufiq,

Jadikan gurumu orang yang engkau hormati, hargai, agungkanlah dan berlemah lembutlah, berlaku sopan…

jangan banyak bicara dan berdebat dengannya…

Jangan ngotot untuk mendapat jawaban darinya…

Janganlah engkau memangilnya dengan namanya saja atau dengan gelarnya saja…

…Bersikap memuliakan majelis ilmu, dan nampakkanlah kegembiraan dan bisa mengambil faidah saat belajar,

Dan saat engkau menemukan kesalahan gurumu atau kebimbangannya, jangan jadikan alasan untuk meremehkannya, karena itu bisa menjadi sebab engkau tidak mendapat ilmu, dan siapakah orang yang tidak pernah bersalah ?,

Hati hati, jangan sampai membuat gurumu gusar, hindari perang urat syaraf dengannya, dalam arti jangan menguji kemampuannya keilmuan atau ketabahan hatinya,

Kalau engkau belajar pada guru lain, hendaknya engkau meminta ijinnya, karena sikap ini menunjukkan kecintaanmu padanya, serta membuatnya mencintai dan menyayangimu,

…. Dan ketahuilah bahwa dengan kadar (seberapa) engkau menjaga kehormatan gurumu, maka engkau akan mendapat kesuksesan dan keberhasilan, sebaliknya, bila engkau meremehkannya, maka di situlah tanda kegagalan.

Saya memohon kepada Allah taala, semoga melindungimu dari perbuatan orang ‘ajam (selain orang arab), juga ahli thariqoh, serta ahli bidah di masa ini,

Di antaranya sikap tunduk (pada guru) yang keluar dari batasan syar’i,

Misalnya, menjilat tangan guru, mencium pundaknya (dalam etika sufi), memegang tangan guru (saat salaman) dengan kedua tangannya, begitu juga menundukkan badan saat bersalaman, serta mengunakan kalimat yang merendahkan diri (dalam etika sufi) yang biasa di gunakan untuk menunjukkan status pembantu dan budak,

…. Guru adalah adalah tauladan dalam akhlak dan dan perangai, sedang masalah belajar ilmu (darinya) adalah laba belaka (masalah lain lagi),

Hanya saja, jangan sampai kecintaamu pada guru menyebabkan engkau jatuh pada perbuatan tercela tanpa engkau sadari (sebagaimana orang orang sufi memberlakukan mursyid thariqohnya)

… Karena gurumu menjadi seorang mulia dengan ilmunya (bukan dengan penghormatan berlebih) ,

Aktifitas seorang guru (dalam memberi pelajaran) haruslah sebatas kemampuan pelajar dalam mendengar, konsentrasinya, dan batasan ia menerima pelajaran darinya,

Oleh karena itu (ini untuk murid yang lain), berhati hatilah jangan sampai (engkau) menjadi sebab terputusnya ilmu, karena rasa malas, patah semangat, menyerah, dan menyebabkanmu berfikir yang tidak tidak,

Imam khatib Baghdadi rahimahullah berkata

“hak ilmu (untuk di berikan) itu hendaknya tidak di berikan kecuali pada yang mencarinya, tidak di berikan kecuali pada orang yang menginginkannya, bila seorang pengajar, melihat rasa enggan dari muridnya, hendaknya ia diam (berhenti dari meneruskan pelajaran)…”

📚 di ringkas dari kitab حلية طالب العم

makna tumal hakim memiliki cerita tersendiri, tapi dalam pembahasan ini, kami sebut saja sebagai seorang jahil yang berlagak bijaksana. Naam.

semoga Allah taala memberi kita ilmu yang bermanfaat, dan keikhlasan hati

dan juga adab adab yang baik, baik dalam sikap, ucapan, dan tindakkan yang mencerminkan sebagai seorang penuntut ilmu, dan juga bisa menempatkan diri pada satu majelis dan berinteraksi dengan manusia.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Mengapa Ulama Banyak Yang Miskin?

Fawaid edisi khusus

Mengapa Ulama Banyak Yang Miskin ?

Sepanjang pembacaan ana yang terbatas mengenai biografi ulama, didapatkan kebanyakan dari mereka hidup dalam kemiskinan.

Memang ada juga ulama yang kaya raya, tapi mayoritas ulama berada dalam kemiskinan.

Begitu identiknya ulama dan kemiskinan sampai-sampai ada ungkapan penyair yang mengatakan bahwa kemiskinan tempat tinggalnya di surban para fuqaha.

Ada juga yang mengatakan :

“Kemiskinan ulama adalah kemiskinan yang dipilih, sedangkan kemiskinan fuqara adalah kemiskinan karena terpaksa”.

Maksudnya para ulama memang memilih miskin karena fokus mengejar akhirat dan meninggalkan dunia.

Mereka juga menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta kepada manusia, terutama dari penguasa.

Dan sungguh, meminta kepada Allah merupakan kemuliaan, sedangkan meminta kepada manusia hanyalah kehinaan yang didapatkan.

Sebagaimana pernah dinasihatkan :

لا تسألن بني آدم حاجة
وسل الذي أبوابه لا تحجب
الله يغضب إن تركت سؤاله
وبني آدم حين يسأل يغضب

“Jangan sekali-kali engkau meminta kepada bani Adam satu permintaan,
Mintalah kepada Zat yang pintu-pintu-Nya tidak berada dalam ketutupan,
Allah akan marah jika engkau tidak mengajukan kepada-Nya permintaan,
Sedangkan bani Adam akan marah jika engkau mengajukan suatu permohonan.”

Sebab lain dari kemiskinan ulama adalah karena mereka sangat mencintai ilmu dibanding lainnya. Sehingga mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan ilmu yang di inginkannya, walaupun harus mengorbankan harta benda yang ada.

Lihatlah kisah-kisah mereka :

– Al-Hafiz Abul A’la al-Hamdani menjual rumahnya untuk membeli beberapa kitab seharga 60 dinar. (Siyar A’lam An-Nubala : 21/40, adz-Dzahabi).

– Imam Malik menjual kayu atap rumahnya untuk biaya menuntut ilmu. (Tartibul Madarik : 1/130, al-Qadhi Iyadh).

– Syu’bah bin Hajaj menjual harta warisan yang didapatkannya untuk bekalnya belajar. (Tazkirah al-Huffaz : 1/195, adz-Dzhabi).

– Yahya bin Ma’in mendapat warisan lebih dari sejuta dirham, semuanya habis ia gunakan untuk biaya menuntut ilmu. (Al-Manhaj al-Ahmadi : 1/95, al-Ulaimi).

– Shalih bin Ahmad menjual tanahnya seharga 700 dinar. Uangnya beliau bagi-bagikan untuk para penuntut ilmu yang belajar kepadanya. (Tazkirah al-Huffaz : 4/1249, adz-Dzahabi).

– Ziyad bin Abdullah al-Buka’i menjual rumahnya untuk bekalnya mengadakan rihlah menuntut ilmu. (Tahzibut Tahzib : 3/375, Ibnu Hajar Asqalani).

– Abdullah bin Ahmad al-Khasysyab pernah membeli kitab seharga 500 dinar. Karena tidak memiliki uang untuk membayarnya, beliau menjual rumahnya. (Dzail Thabaqat Hanabilah : 1/319, Ibnu Rajab).

– Abdul Haq bin Muhammad bin Harun as-Suhami menjual perhiasan, perabot serta rumahnya untuk membeli kitab “Syarah al-Mudawanah”. (Ad-Dibaj al-Mudzahab : 3/1013, Ibnu Farhun al-Maliki).

Serta masih banyak kisah lainnya.

Kemiskinan dan keadaan yang menimpa ulama tidaklah membuat mereka patah dan lemah semangat dalam berkarya. Karya-karya mereka tetap mengalir bagaikan air. Mungkin karena niat yang ikhlas mencari ridha Allah semata, lalu Allah memberi barokah pada ilmu dan umur mereka. Semestinya kemiskinan memang bukan suatu penghalang, karena yang menjadi pendorong utama adalah niat dan kemauan. Selain itu, miskin sesungguhnya bukanlah miskin harta, tetapi miskin sesungguhnya adalah miskin ilmu dan miskin akhlak mulia.

Oleh : ustadz abd rahman bin muhammad suud al atsary

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

JANGAN TERGESA-GESA DALAM MEMBERIKAN JAWABAN

🔰🔰🔰🔰
JANGAN TERGESA-GESA DALAM MEMBERIKAN JAWABAN.
____________

🌿🌿🌿
Saudaraku seiman,
Sering sekali diantara kita jika ditanya sesuatu maka segera untuk memberikan jawaban,

Demikian pula sebaliknya, jika kita bertanya tentang sesuatu, tak jarang kita menginginkan untuk segera mendapatkan jawabannya, bahkan sebagian dari kita mendesak seorang ‘alim atau seorang ustadz untuk segera memberikan jawabannya.

☝🏻Wahai saudaraku…
Tidakkah kita tahu, bahwa seluruh apa yang kita ucapkan itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala!!?

🍃 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺆُﻭﻻً

*_”Dan janganlah engkau bersikap (berkomentar) dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, seluruhnya akan dimintai pertanggungjawaban.”_*
QS. Al Isro’: 36.

🍁🍁🍁
Saudaraku…

Menjawab itu berat…
Menjawab itu tanggung jawab…
Maka janganlah engkau tergesa-gesa dalam menjawab ataupun menuntut suatu jawaban, karena semuanya butuh dipikirkan dan di ilmui.

▪ Berkata Nafi’ rahimahullah:

” إَنَّ رَجُلا سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ
( رضي الله عنهما ) عَنْ مَسْأَلَةٍ

فَطَأْطَأَ ابْنُ عُمَرَ رَأْسَهُ ، وَلَمْ يُجِبْهُ حَتَّى ظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ مَسْأَلَتَهُ ،

فَقَالَ لَهُ : ‘ يَرْحَمُكَ اللَّهُ أَمَا سَمِعْتَ
مَسْأَلَتِي ؟ ‘ قَالَ : ‘ بَلَى وَلَكِنَّكُم ْ كَأَنَّكُمْ
تَرَوْنَ أَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِسَائِلِنَا عَمَّا تَسْأَلُونَنَا
عَنْهُ، اتْرُكْنَا يَرْحَمْكَ اللَّهُ حَتَّى نَتَفَهَّمَ فِي
مَسْأَلَتِكَ، فَإِنْ كَانَ لَهَا جَوَابٌ عِنْدَنَا، وَإِلا
أَعْلَمْنَاكَ أَنَّهُ لا عَلِمَ لَنَا بِهِ ‘ ” …

»» Sesungguhnya seorang lelaki bertanya kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhu tentang suatu permasalahan, lalu Beliaupun menundukkan kepalanya dan tidak menjawab, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia tidak mendengar soal tsb,

Maka dikatakan kepada beliau;

Semoga Allah merahmati anda, apakah anda mendengarkan pertanyaan ku?

Maka beliau menjawab;

Iya (aku mendengar), akan tetapi sepertinya kalian berpandangan bahwasanya Allah tidak akan bertanya kepada kami terhadap pertanyaan yang kalian lontarkan kepada kami!!,
Tinggalkanlah kami hingga kami memahami pertanyaan engkau (terlebih dahulu), jika kami memiliki jawaban maka (itulah yang diharapkan), jika tidak maka kami akan sampaikan bahwa kami tidak memiliki ilmu tentang hal tersebut.
_______
📕 Ath Thabaqot Libni Sa’ad (5202).
✍ Ustadz Fauzan Abu Muhammad Hafizhahullah.
┅┅══✿❀🌕❀✿══┅┅

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈
Artikel :Ukhuwahfillhijrah.com
Link WAG : http://bit.ly/2UfH-Adm1
Follow our chanel : t.me/ukhuwwah