Bertanya Ada Adabnya

Adab-adab bertanya yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu sebagai berikut:

(1). Tujuan bertanya untuk mencari kebenaran dan mengamalkannya, bukan untuk mencari-cari keringanan atau tujuan-tujuan jelek yang lain. (Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul – Syaikh Al-Utsaimin)

Rosulullah ﷺ mengingatkan, “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan Ulama atau ingin berdebat dengan orang yang jahil atau ingin menarik perhatian manusia maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka jahannam.” (HR. Ibnu Majah dan dinilai shohih oleh Syaikh Nashir)

(2). Tidak bertanya kecuali kepada orang yang berilmu dan ahlinya atau menurut dugaannya yang kuat dia mampu menjawab. Allah berfirman:

“Maka bertanyalah kalian kepada ahlinya apabila kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya’: 7)

(3). Bertanya dengan penuh penghormatan dan meyakini keahlian pihak yang ditanya. Bukan bertanya untuk menguji yang ditanya karena ini termasuk adab yang tercela yang harus dijauhi oleh penuntut ilmu.

Al-Imam An-Nawawi berkata, “Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya dengan penuh penghormatan. Dia meyakini keahlian gurunya itu dibandingkan yang lain. Adab seperti itu akan membawa dirinya mengambil faidah yang banyak dari sang guru, dan hal itu akan lebih membekas dalam hati dari pesan-pesan yang didengarnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)

(4). Sampaikanlah pertanyaan dengan baik dan benar karena hukum terhadap sesuatu merupakan cabang dari gambaran permasalahannya. Kadang orang yang bertanya memperoleh jawaban yang sebetulnya bersifat kondisional, tetapi jawaban tersebut dia pakai dalam segala kondisi, hal ini yang banyak mengundang fitnah dan kesimpangsiuran.

(5). Hindari penyebutan nama saat merespon jawaban sang guru, karena perbuatan semacam itu bisa mengadu domba. Contohnya seperti perkataan, “Sedangkan Syaikh Fulan berkata begini dan begitu..”, “Kalau kata Ustadz Fulan begini dan begitu..”

Adapun menggunakan ungkapan yang umum diperbolehkan seperti, “Wahai Syaikh bagaimana menurut engkau jika ada yang berpendapat begini?”

(6). Sabar dan baik sangka bila pertanyaan melalui pesan singkat belum kunjung dijawab. Boleh jadi yang ditanya sedang ada kesibukan, sakit, melayani tamu, sedang safar, atau ada udzur yang lain. Yahya bin Abi Katsir berkata kepada puteranya, “Sungguh ilmu itu tidak akan diperoleh dengan badan yang santai.”

(7). Jangan memaksa seorang guru untuk memberi jawaban secara detail dilengkapi dalil. Syaikh Nashir berkata, “Terkadang seorang ‘alim belum memungkinkan baginya mendatangkan dalil atas sebuah pertanyaan. Khususnya apabila dalilnya itu berkenaan dengan kesimpulan hukum yang tidak dinashkan secara gamblang dalam Al-Qur’an was Sunnah. Dalam hal ini tidak pantas bagi penanya untuk terlalu mendalam bertanya apa dalilnya. Menyebutkan dalil memang wajib jika kondisinya menuntut demikian. Akan tetapi tidak wajib baginya setiap kali ditanya harus menjawab Allah berfirman dan Rosulullah bersabda. Terlebih dalam permasalahan fiqh yang luas dan masih diperselisihkan.” (Majalah Al-Asholah)

(8). Awali pertanyaan dengan kalimat salam dan doa kebaikan seperti, “Ahsanallah ilaikum” (semoga Allah curahkan kebaikan kepada engkau), atau “Hayyakumullah” (semoga Allah membahagiakan engkau). Bukan dengan ‘afwan (maaf).

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Adab-Adab Hari Jum’at

ADAB-ADAB HARI JUM’AT

Oleh Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman As-Suhaibani

1. Memperbanyak do’a dan mendekatkan diri kepada Allah, karena di hari Jum’at terdapat waktu yang mustajab (dikabulkannya do’a). Hal ini berdasarkan hadits:

فِيْهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.

“Di hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR. Al-Bukhari no. 9300 dan Muslim no. 852][1]

2. Memperbanyak Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْراً

“Perbanyaklah oleh kalian Shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” [HR. Al-Baihaqi III/249 dari Anas Radhiyallahu anhu, sanadnya hasan. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1407].

3. Mandi besar, memakai wangi-wangian, dan memakai pakaian yang terbagus.
Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan ke Jum’at berikutnya.” [HR. Al-Bukhari no. 883]

4. Membaca Al-Qur-an surat Al-Kahfi, berdasarkan hadits:

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ.

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at akan diberikan cahaya baginya di antara dua Jum’at.”[HR. Al-Hakim II/368 dan al-Baihaqi III/249 dishahihkan oleh Imam al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil no. 626].

5. Bersegera untuk datang lebih awal pada Shalat Jum’at.
Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً.

“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi janabah lalu segera pergi ke masjid, maka seakan-akan berkurban dengan unta yang gemuk” [HR. Al-Bukhari no. 881, Muslim no. 850, Abu Dawud no. 351, at-Tirmidzi no. 499]

6. Hendaknya mengerjakan Shalat sunnah empat raka’at setelah selesai Shalat Jum’at, berdasarkan hadits:

إِذَا صَلَّيْتُمْ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَصَلُّوْا أَرْبَعًا.

“Apabila kalian telah selesai mengerjakan shalat Jum’at maka shalat (sunnah)lah empat raka’at”. [HR. Muslim no. 881 (68)][2]

[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]

Footnote
[1]. Waktu itu batasnya adalah sampai dengan ‘Ashar, dan inilah pendapat Jumhur ulama yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad I/389-394, berdasarkan hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ.

“Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka carilah di akhir waktu tersebut, yaitu setelah ‘Ashar.” [HR. Abu Dawud no. 1048, an-Nasa-i dalam Sunannya III/99-100 dan al-Hakim dalam al-Mustadrak I/279 -penj].

[2]. Mengerjakan shalat sunnah empat raka’at setelah shalat Jum’at -dikerjakan setelah selesai berdzikir atau telah keluar dari masjid, (HR. Muslim no. 883) dapat pula dikerjakan di masjid- sebanyak dua raka’at kemudian ditambah dua raka’at lagi dikerjakan di rumah, [HR. Muslim no. 881 (68)) dan tidak boleh melakukan sunnah tersebut di tempat mengerjakan shalat jum’at. (HR. Ibnu Majah no. 1127)].

Sumber : https://almanhaj.or.id

Rambu-Rambu Menuntut Ilmu

Assalamu’alaikum ustadz mohon dijelaskan dengan ringkas langkah-langkah apa saja yang sebaiknya ditempuh oleh penuntut ilmu agar belajar lebih efektif dan mudah paham?

Jawab:

Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Di antara langkah-langkah yang harus diperhatikan sebagai berikut:

(1). Niat yang Ikhlas.

Tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu Syar’i) termasuk amal ibadah maka disyaratkan niat yang ikhlas karena Allah yaitu dengan membersihkan hati dari tujuan-tujuan tercela seperti ingin dipuji, popularitas, mendapat pengakuan atau tujuan-tujuan duniawi yang lain. Nabi ﷺ mengingatkan:

من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة”

Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya hanya Wajah Allah yang dia harapkan, tetapi dia pelajari untuk memperoleh sedikit dari perhiasan dunia maka dia tidak akan mendapati aroma surga di hari Kiamat.” (HR. Ahmad 8457, Abu Dawud 3664, Ibnu Majah 252, Shohih Ibnu Hibban 78, Musnad Abu Ya’la 6373, Al-Baihaqi dalam “Syu’abul Iman” 1634 dishohihkan oleh Syaikh bin Baz dan Syaikh Al-Albani)

Bukti ikhlasnya niat seseorang dalam menuntut ilmu yaitu apabila dia belajar dalam rangka menunaikan perintah Allah, mengangkat kejahilan dari dalam diri, serta mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.

2). Mencari Guru yang Ahli dari Kalangan Ahlussunnah.Bukan sekedar bermanhaj dan beraqidah Salaf tetapi dia juga cakap menguasai ilmunya.

Al-Imam Malik bin Anas menasihatkan, “Ilmu tidak diambil dari seorang Syaikh yang memiliki keutamaan, kesholihan serta banyak ibadah namun dia tidak memahami apa yang diucapkan (bukan ahlinya).” (Tadribur Rowi 1/43)

Meski keahlian orang bertingkat-tingkat namun setidaknya diketahui pengalaman belajar gurunya, atau diketahui ada rekomendasi dari orang alim terhadap gurunya tersebut. Karena para Ulama mengingatkan, “Banyak orang yang diberi ilmu namun tidak dianugerahi pemahaman.” Yakni tahu dalil akan tetapi tidak paham Istidlal (pendalilan).

(3). Mempelajari Kitab-Kitab Aqidah.Ilmu Aqidah merupakan pondasi utama dalam berislam. Aqidah yang menentukan sah tidaknya amalan, sempurna kurangnya amalan, dan lurusnya Aqidah akan melahirkan pengagungan terhadap Al-Qur’an wa Sunnah.

Jundub bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu kami mempelajari Iman sebelum mempelajari Al-Qur’an setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an sehingga bertambahlah keimanan kami kepada Al-Qur’an.”

(HR. Ibnu Majah 61 dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Diantara kitab-kitab aqidah yang ringkas padat jelas dan dianjurkan oleh para Ulama untuk dipelajari seperti “Al-Ushul Ats-Tsalatsah”, “Kasyfus Syubuhat”, “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rohmatullah ‘alaih. Ketiga kitab tersebut telah diberi Syarh (penjelasan) oleh para Ulama. Kemudian mempelajari kitab-kitab lain yang dibutuhkan untuk menopang pemahaman melalui bimbingan sang guru.

(4). Berhias dengan Adab yang Mulia.Al-Hasan bin Ali berkata kepada puteranya, “Apabila engkau bermajelis dengan orang-orang yang berilmu maka bersemangatlah untuk mendengar ketimbang berbicara. Belajarlah mendengar yang baik sebagaimana engkau belajar berbicara. Janganlah engkau memutus pembicaraan orang.”

(Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih 2/148 dalam riwayat lain disebutkan dari Al-Hasan Al-Bashri)

Yusuf bin Al-Husain berkata, “Dengan memelihara adab engkau akan dimudahkan memahami ilmu.” (Iqtidho’ul ‘Ilmi hal. 31)

(5). Berdoa & Bersabar.

Tingginya derajat keilmuan yang dicapai oleh para Ulama juga berkat doa mereka kepada Allah. Antara lain Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqolani beliau meminta kepada Allah dengan meminum air zam-zam agar memiliki kemampuan hapalan seperti Al-Imam Adz-Dzahabi. Maka Allah karuniakan kepada beliau daya hapal yang luar biasa. Di samping berdoa, seorang penuntut ilmu juga dituntut agar bersabar dalam menempuh tahapan-tahapan ilmu, serta bersabar atas segala kekurangan, baik kekurangan diri, keterbatasan tempat belajar, maupun guru yang tidak terjaga dari kesalahan. Yahya bin Abi Katsir berpesan, “Sungguh ilmu ini tidak akan dicapai dengan badan yang santai.”

(6). Bertaqwa kepada Allah.

Tholq bin Habib (Imam dari kalangan Tabiin) berkata bahwa hakikat Taqwa adalah, “Amalan ketaatan kepada Allah diatas cahaya Allah dan mengharap pahala Allah, serta meninggalkan kedurhakaan kepada Allah diatas cahaya Allah dan takut dari azab Allah.”

Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan makna ucapan Tholq bin Habib, “Ketaqwaan tidak akan diraih kecuali dengan amal, dan amal tidak akan tegak kecuali diatas ilmu dan Ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi ﷺ), dan ilmu dan Ittiba’ tidak akan bermanfaat kecuali dengan keikhlasan.” (As-Siyar 4/601)

Maka ketaqwaan harus dibangun diatas cahaya Allah yaitu ilmu Syar’i dan Ittiba’ bukan kejahilan. Taqwa seperti itulah yang akan membuahkan Furqon yaitu kemampuan membedakan Al-Haq dari Al-Bathil, Tauhid dari Syirik, Sunnah dari Bid’ah. Allah berfirman, “Jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian Furqon.” (Al-Anfal: 29)

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Penggunaan Istilah Murtad Terhadap Orang Lain

Fatawa Ulama

PENGGUNAAN ISTILAH MURTAD TERHADAP ORANG LAIN
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
https://t.me/almanhajaqidah

Pertanyaan.
Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Fadhilatus Syaikh, siapakah yang layak dikatakan Murtad ? Kami ingin Anda menguraikannya dengan jelas. Karena beberapa orang telah divonis Kafir dengan alasan yang masih samar.

Jawaban.
Menetapkan hukum Murtad dan keluar dari agama atas seseorang merupakan kewajiban ahli ilmu yang matang ilmunya. Mereka adalah para Qadhi di mahkamah-mahkamah Syar’i dan para Mufti yang diakui kepiawaiannya. Masalah ini tidak jauh berbeda dengan masalah-masalah agama lainnya. Tidak semua orang berhak berkomentar di dalamnya, termasuk juga para penuntut ilmu yang masih dalam taraf pemula atau orang-orang yang mengaku ulama namun pengetahuan agamanya masih dangkal.

Mereka tidak punya wewenang membicarakan masalah ini. Sebab jika mereka berkomentar juga, maka bisa menimbulkan kerusakan dan akhirnya beberapa kaum Muslimin divonis Murtad padahal sebenarnya tidak begitu ! Pengkafiran seorang Muslim yang tidak melakukan salah satu dari pembatal ke-Islaman merupakan bahaya yang sangat besar.

Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya : Yaa Kafir, yaa Fasik ternyata tidak demikian maka perkataan itu akan kembali kepadanya. Orang yang berhak menjatuhkan vonis Murtad adalah para Qadhi dan Mufti yang diakui kepiawaiannya dan pelaksana hukuman tersebut adalah para penguasa (Pemerintah). Selain prosedur di atas, pasti hanya menimbulkan kekacauan belaka.

[Disalin dari kitab Muraja’att fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah,, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari].

Hukum Orang yang Menganggap Ahlus Sunnah Tidak Layak Diterapkan Sekarang Ini

HUKUM ORANG YANG MENGANGGAP MANHAJ AHLUS SUNNAH TIDAK LAYAK DITERAPKAN SEKARANG INI.
https://t.me/almanhajaqidah

Pertanyaan.
Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Sebagian orang menyangka bahwa pedoman Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak layak diterapkan pada masa sekarang ini. Mereka beralasan bahwa kaidah-kaidah yang ditetapkan Ahlus Sunnah tidak mungkin dilakukan pada hari ini?

Jawaban.
Yang menganggap pedoman Salafus Shalih tidak layak diterapkan pada zaman sekarang adalah orang yang sesat lagi menyesatkan. Bukankah pedoman Salafus Shalih yang telah diperintahkan Allah supaya diikuti hingga akhir zaman?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya siapa saja yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Rasyidin setelahku. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi gerahammu (sungguh-sungguhlah).”

Inilah merupakan pernyataan yang ditujukan kepada segenap umat hingga hari Kemudian kelak. Dan sekaligus menunjukkan bahwa kaum Muslimin wajib menempuh pedoman Salafus Shalih. Dan penegasan bahwa pedoman Salafus Shalih layak diterapkan kapan dan dimana saja.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah” [At-Taubah/9:100]

Termasuk di dalamnya segenap umat hingga hari Kiamat nanti. Kaum Muslimin wajib mengikuti pedoman generasi awal umat ini dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Imam Malik pernah berkata, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang menjadikan baik generasi awalnya.”

Siapa saja yang berusaha memisahkan umat ini dari generasi awalnya, memisahkan mereka dari generasi Salafus Shalih berarti menghendaki keburukan terhadap kaum Muslimin. Sebenarnya ia menginginkan perubahan Dienul Islam dan mengada-adakan Bid’ah dan penyimpangan. Usahanya itu wajib ditolak dan dipatahkan argumennya serta memperingatkan umat dari bahayanya. Sebab kaum Muslimin wajib mengikuti pedoman Salafus Shalih dan berjalan di atasnya. Sebagaimana disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Siapa saja yang berusaha memutus hubungan antara generasi akhir umat ini dan generasi awalnya maka usaha dan propagandanya itu harus ditolak mentah-mentah dan harus diwaspadai bahayanya tanpa pandang bulu siapapun yang mempropagandakannya.

[Disalin dari kitab Muraja’att fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Terlalu Mudah Memvonis Kafir Terhadap Kaum Muslimin

Fatawa Ulama https://t.me/almanhajaqidah Pertanyaan.Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Seringkali kami perhatikan segelintir penuntut ilmu terlalu mudah memvonis kafir terhadap kaum muslimin. Bahkan segelintir orang ini menuntut kaum muslimin supaya melaksanakan hukuman mati atas orang yang telah divonis kafir –menurut mereka- apabila penguasa (pemerintah) tidak melaksanakannya. Bagaimana pendapat Anda dalam masalah ini?Jawaban.Pelaksanaan hukuman pidana merupakan wewenang penguasa semata. Tidak setiap orang berhak menegakkan hukum pidana ini. Sebab bila demikian prakteknya jelas akan terjadi kekacauan, kerusakan dan keresahan di kalangan masyarakat. Dan juga akan menyalakan api pemberontakan dan fitnah. Pelaksanaan hukuman merupakan wewenang penguasa muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:تَعَافَوْا الْحُدُوْدَ فِيْمَا بَيْنَكُمْ فَإِذَا أَبْلَغَتِ الحُدُوْدُ السُّلْطَانَ فَلَعَنَ اللهُ الشَّافِعَ وَ الْمُشَفَّعَ“Saling memaafkanlah di antara kalian, namun jika urusannya telah diangkat kepada sultan (penguasa), maka Allah melaknat pemberi rekomendasi dan terpidana yang direkomendasi.”Salah satu kewajiban dan wewenang sultan dalam Dienul Islam adalah melaksanakan hukuman setelah diproses secara syar’i oleh mahkamah syariat atas terdakwa pelaku kejahatan yang berhak mendapat hukuman, seperti hukuman atas orang murtad, pencuri dan lain sebagainya.Walhasil, pelaksanaan hukuman merupakan wewenang sultan. Jika seandainya kaum Muslimin tidak memiliki sultan (penguasa) maka cukuplah dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar serta dakwah kepada jalan Allah dengan hikmah, pengajaran yang baik serta perdebatan dengan cara yang terbaik. Individu-individu masyarakat tidak berhak melaksanakan Hudud (hukuman). Sebab sebagaimana yang kami sebutkan, dapat menimbulkan kekacauan, pemberontakan dan fitnah. Dan juga dapat menimbulkan Mafsadat yang lebih besar daripada Mashlahatnya. Salah satu kaidah syar’i yang disepakati bersama menyatakan: “Menolak Mafsadat lebih diutamakan daripada meraih Maslahat.”[Disalin dari kitab Muraja’att fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Ayah dan Ibu yang Menderita

Orangtua yang telah sukses membesarkan anak-anaknya ialah yang berhasil mendidik mereka menjadi shalih dan shalihah, yang selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta yang senantiasa berbakti kepada kedua orangtuanya.

Apalah artinya orangtua yang memiliki anak yang kaya, menduduki jabatan yang tinggi, memiliki penghasilan yang besar dll, tapi mereka durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak berbakti kepada kedua orangtuanya.

“Tahukah kalian siapa orang yang mandul itu ? Kami berkata : “Orang yang mandul itu adalah orang yang tidak memiliki anak”.

Rasulullah ﷺ bersabda :

“Bukan itu orang yang disebut mandul, tetapi orang yang punya banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak ada yang memberi manfaat kepadanya sesudah dia meninggal dunia”

(HR. Muslim no. 2608, Hadits dari Abdullah bin Mas’ud)

Apabila orangtua melalaikan, meremehkan, serta tidak mau memperdulikan pendidikan anaknya, maka anak itu akan menjadi luka di tenggorokannya dalam kehidupan dunia, dan menjadi sebab ditimpakannya adzab kepada orangtuanya kelak di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Janganlah seorang Ibu menderita karena anaknya, dan jangan (pula) seorang Ayah (menderita) karena anaknya” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

“Katakanlah : “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat”. Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Az-Zumar [39]: 15)

Ditulis oleh Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

“Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun…”

HR.MUSLIM

BAROKALLAHUFIKUM

Jangan Cabut Ketaatan Meskipun Penguasamu Zalim

🖋 Abu Abd Rahman Bin Muhammad Suud Al Atsary.

Semenjak berakhirnya masa kolonialisme Kafir barat, bisa dikatakan kaum Muslimin tercabik-cabik, baik negeri mereka, kesatuan mereka dan kekayaan mereka.

Bahkan Aqidah mereka, mereka mengambil Aqidah yang cenderung kepada Sufi dan Liberal atau mengambil sikap ekstrem Khawarij, setelah melalui masa penjajahan yang panjang. Serta tidak bersatunya kalimat mereka di atas Aqidah yang lurus dan Manhaj yang selamat.

Nyaris kaum Muslimin seakan anak ayam yang kehilangan induk. Tidak ada seorang yang berkuasa, menggunakan kekuasaannya untuk membela Islam dan kaum Muslimin, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.

Di tambah lagi, sebagian pemuda yang memiliki semangat dalam masa-masa hijrah dan kenyataan yang tidak bisa di pungkiri, melihat sebagian pemimpin tidak menjalankan syariat Allah subhanahu wa taala dan cenderung memusuhinya, dan hidup Hedonis.

Sebagian mereka mengambil sikap tanpa bimbingan ulama dan cenderung bersikap berlebihan.

Tentunya hal ini perlu disikapi para ulama dengan baik, tidak hanya menyalahkan satu sisi, baik dari sisi pemerintah yang wajib mereka menjadi media nasehat, amar ma’ruf dan nahi munkar, serta tentunya nasehat kepada pemerintah tidak perlu disampaikan pada khalayak umum.

Dan juga, mereka wajib memberi bimbingan kepada para pemuda yang memiliki semangat beragama, yang biasanya para pemuda dengan sifat-sifatnya, enggan melihat kezaliman dan kemunkaran yang dibiarkan dan dibela.

Di sini, kami menjelaskan tentang sikap kami, Ahlus Sunnah Wal Jamaah kepada pemerintah. Dan nasehat umum kepada kita semua, rakyat dan sikapnya kepada pemerintah.

Selebihnya lihat tulisan saya, Syarah Aqidah Washitiyah. Bahwa kami bersikap sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Nabi shalallahu alaihi wa salam menasehatkan,

أو صيكم بتقوى ألله ، و السمع و الطاعة ، و إن تأمر عليك عبد.

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memerintah kalian adalah budak. (HR. Ahmad, Tirmidzy, Abu Dawud)

Nabi shalallahu alaihi wa salam menjelaskan akan munculnya pemimpin-pemimpin zalim, mementingkan dirinya sendiri, yang cenderung memusuhi Islam, tidak ada pembelaan kepada Islam dan kaum Muslimin,

يكون بعدي أئمة لا يهدون بهدي و لا يستنون بسنتي ، و سيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس ،قلت ، كيف أصنع يا رسول الله صلى الله عليه وسلم إن أدركت ذلك ؟، قال تسمع و تطيع ، و إن ضرب ظهرك و اخد مالك ، فاسمع و اطع.

“Akan muncul setelah ku, pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku, dan mengambil sunnah bukan dengan sunnahku.

Dan akan tegak orang yang memimpin di antara mereka yang hatinya seperti hati setan dalam badan manusia.

Lalu aku (Hudzaifah) berkata, bagaimana yang akan aku perbuat, bila ku dapati wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa salam kondisi semacam itu ?

Beliau bersabda, dengar dan taatlah, meskipun dipukul punggungmu dan diambil hartamu dengan dzalim, dengar dan taatlah. (HR. Muslim)

Wahai kaum muslimin, hendaknya engkau taat, tidak mencabut ketaatan kepada pemimpin, selama kezaliman penguasa itu dalam hal dunia.

Seperti ketika mereka mengambil hak dan hartamu. Seorang Salafy, tidak akan mempermasalahkan sulitnya dunia, naiknya harga, dan kesulitan kesulitan lainnya. Bahkan mereka terdepan bila diminta penguasanya membantu dalam ekonomi dan bila di seru untuk berjihad. Sekali lagi, hendaknya kita semua, bagaimana pun kezaliman yang kita lihat, jangan ambil sikap mencabut ketaatan selama mereka Muslim dan shalat. Inilah Aqidah kita.

على المرء المسلم السمع و الطاعة ، فيما أحب و كره ، إلا أن يؤمر بمعصية ، فإن أمر بمعصية فلا سمع و لا طاعة.

Atas setiap orang Islam, untuk mendengar dan taat kepada pemerintah atas apa yang mereka sukai dan mereka benci dari mereka. Kecuali bila di perintah dalam kemaksiatan, bila di perintah kepada maksiat maka tidak ada mendengar dan taat. (HR. Bukhari Muslim)

Umpama pemerintahmu melarang engkau menerapkan sunnah, melepas cadarmu, padahal engkau meyakinkan cadar itu wajib, atau melarangmu shalat, dan menunjukkan keistiqomahan. Maka cukup, engkau tidak taat dalam hal itu. Namun jangan sekali kali engkau angkat ketaatan darinya, dan mengambil jalan yang tidak syari dalam merubah satu kemunkaran kepada bentuk kemunkaran lain yang lebih buruk. Serta, sertakan untuk mereka, pemerintah dalam doa doamu, agar Allah memperbaiki mereka dan memberi hidayah kepada mereka.

Semoga dengan ketaatan mu pada pemerintah, baik kondisi senang atau yang tidak di senangi, dalam rangka ketaatan pada Allah dan rasul Nya, Allah subhanahu wa taala angkat musibah, kezaliman, dan ketidak adilan yang menimpa kaum muslimin. Tetap di jalur yang syari.

Ciri Ahlussunnah Mendoakan Kebaikan Penguasa

Para Ulama terdahulu seperti Al-Imam Fudhoil bin Iyadh dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

لو كان لنا دعوة مجابة لدعونا بها للسلطان

“Andaikata kami punya doa yang pasti dikabulkan niscaya kami akan doakan kebaikan bagi penguasa.” (As-Siyasah Asy-Syar’iyyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 129)

Baiknya penguasa diharapkan menjadi sebab kebaikan bagi rakyat dan bangsanya. Sedangkan jeleknya penguasa akibat doa kutukan dan hinaan justru akan mengundang fitnah dan banyak kerusakan.

Oleh sebab itu mendoakan kebaikan penguasa menjadi prinsip Ahlussunnah yang membedakannya dari ahlul bid’ah. Hal itu sejalan dengan tujuan utama syariat yaitu mewujudkan maslahat dan menyempurnakannya serta menolak mafsadah dan menguranginya.

Al-Imam Abu Muhammad Al-Hasan Al-Barbahari berkata, “Apabila engkau melihat ada orang yang mendoakan kebaikan bagi penguasa maka ketahuilah insyaallah dia seorang Ahlussunnah.” (Syarhussunnah hal. 116)

Lalu bagaimana dengan riwayat yang menyebutkan doa Nabi ﷺ:

اللهم من ولى من أمر أمتي شيئا فشق عليهم فاشقق عليه ومن ولى من أمر أمتي شيئا فرفق بهم فارفق به

“Ya Allah, siapa saja yang memiliki wewenang mengatur suatu urusan umatku lantas ia menyulitkan mereka maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang memiliki wewenang mengatur suatu urusan umatku lantas ia memperlakukannya dengan baik maka perbaikilah dia.” (HR. Muslim 1828)

Bukankah beliau menyontohkan bolehnya mendoakan kejelekan bagi penguasa?

Jawab, di sini yang disebut Nabi ﷺ adalah pihak yang punya wewenang secara umum, beliau tidak menyebut secara ta’yin (individu) sehingga tidak dipahami bahwa mendoakan kejelekan penguasa secara khusus dianggap sebagai sunnah beliau.

Al-Imam Al-Munawi menjelaskan, “Bahwa pihak yang memiliki wewenang tersebut seperti pemerintahan, khilafah, penguasa, hakim meliputi kepemimpinan yang lainnya secara umum.” (Faidhul Qodhir 2/106)

Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin berkata, “Termasuk kepemimpinan dalam urusan sekolah dan masjid.” (Syarh Riyadhussholihin 3/633)

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memberi tawfiq kepada para penguasanya. Serahkan segala sesuatu kepada ahlinya dan jangan mengisi hati dengan kesalahan-kesalahan penguasa karena hal itu akan membuka pintu kejelekan.

Ustadz Fikri Abul Hasan


Instagram : instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Artikel : Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Turut Campur Urusan Orang

Turut Campur Urusan Orang

Dari Abu Hurairoh bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Termasuk baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya.” (HR. At-Tirmidzi 2317, Ibnu Majah 3976, Shohihul Jami’ 5911)

Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin menjelaskan, “Sudah sepatutnya manusia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya baik dalam urusan agamanya maupun dunianya, sebab hal itu akan lebih memelihara waktunya, lebih selamat bagi agamanya dan lebih mudah menutupi kekurangannya. Andaikata dia ikut campur urusan manusia niscaya itu akan membuat dirinya penat.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah hal. 97)

Bagaimana dengan seorang isteri membuka pesan-pesan yang masuk di ponsel suaminya apakah termasuk hadits di atas?

Jawab, perbuatan seperti itu tergolong adab yang jelek terhadap suami dan masuk dalam cakupan hadits di atas. Seorang isteri hendaknya sibuk mengurusi apa yang menjadi kewajibannya dan tidak ikut campur dalam perkara yang bukan haknya.

Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Makan dan Minum Sambil Tiduran (Tanya Ustadz)

#TANYA USTADZ

Nama: Eka Fatma
Asal: Jawa Timur
Group UFHA: 10

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Pertanyaan:

apakah di perboleh minum sambail tiduran ustadz ??
Syukron jazaakallahu khairan.

_____________________

Jawaban

Tidak boleh (makruh) makan dan minum sambil malas malasan,

Atau tidur atau bersandar atau bertelekan.

Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda

أما أنا فلا اكل متكئأ

Sedang aku, tidak makan dg bertelekan.

Kitab syamailul muhammadiyah hadits ke 125 oleh tirmudzy dari Abu Juhaifah.

Pertanyaan yg baik, sekaligus sebagai nasehat untuk yg masih melakukan adab yg buruk ini.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel:  http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Orang yang Paling Baik Islamnya

Orang yang Paling Baik Islamnya

Dari Abdullah bin Amr, bahwa seseorang bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam:

أي الإسلام خير؟ قال: تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف

“Amalan apa yang paling baik dalam berislam? Beliau menjawab, “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal. ” (HR. Al-Bukhori 12 dan Muslim 39)

Memberi makan dan mengucapkan salam adalah amalan yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Padahal di sisi Allah terhitung sebagai amalan terbaik dalam berislam karena di dalamnya terkumpul dua kebaikan. Yaitu baiknya ucapan dan baiknya perbuatan.

Al-Hafidzh Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata:

وجمع في الحديث بين إطعام الطعام وإفشاء السلام لأنه به يجتمع الإحسان بالقول والفعل وهو أكمل الإحسان ، وإنما كان هذا خير الإسلام بعد الإتيان بفرائض الإسلام وواجباته

“Terhimpunnya dalam hadits dua amalan sekaligus yakni memberi makan dan menebar salam karena dengan keduanya berkumpul kebaikan. Yaitu kebaikan dengan perkataan dan perbuatan, dan ini merupakan kebaikan yang paling sempurna. Keduanya dianggap sebagai amalan yang paling baik tentunya setelah menunaikan kewajiban-kewajiban dalam berislam.” (Fat-hul Bari Ibnu Rojab Al-Hanbali 1/43)

Para Ulama juga menjelaskan, memberi makan tidak hanya kepada orang yang membutuhkan tetapi juga tercakup di dalamnya memberi makan keluarga, kerabat, tamu dan yang lainnya. Perbuatan ini tergolong shodaqoh. Adapun menebar salam menunjukkan ketawadhuan baik terhadap orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal selama dia diyakini seorang muslim, baik terhadap orang besar maupun orang kecil, yaitu mengucapkan, “Assalamu’alaikum”, atau “Assalamu’alaikum warohmatullah”, atau “Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh”.

Al-Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan, “Kata “As-Salam” terkandung di dalamnya dua makna, yaitu dzikir kepada Allah dan memohon keselamatan. Kedua makna ini yang menjadi maksud orang menyampaikan salam. Kalimat assalamu’alaikum mengandung salah satu nama Allah sekaligus memohon keselamatan kepada-Nya.” (Bada’iul Fawa’id 2/121)

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu menebar kebaikan dan menggolongkan kita termasuk orang yang paling baik Islamnya.

Fikri Abul Hasan

https://t.me/manhajulhaq

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

12 Adab Bertanya Di Sosial Media

Nasehat

12 Adab Bertanya Di Sosial Media

(1). Ikhlaskanlah diri karena Allah dalam bertanya, dan niatkan itu sebagai ibadah.

(2). Tidak bertanya kecuali kepada orang yang berilmu, atau menurut dugaannya yang kuat ia mampu untuk menjawab pertanyaan.

(3). Memulai pertanyaan dengan salam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“(Ucapkan) salam sebelum bertanya. Siapa yang bertanya kepada kalian sebelum ia mengucapkan salam, maka janganlah kalian menjawabnya” (HR. Ibnu an-Najar, hadits dari Jabir, lihat Shahiihul Jaami’ no. 3699 dan HR. Ibnu ‘Adi dalam al-Kaamil II/303, hadits dari Ibnu Umar, lihat ash-Shahiihah no. 816)

Para sahabat pernah bertanya tanpa ucapan salam, tapi tetap dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dipahami bahwa mengucapkan salam sebelum bertanya bukanlah sesuatu yang wajib, tetapi sangat dianjurkan dan telah menghidupkan sunnah.

(4). Hendaknya memperbagus pertanyaan tentang ilmu yang bermanfaat, yang akan menunjukkan kepada berbagai kebaikan dan mengingatkan dari segala kejelekan.

(5). Gunakanlah bahasa yang penuh sopan santun, lemah lembut dan tidak mengandung penghinaan serta kemarahan.

(6). Ketika telah selesai menulis pertanyaan maka sampaikan perkataan terima kasih, dan mendoakan ustadz yang akan menjawabnya.

(7). Janganlah mengadu domba diantara ahli ilmu. Seperti berkata : “Tapi ustadz fulan telah berkata begini dan begitu”, dan cara seperti ini termasuk kurang beradab dan sangat tidak sopan. Hati-hatilah terhadap hal seperti ini.

Tetapi jika memang harus melakukannya maka hendaknya berkata : “Bagaimana pendapatmu tentang ucapan yang telah mengatakan begini dan begitu ?” Tanpa menyebut nama orang yang mengucapkan

(8). Hendaknya bersabar dalam menunggu jawaban yang telah diajukan. Karena bisa jadi ustadz tersebut sedang sibuk dengan berbagai aktivitasnya atau sedang beristirahat, sakit, melayani tamu, safar dll.

(9). Janganlah menceritakan aib atau dosa yang pernah dilakukan sendiri, keluarga atau orang lain sehingga diketahui oleh semua anggota group di sosial media.

Jika masalah itu harus juga disampaikan karena ingin untuk mendapatkan solusi dan pencerahan, maka hendaknya disampaikan secara pribadi saja kepada ustadz tertentu yang dianggap bisa memberikan solusi dan menyimpan rahasia.

(10). Hendaknya penanya tidak marah atau tersinggung ketika diluruskan pemahamannya atau cara bertanyanya yang salah dll.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :

وقد كان السلف يحبون من ينبههم على عيوبهم
ونحن الآن في الغالب أبغض الناس إلينا من يعرفنا عيوبنا !

“Dahulu kaum salaf sangat senang ada orang yang mengingatkan kekurangan mereka, akan tetapi kita sekarang pada umumnya sangat benci kepada orang yang mengingatkan kekurangan kita” (Minhajul Qashidin hal 196)

(11). Janganlah bertanya hanya sekedar untuk menambah wawasan tanpa mau mengamalkan, atau sekedar mencari-cari keringanan hukum.

Misalnya, penanya bertanya kepada seorang ustadz, karena jawabannya tidak berkenan dalam hatinya, lalu ia pun bertanya lagi ke ustadz lainnya, dan jika jawabannya sesuai dengan hawa nafsunya maka ia pun menerimanya. Ini merupakan bukti bahwa penanya tidak menghendaki syariat kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.

(12). Jangan merendahkan dan melecehkan ustadz jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan.

Yaqut al-Hamawi rahimahullah berkata :

“Orang alim (ustadz) pasti ada saja yang tidak diketahuinya. Bisa saja dia tidak mengetahui jawaban terhadap masalah yang ditanyakan kepadanya, mungkin karena masalah tersebut belum pernah didengar sebelumnya atau karena dia lupa” (Irsyaad al-Ariif 1/24).

Contoh cara bertanya yang terbaik :

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Afwan ustadz, saya mau bertanya mengapa diri ini selalu cenderung kepada dosa dan maksiat serta sulit diajak untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, padahal saya sudah berusaha untuk senantiasa menghadiri majelis ilmu dan berdoa kepada Allah agar dikuatkan iman ? Semoga ustadz beserta keluarga selalu dirahmati dan diberkahi Allah Ta’ala.
شكرا و جزاك الله خيرا

Ustadz Najmi Umar Bakkar
https://telegram.me/najmiumar

 

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Adakah Ghibah yang Halal ?

Adakah Ghibah yang Halal?

Al-Hafidzh Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata, “Ketahuilah, bahwa ghibah yaitu menyebut seseorang dengan apa yang tidak disukainya adalah perkara yang diharomkan oleh agama. Yaitu apabila niatnya semata-mata untuk mencela, mencari aib atau merendahkannya. Namun apabila di sana ada kemaslahatan bagi kaum Muslimin secara umum atau sebagiannya secara khusus dimana maksud dan tujuannya itu untuk suatu kemaslahatan, maka hal tersebut tidaklah diharomkan oleh agama bahkan termasuk sunnah.” (Al-Farqu bainan Nashihah wat Ta’yir hal. 9)

Al-Hafidzh Ibnu Katsir Asy-Syafii berkata, “Ghibah adalah perbuatan yang harom menurut kesepakatan para Ulama dan tidak diperbolehkan kecuali jika terdapat maslahat yang kuat seperti dalam ilmu al-jarh wat ta’dil (kritik dan pujian) atau dalam rangka nasehat.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/215)

Perbuatan ghibah hukum asalnya adalah harom  sebagaimana firman Allah ta’ala:

ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه واتقوا الله إن الله تواب رحيم

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain, sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang telah mati pasti kalian tidak menyukainya, maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih.” (Al-Hujurot: 12)

Akan tetapi hukum asal itu bisa beralih kepada hukum mubah atau bahkan wajib apabila dilandasi dalil-dalil syar’i dan pertimbangan maslahat yang kuat. Seperti perbuatan Hindun isteri Abu Sufyan yang mengadu kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam perihal suaminya yang kikir (Al-Bukhori 3564), beliau tidak menegur Hindun saat mengghibahi suaminya itu bahkan beliau membolehkan mengambil harta suaminya sekedar mencukupi kebutuhan dirinya dan anaknya.

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafii menjelaskan, “Ketahuilah, ghibah diperbolehkan bila didasari tujuan yang benar dan syar’i. Yakni mustahil sampai kepada tujuan yang benar dan syar’i melainkan dengan mengghibahinya di antaranya ada enam sebab:

1. Mengadukan kezaliman kepada pihak-pihak yang mempunyai wewenang dan kekuatan.

2. Meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran.

3. Meminta fatwa.

4. Tahdzir (memperingatkan) kaum muslimin dari kejelekan, bahaya penyimpangan maupun kesesatan.

5. Seseorang yang terang-terangan menampakan kefasikan, kebid’ahan, atau kemungkaran.

6. Mengenal seseorang dengan julukan tertentu seperti orang yang sudah dikenal dengan julukan al-a’masy (si picek). (Riyadhussholihin min Kalam Sayyidil Mursalin hal. 510 secara ringkas)

Fikri Abul Hasan

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Mandi Haid

MELEPASKAN IKATAN RAMBUT UNTUK MANDI HAID

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh ditanya : Apakah hukumnya melepaskan ikatan rambut ketika mandi setelah habis masa haidh.?

Jawaban
Menurut dalil yang lebih kuat adalah tidak ada kewajiban melepaskan ikatan rambut ketika hendak mandi bagi wanita yang telah selesai haidh, sebagaimana tidak adanya kewajiban tersebut untuk mandi junub. Hanya saja, memang terdapat dalil-dalil yang mensyari’atkan untuk melepaskan ikatan rambut ketika mandi haidh, akan tetapi perintah yang terdapat dalam dalil-dalil ini bukan menunjukkan hal yang wajib berdasarkan dari hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha : “Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengikat rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?” dan dalam riwayat lain : “dan untuk mandi haid?”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ

Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air atas kepalamu sebanyak tiga kali, ….” [Hadits Riwayat Muslim]

Ini adalah pendapat yang dipilih oleh pengarang kitab Al-Inshaf dan Az-Zarkasyi, sedangkan dalam mandi junub maka hukum melepaskan ikatan rambut bagi wanita tidaklah sunnah (mandub). Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata : “Apakah aku harus memerintah mereka untuk memotong rambut itu ?”

Kesimpulannya adalah :
melepaskan ikatan rambut tidaklah disyari’atkan saat mandi junub akan tetapi hal itu ditekankan dan dianjurkan saat mandi haidh. Penekanan ini pun berbeda-beda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah, berdasarkan keringanan dan kesulitan melepaskan ikatannya.

[Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/61]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah