Kajian ‘Aqidah

Kajian Aqidah

شرح العقيدة الواسطية

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.



Berkata Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rahimahullah,

و قوله (الله) سبحانه

Dan firman Allah Subhanahu wa taala,

و عنده مفتاح الغرب

Dan di sisi Nya semua kunci-kunci hal gaib.

Qs Al an’am 59.



Syarah singkat:

الغيب

Adalah Masdar dari kata,

غاب – بغيب – غيبا

Yakni sesuatu yang tidak terlihat.

Sifat ghaib adalah relatif.

Namun ghaib yang mutlak adalah ilmu Allah.

Sedang,

المفتاح

Bermakna, kunci atau tempat penyimpanan.

Hal-hal gaib yang ada di sisi Allah ada beberapa:

– Hari kiamat

– Turunnya hujan

– Apa yang ada pada kandungan

– Perkara yang akan terjadi

– Ilmu tentang kematian.

Hal ini mutlak ada pada ilmu Allah.

Barangsiapa menyatakan dirinya tau hal gaib, maka ia adalah menempatkan dirinya sebagai tandingan Allah dan Thaghut.

Allah menjelaskan detail ilmunya,

و ما تسقط من ورقة إلا يعلمها

Tiada satu pun daun yang jatuh dari pohonnya kecuali Dia mengetahuinya.

Bila satu daun dari jutaan pohon yang ada di bumi, begitu juga jumlah tetesan hujan, dan jumlah pasir, maka Allah lebih mengetahui hamba hamba yang Dia ciptakan.

Maka seorang tidak boleh menyandarkan keberhasilan atau kegagalan pada dirinya.

Namun ia bersyukur atas keberhasilan, dan ia sandarkan kelemahan dan kekurangan diri kepada Allah, dan senantiasa menggantung kan dirinya pada Nya.

Luasnya ilmu Allah, bahwa Dia tau hal yang telah terjadi, yang tengah terjadi dan yang akan terjadi, semua atas kehendak Nya yang mutlak dan takdir Nya.

Kesalahan-Kesalahan pada Hari Jum’at

https://t.me/MuliaDenganSunnah

1. Mengkhususkan malam Jum’at untuk sholat malam.

2. Tidak mandi jum’at ketika hendak menuju shalat jum’at.

3. Berjual beli setelah adzan.

4. Melangkahi tengkuk/ leher dan bahu-bahu jamaah jum’at.

5. Sholat setelah adzan ketika khathib masuk, yang dikenal dengan nama (sholat) sunnah (qabliyah) Jum’at.

Tidak ada shalat sunah qabliyah Jumat. Apalagi jika shalat ini dilaksanakan setelah azan. Adapun shalat sunah yang dikerjakan ketika makmum masuk masjid di hari Jumat sambil menunggu imam, maka itu adalah shalat sunah mutlak, sehingga shalat ini bisa dikerjakan tanpa batasan jumlah rakaat.

6. Menunggu mu’adzin hingga selesai dari adzannya di hari jum’at, kemudian baru shalat tahiyatul masjid (padahal yang benar adalah mengutamakan shalat tahiyatul masjid dari pada mendengar adzan agar segera mendengar khutbah setelahnya, karena mendengar khutbah hukumnya wajib, sedangkan mendengar adzan hukumnya sunnah, maka dahulukan yg wajib dari pada yg sunnah.

7. Datang saat khutbah dan langsung duduk, yang benar tetap dianjurkan melaksanakan dua rekaat ringan ‘tahiyatul masjid’.

8. Lalai dari mendengarkan khutbah Jum’at atau berbicara ketika imam berkhutbah.

9. Memperpanjang khutbah dan mempersingkat sholat.

10. Anggapan wajibnya jumlah minimal 40 orang dalam shalat Jum’at.

11. Menyentuh (baca: bermain dengan) kerikil atau melakukan perbuatan sia-sia (baca: bermain-main) dengan menggunakan tasbih (arab: misbahah) dan semisalnya, saat khutbah dimulai.

Ini adalah hal yang terlarang dan telah berbuat hal yang sia-sia, termasuk dalam hal ini memainkan kerikil, jari-jari, HP, jenggot dan lain-lain Karena bila khatib berkhutbah anda juga berbicara atau bahkan bermain dengan sesuatu semisal kerikil , mengedarkan kotak infak dan yang semacamnya maka pahala shalat jum’at anda terancam sia-sia.

12. Jama’ah mengangkat tangan saat mengaminkan do’a khatib.

Tidak ada tuntutannya berdoa sambil mengangkat tangan diantara dua khutbah maupun di akhir khutbah tidak perlu mengangkat tangan. Cukup mengaminkan saja dengan khusyu, merendahkan diri dan dengan suara lirih. Tidak mengangkat tangan kecuali pada doa Istisqa’.

13. Menyambung shalat jumat dengan shalat lain setelahnya tanpa memisah antara keduanya dengan ucapan atau dzikir.

14. Mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa.

15. Mengerjakan shalat Zhuhur berjama’ah di masjid setelah shalat Jum’at.

16. Khatib memimpin dzikir dan do’a bersama selesai shalat Jum’at.

17. Membaca dzikir yang tidak ada tuntunannya setelah shalat Jum’at seperti : membaca Al-Fatihah 7X, Al-Ikhlas 7X, Al-Falaq 7X, An-Nas 7X (datang dari hadits Dha’if).

18. Perempuan shalat Zhuhur pada hari Jum’at menunggu orang pulang shalat Jum’at.

Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas Sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah diatas jalan-Nya. aamiin.

________
Penyusun :
Abu Syamil Humaidy حفظه الله تعالى

Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.

Mendidik dengan Cinta, Jangan Sampai Salah Langkah

Oleh:

Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Allah Tabaaraka wata’ala menanamkan rasa cinta di hati manusia, tentu banyak manfaatnya jika rasa cinta ini digunakan untuk perkara yang diridhai oleh Allah. Bahkan kita wajib menanamkan rasa cinta kepada Allah melebihi kecintaan kita kepada selain-Nya. (Lihat QS. Al-Baqarah: 165)

Demikian pula orang yang beriman, tidak mungkin merasakan nikmat dan lezatnya iman melainkan jika Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada mencintai selain keduanya. (Lihat HR. Bukhari: 16)

Anak Suka Disayang

Tidak diragukan bahwa anak kecil sangat berharap kecintaan dari kedua orang tuanya. Bahkan kecintaan yang diperoleh kemungkinan besar akan menjadi sebab anak berbakti kepada kedua orang tua, mengikuti nasihatnya yang baik, berakhlak mulia; semisal mau diperintah agar beribadah kepada Allah dan perbuatan baik lainnya.

Kecintaan bisa diwujudkan dengan kata-kata, semisal panggilan sayang atau kalimat serupa yang menyejukkan hatinya. Sebagaimana tatkala Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu,

يَا مُعَاذُ وَاللهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ

“Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu. Demi Allah, aku sungguh mencintaimu.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani no. 1524)

Bagaimana Mendidik Anak Dengan Cinta Yang Benar?

Orang tua dan pendidik yang berhasil di antaranya karena senantiasa membuat senang anak didiknya. Namun bukan sekedar membuat senang anak, sehingga yang haram pun dilakukan, seperti mengajak anak menari, berjoget, menyanyi, atau perkara haram lainnya. Pendidik bisa membuat senang anak dengan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, di antara caranya:

▪ Memberi Kesempatan Anak Bermain

Bagaimana caranya? Dan mainan seperti apa yang dibolehkan bagi anak?

▪ Mencintai Dengan Menciumnya

Apakah sedemikian pentingnya arti sebuah ciuman bagi anak?

▪ Mencintainya Dengan Menghibur Saat Anak Bersedih

Lantas hiburan apa yang cocok bagi mereka?

▪ Memujinya Dengan Kata-kata Menarik

Kata-kata yang seperti apa?

▪ Memeluknya Jika Masih Kecil

Apakah pelukan sangat berpengaruh bagi si kecil?

▪ Bercanda Dengan Mereka

Moment seperti apa yang pas untuk bercanda? Bentuk candaan yang bagaimana?

▪ Mendoakan Kebaikan

▪ Mempermudah Urusannya

▪ Beri Pujian

Selanjutnya, Bagaimana Mencintai Anak Yang “Nakal”?

Temukan jawaban dan penjelasan secara terperinci pada artikel selengkapnya; Klik :

MENDIDIK DENGAN CINTA, JANGAN SAMPAI SALAH LANGKAH

Wajib Bahu Membahu Menumpas Radikalisme dan Terorisme

FATAWA

WAJIB BAHU-MEMBAHU MENUMPAS RADIKALISME DAN TERORISME

Haiah Kibarul Ulama mengatakan:

‏تجتاح العالم دعوات للتخويف من الآخر، وواجب المسلمين مشاركة عقلاء العالم في مواجهة هذه الدعوات المتطرفة.
(كلما أوقدوا نارا للحرب أطفأها الله)

Dunia (islam) sedang menumpas seruan-seruan yang mengajak untuk melancarkan teror kepada orang lain, dan kewajiban kaum Muslimin adalah ikut andil bersama-sama dengan orang-orang yang berakal sehat di dunia ini untuk menghadang seruan-seruan radikal semacam ini.

ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﺃَﻭْﻗَﺪُﻭﺍْ ﻧَﺎﺭًﺍ ﻟِّﻠْﺤَﺮْﺏِ ﺃَﻃْﻔَﺄَﻫَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ.

“Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, maka Allah memadamkannya.” (QS. Al-Maidah: 64)

🌍 Sumber || https://twitter.com/ssa_at/status/747018511470460929

Kami (Abu Abd Rahman) tambahkan :

Teroris adalah upaya menakut-nakuti dan upaya membuat kerusakan di muka bumi tanpa hak.

Baik individu, organisasi, kelompok masa, atau bahkan negara.

Contoh terorisme adalah :

Peledakan bom.

Pembantaian muslim di Papua.

Penjajahan Yahudi atas Palestina.

Dan semisal itu.

Maka memaksakan istilah terorisme hanya untuk ummat Islam saja adalah bentuk terorisme lain.

Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita semua dari fitnah.

Tak Terbandingkan Selamanya

Fawaid edisi khusus

TAK TERBANDINGKAN, SELAMANYA

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah subhanahu wa taala berfirman menjelaskan keagungan Al Qur’an,

إن هذا القرآن يهدى للتى هي اقوم و يبشر المؤمنين الذين يعملون الصالحات أن لهم أجرا كبيراً .

Sesungguhnya Al Qur’an ini menunjukkan kepada jalan yang lebih lurus, juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shalih, bahwasanya bagi mereka pahala yang besar.

Q.S 17 Al Isra ayat 9.

saya juga akan terjemahkan kedalaman bahasa Jawa,

Sa estunipun Al Qur’an puniko ha nyukani pituduh kelawan ratan ingkan jejeg, lan ngabar aken babakan perkawis kabar bebungah tumrap tyang tyang ingkang iman kang sampun ngelampahi amal kabecikan, bilih tyang puniko angsal ganjaran kang ageng.

Quran Jarwo Boso Jawi Serat 17 Al Isra, Cacah 9.

Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah As Sady Rahimahullah menjelaskan,

يخبر (الله) تعلى عن شرف القرآن و جلالته ،

Allah taala mengabarkan tentang kemuliaan Al Qur’an dan keagungannya,

و انه (يهدى للتى هي اقوم) أي ، اعدل و أعلى من العقائد و الأعمال و الأخلاق ، فمن اهتدى بما يدعو إليه القرآن ، كان أكمل ألناس و أقولهم و اهداهم في جميع الأمور ،

Bahwasanya ia, “menunjukkan kepada jalan yang lebih lurus” yakni, lebih adil dan mulia dalam masalah aqidah (keimanan), amal, dan akhlak, maka barang siapa yang mengambil petunjuk dengan seruan ajaran Al Qur’an, maka dialah orang yang paling sempurna, orang paling lurus, dan orang paling mendapatkan petunjuk dalam semua urusannya,

(و يبشر المؤمنين الذين يعملون الصالحات) من الواجبات و السنن ،

“Juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shalih” yang mereka mengerjakan amal yang wajib dan sunnah,

(أن لهم اجرا كبيراً) أعده الله لهم في دار كرامته لا يعلم وصفه إلا هو.

“Bahwasanya bagi mereka pahala yang besar” Allah telah menyediakan bagi mereka dalam tempat kemuliaan Nya (surga) yang kebaikan dan keindahan sifat Surga itu tidak ada yang mengetahuinya saat ini, kecuali Dia sendiri.

Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalami Manan Surah 17/9. terbitan Darul Alamiyah Mesir.

Hendaknya seorang memiliki adab, tidak bicara mengenai agama kecuali dengan ilmu.

Karena apabila seorang berbicara tanpa ilmu, boleh jadi ia masuk rana yang bukan haknya berbicara dan menilai atau bahkan membandingkan.

Imam Muhammad bin Idris As Syafii Rahimahullah berkata.

Tidak di benarkan bagi siapa pun untuk berdalil dengan Qiyas (analogi / permisalan) kecuali ia menguasai seluruh (ilmu) hadits, berbagai penjelasan ulama, perselisihan (ilmiah) di antara mereka, juga harus menguasai ilmu Bahasa Arab, sebagaimana ia tidak di benarkan berdalil dengan Qiyas sampai ia terbukti memiliki kecerdasan, yang dengan nya ia mampu membedakan masalah yang terkesan serupa, dan di tambah hendaknya ia berlaku hati-hati.

Kitab Ar Risalah 509.

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata,

Semua bentuk Bid’ah dan pendapat sesat yang di susupkan kedalaman agama para Rasul, berawal dari Qiyas (analogi / kaidah berfikir) yang salah.

I’lamul Muwaqiin 2/29.

Kita lihat hari ini, orang yang melampau batas kadar dirinya,

Yang berani bicara tentang Allah dan asma serta sifat Nya, Rasul, Sunnah, Malaikat, kitab, agama Nya, hari akhir, dan hal-hal ghaib,

Tanpa ilmu, burhan, dan hujjah yang benar.

Mereka adalah orang yang tidak memiliki kemuliaan, harga diri, dan sifat kemanusiaan sebagai hamba.

Pembahasan kami ini terkait dan mencakup seluruh hal.

Namun, pada tulisan kali ini, kami batasi hanya untuk membahas orang-orang yang tidak memiliki adab kepada Al Qur’an.

Mereka berkata.

Al Qur’an jangan di makan mentah-mentah.

Seakan Al Qur’an itu, bagi mereka semacam tetumbuhan…

Al Qur’an itu jangan di baca langsung, nanti kamu konslet.

Seakan Al Qur’an itu, bagi mereka arus listrik.

Baik mana, Al Qur’an dengan ini dan itu…

Sebuah analogi salah… Dan memunculkan kesimpulan yang salah.

Nasalullaha salama wal afiah.

Kita berlindung dari ucapan kufur ini.

Apakah hati mereka tertutup atau mereka tidak berhati…

كلا بل ، ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون !!!.

Sekali-kali tidak, bahkan, itulah ‘Raan’ (penutup) yang menutupi di atas hati mereka, karena apa yang telah mereka kerjakan dari dosa !!!.

Qs Al Mutafifin ayat 14.

Ternyata dosa, kemaksiatan, dan jauhnya hati dari lentera hidayah, serta bimbingan Al Qur’an dan Sunnah, yang menjadikan mereka orang orang seperti itu,

sehingga ia keluar dari kebenaran.

Semoga Allah Subhanahu wa Taala menjadikan Al Qur’an bagi hati kita penyembuh, sebagai penerang bagi mata, pembersih dosa-dosa, serta menjadikan penjauh antara kita dengan neraka.

Ya Allah, jadikan al Qur’an hujjah bagi kami, bukan penghujat untuk kami.

Ya Allah jadikan kami ahli Mu, dan orang pilihan di sisi Mu, dengan sebab bacaan Al Qur’an kami.

Ya Allah, jadikan Al Qur’an bacaan bagi kami di pagi, siang, sore, dan malam kami.

Tenggelam kan kami dalam membaca, mentadabburi, serta mengamalkan nya.

Jadikan kami, keluarga kami, anak serta keturunan kami, sebagai Ahlul Qur’an, dan pembela Al Qur’an.

Oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.

Doa agar tergolong orang-orang beriman

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” (QS. Asy Syu’ara: 83-85).

Sumber : https://muslim.or.id/26012-doa-doa-dari-al-quran-1.html

Hakikat Tawassul Antara yang Dilarang & Diperbolehkan

Tawassul artinya menjadikan sesuatu sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tawassul ada yang diperbolehkan yaitu Tawassul yang Masyru’ (disyariatkan), dan ada Tawassul yang dilarang yaitu Tawassul yang Syirik dan Bid’ah.

Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz berkata, “Para Ulama semisal Al-Imam Ibnul Qoyyim dan selain beliau menyebutkan Tawassul ada tiga macam:

(1). Tawassul Syirik Akbar (Membatalkan Islam).
Contohnya berdoa kepada mayyit, beristighotsah kepada mayyit, menyembelih dan bernadzar untuk mayyit (dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah). Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

(2). Tawassul Bid’ah (Tidak Dicontohkan Nabi ﷺ).
Contohnya Tawassul dengan dzat makhluk seperti ucapan, “Alloohumma inni as’aluka bidzaati fulan..” (Ya Allah aku memohon kepada Engkau dengan perantaraan Fulan), “Alloohumma inni as’aluka bi’ibadikassholihin..” (Ya Allah aku memohon kepada engkau dengan perantara hamba-Mu yang sholih), “Alloohumma inni as’aluka bi Muhammad..bi Musa..” (Ya Allah aku memohon kepada engkau dengan perantara Nabi Muhammad.. Nabi Musa), semua ini Tawassul Bid’ah yang menjadi sarana kepada kesyirikan.

(3). Tawassul Masyru’ (Disyariatkan).
Tawassul dengan nama Allah dan sifat-Nya yang mulia seperti ucapan, “As’aluka birohmatik..” (Aku memohon kepada Engkau ya Allah dengan rahmat-Mu), “As’aluka bi’ilmik..”(Aku memohon kepada Engkau dengan ilmu-Mu), “As’aluka bi-ihsanik..”(Aku memohon kepada Engkau dengan kebaikan-Mu). Dalilnya firman Allah ta’ala:

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asma’ul husna (nama-nama yang indah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan asma’ul husna itu.” (Al-A’rof: 180)

Begitupula Tawassul dengan amalan sholih, Tawassul dengan keimanan, Tawassul dengan doa orang sholih yang masih hidup (termasuk meminta doa Nabi ﷺ sewaktu beliau masih hidup), semua itu Tawassul yang disyariatkan.” ( Via binbaz.org.sa)

Orang yang membolehkan Tawassul Syirik dan Bid’ah umumnya berhujjah dengan hadits palsu, Istidlal (pendalilan) yang tidak pada tempatnya, tidak amanah dalam menerjemahkan hadits.

https://t.me/manhajulhaq

Anak Adalah Anugrah Terindah

https://t.me/MuliaDenganSunnah

Imam Al- Baihaqi berkata :

“Anak merupakan kenikmatan dan anugerah Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

والله جعل لكم من أنفسكم أزواجا و جعل لكم من أزواجكم بنين و حفدة.

“Allah menjadikan bagi kamu, istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu.”

[QS. An- Nahl: 72]

يهب لمن يشآء إناثا و يهب لمن يشاء الذكور.

“Dia (Allah) memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki.”

[QS. Asy-syuaraa’ : 49]

Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa Dia telah memberikan nikmat kepada kita dengan mengeluarkan dari tulang rusuk kita seorang makhluk yang serupa dengan diri kita. Allah juga mengabarkan kepada kita bahwa anak perempuan merupakan anugerah dan pemberian Allah seperti anak laki-laki. Dan Dia mencela kaum yang tidak menyukai anak perempuan.

Dijelaskan dalam firman Nya:

وإذا بشر أحدهم بالأنثى ظل وجهه مسودا وهو كظيم.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitam (merah padam)lah mukanya, dan dia (menjadi) sangat marah.”

[QS. An-Nahl: 58]

Imam Ahmad bin Hanbal, apabila lahir anak perempuan untuknya maka beliau pun berkata,

“Sungguh, kebanyakan anaknya para nabi adalah perempuan.”

Beliau juga berkata, “Telah datang beberapa hadits tentang hiburan merawat anak perempuan.

“UNTUKMU WAHAI ORANG TUA YANG BELUM DIKARUNIAI ANAK. Yakinlah bahwa semua ini merupakan takdir Allah dan berbaik sangkalah engkau kepada Nya.

Allah Ta’ala berfirman;

لله ملك السموت واﻻرض يخلق ما يشآء يهب لمن يشآء إناثاو يهب لمن يشآءالذكور (٤٩) أو يزوجهم ذكرانا وإناثا و يجعل من يشآء عقيما إنه عليم قدير (٥٠)

“Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang di kehendaki Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha kuasa.”

(QS. Asy Syura: 49-50)

Juga, lakukanlah segala usaha untuk mendapatkan anak dengan segala cara yang tidak melanggar syari’at seperti konsultasi dengan para ahli, orang berpengalaman dalam masalah ini, meminum obat-obatan dan ramuan-ramuan dan lain sebagai nya.

Semoga dengan demikian, Allah akan mewujudkan keinginan kita.

Bila segala hal telah engkau lakukan namun tetap saja gagal, maka yakinlah bahwa Allah telah memilihkan yang terbaik bagimu, bersabarlah dan serahkan semua ini hanya kepada Allah saja.

UNTUKMU WAHAI ORANG TUA YANG DI TINGGAL MATI OLEH ANAKNYA.

Kuatkanlah keimananmu dan bersabarlah menghadapi musibah ini, semoga Allah menjadikan anak-anakmu tersebut kelak menjadi manfaat bagimu di akhirat. Dan,…UNTUKMU WAHAI ORANG TUA YANG TELAH DI ANUGERAHI ANAK.

Bersyukurlah kepada Allah dan tunaikanlah amanatmu sebaik-baiknya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, semoga engkau memetik buahnya didunia dan akhirat.

Diambil dari buku “Bekal Menanti Si Buah Hati”

Karya : Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi

Ditulis ulang oleh Amahnya Ubaidah

Editor : Admin Asy-Syamil.com

Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.

Jazakumullahu khoiron.

Hinanya Kesyirikan

Fawaid edisi khusus(menyibak fenomena kesyirikan pada sebagian kaum Muslimin dengan dalih menghidupkan tradisi).Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary. يٰصٰىحِبَىِ السِّجْنِ ءَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوٰحِدُ الْقَهَّارُ(Yusuf berkata) wahai teman sepenjara, apakah Rabb-Rabb yang bermacam-macam itu lebih baik dari Allah yang Esa lagi perkasa?. مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءً سَمَّيْتُمُوهَآ أَنْتُمْ وَءَابَآؤُكُمْ مَّآ أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ  ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ  ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا إِلَّآ إِيَّاهُ  ۚ ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.Apa yang kalian sembah selain Nya, tidaklah kecuali nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat-buat, Allah tidak menurunkan keterangan dari hal itu, menetapkan satu hal itu tidak ada yang berhak kecuali Allah, Dia telah memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Nya, inilah agama yang tegak itu, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Surah Yusuf : 39-40).Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah As Sady rahimahullah menjelaskan, ا ارباب عاجزة ضعيفة لا تنفع و لا تضر و لا تعطي و لا تمنع و هي متفرقة ما بين اشجار و احجار و ملائكة و اموات و غير ذلك من أنواع المعبودات التي يتخذها المشركون. Apakah Rabb-Rabb yang lemah, tidak berdaya, tidak bisa memberi manfaat, tidak bisa mendatangkan keburukan, tidak bisa memberi, tidak mampu menahan, sedangkan mereka bentuknya bermacam-macam dari pohon, batu, malaikat, orang mati yang telah di kubur, dan lainnya, dari macam-macam sesembahan yang di yakini orang Musyrik. Lalu beliau melanjutkan, فإن الفرق بين عباذة الله وحده لا شريك له و بين الشرك به اظهر الأشياء و ابينها ، و لكن لعدم العلم من أكثر الناس بذلك ، حصل منهم ما حصل من الشرك. Perbedaan antara peribadatan kepada Allah yang Esa dan tiada sekutu bagi Nya dengan perbuatan Syirik adalah perkara yang jelas dan begitu terang, namun karena tidak adanya ilmu di kebanyakan manusia tentang hal ini (Tauhid dan Syirik), maka terjadilah apa yang terjadi dari perbuatan Syirik. Lihat lebih jelasnya di kitab Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalami Manan surah 12 ayat 39-40. Hal 409. Cetakan Darul Alamiyah Mesir. Berawal nya tulisan ini, terkait ucapan seorang tokoh agama di sebuah masjid, dengan suara melalui speaker yang cukup keras di malam maulid nabi shalallahu alaihi wa salam dan di barengkan dengan acara haul,”Sak niki mboten wonten nami-nipun Syirik, mboten wonten nami-nipun bid’ah,Wong khol di warah syirik, wong maulid nabi, di warah bid’ah, anak e wong payan, ae di ulang tahun-i, mosok kanjeng nabi orah”(sekarang tidak ada yang namanya syirik dan tidak ada yang namanya bid’ah, Orang ngadakan haul di bilang syirik, Orang adakan maulid nabi di bilang bid’ah, anaknya orang payan (payan, sebuah dusun di sedati, sidoarjo) saja di ulang tahun-i, masak nabi tidak). Sebuah ungkapan dan ucapan yang jauh dari Ilmu.Bila taraf kyai, seperti itu, yakni bicara tanpa ilmu, lalu bagaimana dengan ummatnya???. Sedang Allah subhanahu wa taala menjelaskan sebagian manusia jatuh pada kesyirikan, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هٰٓؤُلَآءِ شُفَعٰٓؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ  ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْأَرْضِ  ۚ سُبْحٰنَهُۥ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُونَ.Dan mereka mengibadahi selain Allah apa yang tidak bisa mendatangkan keburukan dan manfaat, dan mereka berkata, inilah pemberi syafa`at untuk kami di sisi Allah, apakah kalian akan mengajari Allah tentang sesuatu yang tidak di ketahui Nya dari apa yang ada di langit dan bumi? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (Surah Yunus : 18).Lalu di katakan, hari ini tidak ada kesyirikan???. Tentu satu ucapan dusta. Kami (Abu Abd Rahman) kutip dari buku fakta baru Wali Songo, Bausquet dalam tulisannya tahun 1938, berkata, singkatnya, di bawah baju berlubang-lubang Islam, tampak badan Animisme, sedikit ke Hinduan, yang bagi rakyat merupakan agama mereka yang sejati, Islam Indonesia mempunyai corak yang sangat menyimpang dari Islam biasa.Lihat Agama asli Indonesia /Oleh Jwm Bakker, Sj /184. Fakta baru Wali Songo 268.Wahai para kyai, para ulama, dan ustad, kewajiban mu, adalah menerangkan dengan jelas, agama Allah yang Hanif. Jangan karena kepentingan, kalian sembunyikan kebenaran.Bahkan kalian adalah orang yang pertama yang menganjurkan kesyirikan dan bid’ah. Seruan-seruan pada kejahiliyaan dan kesyirikan melalui seruan untuk kembali pada agama nusantara, adalah bentuk pemurtadan gaya baru. Bila misi dan zending, berupa memurtadkan kaum Muslimin kepada kekafiran Kristen, maka upaya untuk mengajak pada tradisi, dan agama nusantara, adalah upaya sistematis untuk memurtadkan kaum Muslimin kepada agama asli Indonesia, yang tidak lain kejahiliyaan lama berupa Animisme dan kesyirikan. فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُونِهِۦ  ۗ قُلْ إِنَّ الْخٰسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوٓا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ  ۗ أَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ.Maka sembahlah sesuka kalian apa yang kalian inginkan selain Nya (bila memang kalian tidak nurut dengan nasehat), katakan, sesungguhnya orang-orang yang rugi, adalah orang yang merugikan dirinya dan keluarga nya (karena ajakannya) pada hari kiamat, ketahuilah, itulah kerugian yang jelas. (Surah Az Zumar : 15).Bertaqwalah wahai para pengemban agama. Di tangan kalian baik buruknya ummat, Perbaiki ummat ini, jangan malah di hasung pada kesyirikan dan bid’ah.

Terlalu Mudah Memvonis Kafir Terhadap Kaum Muslimin

Fatawa Ulama https://t.me/almanhajaqidah Pertanyaan.Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Seringkali kami perhatikan segelintir penuntut ilmu terlalu mudah memvonis kafir terhadap kaum muslimin. Bahkan segelintir orang ini menuntut kaum muslimin supaya melaksanakan hukuman mati atas orang yang telah divonis kafir –menurut mereka- apabila penguasa (pemerintah) tidak melaksanakannya. Bagaimana pendapat Anda dalam masalah ini?Jawaban.Pelaksanaan hukuman pidana merupakan wewenang penguasa semata. Tidak setiap orang berhak menegakkan hukum pidana ini. Sebab bila demikian prakteknya jelas akan terjadi kekacauan, kerusakan dan keresahan di kalangan masyarakat. Dan juga akan menyalakan api pemberontakan dan fitnah. Pelaksanaan hukuman merupakan wewenang penguasa muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:تَعَافَوْا الْحُدُوْدَ فِيْمَا بَيْنَكُمْ فَإِذَا أَبْلَغَتِ الحُدُوْدُ السُّلْطَانَ فَلَعَنَ اللهُ الشَّافِعَ وَ الْمُشَفَّعَ“Saling memaafkanlah di antara kalian, namun jika urusannya telah diangkat kepada sultan (penguasa), maka Allah melaknat pemberi rekomendasi dan terpidana yang direkomendasi.”Salah satu kewajiban dan wewenang sultan dalam Dienul Islam adalah melaksanakan hukuman setelah diproses secara syar’i oleh mahkamah syariat atas terdakwa pelaku kejahatan yang berhak mendapat hukuman, seperti hukuman atas orang murtad, pencuri dan lain sebagainya.Walhasil, pelaksanaan hukuman merupakan wewenang sultan. Jika seandainya kaum Muslimin tidak memiliki sultan (penguasa) maka cukuplah dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar serta dakwah kepada jalan Allah dengan hikmah, pengajaran yang baik serta perdebatan dengan cara yang terbaik. Individu-individu masyarakat tidak berhak melaksanakan Hudud (hukuman). Sebab sebagaimana yang kami sebutkan, dapat menimbulkan kekacauan, pemberontakan dan fitnah. Dan juga dapat menimbulkan Mafsadat yang lebih besar daripada Mashlahatnya. Salah satu kaidah syar’i yang disepakati bersama menyatakan: “Menolak Mafsadat lebih diutamakan daripada meraih Maslahat.”[Disalin dari kitab Muraja’att fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Makna Syahadatain (Dua Kalimat Syahadat)

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, “Aku mendengar Rosulullah ﷺ bersabda:بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمد عبده رسوله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، وحج البيت ، وصوم رمضان”Pondasi agama Islam dibangun di atas lima perkara, (1) Bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan Rosul-Nya, (2) Menegakkan sholat, (3) Menunaikan zakat, (4) Pergi haji ke Baitullah, (5) Puasa di bulan Romadhon.” (HR. Al-Bukhori 8 dan Muslim 16)Bersaksi dengan syahadat tauhid “Laa ilaaha illallaah” yakni aku bersaksi dengan lisanku dan membenarkan dengan hatiku bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah, dan tidak ada selain Allah yang patut diberikan penghambaan dan pengagungan sebagaimana pengagungan kepada Allah.Para Ulama berkata bahwa kalimat “Laa ilaaha illallaah” mengandung dua rukun:(1). An-Nafyu (penafian) yang terkandung dalam kalimat “Laa ilaaha” (tidak ada sesembahan yang benar) yaitu meniadakan dan menganggap batil segala sesembahan selain Allah (baik dalam bentuk keris, batu, pohon, jimat-jimat, manusia, jin, hewan dan makhluk-makhluk yang lain).(2). Al-Itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat “illallaah” (hanya Allah semata) yaitu menetapkan hanya Allah semata satu-satuNya pihak yang berhak disembah dengan cara yang diridhoi-Nya. Allah berfirman kepada Nabi Ibrohim ‘alaihissalam, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kalian sembah, tetapi (aku hanya menyembah) Tuhan yang menjadikanku.” (Az-Zukhruf: 26-27)Bersaksi dengan syahadat tho’ah “Muhammadan ‘Abduhu wa Rosuluh” yakni aku bersaksi dengan lisanku dan membenarkan dengan hatiku bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba Allah dan Rosul-Nya. Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia dan mewajibkan mereka untuk membenarkan kabar yang beliau bawa dan menaati beliau melebihi ketaatan kepada manusia seluruhnya. Siapa saja yang menaati beliau maka dia Mukmin, sedangkan siapa saja yang mengingkari beliau maka dia Kafir.Adapun syahadat tho’ah “Muhammad ‘Abduhu wa Rosuluh” mengandung dua rukun:(1). Tidak Ifroth (berlebihan-lebihan) yang terkandung dalam kalimat “Abduhu” (hamba-Nya) yaitu beliau ﷺ juga manusia yang diciptakan sebagaimana manusia yang lainnya, tidak boleh menempatkan beliau melebihi kedudukannya sebagai seorang hamba seperti berdoa meminta kepada beliau di sisi kuburannya, meyakini ruh beliau hadir di majelis-majelis, mengikuti beliau tetapi tidak sesuai petunjuk syariatnya seperti mengadakan perayaan dan peringatan yang tidak ada contohnya.(2). Tidak Tafrith (meremehkan) yang terkandung dalam kalimat “Rosuluh” (Rosul-Nya) yaitu Allah mengangkat derajat beliau ﷺ di atas seluruh manusia sebagai seorang Nabi dan Rosul, maka tidak boleh meremehkan kedudukan beliau dengan menganggapnya sebagai tokoh sejarah saja, mengolok-olok ajaran beliau, bahkan kita wajib mencintai beliau melebihi orangtua, anak, dan manusia seluruhnya termasuk diri kita sendiri.Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Imron: 164)Bid’ah (Penyimpangan) Terkait Pengucapan Dua Kalimat Syahadat(1). Mengharuskan seorang muslim memperbaharui syahadatnya di depan seorang imam, atau pimpinan pengajian, atau ketua organisasi karena dianggap belum sah persaksiannya.(2). Menambah syahadat “Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullah” (Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah).https://t.me/manhajulhaq

Tidak Turun Hujan Karena Dosa Manusia

FAWAID

📝 Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah Subhanahu wa ta`ala berfirman,

Menjelaskan ucapan para Jin yang telah beriman,

و أن لو استقاموا على الطريقة لأسقينا هم ماء غذقا.

“Dan sekiranya mereka Istiqomah di atas jalan itu (Islam), benar-benar mereka akan di beri hujan yang tercurah”.

(QS. Jin ayat 16.)

Nabi shalallahu `alaihi wasallam bersabda,

و ما منعوا زكاة اموالهم إلا منعوا القطر من السماء و لو لا إليهائم لم يمطروا.


“Dan tidaklah mereka menahan Zakat harta mereka (yang wajib di keluarkan), kecuali akan di tahan hujan atas mereka dari langit, sekiranya bukan karena (belas kasih Allah kepada) hewan-hewan tentu mereka tidak akan di beri hujan”.

HR. Ibnu Majah 4019 , Shahih At Targhib 764.

Disebutkan dalam riwayat, Mujahid rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya binatang ternak melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Bani Adam, jika terjadi kemarau panjang”.

Mereka berkata, “ini disebabkan (kesialan) dosa manusia”.

Ikrimah rahimahullah berkata,

“Binatang melata, serangga, sampai kumbang dan kalajengking berkata,

“Kami terhalang dari hujan karena dosa anak Adam””.

(Kitab Ad Daa wa Ad Dawaa 144)

Inilah dampak buruk dari dosa dan maksiat.

Tidak hanya pelaku, namun juga makhluk-makhluk lainnya yang juga merasakan dampaknya.

Sehingga pelaku dosa tidak hanya mendapat dosa dari tindakannya, namun juga laknat dari makhluk lainnya.

Semoga Allah Subhanahu wa ta`ala membimbing kita semua diatas kebaikan dan mensucikan hati kita dari perbuatan dosa dan maksiat.

Sidoarjo, ba`da Maghrib.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Hukum Mengolong-golongkan atau Mengkotak-kotakkan Kaum Muslimin

Pertanyaan:

Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Termasuk persoalan yang memprihatinkan sekarang ini adalah kami dapati sebagian orang berusaha mengkotak-kotakkan kaum Muslimin dan mereka merasa senang dengan perbuatan tersebut?

Jawaban :

Seorang muslim tidak dibolehkan menyibukkan dirinya mengomentari orang lain serta memecah belah persatuan kaum Muslimin. Memvonis atau menghakimi orang lain tanpa ilmu termasuk tindak pengrusakan yang dilarang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.”

[Al-Isra/17:36]

Seorang Muslim seyogyanya melakukan perbaikan dan menjaga persatuan kaum Muslimin serta berusaha merapatkan barisan mereka di atas panji-panji kebenaran. Bukan justru memecah belah Ahlus Sunnah dan memilah-milah mereka menjadi beberapa golongan dan kelompok. Yang dituntut darinya jika melihat kesalahan di tengah kaum Muslimin adalah berusaha memperbaikinya. Jika dilihatnya ada celah untuk berpecah maka ia wajib berusaha menyatukannya. Inilah yang dituntut dari seorang Muslim. Yaitu menyeru kepada persatuan dan menambal celah-celah perpecahan. Usaha itu merupakan bentuk nasihat yang sangat agung bagi penguasa dan segenap kaum Muslimin.

[Disalin dari kitab Muraja’att Fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Benarkah Surat Yusuf dan Maryam Bermanfaat Bagi Janin?

Baca Surat Yusuf dan Maryam ketika Hamil

Benarkah Surat Yusuf dan Maryam Bermanfaat Bagi Janin?

Pertanyaan:
Alhamdulillah, aku sekarang sedang mengandung. Aku memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepadaku anak yang Shalih. Aku mendengar dari orang-orang bahwasanya seorang wanita yang hamil hendaknya membaca surat Maryam setiap harinya agar proses persalinanya mudah. Dan membaca surat Yusuf setiap hari agar anak yang lahir nanti tampan. Apakah ada hadis yang Shahih yang menjelaskan permasalahan ini?

Jawaban:
Tidak ada dalam syariat yang menjelaskan bahwa seorang wanita yang hamil dianjurkan membaca surat tertentu agar janinnya jadi anak yang cerdas atau tampan. Jika ada yang berkeyakinan demikian tanpa ada dalil, maka dia telah berkata mengenai agama Allah apa yang tidak ia ketahui. Tidak diragukan lagi bahwasanya Al-qur`an secara keseluruhan baik, berkah, dan berpahala, namun bukan berarti kita bisa menyandarkan perkara kepada Al-qur`an yang dikehendaki oleh keinginan kita atau yang diinginkan oleh anak-anak kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 6)

Imam Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Maksudnya Allah yang menciptakan; jelek atau tampan, hitam atau putih, tinggi atau pendek, sempurna atau cacat, dan lain sebagainya.”
(Al Jami’ li Ahkamil Quran, 1:927)

Namun demikian tidak mengapa seorang wanita yang hamil menyibukkan diri dengan membaca Al-qur`an dan mendengarkannya karena ada penelitian di bidang kedokteran yang menyatakan suara-suara dari luar bisa mempengaruhi janin. Apabila suara yang didengar adalah suara orang yang membaca Al-qur|an, diharapkan keberkahan dan kebaikannya akan berpengaruh terhadap janin tersebut tanpa merinci dan membatasi jenis keberkahan dan kebaikan tersebut.

Disadur dari: islamqa.com

Diterjemahkan oleh Nurfitri Hadi (Tim Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Engkau (ya Allah) adalah pelindung para Mustadhafin (orang lemah) dan Engkau jugalah pelindung ku

Do’a

Engkau (ya Allah) adalah pelindung para Mustadhafin (orang lemah) dan Engkau jugalah pelindung ku.

📝 Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Setelah melewati perjalanan panjang dakwah, dan saat itu Rasulullah shalallahu alaihi wa salam merasa banyak penolakan, maka, pada bulan syawal, tahun ke sepuluh dari kenabian, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam keluar menuju Thaif.

Jarak Thaif dan Mekkah sekitar enam puluh mil, berjalan kaki pergi pulang. Tidaklah beliau menemui satu kabilah, kecuali beliau serukan Islam.

Setiba di Thaif, beliau mendapat tantangan dan pengusiran, selama sepuluh hari beliau di Thaif, mengajak tiap kabilah masuk Islam. Tidak ada yang menerima dakwah beliau, bahkan sebagian orang mengatakan, “keluarlah dari daerah kami”. Dan mereka menyuruh anak-anak dan budak-budak mereka mengikuti beliau dengan mencaci maki, dan berdiri di samping kanan kiri sambil melempari beliau dengan batu, sehingga kedua sandalnya terwarnai oleh darah. Hingga, sampailah beliau di perkebunan milik Utbah bin Syaibah, beliau lalu duduk dan memanjatkan doa,

أللهم إليك أشكو ضعف قوتي و قلة حيلتي و هواني على الناس يا أرحم الراحمين ،انت رب المستضعفين و انت ربي ،إلى من تكلني ، أ إلى بعيد يتجهمنا أم إلى عدو ملكته أمري ،إن لم يكن بك غضب علي فلا أبالي ،غير أن عفيتك هي أوسع لي ،أعوذ بنور وجهك ألذي أشرقت له الظلمات ،و صلح عليه أمر الذنيا و الأخرة من أن ينزل بي غضبك أو يحل علي سخطك ،لك العتبى حتى ترض و لا حول و لا قوة إلا بك.

“Ya Allah, kepada Mu aku haturkan kelemahan diriku dan sedikitnya kesanggupan ku serta kerendahan diriku di hadapan manusia, wahai Zat yang penyayang di antara para penyayang. Engkau Rabb nya orang-orang lemah, dan Engkau jualah Rabbku. Kepada siapa diriku akan Engkau serahkan, apakah pada orang jauh yang berwajah bengis, atau kepada musuh yang menguasai urusanku? Namun, sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, semua hal ini tidak akan ku perdulikan. Selain itu Kelapangan / nikmat Mu pada ku sungguh lebih besar. Aku berlindung kepada Cahaya Wajah Mu yang menyibak kegelapan, dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat, dari murka Mu yang (jangan sampai) akan turun pada Ku dan kebencian Mu yang Engkau berikan pada diriku, kepada Mu segala harapan / rintihan hingga Engkau ridha, tiada daya dan upaya melainkan atas perkenanan Mu.

📖 كتاب : الرحيق المختوم الشيخ صفي الرحمن المبرك كفوري

106. Wahai orang-orang yang terhimpit masalah, dan ia menemui tembok tebal. Wahai orang-orang yang bersedih dan ia merasa sendirian.Wahai orang-orang yang kesusahannya seakan tiada terobati.Inilah, satu pintu yang terbuka untuk mu, harapan itu masih ada.Inilah Rabb seluruh manusia, dan Rabb yang harapanmu, tergantung di Tangan Nya. Oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.