Anak Adalah Anugrah Terindah

https://t.me/MuliaDenganSunnah

Imam Al- Baihaqi berkata :

“Anak merupakan kenikmatan dan anugerah Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

والله جعل لكم من أنفسكم أزواجا و جعل لكم من أزواجكم بنين و حفدة.

“Allah menjadikan bagi kamu, istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu.”

[QS. An- Nahl: 72]

يهب لمن يشآء إناثا و يهب لمن يشاء الذكور.

“Dia (Allah) memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki.”

[QS. Asy-syuaraa’ : 49]

Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa Dia telah memberikan nikmat kepada kita dengan mengeluarkan dari tulang rusuk kita seorang makhluk yang serupa dengan diri kita. Allah juga mengabarkan kepada kita bahwa anak perempuan merupakan anugerah dan pemberian Allah seperti anak laki-laki. Dan Dia mencela kaum yang tidak menyukai anak perempuan.

Dijelaskan dalam firman Nya:

وإذا بشر أحدهم بالأنثى ظل وجهه مسودا وهو كظيم.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitam (merah padam)lah mukanya, dan dia (menjadi) sangat marah.”

[QS. An-Nahl: 58]

Imam Ahmad bin Hanbal, apabila lahir anak perempuan untuknya maka beliau pun berkata,

“Sungguh, kebanyakan anaknya para nabi adalah perempuan.”

Beliau juga berkata, “Telah datang beberapa hadits tentang hiburan merawat anak perempuan.

“UNTUKMU WAHAI ORANG TUA YANG BELUM DIKARUNIAI ANAK. Yakinlah bahwa semua ini merupakan takdir Allah dan berbaik sangkalah engkau kepada Nya.

Allah Ta’ala berfirman;

لله ملك السموت واﻻرض يخلق ما يشآء يهب لمن يشآء إناثاو يهب لمن يشآءالذكور (٤٩) أو يزوجهم ذكرانا وإناثا و يجعل من يشآء عقيما إنه عليم قدير (٥٠)

“Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang di kehendaki Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha kuasa.”

(QS. Asy Syura: 49-50)

Juga, lakukanlah segala usaha untuk mendapatkan anak dengan segala cara yang tidak melanggar syari’at seperti konsultasi dengan para ahli, orang berpengalaman dalam masalah ini, meminum obat-obatan dan ramuan-ramuan dan lain sebagai nya.

Semoga dengan demikian, Allah akan mewujudkan keinginan kita.

Bila segala hal telah engkau lakukan namun tetap saja gagal, maka yakinlah bahwa Allah telah memilihkan yang terbaik bagimu, bersabarlah dan serahkan semua ini hanya kepada Allah saja.

UNTUKMU WAHAI ORANG TUA YANG DI TINGGAL MATI OLEH ANAKNYA.

Kuatkanlah keimananmu dan bersabarlah menghadapi musibah ini, semoga Allah menjadikan anak-anakmu tersebut kelak menjadi manfaat bagimu di akhirat. Dan,…UNTUKMU WAHAI ORANG TUA YANG TELAH DI ANUGERAHI ANAK.

Bersyukurlah kepada Allah dan tunaikanlah amanatmu sebaik-baiknya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, semoga engkau memetik buahnya didunia dan akhirat.

Diambil dari buku “Bekal Menanti Si Buah Hati”

Karya : Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi

Ditulis ulang oleh Amahnya Ubaidah

Editor : Admin Asy-Syamil.com

Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.

Jazakumullahu khoiron.

Hinanya Kesyirikan

Fawaid edisi khusus(menyibak fenomena kesyirikan pada sebagian kaum Muslimin dengan dalih menghidupkan tradisi).Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary. يٰصٰىحِبَىِ السِّجْنِ ءَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوٰحِدُ الْقَهَّارُ(Yusuf berkata) wahai teman sepenjara, apakah Rabb-Rabb yang bermacam-macam itu lebih baik dari Allah yang Esa lagi perkasa?. مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءً سَمَّيْتُمُوهَآ أَنْتُمْ وَءَابَآؤُكُمْ مَّآ أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ  ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ  ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا إِلَّآ إِيَّاهُ  ۚ ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.Apa yang kalian sembah selain Nya, tidaklah kecuali nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat-buat, Allah tidak menurunkan keterangan dari hal itu, menetapkan satu hal itu tidak ada yang berhak kecuali Allah, Dia telah memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Nya, inilah agama yang tegak itu, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Surah Yusuf : 39-40).Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah As Sady rahimahullah menjelaskan, ا ارباب عاجزة ضعيفة لا تنفع و لا تضر و لا تعطي و لا تمنع و هي متفرقة ما بين اشجار و احجار و ملائكة و اموات و غير ذلك من أنواع المعبودات التي يتخذها المشركون. Apakah Rabb-Rabb yang lemah, tidak berdaya, tidak bisa memberi manfaat, tidak bisa mendatangkan keburukan, tidak bisa memberi, tidak mampu menahan, sedangkan mereka bentuknya bermacam-macam dari pohon, batu, malaikat, orang mati yang telah di kubur, dan lainnya, dari macam-macam sesembahan yang di yakini orang Musyrik. Lalu beliau melanjutkan, فإن الفرق بين عباذة الله وحده لا شريك له و بين الشرك به اظهر الأشياء و ابينها ، و لكن لعدم العلم من أكثر الناس بذلك ، حصل منهم ما حصل من الشرك. Perbedaan antara peribadatan kepada Allah yang Esa dan tiada sekutu bagi Nya dengan perbuatan Syirik adalah perkara yang jelas dan begitu terang, namun karena tidak adanya ilmu di kebanyakan manusia tentang hal ini (Tauhid dan Syirik), maka terjadilah apa yang terjadi dari perbuatan Syirik. Lihat lebih jelasnya di kitab Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalami Manan surah 12 ayat 39-40. Hal 409. Cetakan Darul Alamiyah Mesir. Berawal nya tulisan ini, terkait ucapan seorang tokoh agama di sebuah masjid, dengan suara melalui speaker yang cukup keras di malam maulid nabi shalallahu alaihi wa salam dan di barengkan dengan acara haul,”Sak niki mboten wonten nami-nipun Syirik, mboten wonten nami-nipun bid’ah,Wong khol di warah syirik, wong maulid nabi, di warah bid’ah, anak e wong payan, ae di ulang tahun-i, mosok kanjeng nabi orah”(sekarang tidak ada yang namanya syirik dan tidak ada yang namanya bid’ah, Orang ngadakan haul di bilang syirik, Orang adakan maulid nabi di bilang bid’ah, anaknya orang payan (payan, sebuah dusun di sedati, sidoarjo) saja di ulang tahun-i, masak nabi tidak). Sebuah ungkapan dan ucapan yang jauh dari Ilmu.Bila taraf kyai, seperti itu, yakni bicara tanpa ilmu, lalu bagaimana dengan ummatnya???. Sedang Allah subhanahu wa taala menjelaskan sebagian manusia jatuh pada kesyirikan, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هٰٓؤُلَآءِ شُفَعٰٓؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ  ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْأَرْضِ  ۚ سُبْحٰنَهُۥ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُونَ.Dan mereka mengibadahi selain Allah apa yang tidak bisa mendatangkan keburukan dan manfaat, dan mereka berkata, inilah pemberi syafa`at untuk kami di sisi Allah, apakah kalian akan mengajari Allah tentang sesuatu yang tidak di ketahui Nya dari apa yang ada di langit dan bumi? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (Surah Yunus : 18).Lalu di katakan, hari ini tidak ada kesyirikan???. Tentu satu ucapan dusta. Kami (Abu Abd Rahman) kutip dari buku fakta baru Wali Songo, Bausquet dalam tulisannya tahun 1938, berkata, singkatnya, di bawah baju berlubang-lubang Islam, tampak badan Animisme, sedikit ke Hinduan, yang bagi rakyat merupakan agama mereka yang sejati, Islam Indonesia mempunyai corak yang sangat menyimpang dari Islam biasa.Lihat Agama asli Indonesia /Oleh Jwm Bakker, Sj /184. Fakta baru Wali Songo 268.Wahai para kyai, para ulama, dan ustad, kewajiban mu, adalah menerangkan dengan jelas, agama Allah yang Hanif. Jangan karena kepentingan, kalian sembunyikan kebenaran.Bahkan kalian adalah orang yang pertama yang menganjurkan kesyirikan dan bid’ah. Seruan-seruan pada kejahiliyaan dan kesyirikan melalui seruan untuk kembali pada agama nusantara, adalah bentuk pemurtadan gaya baru. Bila misi dan zending, berupa memurtadkan kaum Muslimin kepada kekafiran Kristen, maka upaya untuk mengajak pada tradisi, dan agama nusantara, adalah upaya sistematis untuk memurtadkan kaum Muslimin kepada agama asli Indonesia, yang tidak lain kejahiliyaan lama berupa Animisme dan kesyirikan. فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُونِهِۦ  ۗ قُلْ إِنَّ الْخٰسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوٓا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ  ۗ أَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ.Maka sembahlah sesuka kalian apa yang kalian inginkan selain Nya (bila memang kalian tidak nurut dengan nasehat), katakan, sesungguhnya orang-orang yang rugi, adalah orang yang merugikan dirinya dan keluarga nya (karena ajakannya) pada hari kiamat, ketahuilah, itulah kerugian yang jelas. (Surah Az Zumar : 15).Bertaqwalah wahai para pengemban agama. Di tangan kalian baik buruknya ummat, Perbaiki ummat ini, jangan malah di hasung pada kesyirikan dan bid’ah.

Terlalu Mudah Memvonis Kafir Terhadap Kaum Muslimin

Fatawa Ulama https://t.me/almanhajaqidah Pertanyaan.Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Seringkali kami perhatikan segelintir penuntut ilmu terlalu mudah memvonis kafir terhadap kaum muslimin. Bahkan segelintir orang ini menuntut kaum muslimin supaya melaksanakan hukuman mati atas orang yang telah divonis kafir –menurut mereka- apabila penguasa (pemerintah) tidak melaksanakannya. Bagaimana pendapat Anda dalam masalah ini?Jawaban.Pelaksanaan hukuman pidana merupakan wewenang penguasa semata. Tidak setiap orang berhak menegakkan hukum pidana ini. Sebab bila demikian prakteknya jelas akan terjadi kekacauan, kerusakan dan keresahan di kalangan masyarakat. Dan juga akan menyalakan api pemberontakan dan fitnah. Pelaksanaan hukuman merupakan wewenang penguasa muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:تَعَافَوْا الْحُدُوْدَ فِيْمَا بَيْنَكُمْ فَإِذَا أَبْلَغَتِ الحُدُوْدُ السُّلْطَانَ فَلَعَنَ اللهُ الشَّافِعَ وَ الْمُشَفَّعَ“Saling memaafkanlah di antara kalian, namun jika urusannya telah diangkat kepada sultan (penguasa), maka Allah melaknat pemberi rekomendasi dan terpidana yang direkomendasi.”Salah satu kewajiban dan wewenang sultan dalam Dienul Islam adalah melaksanakan hukuman setelah diproses secara syar’i oleh mahkamah syariat atas terdakwa pelaku kejahatan yang berhak mendapat hukuman, seperti hukuman atas orang murtad, pencuri dan lain sebagainya.Walhasil, pelaksanaan hukuman merupakan wewenang sultan. Jika seandainya kaum Muslimin tidak memiliki sultan (penguasa) maka cukuplah dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar serta dakwah kepada jalan Allah dengan hikmah, pengajaran yang baik serta perdebatan dengan cara yang terbaik. Individu-individu masyarakat tidak berhak melaksanakan Hudud (hukuman). Sebab sebagaimana yang kami sebutkan, dapat menimbulkan kekacauan, pemberontakan dan fitnah. Dan juga dapat menimbulkan Mafsadat yang lebih besar daripada Mashlahatnya. Salah satu kaidah syar’i yang disepakati bersama menyatakan: “Menolak Mafsadat lebih diutamakan daripada meraih Maslahat.”[Disalin dari kitab Muraja’att fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Makna Syahadatain (Dua Kalimat Syahadat)

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, “Aku mendengar Rosulullah ﷺ bersabda:بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمد عبده رسوله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، وحج البيت ، وصوم رمضان”Pondasi agama Islam dibangun di atas lima perkara, (1) Bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan Rosul-Nya, (2) Menegakkan sholat, (3) Menunaikan zakat, (4) Pergi haji ke Baitullah, (5) Puasa di bulan Romadhon.” (HR. Al-Bukhori 8 dan Muslim 16)Bersaksi dengan syahadat tauhid “Laa ilaaha illallaah” yakni aku bersaksi dengan lisanku dan membenarkan dengan hatiku bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah, dan tidak ada selain Allah yang patut diberikan penghambaan dan pengagungan sebagaimana pengagungan kepada Allah.Para Ulama berkata bahwa kalimat “Laa ilaaha illallaah” mengandung dua rukun:(1). An-Nafyu (penafian) yang terkandung dalam kalimat “Laa ilaaha” (tidak ada sesembahan yang benar) yaitu meniadakan dan menganggap batil segala sesembahan selain Allah (baik dalam bentuk keris, batu, pohon, jimat-jimat, manusia, jin, hewan dan makhluk-makhluk yang lain).(2). Al-Itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat “illallaah” (hanya Allah semata) yaitu menetapkan hanya Allah semata satu-satuNya pihak yang berhak disembah dengan cara yang diridhoi-Nya. Allah berfirman kepada Nabi Ibrohim ‘alaihissalam, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kalian sembah, tetapi (aku hanya menyembah) Tuhan yang menjadikanku.” (Az-Zukhruf: 26-27)Bersaksi dengan syahadat tho’ah “Muhammadan ‘Abduhu wa Rosuluh” yakni aku bersaksi dengan lisanku dan membenarkan dengan hatiku bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba Allah dan Rosul-Nya. Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia dan mewajibkan mereka untuk membenarkan kabar yang beliau bawa dan menaati beliau melebihi ketaatan kepada manusia seluruhnya. Siapa saja yang menaati beliau maka dia Mukmin, sedangkan siapa saja yang mengingkari beliau maka dia Kafir.Adapun syahadat tho’ah “Muhammad ‘Abduhu wa Rosuluh” mengandung dua rukun:(1). Tidak Ifroth (berlebihan-lebihan) yang terkandung dalam kalimat “Abduhu” (hamba-Nya) yaitu beliau ﷺ juga manusia yang diciptakan sebagaimana manusia yang lainnya, tidak boleh menempatkan beliau melebihi kedudukannya sebagai seorang hamba seperti berdoa meminta kepada beliau di sisi kuburannya, meyakini ruh beliau hadir di majelis-majelis, mengikuti beliau tetapi tidak sesuai petunjuk syariatnya seperti mengadakan perayaan dan peringatan yang tidak ada contohnya.(2). Tidak Tafrith (meremehkan) yang terkandung dalam kalimat “Rosuluh” (Rosul-Nya) yaitu Allah mengangkat derajat beliau ﷺ di atas seluruh manusia sebagai seorang Nabi dan Rosul, maka tidak boleh meremehkan kedudukan beliau dengan menganggapnya sebagai tokoh sejarah saja, mengolok-olok ajaran beliau, bahkan kita wajib mencintai beliau melebihi orangtua, anak, dan manusia seluruhnya termasuk diri kita sendiri.Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Imron: 164)Bid’ah (Penyimpangan) Terkait Pengucapan Dua Kalimat Syahadat(1). Mengharuskan seorang muslim memperbaharui syahadatnya di depan seorang imam, atau pimpinan pengajian, atau ketua organisasi karena dianggap belum sah persaksiannya.(2). Menambah syahadat “Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullah” (Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah).https://t.me/manhajulhaq

Tidak Turun Hujan Karena Dosa Manusia

FAWAID

📝 Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah Subhanahu wa ta`ala berfirman,

Menjelaskan ucapan para Jin yang telah beriman,

و أن لو استقاموا على الطريقة لأسقينا هم ماء غذقا.

“Dan sekiranya mereka Istiqomah di atas jalan itu (Islam), benar-benar mereka akan di beri hujan yang tercurah”.

(QS. Jin ayat 16.)

Nabi shalallahu `alaihi wasallam bersabda,

و ما منعوا زكاة اموالهم إلا منعوا القطر من السماء و لو لا إليهائم لم يمطروا.


“Dan tidaklah mereka menahan Zakat harta mereka (yang wajib di keluarkan), kecuali akan di tahan hujan atas mereka dari langit, sekiranya bukan karena (belas kasih Allah kepada) hewan-hewan tentu mereka tidak akan di beri hujan”.

HR. Ibnu Majah 4019 , Shahih At Targhib 764.

Disebutkan dalam riwayat, Mujahid rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya binatang ternak melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Bani Adam, jika terjadi kemarau panjang”.

Mereka berkata, “ini disebabkan (kesialan) dosa manusia”.

Ikrimah rahimahullah berkata,

“Binatang melata, serangga, sampai kumbang dan kalajengking berkata,

“Kami terhalang dari hujan karena dosa anak Adam””.

(Kitab Ad Daa wa Ad Dawaa 144)

Inilah dampak buruk dari dosa dan maksiat.

Tidak hanya pelaku, namun juga makhluk-makhluk lainnya yang juga merasakan dampaknya.

Sehingga pelaku dosa tidak hanya mendapat dosa dari tindakannya, namun juga laknat dari makhluk lainnya.

Semoga Allah Subhanahu wa ta`ala membimbing kita semua diatas kebaikan dan mensucikan hati kita dari perbuatan dosa dan maksiat.

Sidoarjo, ba`da Maghrib.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Hukum Mengolong-golongkan atau Mengkotak-kotakkan Kaum Muslimin

Pertanyaan:

Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Termasuk persoalan yang memprihatinkan sekarang ini adalah kami dapati sebagian orang berusaha mengkotak-kotakkan kaum Muslimin dan mereka merasa senang dengan perbuatan tersebut?

Jawaban :

Seorang muslim tidak dibolehkan menyibukkan dirinya mengomentari orang lain serta memecah belah persatuan kaum Muslimin. Memvonis atau menghakimi orang lain tanpa ilmu termasuk tindak pengrusakan yang dilarang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.”

[Al-Isra/17:36]

Seorang Muslim seyogyanya melakukan perbaikan dan menjaga persatuan kaum Muslimin serta berusaha merapatkan barisan mereka di atas panji-panji kebenaran. Bukan justru memecah belah Ahlus Sunnah dan memilah-milah mereka menjadi beberapa golongan dan kelompok. Yang dituntut darinya jika melihat kesalahan di tengah kaum Muslimin adalah berusaha memperbaikinya. Jika dilihatnya ada celah untuk berpecah maka ia wajib berusaha menyatukannya. Inilah yang dituntut dari seorang Muslim. Yaitu menyeru kepada persatuan dan menambal celah-celah perpecahan. Usaha itu merupakan bentuk nasihat yang sangat agung bagi penguasa dan segenap kaum Muslimin.

[Disalin dari kitab Muraja’att Fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Benarkah Surat Yusuf dan Maryam Bermanfaat Bagi Janin?

Baca Surat Yusuf dan Maryam ketika Hamil

Benarkah Surat Yusuf dan Maryam Bermanfaat Bagi Janin?

Pertanyaan:
Alhamdulillah, aku sekarang sedang mengandung. Aku memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepadaku anak yang Shalih. Aku mendengar dari orang-orang bahwasanya seorang wanita yang hamil hendaknya membaca surat Maryam setiap harinya agar proses persalinanya mudah. Dan membaca surat Yusuf setiap hari agar anak yang lahir nanti tampan. Apakah ada hadis yang Shahih yang menjelaskan permasalahan ini?

Jawaban:
Tidak ada dalam syariat yang menjelaskan bahwa seorang wanita yang hamil dianjurkan membaca surat tertentu agar janinnya jadi anak yang cerdas atau tampan. Jika ada yang berkeyakinan demikian tanpa ada dalil, maka dia telah berkata mengenai agama Allah apa yang tidak ia ketahui. Tidak diragukan lagi bahwasanya Al-qur`an secara keseluruhan baik, berkah, dan berpahala, namun bukan berarti kita bisa menyandarkan perkara kepada Al-qur`an yang dikehendaki oleh keinginan kita atau yang diinginkan oleh anak-anak kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 6)

Imam Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Maksudnya Allah yang menciptakan; jelek atau tampan, hitam atau putih, tinggi atau pendek, sempurna atau cacat, dan lain sebagainya.”
(Al Jami’ li Ahkamil Quran, 1:927)

Namun demikian tidak mengapa seorang wanita yang hamil menyibukkan diri dengan membaca Al-qur`an dan mendengarkannya karena ada penelitian di bidang kedokteran yang menyatakan suara-suara dari luar bisa mempengaruhi janin. Apabila suara yang didengar adalah suara orang yang membaca Al-qur|an, diharapkan keberkahan dan kebaikannya akan berpengaruh terhadap janin tersebut tanpa merinci dan membatasi jenis keberkahan dan kebaikan tersebut.

Disadur dari: islamqa.com

Diterjemahkan oleh Nurfitri Hadi (Tim Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Engkau (ya Allah) adalah pelindung para Mustadhafin (orang lemah) dan Engkau jugalah pelindung ku

Do’a

Engkau (ya Allah) adalah pelindung para Mustadhafin (orang lemah) dan Engkau jugalah pelindung ku.

📝 Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Setelah melewati perjalanan panjang dakwah, dan saat itu Rasulullah shalallahu alaihi wa salam merasa banyak penolakan, maka, pada bulan syawal, tahun ke sepuluh dari kenabian, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam keluar menuju Thaif.

Jarak Thaif dan Mekkah sekitar enam puluh mil, berjalan kaki pergi pulang. Tidaklah beliau menemui satu kabilah, kecuali beliau serukan Islam.

Setiba di Thaif, beliau mendapat tantangan dan pengusiran, selama sepuluh hari beliau di Thaif, mengajak tiap kabilah masuk Islam. Tidak ada yang menerima dakwah beliau, bahkan sebagian orang mengatakan, “keluarlah dari daerah kami”. Dan mereka menyuruh anak-anak dan budak-budak mereka mengikuti beliau dengan mencaci maki, dan berdiri di samping kanan kiri sambil melempari beliau dengan batu, sehingga kedua sandalnya terwarnai oleh darah. Hingga, sampailah beliau di perkebunan milik Utbah bin Syaibah, beliau lalu duduk dan memanjatkan doa,

أللهم إليك أشكو ضعف قوتي و قلة حيلتي و هواني على الناس يا أرحم الراحمين ،انت رب المستضعفين و انت ربي ،إلى من تكلني ، أ إلى بعيد يتجهمنا أم إلى عدو ملكته أمري ،إن لم يكن بك غضب علي فلا أبالي ،غير أن عفيتك هي أوسع لي ،أعوذ بنور وجهك ألذي أشرقت له الظلمات ،و صلح عليه أمر الذنيا و الأخرة من أن ينزل بي غضبك أو يحل علي سخطك ،لك العتبى حتى ترض و لا حول و لا قوة إلا بك.

“Ya Allah, kepada Mu aku haturkan kelemahan diriku dan sedikitnya kesanggupan ku serta kerendahan diriku di hadapan manusia, wahai Zat yang penyayang di antara para penyayang. Engkau Rabb nya orang-orang lemah, dan Engkau jualah Rabbku. Kepada siapa diriku akan Engkau serahkan, apakah pada orang jauh yang berwajah bengis, atau kepada musuh yang menguasai urusanku? Namun, sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, semua hal ini tidak akan ku perdulikan. Selain itu Kelapangan / nikmat Mu pada ku sungguh lebih besar. Aku berlindung kepada Cahaya Wajah Mu yang menyibak kegelapan, dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat, dari murka Mu yang (jangan sampai) akan turun pada Ku dan kebencian Mu yang Engkau berikan pada diriku, kepada Mu segala harapan / rintihan hingga Engkau ridha, tiada daya dan upaya melainkan atas perkenanan Mu.

📖 كتاب : الرحيق المختوم الشيخ صفي الرحمن المبرك كفوري

106. Wahai orang-orang yang terhimpit masalah, dan ia menemui tembok tebal. Wahai orang-orang yang bersedih dan ia merasa sendirian.Wahai orang-orang yang kesusahannya seakan tiada terobati.Inilah, satu pintu yang terbuka untuk mu, harapan itu masih ada.Inilah Rabb seluruh manusia, dan Rabb yang harapanmu, tergantung di Tangan Nya. Oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.

Dua Kelompok Menyimpang dalam Masalah Taqdir

EDISI MANHAJ

Dikatakan menyimpang karena menyelisihi Aqidah Salaf yaitu Aqidah Nabi ﷺ dan para Shohabat beliau Rodhiyallahu ‘anhum.

(1). Kelompok Jabriyyah.
Meyakini seorang hamba dipaksa dalam melakukan amalannya, tidak memiliki kehendak dan kemampuan sama sekali. Ibarat wayang yang digerakkan oleh dalang. Pemahaman ini yang diadopsi oleh orang-orang tarekat yang menihilkan syariat.

(2). Kelompok Qodariyyah.
Meyakini seorang hamba mutlak bebas dalam melakukan amalannya, semuanya terjadi murni atas pilihannya sendiri tidak berjalan di bawah kehendak Allah. Pemahaman ini yang diadopsi oleh orang-orang Syi`ah dan Mu’tazilah diantara mereka mengatakan, manusia berbuat dulu baru Allah menetapkan.

Pemahaman kedua kelompok yang menyimpang ini sejak dulu telah diperingatkan oleh para Ulama.

Jabriyyah berlaku Ghuluw (melampaui batas) dalam menetapkan taqdir dengan menafikan kehendak seseorang sehingga berbuat kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan, kemaksiatan dengan alasan taqdir.

Sedangkan Qodariyyah berlaku Ghuluw dalam menetapkan kehendak seorang hamba dengan menafikan kehendak Allah sama sekali. Menurut mereka, beriman kepada taqdir berarti pasrah menafikan usaha. Disadari atau tidak, mereka telah menganggap Allah jahil (tidak mengetahui) apa yang diperbuat oleh hamba-Nya.

Subhaanallah ‘Amma Yashifuun (Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan).

Adapun yang benar adalah Aqidah Ahlussunnah yang mengikuti para Salaf. Ahlussunnah pertengahan di antara kedua kelompok tersebut, tidak Ghuluw seperti Jabriyyah dalam menetapkan taqdir, dan tidak Ghuluw seperti Qodariyyah dalam menetapkan kehendak manusia. Ahlussunnah meyakini manusia berbuat dan berkehendak sesuai pilihannya akan tetapi tidak keluar dari kehendak Allah dan ketetapan-Nya.

https://t.me/manhajulhaq

Bila Engkau Bicara dan Menasehati Kesyirikan Hari ini

🖋 Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah subhanahu wa ta`ala berfirman menjelaskan kondisi orang-orang Musyrik…

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ

Bila disampaikan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas,

maka kalian akan melihat pada wajah-wajah orang Kafir itu pengingkaran,

hampir-hampir mereka meninju / bertindak anarkis kepada orang-orang yang menyampaikan ayat-ayat Kami kepada mereka…

Qs Hajj ayat 72.

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكُمُ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya engkau akan melihat (tanda-tanda) keingkaran pada wajah-wajah orang yang Kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka.
Katakanlah (Muhammad) apakah akan aku kabarkan kepadamu (mengenai sesuatu) yang lebih buruk daripada itu (yaitu) Neraka?
Allah telah mengancamkannya (Neraka) kepada orang-orang Kafir.
Dan Neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.

Demikian wahai saudaraku kenyataan pahit hari ini,

dimana kesyirikan di hidupkan seakan kecambah di musim hujan.

Bahkan kesyirikan di dukung pihak-pihak yang seharusnya mereka menutup celah itu.

Tempat-tempat kesyirikan menjamur, semakin bertambah dan di galakkan.

Bila ada seorang atau sekelompok orang yang ingin memberi nasehat,

bahwa hal itu kesyirikan,

serta merta wajah-wajah garang dan kebencian tampak di wajah-wajah mereka…

Mereka mengarahkan tangan, lisan, pandangan mata jahat penuh kebencian, bahkan senjata untuk berbuat anarkis dan kerusakan di muka bumi.

Bahkan seorang kyai, dan modin, yang seharusnya menjadi teladan bisa berkata:

“Ngomong syirik pisan kas… Tak kepruk ndas mu”

(Bicara syirik sekali lagi.. Saya kepruk kepala kamu).

Sambil mengacungkan besi dan cangkul ke atas wajah orang yang memberi nasehat…

Sedangkan wadyo bolo atau bolo kurowo mereka siap memberikan bogem mentah untuk pemberi nasehat…

Ya Allah, ampuni kami karena kelemahan kami dalam menyuarakan kebenaran.

Ayah dan Ibu yang Menderita

Orangtua yang telah sukses membesarkan anak-anaknya ialah yang berhasil mendidik mereka menjadi shalih dan shalihah, yang selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta yang senantiasa berbakti kepada kedua orangtuanya.

Apalah artinya orangtua yang memiliki anak yang kaya, menduduki jabatan yang tinggi, memiliki penghasilan yang besar dll, tapi mereka durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak berbakti kepada kedua orangtuanya.

“Tahukah kalian siapa orang yang mandul itu ? Kami berkata : “Orang yang mandul itu adalah orang yang tidak memiliki anak”.

Rasulullah ﷺ bersabda :

“Bukan itu orang yang disebut mandul, tetapi orang yang punya banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak ada yang memberi manfaat kepadanya sesudah dia meninggal dunia”

(HR. Muslim no. 2608, Hadits dari Abdullah bin Mas’ud)

Apabila orangtua melalaikan, meremehkan, serta tidak mau memperdulikan pendidikan anaknya, maka anak itu akan menjadi luka di tenggorokannya dalam kehidupan dunia, dan menjadi sebab ditimpakannya adzab kepada orangtuanya kelak di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Janganlah seorang Ibu menderita karena anaknya, dan jangan (pula) seorang Ayah (menderita) karena anaknya” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

“Katakanlah : “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat”. Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Az-Zumar [39]: 15)

Ditulis oleh Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

“Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun…”

HR.MUSLIM

BAROKALLAHUFIKUM

Ancaman untuk Orang yang Suka Terlambat Menghadiri Khutbah dan Sholat Jum’at

Oleh Sofyan Ruray

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ancaman untuk Orang yang Suka Terlambat Menghadiri Khutbah dan Sholat Jum’at

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنَ الإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا

“Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam, karena sesungguhnya ada orang yang senantiasa menjauh sampai ia diakhirkan di Surga meski ia memasukinya.”

[HR. Abu Daud dari Samuroh bin Jundub Radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 365]

Beberapa Pelajaran:

1. Celaan terhadap orang-orang yang tidak bersegera untuk menghadiri khutbah dan sholat Jum’at.

Abu Ath-Thayyib Rahimahullah berkata,

وَفِيهِ تَوْهِين أَمْر الْمُتَأَخِّرِينَ وَتَسْفِيه رَأْيهمْ حَيْثُ وَضَعُوا أَنْفُسهمْ مِنْ أَعَالِي الْأُمُور إِلَى أَسَافِلهَا

“Dalam hadits ini terdapat perendahan terhadap perbuatan orang-orang yang suka terlambat dan celaan terhadap kebodohan mereka karena telah menurunkan diri-diri mereka sendiri dari amalan yang tinggi kepada yang amalan yang rendah.” [‘Aunul Ma’bud, 3/457]

2. Melambatkan diri dalam menghadiri khutbah dan sholat Jum’at adalah sebab diakhirkannya seseorang untuk masuk Surga, bisa juga bermakna derajatnya di Surga diturunkan.

3. Perintah bersegera menghadiri khutbah sebelum khatib naik mimbar.

4. Pentingnya mendengarkan khutbah, menyimak dan memahaminya dengan baik (apabila khutbahnya berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf), jangan tidur dan jangan berbuat sia-sia. Inilah maksud perintah mendekati imam.

5. Keutamaan sholat Jum’at di shaf pertama. Ini juga maksud perintah mendekati imam.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

www.fb.com/sofyanruray.info

Do’a Ketika Minum Susu

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ“

Barangsiapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barangsiapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.”

(HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322. At Tirmidzi dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sumber : http://www.rumaysho.com

Taman dari Taman-Taman Surga

Dari Abu Huroiroh bahwa Nabi ﷺ bersabda:

ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

“Antara rumahku dan mimbarku ada taman dari taman-taman Surga.” (HR. Al-Bukhori 1196 dan Muslim 1391)

Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqolani menjelaskan maknanya :

  1. Roudhoh seperti taman Surga tempat turunnya rahmat dan memperoleh kebahagiaan jiwa sebagaimana halaqoh dzikir.
  2. Ibadah di Roudhoh akan mengantarkan pelakunya ke Surga.
  3. Area Roudhoh akan diangkat pindah ke Surga. (Fathul Bari 4/100)

Imam Muslim meriwayatkan dengan tambahan redaksi, “Dan mimbarku ini kelak akan berada diatas telagaku.”

Yazid bin Abi Ubaid berkata, “Aku datang bersama Salamah bin Al-Akwa rodhiyallahu ‘anhu lalu aku sholat di Roudhoh.

Aku bertanya, “Wahai Abu Muslim, mengapa engkau sengaja sholat di Roudhoh. Beliau menjawab, “Aku pernah melihat Nabi ﷺ bersengaja sholat di Roudhoh.” (HR. Al-Bukhori 502 dan Muslim 509)

Para Ulama menganjurkan sholat dan ibadah lainnya di Roudhoh sebagaimana hal ini difatwakan oleh Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz.

https://t.me/manhajulhaq

Siapa Kamu dan Bapakmu?

SIAPA KAMU DAN BAPAKMU ? (sebuah jawaban kepada orang yang membandingkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dengan bapaknya).

🖋 Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Nabi shalallahu alaihi wa salam mengingatkan,

من بطا به عمله لم يسرع به نسبه

Barangsiapa lambat amalnya tidak akan bisa di kejar dengan kemuliaan nasabnya. (HR. Muslim No.2699, dari Abu Hurairah radiyallahu anhu)

Hari ini, kita temui banyak orang kurang ajar dan bersikap suul adab kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam. Apa hukuman dan ucapan yang pantas untuk orang yang sedemikian. Saya pernah menulis bab tentang hukum orang yang melecehkan Nabi, yang kami ambil dari Kitab Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah, Sarimul Maslul.

Dan satu peringatan keras, siapapun yang berani melecehkan Nabi shalallahu alaihi wa salam, mereka Kafir dengan ijma kaum Muslimin, dan wajib pemerintah menghukum dengan berat (mati), tanpa di mintai taubat. Hal ini, agar seorang tidak bermudah mudah melecehkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Sekarang, kami akan tulis sedikit, tentang ucapan yang pantas bagi orang yang suka membanggakan nasabnya, dari Kitab Manahi Syariyah, Syaikh Salim bin Ied Al Hilaly.

– Ucapan yang layak bagi mereka adalah “gigitlah kemaluan (zakar) bapakmu !!!”.

Dari shahabat Ubay bin Kaab radiyallahu anhu bahwa beliau mendengar seorang berkata,

“Hai keluarga fulan” (yakni membanggakan nasab). Lalu beliau berkata padanya, “Gigitlah kemaluan (zakar) bapakmu !!!”

Ubay mencela orang itu tanpa bahasa kiasan. Orang tersebut berkata pada beliau, “Wahai Abu Mundzir, engkau bukan orang yang suka berkata keji”

Ubay berkata padanya, Aku mendengar Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa berbangga dengan slogan Jahiliyah, maka suruhlah ia menggigit kemaluan (zakar) bapaknya, dan tidak usah memakai bahasa kiasan terhadapnya”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no 963).

Di ceritakan dalam musnad, Dua orang beradu nasab di sisi Nabi shalallahu alaihi wa salam, Seorang berkata, aku adalah Fulan bin Fulan, lalu engkau siapa?, celaka engkau !!!,

lalu Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda, Dua orang berbangga nasab pada masa Musa, seorang dari mereka berkata, aku Fulan bin Fulan, sampai ia menyebut sembilan nasab – lantas engkau ini siapa, celaka engkau???!!!.

Maka yang di tanya berkata, Aku Fulan bin Fulan bin Islam. Lalu Allah subhanahu wa taala mewahyukan pada Musa ‘alaihi salam, tentang dua orang tadi. Adapun engkau orang yang membanggakan nasab sampai sembilan orang, nenek moyangmu semua di neraka, dan engkau yang ke sepuluh. Sedang engkau orang yang menyandarkan dirinya pada dua orang, keduanya (bapak dan kakaknya) di surga, dan engkau yang ketiganya. (HR. Ahmad 5/128).

Lihat selengkapnya dalam Manahi Syariyah Fi Shahihi Sunnah An Nabawiyah 2/572.

Semoga tulisan ini, wasilah keridhaan Allah atas kami, karena marah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa salam di lecehkan seorang wanita tua yang tidak memiliki adab dan di ragukan keislaman nya, dan semoga tulisan ini ikhlas mengharap wajah Allah semata.

🖋☕ Pilang Kenceng Madiun Jawa Timur, waktu dhuha.

Oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.