Jabag Tangan dan Virus

Oase Kehidupan

JABAT TANGAN DAN VIRUS

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

لئن بسطت إلي يدك لتقتلني مآ أنا بباسط يدي إليك لأ قتلك


Sekiranya engkau menjulurkan tanganmu untuk membunuhku, maka sekali-kali aku tidak akan pernah menjulurkan tanganku untuk membunuhmu.

Qs. Al Maidah ayat 28.

Subhanallah….

Semoga faham apa yang kami tulis….

Cara Rasulullah Mendamaikan Pasutri

CARA RASULULLAH ﷺ MENDAMAIKAN PASUTRI

Pernikahan adalah ibadah yang agung dan di antara sarana tercepat mengantarkan pelakunya menuju surga. Karena itulah pernikahan juga menjadi nikmat Allah ﷻ yang besar dan harus disyukuri.

Akan tetapi tak selamanya kehidupan berumah tangga akan berjalan mulus. Karena Allah ﷻ juga menamai akad pernikahan sebagai perjanjian yang berat (Mitsaqan Ghalizha). Hal itu menunjukkan bahwa dalam menjalani kehidupan berkeluarga pasti akan dijumpai rintangan, hambatan dan ujian. Terkadang ujian itu ringan, dan ada kalanya ujian itu berat. Maka sebagaimana kata sebagian orang agar tidak sampai termakan oleh iklan-iklan yang menjerumuskan, maka demikian pula dengan pernikahan. Jangan sampai kita terhipnotis lantas percaya bahwa ada keluarga yang tak memiliki masalah. Karena masalah dalam kehidupan berumah tangga itu menjadi sebuah kepastian.

Syaikh Shalih Al-Munajjid mengatakan, “Jangan sampai tergiur dengan adanya seminar-seminar yang menawarkan adanya pernikahan tanpa adanya masalah. Maka pernikahan manakah yang tanpa ada masalah?! Padahal pernikahan di masa Nabi ﷺ dan kehidupan beliau bersama para istrinya dipenuhi masalah. Akan tetapi yang terpenting, bagaimana sikap seorang suami dan cara menyelesaikannya? Demikian pula bagaimana sikap istri terhadap hal itu?”

Saat permasalahan semakin membesar.

Permasalahan yang dihadapi oleh pasutri terkadang menjadi semakin membesar sehingga tak bisa hanya diselesaikan oleh mereka berdua. Maka sebelum menempuh jalan terakhir berupa perceraian (talak), Allah ﷻ memberikan jalan keluar di antaranya melalui pihak ketiga yang diharapkan dapat memberikan solusi. (QS. An-Nisa’: 35)

Allah ﷻ juga menyebutkan, bahwa siapa saja yang dapat mendamaikan manusia karena mengharap ridha Allah, ia akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Firman Allah ﷻ:

۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat Ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS. An-Nisa’: 114)

Namun bermula dari sini pula, banyak masalah baru yang muncul ke permukaan. Yaitu semakin runyamnya problematika keluarga akibat pihak ketiga yang salah dalam mengambil peran. Baik itu pendamai dari pihak lelaki, dari pihak wanita maupun pihak yang lainnya.

Saat Nabi ﷺ memberi solusi masalah keluarga.

Kaum salaf dahulu sangat memperhatikan masalah mendamaikan antara pasutri yang bertikai karena terbelit masalah. Hal ini berangkat dari hadits Rasulullah ﷺ yang mulia,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

“Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sehingga mencintai bagi saudaranya sebagaimana apa yang ia cintai untuk dirinya.”(HR. Al-Bukhari: 13, Muslim: 179)

Yang terdepan memberi contoh mulia dalam masalah ini adalah Rasulullah ﷺ. Di antara contoh yang tercatat ialah:

Rasulullah ﷺ mendamaikan Ali dan Fatimah.

Mereka berdua adalah salah satu potret pasutri ideal di panggung sejarah. Bagaimana tidak, jika dilihat dari profil masing-masing, Fatimah sebagai putri baginda Rasul dan penghulu wanita di surga. Sedangkan Ali, beliau adalah khalifah keempat sepeninggal Rasulullah dan ayah dari dua pemuda pemimpin ahli surga. Namun demikian, apakah laju biduk rumah tangga mereka tak menemui halangan?

Sahl bin Sa’d  mengisahkan, bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ menemui Fatimah, namun beliau tak mendapati Ali ada di rumah. Padahal saat itu adalah waktu seorang suami ada di rumahnya, yaitu istirahat siang. Rasul yang tahu adanya gelagat aneh bertanya, “Mana saudara sepupumu?”Nabi tak menyebut ‘suamimu’ karena paham telah terjadi sesuatu dan ingin mengingatkan putrinya dengan pertalian nasab antara dia dan Ali, semoga dapat menumbuhkan rasa sayang lagi. Fatimah pun buka suara, “Terjadi sesuatu antara kami. Ia membuat aku kesal, lalu keluar dan tidak tidur siang di sini.” Apakah Rasul akan membawa Fatimah karena ia telah ‘disia-siakan’ oleh Ali, senyampang sang suami tak ada di rumah? Tidak. Apakah Rasul bersikap tak acuh? Ternyata juga tidak. Bahkan Rasul berinisiatif untuk mendamaikan mereka berdua. Nabi pun mencari Ali, dan beliau temukan menantunya itu sedang tidur di masjid. Rasul datang seorang diri, padahal beliau adalah manusia termulia! Badan Ali lalu diusap-usap oleh Nabi karena debu telah mengotorinya, sembari mengatakan, “Bangun, Abu Turab (tanah)…! Bangun, Abu Turab…!” (HR. Al-Bukhari: 441)

Dan semenjak itu julukan tersebut menjadi yang paling indah buat Ali. Masalah pun selesai. Masalah yang terjadi antara orang besar, itu adalah hal biasa dan manusiawi. Namun bedanya dengan kita, mereka akan mengambil penyelesaian yang terbaik dan masalah akan segera hilang.

Rasulullah ﷺ menjadi duta bagi Mughits, sang budak. Barirah  adalah seorang budak, suaminya yang bernama Mughits juga budak. Namun Barirah dimerdekakan olah Aisyah, sedang Mughits masih berstatus budak. Dan secara syariat, jika istri dari pasutri berstatus budak dimerdekakan, maka ia bebas memilih status pernikahannya; dilanjutkan atau berpisah.

Saat itu Barirah memilih meninggalkan Mughits, walaupun sang mantan suami masih sangat mencintainya. Mughits pun selalu menguntit Barirah yang tak lagi menjadi istrinya sampai di jalan-jalan Madinah sambil menangisinya. (HR. Al-Bukhari: 5281)

Rasulullah merasa iba. Beliau pun membantu Mughits untuk bersatu dengan Barirah lagi. Beliau ﷺ mengatakan, “Andai engkau mau kembali bersamanya..” (HR. Al-Bukhari: 5283) Dalam riwayat yang lain Rasul memelas, “Sesungguhnya dia (Mughits) adalah ayah dari anakmu.” (HR. An-Nasa’i: 5417, Ibnu Majah: 2075) Barirah pun memastikan, apakah perkataan Rasul tersebut perintah atau hanya sebuah lobi, “Apakah Anda memerintahku, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, aku hanya pelobi.” Barirah pun menutup dialog, “Aku sudah tak butuh lagi dengannya.”

Walau usaha mulia ini berujung gagal, namun Rasulullah mengajari kita untuk mencobanya dengan sebaik mungkin.

Rasulullah ﷺ mengingatkan pasutri terhadap hak-hak bersama. Hal ini ditempuh Rasulullah ﷺ dalam banyak kesempatan. Setiap kali ada seorang suami yang datang meminta nasihat keluarga, beliau ﷺ arahkan agar selalu mengingat hak-hak istrinya. Sebaliknya, ketika para istri yang datang, maka beliau ingatkan mereka agar selalu memperhatikan hak-hak suami.

Salah satu fragmen sejarah yang sempat terekam ialah saat Rasulullah ﷺ didatangi oleh bibinya Hushain bin Mihshan. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah memiliki suami?” Bibi Hushain menjawab, “Ya.” Rasul meneruskan, “Bagaimana keadaanmu (saat hidup) bersamanya?” Bibi Hushain menjawab, “Aku tak pernah sembrono dalam menaati maupun melayaninya, kecuali (hal-hal) yang memang aku tak mampui.” Rasulullah pun meneruskan, “Lihatlah kedudukanmu di sisinya, karena suamimu hanyalah surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Sa’d, an-Nasa’i dalam ‘Isyrat an-Nisa’, Ahmad dan yang lainnya. Sanadnya Shahih menurut Al-Hakim dan Al-Albani dalam Adab Az-Zafafhal. 213)

Sebaliknya, Rasulullah ﷺ juga sering mengingatkan para suami agar selalu memperhatikan hak istri. Di antara wasiat beliau terhadap kaum lelaki ialah mengingatkan mereka bahwa di antara hak para istri yang harus ditunaikan yaitu mempergauli mereka dengan cara yang baik, memberi tempat tinggal, pakaian dan makanan yang baik pula. Rasul ﷺ bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling bagus (Muamalahnya) terhadap keluarganya, sedangkan saya adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi: 3895, dishahihkan oleh Al-Albani, dari sahabat Aisyah)

Demikianlah Rasulullah ﷺ secara bergantian mengingatkan masing-masing pasutri mengenai kewajibannya terhadap pasangannya. Karena apabila kewajiban sudah dijalankan ole masing-masing pihak, maka dengan sendirinya hak akan diperoleh tanpa diminta.

Demikianlah cara dan usaha Rasulullah ﷺ dalam melanggengkan hubungan antara pasutri. Semoga dapat menjadi ‘Ibrah bagi kita semua.

Disadur dari majalah Al-Furqan, Oleh: Abu Usamah al-Kadiri.
Sumber: https://bimbingansyariah.com

Syarat Kaidah Menolak Mafsadah Lebih Didahulukan dari Mengambil Maslahat

Syarat Kaidah Menolak Mafsadah Lebih Didahulukan dari Mengambil Maslahat

Di antara kaidah syariat yang perlu dipelajari oleh para penuntut ilmu adalah kaidah Fiqh yang berbunyi:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menolak Mafsadah lebih didahulukan daripada mengambil Maslahat.”

Kaidah ini hasil Istinbath para Ulama dalam meneliti dalil-dalil Al-Qur’an was Sunnah. Kaidah ini juga dikenal dengan “Fiqhul Ma’alat” yaitu meninjau dampak dari pemberlakuan suatu perkara apakah berakibat kepada maslahat yang lebih besar ataukah Mafsadah.

Adapun Mafsadah yang dimaksud yaitu bahaya yang menyangkut agama maupun jiwa seseorang. Sedangkan yang dimaksud Maslahat sebaliknya.

Perlu diingat, kaidah ini tidaklah berlaku secara mutlak seperti yang dipraktekkan oleh sebagian orang. Akan tetapi para Ulama merinci syaratnya yaitu apabila Mafsadahnya lebih besar dari Maslahatnya atau Maslahatnya sebanding dengan Mafsadahnya maka menolak Mafsadah lebih didahulukan daripada mengambil Maslahat.

Adapun jika Maslahatnya jauh lebih besar dari Mafsadahnya maka kaidah ini tidak berlaku yakni yang maslahat tetap didahulukan meski ada Mafsadahnya. Dan yang menimbang sisi Maslahat dan Mafsadah adalah para ahlinya.

Dalil kaidah ini antara lain sabda Nabi ﷺ kepada Aisyah Ummul Mukminin Rodhiyallahu ‘Anha:

يا عائشة لو لا أن قومك حديثوا عهد بجاهلية لأمرت بالبيت فهدم فأدخلت فيه ما أخرج منه وألزقته بالأرض

“Wahai Aisyah, andai kata bukan karena kaummu baru saja meninggalkan masa Jahiliyyah maka akan kuperintahkan mereka merombak Baitullah. Kemudian aku masukkan apa yang dikeluarkan darinya dan aku turunkan sejajar dengan tanah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Di dalam hadits ini ada “Dalalah Dzhohiroh” (indikasi yang jelas) terhadap makna kaidah Fiqh diatas. Bahwa Nabi ﷺ mengutamakan menolak Mafsadah yang lebih besar dari apa yang beliau khawatirkan yaitu larinya manusia dari Islam, ketimbang mengambil Maslahat dengan merombak kembali pondasi Ka’bah seperti yang dibangun Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam.

Berbeda dengan keadaan orang yang hanya mengandalkan semangat dalam beragama tanpa bimbingan ilmu dan pemahaman yang benar. Mungkin mereka akan ngegas rombak Baitullah tanpa mempedulikan aspek Maslahat dan Mafsadah.

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Syarah Kitab ‘Aqidah Al-Wasathiyah : Sifat Allah

AQIDAH


كتاب شرح العقيدة الواسطية

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary



Berkata Imam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah Rahimahullah,

و قوله فاعبده و اصطبر لعبادته هل تعلم له سميا ؟

Dan firman Allah taala,

Maka sembahlah Dia, dan bersabarlah dalam mengibadati Nya, apakah kalian mengetahui ada satu hal yang sama dengan Nya?

Qs. Maryam 65.



Syarah singkat

Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi menjadi dua.

Sifat Subutiyah (yang di tetapkan).

Dan sifat Manfiyah (yang di tiadakan).

Karena kesempurnaan tiada terwujud kecuali menetap dan menafikkan.

Menetapkan sifat sempurna, dan meniadakan sifat kekurangan.

Kata

هل تعلم له سميا

Bermakna menafikkan yakni sebuah tantangan, bermakna, bila kamu benar (orang Musyrik), tunjukkan kepada kami satu hal yang sama dengan Nya.

السمي

Bermakna tandingan (selain Allah).

Yakni adakah saingan atau tandingan bagi Nya, yang berhak menyaingi nya, dan berhak menyandang nama Nya?


Tentu, tidak perlu di jawab, karena tidak ada.


Maka, wajib bagi kalian hanya beribadah kepada Nya saja.


Dan hal ini menunjukkan kesempurnaan mutlak tentang sifat dan nama, serta hak peribadatan, yakni kewajiban hamba beribadah semata hanya untuk Allah.

Rumah Tangga Yang Ideal

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Menurut ajaran Islam, rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang). Allah Ta’ala berfirman.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Ar-Ruum/30:21]

Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami atau isteri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajiban serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing, serta melaksanakan tugasnya itu dengan penuh tanggung jawab, ikhlas serta mengharapkan ganjaran dan ridha dari Allah Ta’ala.

Sehingga, upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tenteram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan.

Apabila terjadi perselisihan dalam rumah tangga, maka harus ada upaya ishlah (mendamaikan). Yang harus dilakukan pertama kali oleh suami dan isteri adalah lebih dahulu saling intropeksi, menyadari kesalahan masing-masing, dan saling memaafkan, serta memohon kepada Allah agar disatukan hati, dimudahkan urusan dalam ketaatan kepadaNya, dan diberikan kedamaian dalam rumah tangganya. Jika cara tersebut gagal, maka harus ada juru damai dari pihak keluarga suami maupun isteri untuk mendamaikan keduanya. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada pasangan suami isteri tersebut.

Apabila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, surat An-Nisaa’ ayat 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi berkata, “Apabila masalah antara suami isteri semakin memanas, hendaklah keduanya saling memperbaiki urusan keduanya, berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dan meredam perselisihan antara keduanya, serta mengunci rapat-rapat setiap pintu perselisihan dan jangan menceritakannya kepada orang lain.

Apabila suami marah sementara isteri ikut emosi, hendaklah keduanya berlindung kepada Allah, berwudhu’ dan shalat dua raka’at. Apabila keduanya sedang berdiri, hendaklah duduk; apabila keduanya sedang duduk, hendaklah berbaring, atau hendaklah salah seorang dari keduanya mencium, merangkul, dan menyatakan alasan kepada yang lainnya. Apabila salah seorang berbuat salah, hendaknya yang lainnya segera memaafkannya karena mengharapkan wajah Allah semata.”[1]

Di tempat lain beliau berkata, “Sedangkan berdamai adalah lebih baik, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala. Berdamai lebih baik bagi keduanya daripada berpisah dan bercerai. Berdamai lebih baik bagi anak daripada mereka terbengkalai (tidak terurus). Berdamai lebih baik daripada bercerai. Perceraian adalah rayuan iblis dan termasuk perbuatan Harut dan Marut”.

Allah Ta’ala berfirman.

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Maka mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah.” [Al-Baqarah/2:102]

Di dalam Shahiih Muslim dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas lautan. Kemudian ia mengirimkan balatentaranya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah yang menimbulkan fitnah paling besar kepada manusia. Seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah lakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Lalu datanglah seorang dari mereka dan berkata, ‘Tidaklah aku meninggalkannya sehingga aku telah berhasil memisahkan ia (suami) dan isterinya.’’ Beliau melanjutkan, ‘Lalu iblis mendekatkan kedudukannya. Iblis berkata, ‘Sebaik-baik pekerjaan adalah yang telah engkau lakukan.”[2]

Ini menunjukkan bahwa perceraian adalah perbuatan yang dicintai syaitan.

Apabila dikhawatirkan terjadinya perpecahan antara suami isteri, hendaklah hakim atau pemimpin mengirim dua orang juru damai. Satu dari pihak suami dan satu lagi dari pihak isteri untuk mengadakan perdamaian antara keduanya. Apabila keduanya damai, maka alhamdulillaah. Namun apabila permasalahan terus berlanjut antara keduanya kepada jalan yang telah digariskan dan keduanya tidak mampu menegakkan batasan-batasan Allah di antara keduanya. Yaitu isteri tak lagi mampu menunaikan hak suami yang disyari’atkan dan suami tidak mampu menunaikan hak isterinya, serta batas-batas Allah menjadi terabaikan di antara keduanya dan keduanya tidak mampu menegakkan ketaatan kepada Allah, maka ketika itu urusannya seperti yang Allah firmankan:

وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا

“Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), Mahabijaksana.” [An-Nisaa’/4:130][3]

Allah Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[4], hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusah-kannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar. Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [An-Nisaa’/4:34-35]

Pada hakikatnya, perceraian dibolehkan menurut syari’at Islam, dan ini merupakan hak suami. Hukum thalaq (cerai) dalam syari’at Islam adalah dibolehkan.

Adapun hadits yang mengatakan bahwa “perkara halal yang dibenci Allah adalah thalaq (cerai),” yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2178), Ibnu Majah (no. 2018) dan al-Hakim (II/196) adalah hadits lemah. Hadits ini dilemahkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullaah dalam kitabnya, al-‘Ilal, dilemahkan juga oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2040).

Meskipun thalaq (cerai) dibolehkan dalam ajaran Islam, akan tetapi seorang suami tidak boleh terlalu memudahkan masalah ini. Ketika seorang suami akan menjatuhkan thalaq (cerai), ia harus berfikir tentang maslahat (kebaikan) dan mafsadah (kerusakan) yang mungkin timbul akibat perceraian agar jangan sampai membawa kepada penyesalan yang panjang. Ia harus berfikir tentang dirinya, isterinya dan anak-anaknya, serta tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat.

Kemudian bagi isteri, bagaimana pun kemarahannya kepada suami, hendaknya ia tetap sabar dan janganlah sekali-kali ia menuntut cerai kepada suaminya. Terkadang ada isteri meminta cerai disebabkan masalah kecil atau karena suaminya menikah lagi (berpoligami) atau menyuruh suaminya menceraikan madunya. Hal ini tidak dibenarkan dalam agama Islam. Jika si isteri masih terus menuntut cerai, maka haram atasnya aroma Surga, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

“Siapa saja wanita yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada alasan yang benar, maka haram atasnya aroma Surga.”[5]

Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ: … وَلاَ تَسْأَلُ الْمَرْأَةُ طَلاَقَ أُخْتِهَا لِتَكْفَأَ مَا فِيْ إِنَائِهَا

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang: … dan janganlah seorang isteri meminta (suaminya) untuk menceraikan saudara (madu)nya agar memperoleh nafkahnya.”[6]

Marilah kita berupaya untuk melaksanakan pernikahan secara Islami dan membina rumah tangga yang Islami, serta berusaha meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali ‘Imran/3:19]

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“…Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Al-Furqaan/25:74]

Setiap keluarga selalu mendambakan terwujudnya rumah tangga yang bahagia, diliputi sakinah, mawaddah dan rahmah. Oleh karena itu, setiap suami dan isteri wajib menunaikan hak dan kewajibannya sesuai dengan syari’at Islam dan bergaul dengan cara yang baik.

Sumber: https://almanhaj.or.id/13194-rumah-tangga-yang-ideal-2.html

Tidak Bisa Membalas Jasa Orang tua

Tidak Bisa Membalas Budi Orang Tua.

Dari Abu Hurairah dari “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

*لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوْكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ*

“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.”

(Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 10, shahih) Lihat Al Irwa’ (1737): [Muslim: 20, kitab Al ‘Itqu, hal 25-26]

Faedah dari hadits di atas:

1- Agungnya hak orangtua dalam Islam, sampai sulit untuk dibalas jasa-jasa mereka.

2- Jika orangtua adalah seorang budak (hamba sahaya), maka seorang anak wajib membeli orangtuanya lantas memerdekakannya.

3- Budak dinyatakan merdeka bisa jadi hanya dengan kepemilikan anggota kerabatnya.

4- Anak tidaklah menunaikan hak orangtua yang menjadi budak hingga ia memerdekakannya ketika telah membelinya.

Sambil Menggendong Ibu di Punggung.

Dari Abi Burdah, ia melihat melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung,

*إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ –  إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ*

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

*ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟  قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ، ثُمَّ طَافَ ابْنُ عُمَرَ فَأَتَى الْمَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ : يَا بْنَ أَبِى مُوْسَى إِنَّ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ  تُكَفِّرَانِ مَا أَمَامَهُمَا*

Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik nafas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” Beliau lalu thawaf dan shalat dua raka’at pada maqam Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa (Abu Burdah), sesungguhnya setiap dua raka’at (pada makam Ibrahim) akan menghapuskan berbagai dosa yang diperbuat sesudahnya.”

(Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 11, Shahih secara sanad)

Faedah dari hadits di atas:

1- Dorongan berbakti pada ibu.

2- Besarnya hak orang tua yang mesti dipenuhi oleh anak.

3- Shalat menghapuskan berbagai dosa kecil.

4- Keutamaan Thowaf dan shalat di belakang Maqam (bekas jejak kaki) Ibrahim.

5- Sulitnya membalas jasa orang tua walaupun dengan menggendongnya ketika Thowaf, seperti itu belum bisa membalas seluruh jasa mereka.


Dinukil dari rumaysho.com

Sumber: https://bimbingansyariah.com

Hati Tertutup Karena Meninggalkan Shalat Jum’at

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Tidak sedikit di antara kaum Muslimin yang lalai akan kewajiban Shalat Jum’at. Sampai seringkali meninggalkannya. Padahal Shalat ini adalah kewajiban yang tidak perlu lagi disanksikan. Dalil pendukungnya pun dari Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (baca: Ijma’). Maka sudah barang tentu yang meninggalkannya akan menuai petaka yang menimpa jasad dan lebih parah lagi akan merusak hatinya.

Kewajiban Shalat Jum’at ditunjukkan dalam ayat,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan Shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jum’ah: 9). Kata kebanyakan pakar tafsir, yang dimaksud ‘Dzikrullah’ atau mengingat Allah di sini adalah Shalat Jum’at. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mendengar nasehat (khutbah) pada hari Jum’at. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 8: 265)

Dikuatkan lagi dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

“(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini Shahih)

Begitu pula disebutkan dalam sabda lainnya,

رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

“Pergi (shalat) Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah.” (HR. An Nasai no. 1371. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini Shahih)

Lalu bagaimana jika seseorang meninggalkan Shalat Jum’at? Apa akibat yang menimpa dirinya?

Ulama terkemuka di Saudi Arabia yang berdomisili di kota Riyadh dan sangat mumpuni dalam hal Aqidah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok Hafizhohullah ditanya, “Apa akibat yang diperoleh orang yang tidak menghadiri Shalat Jum’at? Apa Hadits yang menerangkan hal tersebut?

Jawab Syaikh Hafizhohullah,

Shalat Jum’at adalah shalat yang wajib bagi orang yang tidak memiliki uzur. Barangsiapa meninggalkannya, ia terjerumus dalam dosa besar. Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, hatinya akan tertutupi. Dan ia termasuk orang-orang yang lalai. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, keduanya mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Hendaklah orang yang suka meninggalkan Shalat Jum’at menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865)

Dalam hadits lain disebutkan,

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa meninggalkan Shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap Shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, An Nasai no. 1369, dan Ahmad 3: 424. Kata Syaikh Al Albani hadits ini Hasan Shahih). Ini akibat yang menimpa hati. Musibah ini lebih bahaya dari akibat yang menimpa jasad atau kulit seseorang.

Sedangkan hukuman duniawi, hendaklah Ulil Amri (penguasa) memberi hukuman pula bagi orang yang meninggalkan Shalat Jum’at tanpa ada uzur agar mencegah tindak kejahatan mereka. Hendaklah setiap Muslim bertakwa pada Allah, janganlah sampai ia melalaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan. Jika seseorang lalai dalam demikian, maka ia akan menuai petaka dari Allah. Jagalah perintah Allah, niscaya pahala Allah akan diraih. Dan Allah akan beri karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki. [Sumber fatwa: ahlalhdeeth.com]

Wallahu Waliyyut Taufiq was Sadaad.

Sumber: https://rumaysho.com/2110-hati-tertutup-karena-meninggalkan-shalat-jumat.html

Tawakkal Lebih Kedepankan Dari Kekhawatiran

Fawaid pagi

TAWAKKAL LEBIH KEDEPANKAN DARI KE KHAWATIRAN

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Kadang kekhawatiran manusia lebih besar dari kenyataan yang ada.

Ketahuilah kekhawatiran tidak merubah apapun, tindakan berlebihan dan kehebohan, malah akan memperbesar masalah, dari masalah yang sebenarnya.

Situasi yang tidak menentu bisa menjadi sebab banyak hal, kerusuhan, naiknya harga harga, mobilisasi manusia, rawannya keamanan, dan begitu mudahnya manusia di politisasi.

Dunia ini telah mengalami berbagai hal, termasuk wabah, dan penyakit.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan penyakit, dan Dia yang memberi kesembuhan.

Antisipasi suatu keharusan, namun tidak perlu khawatir yang berlebihan.


Semoga Allah memberikan kebaikan kepada kita semua, mengangkat wabah ini, dan menormalkan lagi kondisi.

Sidoarjo, pagi yang cerah setelah di guyur hujan semalaman.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

TA’AWUN DAKWAH

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ،

Amma ba’du.

Kami pengasuh rumah dakwah dan sosial ihyaus Sunnah (Madiun). yang menyantuni sekitar

60 KK duafa (20 orang di Sidoarjo dan sekitarnya 40 orang di madiun).

Untuk program Ramadhan tahun 1441 Hijriyah ini.

Akan mengadakan bakti sosial berupa.

  • penyebaran iftitar bagi warga dan masjid serta mushalla.
  • santun duafa.

Estimasi biaya:

Penyebaran buka puasa sebanyak 400 porsi.

Setiap porsi adalah 10.000 x 400 : 4 juta.

Untuk santunan duafa, estimasi awal adalah

50.000 x 60 orang : 3 juta.

Berupa sembako dan atau uang.

Tahun lalu bisa menyebar sekitar 120 paket sembako satu paket senilai 50 ribu berupa beras, minyak dan gula.

(Target tahun ini adalah 150 paket santunan).

Total biaya kurang lebih 7 juta rupiah (awal).

Program ini sebagai mana tahun tahun sebelumnya, akan di adakan pertengahan Ramadhan – sebelum Iedul Fitri 1441 Hijriyah.

Jumlah santunan dan ifthar bisa berubah sesuai dengan pemasukan dari donasi.

Bagi yang ingin bergabung atau menitipkan Zakat nya,

Dapat menghubungi kami.

Atau menyalurkan nya pada rekening di bawah ini:

🏧 Nomor Rekening Bank BRI
6528-01-013336-53-5 A/n Sri Mulyani
🏦 Kode Bank 002

📲 Mohon konfirmasi melalui SMS/WA ke 081357865683

Ustad Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

📝 Dengan Format :
Nama#Jumlah Donasi#Tanggal
👉 Contoh :
Abdullah#500.000#20-08-18

(Keterangan peruntukan):

  • Info publikasi menyusul.

Atas Partisipasi para muhsinin dan muhsinat, kami ucapkan Jazaakumullaahu khairan wa Baarakallaah fiikum wa Amwaalikum.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya” (QS. Saba: 39)

Allah Ta’ala berfirman:

《 مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ》 ﴿٢٦١﴾

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2:261)

Kufur Dan Syirik Karena Warisan

Fawaid edisi khusus

KUFUR DAN SYIRIK KARENA WARISAN.

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.




Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يعرفون نعمت الله ثم ينكرو نها

Mereka mengetahui nikmat Allah kemudian mengingkarinya.

سورة النحل ٨٣.



Berkata Mujahid tentang ayat ini,

هو قول الرجل هذا مالي ورثته عن آبائي.

Ia adalah ucapan seorang, ini adalah hartaku, aku peroleh dari warisan bapakku.


Matan Kitabut Tauhid hal 126, cetakan Manarul Islam.



Berkata Syaikh Abdurrahman bin Hasan Rahimahullah.

Ayat ini berlaku umum, untuk siapapun yang menisbatkan segala nikmat, dan menyandarkan sebab-sebab itu pada selain Allah.


Berkata Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Hal ini banyak di singgung dalam Al Qur’an dan Sunnah, Allah Subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang menyandarkan nikmat itu pada selain Nya, dan menyekutukan (berbuat syirik pada) Nya.

Sebagaimana ucapan seorang.

(Saat naik kapal) angin bertiup dengan baik, dan nakoda nya mahir (atau contoh lain, mobil berjalan lancar, sopirnya pintar).


Fathul Majid 813.
Sumber: @pissalaf

Puasa Bulan Rajab

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini, banyak orang yang berpuasa di awal bulan Rajab. Saya ingin bertanya, apakah ada tuntunannya dari Rasulullah puasa hanya di awal bulan Rajab atau hanya beberapa hari saja di bulan Rajab?

Hendra Irawan (**hendra@***.com)

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab, baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan di bulan Rajab adalah hadis Dhaif dan tertolak.

Ibnu Hajar mengatakan,

لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ

“Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa Rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat Tahajud di malam tertentu bulan Rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ajab bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6)

Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang mengupas tentang amalan sepanjang tahun, yang berjudul Lathaiful Ma’arif, beliau menegaskan tidak ada shalat sunnah khusus untuk bulan Rajab,

لم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء

“Tidak terdapat dalil yang sahih tentang anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah Bid’ah, menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)

Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan,

لم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه و سلم و لا عن أصحابه و لكن روي عن أبي قلابة قال : في الجنة قصر لصوام رجب قال البيهقي : أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ و إنما ورد في صيام الأشهر الحرم كلها

“Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada adalah riwayat yang menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)

Keterangan Ibnu Rajab yang menganjurkan adanya puasa di bulan haram, ditunjukkan dalam hadis dari Mujibah Al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya, Al-Bahily. Sahabat Al-Bahily ini mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah bertemu dan menyatakan masuk islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun kemudian, dia datang lagi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, apakah anda masih mengenal saya.” Tanya Kahmas,

“Siapa anda?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah datang menemui anda setahun yang lalu.” Jawab sahabat

“Apa yang terjadi dengan anda, padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Saya tidak pernah makan, kecuali malam hari, sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab sahabat.

Menyadari semangat sahabat ini untuk berpuasa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (Ramadhan), dan puasa sehari setiap bulan.

Namun Al-Bahily selalu meminta tambahan puasa sunah,

“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kalimat pungkasan,

صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ

“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai Dhaif oleh ulama lainnya).

Bulan haram artinya bulan yang mulia. Allah memuliakan bulan ini dengan larangan berperang. Bulan haram, ada empat: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Sumber: https://konsultasisyariah.com/22382-adakah-puasa-bulan-rajab.html

Bertanya Ada Adabnya

Adab-adab bertanya yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu sebagai berikut:

(1). Tujuan bertanya untuk mencari kebenaran dan mengamalkannya, bukan untuk mencari-cari keringanan atau tujuan-tujuan jelek yang lain. (Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul – Syaikh Al-Utsaimin)

Rosulullah ﷺ mengingatkan, “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan Ulama atau ingin berdebat dengan orang yang jahil atau ingin menarik perhatian manusia maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka jahannam.” (HR. Ibnu Majah dan dinilai shohih oleh Syaikh Nashir)

(2). Tidak bertanya kecuali kepada orang yang berilmu dan ahlinya atau menurut dugaannya yang kuat dia mampu menjawab. Allah berfirman:

“Maka bertanyalah kalian kepada ahlinya apabila kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya’: 7)

(3). Bertanya dengan penuh penghormatan dan meyakini keahlian pihak yang ditanya. Bukan bertanya untuk menguji yang ditanya karena ini termasuk adab yang tercela yang harus dijauhi oleh penuntut ilmu.

Al-Imam An-Nawawi berkata, “Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya dengan penuh penghormatan. Dia meyakini keahlian gurunya itu dibandingkan yang lain. Adab seperti itu akan membawa dirinya mengambil faidah yang banyak dari sang guru, dan hal itu akan lebih membekas dalam hati dari pesan-pesan yang didengarnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)

(4). Sampaikanlah pertanyaan dengan baik dan benar karena hukum terhadap sesuatu merupakan cabang dari gambaran permasalahannya. Kadang orang yang bertanya memperoleh jawaban yang sebetulnya bersifat kondisional, tetapi jawaban tersebut dia pakai dalam segala kondisi, hal ini yang banyak mengundang fitnah dan kesimpangsiuran.

(5). Hindari penyebutan nama saat merespon jawaban sang guru, karena perbuatan semacam itu bisa mengadu domba. Contohnya seperti perkataan, “Sedangkan Syaikh Fulan berkata begini dan begitu..”, “Kalau kata Ustadz Fulan begini dan begitu..”

Adapun menggunakan ungkapan yang umum diperbolehkan seperti, “Wahai Syaikh bagaimana menurut engkau jika ada yang berpendapat begini?”

(6). Sabar dan baik sangka bila pertanyaan melalui pesan singkat belum kunjung dijawab. Boleh jadi yang ditanya sedang ada kesibukan, sakit, melayani tamu, sedang safar, atau ada udzur yang lain. Yahya bin Abi Katsir berkata kepada puteranya, “Sungguh ilmu itu tidak akan diperoleh dengan badan yang santai.”

(7). Jangan memaksa seorang guru untuk memberi jawaban secara detail dilengkapi dalil. Syaikh Nashir berkata, “Terkadang seorang ‘alim belum memungkinkan baginya mendatangkan dalil atas sebuah pertanyaan. Khususnya apabila dalilnya itu berkenaan dengan kesimpulan hukum yang tidak dinashkan secara gamblang dalam Al-Qur’an was Sunnah. Dalam hal ini tidak pantas bagi penanya untuk terlalu mendalam bertanya apa dalilnya. Menyebutkan dalil memang wajib jika kondisinya menuntut demikian. Akan tetapi tidak wajib baginya setiap kali ditanya harus menjawab Allah berfirman dan Rosulullah bersabda. Terlebih dalam permasalahan fiqh yang luas dan masih diperselisihkan.” (Majalah Al-Asholah)

(8). Awali pertanyaan dengan kalimat salam dan doa kebaikan seperti, “Ahsanallah ilaikum” (semoga Allah curahkan kebaikan kepada engkau), atau “Hayyakumullah” (semoga Allah membahagiakan engkau). Bukan dengan ‘afwan (maaf).

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Kitab Syarah ‘Aqidah Wasatiyah

كتاب شرح العقيدة الواسطية

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Berkata imam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah rahimahullah,

و قوله

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي

Apa yang menyebabkanmu (Iblis) terhalang untuk sujud pada (Adam) yang telah Ku ciptakan dengan kedua tangan Ku.

Q.S Shaad 75.

Syarah singkat:

Kata بيدي

Mengandung makna Mutsana yakni dua.

Nun dari kata Mutsana di buang karena kata tersebut di Idhaf kan.

Sama hanya dengan tanwin.

Manakala kita mengirab kata Mutsana dan kata jama’ Mudzakar Salim, kita katakan nun adalah penganti tanwin yang ada pada kata Mufrad, sebagaimana tanwin di buang pada saat Idhafah.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

يد الله ملان سحاء الليل و النهار ارايتم ما انفق مند خلق السماوات و الأرض فإنه لم بعض ما فيه

Tangan Allah penuh dan banyak memberi di waktu siang dan malam, tidakkah kalian melihat apa yang Dia berikan sejak menciptakan langit dan bumi, sesungguhnya Dia tidak mengurangi apa yang ada di tangan kanan Nya.

Hr Bukhari di Kitabut Tauhid bab lima Khalaqtu bi Yadi.

Wajib bagi seorang Muslim mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki tangan, sebagaimana pengkabaran Al Qur’an dan Sunnah, tanpa menyimpang kan makna atau memaknai dengan makna lain, dan menyerahkan hakikat nya kepada Allah, dan tidak membagaimanakan.

Dan semua itu sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Doa Berlindung dari Syirik

Doa Berlindung dari Syirik

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

Allaahumma innii a’uudzu bika an usyrika bika wa anaa a’lam, wa astagh-firuka limaa laa a’lam.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui” .

(HR. Ahmad dan imam yang lain 4/403, lihat Shahihul Jami’ 3/233, dan Shahihut Targhrib wat Tarhib oleh Al-Albani 1/19)

Sifat Wajah Bagi Allah

كتاب شرح العقيدة الواسطية

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Sifat Wajah bagi Allah.

و يبقى وجه ربك ذو الجلال و الاكرام

Dan kekallah Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.

Qs at Rahman ayat 27.

Dengan membaca ayat ini, maka akan jelas kekuarangan makhluk dan kesempurnaan Khaliq (Allah).

Wajah maknanya sudah di fahami.

Hanya saja, bentuknya tidak di ketahui bagaimana bentuk Wajah Allah.

Sebagaimana sifat Nya, kita beriman kepada sifat sifat Allah, termasuk sifat Wajah, dan tentu dengan semua sifat kesempurnaan bagi Nya, kemuliaan, dan kebesaran Nya.

Jika seorang membayangkan wajah Allah dengan hati dan membicarakan nya dengan lisan, maka ia telah berbuat Bid’ah, dan berbicara tentang Allah tanpa ilmu.