Hukum Kalung dan Gelang Kesehatan

Hukum Kalung & Gelang Kesehatan

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Apakah Syirik memakai kalung yang zaman sekarang diperjualbelikan terbuat dari batu yang katanya untuk menyerap penyakit?

Jawab: Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh. Belakangan ini banyak orang menggunakan kalung, gelang atau benda-benda lainnya yang diyakini dapat menjadi sebab kesembuhan bagi suatu penyakit. Namun sebelum menyimpulkan hukumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa dalam syariat hanya ada dua sebab yang boleh ditempuh yaitu:

(1). Sebab yang Syar’i (disyariatkan)
(2). Sebab yang Kauni (terbukti melalui penelitian)

Sebab yang Syar’i yaitu sebab yang ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an was Sunnah bahwa sesuatu itu dapat menjadi sebab yang mendatangkan kesembuhan dari Allah. Contohnya seperti Ruqyah Syar’iyyah, berbekam, minum air zam-zam atau mengkonsumsi madu.

Sedangkan sebab yang Kauni yaitu sebab yang terbukti melalui penelitian para ahli bahwa sesuatu itu dapat menjadi sebab yang berpengaruh atau mengobati penyakit. Contohnya seperti pengobatan medis, pengobatan herbal, atau sebab yang jelas hubungan sebab akibatnya selama tidak menyelisihi Syariat.

Maka apabila kalung atau gelang batu yang dipakai untuk pengobatan itu tidak ditunjukkan secara Syar’i atau tidak terbukti secara kauni maka penggunaannya dilarang karena tergolong Syirik. Hal ini juga berlaku bagi benda-benda lainnya atau sebab-sebab yang lain seperti keris, centong, peniti, tali atau air yang dijampi-jampi dengan cara yang tidak Syar’i.

Akan tetapi apabila gelang atau kalung kesehatan itu terbukti secara kauni dapat berpengaruh bagi aliran darah atau mengendurkan saraf setelah diteliti oleh para ahli maka hukum memakainya diperbolehkan.

Namun perlu diingat, sekuat apapun sebab yang ditempuh baik yang Syar’i maupun yang Kauni, tetap kesembuhan itu diyakini hanya datang dari Allah. Karena hanya Allah yang menentukan sebab itu berpengaruh atau tidak. Jika Allah menghendaki sebab itu tidak berpengaruh bagi penyakit maka obat yang paling Syar’i dan mujarab sekalipun tidak akan menjadi sebab kesembuhan sama sekali. wa Billahit Tawfiq.

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Hukum Kalung dan Gelang Kesehatan

Hukum Kalung & Gelang Kesehatan

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Apakah Syirik memakai kalung yang zaman sekarang diperjualbelikan terbuat dari batu yang katanya untuk menyerap penyakit?

Jawab: Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh. Belakangan ini banyak orang menggunakan kalung, gelang atau benda-benda lainnya yang diyakini dapat menjadi sebab kesembuhan bagi suatu penyakit. Namun sebelum menyimpulkan hukumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa dalam syariat hanya ada dua sebab yang boleh ditempuh yaitu:

(1). Sebab yang Syar’i (disyariatkan)
(2). Sebab yang Kauni (terbukti melalui penelitian)

Sebab yang Syar’i yaitu sebab yang ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an was Sunnah bahwa sesuatu itu dapat menjadi sebab yang mendatangkan kesembuhan dari Allah. Contohnya seperti Ruqyah Syar’iyyah, berbekam, minum air zam-zam atau mengkonsumsi madu.

Sedangkan sebab yang Kauni yaitu sebab yang terbukti melalui penelitian para ahli bahwa sesuatu itu dapat menjadi sebab yang berpengaruh atau mengobati penyakit. Contohnya seperti pengobatan medis, pengobatan herbal, atau sebab yang jelas hubungan sebab akibatnya selama tidak menyelisihi Syariat.

Maka apabila kalung atau gelang batu yang dipakai untuk pengobatan itu tidak ditunjukkan secara Syar’i atau tidak terbukti secara kauni maka penggunaannya dilarang karena tergolong Syirik. Hal ini juga berlaku bagi benda-benda lainnya atau sebab-sebab yang lain seperti keris, centong, peniti, tali atau air yang dijampi-jampi dengan cara yang tidak Syar’i.

Akan tetapi apabila gelang atau kalung kesehatan itu terbukti secara kauni dapat berpengaruh bagi aliran darah atau mengendurkan saraf setelah diteliti oleh para ahli maka hukum memakainya diperbolehkan.

Namun perlu diingat, sekuat apapun sebab yang ditempuh baik yang Syar’i maupun yang Kauni, tetap kesembuhan itu diyakini hanya datang dari Allah. Karena hanya Allah yang menentukan sebab itu berpengaruh atau tidak. Jika Allah menghendaki sebab itu tidak berpengaruh bagi penyakit maka obat yang paling Syar’i dan mujarab sekalipun tidak akan menjadi sebab kesembuhan sama sekali. wa Billahit Tawfiq.

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Doa Memohon Anak Shaleh

DAILY DO’A

Doa Memohon Anak Shaleh – (Doa Nabi Dzakariya)

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Robbi hab lii mil-ladunka dzurriyyatan thoyyibah, innaka samii’ud-du’aa’.

Ya Rabb-ku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Doa. (Ali Imran [3]: 38).

Semoga bermanfaat. Barakallah Fiikum

Sumber: HaloUstadz

Hukum Mengatakan Allah ada Dimana-mana

Pertanyaan.
Dalam sebuah siaran radio ditampilakan kisah dengan menggunakan kata-kata : Seorang anak bertanya tentang Allah kepada ayahnya, maka sang ayah menjawab : “Allah itu ada dimana-mana”. Bagaimana pandangan hukum agama terhadap jawaban yang menggunakan kalimat semacam ini?

Jawaban.
Jawaban ini bathil, merupakan perkataan golongan Bid’ah dari aliran Jahmiyah dan Mu’tazilah serta aliran lain yang sejalan dengan mereka. Jawaban yang benar adalah yang diikuti oleh Ahli Sunnah wal Jama’ah, yaitu Allah itu ada di langit diatas Arsy, diatas semua mahlukNya. Akan tetapi ilmuNya ada dimana-mana (meliputi segala sesuatu).Hal ini sebagaimana disebutkan didalam beberapa ayat Al Qur’an, hadits-hadits Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, Ijma’ dari pendahulu umat ini. Sebgaimana contoh adalah firman Allah Azza wa Jalla.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy” [Al A’raf/7 : 54]

Didalam Al Qur’an ayat ini tersebut pada 6 tempat. Yang dimaksud dengan “bersemayam” menurut Ahli Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas Arsy sesuai dengan keagungan Allah. Tidak ada yang dapat mengetahui bagaimana bersemayamnya itu, seperti dikatakan oleh Imam Malik ketika beliau ditanya orang tentang hal ini. Beliau menjawab:

اْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Kata bersemayam itu telah kita pahami. Akan tetapi, bagaimana caranya tidak kita ketahui. Mengimani hal ini adalah wajib, tetapi mempersoalkannya adalah Bid’ah“.

Yang beliau maksudkan dengan mempersoalkannya adalah Bid’ah yakni mempersoalkan cara Allah bersemayam diatas Arsy. Pengertian ini beliau peroleh dari gurunya, Syaikh Rabi’ah bin Abdurrahman yang bersumber dari riwayat Ummu Salamah Radhiallahu anha. Hal ini merupakan pendapat semua Ahli Sunnah yang bersumber dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dan para tokoh Islam sesudahnya. Allah telah menerangkan pada beberapa ayat lainnya bahwa Dia dilangit dan Dia berada diatas, seperti dalam firmanNya:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” [Faathir/35:10]

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” [Al Baqarah/2:255]

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴿١٦﴾أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?, Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku” [Al Mulk/67:16-17]

Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang dengan jelas memuat penegasan bahwa Allah itu ada di langit, Dia berada diatas. Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud oleh ayat-ayat yang menggunakan kata-kata bersemayam. Dengan demikian dapatlah diketahui perkataan Ahlu Bid’ah : Allah itu berada dimana-mana, merupakan hal yang sangat Bathil. Perkataan ini merupakan pernyataan Firqoh yang beranggapan bahwa alam ini penjelmaan Allah, suatu aliran Bid’ah lagi sesat, bahkan aliran Kafir lagi sesat serta mendustakan Allah dan RasulNya Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Dikatakan demikian karena dalam riwayat yang sah dari beliau Shalallahu alaihi wa sallam dinyatakan bahwa Allah ada dilangit, sebagaimana sabda beliau Shalallahu alaihi wa sallam :

أَلاَ تَأْمَنُوْنِي وَ أَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah kepercayaan dari Tuhan yang ada di langit“. [Bukhari no.4351 Kitabul Maghazi ; Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]

Hal ini juga disebutkan pada hadits-hadits (tentang) Isra’ Mi’raj, dan lain-lain.

[Majallatuud Dakwah no.1288]

Dijawab oleh:
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Sumber: https://almanhaj.or.id/58-hukum-mengatakan-allah-ada-dimana-mana.html

Mencari Kehalalan dalam Rezeki

Fawaid

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


[3/1 12.58] xxxx: Tadi saya di tawari proyek pemerintah 10M..di dada rodok mak seerrr pengen. tp, alhamdulilah Age2 di tolak,tadz…tiap hari ngaji kalau urusan duit sik rodok keder..tadz..
[3/1 13.00] abdurrahmanabu47: Masya Alloh. Bila tidak ada Syubhat… Terima saja .. tinggal tata hati.

(salah satu percakapan WA kami dengan seorang saudara kita di kota P).


Salah satu nama dan sifat Allah taala adalah,

الرزاق

Ar Razzaq yang bermakna yang banyak memberikan rezeki.

Ia adalah Mubalaghah dari kata,

الرازق

Ar Raaziq, yang memberikan rezeki.

yang bermakna banyak, yakni banyaknya rezeki Allah kepada para hamba Nya.


Menjadikan seorang hamba yakni akan “panduman” (jatah) rezeki dari Allah.

Ia meyakini dengan menempuh jalan yang tidak Halal, tidak akan menambah rezekinya, dan sebaliknya, bila ia berada pada kehalalan, tidak mengurangi jatah rezeki nya.


Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sady rahimahullah berkata,

فالله تعالى قد تكفل بارزاقهم ، و اقواتهم ، فرزقهم على الله

Maka Allah ta’ala telah menanggung rezeki dan makanan mereka (hamba Nya), dan rezeki mereka atas penanggungan Allah.

Tafsir Taisir Karimi Rahman fi Tafsir Kalamim Manan 422.


Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda,

إن نفساً لا تموت حتى تستكمل رزقها

Bawasanya tidak mati satu jiwa sampai di sempurnakan rezekinya.

Hr Thabarani.



Hari ini amat sulit kita mencari seorang yang berhati-hati dalam mencari kehalalan rezeki, kecuali orang orang yang di rahmati Allah.

Maka hendaknya setiap kita, melihat kepada apa yang kita makan dan minum, apakah itu Halal atau Haram, atau bahkan Syubhat.

Seorang wanita Salaf berkata pada suaminya, bahwa ia bisa bertahan dari lapar namun tidak bisa bertahan dari nerakanya Allah.

Sebuah nasehat bagi yang menulis dan yang membaca, agar kita bertaqwa kepada Allah, dari keharaman dan Syubhat.

Kapan Mulai Mengenalkan Ibadah kepada Anak

KAPAN MULAI MENGENALKAN IBADAH KEPADA ANAK?

Oleh: Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Hal ini sangat penting diketahui oleh orang tua, karena orang tua lah yang diamanahi untuk menjaga fitrah anak, jangan sampai fitrahnya berubah menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi atau Ateis karena kelalaian orang tua yang tidak mau menjaga kesucian hati buah hatinya.

Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wata’ala menciptakan manusia agar beribadah hanya kepada-Nya, tidak menyekutukan Dia dengan siapa pun dari makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.(QS. al-Bayyinah: 5)

Apakah Ibadah Itu?
Ibadah bukan hanya shalat atau mengerjakan rukun Islam saja, tetapi makna ibadah yang luas ialah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, seperti yang dijelaskan oleh ahli tafsir semisal al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 6/108)

Dan yang lebih jelas lagi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata, bahwa ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. (Lihat Iqtidha Sirath al-Mustaqim). Dengan demikian, ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan.

Dengan dasar makna ibadah di atas anak hendaknya dibimbing dalam ibadah semenjak dia punya perhatian atau mengerti, walaupun belum sempurna akalnya. Karena ibadah bukan hanya gerakan anggota badan, tetapi perkataan dan keyakinan dalam hati.

Diantara bentuk ibadah yang harus mulai diajarkan orangtua kepada anaknya adalah:

• Anak Dilatih Bicara Yang Baik.

• Anak Dilatih Agar Takut Kepada Allah.

• Anak Dilatih Mengenal Amalan Shalat.

• Anak Hendaknya Diajari Mengenal Allah Azza wajalla.

• Membiasakan Mengamalkan Sunnah Semampunya.

• Dilarang Banyak Gurau Dan Tertawa.

• Jangan Membebani Amal Ibadah Diluar Kemampuannya si anak.

Dan masih banyak lagi.

Semoga bermanfaat.
Sumber: maribaraja.com

Cara Memanfaatkan Waktu Ba’da Ashar Sampai Maghrib di Hari Jum’at

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً، لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Hari Jum’at itu dua belas saat, tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah (pada salah satu saat) kecuali Allah akan mengabulkan permohonannya, maka carilah (waktu pengabulan itu) di akhir saat setelah Ashar.” [HR. An-Nasaai dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 703]

At-Tirmidzi rahimahullah berkata,

ورأى بعض أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وغيرهم أن الساعة التي ترجى بعد العصر إلى أن تغرب الشمس

“Dan sebagian ulama, baik dari kalangan sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam maupun selain mereka berpendapat bahwa waktu yang diharapkan terkabulnya doa tersebut adalah ba’da Ashar sampai matahari terbenam.” [Shahihut Targhib, 1/171]

Penjelasan:

1. Zhahir, yang nampak jelas bahwa makna hadits ini mutlak (umum), berdoa setelah Ashar sampai Maghrib dapat dilakukan kapan dan di mana saja.

2. Apabila dilakukan setelah sholat Ashar sambil menunggu sholat Maghrib di masjid maka ini lebih besar peluang dikabulkannya, karena orang yang menunggu sholat sama dengan orang yang sedang sholat.

3. Apabila sakit maka boleh dilakukan di rumah, lebih baik dilakukan di tempat ia melakukan sholat Ashar sambil menunggu Maghrib.

4. Seorang wanita juga dianjurkan untuk menunggu sholat Maghrib di tempat ia sholat Ashar di rumah seraya berdoa kepada Allah ta’ala.

5. Datang ke masjid lebih awal sebelum sholat Maghrib dengan maksud untuk berdoa setelah melakukan sholat Tahiyyatul masjid.

[Disarikan dari Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibni Baz rahimahullah, 30/270-271]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber: Telegram Mulia Dengan Sunnah

Sebuah Hiburan Bagi Kesedihan

Fawaid Edisi Khusus


Sebuah Hiburan Bagi Kesedihan.

Ustad Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.




Saat nabi mengalami pemboikotan, ditinggal wafat kedua pembelanya, Abu Thalib dan istrinya Khadijah Ummul mu’minin, dan terasa tidak ada lagi baginya penerimaan kaumnya, dan beliau yakin tidak ada yang mendukung dakwahnya di kalangan manusia, dan membuncah kesedihan atas semua itu.

Beliau melakukan perjalanan menuju Thaif, satu tempat yang jaraknya 80 km dari Makkah dengan berjalan kaki.

Kesedihan beliau bertambah dengan penolakan orang-orang Thaif, bahkan mereka mengusirnya dengan lemparan batu.

Namun Allah tidak membiarkan kekasih Nya bersedih terlalu lama.

Datanglah hiburan bagi kesedihan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.


Berupa datangnya malaikat Jibril dan malaikat gunung.

Kedua, beliau di tolak oleh orang-orang Thaif, namun, beliau di terima dakwahnya oleh sekumpulan jin yang menyatakan keimanannya kepada beliau shalallahu alaihi wa salam, lihat surah Al Haqqof ayat 29-32.

Dan kegembiraan ketiga, saat beliau berlindung dari pengusiran di perkebunan anggur keluarga Utbah, dengan kondisi tubuh berdarah darah, datang seorang budak yang berasal dari negeri Ninawa, negerinya Yunus alaihi salam, budak keluarga Utbah.

Setelah mereka bercakap-cakap, dan Budak yang bernama Addas (biografi beliau di terangkan dalam Al Ishabah 4/227), mengetahui bahwa di depannya adalah seorang rasul, ia mencium kaki Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan menyatakan diri masuk Islam.

Lihat Fiqih Sirah hal 219-224.

Demikian juga dengan Yunus bin Matta alaihi salam, saat beliau marah pada kaumnya, karena penolakannya.

Dalam kesedihan itu, dan telah yakin akan di dustakannya risalahnya, beliau meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah.

Saat beliau naik dalam bahtera, beliau menemui kesedihan berikutnya, bahwa ia harus di lemparkan kedalam lautan, tidak hanya itu.

Ikan besar bersiap menelannya, dan ia hidup dalam tiga kegelapan, kegelapan malam, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan perut ikan.

Namun, Allah melihat hamba hamba Nya, dan Yunus termasuk orang yang shalih dan ahli berdzikir dan bertasbih.

Allah mengeluarkan beliau dari perut ikan dalam keadaan sakit, lalu Dia maha kasih pada hamba Nya itu, dan berkenan memberi kan padanya kesenangan barang sedikit sebagai pelipur kesedihan.

Di tumbuhkan Nya pepohonan dari jenis labu untuk pemulihannya, dan tidak hanya itu.

Beriman setelahnya, Beratus-ratus orang dari manusia atas risalahnya.

Lihat kisah sepenuhnya di surah As Shaafaat ayat 139-148.

Demikian dengan Ibrahim alaihi salam, Zakaria dan istrinya alaihimus salam, Musa dan Isa alaihimus salam.

Juga Yusuf alaihi salam, Yusuf putra Ya’kub alaihimus salam.

Teladan dalam kesabaran, saat di kucilkan, di aniayah, dan di pisahkan dari orangtua dan kampungnya, oleh orang-orang terdekatnya, yakni saudara-saudaranya.

Lalu, bertubi-tubi musibah dan ujian mendera.

Namun pada akhirnya, bukan hanya saudaranya, bahkan seluruh negeri tunduk padanya, dengan semua karunia Allah.


Demikian lah kehidupan itu wahai saudaraku.

Tidak mungkin kita tetap pada satu keadaan, kesedihan dan kebahagiaan itu pasti silih berganti.

Di hina dan di rendahkan, di tinggalkan orang-orang terdekat, tidak ada penolong dan tempat berbagi kesedihan saat ujian menimpa.

Mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang yang kita kenal, teman, Karib, suami, anak, dan sahabat sahabat dekat.

Demikian juga saat dakwah kita di tolak oleh orang-orang yang kita cintai dari kerabat dan kaum kita, kita menginginkan kebaikan bagi mereka, namun perlakuan buruk kita terima.

Dan anda dapat menambahkan semua contoh contoh dalam kehidupan nyata anda atau orang terdekat anda.

Sore ini, saat kami berbaring, teringat beberapa ayat di dalam surah Al Kahfi, surah penghibur bagi hati yang sedih.

Yang tertatih dalam kebaikan dan terjauhkan karena penolakan dan perendahan, serta di tinggalkan orang-orang terdekat.

Itulah yang di rasa Ashabul Kahfi, saat mereka menegakkan kakinya, dan menyerukan keimanan mereka pada kaumnya.

Di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung harapan kebaikan dan optimisme bagi orang-orang yang terpinggirkan karena peremehan pemilik kebun.

Ia berkata,

فعسى ربي أن يؤتين خيرا من جنتك

Maka semoga Rabbku akan mendatangkan padaku apa yang lebih baik dari kebunmu.

سورة ١٨ الكهف ٤٠.

Juga harapan hamba yang shalih, teman seperjalanan Musa alaihimus salam, dalam ilmu dan hikmah.

Ketika ia di tanyakan tentang anak dan kesudahannya bagi orang tuanya yang shalih,

فأردنا أن يبد لهما ربهما خيرا منه زكوة و أقرب رحما

Dan kita berharap semoga Rabb keduanya mengantikan bagi keduanya seorang anak yang lebih tulus dalam mencintai mereka, dan lebih dekat kasihnya.

سورة ١٨ الكهف ٨١.

Ada satu kata dari dua ayat di surah yang sama ini,

خيرا من …

Apa yang lebih baik dari…

Dan,
خيرا منه

Yang lebih baik dari nya…



Allahu Akbar….



Wahai orang-orang yang bersedih dalam kecewa, terhempas semua asa dan cita, dan orang-orang yang memiliki kesedihan yang membuncah.

Orang-orang yang memulai langkah untuk belajar tentang keikhasan dan tabiat kehidupan.

Ingatlah Rabb mu.

Dialah yang membuat seorang hamba tertawa dan menangis, maka Dia juga lah tumpuan harapan dan asa itu.


Boleh jadi, kekecewaan itu akan berbuah manis dengan warna dan kondisi yang lain.

Saat orang berharap pada “A” ternyata, ia menemukan kasih Allah itu pada kondisi “B”.

Saat engkau di uji dengan anak, boleh jadi Allah membahagiakan mu dengan menantu dan cucu-cucu yang berbakti.


Saat ujian itu dari sisi suami, boleh jadi Allah menjadikan kebahagiaan itu pada berbakti nya anak dan perhatian teman-teman yang banyak.

Saat engkau di remehkan, di rendahkan, dan tidak di hargai keberadaanmu di sisi kaummu, boleh jadi, di tempat lain, orang orang menanti dan menerima dakwahmu.


Ingat wahai saudaraku, hanya kepada Allah pemilik Arsy yang agung, pemegang kunci kunci perbendaharaan, kepada Nya semua harapan tergantung, semua asa kembali, dan harapan itu ada.

Ingatlah, makhluk hanya hamba, tidak memiliki apa apa, jangan gantungkan semua hal dan harapan kepada mereka, harapan kepada mereka adalah hal yang tiada akan terpenuhi.

Dan dengannya, Allah memberikan pelajaran terpenting dalam hidup.

Hendaknya semua ketergantungan itu di serahkan kepada Allah, bukan sesama hamba.

Dan biarpun, hiburan itu tidak di dunia ini, seorang Muslim masih punya Akhirat.

Disana, harapan itu, di Surga tertinggi di sisi Allah, dan kesudahan yang baik bagi orang-orang bertaqwa.


Mari belajar kembali menata hati dan kedekatan dengan Allah, disanalah kebahagiaan dan harapan terpaut bagi hamba.





Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabb nya.

pencari ilmu Syar’i
Seputar tanya jawab keislaman:

https://bit.ly/2tW8u3N

Dijawab oleh :
Ust Abu Abdurrahman.

Penggunaan Istilah Murtad Terhadap Orang Lain

Fatawa Ulama

PENGGUNAAN ISTILAH MURTAD TERHADAP ORANG LAIN
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
https://t.me/almanhajaqidah

Pertanyaan.
Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Fadhilatus Syaikh, siapakah yang layak dikatakan Murtad ? Kami ingin Anda menguraikannya dengan jelas. Karena beberapa orang telah divonis Kafir dengan alasan yang masih samar.

Jawaban.
Menetapkan hukum Murtad dan keluar dari agama atas seseorang merupakan kewajiban ahli ilmu yang matang ilmunya. Mereka adalah para Qadhi di mahkamah-mahkamah Syar’i dan para Mufti yang diakui kepiawaiannya. Masalah ini tidak jauh berbeda dengan masalah-masalah agama lainnya. Tidak semua orang berhak berkomentar di dalamnya, termasuk juga para penuntut ilmu yang masih dalam taraf pemula atau orang-orang yang mengaku ulama namun pengetahuan agamanya masih dangkal.

Mereka tidak punya wewenang membicarakan masalah ini. Sebab jika mereka berkomentar juga, maka bisa menimbulkan kerusakan dan akhirnya beberapa kaum Muslimin divonis Murtad padahal sebenarnya tidak begitu ! Pengkafiran seorang Muslim yang tidak melakukan salah satu dari pembatal ke-Islaman merupakan bahaya yang sangat besar.

Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya : Yaa Kafir, yaa Fasik ternyata tidak demikian maka perkataan itu akan kembali kepadanya. Orang yang berhak menjatuhkan vonis Murtad adalah para Qadhi dan Mufti yang diakui kepiawaiannya dan pelaksana hukuman tersebut adalah para penguasa (Pemerintah). Selain prosedur di atas, pasti hanya menimbulkan kekacauan belaka.

[Disalin dari kitab Muraja’att fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah,, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari].

Pendangkalan Aqidah Berkedok Karomah

Pendangkalan Aqidah Berkedok “Karomah”

Al-Imam Asy-Syafii:

 إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة 

“Apabila kalian melihat ada orang yang bisa berjalan di atas air dan terbang di udara (yakni membuat keanehan-keanehan) maka janganlah kalian terpedaya olehnya (mengklaimnya sebagai wali Allah) sampai kalian periksa amalannya apakah mencocoki Al-Qur’an dan petunjuk Nabi ﷺ” (Tafsir Ibnu Katsir 1/233).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

لا يكون وليا لله إلا من آمن بالرسول وبما جاء به واتبعه باطنا وظاهرا ومن ادعى محبة الله وولايته وهو لم يتبعه فليس من أولياء الله؛ بل من خالفه كان من أعداء الله وأولياء الشيطان قال تعالى: قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله 

“Tidaklah seseorang menjadi wali Allah kecuali apabila dia beriman kepada Rosul, beriman dengan apa yang dibawa olehnya, dan mengikuti beliau lahir batin. Siapa saja yang mengaku cinta Allah dan wali-Nya tetapi kenyataannya dia tidak mengikuti ajaran beliau maka dia bukan wali Allah. Bahkan siapa saja yang menyelisihi ajaran beliau maka dia termasuk musuh Allah dan wali Syaithon. Allah berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian”.” (Al-Furqon Baina Awliya’irrohman wa Awliya’issyaithon hal. 121).

Al-Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi:

فمن اعتقد في بعض البله أو المولعين -مع تركه لمتابعة الرسول في أقواله وأفعاله وأحواله- أنه من أولياء الله ، ويفضله على متبعي طريقة الرسول صلى الله عليه وسلم ، فهو ضال مبتدع مخطئ في اعتقاده

“Siapa saja yang meyakini sebagian orang-orang dungu sebagai wali-wali Allah padahal mereka meninggalkan ajaran Nabi dalam perkataannya, perbuatannya, keadaannya, dan diyakini kedudukannya lebih utama daripada orang-orang yang mengikuti jalannya Rosul ﷺ maka dia adalah orang yang sesat ahli Bid’ah menyimpang Aqidahnya.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyyah 2/769).

Maka jangan Anda terperdaya oleh keanehan-keanehan wali Syaithon, sebab Karomah yang datang dari Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang bertauhid dan berpegang dengan Sunnah (petunjuk) Nabi ﷺ untuk menolong agama-Nya.

Namun ada Karomah yang paling besar yang luput dari pandangan banyak orang yaitu Karomah Istiqomah sebagaimana yang disampaikan oleh para Ulama:

أعظم الكرامة لزوم الاستقامة

“Seagung-agungnya Karomah para wali adalah menetapi Istiqomah.” (Madarijussalikin 2/106).

Yakni Istiqomah di atas Tauhid dengan meninggalkan Syirik dan Istiqomah mengikuti Sunnah dengan meninggalkan Bid’ah, meski dia tidak pernah berjalan di atas air atau terbang di udara. Inilah wali Allah yang sesungguhnya.

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Kajian Aqidah

Kajian Aqidah

العقيدة الواسطية

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Berkata imam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rahimahullah,


و قوله

Dan firman Nya,

إن الله هو الرزاق ذو القوةالمتين

Sesungguhnya Allah dialah Ar Razaaq lagi Dzu Quwwatil Matiin

Qs Adz-zariyat 58.


Syarah singkat:


القوة
Inilah penetapan bagi Allah akan sifat Al Quwwah (pemilik kekuatan).


الرزاق

Bermakna sangat memberi rezeki.

Yakni makhluk butuh akan rezeki Allah, sedang Allah tidak butuh dan berharap rezeki (sesaji) dari makhluk Nya.

Rezeki ada dua.

Rezeki umum,

yakni yang terkait urusan dunia.

Seperti harta, kesehatan, dan kelapangan, kedudukan dan semisalnya.

Di dalamnya berserikat orang beriman dan Kafir.


Rezeki khusus,

yang terkait agama, keselamatan, iman, amal shalih, kehalalan dan semisalnya.

Dan rezeki wajib di cari sebagai sebab, sebagaimana pengampunan yang di harapkan kepada Allah.


ذو القوة

Terkait sebelumnya, bahwa manusia itu lemah asalnya, ia tidak sanggup kecuali dengan pertolongan Allah.

Dalam pembahasan ini, ada tiga penetapan bagi Allah sifat.

Yakni Ar Rizqu, Al Quwwah, dan Al Matiin.

Yakni seorang hamba mengaitkan segala rezeki, menyandarkan hidup dan mencari kekuatan disisi Allah.

Bukan Sebuah Toleransi, Namun Kekufuran

OASE KEHIDUPAN.


Bukan Sebuah Toleransi, namun Kekufuran.

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Allah Subhanahu wa taala berfirman,

Mengingatkan makar orang-orang Kafir,

و دوا لو تدهن فيدهنون

Dan mereka berharap kalian bersikap mencari muka / lunak kepada mereka (orang Kafir) sehingga mereka pun bersikap lunak.

Qs Al Qolam 9.


Syaikh Shaleh bin Abdullah bin Humaid berkata,

“Makanya, mereka orang Kafir berharap kamu dapat condong kepada mereka, dan berharap kamu meninggalkan kebenaran yang ada padamu, sebab itu mereka menampakkan kelembutan padamu agar kamu condong kepada mereka”.

Tafsir Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh.



Bangsa yang terjajah adalah bangsa yang mewarisi sifat sifat rendah diri, bahkan pada penjajahnya.

Dan kita melihat hari ini, apa yang datang dari orang Kafir, serasa indah, maju, dan berperadaban.

Lebih dari itu, rasa rendah diri itu, juga muncul pada rana agama.

Sehingga muncul rasa cari muka dan merasa rendah pada Kekafiran dan orang Kafir.


Musibah kedua, orang-orang yang dijadikan panutan dari kalangan tokoh agama, malah menghasung Kemungkaran, bahkan itu adalah Kekafiran.

Agar kita sedikit bersikap longgar, ndepe-ndepe di depan orang Kafir.

Dan merasa sungkan, bila tidak ikut “bertoleransi” (?)

Akhirnya muncul musibah, kaum muslimin di paksa, untuk wajib ikut merayakan natal, ikut kebaktian, mengisi acara gereja, minimal sungkan untuk tidak mengucapkan Natal dan ikut Tahun Baru.

Hal ini di sadari atau tidak merupakan kekufuran.

Sementara, mereka para tokoh, seakan tidak bisa makan, kecuali mengemis di depan pintu-pintu Gereja dan tempat penyembahan berhala, dan mengiring ummatnya dan menjual mereka, untuk kepentingan dunia mereka.

Yang di giring bak kerbau yang tidak berakal karena telah tergadaikan agama nya kepada Kyai (?).

Sementara, Kyainya adalah tokoh-tokoh jahat, yang mempolitisir ummat untuk kepentingan dunianya.


Ya Allah kami berdoa kepada Mu, siapapun yang menginginkan keburukan bagi kaum Muslimin, kembalikan keburukan itu pada mereka,


اللهم من ارد للمسلمين سوء فاشغله في نفسه

و رد كيده في نخر

و أجعل تدبيره تدميرا عليه.



Subuh, Sidoarjo

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabb nya.

Hukum Orang yang Menganggap Ahlus Sunnah Tidak Layak Diterapkan Sekarang Ini

HUKUM ORANG YANG MENGANGGAP MANHAJ AHLUS SUNNAH TIDAK LAYAK DITERAPKAN SEKARANG INI.
https://t.me/almanhajaqidah

Pertanyaan.
Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Sebagian orang menyangka bahwa pedoman Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak layak diterapkan pada masa sekarang ini. Mereka beralasan bahwa kaidah-kaidah yang ditetapkan Ahlus Sunnah tidak mungkin dilakukan pada hari ini?

Jawaban.
Yang menganggap pedoman Salafus Shalih tidak layak diterapkan pada zaman sekarang adalah orang yang sesat lagi menyesatkan. Bukankah pedoman Salafus Shalih yang telah diperintahkan Allah supaya diikuti hingga akhir zaman?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya siapa saja yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Rasyidin setelahku. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi gerahammu (sungguh-sungguhlah).”

Inilah merupakan pernyataan yang ditujukan kepada segenap umat hingga hari Kemudian kelak. Dan sekaligus menunjukkan bahwa kaum Muslimin wajib menempuh pedoman Salafus Shalih. Dan penegasan bahwa pedoman Salafus Shalih layak diterapkan kapan dan dimana saja.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah” [At-Taubah/9:100]

Termasuk di dalamnya segenap umat hingga hari Kiamat nanti. Kaum Muslimin wajib mengikuti pedoman generasi awal umat ini dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Imam Malik pernah berkata, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang menjadikan baik generasi awalnya.”

Siapa saja yang berusaha memisahkan umat ini dari generasi awalnya, memisahkan mereka dari generasi Salafus Shalih berarti menghendaki keburukan terhadap kaum Muslimin. Sebenarnya ia menginginkan perubahan Dienul Islam dan mengada-adakan Bid’ah dan penyimpangan. Usahanya itu wajib ditolak dan dipatahkan argumennya serta memperingatkan umat dari bahayanya. Sebab kaum Muslimin wajib mengikuti pedoman Salafus Shalih dan berjalan di atasnya. Sebagaimana disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Siapa saja yang berusaha memutus hubungan antara generasi akhir umat ini dan generasi awalnya maka usaha dan propagandanya itu harus ditolak mentah-mentah dan harus diwaspadai bahayanya tanpa pandang bulu siapapun yang mempropagandakannya.

[Disalin dari kitab Muraja’att fi Fiqhil Waqi’ As-Siyasi wal Fikri ‘ala Dhauil Kitabi wa Sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, Penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifai. Penerbit Darul Haq – Jakarta, Penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Doa Mohon Ampunan Bagi Kedua Orangtua dan Kaum Mukminin



رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua Ibu Bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya Hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim: 41).

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hasyr: 10).

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, Ibu Bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan” (QS. Nuh: 28).

***

Dari buku “Doa & Wirid” karya Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawwaz, Pustaka Imam Asy Syafi’i

Artikel Muslim.or.id

Manhaj Al-Wala’ wal Baro’

Manhaj Al-Wala’ wal Baro’

Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fawzan berkata, “Manusia terbagi menjadi tiga kelompok terkait Al-Wala’ (loyalitas) dan Al-Baro’ (antipati):

(1). Orang yang dicintai dengan kecintaan yang murni dan tidak ada permusuhan terhadapnya. Mereka adalah kaum Mukminin yang tulus yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang sholih. Orang yang paling utama di antara mereka adalah Rosulullah ﷺ, wajib mencintai beliau melebihi kecintaan kepada diri sendiri, anak, orangtua dan manusia seluruhnya. Kemudian kecintaan kepada isteri-isteri beliau yaitu ummahatul Mukminin, ahli baitnya (keluarga beliau) yang baik, serta para shohabat beliau yang mulia, khususnya para khulafa’urrosyidin, sepuluh orang shohabat yang telah dijamin masuk Surga, kaum Muhajirin, kaum Anshor, para shohabat yang ikut perang Badr, Bai’aturridhwan, dan para shohabat secara keseluruhan. Kemudian para Ulama Tabiin dan generasi-generasi yang utama dan para Salaf serta para imamnya seperti Imam Madzhab yang empat yaitu Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, Ahmad.

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Robb kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati-hati kami terhadap orang-orang yang beriman, “Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

Orang yang di hatinya ada keimanan tidak akan membenci para shohabat, tidak akan membenci para Salaf. Kelompok yang membenci mereka hanyalah orang-orang yang menyimpang dan ada kemunafikan dalam dirinya, juga musuh-musuh Islam seperti Syiah Rofidhoh dan Khowarij. Kami memohon kepada Allah keselamatan.

(2). Orang yang dibenci dan dimusuhi tanpa adanya kecintaan dan loyalitas sama sekali. Mereka adalah Kuffar (orang-orang Kafir) tulen, Musyrikin, Munafiqin, orang-orang yang Murtad, orang-orang Atheis dengan segala macam jenisnya.

Allah berfirman, “Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22)

(3). Orang yang dicintai di satu sisi namun dibenci di sisi lain yakni terkumpul padanya kecintaan sekaligus permusuhan. Mereka adalah orang-orang Mukmin yang durhaka. Mereka dicintai karena keimanannya dan dibenci karena kedurhakaannya selain dosa kekufuran dan kemusyrikan. Kecintaan terhadap mereka mengharuskan untuk menasihati dan mengingkari mereka. Dan mereka tidak dibenci dan dimusuhi secara total seperti orang Kafir, namun juga tidak diberi loyalitas secara total akan tetapi Ahlussunnah menyikapi mereka dengan pertengahan.

Ibnu Abbas berkata, “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berloyalitas karena Allah, memusuhi karena Allah, maka dia akan memperoleh penjagaan dari Allah karena Al-Wala’ Wal Baro’-nya itu.” (Riwayat Ibnu Jarir)

Belakangan ini standar loyalitas dan persaudaraan umumnya hanya bersifat duniawi semata. Sungguh orang yang membangun persaudaraannya hanya karena dunia tidak akan memperoleh manfaat sedikitpun kelak di akhirat.” (Selesai dengan ringkas)

Demikian Manhaj Al-Wala’ Wal Baro’ yang menjadi kemestian dalam beragama. Akan tetapi loyalitas tidak berarti menjerumuskan seseorang kepada sikap membabi buta, dan antipati tidak menghalangi seseorang untuk berlaku adil sekalipun terhadap orang kafir.

https://t.me/manhajulhaq