• Jum. Sep 25th, 2020

Mabuk Cinta

Byadmin

Sep 14, 2020

FAEDAH & NASEHAT

πŸ’” MABUK CINTA

πŸ–ŠοΈUstad Abu Abd Rahman Bin Muhammad Suud Al Atsary.

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

Ψ£ΩˆΨ«Ω‚ ΨΉΨ±Ω‰ Ψ§Ω„Ψ§ΩŠΩ…Ψ§Ω† Ψ§Ω„Ψ­Ψ¨ في Ψ§Ω„Ω„Ω‡ و Ψ§Ω„Ψ¨ΨΉΨΆ في Ψ§Ω„Ω„Ω‡.

Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.

(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Sesungguhnya pangkal dari setiap perbuatan dan gerakan di alam ini adalah cinta dan keinginan. Keduanya adalah landasan dari setiap perbuatan dan gerak.

Pertemuan adalah sebuah hasil dari cinta dan keinginan.

Yang darinya seorang akan memilih,

Seorang yang tidak akan meninggalkan sesuatu yang di cintai, kecuali oleh sesuatu yang lebih di cintainya,

Sedang fungsi ilmu dan daya nalar (akal), memilih satu dari dua hal yakni apa yang lebih tinggi atau lebih rendah untuk di cintai.

Di sini seorang muslim di uji bagaimana ia mendudukkan sesuatu pada tempatnya dan bersikap adil dan pertengahan.

 

Kami (abu abd rahman) sebelumnya telah menulis pembahasan tentang cinta.

Di sini, kami akan menjelaskan sebab sebab seorang mabuk cinta (dalam makna tercela) dan memilih sesuatu yang kemanfaatan bagi dirinya yang tidak ada wujud secara nyata dan benar.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,
“Salah satu tipu daya setan adalah menimpakan (hembusan) kepada manusia mabuk cinta.

 

Yang dengannya menjadikan nafsu menghambakan diri kepada selain pencipta nya, yang menaklukkan hati kepada kekasih yang di cintai yang akan menimpakan kehinaan kepada dirinya, yang dengannya menyala api peperangan antara cinta kepada tauhid dan yang mengajak untuk memberikan kesetiaan kepada setan.

Kemudian ia menjadikan hati sebagai tawanan dari hawa nafsu, sebaliknya menjadikan hawa nafsu sebagai hakim terhadap urusannya,

Di penuhinya hati dengan bencana, di halanginya dari kebenaran dan jalan yang lurus,

Ia berteriak di pasar perbudakan, menawarkan hati dan menjualnya dengan harga murah.

Di berikannya imbalan kepada hati dengan imbalan rendah sebagai ganti imbalan yang tinggi, yakni kamar kamar di surga, dan lebih dari itu, kedekatan dengan Ar Rahman.

Kemudian hari merasa tenteram berada di sisi kekasih yang hina, padahal derita yang di rasa melebihi kenikmatan yang di peroleh, kedekatan dengan “kekasih itu” merupakan sebab terbesar kesengsaraan dirinya, aduh sengsaranya, alangkah cepat, kekasih menjadi musuh !?.

meninggalkan kekasih (sebelumnya) sampai sampai seperti tidak mengenali sebelumnya.

Andai seorang bisa bernikmat nikmat dengan “kekasih (palsu)” di dunia ini, tidak akan lama, ia pasti mendapatkan derita, terlebih saat menemui hari di mana para kekasih saling menjadi musuh bagi kekasihnya, kecuali orang orang bertaqwa.

Betapa meruginya seorang yang mabuk cinta, yang menjual dirinya kepada selain “kekasih pertama” dengan harga murah, dan kenikmatan sesaat,

Begitu hilang kelezatannya, meninggalkan tangung jawab, begitu hilang manfaat tinggal mudharat, begitu hilang kenikmatan tinggal kesengsaraan, begitu hilang kebahagiaan tinggal penyesalan.

Kasihanilah orang yang di mabuk cinta, ia mendapat dua siksaan dan duka cita sekaligus:

– duka, karena tidak mendapatkan “kekasih yang maha tinggi” dan kenikmatan abadi.

– duka, karena kepayahan (di dunia) dan siksa pedih (di akhirat) yang mesti ia tanggung.

Pada hari itu, orang orang yang tertipu mengetahui perdagangannya telah di sia siakannya, serta orang (kekasih) yang selama ini telah memperbudaknya dan telah menguasai hatinya, tidak layak dirinya menjadi pembantu (budak) dan pengikut orang semacam itu.

Duhai, musibah apa yang lebih besar dari pada raja yang di turunkan dari tahtanya, di jadikan tawanan oleh orang yang tidak pantas menjadi tuanya serta ia di paksa mematuhinya,

Ketika engkau melihat seorang semacam itu, niscaya engkau akan melihat (sebagaimana di katakan dalam syair),

“Ibarat burung di genggaman seorang bocah.

Yang menimpakan berbagai macam derita.

Sedang bocah itu bergembira dalam permainannya”.

Andai anda melihat tidur dan istirahat (orang yang di mabuk cinta), tentu anda akan melihat bahwa cinta dan tidur telah bersepakat untuk tidak akan saling bertemu (yakni jiwa orang yang mabuk cinta dalam syahwat tidak pernah menemui ketenangan).

Bila anda melihat tetesan air mata nya, dan panasnya kobaran api (siksaan) tentu anda akan berujar,

“Maha suci Rabb Arsy yang mencipta dengan sempurna.

Yang menjadikan hal hal berlawanan dalam satu bentuk.

Tetes air mata muncul dari gejolak api dalam jiwa.

Air dan api muncul dalam satu tempat”.

Andai kata anda bisa melihat masuknya cinta kedalam hati, maka anda melihat cinta lebih halus dari roh yang masuk kedalam badan.

Pantaskah seorang yang berakal, menjual “Raja yang di taati” (yakni keimanan kepada Allah) kepada yang akan menimpakan keburukan dan kepedihan siksaan (hati), dan menjadikan seorang hamba terjarak dengan tembok tebal antara dirinya dengan Maula yang Haq (Allah) yang senantiasa di butuhkan nya ?.

Seorang yang mabuk cinta (dengan kerendahan dan dosa serta maksiat) ibarat mayat bagi kekasihnya, ia adalah budak yang tunduk dan patuh kepadanya.

Jika ia di seru, ia datang menyambutnya (meskipun ia merasakan kesengsaraan jiwa), bila ia di tanya, “apa yang kamu angankan ?”, Maka sang kekasih (palsu) adalah puncak angan angan nya. Ia tidak memperoleh ketenangan dan ketentraman selain padanya (meskipun ketenangan itu adalah fatamorgana bagi dirinya).

Sungguh pantas (orang orang yang beriman lagi memiliki akal) tidak menyerahkan penghambaan dirinya kecuali kepada “kekasih” (Allah), dan tidak menjual bagian dari (kebahagiaan) dirinya dengan penukaran yang rendah”.

Kitab ighasatu lahafan hal 550.

Demikian gambaran gambaran jiwa yang terbelenggu dengan syahwat, kerendahan dan hawa nafsu.

Senantiasa ia ingin memuaskan “tuanya”, namun seakan ia tidak akan pernah cukup, sampai budak nya ini menemui kebinasaan dan kehancuran.

Semoga Allah memberikan kebaikan kepada kita semua, memberikan kepada kita keimanan dan juga akal yang sehat, sehingga ia mudah di ajak kepada kebaikan dan ketinggian martabat.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.