• Jum. Sep 25th, 2020

Ketidaktetapan Masa (Seorang Muslim Menyikapi Perubahan Hidup dan Kehidupan)

Byadmin

Agu 10, 2020 ,

Fawaid edisi khusus

Ketidak-tetap-an masa
(seorang muslim menyikapi perubahan hidup dan kehidupan).

๐Ÿ–Š๏ธUstad abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Allah subhanahu wa taala berfirman,

ูˆ ุชู„ูƒ ุงู„ุฃูŠุงู… ู†ุฏุงูˆู„ู‡ุง ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ.

Dan demikianlah hari hari itu Kami pergilirkan di antara manusia.

QS. 3 Ali Imran ayat 140.

Di sebutkan dalam sebuah syair:

Jangan bersedih, kehidupan ini pendek,
Anggap lah ringan berbagai peristiwa yang menghawatirkan dan tenanglah

Jika sesuatu yang tidak mampu kalian menolak nya datang,
Maka, janganlah bersedih terhadap apa yang di taqdir kan Allah dan bersabarlah#

Tidaklah kalian melihat, bahwa mencela itu manfaatnya sedikit,
Ketika sesuatu itu hilang dan pergi#

Maka, hal itu meninggalkan tangisan dan penyesalan,
Kemudian, tidak mengubah sedikitpun selain apa yang telah di taqdirkan.

Jamharah asy syair Arab 357.

Kata: ‘Perpisahan’, ‘kehilangan’, ‘kesedihan’, ‘kegagalan’, ‘penolakan’, ‘kerugian’, adalah contoh kata yang tidak pernah di senangi oleh manusia.

Manusia secara asal, selalu menginginkan kebaikan, kesentosaan, kebahagiaan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.

Namun, pertanyaan nya:

Adakah dalam kehidupan ini yang tetap ?.

Jawab : tidak ada.

Demikianlah kehidupan, mengajarkan kepada kita, tidak ada yang akan pernah tetap dalam satu kondisi.

Allah subhanahu wa taala telah menetapkan bahwa ‘hari’ itu, Allah pergilirkan di antara manusia.

Sedih gembira, bersama berpisah, untung rugi, sejahtera nestapa, mendapat atau kehilangan, semua itu hal yang lumrah dan menjadi ketetapan.



Semua ini, tidak lain adalah sebagai sebuah pelajaran, pengokohan hati, pelipur lara dan nestapa, serta memberikan pengajaran agar seorang bisa tegar dan tidak mudah bersedih atas kondisi yang menimpanya serta menjadikan setiap hamba ‘dewasa’ dengan perjalanan waktu.



Tidaklah engkau melihat, yang tidak berubah dari ciptaan Allah itu hanya taqdir itu sendiri dan kehidupan akhirat?.


Lihatlah engkau, akan perjalanan Nabi kita shalallahu alaihi wa salam,

Ketika Allah subhanahu wa taala berfirman kepada beliau, menjelaskan kondisi awal beliau,

ุง ู„ู… ูŠุฌุฏ ูƒ ูŠุชู…ุงู‹ ูุขุคู‰

Bukan kah Dia (Allah) telah mendapatimu dalam kondisi yatim, kemudian Dia mengambil sendiri pemeliharaan dirimu.

QS. Ad Dhuha Ayat 6.


Yakni, Allah menangung penghidupan mu sendiri, menjaga dan memelihara mu dari bahaya.



Lihatlah, bagaimana beliau lahir dalam kondisi yatim, tidak memiliki sosok orang tua sebagai sandaran, penopang dan tempat berlindung,

Namun Allah ingin menunjukkan kuasa Nya pada hamba pilihan Nya ini, shalallahu alaihi wa salam,

Allah mengambil pengasuhan, penjagaan dan pertolongan baginya sendiri,


Tidak hanya itu, apa yang telah di lalui Nabi shalallahu alaihi wa salam dalam kehidupan beliau, menjadikan beliau seorang yang kuat, tidak mudah putus asa, memiliki keyakinan kuat, dan tawakkal yang tinggi, dan tidak menyerah dengan perubahan perubahan masa.


Demikian juga dalam kehidupan Nabi Nabi terdahulu, alaihimus salam. Inilah Musa alaihi salam,

Ketika ibunya menghawatirkan akan keselamatan putranya, tidak ada jalan lain, kecintaan kepada putranya ini, dengan segala keterpaksaan menjadikan nya “berpisah”, dan ia tidak mengetahui kapan ‘kebersamaan’ dengan putranya ini akan terjadi,

Demikianlah Allah tidak ingin menjadikan kesedihan hamba wanita Nya ini (ibu Musa) berkelanjutan, serta melalui kenestaapaan yang tiada akhir,

Allah subhanahu wa taala menjelaskan kondisi mengharukan ini dengan firman Nya,

ูˆ ุงูˆุญูŠู†ุง ุงู„ู‰ ุฃู… ู…ูˆุณู‰ ุฃู† ุงุฑุถุนูŠู‡ ูุงุฐุง ุฎูุช ุนู„ูŠู‡ ูุงู„ู‚ูŠู‡ ููŠ ุงู„ูŠู… ูˆ ู„ุง ุชุฎุงููŠ ูˆ ู„ุง ุชุญุฒู†ูŠ ุฅู†ุง ุฑุงุฏูˆู‡ ุฅู„ูŠูƒ ูˆ ุฌุงุนู„ูˆู‡ ู…ู† ุงู„ู…ุฑุณู„ูŠู†.

Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa, hendaknya engkau menyusui nya, maka bila engkau merasa khawatir terhadap keselamatan nya, hendaknya engkau menghanyutkannya kedalam sungai, dan janganlah engkau takut dan bersedih, sesungguhnya Kami akan mengembalikan nya kepadamu, dan menjadikan nya seorang Rasul.

QS. Al-Qoshshas Ayat 7.


Inilah Yusuf bin Ya’kub alaihimus salam, ketika ia di pisahkan dari cinta kasih orang tuanya oleh orang terdekatnya (saudara saudara nya sendiri), di masukan ke dalam sumur untuk niat di bunuh, di ambil oleh pedagang untuk di jual sebagai budak, di jauhkan dari tanah kelahirannya,

Tidak selesai ujian bertubi itu,

Kemudian ia di besarkan di istana Mesir sebagai pelayan, di goda wanita, di fitnah dengan tuduhan perselingkuhan dan perbuatan keji, masuk penjara tanpa kesalahan.

Adakah di antara kita, yang kira kira kuat dengan ujian bertubi semacam itu?.

Namun, Allah tidak akan membiarkan semua itu berkelanjutan, hari pasti berubah menjadi lebih baik bagi orang orang yang bertaqwa dan bersabar,

ูˆ ู‚ุงู„ ูŠุง ุงุจุช ู‡ุฐุง ุชุงูˆูŠู„ ุฑุกูŠุงูŠ ู…ู† ู‚ุจู„ ู‚ุฏ ุฌุนู„ู‡ุง ุฑุจูŠ ุญู‚ุง ูˆ ู‚ุฏ ุงุญุณู† ุจูŠ ุฅุฐ ุงุฎุฑุฌู†ูŠ ู…ู† ุงู„ุณุฌู† ูˆ ุฌุงุกุจูƒู… ู…ู† ุงู„ุจุฏูˆ ู…ู† ุจุนุฏ ุฃู† ู†ุฒุน ุงู„ุดูŠุทุงู† ุจูŠู† ูˆ ุจูŠู† ุงุฎูˆุงุชูŠ ุฅู† ุฑุจูŠ ู„ุทูŠู ู„ู…ุง ูŠุดุงุก.

Dan berkatalah Yusuf, wahai bapakku, inilah adalah tawil mimpiku yang dahulu itu, dan sungguh Rabbku telah menjadikan kenyataan, dan sungguh Dia telah berbuat kebaikan kepada ku, ketika ia mengeluarkan aku dari penjara, dan mendatangkan kalian kepadaku dari dusun Badui, setelah setan merusak hubungan baik antara aku dan saudara saudara ku, sesungguhnya Rabbku maha lembut terhadap siapa yang Dia kehendaki.

QS. Yusuf Ayat 100.


Dari kisah Yusuf ini adalah kita ambil pelajaran,

Bahwa kesedihan akan menjadi kebahagiaan.

Perpisahan akan berganti pertemuan.

Hutang akan di bayar.

Kezaliman akan di ganti, bagi mereka yang sabar dan bertaqwa.Baik, ada sebuah pertanyaan.

Itu kehidupan para Nabi dan Rasul, dapatkan anda memberi contoh aplikatif dalam kehidupan kita.

Baik, saya (abu abd rahman) akan memberikan contoh nyata dari yang kita lihat:

– Seorang bayi, sebagai orang tua, kita ingin agar anak kita dalam kondisi bayi, lucu dan menggemaskan.

Namun, tidak mungkin bayi tetap dengan kondisi ke-bayi-an nya, harus ada pertumbuhan, yang dengannya memperkuat tubuhnya, tumbuhnya imunitas, dan pertumbuhan untuk dewasa dan menjalani kehidupan normal.

Tidak bisa, kita membayangkan anak kita, terus bayi (tidak ada perubahan) dengan segala kelucuannya, tentu ini berbahaya bagi dirinya dan orang tua.

– Kita membayangkan dunia ini terus dalam kondisi pagi yang cerah, dan kita menikmati pagi yang segar, kita berharap, tidak ada siang yang panas, atau malam yang gelap menakutkan,

Namun, hari harus berjalan, kehidupan harus berputar, siang untuk berkerja, dan malam untuk beristirahat.

Dan wajib adanya pergantian masa dan waktu.

– Kita berharap, kita berkumpul dengan keluarga, menjadi keluarga yang utuh, tidak di pisahkan oleh apapun, terutama anak.

Hal ini tidak mungkin,

Suami harus keluar untuk mencari penghidupan.

Anak harus keluar untuk belajar, kadang harus terpisah jauh, agar dengan nya ia tumbuh dewasa dengan perjalanan waktu, dan berilmu.

Sebagian kita, kasihan dengan anak kita, yang harus studi jauh, di pondok umpama, kita sebagai orang tua memikirkan, bagaimana makan nya, kondisi, apa ia tidak kedinginan di malam hari, dan kecukupan makan di siang hari.

Ini ego Sebagai orang tua yang perhatian terhadap anak.

Namun, kita tidak bisa membayangkan, bila anak kita tetap bersama kita, tentu ia akan menjadi anak yang manja, tidak dewasa baik dalam ilmu, kedewasaan dan juga pengalaman.

Wajib di sini, ada “perpisahan” barang sejenak.

– Sebagai orang berharap surga, ia ingin masuk surga.

Namun di satu posisi, ada kontradiksi dalam jiwanya,

Ia ingin masuk surga, dengan kondisi juga yang ia begitu membenci kematian.

Pertanyaan: adakah masuk surga, tanpa melewati pintu yang bernama kematian.

Di sini, sebuah kematian, bukanlah sebuah keburukan, namun, ia adalah pintu bagi jiwa yang shalih untuk awal ia masuk surga.

Maka, tidak semua kata negatif itu berakibat buruk.

Kita, dalam satu kondisi harus melewati tahapan tahapan kehidupan, sehingga Allah menampakkan kuasa Nya kepada hamba hamba Nya, yang menjadikan kebaikan bagi mereka masing masing dari berubah nya waktu dan kondisi.

Di katakan dalam syair,

Seorang penakut selalu membayangkan dirinya terbunuh (mati),
Bahkan sebelum kematian mendekatinya

Terkadang bahaya menghampiri seorang penakut,
Sedang orang yang berani terhindar darinya.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,

Hal yang dapat memutus rasa was was adalah berserah diri kepada Allah, barang siapa yang memasrahkan diri dan tunduk kepada Allah,

Mengetahui apa yang menimpa dirinya atau tidak, dan apa yang luput atau tidak, hanya sekedar apa yang telah tertulis (dalam taqdir nya),

Maka tiada akan tersisa pada hatinya untuk takut kepada makhluk,

Jiwanya telah mengetahui, bahwa dirinya yang ia khawatir kan keselamatan nya, telah berserah diri kepada pelindung nya.

Jiwa yang mengetahui kadar taqdir, maka ia akan memiliki ketenangan dan kesabaran,

Tidak akan berubah dengan perubahan dan bergantinya kondisi dan hati hati manusia.

Berbeda dengan orang orang yang lemah keimanannya kepada taqdir.

Ia tidak pernah kuat dan bersabar, hatta terhadap masalah yang paling kecil sekalipun yang ia hadapi.

Karena kelemahan imannya, kelembekan jiwanya, dan kecemasan yang berlebih terhadap sesuatu yang kecil.

Maka, ketika jiwa semacam itu, tertimpa sesuatu yang remeh,

Anda melihatnya sempit dada, sedih hati, kemurungan, tertunduk nya pandangan, kesedihan yang membuncah di dada,

Lalu, semua itu tidak bisa membuatnya tidur, dan menjadikan keningnya berkerut.

Musibah, bila menimpa orang yang memiliki keimanan, ketabahan – bahkan mungkin apa yang di deritanya lebih besar – maka ia tiada akan menghiraukannya, hal hal itu tiada akan mengusik jiwanya, kelopak mata nya tetap akan bisa terpejam, hatinya Ridha, dan dirinya mendapat ketenangan.

Maraji’:

  • Al imanu bila qodha wal qodr.
  • tafsir taisir marinir rahman di tafsir kalamim mantan
  • uddatus shabirin
  • madarijus salikin
  • ad da wa ad dawaa
  • dzamul hawwa
  • ighasatu lahafan.
  • dll.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.