• Rab. Agu 12th, 2020

    Al-Qur’an Sebagai Ruh Jiwa

    Byadmin

    Jul 14, 2020

    Fawaid edisi khusus


    AL QUR’AN SEBAGAI RUH JIWA

    Oleh : Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.



    Allah subhanahu wa taala berfirman,

    و كذلك أو حينا إليك روحاً من امرنا ما كنت تدري ما الكتاب و لا الايمان و لكن جعلناه نورا نهدي به من نشاء من عبادنا.

    Dan demikian telah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami, sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu kitab demikian juga dengan iman, namun Kami jadikan semua itu sebagai cahaya yang dengannya Kami beri petunjuk orang orang yang Kami kehendaki dari hamba hamba Kami.

    QS. 42 As-Syura ayat 52.




    Imam Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,

    … Di sini Allah subhanahu wa taala memberitakan bahwa kehidupan kita hanya terwujud dengan memenuhi apa yang di serukan oleh Allah dan rasul-Nya, yaitu ilmu dan iman.

    Maka bisa di ketahui bahwa kematian hati adalah akibat hilangnya kedua hal itu.

    Allah subhanahu wa taala mengibaratkan mereka yang tidak memenuhi seruan rasul sebagai para penghuni kubur.

    Ini merupakan pengibaratan yang indah, karena badan mereka adalah kuburan bagi hati mereka.

    Hati mereka terkubur dalam badan mereka.

    و في الجهل قبل الموت موت لأهله#
    و اجسامهم قبل القبور فبور#


    Dalam kebodohan bagi pemiliknya adalah kematian sebelum kematian sebenarnya

    Dan raga mereka adalah kubur sebelum kuburan sebenarnya.

    و أرواحهم في وحشة من جسومهم#
    و ليس لهم حتي النشور نشور#

    Ruh ruh mereka merana di dalam jasad jasadnya

    Mereka tiada mendapatkan sesuatu yang di tuju sampai waktu berbangkit bagi yang di bangkitkan di hari kebangkitan.


    Karenanya, Allah subhanahu wa taala menyebut Wahyu yang di berikan kepada para Nabi Nya alaihimus salam sebagai ruh.

    Hal ini di sebutkan dalam dua tempat (surah 42 as Syura ayat 52 dan surah 16 an nahl ayat 2).


    Sebab dengan Wahyu itu, badan dan hati menjadi hidup.


    Beliau menutup penjelasan dengan,

    … Orang orang yang mendapatkan petunjuk, dan beriman (dengan Wahyu) dada mereka terasa lapang dan luas,

    Sedang orang sesat, dada mereka sempit.

    Karena orang beriman hidup dalam cahaya wahyu, dan kelapangan, sedang orang sesat tersesat dalam kegelapan dan sempitnya hati.

    Hidup dan terangnya hati merupakan pangkal setiap kebaikan, sedang Matinya dan gelapnya hati merupakan pangkal semua keburukan.


    📖 كتاب إغاثة اللهفان من مصائد الشيطان ١/ ٣٤.



    Sidoarjo,

    Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.