• Rab. Agu 12th, 2020

    Menyikapi Ketergelinciran Seorang ‘Alim

    Byadmin

    Jul 12, 2020

    Menyikapi Ketergelinciran Seorang ‘Alim

    Disalin dari e-book “Rambu-Rambu Penuntut Ilmu” karya Ustadz Fikri Abul Hasan Hafidzahullah

    Tabiat manusia banyak berbuat salah, banyak kekhilafan, banyak kekurangan, sekalipun dia orang yang paling berilmu dan paling bertaqwa. Maka sebagai penuntut ilmu hendaklah dia kedepankan baik sangka, memberi udzur, dan tidak terburu-buru mengambil sikap terutama kepada seorang alim yang tergelincir dalam kesalahan.

    Syaikh Al-‘Allamah Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafidzhohullah menasihatkan:

    ليس العصمة لأحد بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم فلا يسلم عالم من خطأ ومن أخطأ لا يتابع على خطئه ولا يتخذ ذلك الخطأ ذريعة إلى عيبه و التحذير منه ، بل يغتفر خطؤه القليل في صوابه الكثير ، و من كان من هؤلاء العلماء قد مضى فيستفاد من علمه مع ، الحذر من متابعته على الخطأ ، ويدعى له و يترحم عليه و من كان حيا سواء كان عالما أو طالب علم ينبه على خطئه بر فق و لين و محبة لسلامته من الخطأ و رجوعه إلى الصواب

    “Tidak seorangpun terjaga dari kesalahan selain Rosulullah صلى الله عليه وسلم. Tidak ada seorang alim pun yang selamat dari kesalahan dan barang siapa yang terjatuh dalam kesalahan maka tidak boleh diikuti kesalahannya dan tidak boleh menjadikan kesalahannya itu sebagai sarana untuk membongkar aibnya dan menjauhkan umat darinya. Bahkan kesalahannya yang sedikit diampuni lantaran kebenarannya yang banyak. Dan barang siapa yang telah wafat diantara alim tersebut maka tetap di ambil faidah ilmunya dengan tetap berhati-hati dari mengikuti kesalahannya, didoakan kebaikan, dan didoakan rahmat atasnya. Dan barang siapa yang masih hidup baik dia seorang Ulama atau penuntut ilmu maka kesalahannya diingatkan dengan kelembutan, keramahan, dan kecintaan agar dia selamat dari kesalahannya serta merujuk kepada kebenaran.” (Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah hal. 22)

    Sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa berselisih pendapat adalah perkara yang lumrah terjadi di kalangan Salaf. Perselisihan itu tidak hanya menyangkut masalah fiqh seperti cara sholat dan jual beli, bahkan terkadang menyentuh perkara aqidah.

    Namun apabila seseorang diketahui di atas ilmu dan pemahaman yang benar, landasannya mengikuti Al-Qur’an was Sunnah serta ijma’ Salaf, berloyalitas dengan Ahlussunnah, berlepas diri dari bid’ah dan ahlinya, maka bila dia terjatuh dalam kesalahan-kesalahan tidak lantas mengeluarkan dirinya dari Ahlussunnah, kecuali bila telah terbukti bahwa dia termasuk ahli bid’ah.

    Para Ulama juga membedakan antara ahli bid’ah dengan orang yang terjatuh dalam kebid’ahan. Karena tidak setiap orang yang terjatuh dalam kebid’ahan langsung dianggap sebagai ahli bid’ah. Begitu pula bid’ah keadaannya bertingkat-tingkat, ada yang sampai derajat kekufuran dan ada yang pelakunya masih tetap dalam keislaman.