• Rab. Agu 12th, 2020

    Aqidah Islamiyyah (Bag.12.2)

    Byadmin

    Jul 12, 2020

    Aqidah Islamiyyah bagian ke 12.2

    Karakteristik Aqidah Islam
    2. Cakupannya sangat luas.
    Hal ini nampak pada 3 hal berikut ini :

    a.Ibadah.
    Makna Ibadah sangat luas, oleh karena itu kita tidak boleh mempersempit makna nya, Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup seluruh apa yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya dari seluruh perkataan, perbuatan yang nampak maupun yang tersembunyi.

    Ibadah ini mencakup ibadah hati, perkataan, perbuatan dan lain-lain, yang insya Allah akan dijelaskan pada tempatnya.

    – Ibadah qalbiyyah (hati):
    Dalam hati ada 2 hal, yaitu Qaulul Qalbiy (ucapan hati) dan ‘Amalul Qalbiy (amalan hati).
    ▪️Qoulul Qolbiy (ucapan hati) adalah berupa i’tiqad (keyakinan), diantaranya meyakini bahwa Allah itu ada, bahwa Allah itu satu, hanya Allah lah yang wajib diibadahi tidak boleh dipersekutukan, serta menyakini bahwa Allah telah mengutus Para Nabi dan Rasul.
    ▪️Amalul Qalbiy (amalan hati). Adalah hati kita harus dipenuhi dengan Mahabbah (kecintaan) kita kepada Allah ta’ala , kepada hamba-hamba Allah yang shalih, dan hati kita diisi dengan (khauf) takut kepada Allah ta’ala, harus diisi dengan (radja) pengharapan, dan hati kita juga harus diisi oleh tawakkal kepada Allah ta’ala serta seluruh amalan-amalan dari hati.
    Ibadah hati adalah asas dari ibadah berikutnya.

    – Ibadah Qouliyah (ucapan) seperti: berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan lain-lain.

    – Ibadah Fi’liyah (perbuatan) seperti, sholat, zakat, Puasa, haji, atau sedekah atau ibadah yang lain. Masuk kedalam perkara-perkara yang harus dijauhkan oleh islam, melaksanakan yang wajib, atau perbuatan sunnah, serta perkara mubah yang kita niatkan untuk ibadah kepada Allah ta’ala.

    b. Aqidah islamiyyah mencakup hubungan manusia dengan Allah ta’ala dan hubungan manusia dengan makhluk Allah ta’ala,

    c. Aqidah Islamiyah mencakup tentang keadaan manusia ketika di dunia, alam barzah dan Alam Akhirat, Aqidah islamiyyah memberikan informasi kepada manusia tentang apa yang harus dilakukan di dunia ini selagi masih hidup, untuk bekal ketika meninggal meninggal,dan bekal di Akhiratnya.

    Allah ta’ala berfirman:
    كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤئقَةُ الْمَوْتِۗ

    “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati”. *(QS. Ali Imran: 185)*

    Dalam Aqidah Islam dijelaskan tentang hari Akhir, bahwa yang akan kita masuki dan perkara yang pertama kali yang akan kita temui adalah kematian dan selanjutnya masuk kita semua ke alam barzah,
    Oleh karena itu berbahagialah orang yang beriman yang beramal shalih, karena Amal-amal shalih sangat bermanfaat bagi seseorang ketika di dunia, ketika meninggal dan di alam barzakh, dan ketika di Akhirat kelak, Allah ta’ala berfirman:

    هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ – ٦٠

    “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 60)

    Mari kita perhatikan bagaimana Rasul kita ﷺ, mengisahkan tentang fitnah kubur, Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat mendatanginya dan memberikan beberapa pertanyaan kepadanya. Inilah yang dimaksud dengan fitnah kubur. Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat al-Barra bin ‘Azib Radhiyallahu anhu ,Rasulullah ﷺ, bersabda :

    فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ (وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ , قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ , فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ , فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

    Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu ?”
    Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah Allâh”.
    Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?”
    Dia menjawab: “Agamaku adalah al-Islam”.
    Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”
    Dia menjawab, “Beliau utusan Allâh”.
    Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?”
    Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
    Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) benar, berilah dia hamparan dari surga, (dan berilah dia pakaian dari surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga. Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”.
    Maka ruh orang Mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?”
    Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”.
    Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istriku dan hartaku”.

    Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

    وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

    Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?”
    Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
    Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?”
    Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
    Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”
    Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
    Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.”
    Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”.
    Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?”
    Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”.
    Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”. [Lihat Shahîhul Jâmi’ no: 1672] .

    Dari hadits yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pertanyaan dalam kubur berlaku untuk umum, baik orang Mukmin maupun kafir.

    Oleh : Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi.