• Sab. Agu 8th, 2020

    Menyikapi Perselisihan Pendapat (Bag.2)

    Byadmin

    Jul 10, 2020

    Menyikapi Perselisihan Pendapat (Bag 2)

    Disalin dari e-book “Rambu-rambu Penuntut ilmu” karya ustadz Fikri Abul Hasan

    Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fawzan menjelaskan bahwa ikhtilaf atau perbedaan pendapat di antara Ulama ada beberapa macam:
    ▪ Perbedaan dalam Ranah Aqidah.
    Khilaf dalam hal ini tidak diperbolehkan karena perkara aqidah tidak membuka ruang ijtihad maupun perbedaan pendapat. Perkara aqidah dibangun diatas dalil dan menutup pintu ijtihad.
    Nabi صلى الله عليه وسلم telah mengabarkan bahwa umatnya akan berpecah menjadi 73 golongan karena
    menyelisihi aqidah beliau صلى الله عليه وسلم menegaskan, “Semuanya dineraka kecuali hanya satu golongan saja yang selamat. Ditanyakan kepada beliau,”Siapakah mereka (golongan yang selamat itu) wahai Rosulullah? Beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang beragama dengan cara beragamaku dan cara beragama para Shohabatku.”

    ▪ Perbedaan Pemahaman.
    Khilaf (perbedaan) dalam hal ini terjadi karena adanya ijtihad dalam mengambil kesimpulan hukum fiqh dari dalil-dalilnya secara rinci selama ijtihadnya itu memenuhi syarat dan berasal dari para ahlinya.
    Namun jika dalilnya telah nampak di hadapan salah seorang mujtahid maka wajib baginya mengambil apa yang sesuai dalil dan meninggalkan perkara yang tidak ada dalilnya.


    Al-Imam Asy-Syafii rohimahullah berkata, “Para Ulama telah sepakat bila telah gamblang sunnah Rosulullah صلى الله عليه وسلم maka tidak boleh bagi siapapun meninggalkannya lantaran mengikuti pendapat seseorang.”
    Sebagian Ulama berkata, “Tidaklah setiap khilaf itu mu’tabar (diakui), kecuali khilaf yang memiliki sudut pandang (hujjah).”

    ▪ Perbedaan yang Bersumber dari Ijtihad Fiqhi.
    Dalilnya belum nampak diantara para Ulama yang berselisih pendapat. Maka dalam hal ini tidaklah diingkari jika seseorang mengambil salah satu pendapat. Sebagaimana yang disebutkan dalam ibarat yang masyhur, “Tidak ada pengingkaran
    dalam menyikapi masalah ijtihad”. Khilaf dalam masalah ijtihad jangan mengakibatkan percekcokan di antara kedua belah pihak yang berbeda pendapat. Karena masing-masingnya ada kemungkinan berada diatas kebenaran.”(Al-Ijtima’wa Nabdzul Furqoh hal.48-50)