• Sab. Agu 8th, 2020

    Menyikapi Perselisihan Pendapat (Bag.1)

    Byadmin

    Jul 10, 2020

    Menyikapi Perselisihan Pendapat

    (Disalin dari e-book “Rambu-Rambu Penuntut Ilmu” karua Ustadz Fikri Abul Hasan

    Seorang penuntut ilmu manakala mendapati perselisihan pendapat diantara kaum muslimin maka hukumnya dikembalikan kepada dalil Al-Qur’an was Sunnah. Allah mengingatkan dalam firman-Nya:
    كنتم إن الرسول والله إلى فردوه شىء فى تنازعتم فإن لا تأوي وأحسن خير ذلك خرلآا اليوم واللهب تؤمنون
    “Maka apabila kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah danRosul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, karena yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa:59)
    Allah dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم yang menjadi pemutus hukum apabila terjadi perselisihan yaitu merujuk kepada dalil-dalil Al-Qur’an wa Sunnah dengan bimbingan para Salaf dari kalangan shohabat, tabiin dan para Ulama yang mengikuti jalan mereka.
    Mengapa harus mengikuti para Salaf? Karena para Salaf pihak yang paling mumpuni pemahamannya terhadap dalil dan paling cakap pengamalannya. Andai kata dalil-dalil boleh dipahami menurut selera pikiran masing- masing maka yang akan terjadi tentu fitnah percekcokan dan kesimpangsiuran pemahaman.

    Maka apabila para Salaf telah berijma’ (bersepakat) dalam suatu perkara dalam hal ini aqidah seperti keyakinan Allah tinggi diatas ‘Arsy-Nya maka siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak halal mengingkarinya. Karena ijma’ para Salaf telah dijamin kebenarannya oleh Nabi صلى الله عليه وسلم .
    Apabila para Salaf berbeda pendapat dalam memahami dalil Al-Qur’an was Sunnah maka yang diikuti pendapat yang lebih kuat dengan melihat alasan-alasannya secara ilmiyah. Ini yang disebut dengan “tarjih” yaitu memutuskan pendapat yang lebih kuat dengan meneliti dalil dan aspek pendalilannya.
    Apabila tidak dijumpai pendapat para Salaf dalam suatu permasalahan maka perkaranya dikembalikan kepada para Ulama robbani, karena Allah memerintahkan siapa saja yang tidak memiliki ilmu bertanya kepada para ahli dari kalangan Ulama yang dikenal baik manhajnya, lurus aqidahnya, istiqomah mengikuti sunnah.