• Sab. Agu 8th, 2020

    Fiqh Udh-hiyah

    Byadmin

    Jul 10, 2020

    Fiqh Udh-hiyah

    (1). Hukum Udh-hiyah/Qurban

    Sebetulnya ada perbedaan makna antara kata _”udh-hiyah”_ dengan kata “qurban”.

    Udh-hiyah maknanya hewan yang disembelih pada hari raya ‘Iedul Adh-ha dan hari tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

    Sedangkan qurban maknanya lebih umum yaitu segala hal yang disyariatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik dalam bentuk penyembelihan atau ketaatan yang lain.

    Kendati berbeda, kedua istilah tersebut digunakan untuk tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Meski istilah qurban lebih akrab di telinga masyarakat ketimbang udh-hiyah.

    Para Ulama sepakat bahwa qurban termasuk amalan yang disyariatkan. Akan tetapi para Ulama berselisih pendapat apakah berqurban itu wajib ataukah dianjurkan?

    Pendapat yang lebih kuat di sisi kami adalah qurban amalan yang dianjurkan. Pendapat ini yang diakui oleh jumhur ulama antara lain Malik, Asy-Syafii, Ahmad, Ishaq bin Rohuyah, Abu Tsaur, Dawud Adz-Dzhohiri, Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir. Dalilnya hadits Nabi ﷺ dari Ummu Salamah :

    إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره

    “Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sedang kalian ingin menyembelih qurban maka janganlah dia mengambil rambutnya dan kukunya.” (HR. Ahmad 26696, Muslim 1977, At-Tirmidzi 1523, Ibnu Majah 3149)

    Sisi pendalilannya bahwa Nabi ﷺ mengembalikan ibadah qurban kepada keinginan orang yang menjalankan. Ini menunjukkan hukum qurban tidak sampai derajat wajib.

    Sebab itu di antara shohabat Nabi ada yang bersengaja meninggalkan ibadah qurban seperti Abu Bakr, Umar, Abu Mas’ud Al-Anshori, alasannya agar tidak dianggap sebagai kewajiban. (Riwayat Abdurrozzaq 8149 sanadnya shohih)

    Sekalipun hukumnya tidak wajib namun di antara Salaf ada yang sampai rela berutang agar bisa ikut berqurban karena Allah berfirman, “Kalian akan memperoleh kebaikan (dari sembelihan kalian itu).” (Tafsir Ibnu Katsir 5/426)

    Tentunya berutang dengan catatan mampu untuk membayar, jika tidak, maka berutang tidak diperbolehkan.

    https://t.me/manhajulhaq