• Rab. Agu 12th, 2020

    Pertemuan Antara Penyakit Syubhat dan Penyakit Syahwat

    Byadmin

    Jul 6, 2020

    Fawaid edisi khusus


    Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

    Imam Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,
    Tatkala musuh Allah (iblis) ini, mengetahui akan kecenderungan kedua nenek moyang kita ini (Adam dan hawa alaihimus salam) untuk berada dalam surga dalam kekekalan dan kenikmatannya yang abadi,
    Maka ia tau, tidak mungkin menipu keduanya kecuali melalui pintu ini (menghembuskan syubhat),
    Maka ia bersumpah kepada keduanya atas nama Allah, bahwasanya ia adalah pemberi nasehat kepada mereka,

    Ia berkata,

    …ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين

    Rabb kalian tidak melarang kalian mendekati pohon ini, kecuali supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau supaya kalian berdua tidak menjadi orang yang kekal di dalamnya.
    Qs 7 Al a’raf 20.


    Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu membaca ayat tersebut ملكين dengan katsrah pada huruf lam, Beliau berkata, 
    “Keduanya tidak berkeinginan menjadi malaikat, tetapi ingin menjadi Malik (yang menguasai dan hidup kekal di dalamnya), maka iblis mendatangi keduanya dari jalan itu (mengembuskan bisikan bahwa dengan memakan pohon kayu itu, mereka akan kekal di surga).”

    Yang memperkuat hal ini adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala lainnya,

    فوسوس إليه الشيطان قال يا آدم هل أدلك على شجرة الخلد و ملك لا يبلى

    Maka setan memberikan was was kepadanya, dan berkata, wahai Adam apakah engkau mau aku tunjukkan satu pohon keabadian, dan kerajaan yang tidak binasa kepadamu ?.
    Q.S 20 Thaha 120.

    Sedangkan, pada dasarnya Adam dan hawa tidak ada keinginan atas semua itu (hidup abadi atau menjadi malaikat), akan tetapi musuh Allah ini telah membohongi, menipu, dan memperdayainya (dengan syubhat), dengan menamai (sesuatu yang buruk dengan nama yang baik) sebagai ‘syajaratul khuld’ (pohon keabadian), ini tipu daya yang pertama.
    Dari sinilah para pengikut setan, mewarisi kebiasaannya, yaitu menghiasi nama nama yang haram (perkara buruk) dengan nama nama yang di sukai (dan di inginkan) oleh jiwa, menamai khamr (minuman memabukkan) dengan ‘ummul afra’ (puncak kesenangan), dan menamai saudaranya (yakni judi) dengan ‘nuqoyimatul raha’ (suapan atau usaha yang  santai), menamai riba (rentenir) dengan ‘muamalah’ (kongsi), menamai pajak dengan ‘huququl sulthaniyah’ (hak penguasa), menamai kezaliman dan kekejian (pada orang lain dan rakyat) dengan ‘syar’u diwan’ (peraturan per undang undang an), dan (orang orang sesat) menamai kekufuran yang paling sesat, yakni mengingkari sifat sifat Allah dengan nama ‘tanzih’ (mensucikan Allah dari sifat sifat buruk), serta menamai perkumpulan perkumpulan kefasikan sebagai ‘majalisu thayyibah’ (perkumpulan baik atau perkumpulan orang orang beradab).
    Ketika setan menamai pohon terlarang itu dengan ‘pohon keabadian’, ia berkata,
    Rabbmu tidak melarang dari mendekati pohon ini, kecuali karena Dia tidak suka bila kamu berdua (Adam dan hawa) memakan buah buahan nya, sehingga kalian abadi kekal di dalam surga, dan kalian tidak mati Sebagaimana para malaikat tidak mati.
    Dan saat itu, Adam pun belum mengetahui apa kematian itu, juga belum terbesit untuk hidup kekal abadi di surga.
    Maka musuh Allah ini (iblis) berhasil (setelah meyakinkan keduanya) menanamkan syubhat pada diri keduanya, melalui kata katanya dan sumpah dengan sebenar benarnya sumpah bahwa ia adalah penasehat bagi keduanya.
    Maka, terjadilah perpaduan (saat itu) antara penyakit syubhat (hembusan tipuan iblis) dengan penyakit syahwat (keinginan hidup abadi kekal di surga dan tidak ingin mati yang ada pada diri Adam dan hawa), dan juga ketetapan dari Allah, maka berlakulah sunnatullah (ketetapan Allah) bagi keduanya (untuk turun ke dunia sebagai hukuman) yang berlaku bagi orang orang yang lalai, sedang musuhnya (iblis) dalam keadaan waspada (untuk terus melihat cela).
    Seorang penipu, dalam tipuan nya tentu mengandung kontradiksi (sesuatu yang berlainan) dan kebohongan untuk memperkuat tipuannya.
    Maka, tidak perlu kita membahas perkataan musuh Allah itu (iblis) dan juga hal ikhwalnya.
    Tetapi yang perlu di bahas adalah bagaimana dan mengapa tipu daya serta kebohongan itu bisa sampai mempengaruhi jiwa Adam (dan istrinya sehingga mereka dapat di gelincirkan).

    كتاب إغاثة اللهفان من مصائد الشيطان ١/ ١٦٥.


    Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.