• Rab. Agu 12th, 2020

    Seputar Qurban (Bag.2)

    Byadmin

    Jun 29, 2020

    Oleh : Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud Al-Atsary hafidzhahullah

    Hewan Qurban

    Dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhu:

    كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر فخضر الاضحى فاشتركنا في الجزور عن عشرة و البقر عن سبعة

    “Kami bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar, kemudian datanglah iedul adha, lalu *kami bersekutu dalam seekor unta untuk sepuluh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang”.* [HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Nasai].

    Dan juga dibolehkan seekor kambing untuk satu keluarga, sebagaimana riwayat Atha bin Yasar dari Abu Ayub Al Anshary radhiyallahu anhu:

    كان الرجل في عهد النبي صلى الله عليه وسلم يضحى بالشاة عنه و عن اهل بيته

    “Adalah seorang dari kami dimasa Nabi shalallahu alaihi wa sallam berqurban dengan seekor kambing untuk dirinya sendiri dan keluarganya”. [HR. Ibnu Majah].

    Hendaknya hewan yang diqurbankan cukup umur dengan kriterianya, sehat, dan besar (gemuk). Dan dilarang seorang berqurban dengan beberapa kriteria: buta yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, patah yang tidak dapat disembuhkan. Diriwayat lain disebutkan tentang telinga yang tidak sempurna.

    Sebagian ahli ilmu berbicara tentang yang paling afdhal antara hewan qurban. Maka Allahu A’lam, yang kami pandang dari beberapa pendapat Ulama adalah yang paling besar dan yang paling bermanfaat. Bisa diurutkan, afdhal unta, sapi, lalu kambing, bila itu qurban yang dilakukan seorang diri. Lalu kambing, bila dibanding unta atau sapi bila urunan.

    Berkata Ibnu Qudhamah rahimahullah: “Seekor kambing lebih utama dari urunan unta, karena tujuan utama qurban adalah mengalirkan darah qurban (إراق الدم). Dan seorang bisa saja berqurban dengan seekor hewan qurban (yang mahal atau besar) untuk dirinya sendiri”. (Lihat Al Mughni 9:435).

    Jadi bila seorang sendiri mampu berqurban hewan yang besar, sehat dan berharga, umpama unta atau sapi atau kambing, itu lebih utama daripada urunan.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    ذلك و من يعظم سعائر الله فإنها من تقوى القلوب

    “Demikianlah, bahwasanya barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka hal itu sebagai bentuk *ketaqwaan hati”. (QS. Hajj: 32).

    Terakhir, yang patut di perhatikan setiap hamba dalam pendekatan dirinya kepada Allah adalah baiknya niat.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memperingatkan hamba-hamba-Nya:

    لن ينال الله لحومها و لا دماؤها و لكن يناله التقوى منكم

    “Tidak akan sampai kepada Allah dari hewan qurban itu dari daging dan darahnya, namun yang akan sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kalian”. (QS. Hajj: 37).

    Maka itu hendaknya seorang hamba memperhatikan tujuan-tujuan hatinya dalam setiap amal.

    ______
    Bada isya, Sidoarjo. Oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabb-Nya.