• Rab. Agu 12th, 2020

    Seputar Qurban (Bag.1)

    Byadmin

    Jun 29, 2020

    SEPUTAR QURBAN


    ✍🏻 Oleh Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud Al-Atsary hafidzhahullah

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya:

    إنا اعطيناك الكوثر . فصل لربك و انخر . إن سانئك هو الأبتر

    “Sesungguhnya Kami telah memberimu al kautsar (kenikmatan). Maka dari itu shalatlah untuk Rabbmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang terputus (darinya kebaikan)”. (QS. Al Kautsar: 1-3).

    Syaikh Abd Rahman bin Nasir As Sady rahimahullah berkata: “Setelah Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang telah di berikan kepada hamba-Nya, Allah menyuruhnya untuk bersyukur. Kemudian Allah menyebut dua ibadah ini (shalat dan qurban) secara khusus (sebagai bentuk syukur). Karena keduanya adalah amalan paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena shalat mencakup ketundukan hati dan raga. Sedangkan dalam qurban terdapat nilai pendekatan diri kepada Allah dengan sembelihan terbaik yang dimiliki seorang hamba dan ia rela mengeluarkannya yang secara fitrah (tabiat harta itu) sangat dicintai dan dijaga oleh jiwa”. (Bisa di Lihat selengkapnya di Taisir Karimir rahman fi tafsir Kalami Manan Surah Al-Kautsar hal.1000 cetakan Darul Alamiyah).

    Demikian besar nikmat Allah Ta’ala. Maka Allah memerintah kita semua yang mampu untuk berqurban di hari iedul adha.

    Udhhiyah

    Udhhiyah adalah binatang ternak (kambing, sapi, unta) yang diqurbankan pada hari raya iedul adha (setelah shalat ied) dan dihari-hari tasyrik dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. (Al wajis [777]).

    Sebagian Ulama berselisih tentang seputar hukum qurban bagi yang mampu. Kami memandang qurban bagi yang mampu adalah wajib diperkuat dalil-dalil yang ada, baik Quran dan sunnah.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengancam dengan keras:

    من كان له سعة و لم يضح فلا يقربن مصلان

    “Barang siapa yang diberi keluasan rezeki, kemudian ia tidak berqurban, maka jangan dekati mushalah kami”. [HR. Ibnu Majah].

    Diriwayat lain, saat beliau di Arafah menjelaskan tentang qurban (atirah), atirah (sembelihan rajab) dihapus, namun udhhiyah tidak dihapus hukumnya, bahkan dikokohkan.

    ياأيها الناس إن على كل اهل بيت في كل عام أضحية

    “Wahai manusia, sesungguhnya atas setiap ahli bait (yang mampu) dalam setiap tahun untuk berqurban”. [HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasai. Berkata penulis Al Wajis, Syaikh Abdul Adzim Badawi hafidzahullah].

    Jelas hadits-hadits di atas menunjukkan wajibnya berqurban.