Berdoa dan Bersabar

Berdoa & Bersabar

Disalin dari e-book “Rambu-Rambu Penuntut Ilmu”
Karya Ustadz Fikri Abul Hasan Hafidzahullah

Dari Abu Huroiroh bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
الدعاء من وجل عزالله على أكرم شيء ليس
“Tidak ada sesuatupun yang lebih utama disisi Allah ‘azza wa jalla melebihi doa.”
(HR. Ahmad 2/362, Al-Bukhori dalam “Al-Adabul Mufrod” 712, At-Tirmidzi 3370, Ibnu Majah 3829, Al-Hakim 1/490 dishohihkan oleh beliau dan disepakati oleh Adz-Dzahabi,Syaikh Nashir menghasankannya dalam “Shohih Al-Adabul Mufrod” 549)

Tingginya derajat keilmuan yang dicapai oleh para Ulama sejatinya bukan karena kecerdasan intelektual mereka,akan tetapi berkat kesungguhan doa yang mereka panjatkan kepada Allah. Kekuatan doa inilah yang sebetulnya paling berpengaruh dalam perjalanan keilmuan para Ulama. Karena hakikat doa itu menunjukkan butuhnya seorang hamba kepada Allah, mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah, serta meyakini kekuatan dan kekuasaan Allah yang Maha Sempurna.
Seperti yang dilakukan Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahullah beliau berdoa memohon kepada Allah dengan meminum air zam-zam agar diberi kemampuan hapalan seperti yang dimiliki oleh Al-Imam Adz-Dzahabi rohimahullah. Maka Allah menganugerahkan kepada beliau daya ingat yang luar biasa. Ini bukti betapa besar pengaruh doa dalam kehidupan seorang hamba.
Selain berdoa,seorang penuntut ilmu juga dituntut bersabar dalam menempuh jenjang ilmu yang sedang ditekuninya. Bersabar atas segala kekurangan yang ada, baik kekurangan yang berasal dari diri sendiri, keterbatasan tempat belajar maupun guru yang tidak terjaga dari kesalahan.
Semua itu kemestian yang harus dilalui oleh para penuntut ilmu dalam menjalani proses belajarnyakarenailmuyangagungini mustahil dicapai dengan berleha-leha.

Syaikh Al-‘Allamah Muqbil bin HadiAl- Wadi’i pernah menyampaikan kepada murid- murid beliau rohimahullah:
“Wahai anak-anakku, seandainya ilmu bisa dituang ke dalam gelas niscaya akan kutuangkan untuk kalian. Akan tetapi ilmu ini mustahil diperoleh kecuali dengan kesungguhan dan pengorbanan. Sebagaimana yang dikatakanYahya bin Abi Katsir kepada puteranya, “Ilmu ini tidak akan dicapai dengan badan yang santai.”
(Nubdzah Mukhtashoroh hal.44)

Coba kita telaah kembali kisah-kisah para a’immah tentang bagaimana kesungguhan dan kesabaran mereka dalam menuntut ilmu agar menjadi pelajaran bagi kita semua.
Diantara mereka ada yang mempelajari kitab “Shohih Al-Bukhori” hanya dalam beberapa malam seperti yang dilakukan oleh Al-Khothib Al-Baghdadi beliau mempelajarinya sejak Maghrib sampai Shubuh.
Diantara Ulama ada yang menghabiskan waktunya dalam sehari untuk mempelajari 12 bab ilmu yang berlainan seperti yang dilakukan oleh Al-Imam An-Nawawi.
Diantara Ulama ada yang mempelajari lebih 20.000 jilid kitab sepanjang hidupnya seperti yang dilakukan oleh Al-Imam Abul Faroj Ibnul Jauzi.
Diantara Ulama ada yang menjual rumahnya hanya untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan untuk dipelajarinya seperti yang dilakukan oleh Al-Imam Abul ‘Ala Al-‘Atthor.
Diantara Ulama ada yang berjalan kaki ribuan kilometer bahkan sampai ada yang buta dan kencing darah karena keseriusannya mempelajari ilmu yang sedang ditekuninya. Namun semua itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap tholabul’ilmi bagaimana pun situasinya.
Silakan tanya pada diri masing-masing adakah diantara kita yang sudah bersungguh- sungguh dan betul-betul bersabar terhadap ilmu yang dipelajarinya?

Ukhuwah Fil Hijrah