Mencari Guru Yang Ahli Dari Kalangan Ahlussunnah

Mencari Guru yang Ahli dari Kalangan Ahlussunnah

Disalin dari e book “Rambu-rambu menuntut ilmu”
Karya ustadz fikri abul haza hafidzahullah

Para Ulama mengingatkan bahwa pada dasarnya mengambil ilmu pertama kali bukan melalui kitab atau buku, tetapi harus diambil dari seorang guru yang diyakini keahliannya dan dipercayai punya kunci-kunci ilmu.
Oleh sebab itu mencari guru bukan sekedar bermanhaj dan beraqidah Salaf akan tetapi seorang guru juga dituntut cakap menguasai ilmunya.


Al-Imam Malik bin Anas(179H) berkata, “Ilmu tidak diambil dari empat model manusia :
▪ Ilmu tidak diambil dari orang-orang yang jahil (bodoh).
▪ Tidak diambil dari ahli bid’ah yang menyeru manusia kepada kebid’ahannya.
▪ Tidak pula dari seorang pendusta yang biasa berdusta dalam pembicaraan- pembicaraan manusia meski tidak tertuduh berdusta dalam meriwayatkan hadits.
▪ Ilmu tidak diambil dari seorang Syaikh yang memiliki keutamaan, kesholihan serta banyak ibadah tetapi dia tidak memahami apa yang diucapkannya (bukan ahlinya).” (Tadribur Rowi1/43)

Meski keahlian dan penguasaan seseorang terhadap ilmu bertingkat-tingkat, namun setidaknya diketahui bagaimana pengalaman belajar gurunya itu atau diketahui ada rekomendasi dari orang ‘alim terhadap gurunya tersebut agar ilmu yang dipelajarinya itu tidak salah istidlal (pendalilan) dan sesuai dengan maksud syariat.Karena para Ulama mengingatkan, “Banyak orang yang diberi ilmu namun tidak dianugerahi pemahaman.”

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu’anhu berkata:اله سؤ قليل خطباؤه قليل فقهاؤه كثير زمان في إنكم زمان بعدكم من وسيأتي للهوى قائد فيه العمل معطوه كثير فيه الهوى معطوه قليل اله سؤ كثير خطباؤه كثير فقهاؤه قليلللعمل قائد

“Sungguh kalian hidup dizaman ahli ilmunya banyak,penceramahnya sedikit,yang meminta-minta sedikit namun banyak yang memberi,di masa seperti ini amalnya seseorang yang mengendalikanhawa nafsunya. Dan kelak akan datang suatu zaman dimana ahli ilmunya sedikit, penceramahnya banyak,yang meminta-minta banyak namun sedikit yang memberi, di masa seperti itu hawa nafsu yang memimpin amalannya (beramal tidak diatas ilmu dan pemahaman yang benar).” (Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwattho’1/173, Al-Bukhori dalam “Al -Adabul Mufrod” 785, Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al- ‘Asqolani dalam Al-Fath 10/510 berkata, “Sanad nyashohih”& dihasankan oleh Syaikh Nashir dalam Shohih Al-Adabul Mufrod)

Tinggalkan Balasan

Ukhuwah Fil Hijrah