Ikhlas Modal Utama Penuntut ilmu (Bagian 2)

Rosulullah صلى الله عليه وسلم telah mengingatkan tentang orang-orang yang akan lebih dulu diadili oleh Allah pada hari kiamat antara lain orang yang mempelajari ilmu tetapi niatnya tidak tulus. Dirinya mengaku bahwa dia mempelajari ilmu dan mengajarkannya karena Allah, namun Allah mengingkarinya dengan mengatakan:

المع ال ليق العلم تعلمت ولكنك كذبت
“Engkau dusta, akan tetapi engkau mempelajari ilmu supaya engkau dibilang ‘alim dan engkau telah mendapatkannya (didunia). Maka Allah memerintahkan agar diseret wajahnya dan dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR.Muslim 1905 dari Abu Huroiroh)

Didalam hadits ini ada peringatan keras bagi para penuntut ilmu yang menginginkan keselamatan dirinya diakhirat untuk selalu mengevaluasi apa yang ada dibalik hatinya.
Apakah niatnya ikhlas karena Allah ataukah ada motivasi lain yang dituju dari amalannya itu? Karena nilai suatu amalan bergantung dengan niatnya sebagaimana yang dinyatakan Nabiصلى الله عليه وسلم dalam hadits yang ma’ruf.

Lalu apa indikator ikhlasnya hati seseorang dalam menuntutilmu? Syaikh Al- ‘Allamah Al-Utsaimin mengatakan yaitu apabila dia meniatkan hal-hal berikut:
▪Mempelajari ilmu dalam rangka menunaikan perintah Allah.
▪Menjaga syariat Allah baik dengan menghapalnya atau mencatatnya.
▪Membela syariat dari ahli bid’ah dan menjelaskan kebatilan bid’ahnya.
▪Mengikuti syariat Nabi صلى الله عليه وسلم karena mustahil mengikuti syariat beliau apabila tidak mempelajarinya.”
(Syarh Hilyah, hal.16-17)

Sungguh tidak ada amalan yang paling utama melebihi menuntut ilmu selama orang yang mempelajarinya punya niat yang lurus. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (241H) rohimahullah:
نيته صحت لمن شيء يعدله لا العلم
“Ilmu ini tidak dapat dibandingkan dengan amalan apapun selama benar niatnya karena Allah.” (Masa’il Ibni Hani’ 2/168)

Disalin dari e-book “Rambu-Rambu Menuntut Ilmu”
Karya ustadz Fikri Abul Hasan Hafidzahullah


Ukhuwah Fil Hijrah