Aqidah Islamiyyah (Bag.1)

Muqaddimah

Ahibbati Fillah,
Pertama-tama kita wajib bersyukur kapada Allah akan seluruh nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita, diantaranya nikmat ilmu dan thalabul ilmi, tentang menuntut ilmu, Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu adalah kewajiban atas setiap muslim” HR Ibnu Majah : 224.*

Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Muawiyah Radiyallahu ‘anhu:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, maka Allah akan menjadikannya Faqih (faham tentang agama). HR Bukhari : 71, Muslim : 1037

Orang yang menuntut ilmu, yang dengannya ia memahami agama Islam, maka orang tersebut Allah inginkan kebaikan padanya.
Ilmu yang paling besar dan yang paling dibutuhkan kita semua adalah Al-Fiqh Al-Akbar.
Yang dimaksud al-Fiqhul Akbar ada ilmu Tauhid, Ilmu Aqidah, jadi aqidah adalah Fiqih yang terbesar.
Abu Hanifah rahimahullah menulis tulisan tentang Aqidah yang beliau sebut dengan Al- Fiqhul Akbar.

Allah ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الله

“maka katahuilah, bahwa tidak ada yang diibadahi kecuali Allah” (Qs. Muhammad: 19)

Allah ta’ala memerintah untuk mengilmui لا إله الا الله, ini adalah ilmu aqidah. Ilmu ini merupakan ilmu yang paling dibutuhkan oleh seluruh hamba Allah ta’ala. Oleh karena itu didalam Muqaddimah kitab Syarh Aqidah Thahawiyah, Al Iman Ibnu Abil Iz Rahimahullah berkata:

“Amma ba’du, Sesungguhnya ilmu Ushuluddin adalah ilmu yang paling mulia, kemuliaan ilmu itu dikarenakan kemuliaan yang di-ilmuinya – ia adalah al-fiqh al-akbar ( fiqih yang paling besar ) jika dinisbatkan kepada fiqih furu’, oleh karena hal ini Imam Abu Hanifah rahimahullah ta’ala memberi judul dari apa yang beliau katakan dan kumpulkan dalam lembaran-lembarannya tentang Ushuluddin dengan nama al-fiqh al-akbar – , kebutuhan para hamba kepada ilmu ini diatas semua kebutuhan, karena sesungguhnya tidak ada kehidupan, dan tidak ada kenikmatan serta tidak tidak ada ketenangan bagi hati, kecuali dengan betul-betul mengenal Rabbnya, mengenal siapa yang berhak diibadahi dan mengenal tang Mencipta dengan nama-namanya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya. Bersamaan dengan itu Dia lebih dicintai dari yang selainNya dan terus-menerusnya usaha hati dalam hal yang bisa mendekatkannya dengan Allah ta’ala tanpa selainNya dari seluruh makhluknya” Syarh Aqidah Thahawiyah : 1/109.

Perlu kita ketahui bahwa Masail ( masalah-masalah ) Din ada 2, yaitu:
▪️Akhbar (berita)
▪️Ahkam (hukum)
yang semua ini telah Allah sebutkan dalam firman-Nya :

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًاۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Telah sempurna Firman Rabbmu dengan benar dan dengan adil, tidak ada yang bisa merubah kalimat-kalimatnya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
(QS. Al-An’am: 115).

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus-Syaikh berkata :

“Firman Allah telah sempurna diatas dua bagian : Benar dalam berita-beritaNya dan adil dalam perintah-perintah dan laranganNya” khabar-khabar (berita-berita) itu wajib untuk tashdiq ( dibenarkan ), apa saja yang tempat kembalinya kepada tashdiq dan keimanan tidak masuk dalam amaliyat maka dinamakan dengan aqidah, karena kembalinya kepada ilmu hati, dinamakan dengan Aqidah karena hati itu ma’qud alaihi ( terikat diatas hal tersebut ), yaitu seakan-akan ia masuk kedalam hati kemudian mengikatnya, sehinggga tidak bisa keluar darinya saking kuatnya ikatan tersebut…
Adapun amaliyat ini bagian dari keimanan – sebagaimana hal ini sudah menjadi ma’ruf – akan tetapi ia adalah amal jawarih oleh karena itu tidak masuk dalam ( pembahasan ) Aqidah.”
Syarh Al-Aqidah at-Thahawiyah, karya Syekh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad alus- Syekh : 1/20.

Bersambung insya allah

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Barakallahu fiikum….

📝 Akhukum : Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi.

Tinggalkan Balasan

Ukhuwah Fil Hijrah