• Rab. Agu 12th, 2020

    Antara kita, ego, perasaan, dan cara beragama

    Byadmin

    Jun 12, 2020

    Hal ini kami (abu abd rahman) ingin sampaikan, tidak lain karena banyak di antara sikap kita (sebagai bagian dari ummat Islam) mencederai keindahan Islam itu sendiri, banyak di antara kita ambigu dan tidak memiliki komitmen terhadap agamanya, dan betapa banyak sikap kita justru mencedarai, berbalik nilai, dan bertolak belakang dengan Islam itu sendiri.

    Yang ingin kami sampaikan dalam kesempatan ini,

    Banyak di antara kita (saya dan anda) yang beragama dengan ego, perasaan serta jauh dari tuntutan dan kaidah.

    Berikut kami berikan contoh beragama mengikuti ego, hawa nafsu, dan perasaan:

    1). Mendahulukan adat daripada syariat.

    Atau mendahulukan keputusan organisasi hizbiyah daripada ketetapan Nash.

    Sebagian orang kita lihat,

    Mereka lebih suka menerabas hukum dan tidak memuliakannya, daripada melawan adat istiadat dan kebiasaan jahiliyah.

    Sebagian orang kita lihat membantah hukum haramnya musik, rokok, bunga bank, dan semisalnya.

    Boleh jadi karena adanya maslahat bagi pribadi, atau bertentangan dengan hawa nafsu nya atau takut cercaan masyarakat umum.

    Namun begitu takut (pamali atau kuwalat) untuk menentang adat istiadat,

    Bagi mereka, adat kedudukannya melebihi syariat,

    Bahkan untuk itu mereka, rela menjual dan melakukan apapun, demi terlaksananya adat tersebut.

    Lihat hari ini, mulai lahir, nikah, sampai masuk kubur, ajaran ajaran adat yang terlihat daripada ajaran Islam.

    Ini keadaan yang meliputi masyarakat umum secara khusus.

    Demikian juga kita melihat, sebagian orang takut menyelisihi keputusan organisasi hizbiyah, daripada tunduk pada hadits yang shahih.

    Bagi mereka organisasi adalah agama, melebihi Nash Nash syar’i.

    Padahal jelas, keputusan organisasi mereka, menyelisihi syariat dan Sunnah nabi shalallahu alaihi wa salam.

    2). Mendahulukan perasaan dalam menilai syariat dan dalam berdakwah.

    Tuntutan syariat telah jelas, adil, dan lurus jauh dari kezaliman dan ketimpangan.

    Maka yang di kedepankan dalam beragama adalah dalil bukan perasaan.

    Betapa banyak perasaan menipu pemiliknya, lalu bagaimana bila perasaan di jadikan penilaian baik buruk, salah dan benar.

    Contoh yang kita lihat,

    Sebagian orang, menolak dakwah dengan keras, karena yang mendominasi dirinya itu sifat lembut.

    Dan sebaliknya, menolak metode dakwah secara lembut karena karakter dirinya adalah orang yang keras.

    Padahal syari’at ini bukan masalah keras atau lembut.

    Sebagian orang menuduh dakwah salafy adalah dakwah keras, karena jiwanya telah lama terlelap dalam kelalaian dan penyimpangan, sehingga ketika di sentuh dengan peringatan peringatan Rabbnya, terasa asing, keinginan melawan, dan di tuduh dengan keras dan tidak memiliki kelembutan, sementara ia sendiri terombang ambing dalam madzhab serba boleh dan serba halal tanpa batasan, sehingga bila ada satu nasehat, seakan itu melarang dari kebiasaan buruknya selama ini, dan itu baginya tindakan ekstrim.

    Ini sekedar contoh penerapan.

    Kembali pada pembahasan awal.

    Islam telah menentukan, kapan seorang boleh bersikap keras, atau wajib mengedepankan kelembutan.

    Asas asal dakwah adalah kelembutan.

    Namun, Islam tidak pernah membiarkan pengikutnya memiliki sikap berlebih lebihan dalam satu kondisi.

    Meskipun asal dakwah adalah kelembutan, namun dalam beberapa hal kita wajib keras.

    Sebagaimana Nabi, beliau membiarkan Badui kencing di masjid.

    Tapi di satu sisi, beliau marah kepada shahabat beliau yang dekat, Mu’adz bin Jabal radiyallahu anhu, saat mengimami Manusia, dan beliau membaca surah Al Baqarah.

    Atau marahnya beliau terhadap bibit bibit khowarij, dengan ucapan beliau, bahwa khawarij adalah anjing anjing neraka.

    Boleh jadi bagi seorang yang tidak faham fiqih dakwah, mengangap hal hal semisal ini, adalah tindakan tidak keras dan tidak tegas.

    Contoh nyata, di saat pandemi,

    Sebagian orang mencela fatwa untuk shalat di rumah, dan tidak shalat di masjid, sebagai tindakan takut mati, menelantarkan masjid, dan tidak punya ketegasan pada pemerintah.

    Padahal di sisi lain, Islam mengajarkan penjaga terhadap nyawa dan juga kehidupan.

    Atau itu sebuah solusi dari pemerintah, bagi yang merasa takut akan wabah, dan jika shalat di masjid tidak menerapkan kaidah kaidah berjamaah.

    Ini yang tidak mereka fahami.

    Sebagian orang yang memiliki karakter lembut, mencela metode dakwah kepada ahli bid’ah, bahwa men tahdzir mereka, adalah ghibah.

    Menjelaskan penyimpangan di angap tindakan keras, dan memecah bela persatuan, iri, dan mencari cari kesalahan.

    Semua ini tidaklah benar.

    Karena agama kita menjelaskan dan mengajarkan sikap pertengahan.

    Seorang muslim wajib tau kapan ia mengedepankan kelembutan dan kapan bersikap keras dan tegas.

    Semua itu di timbang dengan dalil dan Nash Nash syar’i, bukan sekedar perasaan dan egoitas.

    Tidak ada hak bagi perasaan menilai dan menghakimi, satu tindakan keras atau lembut, kecuali di dasari dengan tuntutan dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan bagaimana beliau menyikapi satu hal.

    Sekali lagi, Bukan sebuah sikap bijaksana ( “bijak sana dan tidak bijak sini”) dan lembut, mendiamkan sebuah penyimpangan, bid’ah, dan kemungkaran (meskipun tetap memperhatikan besar kecilnya), sebagian mereka menunjukkan sikap dapat memaklumi penyimpangan dan tidak memberi memakluman yang sama, saat seorang menjelaskan sebuah kemungkaran.

    Sebagaimana bukan sikap bijak, keras kepada orang awam dan berlaku kasar terhadap mereka.

    3). Mengajak orang pada Islam, namun bila di telisik, ia hanya mengajak orang pada dirinya sendiri.

    Sebagian orang merasa kecil hati, bersedih, dan marah, ketika seruannya, tidak di terima, pengikutnya tidak banyak dan terasa lambat buah dari dakwahnya.

    Maka ketika seorang menemukan pada dirinya sifat dan perasaan semacam ini, wajib ia mengoreksi tujuan dan niatnya.

    Seorang yang mendedikasikan dirinya untuk Islam, perjuangan dan dakwah, tidak akan surut meskipun sedikit pengikutnya, tersendat jalannya, dan banyaknya musuh.

    Baginya, kepentingan agama dan ummat lebih ia kedepankan daripada maslahat dirinya.

    Boleh jadi, cercaan, ganguan, dan berbagai ujian, yang menjadikan seorang surut dan patah semangat, karena ia hanya berdakwah untuk kemasyhuran dirinya dan mengajak orang lain pada dirinya.

    4). Berlebihan dalam menilai, sampai keluar dari keadilan, contoh menganggap satu Amaliah itu bid’ah, padahal tidak, atau sebaliknya, karena bersemangat beribadah, sehingga tidak lagi melihat dalil dalil syar’i.

    Penjelasan keempat ini, akan kami bahas dalam tulisan,

    Kaidah membid’ahkan orang lain.

    Semoga Allah mudahkan.