• Rab. Agu 12th, 2020

    Ketika virus futur menyerang

    Byadmin

    Jun 8, 2020 ,

    Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

    Di riwayatkan,

    عن حنْظَلَةَ الأُسَيِّدِىِّ قَالَ (وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم , رضي الله عنه).

    لَقِيَنِى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ؟ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ

    فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا

    قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا.

    فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

    فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَمَا ذَاكَ ؟

    قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا

    فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ

    وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً.

    (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)

    Dari Hanzalah Al Usaidy (dan beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, radiyallahu anhu), ia berkata,

    “Abu Bakr menemuiku, lalu ia bertanya padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzalah (hari ini) ?”, Aku menjawab, “Hanzalah kini telah jadi munafik wahai Abu Bakr”, Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan ?” Aku menjawab, “Sungguh jika kami jika berada di sisi Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai sampai kami seperti melihat (gambaran nya) di hadapan kami,

    Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul shalallahu alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa”.

    Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu juga”.

    Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga saat aku masuk ketempat beliau, aku berkata, “telah menjadi munafiq Hanzalah wahai Rasulullah shalallahu”.

    Maka Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berkata, “apa gerangan yang terjadi ?”

    “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami selalu teringat pada neraka dan surga sampai sampai surga dan neraka itu benar benar nyata (tergambar) di depan kami, Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan keluarga, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa (apa yang engkau ajarkan)”.

    Rasulullah shalallahu alaihi wa salam lalu bersabda, “Demi Rabb (Allah) yang jiwaku berada di tangan Nya, Seandainya kalian mau senantiasa tetap dalam (pahala) beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku, serta kalian terus mengingat ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidurmu dan di jalan.

    Namun wahai Hanzalah, semuanya itu sesaat demi sesaat (ada waktu waktunya)”.

    (Beliau mengulanginya sampai tiga kali).

    (HR. Muslim no. 2750).

    Berkata Syaikh Bakr abu Zaid rahimahullah,

    “Pergunakan selalu waktu waktumu untuk belajar, bekerja (mengunakan waktu dengan produktivitas), jangan menganggur dan malas,

    Beradalah di tempat bekerja, bukan tempat begadang,

    Jaga waktumu dengan amal, belajar, dan berkumpul dengan para guru, menyibukkan diri dengan membaca (menulis), mengajar, merenung, menelaah dan menghafal serta meneliti,

    Terutama saat masih muda dan sehat,

    Waktu begitu berharga dan dengan nya engkau akan memiliki derajat yang tinggi,

    Karena waktu muda, adalah saat tepat untuk belajar dan berfikir, karena sedikitnya kesibukan untuk memenuhi hajat hidup dan mengurus kepemimpinan, serta beban dan tanggung jawab masih ringan”.

    Hilyah thalibil ilm 204.

    Tentang masa muda, di sebutkan dalam syair,

    مع الثمانين عاث الضعف في جسدى
    و ساءني ضعف رجلي و إضراب يدي

    Bersamaan dengan umurku yang ke delapan puluh tubuhku di kuasai kelemahan, dan lemahnya kaki dan tanganku sangat menyusahkan ku

    إذا كتبت فخطي خط مضطرب
    كخط مرتعش الكفين مرتعد

    Ketika aku ingin menulis sebuah tulisan, seakan tulisan orang gemetar kedua tangannya

    فا عجب لضعف يدي عن حملها قلما
    من بعد حمل القنا في لبة الأسد

    Maka aku heran dengan lemahnya tangan sekedar memegang pena, padahal dulu mampu menancapkan tombak pada leher singa

    فقل لمن يتمنى طول مدته
    هذى عواقب طول العمر و المدد

    Maka katakanlah kepada orang yang bercinta cita berumur panjang#
    Inilah kesudahan yang di rasakan oleh orang yang panjang umurnya.

    Setiap kita tentu merasakan saat saat semangat, dan saat saat undur kebelakang untuk fakum dalam sebuah perhelatan.

    Secara umum ini di rasakan oleh orang yang berbuat baik dan berbuat buruk.

    Saat saat lelah dengan aktivitas nya.

    Sebuah kebaikan dan keselamatan, bila seorang yang bergelimang keburukan, lelah dari keburukannya, maka ini awal yang baik.

    Namun sedikit sekali hal yang demikian, karena hawa nafsu cenderung kepada kebatilan,

    Allah subhanahu wa taala berfirman menjelaskan ucapan hamba Nya yang shalih, Yusuf bin Ya’kub alaihimus salam,

    و ما ابرىء نفسي إن النفس لأمارة بالسوء إلا ما رحم ربي إن ربي غفور رحيم

    Dan tidaklah aku menyatakan diri berlepas diri dari sebuah kesalahan, sesungguhnya jiwa itu mendorong kepada keburukan, kecuali jiwa yang di rahmati oleh Rabb nya, sesungguhnya Allah Rabb ku maha pengampun lagi penyayang.

    Qs 12 Yusuf ayat 53.

    Dan sebaliknya,

    Sebuah keburukan, bila seorang yang telah mengusahakan kebaikan, kemudian mengalami kemunduran dan keletihan di dalam hidupnya,

    Dan inilah, tentu yang di inginkan musuh bagi anak Adam, sebuah futur dalam hidupnya.

    Imam Ibnu Jaizy rahimahullah berkata,

    “Orang awam dan orang berilmu sama kedudukannya dalam hukum, kalaupun kadang ada orang berilmu tergelincir dalam hawa nafsu, hal itu tidak bisa di jadikan alasan oleh orang bodoh dalam berbuat dosa.

    Di antara orang awam, ada yang berkata, “seberapa besar dosaku, sehingga aku di hukum ?, toh dosaku tidak menimbulkan keburukan pada orang lain, dan juga ketaatan ku tidak mendatangkan manfaat pada orang lain, ampunan Allah lebih besar dari dosaku (yakni ia meremehkan dosa dan kelalaiannya)”,

    Ini merupakan kebodohan, seakan hukuman itu hanya pada tindakan besar dan kekufuran, mereka tidak sadar, menyalahi syariat itu bisa menjadikan mereka sebagai orang yang ingkar.

    Di antara mereka juga ada yang berkata (saat jiwanya menginginkan berbuat buruk), “aku akan bertaubat dan memperbaiki diri (nanti)”.

    Berapa banyak orang bodoh merasa masih memiliki harapan, lalu kematian menjemput sebelum harapan itu terengkuh,

    Tiada baiknya seorang coba coba dalam kelalaian dan dosa lalu menunggu nunggu yang benar (saat perbaiki kesalahan),

    Boleh jadi ia (setelah melakukan keburukan) dia belum siap untuk bertaubat, boleh jadi (ada bisikan) bahwa ia belum saatnya jadi orang baik (selalu dalam keterobang ambingan dan kelalaian), dan boleh jadi (ada perasaan) taubatnya tidak di terima,

    Jikapun, taubatnya di terima, maka ia akan menanggung rasa malu dalam hidupnya.

    Diantara mereka (orang awam) ada yang memperbaiki diri dalam taubat, lalu berhenti dari taubatnya (dan kebaikannya selama ini),

    Lalu iblis memperdayainya, dan menghiasi dengan berbagai tipuan, karena iblis tau bahwa hasrat orang ini lemah (untuk baik),

    Di riwayatkan dari Al Hasan (Basri) rahimahullah, ia berkata,

    “jika setan melihatmu dalam ketidak taatan kepada Allah maka ia (setan) menganggapnya orang mati (tidak perlu di goda, karena sudah temannya),

    Bila ia melihat seorang hamba senantiasa dalam ketaatan kepada Allah, maka ia takut padanya dan menyingkir,

    Namun, bila setan melihatmu sekali begini dan sekali begitu (tidak punya istiqomah dan mudah futur), maka ia akan bersemangat mengodamu”

    Talbis iblis 389-390.

    Seorang kadang dapat mendeteksi dari arah mana datangnya futur, dan juga boleh jadi ia tidak mengetahui, di lihat dari kadar kedekatan hati dan keterkaitan dirinya kepada Allah,

    Karena hal ini adalah sebab utama tertutup dan terbuka hati.

    Semakin jauh seorang dari penciptanya, maka semakin terhijab hatinya, dan ini telah kami singgung dalam tulisan kami, ‘tangisan jiwa yang telah kehilangan ke khusyu’an’.

    Seorang sebenarnya mudah, mendeteksi apakah dia mengalami futur atau semangat.

    Di antara tanda futur adalah:

    • jauhnya hati seorang hamba dari Rabb nya.
    • akibat hal pertama, muncul hal kedua, mulai ia jauh dari ibadah, dan tidak merasakan kelezatan lagi dalam ibadahnya.
    • sulitnya ia menerima nasehat, hatinya terasa tertutup, dan cenderung mundur dari kebaikan.
    • jauhnya ia dari tilawah Al Qur’an, majelis ilmu, sulit baginya untuk dekat dengan kebaikan dan condong kepada keburukan.
    • terasa asing dengan orang orang shalih, dan terasa dekat dengan orang orang fasik, baik ahli maksiat, biduan, nyayian, dan artis, majelisnya adalah majelis pembicaraan seputar dunia.
    • hidupnya di rundung nestapa, dan kesedihan tiada akhir, berat badannya untuk melakukan ketaatan, namun ringan untuk bermaksiat.
    • lunturnya pengawasan Allah atas dirinya, dan menumbuhkan pada dirinya atas perbuatan salahnya, akan harapan di ampuni oleh Allah dan meremehkan dosa meskipun kecil, dengan itu ia mudah melakukan penyelewengan.
    • tidak lagi senang berkumpul di majelis ilmu, hidupnya hanya untuk hal hal remeh dan tidak berharga, cita citanya tumpul dan gairahnya dalam hal kerendahan.

    Itulah di antara indikasi seorang terserah virus futur,

    Sebenarnya, wajar bila seorang sesekali melakukan hal hal mubah,

    Umpama, rehat untuk istirahat, berkumpul dengan keluarga dan bercengkrama,

    Mengunjungi tempat wisata, dan bercanda, melupakan barang sejenak dari kesibukan setiap harinya.

    Ibarat garam dalam sebuah fase masakan kehidupan, namun tidak boleh kebanyakan.

    Keterlenaan dan undurnya seorang, bila terakumulasi dalam jangka yang panjang, maka akan mengeraskan hati dan menjauhkan seorang dari kebaikan.

    Umpama, bila seorang, sekali ia tidak hadir di majelis ilmu, maka jiwanya merasa bersalah, kangen dengan teman temannya semajelis.

    Namun, bila dua atau tiga kali absen, maka ia mulai cari khilah (alasan) dan pembenaran.

    Bila telah lebih dari tiga kali, maka ia mulai surut dari majelis ilmu, tercabut dari hatinya kelezatan majelis ilmu dan mulai dekat dengan majelis majelis keterlenaan dan keluarga.

    Demikian juga dengan musik, boleh jadi seorang tau hukum seputar musik yang haram, dan ia berusaha menjauhi dan mengangap hal itu adalah sebuah kemanisan, dan aib bagi penuntut ilmu, untuk mendengar musik, bahkan sampai menutup telinganya dari musik.

    Namun, beberapa kali ia mendengar musik yang cocok dengan kondisi baginya, lalu ia mulai mencari alasan untuk sekedar memaklumi nya.

    Dan ketika jalinan tali temali setan (musik) memasuk hatinya, mulai ia dekat dengan musik dan lalai dari kitabullah.

    Demikian lah tipu daya setan yang begitu halus pada seorang hamba.

    Sehingga ia menjadikan dirinya terasing dari kalifah kebaikan dan istiqomah, kemudian menceburkan diri dalam kebinasaan.

    Waiyyadzu Billah.

    Lalu apa yang harus di lakukan:

    • kaitkan hati dengan penciptanya, yakni Allah taala,

    Mohon lah istiqomah dan hidayah.

    • duduklah dan paksakan diri untuk bersama orang orang yang berusaha baik, ingat, serigala hanya memangsa domba yang sendirian.
    • bergelut dengan ilmu, memaksa diri untuk baik dan jangan adakan cela untuk setan.
    • mulai akrab dengan Al Qur’an, murajaah dan membuat karya ilmiah.
    • selalu mengaitkan diri dengan ilmu, ulama dan guru.

    Memuliakan mereka, berinteraksi dengan mereka, bertanya kepada mereka dan menjalin hubungan baik dengan mereka.

    • memiliki teman teman karib yang shalih, menutup semua cela, pertemanan dan sebab sebab yang tidak menjadikan kita istiqomah.
    • membenci keburukan, sebagaimana kita takut masuk ke dalam neraka.
    • jangan hidup sendiri dan untuk diri sendiri, jadilah engkau wasilah wasilah kebaikan, karena kebaikan itu menumbuhkan kebaikan lainnya.

    Allah subhanahu wa taala berfirman,

    و لكن الله حبب اليكم الايمان و زينه في قلوبكم و كره اليكم الكفر و الفسوق و العصيان اؤلئك هم الراشدون.

    Akan tetapi Allah yang menjadikan mu cinta akan keimanan dan menjadikan iman itu hiasan pada hatimu serta menjadikan nya indah padanya. Dan juga menjadikan mu benci kepada kekafiran, kefasikan dan maksiat, mereka itulah orang orang yang mendapatkan petunjuk.

    Qs 49 Al hujurat ayat 7.

    Di sebutkan dalam sebuah syair,

    و احسرتاه تقضى العمر و انصرمت#
    ساعاته بين ذل العجز و الكسل

    Alangkah ruginya bila umur telah habis, sedangkan waktu telah pergi di antara hinanya kelemahan dan kemalasan

    و القوم قد اخذوا درب النجاة وقد
    ساروا إلى المطلب الاعلى على مهل

    Padahal orang lain telah menempuh jalan keselamatan#
    Berjalan menempuh cita cita yang tinggi.

    Syarah kitab hilyah thalibil ilm 269.

    Seorang boleh saja sejak untuk rehat, libur, dan beristirahat.

    Undur sejenak, namun hal ini tidak boleh terlalu lama dan menjadikan ladang subur bagi tumbuh nya virus virus jahat yang menggerogoti keimanan dan keistiqomahan.

    Namun, undur nya kita, adalah dari satu kebaikan pada kebaikan yang lain.

    Dari undur membaca Al Qur’an, untuk murajaah hafalan,

    Dari undur untuk menulis, untuk muhasabah,

    Dari undur untuk belajar, untuk bakti sosial.

    Dan sejenisnya,

    Bukan undur diri dari kebaikan untuk kembali ke dunia gelap, sebelum mereka kenal ilmu dan Sunnah.

    Terakhir, bahwa setiap jiwa bertanggung jawab atas dirinya sendiri,

    Akan di bawa kemana dirinya dan umurnya.

    Wahai jiwa, sekiranya setiap jiwa tau tempat kesudahannya, tentu pada sebuah akhir, tiada penyesalan.

    Sidoarjo, di pagi hari yang cerah, menyiratkan harapan bagi sebuah relung jiwa yang gelap,

    Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.