• Rab. Agu 12th, 2020

    Hingga Aku Yakin

    Byadmin

    Jun 8, 2020

    Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud al Atsary.

    Imam Muhammad bin Idris as Syafi’i rahimahullah berkata,

    دع الأيام تفعل ما نشاء
    و طب نفساً إذا حكم القضاء

    Biarkanlah hari hari berbuat sesukanya, tegarkan dirimu tatkala di tetapkan sebuah ketetapan taqdir.

    و لا تجزع لنازلة الليالي
    فما لحوادث الدنيا بقاء

    Jangan engkau bersedih dengan apa yang terjadi di malam hari, karena apa yang terjadi di dunia ini Tiadalah kekal.

    و كن رجلا على الاهوال جداً
    و شيمتك السماحة و الوفاء

    Dan jadilah engkau seorang yang kokoh atas apa yang terjadi, dengan kekokohan, lapang dada serta kesetiaan.

    و إن كثرت عيوبك في البرايا
    و سرك أن يكون لها غطاء

    Dan sekiranya keburukanmu terlihat di mata makhluk, dan engkau berharap ada tirai yang menutupi.

    تستر بالسجاء فكل عيب
    يغطيه كما قيل السماء

    Maka penutupnya adalah sifat kemurahan kepada orang lain, maka dengannya setiap aib, akan tertutupi sebagaimana dikatakan orang sebagai orang yang memiliki empati.

    و لا تر للاعادي قط ذلا
    فإن شماته الاعدا بلاء

    Jangan engkau tunjukkan kehinaan dihadapan orang yang membencimu, karena kegembiraan musuh itu sebuah bencana.

    و لا ترج السماحة من بخيل
    فما في النار لظمان ماء

    Janganlah engkau berharap kebaikan hati dari orang Bakhil, karena di dalam api tiada air bagi orang yang haus.

    و رزقك ليس ينقصه التاني
    و ليس يزيد في الرزق العناء

    Dan apa yang menjadi rezekimu tiada akan berkurang karena kelemah lembutan, dan tiada bertambah dengan ambisi mendapatkannya.

    و لا حزن يدوم و لا سرور #
    و لا بوس عليك و لا رجاء

    Tiada kesedihan yang abadi, sebagaimana juga dengan kebahagiaan, sebagaimana tidak bertahan kesengsaraan untuk selamanya demikian juga kemakmuran.

    إذا ما كنت ذا قلب قنوع #
    فأنت و مالك الدنيا سواء

    Manakala engkau memiliki hati yang qonaah, Maka antara engkau dan raja dunia adalah sama.

    و من نزلت بساحته المنايا #
    فلا أرض تقيه و لا سماء

    Siapa pun yang telah turun padanya waktu perpisahan (kematian), Maka tiada bumi yang melindungi begitu juga dengan langit.

    و أرض الله واسعة و لكن #
    إذا نزل القضا ضاق الفضاء

    Dan bumi Allah itu luas namun, Bila telah turun ketetapan semua tempat akan terasa sempit.

    دع الأيام تغدر كل حين #
    فما يغني عن الموت الدواء

    Biarkan hari demi hari melakukan penghianatannya,
    Karena tiada obat yang mujarab bagi sebuah kematian.

    Diwan imam Syafi’i hal 10.

    Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,

    Kehidupan dunia bak seorang pelacur yang tidak bisa dimiliki oleh seorang lelaki,

    Perjalanan dunia tidak lain sebagaimana perjalanan di belantara yang penuh kebuasan.

    Berenang untuk tujuan duniawi seakan berenang di sungai yang berbuaya.

    Kesenangannya adalah kesedihan yang sesungguhnya, kebahagiaan duniawi mendatangkan kepedihan sebagaimana kesenangannya mendatangkan kesedihan.

    Manusia dengan dunia seakan burung yang mengejar bebijian, sementara mata hatilah yang akan menyadari adanya jebakkan.

    Sebagaimana pandang hawa nafsu tiada melihat bahaya di depannya.

    Tatkala seorang mendapatkan Taufiq mengetahui kadar dunia baginya, maka mulai mereka memberangus hawa demi kehidupan yang kekal.

    Ketika mereka terjaga dari lelapnya kelalaian, mereka pun berupaya merampas sesuatu (yakni dirinya sendiri) yang telah di rampas musuh (setan).

    Setelah menempuh semua ini, mereka mulai melihat tempat yang di tuju (gambaran akhirat di hatinya),

    Dengan nya membuat jarak yang jauh menjadi dekat, setiap kali kehidupan dunia terasa pahit baginya,

    Seketika itu kehidupan terasa manis, ketika mereka teringat akan hari,

    هذا يومكم الذي كنتم توعدون

    Inilah hari yang telah di janjikan padamu (QS. Al anbiya’ 103).

    Kitab Al Fawaid hal 552_553.

    Yaitu hari yang menjadi tambatan kelelahan seorang musafir.

    Hari di mana seorang yang terlunta akan kembali ke rumahnya.

    Hari peristirahatan bagi seorang yang kelelahan atas urusan dunia, dan kesedihan akan kenestapaan.

    Hari seorang hamba yang shalih tersenyum akan melihat hasil usahanya.

    Hari saat seorang mengetahui kesetiaan dan khianat dari orang orang yang di kenalnya.

    Hari ketika seorang yakin dengan pandangannya, bahwa selama ini hanya Allah yang begitu mencintai dirinya dan berharap kebaikan untuknya.

    Beliau (imam Ibnu Qayyim rahimahullah) berkata di tempat yang lain, di kitab yang sama.

    Orang bodoh mengeluhkan Allah kepada makhluk.

    Sikap semacam ini, merupakan sikap tidak marifah (faham) tentang siapa yang di keluhkan (yakni Allah) dan siapa yang menjadi tempat keluh kesah nya (manusia),

    Sebab bila seorang hamba mengenal Allah, niscaya ia tidak akan mengeluhkan-Nya,

    Dan seandainya ia mengetahui kadar makhluk, maka ia tidak akan mengeluh kepada mereka.

    Seorang ulama salaf melihat seorang yang mengeluhkan kemiskinan dan kebutuhannya kepada setiap orang yang dia temui (mengemis),

    Maka beliau menegurnya,

    “Wahai Fulan, demi Allah tiada guna engkau mengeluhkan Zat yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangi mu”.

    Kitab Al Fawaid hal 549.

    Kehidupan mengajarkan kita, bahwa hanya Allah yang telah mengatur urusan kita, mengarahkan kita kepada kehidupan yang di pilihkan untuk kita,

    Kadang seorang hamba tidak mengetahui akan semua hikmah ini, sehingga muncul pada dirinya buruk sangka, dan kesedihan, membuncahnya kemarahan dan ketidak ridhaan.

    Perjalanan hidup, silih berganti nya orang orang yang masuk dalam kehidupan dan banyaknya urusan kita, baik indah dan menyenangkan, ataupun terasa pahit dan buruk.

    Mengharuskan kita menginsyafi, bahwa kita hamba yang di atur oleh taqdir Nya, dan taqdir Allah seluruhnya baik bagi hamba.

    Dan tiada satupun yang mengasihi kita, kecuali kasih-Nya Allah taala semata,

    و إذا جاءك الذين تؤمنون باياتنا سلام عليكم ، كتب ربكم على نفسه الرحمة

    Dan apabila datang kepadamu orang orang yang beriman kepada ayat ayat Kami maka katakanlah keselamatan atas kalian, Rabb kalian telah menetapkan atas diri Nya sifat Kasih (QS. Al An’am ayat 54).

    Bila kita melihat sebagian besar manusia, dan silih bergantinya mereka,

    Maka kita akan memahami akan sebuah rahasia,

    Bahwa manusia mengalami pertemuan dengan kita hanya terjalin Karena adanya maslahat, jarang sebuah pertemanan terjalin di atas cinta kasih dan agama, kecuali sedikit dari orang yang Allah rahmati.

    Setelah selesai masalahat, mereka akan menjauh dari kita, meninggalkan kita dalam kesendirian dan kesedihan.

    Sebagian orang kita lihat bersilat lidah, berkamuflase dan berminyak lisan serta bermain manipulasi dalam sebuah jalinan keakraban, jarang kita temukan teman sejalan dan teman seperjuangan yang tulus, kecuali sedikit dari mereka yang di rahmati Allah.

    Bahkan sebagian orang mendekati orang yang tidak rahmah dan mencintai dirinya,

    Atau bahkan meninggal orang yang tulus mencintainya,

    Hanya karena sebuah kebodohan akan hakikat kehidupan.

    Kita mengeluh pada orang yang jahat kepada kita,

    Dan kita mengunjing, curiga, buruk sangka kepada orang yang menyayangi diri kita.

    Intinya, kadang seorang terbalik dalam menilai dan salah dalam menimbang dan menyimpulkan.

    Seorang yang memberi nasehat, boleh jadi dimusuhi dan dijauhi, padahal ia adalah seorang yang menginginkan kebaikan untuk kita.

    Dan boleh jadi kita akrab pada orang bengis, yang ingin agar kita memperoleh celaka dan tidak sedikitpun berbelas kasih kepada kita.

    Semua ini menjadikan sebuah kesimpulan agung,

    Bahwa tiada satupun yang mengerti dan menyayangi diri kita secara sempurna, kecuali Allah semata.

    Kemudian,

    Orang-orang yang mencintai kita atas dasar ilmu, agama dan manhaj, yang semua itu bermuara,

    Bukan lagi penilaian kaya miskin, bersih kotor, berlente atau compang camping, bertitel atau tidak sekolah, di bawah jembatan atau di istana.

    Bukan lagi penilaian duniawi,

    Teman sejati adalah yang menerimamu apa adanya, yang memahami kekurangan dan kelemahanmu,

    Tidak perduli seberapa lusuh dirimu, atau seberapa dekil penampilanmu, baik di kolong jembatan atau bertabur permata dan wangi badanmu,

    Yang ada pada hati mereka hanya berkeinginan untuk kebaikan dan keselamatan mu,

    Inilah yang diserukan ashabul Yasin Kepada penduduk desa,

    يا قوم اتبعوا المرسلين . اتبعوا من لا يسئلكم اجرا و هم مهتدون

    Wahai kaum ku, ikutilah rasul rasul itu . Ikutilah orang orang yang tiada meminta upah atas ajarkan nya kepada kalian, sedang mereka adalah orang orang yang mendapatkan petunjuk. (QS. Yasin 20-21).

    Ba’da asar sampai menjelang Maghrib, Sidoarjo.

    Oleh orang yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.