• Rab. Agu 12th, 2020

    Dua kondisi.

    Berkata imam Ibnu Qayyim rahimahullah,

    ” للْعَبد بَين يَدي الله موقفان ، موقف بَين يَدَيْهِ فِي الصَّلَاة ،
    وموقف بَين يَدَيْهِ يَوْم لِقَائِه ، فَمن قَامَ بِحَق الْموقف الأول هوّن عَلَيْهِ الْموقف الآخر ، وَمن استهان بِهَذَا الْموقف وَلم يوفّه حقّه شدّد عَلَيْهِ ذَلِك الْموقف”

    “Seorang hamba itu baginya ada dua peristiwa menghadap di hadapan Allah, menghadap Allah tatkala Shalat, Kedua, menghadap Allah kelak pada hari kiamat.

    Maka, barangsiapa yang berhasil pada posisi menghadap pertama (saat shalat), akan mudah baginya menghadapi peristiwa yang kedua (pertanggung jawaban dirinya di depan Allah).

    Dan, barangsiapa yang meremehkan hal yang pertama ini (shalat), tidaklah pula memenuhi haknya dengan sebenarnya, maka akan sulit baginya menghadap pada kondisi yang ke dua (hisab di sisi Allah)”.

    (Al Fawaid /200).

    Ustad abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.