Fawaid edisi khusus

Bagian dua

Takut mati

(Mereka menangisi kematian bukan karena adanya taqwa# namun karena tidak lagi dapat memperturutkan hawa#)

🖊️abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Kami (abu abd rahman bin muhammad suud) katakan,

Kita lihat hari ini, kekalutan melanda dunia,

Semua perhatian tertuju pada satu hal, bagaimana bisa sehat, jauh dari penyakit, terhindar dari virus, dan juga semua perbincangan mengerucut pada pembicaraan tentang kesehatan,

Sebuah hal yang patut di apresiasi, bila hal itu adalah upaya menjaga kesehatan dan memulai hidup sehat, terlebih bila untuk menunjang ibadah, tentu berpahala.

Bahkan hal ini adalah program pemerintah, yang perlu di dukung, demi kesehatan rakyat nya.

Namun, bila kita teliti lebih lanjut, yang terjadi adalah adanya satu “fenomena tidak biasa” yang kita tangkap.

Satu fenomena jauh di lubuk hati, namun bisa di tangkap secara verbal dengan tindakkan nyata manusia.

Semua membicarakan, semua khawatir, semua berkomentar, semua begitu waspada, bahkan kabar lebih besar dan menghebohkan dari kadar berita nyata yang terjadi.

Media hanya menjual “kehebohan”, sementara manusia begitu terpukau pada kehebohan.

Swalayan di serbu sekedar menimbun makanan, masker terjual begitu laris, dan semua manusia bicara masalah kebersihan dan higienis dari makanan.

Kenapa tidak dari dulu???.


Yang muncul adalah kepanikan masal, dan tindakan berlebihan tanpa ilmu, dan inilah yang kita katakan, tindakan verbal yang berasal dari hati, sebuah ketakutan tidak wajar, dan cenderung ekstrim.

Sebuah penyakit dan virus, bisa menjadikan kehebohan masal, sampai sebagian orang melupakan rasa tawakkal kepada Allah Ar Rahman.

Mafhum, seakan kondisi hari ini, mengabarkan kepada kita, bahwa seorang tidak ingin berjumpa dengan kematian.

Jiwa jiwa yang liar ingin hidup seribu tahun lagi, meskipun umur seribu tahun tidak menghalangi akan azab Allah bagi para durjana.


Mengabarkan pada kita, untuk sebagian orang, kehidupan dunia terlalu mahal, bila di tebus oleh sedetik kematian.

Tangan tangan begitu erat memegang dunia, seakan tidak mau berpisah.

Gigi gigi tua, bergemeretak mendengar kata “mati”.

Karena kata “mati” adalah penghapus kehidupan, dan penutup segala kenikmatan.


Bayangan bayangan kosong telah berhasil meneror pemikiran, sehingga manusia terlupa akan akal sehat, dan begitu takut akan makhluk Allah yang begitu kecil, semacam virus, sementara mereka tidak takut menerjang dosa dan maksiat.

Dan akhirnya, sebagian kecil manusia, memperoleh keuntungan sementara dari kehebohan sekaligus kebodohan kita.


Inilah kerapuhan iman, dan turunannya rasa tawakkal yang kami maksud.


*Bagi orang beriman, menjaga diri, dan menempuh sebab keselamatan wajib*,


Satu fenomena salah kaprah, bila virus dapat memporak porandakan keimanan sekaligus tawakkal, dan membuktikan bahwa kita terlalu berat pada dunia, dan terlalu takut kepada kematian.


Maka, semua upaya itu (pencegahan), jangan sampai menghilangkan rasa tawakkal di hati kita sekalian.

Tinggalkan Balasan

Ukhuwah Fil Hijrah