Oktober 28, 2020

Ukhuwah Fil Hijrah

Lillah Fillah Billah

Salah Didik dan Salah Belajar

2 min read

Fawaid Khusus

Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Di antara bentuk kesalahan dalam tahapan dan proses belajar adalah :

Seorang tidak setahap demi setahap dalam belajar.

Sesungguhnya agama ini di turunkan Allah subhanahu wa taala kepada Rasul Nya shalallahu alaihi wa salam setahap demi setahap, agar muncul keteguhan, ketenangan dan kedamaian hati.

Inilah makna firman Allah subhanahu wa taala,

و قال الذين كفروا لو لا نزل عليه القرآن جملة واحدة ، كذلك لنثبت به فؤادك و رتلناه ترتيلا.

Dan berkata orang orang kafir, mengapa tidak di turunkan Al Qur’an ini sekali turun?, Demikian lah agar dengan itu (bertahap), Kami teguhkan hatimu dengan nya, dan Kami membaca kannya kepadamu secara Tartil.

Qs 25 Al Furqon ayat 32.

Namun hari ini, sebagian kita, dalam tahapan belajar merasakan kesulitan, panas hati dan juga pertentangan yang banyak.

Apa yang terjadi?

Jawab,

Karena kita salah proses.

Ilmu, bila di pelajari bertahap, maka akan menghasilkan kekokohan, ketenangan hati dan kedamaian

Yakni ketika seorang melalui proses yang panjang dalam mempelajari aqidah, manhaj, adab adab syar’i dan membenahi diri dan ibadahnya.

Namun bila kita belum apa apa, sudah membahas khilaf ulama, jarh wa ta’dil, dan hajr.

Yang terjadi, majelis ilmu yang seharusnya menghantarkan seorang pada ketenangan, menjadi panas hati, saling curiga, ajang debat, menghajr, dan saling menyalahkan dalam hal yang tidak prinsip (dalam lingkup sunnah).

Maka wajib bagi kita sekalian, melihat cara dan bagaimana kita belajar,

Apakah sesuai tahapan tahapannya?

Atau, belum apa apa, sudah menaiki tangga tentang khilaf dan perbedaan di kalangan ulama, dan membahas yang seharusnya bukan wilayah kita membahasnya ?

Lihat hari ini, sebagai orang menuduh dan melihat dakwah salafy, sebagai (meskipun tidak sepenuhnya benar kesimpulan ini) berisi saling hajr, debat tidak berkesudahan, dan saling serang.

Akibat apa?

Karena sebagian kita salah didik, salah belajar dan meloncat ke tahapan lebih tinggi, sedang landasan belum kokoh.

Mari kita koreksi niat dan metode kita dalam belajar.

Tinggalkan Balasan