• Kam. Agu 6th, 2020

    Puasa Bulan Ramadhan + Puasa Enam Hari di Bulan Syawal Sebagai Penebus Puasa Wajib Yang Ditinggalkan di Masa Lalu?

    Byadmin

    Mei 28, 2020

    Puasa Bulan Ramadhan + Puasa Enam Hari di Bulan Syawal Sebagai Penebus Puasa Wajib Yang Ditinggalkan di Masa Lalu?

    PERTANYAAN
    ” Sesiapa berpuasa pada bulan ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan syawal , maka puasanya itu sama seperti puasa sepanjang tahun ( sepanjang masa ) ” Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim Persoalan saya : Pada tahun2 sebelum ini , saya sangat malas berpuasa . kadang sehari je puasa . tahun ni saya tanam azam untuk berpuasa penuh sebulan . ada kah saya dapat mencover puasa-puasa saya yang lalu dengan berpuasa penuh dibulan ramadhan dan berpuasa enam pada bulan syawal ?

    Ikhwan (SANDAKAN)

    Jawaban

    الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

    Puasa Ramadhan itu wajib bagi setiap muslim yang baligh (dewasa), berakal, dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan mukim (tidak bersafar). Diantara dalilnya adalah surat Al-Baqarah ayat 183:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

    Diantara dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam

    بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

    “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.”

    Tidak cukup sampai di situ keterangan tentang ditekankanya syariat berpuasa Ramadhan bahkan ada nash yang menunjukkan efek dari orang yang sengaja tidak berpuasa meski dia tidak mempunyai udzur.

    Abu Umamah menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata, ”Naiklah”. Lalu kukatakan, ”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata, ”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba- tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”

    Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya, ”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

    ”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.

    Lihatlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja dalam hadits ini, maka bagaimana lagi dengan orang yangenggan berpuasa sejak awal Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sama sekali.

    Adz Dzahabiy sampai-sampai mengatakan, “Siapa saja yang sengaja tidak berpuasa Ramadhan, bukan karena sakit atau uzur lainnya, maka dosa yang dilakukan lebih jelek dari dosa berzina, penarik upeti (dengan paksa), pecandu miras (minuman keras), bahkan orang seperti ini diragukan keislamannya dan disangka sebagai orang yang terjangkiti kemunafikan dan penyimpangan.” Dinukil dari buku panduan ramadhan karya Muhammad Abduh Tuasikal

    Oleh karena itu penanya wajib untuk sungguh-sungguh dalam melaksanakan syariat puasa Ramadhan dan haram hukumnya bagi dia untuk tidak berpuasa Ramadhan kecuali bila memang dia ada udzur yang mendasarinya. Terkait pertanyaan apakah puasa Ramadhan ditambah puasa enam hari di bulan Syawwal, apakah itu bisa menebus dosa meninggalkan puasa ramadhan di masa lalu maka jawabannya tidak bisa karena hadits itu tidak dimaknai oleh Ulama’ sebagai amalan penebus puasa wajib yang ditinggalkan di masa lalu, bahkan Ulama’ juga juga tidak mengatakan bahwa kalau orang melaksanakan itu maka gugurlah pensyariatan puasa-puasa sunnah sepanjang tahun baginya.

    Penanya wajib untuk menghitung puasa-puasa wajib yang ia tinggalkan di masa lalu kemudian menggantinya nanti setelah Ramadhan. Ulama’ yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya,” Ada seorang wanita tua berusia enam puluh tahun. Dia tidak mengetahui hukum haid bertahun-tahun lamanya dan tidak meng-qadha puasa Ramadhan karena menganggap bahwa puasa Ramadhan tidak perlu di-qadha, berdasarkan apa yang dia dengar dari orang awam.

    Mereka menjawab: Dia harus bertobat kepada Allah karena tidak bertanya kepada ulama. Dengan demikian, dia wajib meng-qadha sesuai perkiraan jumlah hari yang ditinggalkan. Dia juga wajib membayar kafarat untuk setiap hari yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin setengah shagandum, kurma, beras, atau makanan lain yang merupakan bahan pokok penduduk. Itu jika dia mampu memberi makan. Apabila tidak mampu, maka kewajiban tersebut gugur baginya sehingga dia cukup meng-qadha puasa. Wabillahittaufiq, wa Shallallahuala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

    Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

    Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota 

    Abdurrazzaq `Afifi selaku  Wakil Ketua Komite 

    Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku  Ketua

    Fatawa al-lajnah ad-Daimah 10/151-152  Nomor (1790 )

    Wallahu ta’ala a’lam

    Dijawab Oleh Ustadz Mukhsin Suaidi, Lc, M.E.I حفظه الله)

     http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/7749-puasa-bulan-ramadhan-puasa-enam-hari-di-bulan-syawal-sebagai-penebus-puasa-wajib-yang-ditinggalkan-di-masa-lalu