Cara Lain…..

Fawaid edisi khusus

Cara lain….

Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda,

إن الشيطان قد ايش أن يعبده المصلون في جزيرة العرب و لكن في التخريش بينهم.

رواه مسلم ٢٨١٢.

Sesungguhnya setan telah putus asa untuk di ibadahi oleh orang orang yang shalat di jazirah Arab (kaum muslimin), namun ia tidak akan pernah putus asa dari menebar permusuhan di antara kalian (HR. Muslim no 2812).

Seorang muslim dengan muslim lainnya adalah sepenanggungan, dalam arti saling berkasih sayang, sepenanggungan dalam kegembiraan dan kesedihan.

Mereka bukan hanya sebatas keluarga, namun lebih dari itu, mereka adalah kaca bagi yang lain, kain yang menutupi aib dan sandaran saat menemui kesulitan dan tempat untuk saling memikul beban.

Syaikh Ali Hasan Al halaby hafidzahullah mengingatkan tentang keindahan persaudaraan dan taawun sesama muslim,

“و تعاونوا على البر و التقوى

Dan saling tolong menolong lah kalian dalam kebaikan dan taqwa. (Q.S. Al-Maidah ayat 2)

Kita (kaum muslimin) wajib mengaplikasikan sebagaimana di praktekkan salafus shalih. Dasar dalam amal, beban dakwah, dan perjumpaan dalam pertemanan adalah tauhid dan manhaj. Di antara konsekuensi tauhid adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya, meniti jalan salaf dari kalangan shahabat, tidak memusuhi orang lain (saudara nya) karena unsur golongan, dan tidak meninggalkan jamaah kaum muslimin. Yang di lakukan untuk menterjemahkan ayat di atas adalah perintah saling bertaawun atas dasar syariat.

Ayat ini adalah titik tolak dan asas, yang mencakup kemaslahatan dunia dan akhirat. Mencakup kemaslahatan antara satu muslim dengan muslim lainnya. Sebab setiap orang tidak bisa di lepaskan dari dua hal, kewajibannya dengan Allah, dan kewajiban antar manusia.

Kewajiban antar seorang muslim dengan saudaranya adalah berupa pergaulan yang baik, saling sepenanggungan dalam persahabatan, amal nyata dalam tolong menolong berdasarkan keridhaan Allah dan di atas ketaatan pada Nya. Karena hal ini adalah puncak kebahagiaan, serta pertemuan dan perpisahan, persahabatan dan permusuhan harus di dasarkan kepada dua perkara ini (Ridha Allah dan di dalam ketaatan)”. (Kitab ad dawah Ila llah, baina tajamu’ hizby wa taawun syar’iy Hal 133.)

Begitu indah asas Islam dalam persaudaraan dan pertemanan.

Namun, apakah iblis ridha dengan hal ini?

Jawabannya, tentu tidak.

Mereka tidak akan Ridha dengan kebaikan, mereka akan berusaha merobek tirai kebaikan, memporak porandakan bangunan, dan akan memadamkan setiap semangat kebaikan, agar tidak berkembang kebaikan dan yang tampak hanya keburukan dan kekejian serta perpecahan.

Imam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata,

“Tatkala ajaran yang berbinar bak siang hari dari kehidupan para shahabat (dengan wafatnya mereka) cahayanya mulai temaram, mulai muncul bayang bayang kegelapan, kemudian bisikan bisikan hawa nafsu mulai menyeruak, jalan yang tadinya lapang mulai menyempit, lalu mereka (kaum muslimin) mulai bergolongan dan mereka mulai tidak padu (dalam satu urusan). Di sinilah iblis bangkit menciptakan hal hal yang bisa mengecoh (dengan bentuk lain), mencabik cabik (hati), dan memecah belah (persatuan). Sekerlingan mata pun, ia tidak pernah berhenti mengintip (kelemahan)”. (Lihat muqodimah talbis iblis hal 19.)

Wahai saudaraku, ingatlah akan wasiat dan hal ini.

Aku (abu abd rahman bin muhammad suud) nasehat kan, dan aku berkewajiban menjadi orang pertama yang melaksanakan.

Sesungguhnya, penyakit yang di hembuskan iblis dan bala tentaranya di kalangan Ahlu Sunnah bukan mengajak mereka pada kesyirikan dan bid’ah.

Karena ia tau, Ahlu Sunnah memiliki ilmu, sehingga tidak terjerumus pada keduanya.

Maka ia dan bala tentaranya, masuk lewat pintu, dan menghasung lewat wajah yang lain, serta melakukan talbis dalam bentuk yang berbeda.

Mereka menyeruak di barisan ahlus Sunnah untuk memecah bela, menabur buruk sangka dan saling tidak percaya.

Mereka meniup api fitnah, dan mengobarkan perselisihan sengit yang menjalar sampai lubuk hati di antara sesama Ahlu Sunnah.

Sehingga dengan itu, runtuh persaudaraan,

Tertanam rasa saling curiga dan tidak mempercayai,

Hilang rasa kasih sayang berganti kebencian dan permusuhan.

Semoga Allah subhanahu wa taala melindungi kita semua dari hal itu.

Maka hendaknya kita semua:

  1. Membangun pondasi dan asas persaudaraan dan pertemanan, yakni saling percaya dan membangun persaudaraan diatas taqwa dan ketaatan.

Ini berlaku secara umum

  1. Saling sepenanggungan, dan berkerjasama di atas kebaikan dengan kebeningan jiwa dan menutup cela dan mengesampingkan ego masing masing untuk maslahat yang lebih besar.
  2. Saling menjaga perasaan, menahan tangan dan lisan dari hal hal buruk yang dapat memutus tautan hati dan memecah perasaan.
  3. Mendahulukan kepentingan umum dan kaum muslimin serta saudaranya dari kepentingan sendiri dan maslahat pribadi.
  4. Mengembalikan semua hal pada makna dan penafsiran yang baik dan jujur.
  5. Memberikan udzur, berlapang dada, dan melihat kebaikan melebihi kesalahan yang mungkin terjadi berupa gesekan.
  6. Saling mengunjungi, dan menyapa sebagai saudara, dan sedapat mungkin menyelesaikan masalah dengan segera, sehingga satu masalah tidak menjadikan sempitnya hati dan renggangnya hubungan.
  7. Tidak meninggalkan saudaranya dalam urusan penting, menganggapnya ada, dan hal ini berlaku umum, sehingga satu orang di antara mereka merasa di hargai keberadaannya di antara yang lain.
  8. Terakhir, wahai saudaraku,

Kerjasama dalam kebaikan, asas nya adalah keperdulian dan saling sepenanggungan.

Bukan materi

Sebuah usaha kebaikan, asas awal bukan materi, harta, dan semisal dari itu.

Namun upaya kita perduli, keseriusan kita menebar kebaikan dan menyebarkan dakwah.

Sebagai orang berkata, bagaimana orang berakal, bisa memulai kebaikan tanpa modal dan harta serta materi?

Mereka melupakan asas dakwah para Nabi alaihimus salam, dan tidak mengerti karakter agama yang mulia ini.

Bagi mereka materi adalah segalanya, tidak ada materi berhenti berbuat baik.

Tidak dan tidak,

Dengan persaudaraan dan pertemanan yang tulus, kita akan dapat melakukan tindakan tindakan dan kerja kerja Besar,

Inilah modal dalam persahabatan, setelah kita asaskan semua itu di atas taqwa dan ketaatan kepada Allah dan rasul Nya.

Semoga Allah subhanahu wa taala mengumpulkan kita di atas kebaikan dan ketaatan di jalan dan surga Nya.

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *