Seruan Dakwah Bukan pada Materi

Fawaid edisi khusus


Seruan dakwah bukan pada materi, namun mengajak manusia kepada Allah

Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.


Perjuangan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, yang beliau lewati begitu berat, melewati berbagai tantangan dan resiko,

Kita masih menceritakan rangkaian perjalanan dakwah beliau, setelah di tolak seruan dakwah beliau di thaif.


Beliau mendatangi dan menanyakan keadaan setiap qobilah yang kira kira mau menerima dakwah beliau,

Beliau berkata pada setiap qobilah yang beliau temui pada musim musim haji,



Beliau berkata,

“Wahai manusia, ucapkan Laa Ilaha Illallah, kalian akan beruntung”,

Tidak berhenti Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berkata, “wahai manusia ucapkan Laa Ilaha Illallah”,

Sementara Abu Lahab mengikutinya dari belakang dengan berkata,

“Ia adalah orang murtad dan pendusta”.

(Hr Ahmad 25/404 no 16023).

Fiqih Sirah hal 251.



Di riwayatkan dari az Zuhri,

Beberapa qobilah beliau (Rasulullah) datangi, menawarkan Islam, namun tidak satupun dari mereka yang menyambut seruannya

Mukhtashar siratir rasul hal 149.


Di antara yang beliau dakwahi adalah Bani Amr bin Sha’ah,

Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan menawarkan diri beliau kepada mereka,

Maka seorang dari mereka yang bernama Bahirah bin Firas, berkata pada kaumnya,

“Seandainya saya mengambil tawaran pemuda ini, pasti saya di musuhi Quraisy dan arab”.

Lalu ia berpaling kepada Rasulullah, dan berkata,

“Bagaimana pendapatmu, bila kami membaiat mu atas urusan ini (menerima Islam), lalu Allah memberimu kemenangan atas orang orang yang memusuhimu, apakah kami berhak atas urusan itu, setelah mu?”.

Nabi berkata,

“Semua urusan kembali kepada Allah, Dia akan tetapkan sesuai dengan kehendak Nya”.

Kemudian ia berkata kepada nabi (dengan kasar),

“Kami korbankan leher leher kami untuk (membela) mu, namun apabila urusan itu bila telah di menangkan Allah, kami tidak berhak atas urusan tersebut ?, (Menyingkirlah) kami tidak butuh terhadap urusanmu”.

Begitulah, mereka menolak tawaran beliau.

Sirah Ibnu Hisyam 1/424. Rahiqil Makhtum 177.


Berkata Syaikh Zaid bin Abd Karim,


“…. Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menawarkan dakwah ini pada setiap qobilah, sambil mengajak mereka kepada Allah dengan lembut dan sabar, beliau berkata,

“Adakah satu kaum yang akan membawaku pada kaumnya, karena orang orang Quraisy telah menghalang halangiku untuk menyampaikan risalah (ajaran) Rabbku ?”.

Seruan para da’i kadang terasa lambat…

(Hal ini) menunjukkan bahwa menawarkan dakwah kepada manusia pasti akan mendapatkan resiko (penolakan), semua itu harus menjadikan seorang da’i untuk bersabar (menyikapi penolakan), dan mengharapkan balasan dari Allah.

Kami katakan,

Bahwa setiap muslim adalah para da’i dengan kapasitas nya, untuk mengajak manusia kepada agama Allah.

Dan sesungguhnya dakwah ini tidak pernah menawarkan kepada manusia keuntungan keuntungan materi, harta dan piranti pirantinya.

Dakwah ini adalah sebuah misi, mengajak manusia kepada Allah dan rasul- Nya.

Dan sifat seorang da’i hendaknya memiliki kekokohan dan keteguhan serta kesabaran menghadapi setiap ganguan pada jalan Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *