Untuk Cemburu Karena Allah Saja, Engkau Tidak Mampu?

Fawaid Edisi Khusus

UNTUK CEMBURU KARENA ALLAH SAJA, ENGKAU TIDAK MAMPU ?

Oleh: Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.


Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam bersabda,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

شتمني إبن أدم و ما ينبغي له أن يستمني ،

و تكذبني و ما ينبغي له ،

أما سمته فقوله إن لي ولدا

و أما تكذيبه فقوله ليس يعيدني كما بداني.


Manusia telah mencela Ku, dan tidaklah patut mereka mencela Ku.

Dan manusia mendustakan Ku, dan tiada pantas mereka melakukan itu.

Adapun celaan mereka adalah ucapanya yang mengatakan Aku memiliki anak.

Dan adapun kedustaan mereka adalah ucapanya, bahwa Aku tidak kuasa menghidupkan (makhluk) kembali sebagaimana aku telah menciptakan (mereka) semula.

HR Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu /3193.



Tidak ada satu kaum yang mensifati tuhan nya dengan hina kecuali sebagaimana yang di lakukan orang orang nasrani.

Mereka mensifati Tuhannya dengan sifat pendendam, yang tidak bisa mengampuni dosa yang di lakukan hamba Nya, Adam ‘Alaihi Salam.

Sehingga dosa itu temurun kepada anak cucunya.

Dan tidak bisa “Tuhan kasih” itu memaafkan dan mengampuni dosa manusia, kecuali ia harus turun dari singgasana keagungan Arsy Nya, lalu mengalami apa yang di alami manusia, dari kesulitan dan kesengsaraan.

Hidup sembilan bulan di rahim, makan dari asupan darah haid, kemudian keluar mengoyak Farji wanita, lahir berupa bayi yang menetek, dan mengalami konsekuensi dari makan.

Di kemudian hari ia harus di hianati murid Nya, hidup sebagai pelarian dan buronan Yahudi dan Romawi.

Kemudian tangan tangan musuh menimpakan kehinaan pada diri Nya.

Di tampar, di cambuk, di ludahi, di pasangkan mahkota duri sebagai raja Yahudi, dan kemudian memanggul salib untuk menyalib diri Nya di antara dua pencuri.

Ia kemudian harus menangung dosa dari hamba ciptaan Nya sendiri, dengan cara hina semacam itu.

Tertancap di kayu salib, kemudian memanggil Tuhan selain diri Nya.

“Eli, Eli, Mengapa Engkau meninggal Ku ?”.

Dia tidak mati, sampai seorang serdadu Romawi menusuk rusuknya dengan tombak, dan di biarkan rambutnya mengering karena darah Nya.

Tidak di turunkan Dia, kecuali hari telah sore.



Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata,

“Apakah alam ini bisa bertahan tanpa Tuhan yang mendengar para penyeru Nya dan mengabulkan doa ?

Apakah langit yang tujuh itu kosong, saat Dia berada di dalam tanah yang mengubur Nya ?

Apakah alam ini kosong, tanpa Tuhan yang mengaturnya, saat tangan Nya di paku ?

Bagaimana para malaikat diam, sedang mereka mendengar tangis Nya ?

Bagaimana kayu salib mampu membawa Tuhan yang Haq, yang tengkuk Nya terbelengu ?

Bagaimana besi bisa menembus daging Nya, dan menimpakan penderita pada Nya ?
Bagaimana tangan musuh bisa memukul tengkuk Nya,

Apakah Kristus dengan sendirinya kembali hidup, atau Sang pemberi hidup (Allah) memiliki Tuhan selain diri Nya !!!???

Aduh, betapa ajaib, ada tanah yang mengubur Tuhan, dan ada yang lebih ajaib, ada rahim yang mengandung Tuhan ?.”

Kitab Ighasatu Lahafan min Mashaidis Syaitan juz 2 bab ke 14.



Wahai kaum muslimin, tidakkah kalian sedikit memiliki kecemburuan.

Ketika mereka mensifati Allah dengan sifat yang sedemikian ?

Saat mereka mengatakan “Allah itu tiga”.


Yang agama mereka, mereka bangun di atas konsili yang saling mengutuk di antara mereka.

Lalu rasa tanpa cemburu, kalian mengatakan,

“Selamat hari lahir Tuhan”.

Di mana aqidah Wala’ dan Bara’ kalian ???


Semoga Allah memberi kita Istiqomah dan keteguhan di atas iman tauhid.


Jangan korbankan Aqidah demi yang di sebut “toleransi”.

Karena mereka tidak pernah memiliki dan memahami kata itu, dan demikian lah sejarah itu, telah mengutarakannya sebagai sesuatu yang abadi.

Dan tidak perlu meneriakkan kata toleransi, karena selama ini kaum Muslimin telah membuktikan nya.

Bahkan sebelum kaum itu bisa mengeja kata… t-o-l-e-r-a-n-s-i.

Semoga pesan ini di terima setiap hati yang memiliki iman kepada Allah, lagi tulus beribadah kepada Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *