KARTINI, SEBUAH DISTORSI SEJARAH (Studi kritis tentang keyakinan Kartini)

Esai Edisi Khusus

KARTINI, SEBUAH DISTORSI SEJARAH
(Studi kritis tentang keyakinan Kartini)

🖋 Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud al Atsary

تلك امة قد حلت ، لها ما كسبت و لكم ما كسبتم …. (سورة البقرة)

141 : “Mereka itu ummat terdahulu, bagi mereka amalan mereka, bagimu amalanmu.

Raden Adjeng Kartini (1879 – 1904), sesungguhnya tidaklah di kenal kontribusinya dalam sejarah kecuali sebagai korespondensi yang menghasilkan surat menyurat dengan teman – temannya di Eropa alumni ‘europa lagere scool’ ELS, juga sebagai anak ningrat yang dekat dengan Belanda di Jepara – Rembang.

Dibanding sebagian pejuang wanita muslimah lain, peran Kartini tidak ada, sekolah ‘Kartini’ didirikan setelah meninggalnya, lalu kenapa Kartini yang ditonjolkan ?

Tidak lain untuk mengecilkan peran ummat Islam (distorsi) di pentas perjuangan.

Kartini memulai korespondensi sejak umur 20 tahun, dari tulisan Kartini, kita bisa melihat “keyakinan” yang dianutnya.

Kartini dan pluralisme serta penghinaannya pada islam,

” Ya Tuhan, adakalanya aku berharap alangkah baiknya tidak ada agama itu, karena berlainan tempat menyeru tuhan, berdirilah tembok yang membatasi hati, benarkah agama itu sebagai restu bagi manusia ? Tanyaku pada diri sendiri dengan bimbang hati”
(Surat 6 November 1899)

Kartini dengan mistisme

“Mengenai spiritisme yang dianut tuan Van kol dengan setia, saya senang sekali diajarkan kepercayaan itu, bukan memanggil rohnya, tapi mengenal indahnya ajaran itu, ajaran yang mendamaikan banyak hal, bahwa kegagalan kita sekarang adalah penebus dosa dari kehidupan sebelumnya, melalui spiritisme kita memperoleh banyak nasehat dari dunia arwah…”
(Surat 15 Juli 1902)

– Kartini tidak tahu ajaran Islam “Apabila nyonya Abendanon bertemu teman nyonya, tuan Snouck Hurgronje, mohon tanyakan tentang hukum aqil baligh di dalam undang – undang mereka, kami sendiri (orang Islam) tidak tahu tentang hal itu…”

Kartini dan ajaran teosofi (kebatinan Yahudi)
“Orang bilang, bahwa tanpa saya sadari sendiri telah menjadi penganut teosofi” (Surat 24 Agustus 1902)

Agama Kartini Islam ?
” Sepanjang hemat kami, agama paling indah dan paling suci adalah agama kasih sayang, dan haruskah seorang untuk berbudi untuk memeluk Budha, Brahma, Kristen atau Islam ? Bahkan orang kafir dapat hidup dengan kasih sayang yang murni” (Surat 14 Desember 1902)


” Agama sesungguhnya adalah kebatinan, bisa dipeluk baik Kristen atau Islam” (Surat 31 Januari 1902)


“Kalau mau ajarkan agama pada orang Jawa, ajarkan kepada mereka tuhan satu – satunya bapa pengasih, tuhan semua ummat, baik Islam, Kristen, Budha, Yahudi” (Surat 31 Januari 1903)


“Tidak peduli agama apa yang di peluk orang dan bangsa, jiwa mulia akan mulia..”
(Surat 5 Juni 1903)

– Kartini tidak percaya akhirat, dan surga serta neraka
” Tuhan kami adalah nurani, surga dan neraka kami adalah nurani, bila melakukan kejahatan nuranilah yang menghukum kami, bila melakukan kebaikan, nurani yang memberi karunia kami…”
(Surat 15 Agustus 1902)

Istilah “habis gelap terbitlah terang” bukan dari Al Qur’an, tapi ajaran kelompok cahaya, fremasonry. Habis gelap terbitlah terang Door Duisternis tot Licht Adalah “kalimat baiat” kelompok cahaya iluminati dan fremasonry. Kami tidak menghujat seorang yang telah mati, karena mereka telah bertemu amalnya, namun menerangkan dengan sebenarnya keyakinan Kartini selama hidup, yang jarang diketahui orang, dan tidak ada petunjuk tertulis bahwa Kartini telah mengoreksi / merevisi pemahamannya, meski menjelang wafat di umur 29 tahun. Belajar dan bertemu seorang kyai, bernama kyai Soleh Darat. Dan hendaknya menjadi koreksi untuk para orang tua dan guru yang akan mengijinkan putra dan anak didiknya untuk merayakan “hari Kartini”.

Wabillahi Taufiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *