• Kam. Agu 6th, 2020

    Sholat Ied

    Byadmin

    Apr 19, 2020

    Para Ulama berselisih pendapat
    terkait hukum sholat Ied menjadi tiga
    pendapat :


    1. Fardhu ‘ain (yakni wajib atas setiap
    individu). Ini madzhab Abu Hanifah, salah satu pendapat Asy-Syafii, Ahmad, sebagian Malikiyyah, pendapat ini yang dipilih oleh
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

    (Al-Bada’i 1/274, IbnuAbidin 2/166, Ad-Dasuqi 1/396, Al-Inshof 2/240, Majmu’Fatawa 23/161, As-Sailul Jarror1/315)


    [2]. Fardhu kifayah (apabila sudah
    ditunaikan oleh sekelompok kaum Muslimin gugur kewajibannya atas yang lain). Ini madzhabnya Hanabilah, sebagian Syafiiyyah. (Al-Mughni 2/304, Kassyaful Qina’ 2/50, Al-Majmu’5/2)


    [3].Sunnah mu’akkadah (sangat ditekankan pelaksanaannya). Ini madzhabnya Malik, Asy-Syafii, dan kebanyakan dari para Ulama
    Malikiyyah dan Syafiiyyah.
    Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, diantara alasannya Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan manusia untuk keluar menuju lapangan termasuk para wanita yang sedang berhalangan (haid) sekalipun.
    Beliau صلى الله عليه وسلم juga memerintahkan para wanita
    untuk meminjamkan jilbab kepada
    saudarinya, padahal sholat nya mereka lebih utama dirumah.

    Adapun penilaian Al-Imam An-Nawawi bahwa para Ulama telah berijma’ (sepakat) sholat Ied tidak fardhu’ain, maka pendapat ini gugur dengan sendirinya karena kenyataannya para Ulama berselisih pendapat. (Shohih Fiqh ussunnah 1/598-599)

    Apakah Sebelum Sholat Ied & Sesudahnya Disyariatkan Sholat?

    Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu’anhuma:
    “Bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم keluar menuju lapangan dihari Iedul Adh-ha atau Iedul Fitri maka beliau sholat Ied sebanyak dua rokaat, tidak didahului sholat sebelumnya maupun sholat setelahnya, lalu beliauصلى الله عليه وسلم mendatangi shof wanita dan bersama beliau ada Bilal, maka beliau صلى الله عليه وسلم memerintahkan para wanita untuk bersedekah, maka mulailah mereka melemparkan perhiasan cincin dan kalungnya (ke kain yang dibentangkan Bilal).”

    (HR.Al-Bukhori 964 dan Muslim 2057)

    Syaikh Al’Allamah Muhammad bin Ali Al-Ithyubi hafidzhohullah menjelaskan,
    “Para Ulama berselisih pendapat terkait hukum sholat sebelum sholat Ied dan setelahnya.


    [1]. Tidak sholat sebelumnya dan
    setelahnya. Ini pendapat Ibnu Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Ibnu Abi Aufa, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Amr.


    [2].Sholat sebelumnya dan setelahnya. Ini pendapat Anas bin Malik, Abu Huroiroh, Al-Hasan Al-Bashri dan saudaranya Sa’id, Jabir bin Zaid, Urwah bin Az-Zubair, Asy-Syafii.


    [3].Sholat setelahnya dan tidak sholat
    sebelumnya.Ini pendapat Abu Mas’ud Al-Badri, Ibnu Mas’ud dalam riwayat lain, Alqomah, Al-Aswad, Mujahid, Ibnu Abi Laila, Sa’id, Ibrohim An-Nakho’i, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, ash-haburro’yi.


    [4]. Makruh sholat dilapangan sebelum sholat Ied maupun setelahnya namun diberi rukhshoh (keringanan) diselain lapangan.
    Ini pendapat Malik,Ishaq bin Rohuyah. (Al-Awsath 4/268-269, Al-Imam Ibnul Mundzir)

    Pendapat yang lebih kuat tidak disyariatkan sholat sebelum sholat Ied maupun setelahnya karena tidak ada dalil yang tsabit dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang menyontohkannya.

    (Al-Bahrul Muhith Ats-Tsajjaj 17/476-477)


    Adapun riwayat yang menyebutkan,
    “Rosulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah sholat sebelum sholat Ied, namun apabila beliau kembali ke rumahnya maka beliau sholat dua rokaat”, riwayat ini statusnya dho’if (lemah) dalam sanadnya ada Abdullah bin Muhammad Al-Qurosyi serta menyelisihi riwayat shohih Ibnu Abbas diatas.

    Disalin dari E-book panduan ramadhan
    Oleh Ustadz Fikri abul hasan