Lailatul Qodr

Keistimewaan Lailatul Qodr (Malam Kemuliaan)

Allah’ azza wajalla berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qodr. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qodr itu?

Lailatul Qodr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ar-Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

(Al-Qodr:1-5)


Syaikh Al-‘Allamah As-Si’di menjelaskan,
“Amalan ketaatan yang dikerjakan pada malam lailatul qodr nilainya lebih utama dari amalan ketaatan yang dikerjakan selama seribu bulan (84 tahun). Hal Ini benar-benar membuat heran orang yang berakal. Allah memberi karunia kepada umat ini baik yang lemah maupun yang kuat dengan keutamaan malam lailatul qodr.
Amalan ketaatan yang dikerjakan pada malam itu dilipatgandakan seribu bulan dan umur seseorang pada malam itu hakikatnya dipanjangkan lebih dari 80 tahun.
Para malaikat Allah turun dalam jumlah yang lebih banyak untuk mengatur segala urusan dimalam lailatul qodr.
Pada malam itu diliputi kesejahteraan
terbebas dari petaka dan kejelekan serta kebaikan berlimpah ruah. Malam itu dimulai sejak terbenamnya matahari hingga terbit fajar.

Hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan malam lailatul qodr derajatnya mutawatir. Malam yang mulia itu terjadi diantara
sepuluh hari terakhir bulan Romadhon utamanya di malam-malam ganjil. Dan malam lailatul qodrakan terus berlangsung
setiap tahun sampai hari kiamat.”
(Taisirul Karimirrohman Fi tafsir kalamil Mannanhal. 931)

Dari Abu Huroiroh bahwa Rosulullah bahwa bersabda:

“Pada bulan Romadhon itu ada suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, maka siapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh dia telah dijauhkan dari kebaikan.”
(Shohih An-Nasa’i 2105)

Dari Aisyah bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Carilah malam lailatul qodr pada sepuluh malam terakhir bulan Romadhon.”
(HR.Al-Bukhori 2020 dan Muslim 1169)

Para Shohabat menjumpai malam lailatul qadr pada masa Rosulullah صلى الله عليه وسلم dan itu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan
Romadhon. Akan tetapi peristiwa tersebut berpindah-pindah dari tahun ketahun dan tidak berlangsung dalam satu waktu seperti yang diberitakan para shohabat dibawah ini :

Abu Sa’id Al-Khudri, lailatul qodr terjadi pada malam ke 21 Romadhon yaitu ditandai dengan langit terang tidak berawan dan kemudian turun hujan pada malam harinya menjelang shubuh.
(Riwayat Al-Bukhori 1877 dan Muslim 1995)

Abdullah bin Unais, lailatul qodr terjadi pada malam ke 23 Romadhon yang juga ditandai
dengan turun hujan pada malam harinya menjelang shubuh. (Riwayat Muslim 1997)

Ibnu Abbas, lailatul qodr terjadi pada malam ke 24 Romadhon.(Musnad At-Thoyalisi
2167-Fat-hulBari4/262)

Ubay bin Ka’ab, lailatul qodr terjadi pada malam ke 27 Romadhon dan ditandai keesokan harinya dengan matahari yang terbit dengan sinar yang tidak kuat.
(Riwayat Muslim 1999)

Abu Huroiroh, lailatul qadr terjadi pada malam 27 atau 29 Romadhon.
(Musnad At-Thoyalisi 2545)

Adapun anggapan orang bahwa lailatul qodr sudah diangkat maka Abu Huroiroh mengingkarinya.

Dari Abdullah bin Yahnus,
aku berkata kepada Abu Huroiroh:

“Ada orang menyangka bahwa Lailatul Qodr sudah diangkat (tidakakan terjadi lagi)!”.

Maka Abu Huroiroh menyangkal,
“Telah dusta orang yang mengatakannya.”
(Riwayat Abdurrozzaq 4/252)

Doa Malam Lailatul qodr

Aisyah rodhiyallahu’anhu berkata:

“Wahai Rosulullah bagaimana menurutmu bila aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qodr apa yang harus aku ucapkan?”
Beliau صلى الله عليه وسلم berkata, ucapkanlah

“Alloohummainnaka’afuwwuntuhibbul‘afwafa’fu’anni”
(Ya Allah Engkau Maha Pemaaf, Engkau senang memaafkan hamba-Mu maka berilah pemaafan kepadaku).”
(HR. At-Tirmidzi 2508, Silsilah Ash-Shohihah 3337)

Disalin dari E-book panduan ramadhan
Oleh Ustadz Fikri abul hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *